Tampilkan postingan dengan label *Pengagum atau Pengikut Kristus*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Pengagum atau Pengikut Kristus*. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2018

Ikan kecil dalam air



Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.” 

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. 

Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya: “Hai tahukah kamu di mana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.” 

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Di manakah air?” 

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak: “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.” 

Dalam kehidupan, seringkali kita seperti ikan kecil ini. Kita sudah mendapatkan pengajaran tentang kebenaran, tetapi masih mencari kebenaran dengan jajan ke tempat lain. Akhirnya tanpa sadar kita tersesat. 

Sebagai seorang Katolik seharusnya kita bersyukur karena telah berada di tempat yang benar. Karena begitu ada "ajaran sesat" yang mengguncangkan iman, Gereja mengadakan "Konsili". 

Konsili menghasilkan "Magisterium (Wewenang Mengajar) Gereja". Melalui Magisterium kita bisa mengunduh ajaran-ajaran Gereja tanpa harus membuat definisi sendiri.






Iman tidak pernah mengecewakan
Allah selalu menjawab
iman yang mempertanyakan,
bahkan
ketika Ia tidak menjawab

seperti yang diharapkan secara manusiawi
oleh orang beriman.
(Adrienne von Speyr)

Ajaran Gereja Katolik
menjawab pertanyaan
yang paling mendasar dalam hidup kita.
Pertanyaan-pertanyaan ini
hanya bisa dijawab dengan memuaskan
jika kita punya keterbukaan hati
terhadap rahmat Tuhan,
menerima apa yang dinyatakan Yesus
melalui Gereja yang didirikan-Nya.











Selasa, 26 September 2017

Mengenal jalan Tuhan atau perbuatan-Nya



Ada dua jalan yang ditawarkan pada kita, jalan dunia dan jalan Tuhan.

Jalan dunia adalah mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (Ef 2:2).

Pendurhaka adalah sama seperti penyembah berhala (1 Sam 15:23); pekerjaan Iblis (2 Tes 2:9); telah menolak firman Tuhan (1 Sam 15:23); tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah (Mzm 78:8).

Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (Mzm 25:10); jalan-Nya sempurna (Mzm 18:31). Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya (Yes 2:3).

Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju dan supaya Tuhan menepati janji yang diucapkan-Nya (1 Raj 2:3-4).

Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musaperbuatan-perbuatan kepada orang Israel (Mzm 103:7).

Orang Israel adalah umat yang kudus bagi Tuhan, mereka dipilih-Nya dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Hal ini terjadi karena "hati Tuhan terpikat" sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan mereka (Ul 7:6-7; 10:15).

Mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji (Rm 9:4).

[Kel 1:1-16] Para anak Israel datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing. Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa. Tetapi Yusuf telah ada di Mesir. Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia.

Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.

Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan jika terjadi peperangan jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."

Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."

[Kel 2:23-24] Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

[Kel 3:7-10] Tuhan berfirman kepada Musa: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, Aku mengetahui penderitaan mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."

[Kel 13:17-18] Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."

Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.

[Bil 14:22-23] Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku, pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka! Semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya.

» Orang Israel hanya mengenal perbuatan-perbuatan Tuhan. Hal ini terjadi karena mereka tegar hatinya sehingga tidak mengenal jalan-Nya (Kis 19-9; Ibr 3:10; Kel 15:24; 16:2; 17:3).

Karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan. Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu (Kel 33:2-3).

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak (Ul 8:2).

[Yos 5:6-7] Empat puluh tahun lamanya orang Israel itu berjalan melalui padang gurun, sampai habis mati seluruh bangsa itu, yakni prajurit yang keluar dari Mesir, yang tidak mendengarkan firman Tuhan. Kepada mereka itu Tuhan telah bersumpah, bahwa Ia tidak akan mengizinkan mereka melihat negeri yang dijanjikan Tuhan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Tetapi anak-anak mereka yang telah dijadikan-Nya ganti mereka. Dari mereka itu tidak ada seorangpun yang masih tinggal hidup selain dari Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut Tuhan dengan sepenuh hatinya (Bil 26:65; 32:12).

Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia (Why 3:10).

Dalam segala kesesakanmu, bukan seorang duta atau utusan, melainkan Aku sendiri yang menyelamatkanmu; Akulah yang menebusmu dalam kasih-Ku dan belas kasihan-Ku. Aku mengangkat dan menggendongmu selama zaman dahulu kala (Yes 63:9).

Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. Yang dimintakan dari padamu oleh Tuhan, Allahmu, selain dari takut akan Tuhan, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan (Ul 10:12-16).

Ketika itu percayalah mereka kepada segala firman-Nyamereka menyanyikan puji-pujian kepada-Nya. Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nyadan tidak menantikan nasihat-Nya (Mzm 106:12-13).

Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. Jadi, mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang mereka. Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya (Rm 11:11, 28-29).

Orang-orang bodoh tidak mengetahui jalan Tuhan, hukum Allah mereka. Siapakah orang yang takut akan TuhanKepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya (Mzm 25:12; Yer 5:4).

[Kel 33:11-13] Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. 

Lalu berkatalah Musa kepada Tuhan: "... jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu." 

Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu."

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupandi hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpahdi tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa (Mzm 16:11).

Aku tahu, ya Tuhan, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya (Yer 10:23). Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (Mzm 25:4 -5).

(Sumber: No.149/IX/2017 » Renungan KPI TL Tgl 27 Juli 2017, Dra Yovita Baskoro, MM).

Selasa, 18 Juli 2017

Mengenal Allah, Mengenal Diri



Hal apa yang kira kira muncul di benak Anda ketika membaca judul tulisan kecil ini? Mungkin ada satu tanda tanya, mungkinkah mengenal Allah terlebih dahulu sebelum kita mengenal diri kita? Atau justru, boro-boro mengenal Allah yang penuh dengan misteri, mengenal diri sendiri aja belum ...

Uniknya, Santa Teresia Avila justru menganjurkan kita untuk mengenal Allah terlebih dahulu, baru setelahnya kita akan lebih paham akan diri kita.

Mengapa Teresia Avila mengatakan hal demikian? Mungkinkah hal itu? Setelah merenungkan sekian lama, saya melihat hal yang sama seperti yang dilihat oleh Santa Teresia Avila.

Dengan mengarahkan hati kita menuju Allah, maka kita akan terdorong untuk keluar dari diri kita sendiri. Kita tahu, sebagai umat beriman mengenal Allah adalah melalui pewahyuan dari Sang Putera, yaitu Kristus Yesus sendiri.

Dari Kristus sendiri kita mengenal lebih baik siapa Allah yang sesungguhnya, bukan dengan abstraksi maupun spekulasi, apalagi berfantasi.

Melalui Kristus dan Allah yang mewahyukan diri lewat para nabi sebelum Kristus kita bisa mengenal dengan lebih dekat lagi siapa sesungguhnya Allah, dan juga siapa manusia, atau makhluk ciptaan.

Bentangan relasi yang terjalin antara Allah dan manusia yang dituliskan oleh Alkitab membuat kita paham bahwa selama kurun waktu ribuan tahun tak pernah surut Allah mencintai manusia dan memperbaharui perjanjian-perjanjian-Nya, yang berkali kali dilanggar oleh manusia.

Dari perjanjian kepada Adam dan Hawa, Nuh, Abraham, Musa, Daud, hingga berpuncak pada Kristus.

Allah begitu setia, hingga pada satu "kegenapan waktu", Ia mengutus Sang Putera untuk hadir ke dunia. Lewat Yesus sendiri, kita dibawa lebih dekat lagi pada Bapa-Nya. Dan melalui Yesus sendiri, manusia yang mendengarkan Sabda-Nya dimurnikan. Anak domba yang mengenal suara Sang Gembala mengikuti jalan-Nya.

Ketika kita berjalan bersama Kristus, tahulah kita bahwa kita sedang dimurnikan. Seperti perjalanan Kristus menemani Keopas dan temannya yang hendak pulang kampung ke Emaus, dibukakan mata batin kita.

Kita terkejut, bergelora, namun juga bisa sukacita. Sabda Kristus pada intinya berusaha membawa manusia yang mendengar-Nya untuk memurnikan dirinya hingga siap menerima kebenaran-Nya.

Langkahnya menuju Bait Allah dan memporak-porandakan mereka yang berdagang, maupun Sabda-Nya yang keras pada orang Farisi (seperti ular beludak, kubur bercat putih), maupun para pengikutnya (tentang Roti Hidup) dan orang muda kaya (untuk menjual seluruh hartanya dan membagi pada orang miskin sebelum mengikuti-Nya) adalah semata untuk memurnikan manusia dan menerima kebenaran.

Allah memakai kacamata Allah dalam memandang apa yang baik untuk manusia, namun seringkali manusia tetap memakai kacamatanya sendiri dalam memandang Sabda-Nya. Inilah kegagalan kita untuk mengerti Sabda-Nya yang seringkali terdengar keras.

Bagaimana Yesus sebentar memuji Petrus di Kaisarea ketika Ia bertanya "Siapakah Aku ini menurut kalian? Namun tak berselang lama membentaknya "Iblis ... engkau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, bukan apa yang Allah pikirkan ..."

Yesus mendorong kita untuk murni. Semurni-murninya. Untuk keluar dari ego kita. Keluar dari diri kita yang nyaman dan mengikuti-Nya

Dan Yesus tak pernah menurunkan derajat kemutlakan Sabda yang diucapkan-Nya dan tak pernah berusaha merayu para pengikut-Nya yang mulai percaya, walau satu persatu mereka meninggalkan-Nya.

Mereka meninggalkan Yesus karena tak sanggup untuk keluar dari diri mereka sendiri. Mereka gagal mengadakan "lompatan iman."

Mengikuti Yesus memang membutuhkan keberanian besar untuk menyangkal diri. Ia meminta Petrus menyarungkan pedangnya ketika memotong telinga Malkus, dan memilih menyerahkan diri-Nya.

Demikian pula kita diminta untuk berserah pada-Nya dan kehendak-Nya untuk dapat mengikuti Allah.

Ketika kita melihat diri kita sebelum mengenal secara benar Kristus, akan berbeda setelah kita mengenal-Nya dengan baik.

Kristus bukan hanya membuat Anda memandang diri Anda dengan baik, melainkan juga mengubah diri Anda untuk menjadi serupa dengan-Nya secara perlahan-lahan. Ia akan mengobrak-abrik bangunan bobrok dalam batin anda dan mendirikan sebuah istana megah, seperti yang diceritakan C.S. Lewis, walau proses itu menyakitkan Anda.

Apapun yang Ia lakukan bagi Anda adalah untuk keselamatan diri Anda. Ia akan menghancurkan segala berhala yang menjadi penghalang antara diri Anda dan diri-Nya.

Maukah kita menerima kehadiran-Nya untuk "membakar" kedagingan kita, agar kita menjadi layak dihadapan-Nya? Atau, apakah kita ingin tetap berjalan di jalur ego kita sendiri sambil sebelah kaki kita melangkah untuk-Nya? Mungkinkah kita mengharmonikan antara "dunia" dan "sorga"? Bisakah kita menyatukan yang Ilahi dengan mamon?

Mari kita belajar dari Daud, yang selalu merasa miskin dihadapan Allah. Dan marilah kita belajar dari Salomo yang diwaktu muda begitu mewarisi kebijaksanaan yang dikaruniakan, namun di usia tua ia meninggalkan Tuhan karena banyak gundiknya yang menyembah berhala dan iapun ikut menyembahnya?

Hikmat dan kebijaksanaan yang besar dan mulia apabila tanpa diiringi dengan kewaspadaan dan penyangkalan diri akan memungkinkan kita terjerumus ke dalam apa yang Injil Yohanes sebut sebagai "dunia".

Dan mari kita belajar dari Maria yang selalu bersahaja dan sederhana, yang selalu merindukan Allah dalam hatinya yang murni hingga melahirkan ucapan: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan ... Terjadilah ...

(Paulus Budiraharjo Kusumo)

Senin, 05 Juni 2017

Tanda mengenal Allah



Sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (Gal 4:9).

Orang yang sungguh-sungguh giat bekerja untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar, tidak mengenal kebenaran Allah, tidak takluk kepada kebenaran Allah maka mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rm 10:2-3).

Orang yang masih belum mengenal Allah, tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu, menghambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Roh perzinahan ada di antara mereka (1 Kor 12:2; Gal 4:8; Hos 5:4).

Pikirannya sia-sia (Ef 4:17); hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1 Ptr 4:3; Kol 3:5 - segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakan; 1 Yoh 2:16 - semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup).

Doanya bertele-tele, menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Janganlah kuatir, janganlah cemas, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum. Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu (Mat 6:7, 32; Luk 12:22-24, 29)

Orang yang tidak beriman mengaku mengenal Allah, tetapi perbuatan mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik

Orang yang sehat dalam iman, tidak mengindahkan dongeng-dongeng dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran (Tit 1:13-16).

Mintalah Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Ef 1:17).

Inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 2:3), bertobat dengan segenap hati (Yer 24:7), saling mengasihi. Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yoh 4:7)

Jumat, 04 November 2016

Surat cinta Bapa



Anak-Ku, mungkin engkau tidak mengenal-Ku. Tetapi Aku mengenal segala sesuatu tentang dirimu. Aku tahu kalau engkau duduk atau berdiri. Aku mengerti segala jalanmu (Mzm 139:1-3). Setiap helai rambut kepalamu terhitung semuanya (Mat 10:29-31). 

Karena engkau diciptakan dalam gambar dan rupa-Ku (Kej 1:27). Di dalam-Ku engkau hidup, engkau bergerak dan engkau ada, sebab engkau keturunan-Ku (Kis 17:28). Aku mengenal engkau sejak sebelum engkau ada dalam kandungan (Yer 1:4-5). 

Aku memilih engkau dari semula sebelum Aku menciptakan segalanya (Ef 1:11-12). Engkau ada bukan karena suatu kesalahan karena hari-harimu tertulis dalam kitab-Ku (Mzm 139:15-16). 



Aku telah menentukan waktu yang tepat hari kelahiranmu dan di mana engkau akan hidup (Kis 17:26). Kejadianmu dahsyat dan ajaib karena Aku menenun engkau dalam kandungan ibumu (Mzm 139:14, 13) dan mengeluarkan engkau pada hari engkau dilahirkan (Mzm 71:6)


Seringkali Aku tidak dipahami oleh mereka yang tidak mengenal Aku (Yoh 8:41-44). Aku tidak berada di tempat jauh tetapi Aku adalah kasih yang sempurna (1 Yoh 4:16). Kerinduan-Ku adalah mengaruniakan kasih-Ku untukmu (1 Yoh 3:1). Semua itu karena engkau anak-Ku dan Aku adalah Bapamu (1 Yoh 3:1). 

Aku memberikan lebih dari yang dapat diberikan bapamu yang di dunia (Mat 7:11). Karena Akulah Bapamu di sorga yang adalah sempurna (Mat 5:8). Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna engkau terima dari tangan-Ku (Yak 1:17). Karena Akulah pemeliharaanmu dan Aku memberikan semua yang engkau perlukan (Mat 6:31-33).

Rancangan-Ku yang diberikan kepadamu adalah hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11). Karena Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal (Yer 31:3). Pikiran-Ku terhadap engkau tidak terhitung seperti pasir di tepi pantai (Mzm 139:17-18). Dan Aku bergirang karena engkau dengan sukacita dan bersorak-sorai (Zef 3:17). 

Aku tak pernah berhenti berbuat baik kepadamu (Yer 32:40). Karena engkau harta kesayangan-Ku (Kel 19:5). 

Aku merindukan untuk mengkokohkan engkau dengan hati-Ku dan jiwa-Ku. Aku akan menunjukkan kepadamu hal-hal yang besar dan ajaib (Yer 32:41; 33:3).

Jika engkau mencari Aku dengan segenap hatimu (Ul 4:29) engkau akan menemukan Aku (Ul 4:29). Bergembiralah karena Aku, maka Aku akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm 37:4). Karena Akulah yang mengerjakan di dalammu kemauan itu (Flp 2:13). 

Aku dapat mengerjakan jauh lebih banyak dari pada yang engkau pikirkan (Ef 3:20). Karena Akulah yang menganugerahkan penghiburan yang abadi kepadamu (2 Tes 2:16-17). 

Akulah juga Bapa yang menghiburmu dalam segala penderitaanmu (2 Kor 1:3-4). Ketika engkau patah hati, Aku berada dekat padamu (Mzm 34:18) seperti seorang gembala menggembalakan dombanya Aku membawa engkau dekat ke hati-Ku (Yes 40:11). 

Suatu hari Aku akan menghapus semua air mata dari matamu (Why 21:3-4). Dan Aku akan mengangkat semua kesusahan yang engkau derita di atas bumi (Why 21:3-4).

Akulah Bapamu dan Aku mengasihi engkau seperti Aku mengasihi putra-Ku, Yesus. Karena di dalam Yesus, kasih-Ku kepadamu dinyatakan (Yoh 17:23,26). 

Dialah gambar wujud dari keberadaan-Ku (Ibr 1:3). Ia datang untuk menyatakan bahwa Aku dipihakmu (Rm 8:31) dan bukan untuk melawanmu. Dan untuk memberitahumu bahwa Aku tidak memperhitungkan pelanggaranmu. Yesus mati agar engkau dan Aku dapat diperdamaikan (2 Kor 5:18-19). 

Kematian-Nya adalah pernyataan terbesar dari kasih-Ku kepadamu (1 Yoh 4:10). Aku menyerahkan semua yang Aku sayangi supaya Aku mendapat kasihmu (Rm 8:32). 

Jika engkau menerima anugerah Anak-Ku Yesus, engkau juga menerima Aku (1 Yoh 2:23). Dan tidak ada lagi yang memisahkan engkau dari kasih-Ku (Rm 8:38-39). 

Kembalilah dan Aku akan mengadakan pesta terbesar yang pernah ada di sorga (Luk 15:7). Selamanya Aku adalah Bapamu (Ef 3:14-15) dan selamanya Aku adalah Bapamu. 

Pertanyaan-Ku adalah “Maukah engkau menjadi anak-Ku?” (Yoh 1:12-13; Luk 15:11-32). Dengan kasih, Bapamu.

(Sumber: Warta KPI TL No. 89/IX/2011 » Father’s Love Letter – Bapak Paulus Winarto).

Jumat, 27 Mei 2016

Bekerja dengan cinta



Yesus melaksanakan kehendak Bapa bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta » Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat 26:39).

Dia memilih untuk ‘minum dari cawan yang diberikan oleh Bapa untuk membalas kasih Bapa dengan mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Penderitaan-Nya yang begitu besar itu untuk membayar dosa-dosa kita.

Pengorbanan Yesus membawa sukacita bagi Bapa-Nya, bagi Yesus sendiri dan bagi umat manusia. Inilah kepenuhan sukacita yang dialami oleh Yesus.

Di kayu salib Kristus seolah-olah berkata kepada kita: “Ini adalah tanda kasih-Ku kepadamu, apakah tanda kasihmu kepada-Ku?”

Yesus menghendaki agar kitapun menerima dan melaksanakan tugas dan pekerjaan kita sebagai tugas perutusan dari Allah dengan cinta.

Untuk membalas kasih-Nya, kita pun harus menuruti perintah-Nya dengan mengasihi sesama sehingga mereka yang menderita dan putus asa dalam pergumulan hidupnya akan merasakan kasih Allah (Yoh 15:9-11).

Bila kita bekerja dengan cinta, kita akan bekerja dengan lepas bebas, gembira dan penuh tanggung-jawab. Kita akan menjadi kreatif dan terdorong untuk selalu berbuat lebih.

Dengan demikian, pekerjaan menjadi berkat dan bukan menjadi beban, seberapapun hasil dari pekerjaan kita, kita akan mengucap syukur atasnya sebagai berkat Tuhan. 

Hasil pekerjaan kita akan membawa sukacita bagi kita sendiri, bagi orang lain dan bagi Allah.

Ucapan syukur kepada Allah membuat iman kita bertambah dan kasih kita seorang akan yang lain makin kuat (2 Tes 1:3).

Jika engkau melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan (1 Kor 10:31).

Ketika Tuhan memberikan sebuah misi, Dia selalu memasukkan kita ke dalam sebuah proses, sebuah proses pemurnian, sebuah proses kebijakan, sebuah proses ketaatan,sebuah proses doa (Paus Fransiskus).

Dalam menjalani proses kehidupan ini kita harus berada dalam suatu komunitas rohani yang benar agar iman kita dikuatkan ketika kita menghadapi pergumulan. Jadi, komunitas rohani sangat diperlukan untuk pertumbuhan iman (Ibr 10:25, 24; Kis 2:41-47).

Akan tetapi ada banyak orang yang menjadi pemberontak (Yes 30:1 » memasuki suatu persekutuan bukan oleh dorongan Roh-Ku). 

Mereka tidak mau menerima ajaran sehat dengan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya (2 Tim 4:3-4)

Ingatlah! Jika tubuh kita diberi makan makanan yang sehat maka tubuh kita akan sehat. Jika jiwa kita tidak diberi makanan yang sehat maka jiwa kita akan sakit. Makanan yang sehat untuk jiwa adalah firman Tuhan ( Yoh 1:1  - Firman itu adalah Allah1 Tim 6:3 - perkataan Tuhan kita Yesus Kristus

Fungsi komunitas: untuk pertemuan para sahabat Yesus, memperdalam iman melalui pengajaran-pengajaran Gereja, saling berbagi dan memberi kesaksian.

Di dalam komunitas jugalah Tuhan memberikan kawan-kawan sekerja sehingga kita memperoleh kekuatan dalam menjalankan misi yang telah diberikan kepada kita.

Jadi, sebagai kawan sekerja Allah, kita harus mempunyai kawan-kawan sekerja yang saling mendoakan dan berbagi pengalaman rohani (1 Kor 3:9; Flp 4:3; Kol 4:11).

(Sumber: Warta KPI TL No.133/V/2016 » Renungan KPI TL Tgl 28 April 2016, Ibu Suliani).

Minggu, 29 Juni 2014

Pengagum atau Pengikutkah engkau?







Kehidupan dan tugas-tugas baru kita dengan segala kesulitan dan tantangannya seperti perjalanan melintasi padang gurun. Padang gurun dengan segala tantangan dan kesulitannya merupakan saat dan tempat yang ideal untuk pembentukkan diri

Melalui kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan, Tuhan menempa dan membentuk kita, sehingga kita siap untuk menjadi alat yang pantas dan efektif bagi Allah. 

Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dibentuk, tetapi Israel menolak. Pembentukkan yang Yesus terima di padang gurun dengan ketaatan-Nya membuat Dia siap menjalankan tugas perutusan-Nya hingga di Kayu Salib.


Jika kita hanya menjadi pengagum Kristus = penonton/pengamat biasa, tidak mau terlibat atau mengenal-Nya – maka ketika kita masuk dalam pergumulan, kita hanya melihat badai saja; hidup akan menjadi penuh kegersangan, kekeringan, kekosongan, kehampaan dan akan mengalami realitas hidup dalam kebosanan yang menyiksa.

Tetapi kalau kita sebagai pengikut Kristus, mau menyangkal diri kita dan memikul salib kita setiap hari dan mengikuti-Nya (Luk 9:23) – maka ketika kita masuk dalam pergumulan, kita tidak hanya melihat badai saja tetapi kita dapat melihat permukaan air yang tenang di dalamnya, melihat tetumbuhan dan makhluk hidup yang indah dengan bermacam-macam bentuk, di kedalaman yang misterius itu juga terlihat mutiara dibentuk. 

Artinya, pada saat kita bersyukur, kita dapat melihat rencana Tuhan yang indah buat kita.


Mengikuti Yesus berarti:

1. Masuk dalam kehidupan yang berpusat pada Allah, masuk dalam penemuan akan kedalaman diri kita, masuk dalam dunia lain dengan segala keberagaman dan keunikan pribadi-pribadi dan budaya yang de facto berbeda dengan diri kita.

2. Hidup dalam waktu dan tempat sekarang ini di mana kita berada dengan segala kekurangan, kelebihan, kekayaan dan keberagamannya yang siap untuk mengisi dan membentuk diri kita menjadi yang Tuhan inginkan.

3. Bukan hidup dalam kenangan dan penyesalan akan masa lalu atau ketakutan dan kecemasan akan masa datang.

Marilah kita belajar dari orang-orang Israel dan Yesus ketika mereka berada di padang gurun.

Orang-orang Israel menghadapi kesulitan dan tantangan padang gurun dengan bersungut-sungut dan sumpah serapah (Kel 14:11; Bil 14:2; 21:5); mentalitas pemberontak, semau gue, tidak sabar.

Yesus menghadapi kesulitan, tantangan dan penderitaan di padang gurun dengan penuh ketabahan, keteguhan dan kesabaran.

Inilah rahasia-Nya (Mat 4:1-11; Luk 4:1-13): 

Yesus membiarkan Roh Allah yang memimpin hidupnya

Yesus mengandalkan Allah dalam setiap perkara yang ia tanggung. Ia tidak mengandalkan kekuatan-Nya sendiri. 

Yesus tidak memusatkan hidup-Nya pada diri sendiri, tapi keluar, pada rencana Allah dan kepentingan sesama-Nya. 

Yesus mencari kekayaan dan kedalaman harta spiritualitas bukan harta duniawi. 

Yesus mengejar kemuliaan yang berasal dari Allah bukan dari manusia dan dunia. 

Yesus mempercayakan hidup-Nya dalam kuasa Allah Bapa-Nya

Supaya Yesus dapat bekerja melalui diri kita, marilah kita membangun relasi secara terus-menerus dengan-Nya melalui doa, mendengar dan merenungkan firman-Nya serta hidup dari dan dalam firman-Nya.

Tanpa relasi yang terus-menerus dengan Yesus, kita tidak akan mempunyai kekayan rohani. Sehingga kita merasa hidup ini penuh kegersangan, kekeringan, kekosongan, kehampaan dan akan mengalami kebosanan yang menyiksa. Akibatnya, tanpa sadar kita meninggalkan Gereja Katolik dan pindah ke Gereja lain atau kembali pada kepercayaan tradisional nenek moyang.

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009 » I Like It, Edi Prasetyo CM).