Tampilkan postingan dengan label *Kerendahan hati*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kerendahan hati*. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2019

Kapan bersyukurnya?



Henry Ward Beecher berkata, "Orang sombong jarang yang tahu bersyukur, sebab ia tidak pernah menganggap dirinya sudah mendapatkan apa yang sepantasnya ia peroleh." 

Penghambat utama rasa syukur adalah anggapan diri kita cukup baik sehingga pantas menerima pahala. Kalau kebaikan mengunjungi dirinya, dianggap sudah sepantasnya. Tak ada rasa syukur. Parahnya, dalam kenyataan ia justru selalu merasa dirinya belum mendapatkan hal yang sepantasnya. Serba belum cukup; selalu kurang. Kapan bersyukurnya?

Mazmur 107 mengungkap kebenaran ini secara lebih jernih. Kebaikan bukan ada pada kita, melainkan pada Tuhan. Bukan kita yang baik sehingga patut diganjar kebaikan dalam hidup ini. Kala Anda dituangi atau disirami kebaikan dalam hidup, itu karena Tuhan baik! Periksalah dengan jujur betapa banyak perkara yang semestinya tak pantas kita peroleh, namun nyatanya kita dapatkan. Banyak hal dalam hidup sehari-hari yang datang sebagai karunia, bukan upah kebaikan kita. Semua tersedia dengan indah dan limpah karena Tuhan itu baik. Maka, jangan sombong dan merasa diri pantas, melainkan bersyukurlah! Bersyukur karena kebaikan-Nya!

Sadarkah Anda bahwa 11.000 liter udara kita hirup-hembus setiap hari secara gratis, tidak seperti asupan oksigen bagi pasien di rumah sakit? Cahaya mentari yang tak kita upayakan. Langit biru yang bukan buah karya kita. Kicau burung yang tak kita ciptakan. Uluran tangan sukarela. O, masih banyak lagi curahan anugerah-Nya yang layak kita syukuri! 

Kesombongan membuat kita serba menuntut, kerendahan hati membuat kita senantiasa bersyukur.

Senin, 24 Juni 2019

Kerendahan hati dan kelemahlembutan



Dalam perjalanan rohani, kerendahan hati sangat penting, karena menjadi dasar/pondasi bangunan rohani. Tanpa kerendahan hati, hidup rohani akan runtuh atau hancur. Fungsi kerendahan hati untuk menyingkirkan kesombongan, yang menjadi hambatan untuk mencapai kesucian. 

Kerendahan hati adalah dasar dan perlindungan dari segala kebajikan. Jikalau orang rendah hati, maka ia akan terlindung dari segala mara bahaya, tetapi jika tidak ada kerendahan hati, kebajikan bisa berubah menjadi jerat baginya (St. Hieronimus). 

Kerendahan hati bukan kebajikan yang terbesar, namun hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan kasih kepada Tuhan dan sesama. Oleh karena itu St. Agustinus mengatakan, pertama-tama, kerendahan hati, kemudian, kerendahan hati, dan yang terakhir, kerendahan hati; untuk menekankan pentingnya kerendahan hati untuk mencapai kesempurnaan rohani

Orang yang rendah hati tetap sejuk di tempat yang panas, tetap manis di tempat yang pahit, tetap kecil (sederhana) meskipun terlihat menjadi besar, tetap bersukacita meskipun melihat orang lain lebih unggul darinya, tetap tenang di tengah badai, tetap mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Memiliki kerendahan hati bukanlah pekara yang mudah. Oleh karena itu kita harus melakukan penyangkalan diri. 

Dengan kerendahan hati, kasih Tuhan akan dicurahkan dalam hidup kita karena Tuhan mengasihi orang yang tunduk kepada-Nya dan menghormati sesamanya. 

Kerendahan hati adalah salah satu kebajikanbukan hanya hasil usaha kita melainkan juga hasil rahmat Allah (KGK 2825). 

Kesombongan seperti penyakit menular, yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Semakin tinggi tingkat kesombongan kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya karena hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. 

Sombong karena materi mudah terlihat (merasa lebih kaya, lebih rupawan, lebih terhormat daripada orang lain), sombong karena kecerdasan (merasa lebih pintar, lebih hebat, lebih kompeten, paling benar, lebih berwawasan dibandingkan orang lain), sombong karena kebaikan sulit terdeteksi (sering menganggap diri lebih rohani, lebih bermoral, lebih pemurah dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain), dan sombong karena diri lebih rohani, lebih kudus

Kesombongan adalah hasrat berlebihan ketika manusia menilai dirinya terlalu tinggi. Manusia menjadikan dirinyatuhandengan penolakan untuk menundukkan akal budi dan keinginannya pada Tuhan, termasuk tunduk pada mereka yang berkewajiban untuk memimpinnya. Dengan demikian, kesombongan seringkali menimbulkan masalah dan kehancuran dalam keluarga, gereja, masyarakat dan bahkan negara. 

Setiap manusia yang meninggalkan Tuhan berawal dari kesombongannya, karena ia merasa super, ingin mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain ataupun Tuhan (St. Thomas Aquinas). 

Kesombongan adalah dosa yang paling berbahaya. Oleh karena itu Tuhan memangkas kesombongan yang ada pada pengikut-pengikut-Nya sehingga mereka mempunyai kerendahan hati. 

Saat tertindas itu sangat baik untuk mendidik jiwa kita supaya kita belajar ketetapan-ketetapan-Nya (Mzm 119:71). 

Perjalanan hidup di dunia merupakan pergumulan untuk memperoleh pengesahan sebagai anak oleh Bapa di sorga. Ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:5-10). 

Tuhan akan memproses diri kita melalui berbagai macam pencobaan agar kita menjadi rendah hati. Beban kehidupan atau penderitaan tidak dirancang oleh Tuhan untuk menghancurkan hidup kita tetapi untuk membawa kita kepada-Nya

Ketika kita menaruh kepercayaan hanya kepada Allah maka kita akan beroleh kekuatan untuk sabar menderita kesengsaraan. Karena kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya, yaitu bagi kita yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28). Allah sumber segala penghiburan, kita menerima penghiburan berlimpah-limpah dari-Nya. 

Dalam kehidupan orang yang rendah hati, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus sehingga menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Flp 2:5, 3), selalu mengusahakan perasaan yang nyaman bagi orang lain dengan cara duduk diam bersama saudara atau sahabat yang sedang terluka. 

Jadi, jika ada saudara atau sahabat kita yang sharing pergumulan hidupnya, janganlah kita memuji diri sendiri (Luk 18:11-12 » meskipun dalam hati) karena esok hari kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu (Ams 27:1; Yak 4:13-16). Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba (Pkh 9:12). 

Doakanlah dan hiburlah mereka yang menderita dengan penghiburan yang kita terima sendiri dari Allah agar mereka juga memperoleh kekuatan dan kesabaran seperti kita ketika menghadapi pergumulan hidup (2 Kor 1:3-12). 

Jadi, penderitaan adalah rahmat yang besar. Melalui penderitaan jiwa menyatukan diri dengan Penyelamat. Dalam penderitaan cinta mengkristal. Makin besar penderitaan, cinta semakin bersih. Dan jiwa yang disucikan oleh kesulitan menjadi rendah hati (Santa Faustina). 

Tuhan membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannyadan melenyapkan kesombongan orang (Ayb 33:16-17). 

Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus (KGK 405). Siapa yang menerima katekese ini, diterangi oleh Roh" (Yustinus, apol. 1,61,12). Karena di dalam Pembaptisan ia telah menerima Sabda, "terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang" (Yoh 1:9), maka orang yang dibaptis itu, setelah "menerima terang" (Ibr 10:32) menjadi putera "terang" (1 Tes 5:5), ya malah menjadi "terang" itu sendiri (Ef 5:8) (KGK 1216). 

St. Yohanes Salib menerangkan jika Allah menerangi kita dengan Terang-Nya seperti ruangan tanpa lampu yang menyala tetap dalam keadaan gelap dan mengira ruangan tersebut “bersih” tetapi setelah lampu dinyalakan maka kelihatan seluruh keadaan ruangan dengan kotoran-kotorannya, debu-debu dan sebagainya. Jika Allah mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita melalui pengalaman kasih Allah itu sekaligus menunjukkan kedosaan kita, itulah sebabnya pengalaman Allah dalam Pencurahan Roh Kudus membawa orang kepada pertobatan. Dari satu pihak melalui pengalaman kasih itu disadarkan akan dosa-dosa yang besar dan banyak sehingga bertobat dan mengalami kasih Allah yang melampaui segala pengertiannya

Pertobatan mendorong pendosa untuk menerima segala sesuatu dengan rela hati: di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, di dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah" (Catech. R. 2,5,21) (Bdk. Konsili Trente: DS 1673) (KGK 1450). 

Jadi, kerendahan hati yang sejati diperoleh melalui pengalaman kasih Allah (St. Teresa Avila). Kerendahan hati adalah hasil dari pengenalan akan diri sendiri dan akan Tuhan sehingga menghapuskan semua penghalang untuk menerima rahmat Tuhan

Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Ptr 5:5) 

Tradisi Gereja menyebutkan bahwa kerendahan hati adalah salah satu dari buah Roh (KGK 1832 » 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

Ciri-ciri orang yang rendah hati 

Mengakui kekecilannya, kekosongannya, keterbatasan, ketidaksempurnaannya, kelemahannya, ketidakberartiannya, kemiskinannya di hadapan Allah, bahwa tanpa Allah tak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5), di hadapan Allah dirinya hanya seorang pendosa; mengakui bahwa segala-galanya adalah karunia Tuhan; mengakui ketergantungannya kepada Allah untuk hal-hal yang dimiliki atau yang akan dimiliki dan menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini statusnya adalah titipan; tidak terus-menerus dan berputar-putar pada kelemahan (bukan berpusat pada diri sendiri tetapi pada Allah,) sehingga tidak mudah putus asa

[Kejatuhan Petrus: Mat 26:35 » "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Karena begitu yakin dengan kekuatannya (sombong), ia dibiarkan “jatuh” dalam kerapuhannya (Mat 26:69-75 » menyangkal 3x). Karena rahmat Allah (Luk 22:32 » Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu), Petrus percaya akan kerahiman Allah yang jauh lebih besar. Karena kejatuhannya Petrus tidak berani lagi melakukan hal yang serupa, pada hari tuanya tidak ada nada kesombongan lagi]. 

Kerendahan hati akan membuat diri kita menjadi tanah liat yang mudah dibentuk oleh Allah (Yes 64:8; Yer 18:4). Batinnya dipenuhi dengan kelemahlembutan (1 Ptr 3:4) sehingga jauh lebih mudah tunduk dan dibentuk oleh Roh Kudus menjadi bejana yang indah (Kis 18:24-26 » mau diajar). Sedangkan orang yang sombong seperti tanah liat yang kering dan keras (Mzm 95:7-11 » keras hati), sulit dibentuk menjadi becana yang indah. 

Orang yang sombong tanpa sadar menipu dirinya sendiri, menyangka dirinya berarti padahal ia sama sekali tidak berarti (Gal 6:3; Ams 16:18). Orang yang rendah hati menyadari bahwa “Tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:17). Maka ketika melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadanya, ia berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10); kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Kor 3:5); Allahlah yang mengerjakan di dalam kami baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp 2:13). Orang yang mempunyai kerendahan hati sejati akan bersyukur atas kebaikan Allah, memuji dan menyembah Dia

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuatsupaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Ptr 5:6). 

Meskipun Yesus Kristus diberi kuasa di sorga dan bumi (Mat 28:18), Ia oleh karena kita menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9). 

Teladan kerendahan hati dan kelemah lembutan yang sempurna dari seluruh kehidupan Yesus

Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28). Ia membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:5). Walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:6-8). 

Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar (Malkhus) dan memutuskan telinga kanannya (Yoh 18:10). Kristus lemah lembut, hati-Nya mudah tergerak oleh belas kasihan (2 Kor 10:1), berkata: "Sudahlah itu." Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya (Luk 22:50-51). 

Kata lemah lembut menunjuk kepada sikap batin (1 Ptr 3:4). Orang yang lemah lembut tidak mendendam terhadap tindakan kasar (yang dialaminya) dan tidak tawar hati dalam kemalangan, karena segala sesuatu diterimanya sebagai jalan Allah bagi tujuan-Nya yang penuh hikmat dan kasih, sehingga mereka terima juga tindakan kasar dari orang lain, sambil mengetahui bahwa hal-hal itu diizinkan oleh Allah demi kebaikan mereka (Rm 8:28). 

Kristus telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya (1 Ptr 2:21). Oleh karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, pikullah kuk yang dipasang-Nya dan belajarlah kelemahlebutan dan kerendahan hati pada-Nya agar jiwa kita mendapat ketenangan (Kol 3:12; Mat 11:28-30) dan kita mengalami pertumbuhan rohani.

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Allah adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan (Ams 22: 4).

(Sumber: Warta KPI TL No. 170/V/2019 » Renungan KPI TL Tgl 24 Januari 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 

Jumat, 03 Mei 2019

14 jalan rendah hati Santa Teresa



1. Berbicara sesedikit mungkin tentang diri sendiri.

2. Uruslah diri persoalan-persoalan pribadi.

3. Hindari rasa ingin tahu.

4. Janganlah mencampuri urusan orang lain.

5. Terimalah pertentangan dengan kegembiraan.

6. Janganlah memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.

7. Terimalah hinaan dan caci maki.

8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.

9. Mengalah terhadap kehendak orang lain.

10. Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya.

11. Bersikap sopan dan peka, sekalipun seseorang memancing amarah anda.

12. Jangan mencoba agar dikagumi dan dicintai

13. Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yang benar.

14. Pilihlah selalu yang tersulit.

Rabu, 29 Agustus 2018

17 Tanda kurangnya kerendahan hati menurut Santo Josemaria Escriva

 


1. Berpikir bahwa apa yang kamu lakukan atau katakan lebih baik dari apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain.

2. Selalu ingin menuruti kemauan sendiri.

3. Tetap berdebat sekalipun kamu tahu bahwa kamu salah atau tetap keras kepala memaksakan sikap atau membenarkan perbuatan salahmu.

4. Memberi pendapat tanpa diminta dan ketika kamu melakukannya bukan atas dasar kasih.

5. Memandang rendah pendapat orang lain.

6. Tidak menganggap bakat-bakat serta kemampuan diri sebagai pinjaman dari Tuhan.

7. Tidak menyadari bahwa diri sendiri tidak layak atas segala penghargaan dan pujian, bahkan tidak atas bumi tempatnya berpijak dan atas barang-barang yang dimiliki.

8. Membicarakan diri sendiri sebagai contoh dalam percakapan-percakapan.

9. Berbicara buruk tentang diri sendiri sehingga orang lain kagum atau menyanggah dengan pujian.

10. Membela diri apabila ditegur.

11. Menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang memalukan dari pembimbing rohani, sehingga kesan baiknya terhadapmu tidak berkurang.

12. Merasa puas saat dipuji, atau merasa senang saat orang lain berkata-kata baik tentang dirimu.

13. Sakit hati bila ada orang lain yang lebih dihargai daripada dirimu.

14. Menolak melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh.

15. Berusaha menonjolkan diri.

16. Mempercakapkan kejujuran, kecerdasan, kecakapan atau gengsi jabatan diri sendiri.

17. Merasa malu karena tidak memiliki hal atau barang tertentu.


Selasa, 07 Maret 2017

Bertumbuh dalam kerendahan hati



Dalam hidup rohani kerendahan hati adalah dasar sedangkan cintakasih itu mahkotanya, maka sebuah bangunan rohani supaya dapat berdiri kokoh kuat dan tidak akan roboh harus diletakkan pada dasar kerendahan hati yang sangat kuat dan sangat dalam.

Mengapa seringkali kita tidak memperoleh kerendahan hati? Karena kita kurang menyadari akan dosa kita, kurang memeriksa diri kita, kurang menyadari kerapuhan dan kepapaan dalam diri kita sendiri. 

Misalnya kita membayangkan seorang penjahat di hadapan pengadilan, setelah tertangkap dibuktikan segala kejahatannya, dia berdiri di muka hakim mungkin dengan kepala tertunduk karena dia malu dan sadar bahwa sewaktu-waktu dapat dijatuhkan hukuman yang berat. 

Lebih-lebih jika dia sadar kejahatannya yang berat, maka dia akan berdiri dengan rendah hati di hadapan hakim dengan mengakui kejahatannya. 

Jika kita di hadapan Allah menyadari segala dosa-dosa yang kita lakukan, kecenderungan-kecenderungan jahat yang masih ada dalam diri kita, bahwa sewaktu-waktu kita bisa dibawa kepada dosa-dosa yang mengerikan kalau tidak dijaga oleh Allah.

Kerendahan hati suatu rahmat dan kebajikan yang sulit didapatkan tetapi amat dibutuhkan

Jalan yang paling utama untuk mencapai kerendahan hati adalah cintakasih (1 Kor 13:4 – kasih itu … tidak sombong).

Kerendahan hati yang sejati adalah buah dari cinta kasih.

Jika Allah menerangi kita dengan Terang-Nya seperti ruangan tanpa lampu yang menyala tetap dalam keadaan gelap dan mengira ruangan tersebut ‘bersih’ tetapi setelah lampu dinyalakan maka kelihatan seluruh keadaan ruangan dengan kotoran-kotorannya, debu-debu dan sebagainya

Jika Allah mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita melalui pengalaman kasih Allah itu, Dia menunjukkan kedosaan kita. Itulah sebabnya pengalaman Allah dalam Pencurahan Roh Kudus membawa orang kepada pertobatan. Dari satu pihak melalui pengalaman kasih itu disadarkan akan dosa-dosanya yang besar dan banyak sehingga bertobat dan mengalami kasih Allah yang melampaui segala pengertian (St. Yohanes Salib).

Marilah kita belajar dari Petrus dan Yudas

[Mat 26:69-75] Petrus telah menyangkal Yesus dengan sangat mengerikan, mengutuk dan bersumpah, katanya: “Aku tidak kenal orang itu.” Ketika ayam berkokok teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya 

» Berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku.” Petrus menjawabnya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Mat 26:33 – Petrus begitu yakin dengan kekuatannya sendiri, maka Tuhan membiarkanjatuhdalam kerapuhannya). 

Petrus masih diberikan rahmat (Luk 22:32 – Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur) sehingga menjadi sadar akan kesombongannya, percaya kepada kasih Tuhan dan pengampunan-Nya (Yoh 21:15-19 – Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka?” Jawab Petrus kepadaNya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” – Petrus tidak berani berkata lain daripada itu). 

[Mat 27:3-5] Pada waktu Yudas melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua … lalu pergi dari situ dan menggantung diri  

» Yudas Iskariot tidak setia dan tidak mencintai Yesus, dengan sengaja mengkianati Yesus (Mat 26:14-16), ia diperingatkan oleh Yesus (Mat 26:21-25) namun menolak rahmat Allah

Ketika sadar akan dosa-dosanya yang begitu besar, ia menjadi putus asa, iblis menggodanya sehingga ia jatuh begitu dalam, lebih dalam daripada kejatuhan Petrus.

Apabila kalian putus asa, itu menandakan kesombongan. Rasa putus asa menunjukkan bahwa kalian hanya percaya pada kekuatan kalian sendiri: kemandirian kalian, keegoisan kalian, dan kesombongan keintelektual kalian. Semua itu akan menghalangi kehadiran Allah di dalam hati kalian karena Allah tidak dapat mengisi sesuatu yang sudah penuh (Ibu Teresa)


(Sumber: Warta KPI TL No.121/V/2014 » Bertumbuh Dalam Kerendahan Hati, HDR Januari-Februari 2005 Tahun IX). 

Jumat, 24 Februari 2017

Bertumbuh dalam kerendahan hati

Ada seorang sahabat saya (A) yang menyekolahkan anak-anaknya di Amerika. Ketika selesai kuliah, anak A (B) bekerja di perusahaan ayahnya. 

Pada suatu hari B memarahi salah satu karyawannya (C) dengan gaya Amerika. A marah sekali kepada B, katanya: “Kamu belum lahir, C sudah ikut papa, dia sudah bekerja selama 30 tahun. Apapun kesalahannya, kamu harus berbicara dengan sopan.”

Ketika saya diundang perkawinan salah satu anak A, saya melihat pelayanan A yang luar biasa, dia menyambut semua tamu-tamunya tanpa membeda-bedakan. Dia dan istrinya pagi-pagi benar sudah berada di hotel menemai para tamu, bahkan A membantu mengangkat koper para tamunya dengan gembira.

Meskipun A adalah bos besar, dia tidak memakai mobil mewah, dia seorang yang rendah hati dan murah hati sehingga tahun lepas tahun Tuhan memberkatinya secara luar biasa.

Bagaimana dengan sikap hati kita ketika memiliki segala-galanya? Apakah kita mampu mempertahankan sikap hati kita seperti A?

Rendah hati ~ menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Flp 2:3; Ams 22:4)

Cara bertumbuh dalam kerendahan hati 

1. Berdoalah dan minta rahmat Tuhan agar kita memiliki roh kerendahan hati. 

2. Jangan membela diri, jika ada masalah (2 Sam 16:5-14; Yoh 8:46-48).

3. Jangan merendahkan orang lain (Mat 7:3-5).

4. Jangan membandingkan dengan orang lain (berhitung). Jika kita melakukan hal ini maka kita akan sakit hati dan frustasi (Rm 12:3; 16).

Buah Roh kerendahan hati tidak turun dari langit tapi merupakan anugerah Allah yang bekerjasama dengan kemauan dari manusia.

Janji Tuhan ketika kita memiliki kerendahan hati

- Umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka (2 Taw 7:14).

- Tuhan membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati (Mzm 25:9).

- Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan (Mzm 149:4). 

- Orang yang rendah hati dikasihani-Nya (Ams 3:34).

- Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11:29).

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu (Ef 4:2).

Hendaklah kita dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus … walaupun dalam rupa Allah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba … merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati … sehingga segala lidah mengaku “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Flp 2:5-11).

(Sumber: Warta KPI TL No.113/IX/2013 » Renungan KPI TL tgl 18 Juli 2013, Dra Yovita Baskoro, MM)



Senin, 30 Januari 2017

Belajar dari sepuluh orang kusta

Sikap yang berterima kasih adalah syarat untuk memperoleh pertolongan dari Tuhan. Sikap ini membantu kita untuk menjadi rendah hati sehingga kita mampu mengucap syukur dan menerima orang lain sebagai sebagai saudara yang perlu dikasihi

Tetapi ada banyak orang yang selalu meminta dan meminta tetapi tidak pernah berterima kasih. Sikap yang demikian memperlihatkan egoisme. 

Marilah kita belajar dari sepuluh orang kusta (Luk 17:11-19)

[11-14a] Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia

Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." 

» Bagi orang Yahudi, orang sakit kusta (kata Ibraninya "sara at" yang berarti "yang dihukum Allah") adalah orang-orang yang paling malang di dunia. 

Mereka adalah kelompok manusia yang paling menderita, paling disingkirkan/dikucilkan oleh masyarakat, karena mereka dianggap najis dan berdosa

Jadi, mereka hidup dalam suasana serba susah: hidup dalam proses mati dan mati tetapi masih hidup. Mereka berteriak karena yakin gurunya mampu membuat mujizat. Yesus memandang kesepuluh orang kusta itu, sebab mereka tidak berani mendekat. 

Bagi Yesus penyakit kusta adalah sama dengan penyakit-penyakit lain yang menghambat manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan berbuat baik terhadap sesama

Jika seseorang sudah sembuh dari penyakit kusta, ia harus menjalani upacara khusus pentahiran yang dipimpin oleh seorang imam. Kemudian orang itu diberi suatu pernyataan resmi sehingga mereka dapat mengikuti upacara keagamaan kembali (Im 13-14). Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan akan membuat mujizat bagi kita? Kita harus belajar Lectio Devina

[14b-18] Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 

» Kesepuluh orang kusta itu sembuh dan tahir di tengah jalan. Mengapa Yesus menanyakan sembilan orang yang telah sembuh dari penyakit kusta kepada orang Samaria itu? Kesembilan orang yang telah sembuh itu beragama Yahudi

Jadi, mereka meneruskan perjalanan mereka sesuai dengan perintah Yesus untuk memperlihatkan diri pada para imam, dan mereka juga membawa persembahan sesuai dengan peraturan yang berlaku ( taat hukum Taurat - Im 14). 

Mengapa orang Samaria itu setelah sembuh langsung kembali dan tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya? Orang Samaria adalah orang asing sehingga peraturan-peraturan orang Yahudi tidak berlaku baginya dan tidak perlu ditaatinya

Dia memuliakan Allah dan mengimani bahwa "kesembuhan itu berasal dari Tuhan" (Yesus), Yesus adalah segala-galanya bagi dia. 

Bagi Yesus, melakukan hukum cinta kasih lebih mulia dari pada hanya menjalankan perintah dan taat pada peraturan agama saja.

[19] Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." 

» Orang Samaria itu kembali kepada Yesus dan percaya bahwa Yesus telah menghapus segala perbedaan antara orang najis dan orang bersih, sehingga peraturan-peraturan yang menekan itu tidak berlaku lagi. Dia benar-benar telah diselamatkan secara jasmani rohani (keadaan badannya yang berubah; seluruh lingkungan hidupnya menjadi baru, semua orang menjadi saudara). 

Sembilan orang kusta yang sedang dalam perjalanan menuju kepada para iman itu memang sudah sembuh secara jasmani tetapi mereka belum sepenuhnya diselamatkan (tetap tertekan oleh peraturan-peraturan yang serba tidak adil).

Dalam pengharapan akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:21).

(Sumber: Warta KPI TL No.107/III/2013 » Renungan KPI TL tgl 13 September 2012, Dra Yovita Baskoro, MM).

Senin, 03 Oktober 2016

Hidup secara otentik

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 

Beranikah kita hidup secara otentik, menampilkan diri dan hidup kita apa adanya? Beranikah kita menjadi diri sendiri seperti yang Tuhan inginkan, bukan menjadi seperti orang lain katakan atau inginkan? Suatu tantangan!


Proses menjadi dan tampil secara otentik membutuhkan keberanian untuk menanggung resiko ditinggalkan, ditolak, diolok-olok dan menjadi bahan gosip.



Hidup secara otentik hanya mungkin terjadi di dalam semangat kerendahan hati dan kesederhanaan hidup.

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009 » I Like It: Dunia Lain, Edi Prasetyo CM).

Kamis, 22 September 2016

Tuhan, jadikan aku rendah hati

Seringkali dalam menghadapi tantangan hidup, manusia tidak berdaya ketika memandangnya dengan negatif (tidak mau menerima kenyataan/menekankan sesuatu yang tidak ada). Tetapi jika kita memandangnya dengan positif, maka kita makin berkembang dalam iman, hidup meng-akar pada Yesus.

Apabila ada gesekan-gesekan dalam keluarga, jangan kita mempersalahkan suami/istri/anak (tunjuk jari pada orang lain).

Suami/istri

Dua pribadi yang berbeda bertemu mau memulai hidup berkeluarga, bukanlah hal yang gampang, karena masing-masing mempunyai latar belakang yang sangat berbeda.

Anak

Mendidik anak zaman sekarang tidak gampang, karena mereka ingin hidup bebas, selalu ingin dihargai dan didengar. Jadi kita harus meluangkan waktu lebih banyak agar mereka mau mengemukakan pendapat. Jika tidak, mereka akan mencari orang lain. Jadi anak zaman sekarang tidak hanya diasah intelektualnya saja tapi juga harus diasah hatinya.

Jika terjadi gesekan-gesekan dalam keluarga

Janganlah kita menyimpan segala sesuatu di dalam hati sehingga ada permasalahan sedikit saja kita menjadi orang yang cepat marah ... menyakiti orang lain melalui tutur kata dan perbuatan kita. 

Jika saat ini kita terbelenggu, bersabarlah melepaskannya, jangan gunakan kekerasan tapi mintalah bantuan orang lain.

Janganlah kita mempersalahkan orang lain, tanyakanlah pada diri sendiri ”apa sumbangan saya sehingga hal ini terjadi?” 

Bukankah Allah telah menganugerahkan hati nurani sehingga kita dapat merefleksi permasalahan itu, mungkin kita terlalu memaksakan kehendak kita/kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang lain sehingga mengabaikan permasalahan itu. 

Janganlah kita berusaha membenarkan diri, supaya gambar diri kita tidak ternoda. Tetapi carilah kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita; akuilah kerapuhan kita, karena setiap orang punya kelemahan. 

Rendah hatilah untuk minta maaf secara ikhlas. Bukankah Gereja sudah menawarkan pengampunan sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali? (Mat18:21-32). 

Kalau kita mengharapkan perubahan, cabutlah topeng-topeng yang kita pakai (tampil apa adanya), jangan menunggu orang lain. Karena kita tidak bisa merubah orang lain. 

Bersekutu dan berdoalah supaya Tuhan Yesus memberi semangat kerendahan hati dan semangat kerukunan sehingga kita dimampukan membuka diri/membuka tangan.

Banyak hal dalam hidup ini yang tidak dapat kita atur, semuanya tergantung dari kekuatan Allah. Pada saat tangan kita terbuka, kita mau menerima dan mau meneruskan, Allah menuntun/mengatur hidup kita (ada kehidupan). 

Tetapi jika tangan kita tertutup/mengandalkan diri sendiri ... akhirnya hidup kita makin terperosok lebih jauh sehingga Tuhan tidak dapat berkarya dalam hidup kita. 

Ingatlah, sungai Yordan mengalir ke danau Galilea dan Laut Mati. Danau Galilea mau menerima dan mau mengalirkan ke tempat lain sehingga di sana ada kehidupan. Sedangkan Laut Mati mau menerima tetapi tidak mau mengalirkan ke tempat lain sehingga di sana tidak ada kehidupan.

Marilah kita meneladan kehidupan Yesus. Meskipun Dia sudah menerima banyak dari Bapa, tetapi Dia tidak mempertahankan milikNya, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, rela berkorban untuk kita sehingga kita memperoleh kehidupan yang kekal.

Mari kita belajar dari salah satu aturan hidup Fransiskus Asisi, yaitu: ”Janganlah seorang pun menyombongkan diri, tetapi sebaliknya, berbangga dalam salib Tuhan”

1. Ingatlah, hai manusia, betapa unggulnya kedudukan yang diberikan Tuhan Allah kepadamu: Ia telah menciptakan dan membentuk engkau sesuai dengan gambar Putra-Nya yang terkasih menurut badan, dan sesuai dengan keserupaan-Nya menurut roh (bdk Kej 1:26).

2. Akan tetapi semua makhluk di bawah kolong langit, sesuai dengan kodratnya, mengabdi, mengakui dan mentaati Penciptanya lebih baik daripada engkau.

3. Bahkan setan-setan pun tidak menyalibkan Dia; tetapi engkau bersama mereka sudah menyalibkan Dia, dan engkau masih menyalibkan Dia dengan mencari kenikmatan dalam cacat cela dan dosa-dosa.

4. Karena itu, apa yang dapat kaubanggakan?

5. Bahkan kalau engkau demikian arif dan bijaksana engkau memiliki seluruh pengetahuan, bisa menafsirkan segala macam bahasa dan dapat menyelami perkara-perkara surgawi dengan cermat, engkau tetap tidak dapat berbangga atas semuanya itu (bdk 1 Kor 13:2; 12:28).

6. Sebab setan saja lebih tahu tentang perkara-perkara surgawi, dan lebih tahu tentang perkara-perkara duniawi daripada semua manusia, walaupun mungkin ada orang yang menerima dari Tuhan pengetahuan istimewa tentang kebijaksanaan yang tertinggi.

7. Juga seandainya engkau lebih bagus dan lebih kaya daripada semua orang dan bahkan seandainya engkau membuat keajaiban sehingga mampu mengusir setan-setan, semuanya itu tidak termasuk dirimu dan sama sekali bukan milikmu; maka atas semuanya itu engkau tidak dapat berbangga sedikit pun.

8. Atas hal ini kita dapat berbangga: atas kelemahan-kelemahan kita dan setiap hari memikul salib suci Tuhan kita Yesus Kristus (Bdk 2 Kor 12:5; bdk Luk 14:27).

(Sumber: Warta KPI TL No. 65/IX/2009 » Renungan KPI TL tgl 13 Agustus 2009, Rm Kees van Dick OFM).




Selasa, 06 September 2016

Aku lemah lembut dan rendah hati

Kesombongan ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kejatuhan malaikat Lucifer dan Adam dalam dosa kesombongan. Demikian pula pada kasus Menara Babel (Kej 11:1-9) – mau mendirikan menara yang puncaknya sampai ke langit, artinya: mau menjadi seperti Tuhan (langit adalah takhta Tuhan – Yes 66:1; Kis 7:49).

Sesudah dibaptis, kita dipanggil Tuhan menjadi murid Yesus; kita harus belajar meneladani setiap sikap, tingkah laku dan perbuatan-Nya.

Dari sekian banyak sifat yang dimiliki oleh Tuhan Yesus yaitu: lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). 

Yesus itu lemah lembut, bukan berarti berhati lemah/tak berdaya.  Kelemah-lembutan yang sejati yang dimiliki oleh Yesus,

Ciri-cirinya

* Memiliki wibawa yang besar, disegani baik oleh kawan maupun lawan. 

* Selalu diikuti oleh kebajikan kesabaran dan penguasaan diri.

* Memiliki kebajikan kekuatan dan keberanian yang tak tergoncangkan. Ia seperti aliran air yang tenang, tetapi dapat mengikis dan menghaluskan batu sekasar apa pun. Tahu dengan pasti kapan harus bersikap tegas dan kapan memang harus mengalah. Walaupun sebagian besar hidupnya tampak dipenuhi kesabaran, ia tidak akan segan untuk marah jika itu memang diperlukan untuk kebaikan. 

Yesus mengusir semua pedagang di Bait Allah, karena rumah doa dijadikan sarang penyamun (Luk 19:45-46).

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat 23:1-36).

Yesus di hadapan Pilatus dan imam-imam kepala (Mat 27:12, 14).

Keutamaannya tidak akan dapat ditutup-tutupi (kualitas-Nya terpancar dari dalam), seperti kota di atas bukit yang tampak dari jauh (Mat 5:14).

Orang dapat saja membuat dirinya kelihatan lemah-lembut. Namun, itu bukan jaminan bahwa ia memiliki kebajikan kelemah-lembutan. Mungkin, ia dapat menipu orang-orang untuk sementara waktu. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan bertahan lama. 

Seringkali sikap berpura-pura lemah-lembut mencerminkan keinginan seseorang untuk diperhatikan atau suatu usaha menutupi kekurangannya. Tidak jarang pula dalam kesulitan tertentu orang berpura-pura sabar dan tampak menguasai diri sepenuhnya. 

Namun, sebenarnya sikap tersebut keluar dari ketidak-berdayaan untuk mengatasi persoalan tersebut. Untuk yang terakhir ini, sebenarnya orang tersebut hanya menumpuk perasaan-perasaan negatif di dalam hatinya. Suatu ketika perasaan-perasaan tersebut akan meledak atau muncul ke permukaan dengan berbagai perwujudannya. Misalnya, penyakit fisik, stress berkepanjangan, insomnia, dan sebagainya. 

* Kehadirannya dapat memberikan rasa sejuk, aman, dan tenang bagi orang-orang di sekitarnya. 

* Anak-anak tidak takut datang kepada Yesus (Mat 19:14).

* kehadiran Yesus pada saat angin ribut, Yesus ada di perahu. Yesus tertidur lalu dibangunkan, menghardik angin itu dan orang-orang menjadi aman, merasa aman.

Kerendahan hati berasal dari bahasa Latin “humilitas” (= humus/tanah). 

Seharusnya kita menyadari asal-usul kita. kita hanyalah debu tanah yang kotor (Kej 2:7) dan akan kembali menjadi debu tanah. Namun demikian kita disayang Tuhan, diangkat menjadi putra-putri-Nya.

Orang yang benar-benar memiliki kebajikan kelemah-lembutan akan rendah hati.

Ciri-cirinya:

* Selalu mempunyai sikap memuliakan Tuhan.

* Di dalam dirinya timbul semangat pelayanan yang sejati; tidak mengharapkan pamrih dalam setiap pelayanannya. Di dasar lubuk hatinya yang terdalam, ia hanya mengharapkan perkembangan Kerajaan Allah. Baginya, upah sedinar sehari saja, yakni keselamatan, sudah sangat memadai.

* Sadar akan segala kelemahan dan keterbatasannya. Namun, ia sekaligus sadar pula akan segala kekuatan dan kemampuan Tuhan yang ada di dalam dirinya (Flp. 2:13). Ingatlah! Kita diberi kuasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya, bahkan yang lebih besar daripada itu (Yoh. 14:12). Jadi jangan lupa untuk mengembalikan seutuhnya plus bonusnya demi kemuliaan-Nya.

* Membebaskan seseorang dari banyak kesusahan lain; terbebas dari kesombongan kalau dipuji, tidak akan berkecil hati kalau gagal. Hasilnya sepenuhnya pun sudah diserahkannya kepada Tuhan. Kalau orang sombong, di dalam dirinya timbul sakit hati/tersinggung dalam menghadapi suatu masalah.

Kerendahan hati diumpamakan sebagai perisai terhadap serangan musuh, kelemah-lembutanlah yang menjadi pedangnya. Jarang orang yang dapat bertahan melawan kelemah-lembutan. Dan hampir tidak ada serangan yang tidak dapat ditangkis kerendahan hati. 

Modal penginjilan dan kesaksian yang utama, tidak pelak lagi adalah kelemah-lembutan. Dan di dalam dinamika pewartaan dan pelayanan Injil, kerendahan hati mutlak diperlukan. 

Betapa pentingnya dua kebajikan ini, hendaknya disadari oleh kita semua. Tiada hidup Kristen yang sehat tanpa kehadiran mereka. Mari kita mohon agar Tuhan memberikan kita dua anugerah mulia ini.

(Sumber: Warta KPI TL No. 59/III/2009 » Renungan KPI TL tgl 26 Februari 2009, Rm Yoseph Purwo Tjahjanto, SVD)

Senin, 05 September 2016

Dialog pohon

Di dalam sebuah rimba tumbuh sebatang pohon ek di pinggir sebuah sungai. Di samping pohon ek tumbuh serumpun buluh muda.

Rumpun buluh selalu menunduk penuh hormat setiap kali angin bertiup menerpanya. Pohon ek tidak setuju dengan kebiasaan buluh itu. P

ada suatu hari pohon ek berkata kepada rumpun buluh: “Kamu buluh, mengapa kamu selalu menunduk setiap kali angin bertiup? Berdiri tegaklah betapa pun kencangnya angin bertiup! 

“Oh pohon ek yang perkasa”, jawab rumpun buluh dengan rendah hati, “Kami ini hanya kecil semampai, dan bila kami harus melawan angin, kami harus menanggung akibatnya.”

“Jangan pernah kalah!” tegas pohon ek dengan sikap dingin dan kembali sibuk dengan urusannya. Jelas rumpun buluh tidak mau mendengar nasehatnya. 

Pada suatu malam datanglah badai besar. Angin bertiup kencang, menggoyangkan buluh hampir sampai di tanah, dan rumpun buluh itu tidak marah

Akan tetapi, pohon ek berjuang keras melawan angin, meskipun kali ini angin terlalu keras baginya. Dengan sekejap pohon ek berderak-derak patah. Ia tergeletak di tanah dalam keadaan menyedihkan, sementara rumpun buluh terus tunduk kepada angin dan tidak patah.

Pagi harinya, ketika badai telah berhenti, keadaan rumpun buluh baik seperti semula. Akan tetapi pohon ek yang dahulu kokoh dan rimbun kini tinggal sebatang kayu hutan yang patah dan mati.

Lebih bijaksana bersikap rendah hati dan berserah dengan sepenuh hati, daripada berkeras kepala tetapi akhirnya hancur bila mendapat kesulitan (Cosmas Fernandez, SVD).

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Vacare Deo edisi No 43/November/2001)




Selasa, 10 November 2015

Mengucap Syukur



Sejak sakitnya parah, jam empat pagi ia telah bangun. Padahal, kata dokter kegiatan itu tak banyak membantu, kankernya sudah makin parah. Mungkin hanya tiga bulan saja ia dapat bertahan. Pesannya, yang penting ia harus banyak istirahat, mengurangi pekerjaan, dan berdoa, siapa tahu Tuhan memberi waktu lebih panjang. Tinggal pesan ketiga itulah, sekarang ia amat mencintai pagi hari.

Maka usai mencuci muka, ia keluar dan menaiki atap rumahnya. Ada yang selalu indah waktu ia menatap kagum ke Timur. 

Udara segar dihirupnya dalam-dalam. Setiap dihembuskan nafas, tiba-tiba bibirnya berbisik doa, “Terima kasih!” hanya itu saja. 

Ia tidak tahu kata itu ke luar dari mana. Tapi itu dilakukannya berulang-ulang. Tapi jika ingat kankernya, sekelumit takut dan kecewa singgah di hatinya.

Mula-mula, ia hanya merasa, kalau pagi hari memang indah. Perasaannya jadi lebih tenang. 

Mengherankan, lama-lama ia tak memikirkan lagi sakitnya. Ia hanya merasa Tuhan begitu baik, Ia memberinya hari demi hari yang indah. 

Belum pernah ia mengalami perasaan setenang dan sebahagia ini. Ia sadar karena sakitnya, justru menjadikan hari-harinya amat indah. Bahkan, saat ia menghembuskan nafas di pagi hari ia sering menyelipkan terima kasih kepada kankernya. 

Kisah di atas bukan rekaan. Itu adalah kisah nyata Masaru Emoto (peneliti kekuatan sebenarnya dari air), seorang Jepang yang masih hidup sampai sekarang. Ia terbebas dari kanker ganas, karena kemampuannya menerima diri, bersyukur dan berterima kasih


Hati yang berterimakasih, bersyukur dan mencinta sungguh menjadi kekuatan yang mengalahkan segalanya. 

Kita harus dapat membedakan antara ucapan syukur dan ungkapan terimakasih yang seringkali sudah menjadi kebiasaan. 

Ucapan syukur yang sejati merupakan ungkapan terimakasih yang keluar dari hati kita yang paling dalam. Kata-kata yang keluar karena kita telah merasakan kebaikan, kebesaran dan hal-hal yang terindah yang sudah Tuhan perbuat dalam hidup kita

Dan itulah yang harus kita berikan kepada Tuhan bahkan di saat-saat sulit dan menekan. Saat dimana perasaan dan logika tidak memberikan alasan untuk bersyukur, tapi kita tetap dapat berterimakasih. 

Karena dalam saat yang sulitpun kita percaya Tuhan sudah mengerjakan kebaikan-Nya pada kita. 

Ungkapan yang sama juga keluar ketika berada dalam hadirat Tuhan, seringkali tidak ada lagi kata-kata yang terucap, selain kata terimakasih yang mengalir dari dasar hati kita. Inilah korban yang menyenangkan dan menyukakan hati Bapa kita

Marilah kita hidup untuk memberikan dupa yang harum bagi Tuhan kita.

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kol 3:17) 

(Sumber: Warta KPI TL No. 42/X/2007; Café edisi September 2007, Terima kasih).

Selasa, 03 November 2015

Kerendahan Hati



Kerendahan hati adalah dasar/pondasi tiang untuk maju berangkat ketingkat selanjutnya.

Marilah kita belajar lewat baptisan Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13-17):

Pada waktu Yesus memulai pelayanan-Nya minta dibaptis oleh Yohanes.

Reaksi Yohanes: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu...”

Karena pada zaman itu, orang-orang yang dibaptis Yohanes adalah pemungut-pemungut cukai/pelacur/orang-orang yang bermasalah yang bertobat.

Tetapi jawab Yesus: “Biarlah hal itu terjadi ... menggenapkan seluruh kehendak Allah.” 

» Ia mau turut menyamakan dirinya dengan orang-orang berdosa dan Dia juga butuh pengampunan dari Tuhan, tidak peduli pendapat orang lain. 

Yesus yang Allah mau merendahkan diri-Nya sama dengan manusia yang berdosa, itu adalah kerendahan hati yang luar biasa.

Yesus berkata: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:28-30), bukan karena Aku penuh kasih/berkuasa/hebat/ajaib.

Arti baptisan adalah kematian daging dan diproses untuk rendah hati. Karena lewat baptisan, semua ambisi/ke-aku-an/kelemahan/kecenderungan sedang dikuburkan.

Dasar dari karakter seperti Yesus, kerendahan hati sehingga anugerah tercurah. Sehebat apa pun karunia itu tidak ada satu manusia pun yang tidak berdosa (punya cacat), karena itu tidak ada satu manusia pun yang patut dijadikan contoh kecuali Yesus. Kalau Yesus yang dijadikan contoh, kita tidak akan pernah kecewa/kepahitan/meninggalkan gereja.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu ... supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap ... (Yoh 15:16)

Marilah kita ubah: pikiranperkataanperbuatankebiasaankarakterberbuah.

Buah kesombongan produksi neraka (7 buah neraka – bong-ki-bul-gel-i-ma-ma) tidak perlu belajar (otomatis), tetapi untuk memiliki buah kerendahan hati produksi sorga, ada harga yang harus dibayar.


Tuhan mau kita berbuah yang lebat (9 buah Roh), tetap dan matang (Yoh 15:15)

- Ada yang sedikit buahnya – kalau diajar Tuhan selalu pakai alasan.

- Buah matang tetapi tidak tetap (musiman) – ingat pohon ara yang dikutuk Tuhan (Mat 21:18-22). Kapanpun Tuhan lewat, Dia ingin mendapatkan buah dari pohon kehidupan kita.

- Buahnya belum matang (kemampo) - kalau diajar Tuhan selalu menyalahkan orang lain.

Ada dua jubah di dalam kehidupan kita:

1. Jubah jabatan/panggilan – rasul, nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, pengajar-pengajar (Ef 4:11).

2. Jubah sifat – belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran (Kol 3:12).

Jubah kerendahan hati seringkali memaksa kita mengalami kegagalan dalam hidup - hanya sebagai sarana untuk memaksa kita untuk bereaksi yang benar (dikenakan untuk menolong kita) - belum menjadi buah roh.

Sekalipun kita sudah minta/pakai jubah, belum otomatis kita langsung rendah hati. Contoh: orang gila pada waktu memakai jubah belum sembuh, hanya dipaksa untuk tidak berontak. Sama dengan manusia diberi jubah - dipaksa ke arah tidak sombong, belum berarti rendah hati.

Kalau Tuhan melihat kita mulai sombong, biasanya Tuhan hadirkan peristiwa untuk menghancurkan kesombongan kita.

Reaksi salah: selalu menyalahkan orang lain.

Reaksi benar: tidak menyalahkan siapa-siapa dan sadar bahwa memang kita sombong. Pada saat kita mengerti dan minta Tuhan untuk mengubah hati kita untuk bertobat, lama-lama tidak sombong dan dapat menghasilkan buah roh. Jika ini dilakukan terus-menerus maka akan timbul karakter yang baik/memiliki buah roh dan buahnya tetap.

Untuk memiliki kerendahan hati ada 5 syarat utama

1. Mengerti/mengenal diri sendiri 

Seringkali kita tidak mengenal hati kita yang paling dalam, sehingga kita perlu Allah sendiri yang membongkarnya. 

Contoh: dengan memakai lampu yang biasa, ruangan ini kelihatannya bersih tidak ada debunya; tetapi ketika diganti lampu yang 10 ribu watt, debu yang paling kecil pun akan kelihatan. 

Demikian juga ketika kita jauh dari Allah, kita tidak bisa melihat karena gelap. Tetapi ketika semakin dekat dengan Allah, kita tahu kelebihan dan kelemahan kita – hanya Roh Kuduslah yang bisa menerangi hati kita agar kita mengenali hal-hal yang tidak berkenan di hati Allah - Allah akan menegur kita dalam hal-hal yang kecil.

Jika orang merasa hidupnya lebih baik dari pada orang lain/merasa tak berdosa seperti orang Farisi, hidupnya sulit untuk diubahkan karena tidak mau bertobat

Adakah orang yang merasa sehat memerlukan dokter? Hanya orang merasa sakit yang butuh pertolongan dokter. Karena kita jauh dari kesempurnaan, maka kita sangat membutuhkan Tuhan Yesus.

2. Mau diajar dan belajar dari orang lain

Mau diajar – dapat dilihat ketika kita memandang suatu peristiwa.

Reaksi salah: selalu menyalahkan orang lain, merasa tertekan/malu.

Reaksi benar: selalu bertanya ...Tuhan, kenapa ya ..., ada apa dengan saya – selalu menganalisa/belajar dari setiap kesalahan/kegagalan dan selalu ditanyakan pada Tuhan; tidak pernah menyalahkan orang lain, sekalipun tahu orang lain penyebabnya; selalu lapang dada.

Belajar dari orang lain - kita butuh orang lain untuk menyeimbangkan kehidupan ini.

Kita tidak mempunyai penglihatan yang sempurna, butuh orang lain untuk melihat siapa diri kita sebenarnya. Contoh: kita tidak dapat melihat rambut di kepala bagian belakang, tanpa bantuan orang lain/kaca. 

Marilah kita belajar dengan paradigma baru, karena ada hal-hal yang sampai mati tidak bisa kita lakukan tanpa bantuan orang lain.

Contoh: kalau ada orang sharing bahwa ia jatuh di kelemahannya

Reaksi salah: berkomentar: nggak nyangka ya ...; Puji Tuhan saya tidak seperti itu ...; tidak beriman - hal itu akan menimbulkan kepahitan dan merasa yang diajak bicara itu tidak sehati. Dan sebentar lagi dosa yang sama kita lakukan (jangan mendahului Allah dalam penghakiman).

Reaksi benar: Tuhan kasihanilah dan ampunilah dia; apa yang harus saya pelajari dari peristiwa hidupnya.

3. Mendahulukan Tuhan dari pada orang lain, termasuk di dalamnya tidak mempertahankan hak/membela diri - maka masalah tidak mampu menyengkram otak kita.

Hidup kita harus dilatih, bukan digerakan oleh kebutuhan tapi oleh Tuhan (mendahulukan Tuhan, baru kepentingan sendiri).

Orang yang hidupnya tidak digerakan oleh kebutuhan selalu bertanya pada Tuhan. Contoh: jika ada perbedaan pendapat, selalu berdoa dan selebihnya membiarkan Tuhan yang melakukannya. Bukti tidak mendahulukan orang lain: punya ide, tetapi ide itu tidak disetujui – diperjuangkan sampai disetujui; orang lain sharing tidak diperhatikan, ketika ditanya tidak tahu.

4. Segala sesuatu adalah anugerah – tidak merasa paling penting/berjasa/banyak berkorban.

5. Bergantung pada Tuhan dalam segala pekara (besar/kecil).

Tips membuat roh kita berkembang sehingga mendengar suara Tuhan:

- Biasakan bahasa roh berbunyi.
- Ajak terus Tuhan bicara, meskipun tidak mendengar. Suatu saat akan mendengarnya.

Perlu ada perubahan dalam cara berpikir, dan bertindak. Perlu dicari kunci yang pas buat manusia untuk membuka pikiran agar tidak terbelenggu dengan paradigma berpikir yang kurang mendukung dalam pemahaman dan pengenalan akan Allah. 

Jadi orang Kristen harus radikal dalam melakukan firman Tuhan. Orang radikal (orang kudus) seperti orang gila yang sangat sulit dibedakan dengan orang kudus.

(Sumber: Warta KPI TL No. 39/VII/2007 » Renungan KPI TL Tgl 21 & 28 Juni 2007 & 4 Juli 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).