Tampilkan postingan dengan label SP 1-2 Timotius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP 1-2 Timotius. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2020

2 Tim 2:8-15

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya



Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 4 Juni 2020: Hari Biasa IX - Tahun A/II (Hijau)
Bacaan: 2 Tim 2:8-15; Mzm 25:4bc-5ab, 8-9, 19, 14; Mrk 12:28-34


(1) INGATLAH ini: YESUS KRISTUS, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

Karena pemberitaan Injil inilah (2A) AKU MENDERITA, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu (2B) AKU SABAR MENANGGUNG SEMUANYA ITU bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; (*) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." 

Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka BERSILAT KATA, karena hal itu SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.


Renungan


Menikmati kesetiaan Kristus

(*) Ayat ini banyak disalah artikan oleh banyak orang Kristen.

Bagaimana caranya agar kita bisa menikmati kesetiaan Kristus (1) Fokus pada Yesus Kristus. (2) Mau membayar harga, yaitu taat pada kehendak-Nya. Mintalah pertolongan Roh Kudus agar dimampukan melaksanakan kehendak-Nya.

Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela (Mzm 18:26).


2 Tim 1:1-3, 6-12

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya



Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Rabu, 3 Juni 2020: PW Karolus Lwanga dkk, Martir - Tahun A/II (Merah
Bacaan: 2 Tim 1:1-3, 6-12; Mzm 123:1-2a, 2bcd; Mrk 12:18-27


Dari Paulus, rasul Kristus Yesus OLEH KEHENDAK ALLAH untuk (2) MEMBERITAKAN JANJI tentang hidup dalam Kristus Yesus, kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau. Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan HATI NURANI YANG MURNI seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

Sebab aku teringat akan (3) IMANmu YANG TULUS IKHLAS, yaitu iman yang pertama-tama hidup DI DALAM NENEKmu Lois dan DI DALAM IBUmu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu (2 Tim 1:5).

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk (4) MENGOBARKAN KARUNIA ALLAH yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab (5) ALLAH MEMBERIKAN kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan ROH YANG MEMBANGKITKAN KEKUATAN, KASIH DAN KETERTIBAN.

Jadi (6) janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan (7) ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh INJIL telah MEMATAHKAN KUASA MAUT dan MENDATANGKAN HIDUP YANG TIDAK DAPAT BINASA.

Untuk Injil inilah (1) AKU TELAH DITETAPKAN SEBAGAI PEMBERITA, sebagai RASUL dan sebagai GURU. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. 


Renungan


1. Harta yang indah

(1, 2) Paulus telah ditetapkan menjadi pemberita tentang janji hidup dalam Kristus Yesus. Sebagai rasul dan guru, dia melayani Timotius, anak rohaninya dengan hati nurani yang murni dan mendoakannya. (3) Timotius mewarisi iman yang tulus ikhlas dari nenek dan ibunya.

(4) Karunia yang dimaksud adalah segala pemberian Allah yang memungkinkan dan melengkapi untuk melayani jemaat (1 Tim 4:14). (5) Hanya Allahlah sumber kekuatan, terutama memberi kekuatan bagi umat Kristen dalam penderitaan. Hanya Roh Kuduslah yang sanggup membangkitkan kasih di dalam diri orang Kristen secara pribadi, dan dalam kesaksian mereka dengan orang lain. Terakhir, hanya Roh Kudus juga yang sanggup menjadi sumber ketertiban hidup atau disiplin diri.

(6, 7) Paulus meminta Timotius untuk meneladaninya, juga memelihara "harta yang indah" yang telah dipercayakan-Nya (2 Tim 1:14 》Roh Kudus yang diam di dalam kita). Sebagai pengikut Kristus, hendaknya kita juga berani bersaksi dan ikut menderita bagi Injil-Nya.


Minggu, 29 Desember 2019

2 Tim 4:10-17b

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 18 Oktober 2019: Pesta St. Lukas, Pengarang Injil - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: 2 Tim 4:10-17b; Mzm 145:10-11, 12-13ab, 17-18; Luk 10:1-9


Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya (*) Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. 

Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu. Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. 

Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku — kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka, tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. 

Renungan

1. Mewartakan Kabar Gembira lewat tulisan

(*) Santo Lukas berasal dari latar belakang kafir dan berprofesi sebagai dokter. Setelah bertobat ia menjadi teman setia Rasul Paulus sebagai dokter pribadi. 

Lukas mendayagunakan pengalaman imannya bersama Paulus dan talentanya sebagai seorang terpelajar untuk mewartakan Amanat Yesus lewat tulisan, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul.

Amanat Yesus kepada tujuh puluh murid adalah amanat bagi kita. Ladang pewartaan dewasa ini semakin luas dan panenan semakin melimpah, artinya orang-orang yang merindukan dan membutuhkan Kabar Gembira semakin banyak, termasuk di dalam lingkungan gereja sendiri. Tuhan Yesus membutuhkan banyak orang yang bersedia diutus.

Dewasa ini kita memiliki peluang yang sangat terbuka untuk mewartakan Kabar Gembira lewat tulisan. Mungkin tidak semua kita mampu menulis buku teologi atau buku-buku tebal lainnya, tetapi kita dapat menggunakan media sosial (blog, website dll.) untuk mewujudkan panggilan itu.

Kita ditantang untuk menggunakan media-media tersebut sebagai sarana untuk membagikan pengalaman iman dan menuliskan kata-kata positif yang meneguhkan dan mempersatukan sehingga dapat mendorong orang lain untuk mengenal Tuhan lebih dekat.

Sebagai orang beriman, kita harus berjuang untuk melawan kecenderungan negatif yang menggunakan media sosial hanya untuk mencari kesenangan semata, menyebarkan berita palsu (hoaks), mencari sensasi, mem-bully, dan memanipulasi orang lain demi keuntungan material.


2 Tim 3:14 - 4:2

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 20 Oktober 2019: Hari Minggu Biasa XXIX - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kel 17:8-13; Mzm 121:1-2, 3-4, 5-6, 7-8; 2 Tim 3:14 - 4:2; Luk 18:1-8


Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. 

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: (*) Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.


Renungan


1. Menopang karya misi dengan doa

Pada hari ini, kita bersama Gereja universal merayakan hari Minggu Misi, Gereja menyadari bahwa pada hakikatnya, Gereja peziarah bersifat misioner sebab berasal dari perutusan Putra dan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa (AG 1). 

(*) Setiap anggota Gereja dipanggil untuk ikut serta dalam karya misi ini, dengan teladan hidup maupun pewartaan, dengan Sakramen-sakramen serta upaya-upaya rahmat lain, mengantar banyak orang pada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga terbuka jalan yang bebas dan teguh untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus (AG 5).

Karya misi ini perlu ditopang dengan doa terus-menerus. Kekuatan doa merupakan daya yang dahsyat bagi pewartaan Sabda Allah. Doa yang dimaksud di sini bukan semata-mata untuk keselamatan para pewarta sabda di tanah misi, tetapi terutama untuk mengetuk pintu kerahiman Allah supaya membenarkan karya para pewarta dan menyuburkan serta mengembangkan iman umat.

Doa dan karya misi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kita perlu menopang karya misi dengan doa, sehingga pewartaan kita memenangkan banyak jiwa dari perang dosa di tengah dunia ini.


Senin, 07 Oktober 2019

2 Tim 1:6-8, 13-14

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 6 Oktober 2019: Hari Minggu Biasa XXVII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Hab 1:2-3; 2:2-4; Mzm 95:1-2, 6-7, 8-9; 2 Tim 1:6-8, 13-14; Luk 17:5-10


Karena itulah kuperingatkan engkau untuk (3) mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang (4) membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Jadi janganlah malu (5) bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

(1) Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh (2) Roh Kudus yang diam di dalam kita.


Renungan


1. Warisan iman

Tuhan dapat memakai seseorang untuk mewariskan iman tersebut kepada orang lain. Paulus melihat Timotius mewarisi iman dari ibunya, Eunike, yang mewarisinya dari neneknya, Lois (2 Tim 1:5). Iman Timotius juga semakin diteguhkan oleh ajaran sehat dan teladan Paulus (1). Sungguh suatu warisan yang teramat berharga! 

Iman dan dampaknya dalam hidup sehari-hari itu merupakan karunia dan karya Roh Kudus (2). Iman menggugah kita untuk mengobarkan karunia Allah (3), hidup dalam kekuatan, kasih, dan ketertiban (4), serta tidak malu bersaksi tentang Tuhan (5).

Warisan iman adalah warisan yang teramat berharga. bukan hanya untuk hidup sekarang, melainkan juga untuk kekekalan.

Bagaimana dengan kita? Warisan apakah yang kita persiapkan bagi generasi yang akan datang? Apakah kita memprioritaskan pewarisan iman kepada mereka?


Selasa, 01 Oktober 2019

1 Tim 1:1-2, 12-14

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 13 September 2019: PW St. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: 1 Tim 1:1-2, 12-14; Mzm 16:1, 2a, 5, 7-8, 11; Luk 6:39-42


Dari (1) Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau. 

(2) Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -- (3) aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. (4) Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.


Renungan


1. Kasih karunia melahirkan rasa syukur

(1) Paulus menjadi rasul, bukan karena kehendaknya pribadi, tetapi karena perintah Allah. Ia memberitakan Injil karena Injil itu telah dipercayakan Allah kepadanya. Penegasan ini bukanlah suatu bentuk kesombongan rohani, tetapi bertujuan untuk menunjukkan perbedaan antara dasar panggilan dari mereka yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, dan mereka yang tidak. 

(2-4) Pengakuan atas masa lalu yang kelam tidak diikuti dengan membanggakan diri atas perubahan yang telah terjadi. 

Setiap kali Paulus mengenang kembali jalan hidupnya, maka selalu akan timbul dalam hatinya penuh syukur, suatu puji-pujian kepada Allah. Jadi, kasih karunia melahirkan rasa syukur.


1 Tim 1:12-17

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 15 September 2019: Hari Minggu Biasa XXIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kel 32:7-11, 13-14; Mzm 51:3-4, 12-13, 17, 19; 1 Tim 1:12-17; Luk 15:1-32


Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku - (*) aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. 

Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.


Renungan


1. Belas kasih Allah sangat besar

(*) Paulus adalah seorang yang fanatik yang hendak menghabisi para murid Yesus. Ia menyetujui hukuman mati atas Stefanus (Kis 8:1) dan meminta surat kuasa dari imam agung untuk menangkap orang-oeang Kristiani di Damayik (Kis 9:1-2). Mengapa Paulus dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari rencana keselamatan-Nya?

Untuk memahami sikap Tuhan, perbandingan kita adalah diri Yesus Kristus. Perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang, memberi gambaran sikap Tuhan terhadap orang berdosa. Yang ditekankan Tuhan bukanlah dirham, domba dan anak yang hilang, tetapi sukacita yang bertumbuh ketika domba, dirham atau anak itu ditemukan kembali.

Dengan kata lain, berdosa itu sesuatu yang wajar dan manusiawi, dapat terjadi pada diri siapapun. Jika hanya dosa yang diperhatikan, nilai sukacita karena belas kasih Tuhan justru hilang. Belas kasih inilah yang menaungi Paulus, serta semua orang berdosa yang mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Untuk itulah Yesus mengorbankan diri di salib.

Kita semua pernah melakukan dosa. Kita diundang untuk mengadari bahwa belas kasih Allah sangat besar, yang penting kita mau bertobat dari dosa, membaharui diri dan hidup menurut cara baru sesuai dengan kehendak Tuhan.

Proses pertobatan dan pembaharuan diri inilah yang seringkali sulit untuk kita wujudkan. Kita tidak cukup rendah hati, tidak cukup sabar, dan tidak cukup menghargai belas kasih Tuhan. Marilah kita berpaling kepada-Nya dan menimba rahmat keselamatan dari hariban-Nya.


1 Tim 4:12-16

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 19 September 2019: Hari Biasa XXIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 1 Tim 4:12-16; Mzm 111:7-8, 9, 10; Luk 7:36-50


(*) Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.


Renungan


1. Kekuatan keteladanan melebihi kekuatan kata-kata

Ditinjau dari fakta-fakta yang ada, semua orang pasti akan menduga bahwa Timotius tidak akan berhasil dalam menjalankan tugas pelayanannya karena beberapa alasan: usianya yang masih sangat muda atau belum sarat pengalaman (*), fisiknya kurang menunjang karena ia sering sakit-sakitan pada waktu itu (1 Tim 5:23), bapak rohaninya (Paulus) sedang tidak ada di tempat karena berada dalam penjara (2 Tim 1:16).

Namun keberhasilan sebuah pelayanan bukan semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar. Hal utama yang menentukan adalah keteladanan sang pelayan Tuhan atau pemimpin itu sendiri, yaitu faktor dari dalam.

Kekuatan keteladanan melebihi kekuatan kata-kata belaka. Perkataan kita belum tentu akan dilakukan oleh orang yang mendengarnya, tetapi keteladanan hidup kerapkali akan dicontoh oleh orang yang melihatnya.

Keteladanan hidup adalah buah kedewasaan rohani, sebab kedewasaan rohani dalam diri seseorang tidak bergantung pada faktor usia atau berapa lama ia menjadi orang Kristen, sebab ada banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan tetap saja belum dewasa rohaninya, alias masih kanak-kanak rohani. Dan satu hal yang perlu diketahui bahwa keteladanan hidup adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh pemimpin rohani.


1 Tim 6:2c-12

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 20 September 2019: PW St. Andreas Kim Taegon, Imam, dan St. Paulus Chong Hasang, dkk., Martir Korea - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: 1 Tim 6:2c-12; Mzm 49:6-7, 8-9, 17-18, 19-20; Luk 81-3; RUybs.


Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat — yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus — dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab (2C) kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 

Tetapi (1) mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah (2A) beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (2B) Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.


Renungan



1. Iman kita: mengalahkan dunia

Perlu kita sadari bahwa selama kita hidup di bumi ini kita akan mengalami banyak pergumulan dan juga peperangan rohani. 

(1) Ingin cepat kaya dan cinta terhadap uang adalah hal yang diingini oleh manusia. Memiliki keinginan terhadap sesuatu itu tidaklah salah; jika diarahkan kepada perkara yang tepat dan benar. Sebaliknya, jika sifat mengingini ini terarah pada hal-hal yang negatif akan membawa seseorang kepada kehancuran. 

(2ABC) Hidup orang percaya sepenuhnya tergantung pada iman di dalam janji-janji Tuhan. Hanya imanlah yang mampu menaklukkan kecenderungan yang ada di dalam diri kita yang selalu ingin melakukan perkara-perkara duniawi itu sehingga kita mampu menjalani hidup sesuai dengan cara Tuhan (1 Yoh 5:4b-5).