Sabtu, 24 Oktober 2015

03.45 -

Bunga cantik dalam pot yang retak


Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada pasien yang ke klinik itu. 

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. 



Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria yang bungkuk dan sudah serba keriput dengan wajah yang mengerikan, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah, hiiiihh...! 


Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata: “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” 

Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, mungkin karena wajahku...

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menentramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur di kursi goyang di luar sini, di beranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” 

Sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata: “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Anak-anak anda membuatku begitu kerasan seperti di rumah sendiri.”

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. 

Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan/kerang oyster/sayur mayur dari kebunnya. 

Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan kerang oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. 

Mengetahui ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semuanya itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai ...

Baru-baru ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman-tanaman bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. 

Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok dan berkarat pula. Dalam hati aku berkata, “Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam di dalam bejana terindah yang kumiliki.” Tapi temanku merubah cara pikirku. 

Mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu. Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini.

Jangan pandang parasnya atau perawakan yang tinggi ... manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 Sam 15:7).

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006 » Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak, Vacare Deo edisi Oktober/Tahun V/2003)







Siapakah Roh Kudus Itu?

Ketika masih hidup di dunia Yesus ( Allah Putera) – melindungi para murid-Nya dari yang jahat.

Sebelum Ia kembali ke sorga, berjanji akan mengirimkan seorang Penolong yang lain (Roh Kudus - Roh Kebenaran - Yoh 14:16-17), yang akan mengajarkan kepada kita sesuatu yang perlu kita ketahui tentang hidup dan bagaimana kita dapat sampai ke sorga.

Ketika air baptis dicurahkan pada dahi kita dengan kata-kata: “Aku membaptis kamu atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.” , kita menjawab “Amin”.

Sejak saat itu kita dimeteraikan di dalam Allah, sekaligus kita dijadikan ciptaan baru, oleh kehadiran Tritunggal Mahakudus. Saat itulah tubuh kita menjadi bait yang suci dari Roh Kudus (1 Kor 3:16), menjadi anak-anak Allah dan dosa asal kita diampuni.

Roh Kudus yang kita terima melalui pembaptisan, membuat Dia hadir, bersemayan, dan hidup dalam diri kita – menjadi kekuatan hidup kita untuk menghayati iman kita di tengah-tengah dunia yang penuh dengan pelbagai macam tantangan, rintangan dan kesulitan.

Akan tetapi, dalam perjalanan selanjutnya seringkali Roh Kudus yang kita terima itu tidak diberi tempat secara istimewa di dalam hati kita. 

Akibatnya, yang berkarya bukan Roh Kudus melainkan “aku” dengan kekuatan sendiri. Hal ini sangat disayangkan, sehingga hidup sebagai orang Kristen tidak menghasilkan buah Roh Kudus.

Karya-karya Roh Kudus dalam diri kita antara lain:

Roh Kudus meneguhkan iman kita

Iman – kepercayaan kepada Firman Allah – adalah dasar dari setiap prinsip alkitabiah. Jika kita percaya akan Firman Allah dan bertindak berdasarkan Firman-Nya maka Firman Allah akan bekerja bagi kita! 

Tanpa iman kita tidak dapat menghampiri tahta Allah. Dengan kuasa Roh Kudus (Kis 1:8), kita diberi keberanian untuk mewartakan sabda Tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus (Yoh 14:26).

Roh Kudus membawa hidup kita kepada kesucian

Kesucian yang menjadi tujuan kehidupan kita, merupakan amanat Yesus bagi setiap orang. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Pet 1:16).

Roh Kudus menjadi sumber kehidupan kita, sebab Dia adalah Roh Kehidupan yang senantiasa menghidupkan kita dalam iman, harapan dan cinta kasih. Senantiasa beraktivitas dalam kehidupan setiap orang beriman untuk mengubah, membentuk, dan menyempurnakan karya rahmat dalam kehidupan imannya; memampukan kita memasuki hubungan yang pribadi dengan Allah dan pengenalan yang mendalam dan mesra dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus. Sebab Dia adalah Roh yang senantiasa membimbing hidup kita memasuki kehidupan Tritunggal Mahakudus.

Roh Kudus memberikan karunia-karunia untuk pelayanan

Kehadiran Roh Kudus yang aktif dan menguasai hidup kita, akan menghasilkan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) untuk pelayanan bagi jemaat. 

Ketika Yesus hendak naik ke sorga, Ia memberi pesan yang sangat penting bagi kita tentang tugas baru bagi para murid-Nya, yaitu: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada semua makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan ... mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, berbicara dengan bahasa-bahasa baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:15-18).

Inilah karunia-karunia yang diberikan secara melimpah oleh Tuhan melalui perantara Roh Kudus: hikmat, pengetahuan, iman, menyembuhkkan, mengadakan mukjizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh, menafsirkan bahasa roh (1 Kor 12:1-11).

Roh Kudus menyatukan kita dalam komunitas Kristen yang hidup

Roh Kudus, Roh yang menyatukan, mendorong orang-orang beriman untuk hidup dalam persekutuan-persekutuan hidup yang penuh dengan iman kepada Tuhan Yesus – saling meneguhkan dalam iman, saling menolong dalam segala kesulitan, saling membagi dalam pengalaman iman, dan saling mengasihi dalam satu komunitas – sehati dan sejiwa (Kis 4:32).

Roh Kudus menyuburkan hidup rohani kita

Berkat karya Roh Kudus, hidup rohani kita mendapat warna baru, karena berkat bimbingan-Nya kita semakin mudah mengenal kehendak Allah dan rencana-Nya dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, marilah kita membuka hati bagi Dia, supaya Ia sungguh-sungguh menguasai hati kita.

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Roh Kudus, Vacare Deo edisi September/Tahun V/2003; Menerima Roh Kudus, Vacare Deo edisi Mei-Juni/Tahun VI/2004).

Bila Allah Memanggil Ia Mengurapi



Barangkali saudara pernah mengikuti suatu kebaktian di mana setiap orang yang hadir merasakan suatu kelepasan secara besar-besaran. Apakah yang membuat kebaktian ini sedemikan unik? 


Urapanlah yang membuat perbedaan - merupakan suatu fenomena adikodrati yang sukar diterangkan. Perbedaan ini tampak dari hasil pelayanan, bukan pada penampilan, kepribadian, atau gaya orang yang melayani (penampilan lahiriah yang kelihatannya hebat dan menarik, hanya bersifat sesaat lalu lenyap). 



Supaya terjadi kebangunan rohani yang besar dan penuaian jiwa-jiwa, kita harus memiliki urapan Allah yang lebih kuat lagi dengan tindakan yang saling berkaitan melengkapi satu sama lainnya.

Persekutuan dengan orang-orang lain yang bekerja di dalam suatu urapan yang kuat.

Doa dan puasa.

Meditasi Firman – Baca Firman tersebut dan renungkan Kebenarannya, maka Firman itu akan meresap ke dalam roh kita.

Gaya hidup yang bernafaskan pujian dan penyembahan. 

Waktu berdiam diri yang panjang (Pkh 3:7).

Mengambil atau menarik urapan sebagai suatu sumber secara langsung berhubungan dengan tingkatan iman dari orang yang sedang dilayani itu.

Kita harus menyambut dengan senang hati, mempercayai, dan menerima urapan dari orang yang sedang melayani. 

Jika kita tidak percaya bahwa orang itu diurapi Allah, maka kita tidak bisa mengharapkan Roh Kudus bekerja melalui orang itu untuk kepentingan kita. 

Kita harus meletakkan suatu tuntutan iman (bersikap teguh dan gigih tanpa menyerah sedikit pun) pada urapan yang ada pada hamba Tuhan tersebut.

Kita harus mempercayakan diri kita kepada pelayanan orang, yang adalah hamba Tuhan. 

Seberapa jauh kita percaya dan menyerah, sejauh itulah kita akan menerima.

Allah memanggil orang-orang yang diberi-Nya tugas dan tanggung jawab untuk mengelola bermacam-macam karunia pelayanan guna membangun dan memelihara jemaat.

Semua karunia ini, yang bekerja bersama-sama sebagai satu Tubuh yang dipersatukan dalam iman dan tujuan sama kadarnya dengan urapan yang terdapat pada diri Yesus – tidak terbatas. 

Itulah sebabnya urapan pembangunan Tubuh Kristus adalah kekuatan yang paling berkuasa di bumi. Jika jemaat menyadari keajaiban dari kuasa yang tersedia, tidak ada roh jahat yang dapat menghadang kita/tidak ada sakit penyakit yang dapat menyerang/akan menghancurkan kuk perhambaan/akan membebaskan orang yang tertawan!

Pada waktu kita menerima panggilan, Allah melengkapi dengan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan semua tugas dan ujian yang dimaksud (1 Tes 5:24) – entah kita merasa memenuhi syarat atau tidak, hal ini tidak berpengaruh. 

Allah tidak memanggil orang-orang yang berbakat/kemampuan yang memenuhi syarat. Tetapi Allah memanggil orang-orang yang setia (melakukan sebaik-baiknya apa yang dapat kita lakukan dengan kemampuan natural kita). 

Dengan urapan kuasa-Nya yang luar biasa, Allah akan meningkatkan kemampuan natural (alamiah) untuk menghasilkan hal-hal yang bersifat supranatural. Terpujilah Allah yang tidak melihat kepada kemampuan atau latar belakang kita! 

Pemilihan-Nya atas manusia semata-mata dilakukan-Nya berdasarkan kehendak-Nya (Ibr 2:4). Walaupun demikian, jika kita tidak mengambil langkah iman untuk menaati dan berjalan dalam panggilan itu, urapan Allah tidak bisa bekerja.

Untuk memperoleh maupun mempertahankan urapan yang Allah karuniakan kepada kita, kita perlu belajar banyak penyangkalan diri (mematikan roh manusia lama -mematikan ambisi dan aspirasi pribadi setiap hari), yang merupakan suatu harga yang harus dibayar.

Oleh karena itu, agar setiap orang, yang ingin dipakai Allah supaya dibaptis, disucikan, dalam Roh Kudus sehingga layak dipakai tuannya untuk setiap pekerjaan yang mulia (2 Tim 2:21).

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Bila Allah Memanggil Ia Mengurapi, Cheryp Ingram).

Kamis, 22 Oktober 2015

23.30 -

Hidup Penuh Keceriaan



Bagaimana caranya setiap peristiwa dapat memunculkan keceriaan kita/menghadirkan wajah cantik Allah di tengah kesibukan kita di mana pun berada?



Syaratnya:

1.Kesediaan untuk tersenyum dan tertawa.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Ams 17:22).

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Ams 15:13).

Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang bergembira hatinya selalu berpesta (Ams 15:15).

2.Kontak mata dengan orang disekitarnya.

Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang (Ams 15:30).

3.Saling mendukung (memberi stimulus).

4. Letakkan semua jabatan/profesi. 

5. Belajar dari kegembiraan anak-anak. Contoh lagu: ‘Senyum dan muka gembira ... angkat tangan ... pujilah Dia ... berputar badan kita ... senyum gembira ...’

Hidup penuh keceriaan 

Filosofi 1 - Gerakan menciptakan perasaan sebagaimana perasaan menciptakan gerakan. Ekspresi wajah bisa membangkitkan berbagai emosi.

Ketika gerak ada perasaan senang – otomatis memikirkan perasaan senang (aliran darah lebih lancar dan tubuh rileks).

Hari-hariku berlalu dengan cepat ... bila aku berpikir ... melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira (Ayb 9:25-27).

Aku tersenyum kepada mereka ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka (Ayb 29:24).

Kalau kita ingin menghayati wajah cantik Allah, awalnya pura-pura tidak apa-apa (Matius – pemungut cukai) karena kemauan dia mau berubah menjadi lebih baik.

Filosofi 2 - Bersyukurlah dan nikmati hidup (1 Kor 1:4) – jika kita ingin berubah, bersyukurlah dengan apa yang kamu punya sehingga hidup penuh keceriaan – karena anugerah-Nya selalu diberikan berlimpah, karena hal itu bisa menjadi kesaksian hidup untuk orang lain.

... tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya (Pkh 3:22)

Filosofi 3 - The More You Give, The More You Get – apakah saat kita berbagi kegembiraan ada yang berkurang dari kita?

Kebutuhan emosional manusia: perhatian, diterima apa adanya, dimengerti, penghargaan 

Berikanlah pujian ... dapat senyum dan tawa batin.
Berikan maaf ... dapatkan ketenangan dan kedamaian.

Filosofi 4 - Temukan sumbernya saudara tidak akan kehabisan - senyum sebagai tanda kemurahan hati dan cinta; tanda cinta Allah.

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm 37:4)

... tidak ingat akan penderitaannya, karena kegembiraan ... Semua itu Kukatakan supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku (Yoh 16:20-22, 33).

(Sumber: Warta No. 33/I/2007; Renungan KPI TL Tgl 1 Desember 2006, Bpk Ambrosius Bata).

23.02 -

Meditasi Kristiani

Yohanes berdiri dengan dua muridnya ... mereka pergi mengikut Yesus.

Yesus menoleh ke belakang dan bertanya kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Yesus hanya berkata: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh 1:35-39).

Yesus tidak pernah menjawab pertanyaan ini, kecuali ketika kita menuruti perintah-Nya, yaitu saling mengasihi (Yoh 15:12).

Inilah umumnya cara berpikir kita, sadar atau tidak sadar bahwa Tuhan itu ada pada tempat tertentu dan dalam waktu tertentu.

Ada seorang anak ingin sekali makan ikan yang di goreng mamanya. Ikan itu diletakkan di almari. Setelah menoleh kiri-kanan, dia mendekati almari itu. 

Tetapi pada waktu melihat salib di atas almari dia berpikir: “Bagaimana caranya saya bisa mencuri, karena Tuhan melihat?” 

Akhirnya dia mengambil kursi dan mengangkat salib itu. Pikirnya: “Sekarang saya bisa mencuri ikan itu tanpa dilihat Tuhan.”

Di India, ada seorang pertapa Benediktin yang mengajar anak-anak, sebagian beragama Katolik dan sebagian lagi beragama Hindu. 

Suatu hari dia bertanya pada murid-muridnya: “Anak-anak, Tuhan ada di mana?” Jawab anak-anak Katolik: “di Sorga.” Jawab anak-anak Hindu: “Di sini (hati).” 

Jawaban anak-anak Katolik benar, tapi tidak sempurna. Karena Allah transenden, ada di sorga; Allah imani, sudah menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Secara tradisional doa dapat dibedakan 3 macam:

1. Doa vokal – doa dengan rumusan seperti Bapa Kami, Rosario dll.

2. Doa meditasi – doa dengan menggunakan pikiran dan hati serta daya mental seperti keinginan dan kehendak.

3. Doa kontemplasi – tingkat doa yang lebih tinggi lagi di mana kita lebih pasif dan Allah yang aktif.

Meditasi Kristiani sebenarnya doa kontemplasi. 

Tetapi John Main OSB menyebutnya Meditasi Kristiani karena dia mengganggap antara kata meditasi dan kata kontemplasi sebagai kata sinonim. Jadi tidak dibedakan antara meditasi dan kontemplasi.

Pada abad ke 6, St. Benediktus menegaskan bahwa kalau mau mulai beribadah mulailah dengan seruan suci yang singkat ini dengan penuh perhatian dan cinta - “Ya Allah, bersegeralah menolong aku” (Mzm 40:14; 70:2; 71:12) - mau tidak mau akhirnya kita sadar bahwa Allah itu selalu ada di dalam hati; kata pendek ini mengingatkan kita pada lampu tabernakel, bahwa Tuhan ada.

Tradisi ini kita warisi sejak abad ke 4, tradisi paling awal ke-katolik-an/hidup kemartiran pada masa padang gurun; sampai sekarang ayat ini dipegang dalam tradisi (Ibadat Harian). 

Pada abad ke 6-7 tradisi ini sangat subur bertumbuh, sehingga saat itu banyak orang kudus. Tetapi tradisi ini sempat hilang pada abad pertengahan. Pada abad 14, tradisi ini muncul dalam buku The Cloud of Unknowing. 

Baru pada abad 20 muncul bentuk baru oleh rahib Benediktin yang bernama John Main. 

Cara meditasi ini: duduk tenang, punggung tegak, kemudian tarik nafas dengan panjang teratur, tutuplah mata dan pusatkanlah pada satu kata suci. 

Misalnya: kata “Mara-nata” sesuai dengan pernafasan, ucapkan satu kata terus menerus secara sadar dalam hatimu. Peganglah kata-kata itu seumur hidupmu, itu harus menjadi bagimu dari awal – akhir meditasi.

Kata Mara-nata merupakan sebuah kata bahasa Aram, bahasa yang dipakai Yesus sendiri. 

Ketika kita mulai bermeditasi, kita memulainya dengan sebuah antusiasisme yang besar. Tetapi kemudian kita mulai mengalami bahwa ternyata bermeditasi tidak semudah yang kita bayangkan. 

Kita mau mengucapkan kata suci, tetapi baru dua menit berusaha duduk dengan tenang, pikiran mulai mengembara ke mana-mana. Semua pelanturan seharusnya kita biarkan berlalu selagi kita mengucapkan kata suci. 

Ada beberapa tingkat pelanturan dalam meditasi: 

Pelanturan yang datang dari gelombang kehidupan kita. Misalnya: program televisi yang kita nonton, iklan, berita surat kabar, atau percakapan-percakapan kita. 

Pelanturan pribadi (masalah yang kita hadapi). Misalnya: keluarga kita, masa depan kita, teman-teman, atau kesepian yang kita rasakan. Semuanya itu harus kita abaikan selagi kita masuk dalam dalam kehadiran Dia yang adalah kasih.

Pelanturan rohani – mengagumi kemajuan rohani yang dicapai dan membandingkannya dengan pengalaman orang lain, menganalisa keadaan di mana kita berada dsb.

Pelanturan terbesar adalah kesadaran diri kita. Hal ini terjadi karena kita mempunyai kecenderungan untuk melihat segala sesuatu berdasarkan diri kita sendiri.

(Sumber: Warta KPI TL No. 52/VIII/2008; Renungan KPI TL 19 Juni 2008, Romo Siriakus Maria Ndolu, O.Carm)

22.40 -

Meditasi itu Kebutuhan


Dewasa ini banyak kita lihat kelompok-kelompok meditasi bermunculan. Orang-orang berbondong-bondong mencari penyegaran batin dan fisik lewat praktek-praktek yoga, meditasi transendental, crystal healing, terapi aroma dll.


Fenomena-fenomena seperti itu sebenarnya sudah menjadi salah satu kultur global. Praktek-praktek new age memang dapat membawa kesegaran lahir-batin, bahkan perbaikan kehidupan moral. Akan tetapi, praktik-praktik aquarian yang ditawarkan mereka itu belum cukup. Pada tingkatan tertentu, spiritualitas mereka harus ditinjau secara kritis. 

Dibalik gerakan-gerakan new age ada sinkretisasi (pencampur-adukan) unsur-unsur esoterik (ketertarikan pada paham-paham misterius dan berbau klenik) dan sekular. 

Sinkretisasi ini mengarah pada pengagungan berlebihan pada pribadi manusia dan kapasitasnya. Pada tahap pengagungan ini diyakini manusia dapat memperoleh kuasa ilahi dengan usahanya sendiri. 

Setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi ‘allah’ ketika mereka menyatukan kesadarannya (atau menyamakan getaran mereka) dengan getaran alam semesta.

Meditasi Katolik sama sekali berbeda dengan meditasi itu. 

Cara duduk dan metode pemusatan boleh mirip. Akan tetapi, spiritualitas dan tujuannya sama sekali berbeda. 

Meditasi ala new age diklaim tidak saja membawa manusia kepada kesegaran jiwa dan raga, tetapi mengarahkan manusia pada pencerahan, yang membuatnya setara dengan manusia-manusia utama yang pernah hidup. Yesus dari Nasaret diakui sebagai salah satu dari manusia-manusia itu. 

Dengan kata lain, new age menegaskan bahwa setiap manusia bisa menjadi ‘Mesias’, ‘Budha’, atau ‘Avatar’ yang lain. 

Adapun, meditasi Katolik mengarah pada persatuan dengan Allah lewat jalan penyerahan diri dan kerendahan hari. Meditasi Katolik sekaligus adalah doa.

Di dalam meditasi Katolik terkandung suatu kesadaran bahwa Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi manusia. Dia lebih rindu untuk mencari manusia daripada manusia rindu mencari Dia. 

Pemusatan batin dan meditasi diarahkan untuk persiapan kepada doa yang lebih mendalam, yakni kontemplasi. Allah rindu mencari manusia dan berkomunikasi dengannya. 

Pada tahapan doa yang paling dalam, manusia betul-betul berjumpa dan bersatu di dalam Dia, sehingga tidak ada lagi kata-kata. Pikiran Allah menjadi pikiranku. Kehendak Allah menjadi kehendakku. Itulah kontemplasi ilahi. Inilah harta karun dan mutiara terpendam yang luar biasa berharga.

Nilai luar biasa dari meditasi dan kontemplasi ilahi ini bisa dilihat dari buah-buahnya:

1. Dengan latihan-latihan ini orang sungguh-sungguh belajar menguasai badan, perasaan, dan pikiran. Dengan demikian, daya perhatian/kosentrasi diperbesar.

2. Penguasaan pikiran dan fantasi pada gilirannya akan memperbaiki ingatan, menggiatkan aktifitas intelektual, serta memperkuat kehendak.

Manfaat terbesarnya terdapat pada bidang rohani:

Hidupnya menjadi ilahi, sehingga apa yang dilakukannya menjadi semakin bernilai di mata Tuhan dan akan merupakan berkat yang besar bagi seluruh Gereja, bahkan umat manusia.

Dia sendiri juga dipenuhi kebahagiaan yang mendalam. Dia akan bebas dari segala bentuk kekuatiran dan kerisauan dan lebih tahan menanggung segala beban dan salib kehidupan.

Budinya pun akan memperoleh terang ilahi yang lebih besar sehingga ia akan lebih menyelami misteri Allah, baik yang terkandung di Alkitab, maupun yang nyata dari karya-karya Allah.

Kasih dan kebahagiaannya akan meluap kepada orang-orang sekelilingnya.

Meditasi ala new age berakar dari penghargaan berlebihan pada kemampuan manusia dan berujung pada pemberhalaan manusia. Terang yang mereka tawarkan hanya akan membawa kepada kebutaan. Seperti kalau terlalu lama melihat terang yang menyilaukan, manusia akan buta. Kesombongan semacam ini amat lekat dengan kesombongan Lucifer, sang Malaikat Terang yang jatuh itu.

Meditasi Katolik bersumber dari kesadaran akan kelemahan manusiawi dan keterbukaan terhadap rahmat penebusan Kristus. 

Tujuan dari meditasi ini adalah persatuan dengan Allah. Bukan untuk menjadi Allah, melainkan supaya Allah dapat bekerja dengan bebas melalui anak-anak-Nya. 

Jika akar meditasi new age ialah kesombongaan, dasar meditasi Katolik ialah kerendahan hati.

Ada beberapa metode meditasi Katolik yang sudah teruji:

Doa Yesus (dengan mengulang-ulangi nama Yesus).

Ambillah sikap duduk yang baik, entah dengan bersila ataupun dengan dingklik. Yang penting punggung tegak lurus. Kalau bersila, usahakan agar kedua lututmu menempel pada lantai. Sarana berupa bantal dapat dipakai di sini untuk menyangga tubuh. 

Mata dapat dipejamkan atau dibuka. Kalau dibuka arahkan kira-kira satu meter ke depan di lantai. 

Tajamkan indera-inderamu. Mulailah dengan telinga. Arahkan pendengaranmu kepada suara-suara yang paling jauh sampai yang paling dekat, yang paling keras sampai yang paling sayup. Setelah itu bayangkan suara-suara itu mengalir seperti sungai. 

Demikian pula perasaan-perasaan yang menerpa kulitmu, entah itu gatal, dingin, panas, gesekan dengan baju. Rasakan juga debaran jantung dan denyut nadimu. Tajamkan perasaanmu lalu biarkan berlalu. Lakukanlah hal yang sama untuk penciuman dan terakhir pikiranmu. 

Tariklah nafas panjang dan hembuskan secara perlahan. Lakukanlah sepelan dan selembut mungkin, tetapi jangan dipaksakan. Wajar dan rileks saja. 

Lalu mulailah dengan menyebut nama Yesus dengan penuh iman dan cintakasih. Engkau dapat meritmekannya sesuai irama nafasmu. Waktu tarik nafas serukan “Yeee...” waktu menghembuskan nafas serukan “susss...” Atau boleh juga serukan “Tuhannnn - Yesussss”. Dapat pula: “Tuhan Yesus Kristus - Putera Allah yang hidup - Kasihanilah aku – orang berdosa ini”. Atau: “Tuhan Yesus Kristus – kasihanilah aku”. 

Di dalam meditasi jauh lebih sulit menolak pelanturan secara keras dibandingkan hanya sekedar membiarkan setiap pelanturan atau gangguan berlalu seperti sungai. Perbandingannya demikian, ketika kita sedang kosentrasi berbicara dengan orang lain di pasar, kita sadar bahwa di sekitar kita orang berlalu-lalang. Namun, mereka yang berlalu-lalang serta pembicaraan di sekitar kita tidak akan mengganggu pembicaraan kita. Demikian pula halnya dengan komunikasi dengan Allah. Biarkanlah yang lain itu berlalu-lalang, jangan diperhatikan.

Lectio divina (meditasi dengan menggunakan sarana Kitab Suci)

Ambillah suatu teks Kitab Suci yang sudah kaukenal dan kaupersiapkan sebelumnya.

Lakukanlah lectio divina dalam 4 langkah:

Pertama: lectio atau bacaan

Bacalah penuh perhatian, perlahan-lahan. Bertanyalah: Apakah arti teks itu dalam konteksnya dan menurut konteks kebudayaan waktu itu?

Kedua: meditatio atau peresapan

Resap-resapkan teks atau kalimat tersebut, khususnya yang menyentuh hatimu. Engkau dapat bertanya: Apa yang hendak dikatakan Tuhan kepadamu secara pribadi melalui teks ini? Apa jawabanku pribadi? Kemudian teks atau kalimat yang menyentuh hatimu itu dapat kauulang-ulangi sampai puas hatimu.

Ketiga: oratio atau doa

Berdasarkan teks tersebut bicaralah dengan Tuhan dari hati ke hati dan ungkapkan isi hatimu kepadaNya. Ingatlah, dalam doa yang terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Tuhan, melainkan banyak mencintai. Itulah pesan St. Teresa Avila.

Keempat: contemplatio atau kontemplasi

Sesudah berbicara sejenak, belajarlah diam, mendengarkan Tuhan, sambil memandang dengan iman Dia yang hadir dalam dirimu atau dihadapanmu.

Bila perhatianmu tidak dapat terpusat lagi pada Tuhan yang hadir, kembalilah ke langkah pertama dan mulai dengan teks atau ayat berikutnya. Proses ini diulangi seperti di atas sampai waktu yang ditentukan untuk doa telah selesai. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 52/VIII/2008; Vacare Deo Edisi IV/IX/2007).

21.12 -

Puasa




Sejak dari permulaan, orang-orang telah mencari Allah. Mereka secara keliru mencapai Dia dengan membangun Menara Babel (Kej 11:1-9); dengan angkuh memikirkan dan hidup dalam hukum-hukum legalistik agar Allah berkesan; membangun biara-biara dan mengasingkan diri untuk menyukakan Allah; berpuasa secara salah dalam usaha untuk mengalihkan perhatian-Nya dari hal-hal lain yang seharusnya mereka perbuat, namun mereka telantarkan. 


Puasa berarti penyangkalan diri/pengorbanan – membayar harga dengan menyerahkan kebutuhan-kebutuhan hidup, termasuk kesenangan.



Puasa bermula sebagai suatu ekspresi alamiah dari kesedihan; namun lama-kelamaan hal ini menjadi suatu kebiasaan untuk menunjukkan atau membuktikan kesedihan seseorang kepada orang lain dengan memantangkan diri dari makanan dan/minuman menunjukkan dukacita (2 Sam 3:35); cara terbaik untuk membantu memenuhi kondisi merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah Allah, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat (2 Taw 7:14); memampukan kita untuk menjadi seorang pemenang, untuk meningkatkan iman dan menyelesaikan hal-hal besar dalam hidup orang lain.

Kebiasan-kebiasaan rohani seperti puasa sifatnya kurang penting dibandingkan melakukan kehendak Allah (berlaku adil, mencintai kesetiaan, hidup dengan rendah hati – Mi 6:8).

Tujuan dari semua penyembahan, termasuk puasa, adalah untuk mengubah penyembah dengan cara-cara yang memiliki pengaruh sosial dan pengaruh dalam hubungan antar pribadi – tidak hanya untuk memuaskan diri sendiri, tetapi dikuatkan untuk mengubah dunia!

Tujuan dari setiap disiplin adalah kemerdekaan. Jika hasilnya bukan kemerdekaan yang lebih besar, ada sesuatu yang salah.

Berpuasa tanpa hasil karena tetap mengurus urusan sendiri, berbantah, berkelahi serta memukul dengan tidak semena-mena (Yes 58:3-4)

Ketika kita berpuasa, membawa tubuh fisik kita pada kelaparan, kita kemudian dapat merasakan kelaparan jiwa rohani kita. Roh dan tubuh saling berhubungan erat dalam rancangan kreatif Allah sehingga berpuasa memiliki manfaat untuk rohani dan jasmani.

Dari mulanya, sebelum kejatuhan manusia, tubuh kita didesain menyembuhkan dirinya sendiri pada tingkat sel - menggunakan masa-masa istirahat untuk membersihkan dirinya sendiri dari produk-produk racun. 

Ketika kita sakit, biasanya tidak ingin berpikir tentang makan, melainkan ingin beristirahat, memberi kesempatan kepada tubuh membersihkan diri sendiri dan menghilangkan racun yang terkumpul.

Tubuh kita dirancang untuk memberikan respons terhadap rasa sakit dengan berpuasa dan demam, merupakan bagian-bagian dari rancangan Allah untuk melawan infeksi.

Sama seperti hari ketujuh dirancang sebagai hari untuk istirahat pada Penciptaan, begitu pula dengan sel-sel dalam tubuh kita membutuhkan istirahat dari makanan. Salah satu manfaat utama dari tidur malam hari mencakup istirahat untuk sistem pencernaan.

Secara alkitabiah, doa dan puasa berjalan bersama-sama, menyenangkan Allah dan membantu menggerakkan tangan-Nya untuk menyelesaikan tujuan-tujuan-Nya.

Jika saudara cukup serius dengan tugas-tugas pribadi dan sosial untuk memulai disiplin puasa; bersiaplah untuk mendapatkan perlawanan, gangguan, dan pertentangan sejauh saudara mampu (jangan sampai tidak waspada). 

Ingatlah bahwa saudara sedang berusaha untuk maju dalam perjalanan rohani saudara dan untuk memperluas Kerajaan Allah (tidak ada gerakan besar oleh Roh Kudus yang tidak mendapat tantangan dari musuh).

Ketika menjalankan puasa kita harus menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak dapat diubah/tidak dapat mengubah sejarah – tidak mengakhiri masalah, tetapi memberikan kekuatan untuk melawan masalah kita. 

Empat macam puasa (Dr. Rex Russel, What Bible Says About Healthy Living):

1. Puasa normal - melakukan kegiatan tanpa makan selama periode tertentu, di mana hanya memasukkan cairan (air dan/jus) ke dalam tubuh) jangka waktunya bisa 

1 hari (Im 23:27; 1 Sam 7:6, 14:24; Neh 9:1), 
3 hari (1 Sam 30:12; Mat 15:32; Mrk 8:2-3; Kis 9:9), 
1 minggu (1 Sam 31:11-13; 2 Sam 12:15-18, 21-23; 1 Taw 10:11-12) , 
2 minggu (Kis 27:33), 
3 minggu (Dan 10:2-3), 
40 hari (Kel 34:28; Ul 9:9, 18; 1Raj 19:8; Mat 4:1-2; Luk 4:1-2).

2. Puasa mutlak – tidak memperkenankan makanan atau air sama sekali , dan seharusnya dilakukan dalam jangka pendek.

3. Puasa parcial (sebagian) – puasa yang menghilangkan makanan tertentu, atau suatu jadwal yang mencakup makanan terbatas.

4. Puasa bergilir – terdiri dari makanan atau menghilangkan kelompok makanan tertentu selama periode tertentu.

Teladan puasa yang diberikan sebagian tokoh-tokoh dalam Alkitab, dapat digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pribadi untuk bertumbuh semakin dekat dengan Allah.

Puasa yang Allah kehendaki supaya merendahkan diri, membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk,
memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
memecah-mecah roti bagi orang yang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila melihat orang telanjang, supaya memberi dia pakaian (Yes 58:5-7).

Puasa Para Murid 
(Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa - Mat 17:21)

Alasan yang nyata untuk berpuasa adalah melepaskan orang-orang dari perhambaan dosa yang mengikat (kecanduan alkohol, obat-obatan, seks, rokok, dorongan untuk makan, perselingkuhan, dan kebohongan dll – kelalaian atau kesalahan sesaat (Ibr 12:1). 

Yesus tahu semua orang ingin disembuhkan, tetapi Ia menanyakan: “Maukah engkau sembuh?” Karena Yesus merindukan kekuatan yang dapat Ia berikan kepada kita – untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman (Yes 58:6).

Setiap kita rentan terhadap ancaman kecanduan. Misalnya: ketika minum obat pereda rasa sakit. Jika tanpa pengetahuan yang cukup dan secara naif minum obat itu, kita bisa menjadi budak mereka. Puasa ini seharusnya mengingatkan kita terhadap resiko yang terus-menerus yang dapat merusak tubuh kita.

Dalam dosa yang mengikat, Iblis adalah pendusta (Yoh 8:44), membuat kita mempercayainya (ada dorongan kuat):

Saya telah mencoba, dan saya tidak dapat mematahkannya.
Saya tidak mau melakukan ini, tetapi saya tidak dapat melawan.
Saya membutuhkan jawaban, tetapi saya tidak dapat menemukannya.

Mereka yang tidak dapat menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk mengalami frustasi yang sangat besar. 

Untuk mematahkan ikatan-ikatan rohani, kita harus mengikuti langkah-langkah yang telah Tuhan berikan untuk peperangan rohani:

* Membedakan realitas yang benar dari yang palsu – pengaruh jahat dari media masa dalam buku-buku, film, musik, okultisme dll. Untuk mengalami kelimpahan hidup yang dijanjikan Yesus (Yoh 10:10), dan dibebaskan dari keterikatan rohani, kita harus meninggalkan pengaruh-pengaruh palsu dalam hidup kita. 

* Mengakui penipuan diri sendiri – ketika kita mendengar, namun gagal melaksanakan firman Allah dalam hidup kita (Yak 1:22). Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kebenaran tidak ada di dalam kita (1Yoh 1:8); kalau seseorang menyangka, bahwa ia berarti padahal ia sama sekali tidak berarti (Gal 6:3); mengevaluasi hikmat kita dengan standar zaman, bukannya dengan hikmat Allah (1 Kor 3:18). Jika kita jujur kepada Allah dan diri sendiri, maka kebenaran Allah akan membebaskan dari penipuan.

Mengampuni untuk mengatasi kepahitan – supaya Iblis jangan memperoleh keuntungan (2 Kor 2:10-11).

Mengungkapkan dosa-dosa yang lalu secara terus menerus adalah bukti bahwa saudara belum mengampuni.

* Tunduk pada kuasa Allah - juga kepada garis otoritas yang telah Ia tentukan untuk memberikan pimpinan dalam hidup kita. Misalnya: pemerintahan sipil (Rm 13:1-7), kepemimpinan dalam gereja (Ibr 13:7), orang tua (Ef 6:1-3).

* Memikul tanggung jawab pribadi – hadapi masalah kesombongan dengan roh rendah hati. Jika kita mengaku dosa, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9).

* Memutuskan pengaruh yang penuh dosa – dipengaruhi oleh tingkah laku tertentu yang bersumber dari masalah-masalah emosional/psikologis, genetik, stimulasi dosa langsung, tokoh/pahlawan yang salah, dan aktivitas langsung dari setan/roh jahat - biasanya hal-hal ini adalah bagian dari warisan keluarga (Kel 20:4-5).

Puasa Ezra
(tidak makan dan minum – Ezr 10:6)

Setiap orang menghadapi masalah dan masa-masa yang sulit. Sering kali masalah tampak jauh lebih besar dari keadaan sebenarnya. 

Masalah yang didefinisikan dengan baik adalah masalah yang setengah terselesaikan. ... memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami (Ezr 8:23) – sebagai penyelesaian masalah bukanlah lari dari masalah/mencegah terjadinya masalah, melainkan untuk mendapatkan pertolongan Roh Kudus untuk menghadapinya.

Selama berpuasa, kita mencari pemecahan atas masalah-masalah kita selangkah demi selangkah – perlu memecah-mecah masalah menjadi masalah-masalah kecil. Memohon kepada-Nya jalan yang aman (Ezr 8:21); hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Ams 16:9). 

Ketika menghadapi masalah, jangan batasi diri hanya pada doa, tetapi harus bertindak – “iman dan perbuatan”.

Kita dapat mengatasi masalah dengan baik ketika memahami penyebabnya:

* Perubahan – karena alasan apa pun dan untuk tujuan apa pun akan disesali (pernikahan, pekerjaan baru, ancaman kehilangan pekerjaan), maka perselisihan dan tekanan akan muncul.

* Perbedaan (latar belakang keluarga, doktrin, etnis) – apa yang akan saudara perbuat dan bagaimana saudara akan merespon masalah yang timbul. 

* Lingkungan

Allah memberikan kepada saudara untuk melihat masalah melalui “mata Allah”

Mata untuk melihat segi positif – dapat membangun perspektif yang positif, baik terhadap masalah maupun terhadap rencana Allah dalam hidup. Mata yang buta kehilangan nilainya, menyalahkan orang lain, membuat kita merasa bersalah.

Mata untuk melihat orang-orang – bisa memberi kesempatan untuk berdoa bersama orang lain (Mat 18:20).

Mata untuk melihat fakta – berusaha untuk menjaga keseimbangan antara “pengetahuan pikiran” akan Firman dan “ekspresi perasaan” akan Roh ketika mengatasi masalah.

Puasa Samuel
(berpuasa pada hari itu – 1 Sam 7:6)

Sebagai puasa untuk kebangunan rohani dan penginjilan - untuk memerdekakan orang yang tertindas (secara fisik dan rohani) (Yes 58:6) - untuk kebangunan rohani (dibutuhkan kesatuan dalam pikiran, hati dan visi) dan memenangkan jiwa, untuk mengidentifikasi orang-orang di mana saja yang sungguh-sungguh diperbudak oleh dosa (1 Sam 7:6) dan membawa orang-orang keluar dari kerajaan kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib.

Untuk kebangunan rohani, kita harus menginginkannya sepenuh hati, mencarinya dengan tulus, dan bersedia untuk bertobat atas semua dosa yang diketahui; harus bersedia untuk menghentikan setiap gangguan atas jadwal kita untuk proses membangun rohani hubungan kepada kedewasaan. 

Ketika kita mencapai kebangunan rohani, kita harus meletakkan Allah sebagai yang pertama atas waktu/talenta/ uang/ tubuh kita.

Puasa Samuel selain untuk kebangunan rohani juga untuk:

Kebutuhan akan pemimpin yang takut akan Tuhan, yang melaluinya Allah dapat bekerja.
Untuk persatuan di antara umat Allah.
Kebutuhan akan iman dan perbuatan.

Puasa Elia
(...lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya – 
1 Raj 19:8)

Suatu puasa untuk membantu mematahkan kebiasaan negatif dan emosional yang buruk (rasa takut yang tidak beralasan, ketidakmampuan untuk tetap kontrol dan tahu bahwa masa depannya terjamin - membuat ia merasa terabaikan dan sangat depresi, kecenderungan untuk menarik diri dari orang-orang dan lari dari masalahnya, tergelincir dalam kemurungan, lelah secara emosional, menderita rasa kasihan kepada diri sendiri, bicara gagap, menggaruk dll.); sehingga kebiasaan membuat orang terikat secara psikologis, fisik, atau mental.

Kebiasaan dipatahkan dengan mengambil tindakan positif dan bukannya berkosentrasi pada sifat-sifat negatif. Sebagian besar apa yang kita lakukan dalam kehidupan merupakan suatu respon terhadap cara kita memandang diri kita sendiri. 

Oleh karena itu, untuk mematahkan suatu kebisaan buruk, kita harus melihat diri kita sendiri melakukan suatu kebiasaan baru dengan sukses. Kepercayaan/keyakinan batiniah kita mempengaruhi harapan/visi kita. 

Hal ini juga mempengaruhi sikap dan nilai kita, yang mempengaruhi tindakan/kebiasaan, yang membentuk karakter kita, membutuhkan suatu proses:

Pengembangan karakter dan kebiasaan dimulai dengan pemikiran

Ke-percaya-an merupakan suatu komitmen, keyakinan bahwa sesuatu adalah benar dan secara bersama-sama menggambarkan langkah-langkah yang biasa untuk mengembangkan iman. Dengan dasar pengharapan, kita membuat rencana yang mencerminkan apa yang kita antisipasi.

Kepercayaan yang diubah membawa pada harapan yang diubah

Harapan/visi harus berasal dari firman Allah – akan memotivasi untuk mengatasi pola pikir dan kebiasaan yang buruk untuk mengembangkan tindakan baru berdasarkan firman Allah.

Harapan yang diubah membawa sikap yang diubah

Langkah yang harus dilibatkan dalam mengembangkan sikap-sikap baru:

1. Identifikasikan masalah yang ingin dibahas.
2. Identifikasikan pemikiran yang benar yang akan membawa pada pengubahan suatu kebiasaan emosional.
3. Melibatkan hubungan dengan orang-orang yang positif.
4. Kembangkan sebuah rencana yang akan mendorong sikap-sikap yang positif dan membantu mengembangkan suatu kebiasaan baru.

Sikap yang diubah membawa pada pada tindakan yang diubah.

Tindakan kita menentukan macam apa kita – buahnya dirasakan orang lain. 

Tindakan yang diubah membawa pada kebiasaan yang diubah. Kebiasaan yang diubah membawa pada pembentukkan karakter. 

Puasa Elia seharusnya tidak dimulai dengan meminta Allah melakukan suatu keajaiban adikodrati untuk mengambil kebiasaan yang buruk dari diri kita, tetapi, mulailah dengan melihat firman Allah, dan dengarkan dalam “telinga batiniah” untuk menangkap apa yang sedang Allah katakan.

Allah ingin agar kita berfokus pada kuasa-Nya sehingga kita lebih banyak iman akan kuasa-Nya daripada masalah kita.

Semakin dalam kebiasaan saudara berakar, paling efektif dipraktikkan beberapa kali untuk mematahkan khususnya kebiasan mental yang mendarah daging.

Puasa Janda
(Untuk membagikan roti (kita) bagi orang yang lapar dan untuk peduli terhadap orang miskin - Yes 58:7)

Bagian dari semangat disiplin rohani gereja mula-mula – untuk memenuhi kebutuhan sesama kita. 

Dalam menjalankan puasa Janda dapat lebih berarti jika kita mempersiapkan diri untuk:

Berorientasi pada orang lain – tumbuhkan kepekaan pada masalah yang menimpa orang lain dengan mencari tahu apa yang dibutuhkan orang-orang tidak mampu yang hidup di sekitar kita, secara proaktif menumbuhkan rasa empati dan kepekaan terhadap orang yang sedang berada dalam kesulitan.

Kenali berkat-berkat saudara sendiri – kebanyakan kita lebih mudah untuk mengeluh daripada bersyukur. Kita sering kali tidak menyadari betapa beruntungnya kita sampai kita melihat orang lain yang lebih berkekurangan.

Berpuasa dan berdoalah untuk meminta petunjuk/hikmat dari Allah sejauh mana seharusnya terlibat dalam suatu proyek kemanusiaan tertentu.

Berdoalah untuk orang yang saudara tolong.
Rasakanlah penderitaan orang lain.
Mempertimbangkan investasi jangka panjang – menolong kita mengenali hal-hal yang kurang penting yang dapat dihilangkan untuk menghasilkan tabungan jangka panjang yang nyata.

Puasa Rasul Paulus
(tiga hari lamanya ia tidak makan tidak minum – Kis 9:9)

Dalam kehidupan akan menghadapkan kita pada beberapa keputusan penting, sehingga dapat mengalihkan seluruh hidup dan tujuan kita – perlu mempunyai strategi pengambilan keputusan.

Jika kita tahu masa depan kita, akan lebih mudah untuk membuat keputusan-keputusan. Tetapi kita tidak tahu, sehingga Allah menjanjikan bahwa puasa yang Dia inginkan akan membuat “terang Allah merekah seperti fajar” (Yes 58:8), membawa perspektif dan wawasan yang lebih jelas ketika kita membuat keputusan-keputusan yang sangat penting. 

Allah telah menyediakan banyak sumber daya lain untuk mengambil keputusan:

Membimbing melalui konseling dari teman (Ams 11:14).
Memberi petunjuk dengan kedaulatan-Nya (Rm 8:28).
Membimbing kita di dalam hati (Kis 16:6).
Memimpin kita melalui kesempatan-kesempatan (1 Kor 16:9).
Membimbing kita jika mempunyai roh yang berserah (Rm 12:1-2).
Membimbing kita melalui karunia-karunia rohani kita (1 Kor 7:7).
Membimbing kita melalui akal sehat kita (Ams 16:9).
Membimbing kita melalui doa.

Langkah untuk pengambilan keputusan:

Jujurlah/mengakui dalam menghadapi setiap masalah yang menyelimuti masalah.

Definisikan masalah dengan baik - sudah setengah terpecahkan. Setiap kali tuliskan informasi mengenai masalah tersebut. Tulis kembali masalahnya, lama-kelamaan akan mendapatkan titik pandang yang berbeda. Akhirnya akan memahami secara jelas masalah tersebut, dan pikiran akan terfokus pada sebuah jawaban.

Kumpulkan informasi.

Susunlah daftar semua penyelesaian yang mungkin. Tulis semua solusi yang masuk akal/tidak. Sebuah jawaban yang kurang baik mungkin akan memicu jawaban yang terbaik. Jika terpaku terlalu cepat pada suatu penyelesaian, akan menghalangi penyelesaian yang lebih baik.

Pilihlah keputusan yang terbaik. Ambillah keputusan ... laksanakan.

Puasa Daniel
(makanan yang sedap tidak kumakan, daging dan anggur tidak masuk ke dalam mulutku dan aku tidak berurap sampai berlalu tiga minggu penuh – Dan 10:3)

Ketika kita mulai berpuasa dan berdoa untuk kesehatan fisik dan kesembuhan, kita harus sadar bahwa hanya Allah yang menyembuhkan (Kel 15:26). Secara teknis, para dokter, prosedur operasi dan obat-obatan tidak menyembuhkan orang – hanya suatu sarana yang dipakai Allah (Sir 38: 1-14). 

Puasa Daniel bertujuan membersihkan saluran pencernaan, mengistirahatkan tubuh, memperbarui sistem (sebagai terapi ketika sakit dan sebagai pencegahan jatuh sakit).

Langkah puasa untuk pencegahan atau penyembuhan kesehatan:

Pancarkan kerinduan batiniah dengan disiplin jasmaniah – menghindari junk food, camilan atau makanan pesta harus berkata ‘tidak’ untuk makanan-makanan yang tidak layak dan berkata ‘ya’ untuk makanan yang sehat.

1. Mintalah hikmat untuk membuat pilihan makanan yang layak dalam menu, pelajari diet yang tepat dengan membaca buku-buku/berbicara dengan orang-orang yang ahli mengenai masalah ini.

2. Tingkatkan komitmen rohani sebagaimana yang tercermin dalam doa yang terus menerus selama puasa, sehingga Allah memberikan kekuatan untuk menjalankan komitmen untuk tetap berpuasa.

3. Komitmen waktu . Misalnya saudara sudah membuat komitman 10 hari untuk puasa, dan setelah 7 hari makan sayuran merasa lebih baik. Saudara berpikir, satu hamburger saja tidak akan berakibat buruk; jadi jangan ganggu puasa saudara.

4. Komitmen kesaksian – pernyataan iman untuk suatu tujuan tertentu “doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit” (Yak 5:15). Oleh karena itu, buatlah komitmen ganda untuk kekuatan jasmani supaya dapat berpuasa sampai akhir dan untuk iman serta kekuatan emosional bagi roh saudara.

Berdoalah supaya dapat melihat apa peran dosa dalam kesehatan yang buruk (Yak 5:13-16). Mereka yang mempunyai sikap positif terhadap kehidupan/tubuh mereka dan terhadap Allah mempunyai dasar yang kuat untuk sembuh.

Puasa Yohanes Pembaptis
(tidak makan dan tidak minum – Mat 11:18)

Orang-orang Kristen mempunyai suatu kewajiban:

Untuk hidup kudus. Kadang-kadang, orang-orang yang belum mengenal Tuhan tidak tertarik pada kehidupan kudus.

Untuk secara aktif memperluas pengaruh mereka terhadap orang lain bagi kemuliaan Allah. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16).

Puasa Yohanes Pembaptis ditujukan untuk mereka yang ingin menjadi pengaruh yang baik (bukan untuk keegoisan/tujuan yang mementingkan diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan), atau mereka yang belum memiliki kesaksian yang baik, tetapi ingin berarti di mata Allah; untuk membalikkan kritik ketika orang-orang tidak memahami hal baik yang saudara lakukan.

Orang Kristen harus berani untuk tampil beda dengan dunia ini untuk menjadi berpengaruh bagi Allah.

Mereka yang menjalankan Puasa Yohanes Pembaptis tidak secara otomatis dipenuhi oleh Roh Kudus dengan menahan diri untuk tidak makan.

Untuk dipenuhi Roh Kudus harus mengikuti resep Allah:

Hilangkan dosa dari hidup saudara. 
Serahkan diri saudara kepada Allah. 
Mintalah Roh Kudus untuk masuk dalam hidup saudara. 
Berimanlah bahwa Ia akan datang. 
Taatilah firman Allah. Berjalanlah terus-menerus bersama Roh Kudus. 
Biarlah Roh Kudus terus-menerus menguatkan saudara.

Puasa Ester
(janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang – Est 4:16)

Kehidupan Kristiani mengandung banyak bahaya - berpihak kepada Kristus menuntut harga yang mahal - rentan terhadap serangan fisik dan terhadap ancaman rohani dari setan dan Iblis (Ef 6:12).

Puasa Ester bukanlah suatu paham pengusiran setan (exorcisme); tidak melepaskan perhambaan/kecanduan yang diderita seseorang akibat pengaruh roh jahat; tidak didesain untuk menyembuhkan orang yang menderita penyakit medis akibat pengaruh roh jahat atau kerasukan setan; digunakan sebagai senjata perlindungan untuk melawan roh jahat – tergoda untuk berbuat dosa, atau terpikat oleh ajaran sesat (dokrin setan) atau tindakan amoral. 

Pahamilah bahwa setan akan mencoba menghapuskan setiap roh kepekaan dan membutakan pikiran dari pengertian tentang hal-hal rohani. Para hamba Tuhan pun bisa menjadi buta secara rohani, dengan menyangkali dasar-dasar iman atau menjadi fanatik sehingga mengabaikan kehendak Allah. 

Untuk mendapatkan perlindungan peristiwa-peristiwa yang sangat berat, bukan untuk perlindungan dari cobaan dan bahaya yang kita hadapi sehari-hari. Biasanya, tipu muslihat setan tidak ditunjukkan secara berlebihan/terbuka, melainkan secara tertutup. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 22/II/2006; Puasa untuk melakukan terobosan rohani, Elmer L. Towns)