Sabtu, 24 Oktober 2015

03.46 -

Musik

Secara alami, musik menerobos pertahanan dan langsung menuju ke dunia batin kita, tempat memori mengenai konflik emosional tidak diselesaikan ditekan, dan material sejati menunggu cahaya kesadaran.

Oh Musik, dalam kedalamanmu kami meletakan hati dan jiwa kami; engkau mengajarkan kepada kami untuk melihat dengan telinga kami dan mendengar dengan hati kami (Kahlil Gilbran)

Laurel Keyes (pelopor penyembuhan lewat bunyi) – semua makluk hidup mengeluarkan bunyi untuk melepaskan ketegangan atau meningkatkan kekuatan.

Musik adalah suatu bentuk doa, dinyanyikan dari tempat integrasi - otak kiri yang rasional, linier dan otak kanan yang intuitif, reseptif, emosional bekerja sama dalam semangat pengabdian dan menyerah pada kehendak suci sehingga membawa pesan penyembuhan dan membangkitkan dengan aspek kreatif (menyanyi berulang-ulang yang nada monoton).

Ketika kita bernyanyi, kapasitas nafas bertambah, secara alami kita menerima kebijaksanaan, bimbingan, dan pemeliharaan dari Kecerdasan Musik kita.

Kecerdasan musik – kemampuan alami untuk menggunakan musik dan bunyi sebagai alat untuk mencerminkan diri, mengubah untuk mempermudah kesehatan dan kesejahteraan total. 

Kecerdasan musik selalu hadir dalam hidup kita. Kekuatannya paling tersedia ketika hati kita terbuka dan berada dalam status mau menerima, intuitif, suasana bermain, atau suasana berdoa - kita dipaksa untuk bertindak mewujudkan cinta dan kasih sayang dalam berurusan dengan diri sendiri dan orang lain. 

Dalam tradisi spiritual sepanjang sejarah, musik telah digunakan sebagai cara untuk membangkitkan dan memurnikan hati. Musik yang keagamaan membawa kita ke dalam status kedamaian dan ketenangan. Musik untuk persembahan membangkitkan kerinduan, kekaguman, dan cinta spiritual tanpa syarat.

Hasil riset mengenai terapi musik kontemporer menunjukkan bahwa musik dapat mengharmoniskan dan menyeimbangkan semua irama dari badan kita, termasuk denyut jantung, kecepatan bernafas, tekanan darah, frekuensi gelombang otak, dan kecepatan respiratori primer. 

Lewat pengaruhnya pada sistem saraf otonom, yang secara langsung berhubungan dengan pusat emosional di otak, musik juga mempunyai pengaruh bermanfaat pada kekebalan tubuh dan sistem hormonal.

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Kecerdasan Musik, Louise Montello).

03.45 -

Bunga cantik dalam pot yang retak


Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada pasien yang ke klinik itu. 

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. 



Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria yang bungkuk dan sudah serba keriput dengan wajah yang mengerikan, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah, hiiiihh...! 


Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata: “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” 

Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, mungkin karena wajahku...

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menentramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur di kursi goyang di luar sini, di beranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” 

Sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata: “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Anak-anak anda membuatku begitu kerasan seperti di rumah sendiri.”

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. 

Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan/kerang oyster/sayur mayur dari kebunnya. 

Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan kerang oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. 

Mengetahui ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semuanya itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai ...

Baru-baru ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman-tanaman bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas

Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok dan berkarat pula. Dalam hati aku berkata, “Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam di dalam bejana terindah yang kumiliki.” Tapi temanku merubah cara pikirku. 

Mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu. Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini.

Jangan pandang parasnya atau perawakan yang tinggi ... manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 Sam 15:7).

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006 » Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak, Vacare Deo edisi Oktober/Tahun V/2003)







Siapakah Roh Kudus Itu?

Ketika masih hidup di dunia Yesus ( Allah Putera) – melindungi para murid-Nya dari yang jahat.

Sebelum Ia kembali ke sorga, berjanji akan mengirimkan seorang Penolong yang lain (Roh Kudus - Roh Kebenaran - Yoh 14:16-17), yang akan mengajarkan kepada kita sesuatu yang perlu kita ketahui tentang hidup dan bagaimana kita dapat sampai ke sorga.

Ketika air baptis dicurahkan pada dahi kita dengan kata-kata: “Aku membaptis kamu atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.” , kita menjawab “Amin”.

Sejak saat itu kita dimeteraikan di dalam Allah, sekaligus kita dijadikan ciptaan baru, oleh kehadiran Tritunggal Mahakudus. Saat itulah tubuh kita menjadi bait yang suci dari Roh Kudus (1 Kor 3:16), menjadi anak-anak Allah dan dosa asal kita diampuni.

Roh Kudus yang kita terima melalui pembaptisan, membuat Dia hadir, bersemayan, dan hidup dalam diri kita – menjadi kekuatan hidup kita untuk menghayati iman kita di tengah-tengah dunia yang penuh dengan pelbagai macam tantangan, rintangan dan kesulitan.

Akan tetapi, dalam perjalanan selanjutnya seringkali Roh Kudus yang kita terima itu tidak diberi tempat secara istimewa di dalam hati kita. 

Akibatnya, yang berkarya bukan Roh Kudus melainkan “aku” dengan kekuatan sendiri. Hal ini sangat disayangkan, sehingga hidup sebagai orang Kristen tidak menghasilkan buah Roh Kudus.

Karya-karya Roh Kudus dalam diri kita antara lain:

Roh Kudus meneguhkan iman kita

Imankepercayaan kepada Firman Allah – adalah dasar dari setiap prinsip alkitabiah. Jika kita percaya akan Firman Allah dan bertindak berdasarkan Firman-Nya maka Firman Allah akan bekerja bagi kita

Tanpa iman kita tidak dapat menghampiri tahta Allah. Dengan kuasa Roh Kudus (Kis 1:8), kita diberi keberanian untuk mewartakan sabda Tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus (Yoh 14:26).

Roh Kudus membawa hidup kita kepada kesucian

Kesucian yang menjadi tujuan kehidupan kita, merupakan amanat Yesus bagi setiap orang. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Pet 1:16).

Roh Kudus menjadi sumber kehidupan kita, sebab Dia adalah Roh Kehidupan yang senantiasa menghidupkan kita dalam iman, harapan dan cinta kasih. Senantiasa beraktivitas dalam kehidupan setiap orang beriman untuk mengubah, membentuk, dan menyempurnakan karya rahmat dalam kehidupan imannya; memampukan kita memasuki hubungan yang pribadi dengan Allah dan pengenalan yang mendalam dan mesra dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus. Sebab Dia adalah Roh yang senantiasa membimbing hidup kita memasuki kehidupan Tritunggal Mahakudus.

Roh Kudus memberikan karunia-karunia untuk pelayanan

Kehadiran Roh Kudus yang aktif dan menguasai hidup kita, akan menghasilkan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) untuk pelayanan bagi jemaat

Ketika Yesus hendak naik ke sorga, Ia memberi pesan yang sangat penting bagi kita tentang tugas baru bagi para murid-Nya, yaitu: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada semua makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan ... mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, berbicara dengan bahasa-bahasa baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:15-18).

Inilah karunia-karunia yang diberikan secara melimpah oleh Tuhan melalui perantara Roh Kudus: hikmat, pengetahuan, iman, menyembuhkkan, mengadakan mukjizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh, menafsirkan bahasa roh (1 Kor 12:1-11).

Roh Kudus menyatukan kita dalam komunitas Kristen yang hidup

Roh Kudus, Roh yang menyatukan, mendorong orang-orang beriman untuk hidup dalam persekutuan-persekutuan hidup yang penuh dengan iman kepada Tuhan Yesus – saling meneguhkan dalam iman, saling menolong dalam segala kesulitan, saling membagi dalam pengalaman iman, dan saling mengasihi dalam satu komunitas – sehati dan sejiwa (Kis 4:32).

Roh Kudus menyuburkan hidup rohani kita

Berkat karya Roh Kudus, hidup rohani kita mendapat warna baru, karena berkat bimbingan-Nya kita semakin mudah mengenal kehendak Allah dan rencana-Nya dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, marilah kita membuka hati bagi Dia, supaya Ia sungguh-sungguh menguasai hati kita.

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Roh Kudus, Vacare Deo edisi September/Tahun V/2003; Menerima Roh Kudus, Vacare Deo edisi Mei-Juni/Tahun VI/2004).

Bila Allah Memanggil Ia Mengurapi



Barangkali saudara pernah mengikuti suatu kebaktian di mana setiap orang yang hadir merasakan suatu kelepasan secara besar-besaran. Apakah yang membuat kebaktian ini sedemikan unik? 


Urapanlah yang membuat perbedaan - merupakan suatu fenomena adikodrati yang sukar diterangkan. Perbedaan ini tampak dari hasil pelayanan, bukan pada penampilan, kepribadian, atau gaya orang yang melayani (penampilan lahiriah yang kelihatannya hebat dan menarik, hanya bersifat sesaat lalu lenyap). 



Supaya terjadi kebangunan rohani yang besar dan penuaian jiwa-jiwa, kita harus memiliki urapan Allah yang lebih kuat lagi dengan tindakan yang saling berkaitan melengkapi satu sama lainnya.

Persekutuan dengan orang-orang lain yang bekerja di dalam suatu urapan yang kuat.

Doa dan puasa.

Meditasi Firman – Baca Firman tersebut dan renungkan Kebenarannya, maka Firman itu akan meresap ke dalam roh kita.

Gaya hidup yang bernafaskan pujian dan penyembahan. 

Waktu berdiam diri yang panjang (Pkh 3:7).

Mengambil atau menarik urapan sebagai suatu sumber secara langsung berhubungan dengan tingkatan iman dari orang yang sedang dilayani itu.

Kita harus menyambut dengan senang hati, mempercayai, dan menerima urapan dari orang yang sedang melayani. 

Jika kita tidak percaya bahwa orang itu diurapi Allah, maka kita tidak bisa mengharapkan Roh Kudus bekerja melalui orang itu untuk kepentingan kita. 

Kita harus meletakkan suatu tuntutan iman (bersikap teguh dan gigih tanpa menyerah sedikit pun) pada urapan yang ada pada hamba Tuhan tersebut.

Kita harus mempercayakan diri kita kepada pelayanan orang, yang adalah hamba Tuhan. 

Seberapa jauh kita percaya dan menyerah, sejauh itulah kita akan menerima.

Allah memanggil orang-orang yang diberi-Nya tugas dan tanggung jawab untuk mengelola bermacam-macam karunia pelayanan guna membangun dan memelihara jemaat.

Semua karunia ini, yang bekerja bersama-sama sebagai satu Tubuh yang dipersatukan dalam iman dan tujuan sama kadarnya dengan urapan yang terdapat pada diri Yesus – tidak terbatas. 

Itulah sebabnya urapan pembangunan Tubuh Kristus adalah kekuatan yang paling berkuasa di bumi. Jika jemaat menyadari keajaiban dari kuasa yang tersedia, tidak ada roh jahat yang dapat menghadang kita/tidak ada sakit penyakit yang dapat menyerang/akan menghancurkan kuk perhambaan/akan membebaskan orang yang tertawan!

Pada waktu kita menerima panggilan, Allah melengkapi dengan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan semua tugas dan ujian yang dimaksud (1 Tes 5:24) – entah kita merasa memenuhi syarat atau tidak, hal ini tidak berpengaruh. 

Allah tidak memanggil orang-orang yang berbakat/kemampuan yang memenuhi syarat. Tetapi Allah memanggil orang-orang yang setia (melakukan sebaik-baiknya apa yang dapat kita lakukan dengan kemampuan natural kita). 

Dengan urapan kuasa-Nya yang luar biasa, Allah akan meningkatkan kemampuan natural (alamiah) untuk menghasilkan hal-hal yang bersifat supranatural. Terpujilah Allah yang tidak melihat kepada kemampuan atau latar belakang kita! 

Pemilihan-Nya atas manusia semata-mata dilakukan-Nya berdasarkan kehendak-Nya (Ibr 2:4). Walaupun demikian, jika kita tidak mengambil langkah iman untuk menaati dan berjalan dalam panggilan itu, urapan Allah tidak bisa bekerja.

Untuk memperoleh maupun mempertahankan urapan yang Allah karuniakan kepada kita, kita perlu belajar banyak penyangkalan diri (mematikan roh manusia lama -mematikan ambisi dan aspirasi pribadi setiap hari), yang merupakan suatu harga yang harus dibayar.

Oleh karena itu, agar setiap orang, yang ingin dipakai Allah supaya dibaptis, disucikan, dalam Roh Kudus sehingga layak dipakai tuannya untuk setiap pekerjaan yang mulia (2 Tim 2:21).

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Bila Allah Memanggil Ia Mengurapi, Cheryp Ingram).

Kamis, 22 Oktober 2015

23.30 -

Hidup Penuh Keceriaan



Bagaimana caranya setiap peristiwa dapat memunculkan keceriaan kita/menghadirkan wajah cantik Allah di tengah kesibukan kita di mana pun berada?



Syaratnya:

1.Kesediaan untuk tersenyum dan tertawa.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Ams 17:22).

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Ams 15:13).

Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang bergembira hatinya selalu berpesta (Ams 15:15).

2.Kontak mata dengan orang disekitarnya.

Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang (Ams 15:30).

3.Saling mendukung (memberi stimulus).

4. Letakkan semua jabatan/profesi

5. Belajar dari kegembiraan anak-anak. Contoh lagu: ‘Senyum dan muka gembira ... angkat tangan ... pujilah Dia ... berputar badan kita ... senyum gembira ...’

Hidup penuh keceriaan 

Filosofi 1 - Gerakan menciptakan perasaan sebagaimana perasaan menciptakan gerakan. Ekspresi wajah bisa membangkitkan berbagai emosi.

Ketika gerak ada perasaan senang – otomatis memikirkan perasaan senang (aliran darah lebih lancar dan tubuh rileks).

Hari-hariku berlalu dengan cepat ... bila aku berpikir ... melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira (Ayb 9:25-27).

Aku tersenyum kepada mereka ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka (Ayb 29:24).

Kalau kita ingin menghayati wajah cantik Allah, awalnya pura-pura tidak apa-apa (Matius – pemungut cukai) karena kemauan dia mau berubah menjadi lebih baik.

Filosofi 2 - Bersyukurlah dan nikmati hidup (1 Kor 1:4) – jika kita ingin berubah, bersyukurlah dengan apa yang kamu punya sehingga hidup penuh keceriaan – karena anugerah-Nya selalu diberikan berlimpah, karena hal itu bisa menjadi kesaksian hidup untuk orang lain.

... tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya (Pkh 3:22)

Filosofi 3 - The More You Give, The More You Get – apakah saat kita berbagi kegembiraan ada yang berkurang dari kita?

Kebutuhan emosional manusia: perhatian, diterima apa adanya, dimengerti, penghargaan 

Berikanlah pujian ... dapat senyum dan tawa batin.
Berikan maaf ... dapatkan ketenangan dan kedamaian.

Filosofi 4 - Temukan sumbernya saudara tidak akan kehabisan - senyum sebagai tanda kemurahan hati dan cinta; tanda cinta Allah.

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm 37:4)

... tidak ingat akan penderitaannya, karena kegembiraan ... Semua itu Kukatakan supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku (Yoh 16:20-22, 33).

(Sumber: Warta No. 33/I/2007; Renungan KPI TL Tgl 1 Desember 2006, Bpk Ambrosius Bata).

23.02 -

Meditasi Kristiani

Yohanes berdiri dengan dua muridnya ... mereka pergi mengikut Yesus.

Yesus menoleh ke belakang dan bertanya kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Yesus hanya berkata: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh 1:35-39).

Yesus tidak pernah menjawab pertanyaan ini, kecuali ketika kita menuruti perintah-Nya, yaitu saling mengasihi (Yoh 15:12).

Inilah umumnya cara berpikir kita, sadar atau tidak sadar bahwa Tuhan itu ada pada tempat tertentu dan dalam waktu tertentu.

Ada seorang anak ingin sekali makan ikan yang di goreng mamanya. Ikan itu diletakkan di almari. Setelah menoleh kiri-kanan, dia mendekati almari itu. 

Tetapi pada waktu melihat salib di atas almari dia berpikir: “Bagaimana caranya saya bisa mencuri, karena Tuhan melihat?” 

Akhirnya dia mengambil kursi dan mengangkat salib itu. Pikirnya: “Sekarang saya bisa mencuri ikan itu tanpa dilihat Tuhan.”

Di India, ada seorang pertapa Benediktin yang mengajar anak-anak, sebagian beragama Katolik dan sebagian lagi beragama Hindu. 

Suatu hari dia bertanya pada murid-muridnya: “Anak-anak, Tuhan ada di mana?” Jawab anak-anak Katolik: “di Sorga.” Jawab anak-anak Hindu: “Di sini (hati).” 

Jawaban anak-anak Katolik benar, tapi tidak sempurna. Karena Allah transenden, ada di sorga; Allah imani, sudah menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Secara tradisional doa dapat dibedakan 3 macam:

1. Doa vokal – doa dengan rumusan seperti Bapa Kami, Rosario dll.

2. Doa meditasi – doa dengan menggunakan pikiran dan hati serta daya mental seperti keinginan dan kehendak.

3. Doa kontemplasi – tingkat doa yang lebih tinggi lagi di mana kita lebih pasif dan Allah yang aktif.

Meditasi Kristiani sebenarnya doa kontemplasi

Tetapi John Main OSB menyebutnya Meditasi Kristiani karena dia mengganggap antara kata meditasi dan kata kontemplasi sebagai kata sinonim. Jadi tidak dibedakan antara meditasi dan kontemplasi.

Pada abad ke 6, St. Benediktus menegaskan bahwa kalau mau mulai beribadah mulailah dengan seruan suci yang singkat ini dengan penuh perhatian dan cinta - “Ya Allah, bersegeralah menolong aku” (Mzm 40:14; 70:2; 71:12) - mau tidak mau akhirnya kita sadar bahwa Allah itu selalu ada di dalam hati; kata pendek ini mengingatkan kita pada lampu tabernakel, bahwa Tuhan ada.

Tradisi ini kita warisi sejak abad ke 4, tradisi paling awal ke-katolik-an/hidup kemartiran pada masa padang gurun; sampai sekarang ayat ini dipegang dalam tradisi (Ibadat Harian). 

Pada abad ke 6-7 tradisi ini sangat subur bertumbuh, sehingga saat itu banyak orang kudus. Tetapi tradisi ini sempat hilang pada abad pertengahan. Pada abad 14, tradisi ini muncul dalam buku The Cloud of Unknowing. 

Baru pada abad 20 muncul bentuk baru oleh rahib Benediktin yang bernama John Main. 

Cara meditasi ini: duduk tenang, punggung tegak, kemudian tarik nafas dengan panjang teratur, tutuplah mata dan pusatkanlah pada satu kata suci. 

Misalnya: kata “Mara-nata” sesuai dengan pernafasan, ucapkan satu kata terus menerus secara sadar dalam hatimu. Peganglah kata-kata itu seumur hidupmu, itu harus menjadi bagimu dari awal – akhir meditasi.

Kata Mara-nata merupakan sebuah kata bahasa Aram, bahasa yang dipakai Yesus sendiri. 

Ketika kita mulai bermeditasi, kita memulainya dengan sebuah antusiasisme yang besar. Tetapi kemudian kita mulai mengalami bahwa ternyata bermeditasi tidak semudah yang kita bayangkan. 

Kita mau mengucapkan kata suci, tetapi baru dua menit berusaha duduk dengan tenang, pikiran mulai mengembara ke mana-mana. Semua pelanturan seharusnya kita biarkan berlalu selagi kita mengucapkan kata suci. 

Ada beberapa tingkat pelanturan dalam meditasi

Pelanturan yang datang dari gelombang kehidupan kita. Misalnya: program televisi yang kita nonton, iklan, berita surat kabar, atau percakapan-percakapan kita. 

Pelanturan pribadi (masalah yang kita hadapi). Misalnya: keluarga kita, masa depan kita, teman-teman, atau kesepian yang kita rasakan. Semuanya itu harus kita abaikan selagi kita masuk dalam dalam kehadiran Dia yang adalah kasih.

Pelanturan rohani – mengagumi kemajuan rohani yang dicapai dan membandingkannya dengan pengalaman orang lain, menganalisa keadaan di mana kita berada dsb.

Pelanturan terbesar adalah kesadaran diri kita. Hal ini terjadi karena kita mempunyai kecenderungan untuk melihat segala sesuatu berdasarkan diri kita sendiri.

(Sumber: Warta KPI TL No. 52/VIII/2008; Renungan KPI TL 19 Juni 2008, Romo Siriakus Maria Ndolu, O.Carm)

22.40 -

Meditasi itu Kebutuhan


Dewasa ini banyak kita lihat kelompok-kelompok meditasi bermunculan. Orang-orang berbondong-bondong mencari penyegaran batin dan fisik lewat praktek-praktek yoga, meditasi transendental, crystal healing, terapi aroma dll.


Fenomena-fenomena seperti itu sebenarnya sudah menjadi salah satu kultur global. Praktek-praktek new age memang dapat membawa kesegaran lahir-batin, bahkan perbaikan kehidupan moral. Akan tetapi, praktik-praktik aquarian yang ditawarkan mereka itu belum cukup. Pada tingkatan tertentu, spiritualitas mereka harus ditinjau secara kritis. 

Dibalik gerakan-gerakan new age ada sinkretisasi (pencampur-adukan) unsur-unsur esoterik (ketertarikan pada paham-paham misterius dan berbau klenik) dan sekular. 

Sinkretisasi ini mengarah pada pengagungan berlebihan pada pribadi manusia dan kapasitasnya. Pada tahap pengagungan ini diyakini manusia dapat memperoleh kuasa ilahi dengan usahanya sendiri

Setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadiallahketika mereka menyatukan kesadarannya (atau menyamakan getaran mereka) dengan getaran alam semesta.

Meditasi Katolik sama sekali berbeda dengan meditasi itu

Cara duduk dan metode pemusatan boleh mirip. Akan tetapi, spiritualitas dan tujuannya sama sekali berbeda

Meditasi ala new age diklaim tidak saja membawa manusia kepada kesegaran jiwa dan raga, tetapi mengarahkan manusia pada pencerahan, yang membuatnya setara dengan manusia-manusia utama yang pernah hidup. Yesus dari Nasaret diakui sebagai salah satu dari manusia-manusia itu. 

Dengan kata lain, new age menegaskan bahwa setiap manusia bisa menjadi ‘Mesias’, ‘Budha’, atau ‘Avatar’ yang lain. 

Adapun, meditasi Katolik mengarah pada persatuan dengan Allah lewat jalan penyerahan diri dan kerendahan hari. Meditasi Katolik sekaligus adalah doa.

Di dalam meditasi Katolik terkandung suatu kesadaran bahwa Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi manusia. Dia lebih rindu untuk mencari manusia daripada manusia rindu mencari Dia

Pemusatan batin dan meditasi diarahkan untuk persiapan kepada doa yang lebih mendalam, yakni kontemplasi. Allah rindu mencari manusia dan berkomunikasi dengannya. 

Pada tahapan doa yang paling dalam, manusia betul-betul berjumpa dan bersatu di dalam Dia, sehingga tidak ada lagi kata-kata. Pikiran Allah menjadi pikiranku. Kehendak Allah menjadi kehendakku. Itulah kontemplasi ilahi. Inilah harta karun dan mutiara terpendam yang luar biasa berharga.

Nilai luar biasa dari meditasi dan kontemplasi ilahi ini bisa dilihat dari buah-buahnya:

1. Dengan latihan-latihan ini orang sungguh-sungguh belajar menguasai badan, perasaan, dan pikiran. Dengan demikian, daya perhatian/kosentrasi diperbesar.

2. Penguasaan pikiran dan fantasi pada gilirannya akan memperbaiki ingatan, menggiatkan aktifitas intelektual, serta memperkuat kehendak.

Manfaat terbesarnya terdapat pada bidang rohani:

Hidupnya menjadi ilahi, sehingga apa yang dilakukannya menjadi semakin bernilai di mata Tuhan dan akan merupakan berkat yang besar bagi seluruh Gereja, bahkan umat manusia.

Dia sendiri juga dipenuhi kebahagiaan yang mendalam. Dia akan bebas dari segala bentuk kekuatiran dan kerisauan dan lebih tahan menanggung segala beban dan salib kehidupan.

Budinya pun akan memperoleh terang ilahi yang lebih besar sehingga ia akan lebih menyelami misteri Allah, baik yang terkandung di Alkitab, maupun yang nyata dari karya-karya Allah.

Kasih dan kebahagiaannya akan meluap kepada orang-orang sekelilingnya.

Meditasi ala new age berakar dari penghargaan berlebihan pada kemampuan manusia dan berujung pada pemberhalaan manusia. Terang yang mereka tawarkan hanya akan membawa kepada kebutaan. Seperti kalau terlalu lama melihat terang yang menyilaukan, manusia akan buta. Kesombongan semacam ini amat lekat dengan kesombongan Lucifer, sang Malaikat Terang yang jatuh itu.

Meditasi Katolik bersumber dari kesadaran akan kelemahan manusiawi dan keterbukaan terhadap rahmat penebusan Kristus

Tujuan dari meditasi ini adalah persatuan dengan Allah. Bukan untuk menjadi Allah, melainkan supaya Allah dapat bekerja dengan bebas melalui anak-anak-Nya

Jika akar meditasi new age ialah kesombongaan, dasar meditasi Katolik ialah kerendahan hati.

Ada beberapa metode meditasi Katolik yang sudah teruji:

Doa Yesus (dengan mengulang-ulangi nama Yesus).

Ambillah sikap duduk yang baik, entah dengan bersila ataupun dengan dingklik. Yang penting punggung tegak lurus. Kalau bersila, usahakan agar kedua lututmu menempel pada lantai. Sarana berupa bantal dapat dipakai di sini untuk menyangga tubuh. 

Mata dapat dipejamkan atau dibuka. Kalau dibuka arahkan kira-kira satu meter ke depan di lantai. 

Tajamkan indera-inderamu. Mulailah dengan telinga. Arahkan pendengaranmu kepada suara-suara yang paling jauh sampai yang paling dekat, yang paling keras sampai yang paling sayup. Setelah itu bayangkan suara-suara itu mengalir seperti sungai. 

Demikian pula perasaan-perasaan yang menerpa kulitmu, entah itu gatal, dingin, panas, gesekan dengan baju. Rasakan juga debaran jantung dan denyut nadimu. Tajamkan perasaanmu lalu biarkan berlalu. Lakukanlah hal yang sama untuk penciuman dan terakhir pikiranmu. 

Tariklah nafas panjang dan hembuskan secara perlahan. Lakukanlah sepelan dan selembut mungkin, tetapi jangan dipaksakan. Wajar dan rileks saja. 

Lalu mulailah dengan menyebut nama Yesus dengan penuh iman dan cintakasih. Engkau dapat meritmekannya sesuai irama nafasmu. Waktu tarik nafas serukanYeee...” waktu menghembuskan nafas serukansusss... Atau boleh juga serukan “Tuhannnn - Yesussss”. Dapat pula: “Tuhan Yesus Kristus - Putera Allah yang hidup - Kasihanilah aku – orang berdosa ini”. Atau: “Tuhan Yesus Kristus – kasihanilah aku”. 

Di dalam meditasi jauh lebih sulit menolak pelanturan secara keras dibandingkan hanya sekedar membiarkan setiap pelanturan atau gangguan berlalu seperti sungai. Perbandingannya demikian, ketika kita sedang kosentrasi berbicara dengan orang lain di pasar, kita sadar bahwa di sekitar kita orang berlalu-lalang. Namun, mereka yang berlalu-lalang serta pembicaraan di sekitar kita tidak akan mengganggu pembicaraan kita. Demikian pula halnya dengan komunikasi dengan Allah. Biarkanlah yang lain itu berlalu-lalang, jangan diperhatikan.

Lectio divina (meditasi dengan menggunakan sarana Kitab Suci)

Ambillah suatu teks Kitab Suci yang sudah kaukenal dan kaupersiapkan sebelumnya.

Lakukanlah lectio divina dalam 4 langkah:

Pertama: lectio atau bacaan

Bacalah penuh perhatian, perlahan-lahan. Bertanyalah: Apakah arti teks itu dalam konteksnya dan menurut konteks kebudayaan waktu itu?

Kedua: meditatio atau peresapan

Resap-resapkan teks atau kalimat tersebut, khususnya yang menyentuh hatimu. Engkau dapat bertanya: Apa yang hendak dikatakan Tuhan kepadamu secara pribadi melalui teks ini? Apa jawabanku pribadi? Kemudian teks atau kalimat yang menyentuh hatimu itu dapat kauulang-ulangi sampai puas hatimu.

Ketiga: oratio atau doa

Berdasarkan teks tersebut bicaralah dengan Tuhan dari hati ke hati dan ungkapkan isi hatimu kepadaNya. Ingatlah, dalam doa yang terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Tuhan, melainkan banyak mencintai. Itulah pesan St. Teresa Avila.

Keempat: contemplatio atau kontemplasi

Sesudah berbicara sejenak, belajarlah diam, mendengarkan Tuhan, sambil memandang dengan iman Dia yang hadir dalam dirimu atau dihadapanmu.

Bila perhatianmu tidak dapat terpusat lagi pada Tuhan yang hadir, kembalilah ke langkah pertama dan mulai dengan teks atau ayat berikutnya. Proses ini diulangi seperti di atas sampai waktu yang ditentukan untuk doa telah selesai. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 52/VIII/2008; Vacare Deo Edisi IV/IX/2007).