Tampilkan postingan dengan label *Pujian*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Pujian*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

20.07 -

Mulut emas



Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib (Mzm 105:2)

Setiap hari kita pasti menggunakan mulut kita. Namun, apakah yang keluar dari mulut kita? Yang baik, benar, dan dapat membangun diri sendiri dan orang lain? Ataukah, yang buruk dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain? 

Tuhan menciptakan mulut untuk kebaikantidak untuk menebarkan duri atau racun yang mematikan diri sendiri dan orang lain. 

Melalui mulut kita dapat mengeluarkan kata-kata pujian, peneguhan, penghargaan, terimakasih, penyesalan, maaf-memaafkan, meminta tolong, penghiburan, dan lain-lain untuk membawa kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. 

Lebih daripada itu, Tuhan ingin agar kita menguduskan setiap ungkapan yang keluar dari mulut kita, yaitu dengan bernyanyi dan bermazmur bagi Dia, dan membicarakan segala karya Tuhan yang ajaib dalam hidup kita. 

Tuhan ingin agar kita memiliki 'mulut emas' sehingga orang lain mengenal kemahakuasaan, kemahaagungan, dan kemaharahiman Tuhan, sehingga mereka dengan segenap hati memuji dan memuliakan Tuhan serta menyerahkan diri kepada Tuhan. 

Sudahkah kita menggunakan mulut kita untuk membawa kekudusan pada diri kita sendiri dan orang lain? Apakah nama dan karya Tuhan yang senantiasa terungkap dari mulut kita? Sungguhkah kita memuliakan Tuhan ketika kita bernyanyi dan bermazmur?

Selasa, 18 Juli 2017

19.51 -

Kuasa lagu rohani


Ada seseorang yang sedang menunggu operasi bypass jantung. Ketika ia memikirkan tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi, ia merasa ketakutan dan kesepian.

Lalu seorang petugas rumah sakit masuk ke kamar untuk membawanya ke ruang operasi. Sambil mendorong ranjang si pasien, sang petugas muda tersebut menyenandungkan lagu rohani himne Irlandia kuno, "Kaulah ya Tuhanku surya hidupku. Asal Kau ada, yang lain tak perlu. Siang dan malam Engkau ku kenang. Di hadiratMu jiwaku tenang."

Senandung ini mengingatkan si pasien tentang padang rumput hijau dan reruntuhan batu kuno di Irlandia tempat kelahirannya. Himne tersebut memenuhi jiwanya seperti angin segar dari kampung halaman.

Lalu pasien tersebut berkata kepada petugas muda itu, "Allah telah memakaimu hari ini untuk melepaskanku dari ketakutan dan menyegarkan jiwaku."

Si petugas muda bertanya padanya, "Apa yang telah kulakukan?" Pasien tersebut menjawab, "Senandungmu mendekatkanku kepada Allah sehingga aku tidak takut untuk operasi bypass jantung hari ini."

Pernahkah anda merasa kuatir, cemas, takut, gelisah dan kemudian anda menyanyikan sebuah lagu rohani dan hati anda menjadi lega dan penuh sukacita?

Itulah salah satu cara Tuhan memulihkan jiwa anda melalui lagu pujian. Kalau hari ini anda sedang bersusah hati atau melihat seseorang sedang bersusah hati, senandungkanlah sebuah lagu rohani dengan ketulusan hati, maka kuasa Allah akan mengalir melalui lagu tersebut.

Marilah kita mulai melayani Tuhan dengan kidung pujian yang keluar dari mulut kita.

🎼"Melayani melayani lebih sungguh. Melayani melayani lebih sungguh. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku. Melayani melayani lebih sungguh."🎼

Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Ef 5:19).

(Sumber: Warta KPI TL No.157/V/2018 » Renungan Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 19 Juli 2017).

Kamis, 08 Juni 2017

17.30 -

Alasan Kita Menyanyi

Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! —Mazmur 47:7

Menyanyi ternyata mengubah otak! Sejumlah studi menunjukkan bahwa ketika menyanyi, tubuh kita melepaskan hormon yang mengurangi kecemasan dan stres.

Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika sekelompok orang menyanyi bersama, irama detak jantung mereka masing-masing sebenarnya saling menyelaraskan.

Rasul Paulus menulis kepada jemaat untuk mendorong seorang berkata-kata kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani (Ef. 5:19).

Alkitab pun berulang kali menyerukan, “Bermazmurlah.”

Dalam 2 Taw 20, kita membaca kisah tentang umat Allah yang menunjukkan kepercayaan mereka kepada Allah dengan bernyanyi sambil bergerak maju ke medan pertempuran.

Pasukan musuh sedang bersiap menyerang Yehuda. Raja Yosafat yang cemas memanggil semua orang untuk bersatu. Ia memimpin warganya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka berpuasa dan berdoa, “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (ay.12).

Keesokan harinya, mereka berangkat bukan dipimpin oleh prajurit yang paling berani, melainkan oleh para pemuji.

Mereka percaya akan janji Allah bahwa mereka akan menang tanpa bertempur sama sekali (ay.17).

Sementara mereka memuji dan berjalan menuju medan perang, para musuh justru memerangi satu sama lain. Pada saat umat Allah tiba di medan perang, pertempuran telah berakhir.

Allah menyelamatkan umat-Nya ketika mereka berjalan dengan iman dan bernyanyi memuji-Nya menuju pada keadaan yang tidak mereka ketahui.

Allah bermaksud baik ketika Dia mendorong kita untuk memuji-Nya. Baik dalam pergumulan atau dalam keadaan tenang, menyanyikan pujian kepada Allah sungguh memiliki kuasa untuk mengubah pikiran, hati, dan hidup kita. — Amy Peterson

Ya Allah, kami memuji kasih dan kesetiaan-Mu yang kekal! Engkau melindungi dan membimbing kami, dan kami mempercayakan hidup kami di tangan-Mu.

Hati yang selaras dengan Tuhan akan menyanyikan pujian bagi-Nya.

(Our Daily Bread Ministries)

Selasa, 21 Maret 2017

03.28 -

Sikap untuk menjadi penyembah yang benar



Untuk menjadi penyembah yang benar, kita perlu memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan, baik sebagai seorang pribadi atau individu maupun sebagai seorang musisi atau pemuji yang melayani dibidang pujian dan penyembahan.

Penyembahan yang benar bukan sekedar kata-kata yang diucapkan atau dinyanyikan atau bermain musik dengan bagus tetapi suatu gaya hidup yang melibatkan hati, yang selalu rindu untuk menyembah Dia dalam setiap waktu, dengan berbagai cara dalam seluruh keberadaan hidup kita

Jadi, yang Tuhan inginkan adalah sikap hati kita, bukan talenta atau kemampuan musik kita atau hal-hal lain yang bisa kita lakukan.

Walaupun bukan syarat untuk menjadi seorang penyembah yang benar, keahlian yang baik dalam bermain musik maupun memimpin pujian tetap sangat dibutuhkan untuk menggerakkan hati jemaat kepada Allah.

Dalam suatu tim pujian dan penyembahan yang baik, harus ada

1. Unity – harus ada kesatuan dari semua elemen tim. Di mana ada kesatuan, di situ urapan Allah turun (Mzm 133).

2. Team work yang baik - tiap anggota tim harus saling mendukung dan melengkapi (1 Kor 12:4-5). Jauhi sifat mau menonjolkan diri sendiri. 

3. Balanceharus ada keseimbangan antara sikap hati dalam memuji Tuhan dan keteraturan dalam melayani Dia.

4. Corporate worshipsemua anggota tim harus terlibat dan aktif menyembah Tuhan. Jangan mengandalkan pemimpin pujian atau anggota tim lain dalam memuji.

5. Submission (penundukan diri) – dalam tim selalu ada pemimpin, dalam hal ini pemimpin pujian. Walaupun kita seorang ahli musik sekalipun, ikutilaharahan pemimpin pujian”, karena dia yang memiliki otoritas untuk memimpin. 

6. Self motivationselalu dorong diri anda untuk mau menyembah dengan segenap hati terlepas dari permasalahan pribadi anda hari ini. Jangan menunggu didorong oleh orang lain, suasana atau hal yang lain.

7. Spirit of excellencepunya sikap untuk selalu memperbaiki diri dan memberi yang terbaik sangatlah diperlukan. Tuhan kita adalah Tuhan yang excellent karena Dia menciptakan segala sesuatunya dengan baik.

(Sumber: Warta KPI TL No.126/X/2014 » Renungan KPI TL Tgl 12 Juni 2014, Dra Yovita Baskoro, MM).

Senin, 16 November 2015

17.31 -

Pujian Penyembahan




Pertama kali Tuhan menciptakan dunia ini adalah ‘terang’.

Setelah diselidiki oleh para ahli dengan pengetahuan yang semakin modern ini, ternyata terang itu cahaya yang mengandung resonansi/suatu gelombang.

Kecepatan cahaya = kecepatan gelombang.

Kalau kita belajar musik, akan terjadi suatu gelombang cahaya; di mana musik itu ciptaan Allah sendiri karena ada unsur cahaya/gelombang.

Lucifer sebagai pemimpin pujian di sorga jatuh ke dalam dosa karena kesombongannya. 

Tuhan menciptakan dunia ini ada tujuannya, agar semua ciptaan-Nya memuji Dia ~ Tuhan rindu semua ciptaan-Nya melakukan itu. Jadi sebetulnya Tuhan menciptakan kita agar kita memuji dan menyembah Dia. 

Ibadah yang sejati mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus yang berkenan kepada Allah (Rm 12:1). 

Pujian Penyembahan milik semua gereja, filosofinya

1. Perintah Allah: Mzm 148, 150 – Baiklah semuanya memuji nama Tuhan di sorga dan di bumi, biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan. 

2. Tradisi Gereja: Kel 15 – nyanyian Musa dan Israel; Mat 26:30; Mrk 14:26; Why 15: 3 ~ Yesus yang mengajarkan nyanyian pujian; nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan besar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.” 

3. Tuhan menjadikan kita sebagai penyembah-penyembah yang benar dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4:23); dengan akal budi dan kebenaran firman Tuhan, fokusnya hanya terarah pada Tuhan dengan sikap hati dan sikap hidup kita. 

Mengapa hanya manusia saja yang memuji dan menyembah Tuhan? Karena hanya manusialah satu-satunya yang diciptakan Allah, dengan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej 2:7). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 47/III/2008; Renungan doa team 22 Februari 2008, Bapak Tawan).


Dalam Pembaharuan Karismatik Katolik banyak orang mengalami kehadiran dan kuasa Roh Kudus, sehingga orang mulai memasuki hidup di dalam Roh, yaitu suatu hidup yang sungguh-sungguh terbuka akan karya dan bimbingan Roh Kudus (dari segi teologis). 

Sedangkan dari segi sosiologis, dapat dilihat hal-hal yang sesungguhnya tidak hakiki yaitu ungkapan-ungkapan yang tampak secara lahiriah, misalnya nyanyian, tepuk tangan, tarian dan sebagainya.

Maka, sudah seharusnya kita bisa membedakan mana yang pokok atau yang hakiki dan mana yang tidak, demikian juga dengan cara-cara dalam memuji dan menyembah. Jangan sampai karena terlalu menekankan segi sosiologis (apa yang tampak secara lahiriah), menghalangi orang lain untuk mengalami kasih Allah.

Yang menjadi kekhasan dalam Gereja Katolik di dalam pujian dan penyembahan Pembaharuan Karismatik Katolik, antara lain: 

· Tanda salib
· Ada penghormatan kepada Bunda Maria
· Ada saat hening
· Pemakaian istilah-istilah yang umum di antara orang Katolik.
· Setiap doa-doa dalam pujian dan penyembahan ditutup dengan kata “Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin. / Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin. / Sebab Engkau Tuhan dan pengantara kami. Amin.”
· Cara berdoa asli dan jujur, tidak perlu menarik perhatian umat.

Mis: berdoa dengan suara seperti orang menangis. Hal ini berbeda kalau saat berdoa tiba-tiba mengalami keharuan dan menangis, sehingga doanya sambil terisak-isak.



Berkat merupakan tindakan dasariah doa Kristen: pertemuan antara Allah dan manusia. Di dalam berkat itu, anugerah Allah dan penerimaannya oleh manusia bersatu dalam sapaan timbal balik. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Pujian dan Penyembahan Dalam Lingkungan Katolik, HDR November-Desember 2003).


Doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah. Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat memuja Dia (Kel 15:1-18 – Nyanyian Musa dan Israel; 1 Taw 29:10-19 – Nyanyian pujian Daud) yang adalah sumber segala berkat (Bdk 2 Ptr 5:10) (KGK 2626).

Berkat berarti penyembahan dan penyerahan diri kepada Pencipta dengan ucapan terima kasih (KGK 1078)

Tuhan layak menerima puji-pujian sebab Dia telah menciptakan segala sesuatu (Why 4:11), Dia bersemayan di atas puji-pujian (Mzm 22:4). Ada kuasa dalam pujian (Yos 6; Kis 16:25-26). 

Jadi, orang benar, orang yang dikasihi-Nya, dan segala yang bernafas harus memuji Allah selama-lamanya, seumur hidup dan pada segala waktu (Mzm 140:14; 145:10; 150:6; Rm 9:5; Mzm 63:5; 34:2; Hab 3:17-18), baik waktu gembira, atau jiwa gelisah dan tertekan (Yak 5:13; Mzm 42).

Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun (Mzm 100:4-5).

Menyembah Allah berarti mengakui Dia sebagai Allah, sebagai Pencipta dan Penyelamat, Tuhan dan Guru dari segala sesuatu yang ada, sebagai Kasih yang tak terbatas dan penuh kerahiman; dengan penuh hormat dan ketaklukan absolut mengakui, “keadaan makhluk yang tidak bernilai“, yang memperoleh seluruh keberadaannya dari Allah; memuja Allah, bersyukur kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya, waktu orang mengakui dengan penuh terima kasih bahwa Ia telah melakukan yang besar dan bahwa nama-Nya kudus adanya (Luk 1:46-49). Menyembah satu-satunya Allah membebaskan manusia dari ingat diri, perbudakan dosa, dan pendewaan dunia (KGK 2095-2097).

Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Luk 4:8)

Kita menyembah Allah, kalau kita mengangkat roh dalam doa pujian dan doa syukur, doa syafaat dan doa permohonan kita (KGK 2098). 

Jika setiap hari kita melakukan penyembahan dalam kebenaran, maka roh kita akan sehat bahkan kuat. Hal ini akan mengubah karakter kita menjadi seperti karakter Tuhan yang penuh kasih

Jadi, buah Roh tidaklah dihasilkan oleh usaha kita sendiri melainkan sebagai akibat hubungan karib kita dengan Tuhan Yesus

Jadi, penyembahan sejati berfokus pada satu Pribadi saja, yaitu: Bapa, Putera dan Roh Kudus, hanya Allah saja yang layak disembah. 

Bila Allah menjadi pusat penyembahan, penyembahan itu akan hidup dengan sendirinya

Bila Allah tidak lagi menjadi pusat penyembahan kita, penyembahan itu akan mati, dan yang tertinggal adalah sekedar musik dan nyanyian belaka.

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku (Mat 15:8)

Pujian dan Penyembahan adalah suatu ekspresi kasih yang tertinggi kepada Allah karena orang percaya tersebut sedang dilawat oleh Roh Kudus pada saat itu

Pujian itu keluar dari lubuk hati yang terdalam karena kekagumannya kepada Sang Pencipta

Ekspresi pujian itu dapat berupa menari, bertepuk tangan, menaikkan tangan, dengan alat musik dll. (2 Sam 6:14; Mzm 149:3; 47:2; 63:5; 134:2; 149:3). 

Ekspresi penyembahan dapat berdiri, berlutut, sujud, merebahkan diri ke tanah (tiarap) (Mrk 11:25; Luk 22:41; Kej 17:3; Mzm 86:9; Mat 26:39; Mzm 95:6; Yos 5:14; Mrk 14:35). 

Jadi, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (Lih. [Kej 22:1-18] Hineni), yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Rm 12:1; Kol 3:23; 1 Kor 10:31).

Jadi, kita harus berdoa, menyanyi dan memuji dengan roh dan akal budi (1 Kor 14:15-16).

Penyembahan dalam roh mengutamakan posisi hati, bukan posisi tubuh. Bapa tidak menghendaki kita menyembah-Nya dengan berkiblat ke Yerusalem (1 Raj 8:44; 2 Taw 6:34; Mzm 138:2; Dan 6:11), tetapi menghendaki penyembah-penyembah benar, menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23).

Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau dalam Ibadat Harian (Mzm 119:164). 

(Sumber: Warta KPI TL No.118/II/2014).

Sabtu, 24 Oktober 2015

03.46 -

Musik

Secara alami, musik menerobos pertahanan dan langsung menuju ke dunia batin kita, tempat memori mengenai konflik emosional tidak diselesaikan ditekan, dan material sejati menunggu cahaya kesadaran.

Oh Musik, dalam kedalamanmu kami meletakan hati dan jiwa kami; engkau mengajarkan kepada kami untuk melihat dengan telinga kami dan mendengar dengan hati kami (Kahlil Gilbran)

Laurel Keyes (pelopor penyembuhan lewat bunyi) – semua makluk hidup mengeluarkan bunyi untuk melepaskan ketegangan atau meningkatkan kekuatan.

Musik adalah suatu bentuk doa, dinyanyikan dari tempat integrasi - otak kiri yang rasional, linier dan otak kanan yang intuitif, reseptif, emosional bekerja sama dalam semangat pengabdian dan menyerah pada kehendak suci sehingga membawa pesan penyembuhan dan membangkitkan dengan aspek kreatif (menyanyi berulang-ulang yang nada monoton).

Ketika kita bernyanyi, kapasitas nafas bertambah, secara alami kita menerima kebijaksanaan, bimbingan, dan pemeliharaan dari Kecerdasan Musik kita.

Kecerdasan musik – kemampuan alami untuk menggunakan musik dan bunyi sebagai alat untuk mencerminkan diri, mengubah untuk mempermudah kesehatan dan kesejahteraan total. 

Kecerdasan musik selalu hadir dalam hidup kita. Kekuatannya paling tersedia ketika hati kita terbuka dan berada dalam status mau menerima, intuitif, suasana bermain, atau suasana berdoa - kita dipaksa untuk bertindak mewujudkan cinta dan kasih sayang dalam berurusan dengan diri sendiri dan orang lain. 

Dalam tradisi spiritual sepanjang sejarah, musik telah digunakan sebagai cara untuk membangkitkan dan memurnikan hati. Musik yang keagamaan membawa kita ke dalam status kedamaian dan ketenangan. Musik untuk persembahan membangkitkan kerinduan, kekaguman, dan cinta spiritual tanpa syarat.

Hasil riset mengenai terapi musik kontemporer menunjukkan bahwa musik dapat mengharmoniskan dan menyeimbangkan semua irama dari badan kita, termasuk denyut jantung, kecepatan bernafas, tekanan darah, frekuensi gelombang otak, dan kecepatan respiratori primer. 

Lewat pengaruhnya pada sistem saraf otonom, yang secara langsung berhubungan dengan pusat emosional di otak, musik juga mempunyai pengaruh bermanfaat pada kekebalan tubuh dan sistem hormonal.

(Sumber: Warta KPI TL No. 21/I/2006; Kecerdasan Musik, Louise Montello).