Kamis, 06 Agustus 2015

"Pedoman Hidup"

Kotbah di bukit adalah Pedoman Hidup 

(Mat 5-7; KGK 2764)










































Bahagia
bukanlah ditentukan oleh segala sesuatu
 yang kita peroleh
tetapi 
adalah oleh rasa syukur kita 
atas apa yang sudah kita peroleh.

Kebahagiaan 
bukan berapa banyak jumlah 
yang yang engkau miliki
tetapi
berapa banyak 
orang yang ada di sekelilingmu 
yang mengasihi
dan 
menciptakan kenangan yang indah bagimu.

Sabda Bahagia mencerminkan wajah Yesus Kristus dan cinta kasih-Nya. mereka menunjukkan panggilan umat beriman, diikutsertakan di dalam sengsara dan kebangkitan-Nya; mereka menampilkan perbuatan dan sikap yang mewarnai kehidupan Kristen; mereka merupakan janji-janji yang tidak disangka-sangkayang meneguhkan harapan di dalam kesulitan; mereka menyatakan berkat dan ganjaran, yang murid-murid sudah miliki secara rahasia (KGK 1717).

Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. kerinduan ini berasal dari AllahIa telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya: "Pastilah kita semua hendak hidup bahagia, dan dalam umat Tuhan tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan rumus ini, malahan sebelum ia selesai diucapkan" (Agustinus, Mor.eccl. 1, 3, 4).

"Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia. aku hendak mencari Engkau, supaya jiwaku hidup. Karena tubuhku hidup dalam jiwaku, dan jiwaku hidup dalam Engkau" (Agustinus, conf. 10, 290) (KGK 1718).

Sabda bahagia menuntut dari kita keputusan-keputusan penting yang ada hubungannya dengan kekayaan duniawi. Mereka membersihkan hati kita dan mengajarkan kita mencintai Allah di atas segala sesuatu (KGK 1728).

Sabda bahagia menunjukkan kepada kita tujuan akhir, yang untuknya Allah telah memanggil kita: Kerajaan Sorga, memandang Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, kehidupan abadi, pengangkatan sebagai anak Allah, dan perhentian di dalam Allah (KGK 1726).










Dukacitamu 
akan berubah menjadi sukacita.
Sekarang kamu diliputi dukacita ... 
hatimu akan bergembira
dan tidak seorang pun yang dapat merampas 
kegembiraan itu dari padamu.
(Yoh 16:20-22)

Dukacita menurut kehendak Allah 
menghasilkan pertobatan 
yang membawa keselamatan 
dan yang tidak akan disesalkan, 
tetapi dukacita yang dari dunia ini 
menghasilkan kematian.
(2 Kor 7:10)

Jika kamu harus menanggung ganjaran
Allah memperlakukan kamu seperti anak
Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar
 oleh ayahnya?
Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, 
yang harus diderita setiap orang, 
maka kamu bukanlah anak, 
tetapi anak-anak gampang.
(Ibr 12:7-8)

Tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan 
tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. 
Tetapi
kemudian menghasilkan buah kebenaran 
dan buah kebenaran
  yang memberikan damai 
kepada mereka yang telah dilatih olehnya.
(Ibr 12:11)

Bergembiralah akan hal itu
sekalipun sekarang ini
 kamu seketika harus berdukacita 
oleh berbagai-bagai pencobaan. 
Maksud semuanya itu 
ialah 
untuk membuktikan kemurnian imanmu.
(1 Ptr 1:6-7)

Tetapkanlah hatimu, nak! 
Tuhan semesta langit 
akan menganugerahkan kepadamu
sukacita ganti dukacitamu
Tetapkan hati, nak!” 
(Tob 7:17)


Pikulah kuk yang Kupasang 
dan belajarlah pada-Ku
karena 
Aku lemah lembut dan rendah hati 
dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Mat 11:29)

Perhiasanmu ialah manusia batiniah 
yang tersembunyi 
dengan perhiasan yang tidak binasa 
yang 
berasal dari 
roh yang lemah lembut dan tentram
yang sangat berharga di mata Allah.
(1 Ptr 3:4)

Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? 
Baiklah ia dengan cara hidup yang baik 
menyatakan perbuatannya 
oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan
(Yak 3:13)

Sebagai orang-orang pilihan Allah 
yang dikuduskan dan dikasihi-Nya
kenakanlah belas kasihan, kemurahan, 
kerendahan hati, 
kelemahlembutan dan kesabaran.
(Kol 3:12)

Seorang hamba Tuhan
tidak boleh bertengkar
tetapi harus ramah terhadap semua orang. 
Ia harus cakap mengajar, sabar 
dan dengan lemah lembut 
dapat menuntun orang yang suka melawan
sebab 
mungkin Tuhan memberikan kesempatan
kepada mereka 
untuk bertobat dan memimpin mereka 
sehingga mereka mengenal kebenaran, 
dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, 
karena terlepas dari jerat Iblis 
yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.
(2 Tim 2:24-26)

Saudara-saudara,
kalaupun seorang kedapatan melakukan 
suatu pelanggaran 
maka kamu yang rohani
harus memimpin orang itu 
ke jalan yang benar 
dalam roh lemah lembut, 
sambil menjaga dirimu sendiri
supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 
Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! 
Demikian kamu memenuhi hukum Kristus.
(Gal 6:1-2)



Aku datang ke dalam dunia ini, 
supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran;
setiap orang yang berasal dari kebenaran
mendengarkan suara-Ku.
(Yoh 18:37)

Firman kebenaran, yaitu Injil.
(Kol 1:5)

Barangsiapa masih memerlukan susu 
ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran,
Sebab ia adalah anak kecil.

Tetapi makanan keras 
adalah untuk orang-orang dewasa
yang karena 
mempunyai pancaindra yang terlatih 
untuk 
membedakan yang baik dari pada yang jahat.
(Ibr 5:13-14)

Orang yang telah percaya pada Allah
akan memahami kebenaran,
dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. 
Sebab kasih setia dan belas kasihan 
menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya.
(Keb 3:9)

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku
kamu benar-benar adalah murid-Ku 
dan kamu akan mengetahui kebenaran 
dan kebenaran itu 
akan memerdekakan kamu. 
(Yoh 8:31-32)

Kalau seseorang mengasihi kebenaran

maka kebajikan
adalah hasil jerih payah kebijaksanaan

Sebab ia mengajarkan 
menahan diri dan berhati-hati
keadilan dan keberanian;
dari pada semuanya itu 
tidak ada sesuatupun dalam kehidupan 
yang lebih berguna bagi manusia.
(Keb 8:7)

Kamu telah belajar mengenal Kristus.
Karena kamu telah mendengar tentang Dia 
dan menerima pengajaran di dalam Dia 
menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 
yaitu bahwa kamu yang dahulu, 
harus menanggalkan manusia lama
yang menemui kebinasaannya 
oleh nafsunya yang menyesatkan
supaya 
kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu
dan mengenakan manusia baru 
yang telah diciptakan menurut kehendak Allah
di dalam kebenaran 
dan kekudusan yang sesungguhnya.
(Ef 4:20-24)

Orang yang menjalankan kebenaran
akan berhasil dalam segala usahanya
sebagaimana halnya dengan 
semua orang yang berbuat baik
(Tob 4:6)

Setiap orang dari bangsa mana pun 
yang takut akan Dia 
dan yang mengamalkan kebenaran
berkenan kepada-Nya 
(Kis10:35)

Anak-anak-Ku, 
janganlah membiarkan seorang pun 
menyesatkan kamu.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar,
sama seperti Kristus adalah benar;

barangsiapa yang tetap berbuat dosa
berasal dari Iblis.

Untuk inilah
  Anak Allah menyatakan diri-Nya,
yaitu supaya Ia
membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

Setiap orang yang lahir dari Allah, 
tidak berbuat dosa lagi;
Sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia 
dan ia tidak dapat berbuat dosa, 
karena ia lahir dari Allah.

Inilah tandanya anak-anak Allah 
dan anak-anak Iblis: 
setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, 
tidak berasal dari Allah,
demikian juga 
barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.
(1 Yoh 3:7-10

Dari pihak Allah 
engkau akan diberi nama ini untuk selamanya:
Damai sejahtera hasil kebenaran
dan “Kemuliaan hasil dari takwa”.
(Bar 5:4)

Berjuanglah mati-matian 
untuk kebenaran,
maka 
Tuhan Allah akan berperang untukmu.
(Sir 4:28)

Inilah doaku, 
Semoga kamu makin melimpah
dalam pengetahuan yang benar 
dan dalam segala macam pengertian,
sehingga kamu dapat memilih apa yang baik,
supaya kamu suci dan tak bercacat 
menjelang hari Kristus,
penuh dengan kebenaran 
yang dikerjakan oleh Yesus Kristus 
untuk memuliakan dan memuji Allah.
(Flp 1:9-11)




Hendaklah kamu murah hati,
sama seperti Bapamu adalah murah hati.
(Luk 6:36)

Kasih itu murah hati.

(1 Kor 13:4)

Siapa yang menunjukkan kemurahan,
hendaklah ia melakukan dengan sukacita.
(Rm 12:8)

Kamu akan diperkaya 
dalam segala kemurahan hati,
yang membangkitkan syukur kepada Allah 
oleh karena kami.
(2 Kor 9:11)

Bagi orang suci semuanya suci;
Tetapi 
bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman
suatu pun tidak ada yang suci,
karena baik akal maupun suara hati mereka najis.
(Tit 1:15)

Orang yang mencintai kesucian hati 
dan yang manis bicaranya 
menjadi sahabat raja.
(Ams 22:11)





Allah adalah Tuhan semua orang,
Kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.
Sebab, barangsiapa yang berseru
kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,
Jika mereka tidak percaya kepada Dia? 
Bagaimana mereka percaya kepada Dia,
Jika mereka tidak mendengar tentang Dia,
Jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya,
Jika mereka tidak diutus? 

Seperti ada tertulis: 
“Betapa indahnya 
kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”
(Rm 10:12-15)








Senin, 03 Agustus 2015

Yesus Tak Punya Tangan Lagi, ...

Ada sebuah cerita termasyur setelah Perang Dunia II tentang patung Yesus di gereja di Jerman yang dibom. Figur Yesus dalam patung itu sedang merentangkan tangan-Nya ke seluruh dunia. Akibat serangan bom, tangan Yesus itu hancur. Beberapa waktu kemudian, pada tangan yang hancur itu ditemukan tergantung sebuah tulisan: “Ia tak punya tangan lagi, sekarang engkaulah tangan-Nya.”

Inilah maksud rencana Allah: Yesus akan hidup di setiap anggota gereja-Nya. Kita, Gereja, anggota tubuh mistik-Nya, adalah tangan-tangan, mulut, pikiran dan hati-Nya untuk mewartakan diri dan cinta-Nya.
 Kita sungguh merupakan perpanjangan karya Yesus dan perpanjangan hidup-Nya.


Misi kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelamatkan manusia berdosa dan untuk itu Yesus rela menderita dan mati di kayu salib demi menanggung hukuman dosa manusia.


Yesus menyatakan kebenaran ini dengan mengambil perumpamaan sebiji benih yang harus mati terlebih dahulu agar ia bisa menghasilkan ribuan biji lainnya. Kita tidak akan memperoleh buah kehidupan yang melimpah kalau tidak mau mengalami kematian/penghancuran terlebih dahulu.

Tugas kerasulan seharusnya melekat pada setiap orang Kristen yang mengarah pada keselamatan dalam persatuan dengan Allah.

(Warta KPI TL No. 08/XI1/2004; Sumber: Renungan Through Seasons of the Heart 28 September, John Powell SJ).


20.26 -

Kasihilah musuhmu, berdoalah dan berbuatlah baik

Jika kita mengasihi musuh kita dengan berdoa dan berbuat baik (memberi makan, minum dll. – Rm 12:20) maka kita sudah mengikuti perintah Tuhan (Mat 5:44; Luk 6:27).

Maka musuh kita akan mencari tahu kenapa kita melakukan kebaikan kepadanya padahal dia telah berbuat jahat kepada kita.

Pada kesempatan inilah kita bersaksi bahwa Tuhan Yesuslah yang mengajarkan dan memerintahkan kita untuk mengasihi, berdoa dan berbuat baik.


Musuh kita akan berubah menjadi sahabat kita dan akhirnya dia ingin mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi.

04.42 -

...

...

02.09 -

Kebajikan Manusiawi


***
Jikalau engkau menerima perkataanku 
dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
sehingga telingamu memperhatikan hikmat,
dan engkau 
mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,
jikalau engkau mencarinya dan mengejarnya
maka engkau akan memperoleh 
pengertian tentang takut akan Tuhan
dan mendapat pengenalan akan Allah.

Karena Tuhanlah yang memberi hikmat,
dari mulut-Nya datang 
pengertahuan dan kepandaian,

Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur,
menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,
sambil menjaga jalan keadilan 
dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.

Maka engkau akan mengerti
tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran,
bahkan setiap jalan yang baik.

Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu
dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
kebijaksanaan akan memelihara engkau,
kepandaian akan menjaga engkau
supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat.
(Ams 2:1-12)

*

Kamu suka sabar terhadap orang bodoh,
karena kamu begitu bijaksana.
(2 Kor 11:19)

***

Minggu, 02 Agustus 2015

21.13 -

"Kebajikan Ilahi"



***


***


***

***


***


***


***
Iman 
adalah dasar 
dari segala sesuatu yang kita harapkan
dan bukti 
dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
(Ibr 11;1)

*

Iman tidak pernah mengecewakan
Allah selalu menjawab iman yang mempertanyakan,
bahkan ketika Ia tidak menjawab
seperti yang diharapkan secara manusiawi oleh orang beriman.

(Adrienne von Speyr)

***



***

Tetaplah berjalan dalam iman,
hidup dalam kebenaran
dan berdoalah sampai masalahmu berakhir,
bukan masalah yang membuat doamu berakhir.

*
Tuhan selalu mampu bekerja
untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita
tetapi Dia meminta agar kita percaya
dan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya.

*

Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan
dan oleh perbuatan-perbuatan itu 
iman menjadi sempurna.
(Yak 2:22)

***

**

***


***

Memiliki harapan 
tidak otomatis menyelesaikan masalah kita.
Namun dengan memiliki harapan,
kita akan optimis mampu menghadapi setiap masalah.
Jadi jangan kehilangan pengharapan.

*
Pengharapan kepada Tuhan
dalam diri seseorang
akan sanggup tetap bertahan 
kesukaran hidup.

*

Ketika kita hilang harapan
seringkali kita berpikir
bahwa ini akhir dari segala-galanya.
Tetapi Tuhan melihat kita dari sorga hanya tersenyum dan berkata:
"Anak-Ku, ini hanya "belokan" bukan "akhir"!

*
Pengharapan itu 
adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.
(Ibr 6:19)

***


***


***


***


***


***



21.08 -

Kebajikan



Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikan tetap untuk selamanya.

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Flp 4:8).


Kebajikan dibedakan atas kebajikan manusiawi (Keb 8:7, ada 4) dan kebajikan ilahi (1 Kor 13:13, ada 3):

Kebajikan adalah suatu kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Ia memungkinkan manusia bukan hanya untuk melakukan perbuatan baik, melainkan juga untuk menghasilkan yang terbaik seturut kemampuannya. 

Dengan segala kekuatan moral dan rohani, manusia yang berkebajikan berusaha untuk mencapainya dan memilihnya dalam tindakannya yang konkret.

Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah (Gregorius dari Nisa)

Kebajikan manusiawi adalah sikap yang teguh, kecenderungan yang dapat diandalkan, kesempurnaan akal budi dan kehendak yang tetap, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu dan membimbing tingkah laku kita supaya sesuai dengan akal budi dan iman

Mereka memberi kepada manusia kemudahan, kepastian dan kegembiraan untuk menjalankan kehidupan moral secara baik.

Manusia yang berkebajikan melakukan yang baik dengan sukarela (KGK 1804)

Kebajikan moral diperoleh melalui usaha manusia. Ia adalah buah dan sekaligus benih untuk perbuatan baik secara moral; ia mengarahkan seluruh kekuatan manusia kepada tujuan, supaya hidup bersatu dengan cinta ilahi.

Empat kebajikan pokok merupakan poros kehidupan moral (Keb 8:7: (1) kebijaksanaan (2) keadilan (3) keberanian (4) penguasaan diri (menahan diri & berhati-hati).

Kebijaksanaan adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya

Orang yang bijak memperhatikan langkahnya (Ams 14:15). Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa (1 Ptr 4:7). Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. 

Orang menamakan dia "auriga virtutum" [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran

Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. 

Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atau situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.

Kebijaksanaan ialah budi benar sebagai dasar untuk bertindak (St. Tomas)

Keadilan sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka

Keadilan terhadap Allah dinamakan orang "kebajikan penghormatan kepada Allah" (virtus religionis). 

Keadilan terhadap manusia mengatur, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama.

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran (Im 19:15). 

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai Tuan di sorga (Kol 4:1).

Keberanian adalah kebajikan moral yang membuat tambah dalam kesulitan dan tekun dalam mengejar yang baik

Ia meneguhkan kebulatan tekad, supaya melawan godaan dan supaya mengatasi halangan-halangan dalam kehidupan moral

Kebajikan keberanian memungkinkan untuk mengalahkan ketakutan, juga ketakutan terhadap kematian dan untuk menghadapi segala pencobaan dan penghambatan. Ia juga membuat orang rela untuk mengurbankan kehidupan sendiri bagi suatu hal yang benar.

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yoh 16:33).

Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita mempergunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat

Manusia yang menguasai diri mengarahkan kehendak indrawinya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai, dan berpegang pada kata-kata: Janganlah mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsumu (Bdk. Sir 5:2; 37:27-31). 

Janganlah dikuasai oleh keinginan-keinginanmu, tetapi kuasailah segala nafsumu (Bdk. Sir 18:30). Allah mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan dunia dan supaya kita hidup bijaksana adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini (Tit 2:12).

Hidup yang baik itu tidak lain dari mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran. Oleh penguasaan diri orang mencintai-Nya dengan cinta sempurna, yang tidak dapat digoyahkan oleh kemalangan apa pun (karena keberanian), yang hanya mematuhi Dia (karena keadilan) dan yang siaga menilai semua hal, supaya jangan dikalahkan oleh kelicikan atau penipuan (inilah kebijaksanaan) (St. Agustinus).

Kebajikan manusiawi yang diperoleh melalui pendidikan, melalui latihan, dan ketekunan dalam usaha, dimurnikan dan diangkat oleh rahmat ilahi

Dengan bantuan Allah mereka menggembleng watak dan memberi kemudahan dalam melakukan yang baik. Manusia yang berkebajikan bergembira dalam berbuat baik

Bagi manusia yang telah dilukai oleh dosa memang tidak mudah untuk mempertahankan keseimbangan moral

Keselamatan yang dikaruniakan oleh Kristus memberi kita rahmat yang dibutuhkan supaya tabah dalam mengejar kebajikan

Tiap orang harus selalu memohon rahmat terang dan kekuatan, harus mencari bantuan dalam Sakramen-sakramen harus bekerja sama dengan Roh Kudus dan mengikuti ajakan-Nya untuk mencintai yang baik dan bersikap waspada terhadap yang jahat.

Kebajikan manusiawi berakar dalam kebajikan ilahi, yang memungkinkan kemampuan manusia mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:4). 

Kebajikan ilahi langsung berhubungan dengan Allah. Mereka memungkinkan orang Kristen, supaya hidup dalam hubungan dengan Tritunggal Mahakudus. Mereka memiliki Allah yang Esa dan Tritunggal sebagai asal, sebab, dan obyek.

Kebajikan ilahi adalah dasar, jiwa, dan tanda pengenal tindakan moral orang Kristen. Mereka membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral

Mereka dicurahkan Allah ke dalam jiwa umat beriman, untuk memungkinkan mereka bertindak sebagai anak-anak Allah dan memperoleh hidup abadi

Mereka adalah jaminan mengenai kehadiran dan kegiatan Roh Kudus dalam kemampuan manusia

Ada tiga kebajikan ilahi: (1) iman (2) harapan (3) dan kasih (1 Kor 13:13).

Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja Kudus ajukan supaya dipercayai

Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman "manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah" (DV 5). Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah

Orang benar akan hidup oleh imanIman yang hidup "bekerja oleh kasih(Rm 1:17; Gal 5:6).

Harapan adalah kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan Sorga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan berharap dengan janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus.

Marilah kita berpegang teguh kepada pengakuan tentang harapan kita, sebab yang menjanjikan setia (Ibr 10:23). 

Allah telah "melimpahkan Roh Kudus kepada kita melalui Yesus Kristus, Juru Selamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima kehidupan abadi, sesuai dengan pengharapan kita (Tit 3:6-7).

Kebajikan harapan itu sejalan dengan kerinduan akan kebahagiaan yang telah Allah letakkan di dalam hati setiap manusia

Ia merangkum harapan, yang menjiwai perbuatan manusia: ia memurnikannya, supaya mengarahkannya kepada Kerajaan Sorga; ia melindunginya terhadap kekecewaan; ia memberi kemantapan dalam kesepian; ia membuka hati lebar-lebar dalam menantikan kebahagiaan abadi

Semangat yang harapan berikan, membebaskan dari egoisme dan mengantar kepada kebahagiaan cinta kasih Kristen.

Harapan Kristen dibentangkan langsung pada awal kotbah Yesus dalam sabda bahagia. Ia mengungkapkan diri dalam dan dikuatkan oleh doa, terutama Doa Bapa Kami.

Pengharapan tidak mengecewakan, bersukacitalahsauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Rm 5:5; 12:12; Ibr 6:19).

Kasih adalah kebajikan ilahi, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri dan karena kasih kepada Allah kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

Yesus membuat kasih menjadi suatu perintah baru (Yoh 13:34). Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah didalam kasih-Ku (Yoh 15:9). 

Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Mat 5:44) dan kaum miskin (Mat 25:40-45). Melalui kasih satu sama lain para murid mencontoh kasih Yesus, yang mereka terima dari Dia.

Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, bersukacita karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-7). 

Kasih melebihi segala kebajikan, ia adalah kebajikan ilahi yang paling utama (1 Kor 13:13). Kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol 3:14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggalkannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih Allah.

Kehidupan moral yang dijiwai oleh kasih memberi kepada orang Kristen kebebasan anak-anak Alah. Di depan Allah ia tidak lagi bersikap sebagai seorang hamba dengan ketakutan yang merendahkan dan juga bukan sebagai seorang buruh harian yang ingin dibayar, melainkan seorang anak, yang memberi jawaban kepada kasih dari Dia, yang "lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh 4:19).

Buah kasih adalah kegembiraan, perdamaian, dan kerahiman; kasih menghendaki kemurahan hati dan teguran persaudaraan; ia adalah perhatian, ia ingin memberi dan menerima, ia tanpa pamrih dan murah hati, ia adalah persahabatan dan persekutuan.

(Sumber: Warta KPI TL No.118/II/2014 » KGK 1803-1829).