Tampilkan postingan dengan label *Kata*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kata*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

21.27 -

Tidak ada hal benar, di mata orang-orang yang salah

Suatu hari ada seorang wanita muda yang datang kepada Guru bijak dan bertanya: "Guru mengapa ya kok ada orang yang kerjanya setiap hari itu menghujat orang lain dengan kata-katanya yang pedas dan kasar ya? Mengapa saya tidak pernah mendengar sekalipun ia memuji orang lain, kalaupun memuji itu malah bentuknya seperti sindiran yang menyakitkan."

Dengan lembut sang guru bijak berkata: "Begini ya nak, jika kamu hanya punya gula maka yang kamu bisa berikan pada orang lain itu ya gula yang manis. Begitupun jika kamu cuma punya sambal, yang kamu bisa berikan pada orang lain itu ya cuma sambal yang pedas. Jadi jika ada orang yang selalu berkata-kata pedas pada orang lain, mungkin yang dia punya ya cuma itu! Dan tidak ada yang lainnya lagi yang bisa dia berikan pada orang lain. Nah pertanyaannya, kamu sendiri sekarang punya apa yang ingin kamu bagi dan berikan pada orang lain? Kata-kata yang manis atau yang pedas? Karena sesungguhnya kamu tidak bisa membagi atau memberi apa yang kamu tidak miliki dalam diri dan pikiran kamu."

Wanita muda itu tiba-tiba saja terdiam, merenungkan apa yang baru saja dia dengar dari sang Guru bijak dan berusaha bertanya pada batin kecilnya, terutama pada bait "Nah pertanyaannya, kamu sendiri sekarang punya apa yang ingin kamu bagikan dan berikan pada orang lain "kata-kata yang manis atau yang pedas? Karena sesungguhnya kita "tidak bisa" membagi atau memberi apa yang kita "tidak miliki" dalam diri dan pikiran kita".

Pesan moralnya:

Mari kita bersihkan "hati dan pikiran" kita dari rasa iri, benci, dengki dan serakah, maka semuanya akan mengalir dan ter-implementasi dengan sendirinya tanpa adanya paksaan atau kemunafikan.

Mari kita jalani semuanya dengan ikhlas dan sabar. Suka atau tidak suka, apa yang kita tabur itulah yang nantinya akan kita tuai.

Janganlah kita menyimpan kekecewaan, kepahitan, kebencian, kemarahan dan dendam masa lalu karena hanya akan menjadi "penyakit" dan berbau busuk dan akan selalu berkata-kata pedas dan menyakitkan.

Hidup dalam kemarahan dan kebencian di hati kita, hanya akan menyakiti diri kita sendiri lebih dari orang yang kita benciMenaklukkan diri sendiri sesungguhnya jauh lebih baik daripada menaklukkan orang lain. Ia yang dapat mengendalikan diri sendiri akan mampu mengendalikan perbuatannya.

Sabtu, 23 Maret 2019

16.14 -

Sepercik api



Meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil! (Yak 3:5)

Pada suatu Minggu malam di bulan September, ketika sebagian besar orang sedang tidur, sepercik api tersulut di toko roti milik Thomas Farriner di Pudding Lane. 

Api dengan cepat merambat dari satu rumah ke rumah lain, dan London pun dilanda kebakaran besar pada tahun 1666. Lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang memusnahkan 80 persen wilayah kota itu. Begitu dahsyat kehancuran yang berasal dari sepercik api!

Alkitab memperingatkan kita tentang api lain yang kecil tetapi juga bisa menghancurkan. Yang disorot oleh Yakobus adalah kehidupan dan hubungan seseorang dengan sesama, bukan bangunan. 

Ia menulis, “Begitu juga dengan lidah kita; meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil!” (Yak. 3:5).

Namun demikian, kata-kata kita juga dapat membangun sesama. Amsal 16:24 mengingatkan kita, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” 

Rasul Paulus berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol. 4:6). 

Sebagaimana garam membuat makanan kita mempunyai rasa, kasih membuat perkataan kita berguna untuk membangun iman sesama.

Dengan pertolongan Roh Kudus, perkataan kita dapat menguatkan orang yang sedang terluka, orang yang rindu bertumbuh dalam iman, atau orang yang membutuhkan Juruselamat. Perkataan kita dapat memadamkan api dan bukan menyulutnya.

Wawasan:

Perkataan yang bodoh diumpamakan sepertiapi yang menghanguskan” (Ams.16:27) dan senjata yang berbahaya, “panah api, panah dan maut” (Ams.26:17). 

Yesus berkata bahwa perkataan kita keluar dari hati dan menunjukkan apakah kita ini baik atau jahat. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Luk.6:45). 

Bagaimana Anda dapat menggunakan perkataan yang menyenangkan Allah dan memberkati sesama? (Sim Kay Tee)

Tuhan, aku selalu membutuhkan pertolongan-Mu dalam ucapanku. Hari ini, tolonglah aku agar mengucapkan kata-kata yang membawa pengharapan dan penguatan untuk membangun iman sesamaku.

Akan seperti apakah perkataan kita hari ini?

(Sumber: Our Daily Bread Ministries).

Kamis, 06 September 2018

06.55 -

Triple filter



Socrates adalah seorang Filsuf besar Yunani yang terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.

Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," Socrates jawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut "Triple Filter Test".

Filter pertama, KEBENARAN.

"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?" "Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang ke 2.

Filter ke 2, KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang BAIK ?" "Tidak, malah sebaliknya" "Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang BURUK tentang dia, tetapi anda tidak yakin apakah itu benar"

Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3, KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu akan berguna bagi saya?" "Tidak, sama sekali tidak"

"Jadi, Socrates menyimpulkannya, bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang BELUM TENTU BENAR, BUKAN TENTANG KEBAIKAN, dan bahkan TIDAK BERGUNA bagi saya, MENGAPA Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Sahabatku, demikianlah mengapa SOCRATES dianggap sebagai seorang Filsuf Besar dan sangat terhormat.

Sahabatku, gunakan TRIPLE FILTER TEST setiap kali kita MENDENGAR atau MENYAMPAIKAN sesuatu tentang Kawan Kita atau Orang Lain. 

Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN yang Positif, tidak perlu kita Terima atau Dengar apalagi kita sampaikan kepada orang lain.

Dan apabila kita terlanjur mendengarnya, JANGAN SAMPAIKAN pada orang lain, dan JANGAN MENYEBARKAN FITNAH yang MENYAKITI Hati Orang Lain Karena Kita.

Minggu, 08 Juli 2018

19.16 -

Respon dalam menghadapi orang yang suka mengkritik dan mengejek



Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang selalu saja mengkritik atau mengejek apa saja yang kamu lakukan? Orang-orang seperti itu sangat menyebalkan bukan? Mereka seperti sengaja ingin membuat kita menjadi sedih, marah, dan bahkan menyimpan kepahitan. 

Tiga respon yang dapat kita berikan dalam menghadapi orang yang suka mengkritik dan mengejek:

1. Jangan memberikan respon apa-apa

Banyak yang suka bertanya kepada saya, “Apa yang harus saya lakukan kepada orang yang suka mengejek saya?” Jawaban saya kepada mereka biasanya adalah, “Diam saja, kamu tidak perlu menghiraukan orang tersebut.”

Ejekan dari orang-orang hanya dapat membuat kita menjadi sedih dan pahit hanya jika kita membiarkan ejekan-ejekan tersebut masuk ke dalam hati kita. Kita selalu memiliki pilihan, untuk menghiraukannya dan membiarkan ejekan-ejekan tersebut berbicara atas diri kita, atau tidak menghiraukannya dan lebih percaya akan apa yang Tuhan katakan atas diri kita. 

Lebih dari itu, semakin kita menghiraukan orang yang suka mengejek kita, semakin orang itu akan senang mengejek kita. Sedangkan, semakin kita tidak menghiraukan orang yang suka mengejek kita, semakin orang itu akan lelah dalam mengejek kita karena ejekan-ejekannya seperti tidak berdampak. 

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Ptr 2:23)

Marilah kita mencontoh Yesus yang tidak membalas ejekan-ejekan orang lain, tetapi tetap tenang dan menyerahkan segala penghakiman kepada Allah Bapa yang mengadili dengan adil.

2. Merespon dengan hati-hati

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19).

Alkitab mengajarkan kita untuk lambat dalam berbicara tetapi cepat dalam mendengar. Mengapa? Karena kebenarannya, seringkali ada sebuah cerita di balik orang yang suka mengkritik dan mengejek. Seringkali mereka mengkritik dan mengejek orang lain bukan karena apa yang ada pada orang lain tersebut, melainkan karena apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Ada sebuah kisah dimana seorang wanita menggedor pintu gereja dengan begitu keras sambil marah-marah. Ketika salah satu pengurus gereja keluar, wanita tersebut mencaci maki pengurus gereja tersebut - dia marah dengan mengatakan bahwa puji-pujian gereja terlalu berisik sehingga mengganggu ketenangannya. 

Pada awalnya, pengurus gereja tersebut meminta maaf kepada wanita tersebut jika gereja telah mengganggu ketenangannya. Namun entah mengapa, pengurus gereja ini merasa seperti ada bisikan di hatinya yang mengatakan bahwa itu bukanlah alasan sesungguhnya mengapa wanita itu marah-marah. Oleh karena itu, dia bertanya kepada wanita tersebut: “Apa alasan sesungguhnya kamu begitu marah? Kamu bisa menceritakannya kepadaku?”

Tiba-tiba air mata mengalir dengan begitu deras dari mata wanita tersebut. Dia mengaku bahwa sebenarnya gereja itu tidak salah, melainkan dia sedang sangat frustasi karena baru saja kehilangan anggota keluarganya, sehingga dia tidak dapat mengkontrol emosinya sendiri. 

Wanita itu meminta maaf kepada pengurus gereja tersebut dan berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi. Pengurus gereja tersebut lalu memeluk wanita itu, menenangkannya, dan mendoakannya.

Jangan langsung mengambil konklusi bahwa orang-orang yang suka mengkritik atau mengejek adalah orang-orang jahat yang tidak memiliki hidup, tetapi coba cari tau akan alasan di balik perilaku mereka. Mungkin saja ada sebuah luka yang mendorong mereka dalam melakukan apa yang mereka lakukan. Janganlah membalas kritikan dengan kritikan atau ejekan dengan ejekan, tetapi balaslah dengan kasih

3. Selidiki dirimu mungkin saja mereka benar

Ketika orang lain mengkritikmu atau mengejekmu, jangan langsung berpikir mereka salah karena telah menindasmu. Tetapi, cobalah selidiki dirimu, apakah memang benar ada hal-hal yang kurang baik yang ada pada dirimu yang dapat kamu perbaiki.

Jika ada yang mengatakan gaya rambutmu terlalu kuno, mungkin sudah saatnya kamu mengganti model rambutmu menjadi sesuatu yang lebih bagus. Jika ada yang mengatakan bahwa caramu berpacaran terlalu posesif, mungkin sudah saatnya kamu berpacaran dengan lebih sehat tanpa terlalu posesif. Jika ada yang mengatakan kamu bodoh, mungkin sudah saatnya kamu belajar dengan lebih keras dan membuktikan bahwa kamu bukanlah seorang yang bodoh.

Intinya, kamu memiliki pilihan: Untuk membiarkan kritikan masuk ke dalam hidupmu sebagai penghancur, atau membiarkan kritikan masuk ke dalam hidupmu sebagai pembangun. Kebenarannya, apa yang musuhmu gunakan untuk menghancurkanmu dapat kamu gunakan untuk keuntunganmu. Berdoalah kepada Tuhan sehingga Dia memberikanmu hikmat dalam menghadapi setiap kritikan yang datang ke arahmu.

(Sumber: @gracedepth).

Senin, 27 Maret 2017

08.47 -

Gosip



Sebuah batu yang bergulung tidak membawa lumut, tetapi cerita yang bergulung membawa sesuatu yang segar setiap kali kita menceritakannya. 

Setiap kali kita mengulanginya, ada satu hal yang kita tambahkan dan ada satu hal yang kita kurangi sehingga hilanglah kebenarannya

Gosip tidak selalu berupa dusta. Banyak dari kita yang berpikir, “Yah, ini benar... sebab itu saya dapat menceritakan kepada setiap orang yang saya ingini - ini suatu pembicaraan yang sama sekali tidak berbahaya.”. Bukan demikian! 

Menceritakan yang benar dengan motif yang salah dapat bersifat lebih merusak daripada berbohong. Banyak kali percakapan semacam ini penuh dengan penghakiman atas orang lain, kabar angin dan omong kosong ... semuanya terselip secara rapi di balik senyuman.

Gosip ialah menceritakan sesuatu kepada seseorang, dimana tindakan menceritakan tersebut tidak merupakan bagian dari pemecahan masalah orang yang diceritakan tersebut.

Banyak dari kita yakin bahwa hanya mendengarkan gosip saja tidaklah sejahat dengan menyebarkannya. Sesungguhnya itu tidak benar - Orang yang jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberikan telinga kepada lidah yang mencelakakan (Ams 17:4).

Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus bertanggung jawab pada hari penghakiman (Mat 12:36).

Gosip dan fitnah adalah alat-alat setan. Dia tahu, jika ia dapat memecah belah kita dan kita berperang satu sama lain, maka kita akan menjadi terlalu sibuk untuk bersatu memerangi dia.

(Sumber: Warta KPI TL No. 12/IV/2005).



Kamis, 09 Maret 2017

03.44 -

3 Kata terlarang



Ketika anda berkata "saya tidak bisa", maka pintu pikiran anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba

Sebaliknya jika anda berkata bisa! Ini akan membuat otak kita bekerja mencari jalan.

Orang-orang yang sering berkata "tidak mungkin" akan menutup berbagai pintu keajaiban. Dengan sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat

Karena hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. Selalu ada mujizat Tuhan setiap hari, bagi orang yang percaya.

Setiap kali anda mengucapkan bahwa "saya sudah tahu", sebenarnya anda sedang menutup pintu pembelajaran, sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru. Padahal dalam kehidupan selalu ada hal baru yang dapat kita pelajari.

(Sumber: Warta KPI TL No. 122/VI/2014).

Kamis, 13 Oktober 2016

19.43 -

Kuasa perkataan


Yesus mengajarkan kepada kita untuk menyebut Bapa-Nya yang ada di sorga sebagai Bapa kita. Dengan sendirinya kitapun mewarisi kuasa yang dipunyai-Nya

Misalnya: kuasa perkataan (Kej 1 - Berfirmanlah Allah: “...”, dan jadilah demikian). 

Karena kita mewarisi kuasa daya cipta dari Tuhan, maka apa yang kita katakan sepatah kata dengan segenap hati, hal itu akan terjadi (memakai kaca mata iman - Mrk 11:23; Mat 8:8). 



Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibr 11:3).

Jika kita suka berkata-kata negatif/berkata sia-sia/bersungut-sungut, maka tanpa kita sadari, kita mengutuki diri sendiri atau orang lain (Bil 14:27-28; Mat 12:36). 

Demikian pula ketika kata-kata negatif kita dengar, janganlah kita meng-amin-i, tetapi patahkanlah kata-kata kutuk itu dengan kata-kata pembalik keadaan (kata berkat). 

Misalnya: ada orang yang berkata kepada kita: “Kelihatannya hidupmu tambah sengsara ya...”

Janganlah berkata: “Iya, saya memang sengsara kok ... karena ...” 

» Banyak orang yang meng-“amin”-kan penderitaan dan kekalahannya, lalu kemudian mereka kecewa terhadap Tuhan sehingga mereka tidak pernah siap melakukan yang Tuhan perintahkan.

Tetapi berkatalah: “Di dalam nama Tuhan Yesus, hidupku sudah ditakdirkan menjadi kepala dan bukan ekor. Tuhan yang akan menolong aku.” 

» Walaupun keadaan kita tidak seperti yang kita kehendaki, belajarlah untuk mengucapkan perkataan firman yang bertolak belakang dengan kenyataan pahit yang mungkin sedang kita hadapi sehingga kuasa perkataan firman tersebut dapat mengubah segala hal, dapat mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan ... mengubah keadaan hidup kita (Yer 1:9-10). 

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya (Ams 18:21)

Pada waktu berdoa pergunakanlah firman Tuhan, ucapkanlah ayat perlindungan dan ayat pembalik keadaan dengan mantap dan berani ... sampai terjadi kelegaan di jiwa (ada sesuatu yang terlepas, naik dan hilang lenyap). 

Jika keadaan kita sudah benar-benar berubah, baru ganti ayat perlindungan dan ayat pembalik keadaan yang lain.

* Abram berumur tujuh puluh lima tahun ketika dipanggil Allah. Tuhan berfirman kepadanya: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur; ... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kej 12:2,4).

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah dihadapan-Ku dengan tidak bercela ... Aku akan membuat engkau menjadi sangat banyak ... engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan Abram (bapa yang dihormati), melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa ...” 

Abraham tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (Kej 17:1, 17). 

Iman Abraham tidak menjadi lemah, walaupun tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup (Rm 4:19

» Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah Yang Mahakuasa dan perkasa. Karena iman, Tuhan mengucapkan perkataan membalikkan keadaan, dari bapa yang dihormati, Tuhan sempurnakan menjadi bapa sejumlah besar bangsa; dari yang sudah loyo ... akhirnya menjadi perkasa sehingga dapat memiliki seorang anak. Bahkan sesudah istrinya meninggal, dia mengambil istri lagi dan mempunyai 6 orang anak (Kej 25:2). 

* Orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Median itu. Kemudian datanglah malaikat Tuhan kepada Gideon yang sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Median. 

Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berfirman: “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” 

Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat Tuhan, lalu katanya: “Celakalah aku, Tuhanku Allahku! Sebab memang telah kulihat Malaikat Tuhan dengan berhadapan muka.” 

Tetapi berfirmanlah Tuhan kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi Tuhan dan menamainya: Tuhan itu keselamatan. (Hak 6:6, 11-12, 22-23) 

» Tuhan mengucapkan perkataan membalikkan keadaan (selamatlah engkau); Gideon mengucapkan pengakuan iman yang mengubah keadaan dan membalikkan keadaan (Tuhan itu keselamatan) sehingga Gideon yang penakut menjadi pemberani mengalahkan orang Median; orang Israel yang sangat melarat ... akhirnya menikmati syalom dari Tuhan sehingga mereka selamat dan benar-benar hidup dalam berkelimpahan dan sejahtera.

Keadaan kita juga dapat diubahkan dengan membangun iman, salah satu caranya adalah berkata-kata dengan bahasa roh .

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat (1 Kor 14:4)

Karunia bahasa roh

Di dalam pertemuan jemaat, karunia bahasa roh yang terucap tidak dapat dimengerti oleh siapapun, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Karena Roh mengucapkan yang rahasia, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Jadi, roh yang berdoa, akal budi tidak turut berdoa.

Karunia untuk bernubuat

Di dalam pertemuan jemaat, karunia untuk bernubuat dapat membangun, menasehati dan menghibur. Karena orang yang mendengarnya akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kita.” (I Kor 14:1-25).

Marilah kita belajar dari Yl 3:9-21:

Maklumkanlah hal ini ... bersiaplah untuk peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju

» Sebagai anak-anak Allah, kitapun dipanggil Tuhan untuk berperang, meskipun kita merasa bukan seorang prajurit. 

Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak

» Ada masanya Tuhan meminta kita untuk menempa mata bajak menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkas menjadi tombak.

Baiklah orang tidak berdaya berkata: “Aku ini pahlawan.”

» mengucapkan sesuatu yang akan membalikkan keadaan

Bawalah turun pahlawan-pahlawan-Mu ... Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian

» Dimasa tuaian yang begitu dahsyat dan menakjubkan (Mat 13:30), Tuhan menghendaki semua pahlawan dibawa turun. Tetapi banyak anak Tuhan yang berada di atas tidak mau turun.

Banyak orang berada di lembah penentuan

» Banyak orang yang tidak membangun benteng-benteng dengan “kuasa perkataan”, dengan gampangnya mereka meng-“amin”-kan penderitaan/kekalahannya sehingga mereka menentukan nasibnya sendiri seperti yang diucapkan/dipikirkannya. Bukankah Tuhan sudah mengangkat kita menjadi kepala dan bukan menjadi ekor? (Ul 28:13).

Maka kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, adalah Allahmu, yang diam di Sion, gunung-Ku yang kudus. Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar tidak akan melintasinya lagi. Pada waktu itu akan terjadi bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah Tuhan dan akan membasahi lembah Sitim

» cara membangun pertahanan dengan kuasa perkataan. Kalau kita berkata hal-hal yang positif, maka akan menikmati bagian yang terbaik, yang telah Tuhan sediakan bagi gereja dan kita.

Jadi, barangsiapa ingin mandat dan berkat Tuhan menjadi kenyataan dalam hidupnya, harus ingat bahwa semua itu akan terjadi dengan “kuasa perkataan”

Dalam perperangan rohani kita memerlukan kebenaran yang membalikkan keadaan. Kita ucapkan dengan lantang “Ayat Perlindungan (AP)” agar ayat-ayat tersebut dapat mendarah daging dalam hidup kita. Kemudian kita ucapkan “Ayat Pembalik Keadaan (APK)”; juga boleh berdoa dengan bahasa sendiri.

Contoh: 

AP Mzm 91:1-2 - Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

APK Mzm 91:3 - Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

AP Yoh 10:10 - Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

APK Yeh 36:29 - Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan.

AP Yes 25:4 - Engkau menjadi tempat pengungsian bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya, perlindungan terhadap angin ribut, naungan terhadap panas terik.

APK Mzm 34:5 - Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia mernjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

AP Zef 3:12 - Umat yang rendah hati dan lemah akan mencari perlindungan pada nama Tuhan

APK 2 Tim 4:18 - Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

APK Yes 60:22 - Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, Tuhan, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya. 

Peperangan rohani secara bersama-sama 

Ada yang memimpin doa, ketika ayat-ayat perlindungan dibacakan, ada yang mengucapkan ayat pembalik keadaan.

Percayalah bahwa kita sudah diberi anugerah oleh Roh Kudus bahwa mulut kita punya kuasa dan otoritas untuk membalikkan keadaan.

Jika hal ini dilakukan dengan segenap hati (penuh iman) maka hasilnya akan dahsyat sekali. 

Hafalkan ayat perlindungan dan ayat pembalik keadaan sampai meresap di hati sehingga secara refleks keluar dari mulut kita.

Jika ada yang tidak dapat menemukan ayat perlindungan, ada juga yang membantu untuk menemukannya.

Bagi yang membantu menemukan ayat perlindungan harus bertanya kepada Roh Kudus, bukan bertanya langsung masalah apa yang sedang dihadapi orang tersebut.

(Sumber: Warta KPI TL No. 82/II/2011 » Renungan KPI TL tgl 29 Juli 2010, 5 & 12 Agustus 2010, Dra Yovita Baskoro, MM).

Rabu, 07 September 2016

03.37 -

Buah bibir

Di sebuah pesta perpisahan dengan seorang direktur yang akan pensiun, diadakan sesi penyampaian pujian dan kesan dari para karyawan. 

Di antara begitu banyak pujian dan kesan yang diberikan, panitia telah memilih dan membingkai tulisan tangan seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu. 

Direktur tersebut membacakannya untuk didengar oleh seluruh hadirin. “Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata tolong, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan maaf, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah saya perbuat supaya saya menjadi lebih baik. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan terima kasih kepada saya atas hal-hal yang telah kerjakan untuk Bapak. Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya, sehingga saya bisa tetap bekerja dengan baik dan dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan. Sampai kapan pun Bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan menyertai hidup Bapak.” 

Sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, dan tak lama kemudian gema tepuk tangan yang meriah segera memenuhi ruangan tersebut. 

Diam-diam sang direktur menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Ia tak kuasa menutupi rasa haru saat membaca ungkapan tulus office boy yang setia melayani seisi kantornya. Ia tidak menyangka kalau sikap dan ucapan sederhana yang selama ini dilakukannya ternyata mampu membuat hidup si office boy berarti.


Kehadiran seorang atasan yang rendah hati selalu memberi pelajaran yang tergores dalam di hati mereka yang dipimpinnya. 

Keteladanan mampu membimbing, membina, dan mengembangkan orang yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Di sisi lain, buah bibir yang sederhana seperti: terima kasih, maaf dan tolong adalah kata-kata yang pendek tetapi mempunyai dampak yang sangat positif. 

Namun mengapa kata-kata positif ini sulit kita ucapkan? Perkataan kita menunjukkan siapa kita sebenarnya, karena apa yang kita keluarkan, itulah yang ada di dalam hati kita

Orang yang berjiwa kerdil akan mengeluarkan keluhan, penyesalan atau caci maki saat ia merasa tertekan

Sedangkan orang yang berjiwa besar tampak dari kata-kata positif yang dikeluarkannya, sekalipun dia berada dalam tekanan yang besar

Tentu bagi siapa pun, kita perlu membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata membangun seperti terima kasih, maaf dan tolong. 

Dengan menghargai orang lain berarti kita telah menghargai diri kita sendiri, karena kita sudah membangun citra diri kita yang positif di mata orang lain

(Sumber: Warta KPI TL No. 61/V/2009 » Buah Bibir, Mansor Mei 2009 No. 134 Tahun XII).

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Ams 18:21).

Selasa, 28 Juni 2016

23.37 -

Arti sebuah nama



Nama bukanlah hal yang sepele, dapat menunjukkan karakter/kepribadian seseorang.

Ada arti dalam yang terkandung di dalam nama seseorang. Seperti nama Yesus dipersiapkan Tuhan karena Ia-lah yang berperan sebagai juru selamat dunia (Mat 1:21).

Demikian pula saat Tuhan/Yesus mengganti nama
-  Yakup (penipu) menjadi Israel (Kej 32:28 - pahlawan).
- Simon (yang terombang-ambing) menjadi Petrus (Yoh 1:42 - batu karang yang teguh). 

Mungkin dari kita sudah terlanjur mendapat nama/memberi nama dengan pengertian kurang baik, tidak mudah mengganti nama secara langsung. Namun yang terpenting dihadapan Tuhan adalah apa kita telah mengganti karakter kita yang lama (yang buruk) dengan karakter yang baru (yang baik dan berkenan dihadapan Tuhan).

(Sumber Warta KPI TL No. 06/X/2004).





Shakespeare adalah pujangga Inggris legendaris menjadi legenda, bukan hanya karena kehebatan karya-karyanya, tetapi juga karena ada kalimat ciptaannya yang disalahpahami jutaan manusia.

Kalimat "Apalah arti sebuah nama?tertulis dalam teks drama yang disusunnya, ketika ia menciptakan kisah roman "Romeo dan Juliet", di babak kedua bagian kedua. 

Sebenarnya, dibandingkan kisah seutuhnya, kalimat itu tidak penting, bahkan masih banyak kalimat lain yang lebih bagus yang terdapat dalam teks drama tersebut. namun, kalimat itulah yang kemudian justru paling terkenal di seluruh dunia.

Juliet: "Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu "Montague"? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apapunj dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalaupun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya."


Lihatlah konteksnya:

Yang menjadi inti dari kalimat Juliet bukanlah penting atau tidak pentingnya sebuah nama, tetapi soal penerimaan sebuah identitas.

Nama "Romeo" membawa identitas suku Montague, suatu identitas yang tidak diterima suku Juliet. Juliet tidak peduli Romeo berganti nama dengan apapun, selama sukunya (Capulet) bisa menerimanya. Intinya di sini bukan soal nama, tetapi soal penerimaan identitas. Sekali lagi, lihatlah konteksnya.

Jadi, ketika menulis kalimat itu di dalam kisah drama yang dibuatnya, Shakespeare sama sekali tidak memaksudkan bahwa nama itu tidak penting. Tentu saja ia tetap menganggap nama sebagai sesuatu yang penting.

Teks memang penting, tetapi konteks jauh lebih penting. Ketika teks tercipta, ia tercipta bukan tercipta tanpa sebab, tetapi karena dikondisikan oleh konteks. 

Jadi, ketika seseorang menyatakan sesuatu, jangan hanya menilai ucapan atau perkataannya semata-mata, tetapi juga lihat dan nilailah keadaan yang membuatnya menyatakan atau mengucapkan kata-kata itu.

Perhatikan arti di setiap kataperhatikan makna di balik kalimatnya (William Shakespeare).

(Sumber: https://hoedamanis.blogspot.com/2010/09/apalah-arti-sebuah-shakespeare.html).

Senin, 16 November 2015

17.38 -

Arti Sebuah Pujian

Dante Gabriel Rossetti, seorang penyair dan pelukis terkenal pada abad 19, pada suatu hari didatangi seorang pria yang sudah lanjut usianya. 

Orang itu memiliki beberapa sketsa dan lukisan yang ingin diperlihatkannya kepada Rossetti sekaligus untuk dimintakan pendapatnya apakah benda-benda itu bernilai atau setidak-tidaknya seberapa jauh benda itu memperlihatkan bakat potensial dari pembuatnya.

Rossetti memperhatikan benda-benda itu dengan saksama. Dalam sekejap saja ia sudah dapat menilai apakah suatu sketsa atau lukisan tertentu sama sekali tidak berharga, tidak memperlihatkan sedikitpun tanda-tanda bakat artistik. 

Tetapi Rossetti adalah seorang yang baik hati. Dengan cara yang halus dan hati-hati ia menjelaskan kepada orang tua itu bahwa sketsa dan lukisan yang diperlihatkannya kurang begitu berharga dan kurang memperlihatkan bakat artistik. Ia minta maaf atas pendapatnya itu tetapi ia tidak bisa membohongi orang tua itu.

Orang tua itu memang kemudian tampak kecewa. Tetapi rupanya ia memang sungguh memerlukan pendapat Rossetti. 

Bapak itu kemudian mohon kesediaan Rossetti untuk melihat beberapa lukisan lainnya yang dibawanya, yang merupakan hasil karya seorang pemuda dari suatu sanggar seni rupa.

Rossetti memperhatikan beberapa lukisan yang lain dan menjadi sangat tertarik pada bakat artistik yang terlihat pada lukisan-lukisan itu. “Oh, ini sangat bagus. Anak muda ini memiliki bakat yang besar. Ia harus benar-benar dibantu dan didorong dalam kariernya sebagai pelukis. Ia akan memiliki masa depan yang cerah jika ia mau bekerja keras dan setia.”

Mendengar komentar itu, bapak tua itu tersenyum gembira.

“Siapa pelukis muda berbakat ini?” tanya Rossetti. “Apakah dia putra anda?”

“Bukan,” jawab bapak itu dengan tanpa mampu menyembunyikan nada sedihnya. “Itulah aku, empat puluh tahun silam. Jika saja aku mendengar pujianmu pada saat itu ... Sayangnya, aku berkecil hati dan berhenti terlalu cepat.”

(Sumber: Warta KPI TL No. 47/III/2008; Segelas Susu, Rahkito Jati Omi).

17.22 -

Lidah



Semua manusia normal di dunia ini pasti memiliki ‘lidah’. 


Lidah merupakan organ kecil dari tubuh manusia, fungsinya untuk merasa/mengecap makanan yang masuk dalam mulut/alat yang membantu pencernaan; dalam konteks hidup berkomunitas, fungsinya sangatlah penting terutama dalam mengungkapkan hubungan manusia dan Tuhan.


Lidah sebetulnya adalah bagian terakhir yang langsung menuangkan kata-kata atau isi pembicaraan, sementara kata-kata yang diucapkan itu bersumber dari hati dan akalnya

Lidah itu bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa menjadi alat yang menyakitkan bahkan mematikan, tetapi juga mendatangkan kebaikan dan membawa kehidupan/keselamatan. 

Lidah bisa mewakili seluruh diri manusia (manusia yang berdosa/saleh):

Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu (Mzm 34:14).

Lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari (Mzm 35:28).

Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku (Mzm 39:2).

Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu seperti pisau cukur yang diasah (Mzm 52:4).

Lidah orang benar seperti perak pilihan (Ams 10:20).

Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan (Ams 12:18).

Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati (Ams 15:4).

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya (Ams 18:21).

Lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara besar (Yak 3:3-5).

Tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan (Yak 3:8).

Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Tuhan di situlah Ia hadir, sabda Tuhan. Akan tetapi, di mana dua atau tiga orang berkumpul dan mulai bergosip di situlah Iblis hadir, di sana ada sabda iblis

Dosa karena lidah itu tetap aktual dan akan tetap aktual karena lidah itu sulit dikendalikan. Yang paling sering terjadi dalam kehidupan bersama adalah menggosip dan menfitnah (semacam hobi rutin), biasanya karena iri hati dan cemburu.

Puncak dari kekuatan lidah adalah ketika lidah itu dipakai untuk memuji Tuhan dalam doa, nyanyian pujian, ucapan syukur ~ ungkapan hati yang dicetuskan melalui perkataan lidah kita untuk mengungkapkan kebaikan/keagungan Tuhan dan kuasa-Nya.

Marilah kita berusaha sekuat tenaga dengan bantuan rahmat Tuhan agar bisa mengendalikan kekuatan lidah yang mematikan itu dan mengarahkannya untuk memuji Tuhan, dan membangun kehidupan bersama dalam komunitas.

Di dalam banyak bicara pasti banyak pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Ams 10:19).

(Sumber: Warta KPI TL No. 47/III/2008; Lidah, Vacare Deo Edisi I/X/2008).


Selasa, 10 November 2015

03.33 -

Kuasa Ucapan



Suasana rumah (anak-anak/rumah tangga/keluarga) adalah hasil dari ucapan kita. Kita bisa rajin pergi ke gereja/mengikuti kegiatan yang bersifat rohani, tetapi kalau di rumah kita kehilangan kesabaran menghadapi anak-anak, gampang mengeluarkan kutuk, maksudnya baik tapi caranya salah ucap, maka hasilnya jelek ~ suatu saat kita akan kehilangan anak-anak kita.

Ucapan dapat menyembuhkan atau membinasakan (membuat orang mati karakternya/sakit jiwanya/luka batin). 


Maka dari itu jangan ngomong sembarangan ketika kita berargumentasi/marah. Karena setan masuk dan memaksa kita dengan cara yang halus mengeluarkan kata-kata kutukan buat orang lain ~ hal itu akan terjadi pada orang itu. 

Contoh: Kenapa Sarai tidak hamil-hamil? Karena Abram mengaku Sarai sebagai saudaranya, bukan istrinya. Sarai baru bisa hamil, ketika Abram menyadari kesalahannya.

Ada seorang ibu muda yang sudah menikah tujuh tahun, tetapi belum dikaruniai anak. Dia dan suaminya secara medis normal, tidak ada masalah apa pun

Ketika konseling dia disuruh hening dan merefleksikan, mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan ucapan orang tuanya beberapa tahun yang lalu ketika dia masih muda. 

Pada saat hening mereflesikan, dia teringat pertengkaran secara hebat dengan ibunya, dan ibunya berkata: “Kamu juga akan mengalami hal yang sama dengan mama, betapa sakitnya kalau diberontak oleh anak yang dikandungnya sendiri.” 

Karena dia emosi, dia membalas dengan kata-kata: “Saya tidak mau punya anak, biar tidak susah seperti mama!” Lalu mamanya membalas: “Benar, mudah-mudahan kamu tidak mempunyai anak!”

Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum (Mat 12:36-37) ~ ucapan dapat membinasakan/membuat bersemangat, bahagia dan sehat.

Dalam ucapan ada kuasa, bisa mendatangkan berkat/kutuk.

Lidah lembut adalah pohon kehidupan tetapi lidah curang melukai hati (Ams 15:4).

Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran (Ams 21:23).

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya (Ams 18:21).

Allah menginginkan kita memiliki ucapan yang baik/positif (mengandung berkat) ~ ucapan yang membangkitkan iman bagi orang yang mendengarkannya. 

Hal ini tidak gampang, maka Yesus mengingatkan agar kita sadar dan berjaga-jaga, karena lawan kita si Iblis berkeliling ... lawanlah dia dengan iman yang teguh (1 PtR 5:8-9).

Sebagian besar orang Kristen mengira akan menerima baptisan Roh Kudus/jawaban doa/kesembuhan asal mereka memiliki iman saja. Iman selalu dinyatakan/dikeluarkan melalui mulut/dalam ucapan yang benar.

Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu ... Karena dengan hati orang percaya dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rm 10:8-10).

Ucapan yang kita keluarkan:

1. Menunjukkan identitas kita (intelek/tidak, emosional/tidak, pelit/murah hati, bersikap hati-hati/sembrono).

Ucapan keluar dari mulut, asalnya dari hatinaik ke kepala (pikiran merancangkan) – baru keluar ke mulut; penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Mat 7:1-2).

2. Menentukan batas kehidupan kita.

Ketika seseorang semakin dalam bergaul dengan Allah, ketika mendengar orang mengeluarkan kata-kata yang porno/kelemahan orang lain sebagai guyonan – hatinya terusik, bukan karena sok suci tetapi ada hal-hal yang tidak pantas diomongkan.

3. Sangat mempengaruhi roh kita (manusia batin).

Kita tidak akan pernah mencapai sesuatu di luar ucapan kita. Asal tidak bimbang hatinya (percaya), apa yang dikatakannya itu akan terjadi, baik berkat/kutuk (Mrk 11:22-24) ~ ucapan ini sangat benar-benar dimengerti oleh dunia roh.

Kalau kita salah ucap, ucapan yang pertama dihapuskan oleh ucapan yang ke dua; sebagai pengakuan ganda, maka kita akan menerima yang terakhir; mengeluh menghapuskan keyakinan.

Ketika kita mengalami sakit, didoakan ketika ditanya: “Bagaimana sakitnya?” Jika dijawab: “Aduh ... masih sakit .”

Ketika kita dalam masalah, masih dalam anugerah rohani dapat berkata “Tuhan adalah gembalaku, tak akan kekurangan aku. Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Mzm 23:1; Flp 4:19). Yes... yes... yes! Tetapi sampai di rumah bertemu dengan orang lain dan ditanya: “Bagaimana masalahmu, apakah sudah selesai?” Jika dijawab: “Ya ... berat nih masalahnya.”

Kenapa anak-anak Tuhan begitu rapuh hidupnya, tak memiliki jiwa yang kuat pada saat masuk dalam penderitaan

Karena mereka mengerti Yesus berdasarkan ilmu pengetahuan yang tidak punya kuasa untuk mengubah setiap kehidupan kita. 

Kebenaran itu harus dihidupi/dialami setiap orang percaya karena yang namanya firman itu tidak bisa berdiri sendiri. Firman itu harus bisa bekerja di dalam kehidupan kita, menjadi realita – harus ada persekutuan secara pribadi dengan Allah. 

Kalau kita tahu kebenaran berdasarkan pengetahuan pikiran, bukan karena pengalaman kehidupan berjalan bersama Tuhan (Yoh 8:30-36); maka kita akan selalu salah presepsi, sehingga sulit menangkap bahasa Tuhan di dalam kehidupan kita.

Bahasa Tuhan (bahasa iman) >< bahasa manusia.

Kasih >< penghukuman/penghakiman.
Jangan kuatir >< kuatir
Kerendahan hati >< kesombongan
Penyangkalan diri >< egoisme
Beri maka kamu akan diberi >< hemat pangkal kaya
Kalau mau jadi yang terbesar/terkemuka jadi pelayan >< jadi bos

Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku (Yoh 8:43).

Manusia selalu salah presepsi dengan Firman Tuhan.

Contoh: pada waktu Tuhan memberikan Hawa pada Adam, bukannya mengucap syukur tetapi berkomentar “Inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” ~ artinya tanpa bertanya pada Tuhan/perempuan itu, menganggap perempuan itu berasal dari dirinya (ada karakter kesombongan); tetapi ketika mengalami kegagalan menyalahkan Tuhan – “Gara-gara perempuan yang Engkau berikan padaku...” (inilah karakter manusia).

Masalah yang sering timbul adalah manusia takut mengetahui kebenaran, karena takut menderita atau mereka hanya baru sampai pada tahap ingin tahu saja. Kalau kita takut penderitaan, maka akan sulit tiba di garis akhir.

Firman Allah hidup ... memisahkan roh dan jiwa Sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12).

(Sumber: Warta KPI TL No. 43/XI/2007; Renungan KPI TL Tgl 4 Oktober 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).