Tampilkan postingan dengan label SP Kisah Para Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Kisah Para Rasul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2019

Kis 14:19-28

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 1 Mei 2018: Hari Biasa Pekan V Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 14:19-28; Mzm 145:10-11; 12-13ab, 21; Yoh 14:27-31a


Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu (1) mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.

Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu (2) mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.

Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu (3) menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

Mereka menjelajah seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia, di pantai. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan.

(4) Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. (5) Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu.


Renungan


1. Hamba Tuhan sejati

Maju terus, pantang mundur!” demikianlah kira-kira semangat Paulus dan Barnabas dalam pemberitaan Injil. Sebagai hamba Tuhan:

(1) Penganiayaan yang mereka telah alami tidak membuat mereka trauma. 

Tuhan mengizinkan musuh iman menghadang kita agar kita belajar bagaimana menggunakan senjata Allah dan tetap tegak dalam iman. Melalui pencobaan kita belajar berserah pada Allah dan tak bergantung pada diri sendiri.

(2) Mereka menguatkan hati orang yang telah percaya Tuhan agar tetap setia bila mengalami sengsara. 

(3) Menolong jemaat untuk hidup sebagai komunitas orang beriman yang terorganisir di bawah kepemimpinan penatua.

(4) Mereka bertanggung jawab kepada jemaat yang mengutus mereka. Mereka melaporkan segala sesuatu yang Allah telah lakukan bersama mereka.

Mereka memuliakan Allah atas segala sesuatu yang Allah telah lakukan melalui mereka. Mereka pergi karena kasih karunia Allah dan karena kasih karunia pula mereka dapat menyelesaikan tugas mereka.

(5) Mereka tahu kapan harus beristirahat dan mengisi kembali “baterai” rohaninya sebelum mereka harus pergi untuk pelayanan yang berikutnya.

Setiap orang beriman tentu harus memiliki hati seorang hamba Tuhan, walaupun kita tidak bekerja di bidang kerohanian. Belajar dari Paulus dan Barnabas, milikilah sikap bertanggung jawab terhadap apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan muliakanlah Allah melalui apa yang kita lakukan.


Kis 1:15-17, 20a, 20c-26

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 13 Mei 2018: Hari Minggu Paskah VII, Hari Minggu Komunikasi Sedunia - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 1:15-17, 20a, 20c-26; Mzm 103:1-2, 11-12, 19-20ab; 1Yoh 14:11-16; Yoh 17:11b-19


Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata: "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang (*) Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini."


Renungan


1. Pentingnya latihan rohani

(*) Yudas ditentukan untuk binasa (Bdk. Yoh 17:12). Kata-kata ini sungguh keras. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Di manakah letak kasih Allah? Bukankah Allah adalah kasih?

Allah memberi manusia "kebebasan" untuk memilih. Bukan itu saja, manusia dibekali akal budi dan banyak sarana agar bisa memilih dengan baik. Jika dengan segala tuntunan itu manusia masih memilih untuk melawan Allah, hanya Allah yang berhak menentukan nasib orang itu, termasuk Yudas.

Kalau Allah itu kasih dan benar-benar mengasihi manusia, mengapa Allah tidak mengingatkan manusia agar dia tidak jatuh dalam dosa? Karena Allah sungguh-sungguh mengasihi manusia, maka Dia memberi kebebasan dan tidak memaksa manusia membalas cinta-Nya.

Allah menghendaki agar cinta-Nya dibalas dengan cinta yang tulus, bukan cinta yang terpaksa. Karena Allah menciptakan manusia bukan sebagai robot, tetapi sebagai pribadi yang bebas membalas cinta-Nya.

Kebebasan itu adalah anugerah Allah, maka harus dilatih agar tidak menjadi kebebasan yang salah arah, kebebasan yang melawan Allah.

Latihan pertama adalah belajar melakukan pilihan-pilihan yang baik. Kedua adalah bersifat aktif dalam hidup menggereja (meningkatkan hidup rohani: meningkatkan kualitas doa, membaca Kitab Suci dan membaca buku-buku rohani) dan dalam masyarakat.

Latihan yang kita lakukan ini akan membuat hubungan kita dengan Allah semakin mesra. Jika hubungan pribadi dengan Allah semakin mesra, tidak mungkin kita akan mengkhianati Allah, seperti Yudas yang menjual Yesus.


Jumat, 05 Juli 2019

Kis 22:30; 23:6-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 6 Juni 2019: Hari Biasa Pekan VII Paskah - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kis 22:30; 23:6-11; Mzm 16:1-2a, 5, 7-8, 9-10, 11; Yoh 17:20-26


Namun (2) kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka.

Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, (1A) aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." 

Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi (1B) orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. 

Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya." 

Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas. 

Pada malam berikutnya (3)Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."


Renungan


1. Janganlah takut bersaksi

(1AB) Selaku orang Farisi, Paulus mempercayai doktrin kebangkitan. Selaku orang Kristen, doktrin ini sangat erat kaitannya dengan Yesus Kristus (1 Kor 15:17 - Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu). 

Paulus melakukan perjalanan penginjilannya dengan AKAL BUDInya (2 - CERDIK SEPERTI ULAR, menggunakan statusnya sebagai "warga negara Romawi" sehingga ia mendapat perlindungan selama berada di tahanan sampai kasusnya diputuskan) dan TULUS SEPERTI MERPATI (Kis 23:1 - hati nurani yang murni) (Mat 10:16).

(3) Kuasa kebangkitan Kristus membuat orang Kristen berbeda, meskipun berada di tengah-tengah serigala senantiasa merasakan kehadiran-Nya yang menguatkan sehingga mampu bersaksi.

Jadi, janganlah takut bersaksi seperti Paulus. Ingatlah janji-Nya, "Dalam segala kesesakan, bukan seorang duta atau utusan, melainkan Aku sendirilah yang menyelamatkanmu; Akulah yang menebusmu dalam kasih-Ku dan belas kasihan-Ku. Aku mengangkat dan menggendongmu selama zaman dahulu kala (Yes 63:9).


Kis 25:13-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 7 Juni 2019: Hari Biasa Pekan VII Paskah - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kis 25:13-21; Mzm 103:1-2, 11-12, 19-20ab; Yoh 21:15-19)


Beberapa hari kemudian datanglah raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus. 

(1) Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada raja itu, katanya: "Di sini ada seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi. 

(2) Ketika aku berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu dan meminta supaya ia dihukum. Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu. 

(3) Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan orang itu. 

(4) Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak mengajukan suatu tuduhan pun tentang perbuatan jahat seperti yang telah aku duga. Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup.

(5) Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi di situ. 

Tetapi (A) Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar."


Renungan


1. Tujuan cobaan: menguji iman dan pertumbuhan moral kita

(A) Permintaan Paulus untuk naik banding ke Kaisar membuat Festus berada dalam posisi yang sulit. Ia harus membuat laporan resmi tentang tuduhan terhadap Paulus dan alasan Paulus naik-banding. Karier Festus menjadi taruhannya jika ia tidak berhasil menangani kasus ini dengan baik. Inilah yang menghantui pikiran Festus ketika Herodes Agripa bersama Bernike datang mengunjunginya.

Festus memaparkan kepada Herodes secara detail dan kronologis

(1) ia menyalahkan Feliks yang belum menyelesaikan masalah Paulus.

(2) ia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang taat kepada hukum Romawi melawan desakan kuat pemuka agama Yahudi untuk menghukum mati Paulus.

(3) ia adalah orang yang tanggap dan akan bertindak adil pada waktunya dan dengan cara yang benar.

(4) ia menyinggung tuduhan orang Yahudi yang hanya berhubungan dengan masalah agama Yahudi.

(5) ia mengakui kebingungannya untuk memeriksa perkara ini, namun ia tidak menceritakan bagaimana dia sudah berusaha berpihak kepada orang-orang Yahudi.

Mengapa Festus dapat dibingungkan dan diusik kehidupannya oleh seorang Paulus? Mengapa Herodes pun tertarik untuk mendengar tentang Paulus secara langsung? Karena daya magnet moralitas Paulus.

Dalam agama Kristen, firman Tuhan mengajarkan tentang bagaimana jalan hidup yang benar (Yoh 14:6). Oleh iman kepada Tuhan dan mengarahkan hati serta pandangan kita kepada Tuhan, kita dengan sendirinya akan membangun moral yang baik didalam hidup kita.

Akan tetapi cobaan akan selalu menghampiri setiap manusia, untuk mencobai iman kita. Secara tidak langsung setiap cobaan yang ada selain menguji iman kita hal tersebutpun akan mencobai pertumbuhan moral kita.


Kis 2:1-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 9 Juni 2019: Hari Raya Pentakosta - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: Kis 2:1-11; Mzm 104:1ab, 24ac, 29bc-30, 31, 34; 1 Kor 12:3b-7, 12-13 atau Rm 8:8-17; Yoh 14:15-16, 23b-26


Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 

Maka (*) penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 

Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."


Renungan


1. Tujuan pencurahan Roh Kudus

Pentakosta adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati peristiwa pencurahan Roh Kudus. Peristiwa ini terjadi 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus, jatuh pada hari Minggu ke-7 sesudah Paskah, atau 10 hari setelah Tuhan Yesus naik ke sorga.

(*) Apa tujuan Roh Kudus dicurahkan di tengah-tengah umat-Nya? Antara lain: 

1. Untuk menginsafkan dunia dari dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8-11). 2. Untuk memberikan kelahiran baru sebagai tanda hidup baru (Yoh 3:5-8).

Perihal kehidupan baru itu sudah dinubuatkan oleh nabi Yehezkiel (36:26 》 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat). 

Kebenaran Tuhan disampaikan melalui Injil. Jika kita tidak mengijinkan Roh Kudus berdiam di dalam hati kita, maka kita tidak akan mengerti kebenaran yang terkandung di dalam Injil.

Bagi orang percaya yang sudah lahir baru, firman itu menjadi makanan rohani dan kebenaran itu akan memerdekakannya (Yoh 8:32).


Kis 1:12-14

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 10 Juni 2019: PW Santa Perawan Maria, Bunda Gereja - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kej 3:9-15, 29 atau Kis 1:12-14; Mzm 87:1-2, 3, 5, 6-7; Yoh 19:25-34)


Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.

Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 

Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta (*) Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.


Renungan


1. Santa Perawan Maria, Bunda Gereja

(*) Kehadiran Maria sebagai Bunda Gereja terlihat jelas dalam komunitas Gereja Perdana. Melalui doa, Maria hadir di tengah Gereja Perdana dan menjadi gambaran Gereja sepanjang masa.

Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria dan Gereja, menjadikan Bunda Maria tidak terpisahkan dari Kristus dan Gereja; Jadi ia bukan saja menjadi Bunda Allah, namun juga Bunda Gereja , yaitu Bunda umat beriman. 

Peringatan Santa Perawan Maria, Bunda Gereja secara resmi diperingati pada hari Senin setelah Pentakosta. Keputusan ini disampaikan oleh Paus Fransiskus melalui Kongregasi Ibadat Ilahi pada 11 Februari 2018.

Paus mengatakan bahwa Bunda Maria memiliki peran penting dalam Gereja. Sebagai anggota Gereja, kita merayakan peringatan ini untuk menumbuhkan penghormatan kepada Maria sebagai Bunda Gereja.


Kis 11:21b-26; 13:1-3

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 11 Juni 2019: PW St. Barnabas, Rasul - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: Kis 11:21b-26; 13:1-3; Mzm 98:2-3ab, 3c-4, 5-6; Mat 10:7-13


Sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. 

Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena (1) Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. 

Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk (2) mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.


Renungan


1. Hidup dalam tuntunan Roh Kudus

(1) Kehidupan Barnabas sepenuhnya berada dalam tuntunan Roh Kudus. Ia mau mendengarkan suara Roh Kudus dalam hatinya, apa yang diimaninya nampak dalam kehidupan sehari-hari.

(2) Barnabas seorang pembawa damai, memberi kesempatan dan dorongan pada orang lain untuk memperbaiki diri, untuk membuktikan perubahan hidupnya.

PAULUS》Murid-murid tidak dapat percaya, bahwa Paulus juga seorang murid. Tetapi Barnabas seorang yang rendah hati, mau menerima Paulus yang baru bertobat dari seorang pembunuh orang Kristen dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Paulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kis 9:26-27).

YOHANES MARKUS 》Paulus menolak untuk mengikutsertakan Yohanes Markus dalam perjalanan penginjilan Paulus dan Barnabas. Karena menurut Paulus tidak baik membawa orang yang pernah tidak setia dalam pelayanan. Tetapi Barnabas ingin memberi kesempatan sekali lagi pada Yohanes Markus. Barnabas sadar bahwa setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Kalau ia sudah sungguh-sungguh menyadari kesalahannya dan memperbaikinya mengapa tidak diberi kesempatan (Kis.15:35-41).

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita tidak mau memberi kesempatan pada orang lain untuk membuktikan dirinya sudah berubah. Yang kita ingat hanyalah kesalahannya, hanyalah kekurangannya.

Jika kita ingin dikatakan sebagai orang Kristen yang berkenan di hati Allah, teladanilah apa yang telah dilakukan oleh Barnabas.


Selasa, 04 Juni 2019

Kis 7:51 - 8:1a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 7 Mei 2019: Hari Biasa Pekan III Paskah - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kis 7:51 - 8:1a; Mzm 31:3cd-4, 6ab, 7b, 8a, 17, 21ab; Yoh 6:30-35


(1) Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya." 

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. 

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu (3) melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 

Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. 

Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: (2A) "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: (2B) "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.


Renungan


1. Upah melayani-Nya

(1) Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Kis 6:5), maka ia berani mewartakan kebenaran. Perkataannya adalah sebuah fakta yang dibeberkan oleh Roh Kudus.

(2AB) Dalam menghadapi situasinya yang sulit ini, Stefanus tidak kehilangan harapan, namun ia masih bisa mengampuni orang yang merajamnya.

(3) Stefanus melayani-Nya dengan menyerahkan dirinya secara total kepada Tuhan sehingga ia melihat kemuliaan Allah (Yoh 12:26).


Kis 8:26-40

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 9 Mei 2019: Hari Biasa Pekan III Paskah - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kis 8:26-40; Mzm 66:8-9, 16-17, 20; Yoh 6:44-51


Kemudian (1A) berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi.

Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

Lalu (1B) kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" 

Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?"

Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 

Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?"

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu (2) ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?"

Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."

Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.


Renungan


1. Teruslah bersaksi bagi Kristus

(1AB) Kesaksian Filipus kepada seorang pejabat Etiopia dituntun oleh malaikat Allah. 

(2) Roh Kudus tidak pernah memaksa orang untuk merespons Kabar Baik dalam Kristus. Setiap orang bebas menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih. 

Bagaimana caranya agar seseorang dapat merespons keselamatan Allah? Setidaknya ada dua hal, yaitu kuasa Roh Kudus dan hati yang terbuka. Keduanya bukan bagian kita. 

Bagian kita hanya mewartakan Injil dan memohon kuasa Allah membimbing dan menolong kita. Karena itu, janganlah kecewa apabila ditolak. Teruslah bersaksi bagi Kristus!