Selasa, 18 Juli 2017

19.51 -

Kuasa lagu rohani


Ada seseorang yang sedang menunggu operasi bypass jantung. Ketika ia memikirkan tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi, ia merasa ketakutan dan kesepian.

Lalu seorang petugas rumah sakit masuk ke kamar untuk membawanya ke ruang operasi. Sambil mendorong ranjang si pasien, sang petugas muda tersebut menyenandungkan lagu rohani himne Irlandia kuno, "Kaulah ya Tuhanku surya hidupku. Asal Kau ada, yang lain tak perlu. Siang dan malam Engkau ku kenang. Di hadiratMu jiwaku tenang."

Senandung ini mengingatkan si pasien tentang padang rumput hijau dan reruntuhan batu kuno di Irlandia tempat kelahirannya. Himne tersebut memenuhi jiwanya seperti angin segar dari kampung halaman.

Lalu pasien tersebut berkata kepada petugas muda itu, "Allah telah memakaimu hari ini untuk melepaskanku dari ketakutan dan menyegarkan jiwaku."

Si petugas muda bertanya padanya, "Apa yang telah kulakukan?" Pasien tersebut menjawab, "Senandungmu mendekatkanku kepada Allah sehingga aku tidak takut untuk operasi bypass jantung hari ini."

Pernahkah anda merasa kuatir, cemas, takut, gelisah dan kemudian anda menyanyikan sebuah lagu rohani dan hati anda menjadi lega dan penuh sukacita?

Itulah salah satu cara Tuhan memulihkan jiwa anda melalui lagu pujian. Kalau hari ini anda sedang bersusah hati atau melihat seseorang sedang bersusah hati, senandungkanlah sebuah lagu rohani dengan ketulusan hati, maka kuasa Allah akan mengalir melalui lagu tersebut.

Marilah kita mulai melayani Tuhan dengan kidung pujian yang keluar dari mulut kita.

🎼"Melayani melayani lebih sungguh. Melayani melayani lebih sungguh. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku. Melayani melayani lebih sungguh."🎼

Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Ef 5:19).

(Sumber: Warta KPI TL No.157/V/2018 » Renungan Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 19 Juli 2017).

Mengenal Allah, Mengenal Diri



Hal apa yang kira kira muncul di benak Anda ketika membaca judul tulisan kecil ini? Mungkin ada satu tanda tanya, mungkinkah mengenal Allah terlebih dahulu sebelum kita mengenal diri kita? Atau justru, boro-boro mengenal Allah yang penuh dengan misteri, mengenal diri sendiri aja belum ...

Uniknya, Santa Teresia Avila justru menganjurkan kita untuk mengenal Allah terlebih dahulu, baru setelahnya kita akan lebih paham akan diri kita.

Mengapa Teresia Avila mengatakan hal demikian? Mungkinkah hal itu? Setelah merenungkan sekian lama, saya melihat hal yang sama seperti yang dilihat oleh Santa Teresia Avila.

Dengan mengarahkan hati kita menuju Allah, maka kita akan terdorong untuk keluar dari diri kita sendiri. Kita tahu, sebagai umat beriman mengenal Allah adalah melalui pewahyuan dari Sang Putera, yaitu Kristus Yesus sendiri.

Dari Kristus sendiri kita mengenal lebih baik siapa Allah yang sesungguhnya, bukan dengan abstraksi maupun spekulasi, apalagi berfantasi.

Melalui Kristus dan Allah yang mewahyukan diri lewat para nabi sebelum Kristus kita bisa mengenal dengan lebih dekat lagi siapa sesungguhnya Allah, dan juga siapa manusia, atau makhluk ciptaan.

Bentangan relasi yang terjalin antara Allah dan manusia yang dituliskan oleh Alkitab membuat kita paham bahwa selama kurun waktu ribuan tahun tak pernah surut Allah mencintai manusia dan memperbaharui perjanjian-perjanjian-Nya, yang berkali kali dilanggar oleh manusia.

Dari perjanjian kepada Adam dan Hawa, Nuh, Abraham, Musa, Daud, hingga berpuncak pada Kristus.

Allah begitu setia, hingga pada satu "kegenapan waktu", Ia mengutus Sang Putera untuk hadir ke dunia. Lewat Yesus sendiri, kita dibawa lebih dekat lagi pada Bapa-Nya. Dan melalui Yesus sendiri, manusia yang mendengarkan Sabda-Nya dimurnikan. Anak domba yang mengenal suara Sang Gembala mengikuti jalan-Nya.

Ketika kita berjalan bersama Kristus, tahulah kita bahwa kita sedang dimurnikan. Seperti perjalanan Kristus menemani Keopas dan temannya yang hendak pulang kampung ke Emaus, dibukakan mata batin kita.

Kita terkejut, bergelora, namun juga bisa sukacita. Sabda Kristus pada intinya berusaha membawa manusia yang mendengar-Nya untuk memurnikan dirinya hingga siap menerima kebenaran-Nya.

Langkahnya menuju Bait Allah dan memporak-porandakan mereka yang berdagang, maupun Sabda-Nya yang keras pada orang Farisi (seperti ular beludak, kubur bercat putih), maupun para pengikutnya (tentang Roti Hidup) dan orang muda kaya (untuk menjual seluruh hartanya dan membagi pada orang miskin sebelum mengikuti-Nya) adalah semata untuk memurnikan manusia dan menerima kebenaran.

Allah memakai kacamata Allah dalam memandang apa yang baik untuk manusia, namun seringkali manusia tetap memakai kacamatanya sendiri dalam memandang Sabda-Nya. Inilah kegagalan kita untuk mengerti Sabda-Nya yang seringkali terdengar keras.

Bagaimana Yesus sebentar memuji Petrus di Kaisarea ketika Ia bertanya "Siapakah Aku ini menurut kalian? Namun tak berselang lama membentaknya "Iblis ... engkau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, bukan apa yang Allah pikirkan ..."

Yesus mendorong kita untuk murni. Semurni-murninya. Untuk keluar dari ego kita. Keluar dari diri kita yang nyaman dan mengikuti-Nya

Dan Yesus tak pernah menurunkan derajat kemutlakan Sabda yang diucapkan-Nya dan tak pernah berusaha merayu para pengikut-Nya yang mulai percaya, walau satu persatu mereka meninggalkan-Nya.

Mereka meninggalkan Yesus karena tak sanggup untuk keluar dari diri mereka sendiri. Mereka gagal mengadakan "lompatan iman."

Mengikuti Yesus memang membutuhkan keberanian besar untuk menyangkal diri. Ia meminta Petrus menyarungkan pedangnya ketika memotong telinga Malkus, dan memilih menyerahkan diri-Nya.

Demikian pula kita diminta untuk berserah pada-Nya dan kehendak-Nya untuk dapat mengikuti Allah.

Ketika kita melihat diri kita sebelum mengenal secara benar Kristus, akan berbeda setelah kita mengenal-Nya dengan baik.

Kristus bukan hanya membuat Anda memandang diri Anda dengan baik, melainkan juga mengubah diri Anda untuk menjadi serupa dengan-Nya secara perlahan-lahan. Ia akan mengobrak-abrik bangunan bobrok dalam batin anda dan mendirikan sebuah istana megah, seperti yang diceritakan C.S. Lewis, walau proses itu menyakitkan Anda.

Apapun yang Ia lakukan bagi Anda adalah untuk keselamatan diri Anda. Ia akan menghancurkan segala berhala yang menjadi penghalang antara diri Anda dan diri-Nya.

Maukah kita menerima kehadiran-Nya untuk "membakar" kedagingan kita, agar kita menjadi layak dihadapan-Nya? Atau, apakah kita ingin tetap berjalan di jalur ego kita sendiri sambil sebelah kaki kita melangkah untuk-Nya? Mungkinkah kita mengharmonikan antara "dunia" dan "sorga"? Bisakah kita menyatukan yang Ilahi dengan mamon?

Mari kita belajar dari Daud, yang selalu merasa miskin dihadapan Allah. Dan marilah kita belajar dari Salomo yang diwaktu muda begitu mewarisi kebijaksanaan yang dikaruniakan, namun di usia tua ia meninggalkan Tuhan karena banyak gundiknya yang menyembah berhala dan iapun ikut menyembahnya?

Hikmat dan kebijaksanaan yang besar dan mulia apabila tanpa diiringi dengan kewaspadaan dan penyangkalan diri akan memungkinkan kita terjerumus ke dalam apa yang Injil Yohanes sebut sebagai "dunia".

Dan mari kita belajar dari Maria yang selalu bersahaja dan sederhana, yang selalu merindukan Allah dalam hatinya yang murni hingga melahirkan ucapan: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan ... Terjadilah ...

(Paulus Budiraharjo Kusumo)

Rabu, 21 Juni 2017

18.47 -

Pilih mana: Percaya janji Tuhan atau kenyataan yang buruk?

2 Raj 6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah situasi di mana Anda harus memilih antara mempercayai janji Tuhan yang belum kelihatan dan kenyataan pahit yang terlihat jelas dengan mata jasmani Anda?

Situasi di atas pernah dialami oleh bujang Elisa. Matanya melihat bahwa dia dan Elisa dikepung oleh tentara Aram. Menyelisik reaksinya pada ayat 15, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” dapat saya pastikan bahwa sang bujang lebih mempercayai apa yang mata jasmaninya dia lihat daripada janji Tuhan di dalam hatinya.

Di sisi lain, Elisa juga di situ bersama sang bujang. Nyawa Elisa pun terancam seperti halnya sang bujang. Namun Elisa lebih mempercayai janji Tuhan yang ada di dalam hatinya, yang belum kelihatan, dibanding mempercayai mata jasmaninya.

Ayat 16 menuliskan pernyataan iman Elisa “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Hebat!

Teman, bagaimana dengan Anda? Mana yang lebih Anda percayai, janji Tuhan yang belum terlihat atau kenyataan yang terlihat?

Kalau Anda perhatikan cerita di atas, Elisa dan bujangnya ada di dalam satu kondisi yang sama, tetapi mereka mempercayai dua hal yang berbeda, sehingga menghasilkan dua respons yang berbeda.

Sang bujang mempercayai kenyataan buruk yang dilihat matanya dan hasilnya adalah ketakutan dan kekuatiran, sedangkan sang nabi mempercayai janji Tuhan dan mengabaikan kenyataan buruk yang dilihatnya. Hasilnya adalah iman dan mukjizat.

Saya mengerti bahwa situasi yang terjadi di dalam hidup kita tidak selalu indah. Saya pun mengalami hal tersebut. Namun Anda perlu ingat bahwa Anda memiliki Tuhan yang besar yang memberikan janji kekal bagi Anda.

Jika Anda percaya kepada janji Tuhan, justru di tengah hujan badai, Anda dapat melihat pelangi yang indah; di tengah kesesakan, Anda dapat melihat mukjizat dinyatakan.

Seperti nasihat Elisa kepada bujangnya, “Jangan takut …” Saya pun ingin mengatakan kepada Anda supaya jangan takut, karena yang menyertai Anda jauh lebih besar dari masalah yang Anda hadapi.

Peganglah janji Tuhan, dan mulai ucapkan harapan Anda, bukan ketakutan Anda.

(@mistermuryadi).

Senin, 19 Juni 2017

Ambisi oleh Allah



Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya. —1 Raj 8:58

Beberapa bulan lalu saya menerima e-mail yang mengundang saya bergabung dengan komunitas “orang-orang yang berambisi tinggi”.

Saya memutuskan untuk meneliti arti kata ambisi dan mendapati bahwa seseorang yang berambisi tinggi adalah orang yang sangat termotivasi untuk mencapai kesuksesan dan mau bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Apakah baik menjadi orang yang berambisi tinggi? Inilah ujian yang tidak pernah salah: Apakah kita “[melakukan] semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31)? Yang sering terjadi justru kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan diri kita sendiri.

Setelah peristiwa air bah di zaman Nuh, sekelompok orang memutuskan untuk membangun sebuah menara demi mencari nama bagi diri mereka sendiri (Kej. 11:4).

Mereka ingin menjadi terkenal dan berusaha agar tidak terserak ke seluruh bumi. Namun, karena tidak melakukannya untuk kemuliaan Allah, mereka terjerumus pada ambisi yang salah.

Sebaliknya, saat Raja Salomo mendedikasikan tabut perjanjian dan Bait Allah yang baru selesai dibangun, ia berkata, “Aku telah mendirikan rumah ini untuk nama Tuhan” (1Raj. 8:20).

Lalu ia berdoa, “Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, dan untuk tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.58).

Ketika hasrat terbesar kita adalah untuk memuliakan Allah dan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, kita menjadi orang yang termotivasi untuk mengasihi dan melayani Yesus dengan pertolongan kuasa Roh Allah.

Kiranya kita berdoa seperti Salomo berdoa. Kiranya kita “berpaut kepada Tuhan, Allah kita, dengan sepenuh hati [kita] dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.61). — Keila Ochoa

Wawasan:

Sembari bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuan Anda, mintalah Allah memberi Anda hati yang rendah hati dan taat, yang sepenuhnya setia kepada-Nya.

Bapa, berilah aku kerinduan untuk menaati-Mu dan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Mu.

Lakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.

(Our Daily Bread Ministries)

20.36 -

Apa yang dipikirkan, itulah yang akan terjadi

Yesus berkata: Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22)

Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Mrk 11:22-24)

Sungguh indah apa yang disabdakan oleh Yesus 

Dalam Injil Lukas, Yesus juga ber firman tentang hal *Percaya*

Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:45)

Salah satu kebahagiaan terbesar yang kita miliki adalah ketika kita dengan ikhlas ikut memikul kuk yang Tuhan ijinkan hadir dalam kehidupan kita, yaitu kerelaan menerima keputusan Allah tanpa pernah bertanya apalagi protes kepada-Nya."

Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah harti dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11:29)

Jika kita memikirkan bahagia, maka kita akan bahagia.
Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.
Jika kita berpikiran gagal, kita menjadi gagal
Jika kita berpikiran sukses, maka kita niscaya sukses. 
Jika kita berpikiran sakit, kita juga menjadi sakit.
Jika kita berpikiran sehat, maka kita pun akan sehat. 


Inilah The Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik, merupakan hukum yang berlaku di alam semesta

Anda adalah apa yang Anda pikirkan. 

Selalulah berpikir yang positif dan jangan pernah biarkan pikiran negatif membelenggu otak dan kehidupan kita. Jadi tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan.

Bagian kita hanya 2, yaitu : 1. Berusaha optimal 2. Berdoa

Sedangkan selanjutnya itu bagian Tuhan yang akan digenapi dalam setiap kehidupan anak-anak-Nya yang percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya.

Yesus bersabda : Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:45)

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (Yoh 1:12)

..supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:15-16)

Yesus juga berkata tentang salib kehidupan yang harus dipikul oleh setiap pengikut-Nya agar kita didapati layak sebagai murid Kristus

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (Mat 10:38)

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku*, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk 9:23).

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:27).

Jangan pernah takut untuk memikul salib-Nya, karena jika Tuhan mengijinkan kita untuk ikut ambil bagian dalam setiap salib kehidupan berarti kita dipercaya oleh-Nya. Bayangkan dipercaya oleh Penguasa Langit dan Bumi wouwww luar biasa.

19.59 -

Rahasia mujizat

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Bini adalah seorang wanita yang sehari-harinya berjualan makanan di pasar untuk menghidupi keluarganya. Ia tinggal di desa Bejen, Kaliwungu, Semarang.

Suatu hari ia merasakan sakit di perut dan ketika ia meraba-raba perutnya, ia menemukan seperti ada yang mengganjal. Kemudian keluarganya mengantarnya ke RS di Solo yang fasilitasnya lebih lengkap.

Dari hasil USG, mereka mendapati bahwa ternyata ada tumor di perutnya. Namun ia tidak punya uang untuk biaya operasi. Ia pun pulang dan semakin hari perutnya membesar, seperti orang hamil 9 bulan.

Suatu malam, seorang misionaris Amerika yang sedang melayani di daerahnya, menengoknya. Denish memberitakan tentang jalan keselamatan yang hanya ada melalui Yesus Kristus dan bahwa kuasa-Nya yang ajaib dapat memberikan mujizat kesembuhan. Saat itu juga, Bini menerima Yesus dan mengimani kesembuhannya.

Esok paginya sekitar jam lima, ia buang air kecil. Air seninya hitam pekat seperti air kopi dengan bau menyengat. Perutnya yang besar lama-lama kempes. Saat ia mengecek kembali kondisinya di Rumah Sakit, tumornya sudah lenyap.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ayat ini berbicara bahwa untuk memiliki iman, manusia tidak perlu melihat secara jasmani.

Iman lahir ketika kita berharap pada Tuhan. Walaupun secara manusia, apa yang kita harapkan tidak bisa terjadi, tetapi percayalah bahwa Tuhan sanggup.

Maka, seperti yang dialami Ibu Bini, iman kita akan menjadi kunci yang melepaskan kuasa Allah dan mendatangkan mujizat Tuhan.

Bukan hanya mengalami, bahkan iman dapat membuat kita dipakai Tuhan, seperti misionaris tersebut untuk melakukan mujizat-Nya.

Sebelum bisa mengalami kuasa mujizat atau dipakai Tuhan untuk melakukan mujizat, kita perlu memahami rahasia mujizat, yaitu: iman.

(Renungan Keluarga Allah)