Rabu, 08 Juli 2020

Berjuang untuk hidup kudus

Menjadi Kudus adalah panggilan Kristiani (1 Ptr 1:16 » Kuduslah kamu, sebab Aku kudus). Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup dan kesempurnaan cinta kasih (Kol 3:12; Mat 5:48). 

Menjadi kudus! Kata-kata ini terdengar seakan-akan mustahil bagi kita. Memang, ini mustahil apabila kita mau menjadi kudus dengan kekuatan kita sendiri. Kekudusan pertama-tama bukan hanya hasil usaha keras manusia, namun ada hal yang menjadikan semua itu, ialah peran Roh Kudus yang diam dalam diri setiap orang beriman. Roh Kuduslah yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang baik, bahkan Dia juga yang mengajarkan kita berdoa dan menyebut Allah sebagai Bapa kita. 

Kudus berarti menyatu penuh dengan Allah yang Mahakudus. Untuk mencapai kesatuan ini, dituntut suatu usaha dan perjuangan yang terus-menerus. Kekudusan itu tidak bersifat statis melainkan dinamis, hasil kerja sama antara manusia yang lemah dengan Allah, yang memberi rahmat. Jadi, kekudusan adalah anugerah dan sekaligus jawaban bebas setiap orang untuk mau mengikuti dan melakukan kehendak Allah. 

Kekudusan menjadikan pribadi manusia semakin jernih dan bersih hati dan budinya sehingga kejujuran dan ketulusan semakin mewarnai setiap kata dan tindakannya. Oleh karena itu orang yang kudus akan terhindar dari sikap munafik, sebab apa yang ada didalam hati dan budinya itulah yang akan tampak dan berbuah dalam tindakannya. Apa yang dipancarkan orang kudus adalah segala yang baik dan mendatangkan rahmat Allah. 

Orang yang kudus tidak menyimpan kebencian namun yang ada didalam dirinya ketulusan hati dan kerinduan untuk selalu mengasihi dan berbagi. Karena kasih tersebut maka orang kudus senantiasa bersukacita dan ingin selalu ingin berbuat baik. 

Orang-orang kudus tidak membuang energi mengeluhkan kegagalan orang lain; mereka bisa menahan lidah mereka di hadapan kesalahan saudara-saudari mereka, dan menghindari kekerasan verbal yang merendahkan dan menganiaya orang lain.” 

Kekudusan bukan berarti tidak membuat kesalahan atau tidak pernah berdosa. Kekudusan tumbuh dengan kesanggupan untuk perubahan, pertobatan, kerelaan untuk memulai kembali, dan diatas segalanya, kesanggupan untuk rekonsiliasi dan pengampunan (Paus Benediktus XVI). 

Seandainya jiwa-jiwa mau mendengarkan suara-Ku, ketika Aku berbicara kepada mereka dalam hati mereka, maka dalam waktu singkat mereka bisa mencapai puncak kekudusan (BH II, 50). Jadi, hidup orang kudus adalah tanda-tanda karya Allah, Injil yang dihayati (Paus Yohanes Paulus I). 

Ada 5 jalan menuju kekudusan menurut Gaudete et Exsultate (seruan apostolik Paus Fransiskus mengenai kekudusan dalam dunia moderen) 

1. Kekudusan berarti menjadi diri Anda sendiri 

Paus Fransiskus menawarkan kepada kita banyak contoh hidup suci dalam seluruh dokumen ini: St. Theresia Lisieux, Karmelites Prancis menemukan kekudusan dalam melakukan tugas-tugas kecil; St. Ignatius dari Loyola, pendiri Yesuit yang mencari Tuhan dalam segala hal; St. Filipus Neri, pendiri Tarekat Oratorian, yang terkenal karena selera humornya. Sukacita Kristen biasanya disertai dengan rasa humor. 

Paus Fransiskus mengatakan, orang-orang kudus berdoa bagi kita dan memberi kita teladan cara hidup. Akan tetapi, kita tidak perlu menjadi “salinan” dari orang-orang kudus tersebut. Kita perlu menjadi diri kita sendiri. Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri, “sebagaimana dikatakan oleh Thomas Merton: “Bagi saya, menjadi orang suci berarti menjadi diri saya sendiri.” 

2. Kehidupan sehari-hari dapat membawa kita kepada kekudusan 

Bagi Paus, kita tidak perlu menjadi uskup, imam atau anggota ordo religius untuk menjadi suci. Seriap orang dipanggil untuk menjadi suci – sebagaimana dikatakan Konsili Vatikan II – entah sebagai ibu atau ayah, seorang siswa atau seorang pengacara, seorang guru atau petugas kebersihan. Paus menyebut mereka ini sebagai “Saints next door”. 

Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kekudusan hanya untuk mereka yang dapat mengundurkan diri dari urusan duniawi, dan menghabiskan banyak waktu dalam doa, namun kata Paus “Bukan demikian halnya.” “Kita semua dipanggil Allah untuk melakukan apa yang kudus di dalam seluruh hidup kita sama seperti Dia yang kudus (1Tes 4:7; 1 Ptr 1:15) dengan menjalani hidup kita dalam cinta kasih dan dengan memberikan kesaksian dalam semua yang kita lakukan, di mana pun kita berada.” 

Tidak berarti bahwa kita harus melakukan tindalan besar dan dramatis. Paus Fransiskus menawarkan contoh kesucian dalam hidup sehari-hari, misalnya: orang tua yang penuh kasih membesarkan anak-anak mereka, mereka bekerja keras demi kesejahteraan keluarga, dengan tidak pernah kehilangan senyum mereka, serta “gerakan kecil” dan pengorbanan yang dapat dilakukan seseorang seperti memutuskan untuk tidak meneruskan fitnah. Jadi, apabila kita dapat melihat kehidupan sehari-hari sebagai “misi”, maka kita akan segera menyadari bahwa kita dapat dengan penuh cinta kasih dan baik hati bergerak menuju kekudusan. 

Paus menegaskan juga tidak harus “berleha-leha sampai pingsan dalam mengusahakan hidup mistik”. Kita juga tak perlu mengundurkan diri dari orang lain. Di sisi lain, kita tidak perlu terjebak dalam “race” yang terburu-buru dari satu hal ke hal lainnya. Hal terpenting untuk mengusahakan kekudusan dalam hidup sehari-hari, menurut Paus Fransiskus, adalah keseimbangan antara tindakan dan kontemplasi. Jadi, kekudusan bersifat holistik. 

Contoh: Ada seorang ibu yang berbelanja. Ketika pulang, dia berjumpa dengan seorang tetangganya yang mengajak mengobrol. Ketika tetangganya mulai bergosip (membicarakan hal buruk tentang orang lain), ibu itu memutuskan dalam hati untuk menghentikan pembicaraan tersebut. Ini adalah langkah konkrit untuk menuju kesucian. Kemudian ibu tersebut bertemu dengan orang pengemis dan memberinya sapaan yang ramah. Tindakan ini membuatnya naik satu langkah lagi menuju ke sucian. 

Di tengah perjalanan, ibu ini membayangkan sesampai di rumah akan mandi lalu tidur untuk menghilangkan kelelahan tubuhnya, namun putranya memohon pertolongannya. Ibu ini memutuskan untuk mendengarkan dengan sabar dan menolong putranya dengan sukacita meskipun tubuhnya sangat lelah. Tindakan ini membuatnya naik satu langkah lagi menuju ke sucian. 

Ketika ada banyak masalah dalam hidupnya, ibu itu berjuang tidak bersungut-sungut tetapi dia langsung mengambil Rosario dan berdoa. Tindakan ini membuatnya naik satu langkah lagi menuju ke sucian. 

Orang akan mampu melihat Allah dalam kehidupannya bila ia memiliki kekudusan dalam dirinya, tandanya adalah kesederhanaan dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan hatinya. 

3. Menghindari dua kecenderungan utama: Gnostisisme dan Pelagianisme 

Gnostisisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang paling penting adalah “apa yang kita ketahui”. Paham ini menolak tindakan amal atau perbuatan baik. Paham ini menegaskan bahwa yang kita butuhkan hanyalah pendekatan intelektual yang benar. 

Paus Fransiskus mengatakan dewasa ini Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya bisa dipahami” dan memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” kata Paus, “itulah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar”. Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda. 

Pelagianisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa kita dapat mencapai keselamatan melalui upaya kita sendiri. Seorang Pelagian mempercayai kekuatannya sendiri, tidak merasa membutuhkan rahmat Tuhan dan merasa diri melebihi orang lain karena mematuhi aturan tertentu. 

Paus Fransiskus mengatakan Pelagianisme dewasa ini seringkali memiliki “obsesi dengan hukum, keasyikan dengan peluang-peluang sosial dan politik, terlalu cemas dengan liturgi gereja, dokrin dan prestise.” Ini sungguh membahayakan kekudusan karena merampok kita dari kerendahan hati, menempatkan kita di atas orang lain, dan hampir tidak memberikan ruang untuk peranan rahmat Allah. 

4. Bersikap baik 

Dalam “Gaudete et Exsultate”, Paus memberikan nasihat praktis bagi umat zaman modern untuk menjalani hidup menuju kekudusan. Paus mengatakan, misalnya, jangan bergosip, hentikan penilaian dan yang paling penting, berhenti bersikap kejam. 

Nasihat berbuat baik ini juga berlaku untuk “kegiatan online”. Komentar Paus tentang topik ini penting diingat. Ia menulis: “Online fitnah dan umpatan bisa menjadi kebiasaan. ... karena di sana dapat dikatakan apa yang tidak dapat diterima dalam wacana publik. Orang berusaha mengimbangi ketidakpuasan mereka sendiri dengan menghantam orang lain. Sambil mengklaim bahwa menegakkan perintah-perintah lain, mereka benar-benar mengabaikan perintah kedelapan, yang melarang bersaksi palsu atau berbohong dan dengan kejam memfitnah orang lain.” Bagi Paus, menjadi suci, berarti berbuat baik. 

5. Ucapan Bahagia adalah penunjuk jalan menuju kekudusan 

Kekudusan adalah fokus seruan apostolik ini. Kekudusan itu bukan sekedar apa yang dimaksudkan Yesus dengan pewartaan-Nya, melainkan kekudusan adalah potret Tuhan Yesus sendiri. Untuk menjadi kudus kita dipanggil untuk menjadi takut akan Allah, miskin di hadapan Allah, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, tidak menghakimi, mau mengampuni, mau memberi, membawa damai dst (Mat 5:1-12; Luk 6:36-38). 

Paus secara konkret mengingatkan kita bahwa kita harus mengusahakan kekudusan melalui hidup pribadi, keluarga dan kelompok. Dalam kegiatan kecil-kecil yang kelihatan tanpa arti. Semuanya yang kecil itu indah karena menjadi sarana ampuh yang menuntun kita kepada kerendahan hati, mati raga dan akhirnya mencapai kekudusan. Cara berpikir yang diilhami atau diterangi oleh Roh Kudus, tidak akan jatuh dalam ajaran dan praktik yang sesat. Jadi, kita hanya perlu melaksanakan yang kecil dengan cinta yang besar. 

Dalam tutur kata yang penuh kehangatan dan cinta, tidak nyinyir dan tanpa motivasi kebencian. Kata Paus Fransiskus, orang-orang kudus “tidak membuang energi dengan mengeluh tentang kegagalan orang lain; mereka bisa menahan lidahnya berhadapan dengan kesalahan saudari mereka, dan menghindari kekerasan verbal yang merendahkan dan memperlakukan orang lain dengan buruk. 

Kekudusan, kata Paus, “is not about swooning in mystic rapture”, melainkan pemahaman dan pelayanan kepada Tuhan dalam diri mereka yang lapar, haus, memberi tumpangan/telanjang, sakit/dalam penjara. Jadi, kita harus menghidupi Sabda Bahagia dan tindakan positif yang konkret terhadap sesama yang menderita (Mat 5:1-12; 25:37-40 » Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama). 

Jadi, Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). Bagaimana caranya? (1) Latihlah mata kita seperti mata lebah (selalu melihat yang positif; Mat 6:22-23 » Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu). 

(2) Pertajam pendengaran kita (Yes 50:4). Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Jika, kita membaca Kitab Suci secara teratur, maka jiwa kita mendapatkan makanan yang sehat (2 Tim 1:13; 1 Tim 6:3 » perkataan sehat yakni ajaran/perkataan Tuhan kita Yesus Kristus) sehingga terjadi pembaharuan budi, dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:2). Pada akhirnya, hidup kita menghasilkan Buah Roh (Gal 5:22-23; KGK 1832 » 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai Sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

(3) Kata-kata kita harus penuh kasih, dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (Kol 4:6; Yes 50:4). 

Setiap orang yang telah dipilih menjadi murid Kristus diundang untuk mengalami kedekatan Kristus dan melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian jika kita selalu bersama dengan Tuhan dan melalukan kehendak-Nya, kita dalam kekudusan. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 14 Mei 2020, Ibu Laksmi).

19.38 -

Kuatkan dan teguhkan hatimu

Pada tahun 1988, saya diajak oleh seorang teman saya untuk menghadiri sebuah pertemuan karismatik. Namun, saya menolaknya, karena saya menganggap pertemuan tersebut adalah salah satu “aliran sesat”. 

Pada tahun 1989, ada seorang teman saya lainnya (R) yang tak jemu-jemunya mendesak saya agar mau mengikuti pertemuan karismatik, katanya: “Bu Marsel, di pertemuan ini ada Pujian Penyembahan, kesaksian dan renungan firman. Bagus lho!” Jawab saya: “Saya sudah cukup ikut Misa di Gereja. Nanti-nanti sajalah.” Di bulan Desember 1989, R mendesak saya untuk mengikuti “retret awal”. 

Pada waktu mendengarkan pengajaran di retret tersebut, saya disadarkan bahwa Allah sangat mengasihi umat-Nya. Terlebih lagi saat “Pencurahan Roh Kudus”, air mata saya tak dapat dibendungnya karena merasakan “jamahan kasih-Nya”. 

Sejak saat itu saya merasakan ada perubahan dalam hidup saya. Seperti ada api yang membakar jiwa saya sehingga ada kerinduan untuk selalu membaca Kitab Suci dan mengikuti Misa dengan penghayatan. Bahkan saya juga terlibat dalam pelayanan dengan sukacita meskipun banyak tantangan dari pihak keluarga. 

Melalui komunitas ini saya baru tahu bahwa ada banyak harta karun yang tersembunyi dalam gereja yang harus digali. 

Ketika kita dibaptis, kita berada dalam “Bahtera yang amat besar” (Madah Bakti No. 518) seperti kapal pesiar yang dilengkapi dengan alat keamanan dan alat navigasi yang canggih sehingga perjalanan ziarah di dunia ini menjadi jauh lebih aman. Dalam bahtera tersebut ada banyak kamar dan fasilitas di dalamnya, yaitu tujuh sakramen dan segala kekayaan rahmat dan ajaran yang bisa dinikmati dari Gereja. 

Di dalam Gereja, Allah secara khusus memberikan rahmat melimpah untuk keselamatan siapapun yang percaya kepada Kristus. Melalui pembaptisan kita dilahirkan secara baru dan menerima benih hidup ilahi. Jadi, Gereja tidak saja melahirkan kita ke dalam hidup ilahi, melainkan juga memelihara hidup kita lewat sakramen-sakramennya. 


[Mat 8:22-26] Yesus berkata: “"Ikutlah Aku ...” Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Murid-murid-Nya membangunkan Dia. Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. 

» Jika Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi pada hidup kita, itu artinya Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya (1 Kor 10:13). 

Tuhan Yesus ada bersama kita dalam bahtera tersebut. Karena kita kurang percaya pada-Nya, maka Dia tidur. Ketika kita percaya dan menyerahkan hidup kita pada-Nya, maka kuasa-Nya bekerja sehingga kita melihat kemuliaan-Nya. Tuhan hanya butuh iman dan ketaatan kita, selanjutnya Tuhan akan bertindak untuk menyelesaikannya. 

Jangan ragukan kuasa-Nya dan jangan membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Melangkah dengan iman dan ketaatan, maka kita akan melihat kuasa Tuhan yang ajaib akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. 

Ada ribuan janji Allah dalam Alkitab. Kita membutuhkan janji-janji tersebut untuk tetap stabil dan kuat di masa sulit. Untuk mengklain janji-janji tersebut, kita harus percaya sepenuhnya kepada Allah. 

[Luk 5:4-6] Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." ... Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 

» Kenalilah Allah dengan baik dan benar. Jika kita tidak menghadapi suatu masalah, maka kita juga tidak akan tahu bahwa Yesus adalah jawaban hidup kita. Ingatlah! Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6), dukacita kita akan diubah-Nya menjadi sukacita (Yoh 16:20). Jadi, kuatkanlah hatimu ketika Tuhan mengijinkan sesuatu yang tidak nyaman terjadi dalam hidupmu. 

Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Kristus memegang segala kunci maut dan kerajaan maut, telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (Why 1:17-18; 2 Tim 1:10). Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut (Ibr 12:28). 

[Baca jugaKunci-kunci sorgawi

Syarat untuk dapat melihat kemuliaan Tuhan (2 Taw 7:14): (1) merendahkan diri (2) berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu (3) berbalik dari jalan -jalannya yang jahat. 

Pada tahun 1999, kami sekeluarga harus keluar dari Timor Timur karena adanya refrendum. Mendengar kabar itu kami sekeluarga benar-benar “down”. Namun kami masih dapat bersukacita karena telah dipersiapkan Tuhan selama 10 tahun untuk mengenal-Nya secara pribadi. Jadi semua persoalan tersebut kami bawa dalam doa sehingga di masa-masa sulit kami tetap ekses dalam kehidupan ini. 

Suami saya mendapatkan dua pilihan tempat tugasnya, di Kupang atau Surabaya. Saya memilih di Kupang karena banyak keluarga dan teman. Berkat Doa Novena, suami saya mendapatkan inspirasi lalu memutuskan untuk tinggal Surabaya sebagai tempat tinggal kami. 

(Refrendum (KBBI): menyerahkan suatu masalah kepada orang banyak supaya mereka yang menentukannya. Jadi, tidak diputuskan oleh rapat atau oleh parlemen. Refrendum kemerdekaan yang diadakan di Timor Timur pada 30 Agustus 1999. Asal usul refrendum bersamaan dengan permintaan yang dibuat oleh Presiden Indonesia, B.J. Habibi ke-sekretaris Jendral PBB, Kofi Annan pada 27 Januari 1999, bagi PBB untuk mengadakan refrendum, di mana provinsi Indonesia akan diberikan pilihan lebih besar otonomi dalam Indonesia atau merdeka). 

Suami saya tidak bercerita bahwa 3 bulan lagi akan pensiun. Dia tidak ingin keluarganya bertambah “down”. Puji Tuhan, berkat pertolongan-Nya melalui teman kuliahnya di Unair, dia dapat bekerja kembali di bagian penelitian selama 10 tahun sehingga ketiga anak saya dapat menyelesaikan kuliahnya. 

Saya merasakan indahnya berjalan bersama Tuhan. Oleh karena itu saya membesarkan anak-anak saya menurut firman Allah. Pikir saya, jika anak-anak saya keluar dari kehendak Allah dan tersesat ke dalam gaya hidup yang berdosa, pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Ams 22:6). Karena para malaikat akan melindunginya dan Roh Kudus akan terus menarik mereka sampai mereka mengarahkan hidup mereka kembali kepada Allah sehingga hidup mereka selaras dengan firman-Nya. 

Jadi, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi (Yos 1:7-9)." 

Ini adalah kesaksian B, anak bungsu saya (Musibah yang membawa berkat). 

Di akhir bulan Maret, ada kerinduan di hati saya untuk memberikan hadiah yang terbaik untuk ulang tahun, anak pertama saya. Lalu saya menanyakan pada istri saya apa yang kira-kira dibutuhkan. Dia menjawab: “Sepatu.” 

Sesudah itu saya berselancar di online untuk mencari sepatu. Saya menemukan sepatu yang saya inginkan, namun saya memikirkan selama dua hari untuk memutuskan membelinya karena saat itu keadaan ekonomi saya benar-benar terpuruk akibat dari Covid-19. Jadi, sekarang, jika menginginkan segala sesuatu harus difilter terlebih dahulu harganya sebelum memutuskan. Kalau dulu, membeli bukan hanya melihat modelnya saja, tapi juga mereknya. 

Sebelum memutuskan itu, saya berdoa: “Tuhan, saya punya keinginan untuk memberikan hadiah ulang yang terbaik buat anak saya yang pertama. Jika Engkau berkenan, saya akan membelinya.” Saya juga berunding dengan istri saya mengenai keinginan saya untuk membeli dua sepatu memakai kartu kredit, satu untuk anak pertama dan satunya lagi untuk anak ke dua. Istri saya pun menyerahkan keputusan tersebut kepada saya. 

Suatu hari mobil yang saya kendarai ditabrak oleh sebuah truk. Kami sepakat untuk membawa masalah itu ke kantor polisi. Sesampainya di sana, kami dianjurkan untuk berdamai. Akhirnya kami berdua ke bengkel untuk memperbaiki mobil yang rusak tersebut. Karena kerusakannya agak berat, maka biaya perbaikannya cukup besar. Si penabrak mau bertanggung jawab dan dia hanya mampu membayar 950.000, maklumlah dia hanya seorang sopir bukan pemilik truk tersebut. Semua masalah ini saya ceritakan sejujur-jujurnya pada pemimpin perusahaan di tempat saya bekerja, bahkan tentang uang dari si penabrak itu juga saya serahkan padanya. 

Dua minggu kemudian, saya dipanggil oleh bagian transportasi di kantor, katanya: “Mobil ini masih dalam tanggungan asuransi. Jadi kita hanya membayar 300.000 untuk membayar biaya resiko sendiri. Oleh karena penabrak membayar kamu sebesar 950.000, maka sisanya adalah berkat buat kamu.” 

Melalui peristiwa ini saya sangat bersyukur karena sejak kecil saya dibimbing oleh ibu saya untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu yang akan saya jalani dalam kehidupan ini. 

Pada tahun 2009, saat saya mulai bekerja, Tuhan mulai menarik hati saya untuk mengenal-Nya. Bahkan saya dimampukan oleh-Nya untuk berani bercerita sejujur-jujurnya tentang keadaan saya. Jadi, saat dalam keadaan terpuruk, baik ibu maupun kakak saya adalah pendoa bagi saya. Melalui dukungan doa mereka, saya beroleh kekuatan dalam menjalani kehidupan. 

Terlebih lagi sejak tahun 2017, di dalam komunitas, saya ditarik-Nya lebih dan lebih dalam lagi untuk mengenal-Nya. Melalui pertobatan, saya berjuang hidup melekat pada-Nya sehingga dalam keadaan terpuruk saya dimampukan oleh-Nya untuk tetap bangkit dan tetap dapat bersukacita meskipun menghadapi kehidupan yang berat ini. 

Supaya iman kita benar-benar mampu mengubah situasi, maka iman itu harus disertai dengan perbuatan (ketaatan). Iman yang disertai dengan ketaatan pasti menghasilkan kuasa yang dahsyat! 

Yesus yang kita sembah telah mengalahkan dunia (Yoh 16:33). Sewaktu kita percaya dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Ketika kita mempunyai iman (1 Yoh 5:1, 4-5), maka kita diberi-Nya kuasa (Yoh 1:12; 1 Kor 4:20; Mrk 16:17-18) untuk mengalahkan dunia (1 Yoh 2:16 » keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup). 

Keinginan daging (Gal 5:19-21 » percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya). Keinginan daging adalah maut (Rm 8:6). Contoh: Anak-anak Imam Eli memakan yang tidak haknya (1 Sam 2:11-17). 

Keinginan mata (Ams 27:20 » Mata manusia tak akan puas). Contoh: Tampak kepada Daud dari atas sotoh seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. ... Daud menyuruh orang mengambil dia ... lalu tidur dengan dia ... lalu mengandunglah perempuan itu (2 Sam 11). 

Keangkuhan hidup. dapat membutakan rohani kita, yang membuat kita lupa bahwa semuanya yang kita miliki adalah semata-mata berkat dari Tuhan. 

Jika kita rindu untuk menjadi pemenang, gunakanlah iman di dalam Yesus Kristus, maka kita akan dimampukan mengalahkan dunia dan segala keinginannya. Jadi, kita tak perlu takut dan kuatir menghadapi hidup ini karena janji Tuhan adalah jaminan bagi kita. 

Orang yang dilahirkan kembali (1 Yoh 5:1b; Yoh 3:8 » yang lahir dari Allah, yang lahir dari Roh) tidak lagi berbuat dosa, hidup dalam pertobatan. Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya (1 Yoh 5:18). 

Orang yang hidup dalam ketaatan menuruti perintah-perintah-Nya. Sebenarnya melakukan perintah Tuhan atau firman Tuhan itu tidak berat. Yang membuatnya berat karena kita belum menjadi manusia baru, belum hidup dalam Roh (1 Yoh 5:2-3). Karena itu milikilah iman yang teguh di dalam Kristus! 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 31 Mei 2020, Ibu Yohana).

Apakah Kerajaan Allah sudah nampak dalam Gereja?

Gereja ada “supaya di dunia ini tercipta ruang bagi Allah, supaya Ia dapat tinggal di dalamnya dengan demikian, dunia menjadi “Kerajaan-Nya.” (Joseph Ratzinger). 

Dalam diri Yesus Kristus, Kerajaan Allah sungguh telah dimulai di tengah-tengah dunia. Di mana sakramen diberikan, dunia lama yang penuh dosa dan kematian dilemahkan sampai keakar-akarnya dan diubah. Maka mulailah ciptaan baru, kerajaan Allah nampak. 

Namun, sakramen tetap menjadi tanda yang kosong jika orang Kristen tidak mewujudkan hidup baru yang diberikan kepada mereka ke dalam tindakan yang auntetik. Orang tidak bisa menerima komuni sekaligus menolak memberikan roti kepada orang lain. Sakramen menuntut kasih “yang siap sedia untuk keluar dari dirinya dan pergi ke pinggiran, bukan hanya dalam arti geografis, tetapi juga ke pinggiran eksistensi manusia: dalam misteri dosa, penderitaan dan ketidakadilan; pengabaian dan ketidakacuhan terhadap agama; pemikiran intelektual; dan dalam segala bentuk kemiskinan.” (pidato Kardinal Bergoglio sebelum konklaf, 2013). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 182/VI/2020 » Docat 21: Kopendium ASG 49-51; Youcat 123-124).

Kriteria seorang diberi gelar Santo/Santa

Secara umum, mereka yang diberi gelar Santo/Santa adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh pelaksanaan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan mereka ini harus dapat dibuktikan oleh argumen-argumen dan disertai juga oleh mujizat-mujizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa orang kudus itu. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia adalah benar sahabat Allah. 

Para orang kudus (Santo/Santa) adalah orang-orang yang semasa hidupnya meneladani Kristus sampai ke titik yang heroik, demikian pula martir, yang bahkan mencontoh Kristus sampai kepada menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus. 

Oleh karena itulah, maka gelar Santa- Santo dan martir itu dapat dikatakan diperoleh karena hubungan mereka dengan Kristus, dan yang telah menerima kepenuhan misteri Paska Kristus, yaitu wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 182/VI/2020).

Selasa, 07 Juli 2020

03.32 -

Kasih yang menyembuhkan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30). 


Saya bertumbuh di tengah keluarga yang mengajarkan bagaimana hidup saling mengasihi dan peduli pada sesama. Ayah saya (A) adalah seorang yang penuh kasih, bijak dan sabar. Saya adalah anak yang terkecil dalam keluarga, seringkali saya berlari-lari ke pangkuan ayah saya. Meskipun beliau sibuk atau capek sepulang kerja, beliau tetap membuka tangannya dan memeluk saya. Kadangkala saya mengajaknya bermain bersama, saya pura-pura sebagai tukang cukur dan beliau sebagai pelanggannya. 

Saya sangat mengasihi ayah saya. Oleh karena itu setiap hari dengan hati sukacita saya selalu menunggunya pulang kerja, lalu saya membukakan sepatunya dan menggantikan dengan sandalnya. Kadangkala saya terpelanting saat hendak melepas sepatu yang besar dan berat bagi saya. Kejadian itu membuat kami berdua tertawa bersama. Itulah kenangan indah bersama ayah saya

Ketika saya berumur 9 tahun, saya diajak berlibur ke Solo dan saya dipertemukan dengan kedua orang tua kandung saya. Sejak saya mengetahui bahwa saya bukan anak kandung A, maka hati saya sangat hancur dan sulit menerima diri saya sendiri, apalagi orang lain. 

Meskipun hubungan keluarga A dan keluarga kandung saya baik, namun hati saya tidak bisa menerima kenyataan ini, tetapi saya tidak punya keberanian untuk bertanya “Mengapa orang tua saya membiarkan saya sendirian di Bandung sementara mereka berada di Solo?” Pekara itu saya simpan dalam hati saja ... tanpa jawaban dan tanpa penjelasan sampai ayah kandung dan ayah angkat saya meninggal. 

Akibat dari luka batin tersebut, di luar rumah, saya menjadi seorang anak yang tidak percaya diri, tertutup, suka murung, tidak suka bergaul, mudah tersinggung, dan sering sedih tanpa sebab. Namun, di dalam rumah biasa-biasa saja. 

Puji Tuhan, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari, yaitu Yesus Kristus, sahabat sejati dalam perjalanan hidup. Perjumpaan ini terjadi dalam sebuah retret luka batin. Pada saat sesi pembasuhan kaki, saya mencari orang yang figurnya dapat mewakili ayah kandung saya secara fisik/wajah, untuk saya basuh kakinya. 

Berkat rekonsiliasi dalam alam roh, saya merasakan kelegaan yang tiada tara. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus telah menjamah hati saya dan hati ayah kandung saya juga, meskipun beliau tidak hadir pada kegiatan tersebut. 

Sejak saat itu saya mengalami pembaharuan-pembaharuan di dalam roh (gemar membaca Kitab Suci, suka berdoa dan pujian penyembahan) sehingga saya dimampukan untuk mengampuni ayah kandung saya maupun orang lain yang melukai hati saya. Berkat rahmat-Nya, saya dimampukan untuk mengasihi mereka dengan kasih-Nya. Bahkan saya mulai masuk dalam pelayanan doa dalam komunitas Karismatik.

(Sumber: GPM, Maria)

Minggu, 14 Juni 2020

05.04 -

Kemampuan menyelesaikan konflik

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). 


Suatu kali sepasang suami istri melakukan perjalanan melewati sebuah gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar. Sang suami memarahi istrinya dengan kata-kata kasar. Lalu istri tersebut menulis di atas pasir, “Hari ini suamiku melukai hatiku.” 

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Sang istri senang melihat kolam mata air dan segera berenang di sana. Ia tidak menyadari air di situ sangatlah dalam dan hampir tenggelam. Beruntung suaminya segera melompat dan menolongnya

Setelah itu, ia menulis di atas batu, “Hari ini suamiku menyelamatkanku.” Suaminya pun penasaran dan bertanya, kenapa waktu dimarahi ia menulis di atas pasir, sedangkan waktu diselamatkan ia menuliskannya di atas batu? 

Istri ini pun menjawab, ketika ia disakiti, ia ingin segera melupakan dan memberikan maaf kepada suaminya. Namun ketika suaminya melakukan hal yang baik terhadapnya, ia akan menyimpannya di hati dan tidak akan melupakannya.

Setiap keluarga pasti pernah mengalami yang namanya konflik. Entah itu konflik suami istri, orangtua anak, ataupun mertua dan menantu. Sebab setiap kita diciptakan Tuhan berbeda satu dengan yang lain. 

Jadi wajar saja kita masih mengalami konflik karena perbedaan-perbedaan yang ada. Permasalahannya adalah bagimana kita mengatasi konflik dalam keluarga?

Keluarga yang tidak mengetahui cara menyelesaikan konflik akan mempunyai banyak masalah yang tidak terselesaikan, seperti: kekecewaan, kepahitan, sakit hati, iri hati, dendam dan kebencian. Hal ini bisa menimbulkan keretakan dalam keluarga, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran.

Sebaliknya, keluarga yang mengetahui bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik bisa melewati masalah, perbedaan, pertengkaran; bahkan bisa semakin bersatu, sehati sepikir, serta menjadi keluarga yang sukses dan bahagia. 

Ya, meskipun kita menyadari bahwa hidup manusia penuh dengan konflik, kita harus selalu belajar mengembangkan kemampuan menyelesaikan konflik yang ada supaya kita bisa membangun keluarga yang damai dan bahagia. 

Hidup manusia PENUH DENGAN KONFLIK, itu sebabnya kita perlu MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN untuk menyelesaikan konflik.

Bapa, terima kasih karena Engkau sudah menempatkan kami di tengah-tengah keluarga kami. Ajari kami untuk selalu hidup damai dengan keluarga kami. Bantu kami ketika keluarga kami sedang mengalami konflik, ya, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

(Renungan Keluarga Allah)