Tampilkan postingan dengan label *K Padang gurun*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *K Padang gurun*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2020

Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya

Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:5-6). 


Di akhir bulan Maret Tahun 2019, saya harus menyiapkan sebuah materi untuk suatu acara yang cukup besar. Karena kesibukan tersebut, saya meninggalkan sesaat untuk tidak berdoa Rosario dan tidak membaca Kitab Suci sesuai dengan bacaan Kitab Suci di grup MBA. Dalam hati saya berkata: “Tuhan, Engkau mengerti keadaanku. Saat ini aku sangat sibuk dan capai sehingga tidak ada waktu untuk berdoa maupun membaca Kitab Suci. Rasanya waktu 24 jam kurang!” 

Suatu hari saya mengganti sprei di kamar anak saya di lantai dua. Pada saat hendak turun ke lantai bawah, tiba-tiba saya terpeleset. Lalu saya berusaha memegang pegangan tangga agar tidak bertambah jatuh ke bawah. Akhirnya saya terhenti di pijakan kelima dari atas. Saat terjatuh, saya mendengar ada sesuatu yang patah. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka mata saya lebar-lebar untuk mengetahui apakah saya buta atau tidak. 

Semalam suntuk saya tidak bisa tidur. Oleh karena itu saya dibawa ke Rumah Sakit oleh suami saya untuk di-rontgen. Ternyata tulang ekor saya mengalami “dislokasi” (tulang bergeser dan keluar dari posisi normalnya). Dokternya berkata: “Apakah mau dioperasi tanpa pisau bedah atau minum obat nyeri saja? Jika tidak mau dioperasi sekarang, akibatnya akan terasa nyeri diusia tua.” Akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi. Proses operasi hanya berjalan sebentar, namun pemulihannya benar-benar panjang. 

Melalui kejadian ini, ada suara kecil yang berbicara dalam batin saya: “BEM, kemarin kamu berkata tidak ada waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Sekarang Aku sudah memberimu waktu yang banyak.” Mendengar teguran ini saya merasa malu dan memohon ampun pada Tuhan. 

Saya tahu bahwa kejadian itu diijinkan Tuhan agar saya tahu berterima kasih atas pengorbanan-Nya. Oleh karena itu saya berjuang untuk kembali memberikan waktu yang terbaik untuk berdoa dan membaca Kitab Suci seperti dulu. Saya berdoa: “ Tuhan, aku tahu Engkau telah menghajarku. Proses ini jangan terlalu lama, aku mau melayani-Mu. Aku sangat butuh kekuatan-Mu untuk melakukan semuanya.” Jadi, saya berjuang untuk tidak memikirkan sakitnya, tetapi melayani dengan sukacita seperti biasa. 

Tiga setengah bulan setelah kejadian itu, saya dan suami saya mengikuti seminar tentang “Kekuatan Doa” di Samarinda. Selama 3 jam duduk di dalam mobil, saya merasakan tulang ekor saya sakit sekali (perjalanan dari Balikpapan, rumah saya ke Samarinda). 

Puji Tuhan, sesi pertama seminar “teori tentang doa” dapat saya ikuti dengan baik meskipun duduk saya agak condong ke depan supaya tulang ekor saya tidak tertekan. 

Keesokan harinya peserta seminar dibagi dalam beberapa kelompok, tiap kelompok berisi 10 orang. Lalu Pak Tjendana memberikan instruksi agar setiap kelompok melakukan Pujian Penyembahan dan fokus mendengarkan Tuhan mau bicara apa, dan saling mendoakan. Saya berjuang fokus, namun saya tidak memperoleh penglihatan dan tidak merasakan apapun juga seperti biasanya. 

Tiba-tiba saya mendengar Sabda Pengetahuan: “Hai tulang-tulang! Mengapa engkau lemah?” Ketika saya mendengar sabda tersebut, saya sangat kaget dan saya langsung berteriak dalam hati: “Tuhan, tolong Tuhan, tulang ekor saya sakit sekali.” 

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, namun pada saat itu seperti melihat sebuah film, saya melihat seberkas sinar yang berasal dari seorang pria. Meskipun saya tidak dapat melihat dengan jelas wajah-Nya namun batin saya yakin bahwa pria itu adalah Tuhan Yesus. Dia seakan-akan menatap saya dengan tatapan kecewa sambil berkata: “Why BEM?” Ketika mendengar pertanyaan tersebut, ada penyesalan yang dalam, dalam hati saya. Tanpa sadar saya menangis sambil berkata: “Tuhan, ampunilah aku. Aku telah bersalah pada-Mu. Sekiranya Engkau berkenan, sakit tulang ekor ini janganlah terlalu lama sehingga aku bisa melayani-Mu, melayani suami dan anak-anakku dengan baik.” Seketika itu juga Tuhan Yesus mengangkat tangan-Nya dan menyembuhkan tulang ekor yang sakit. 

Melihat keadaan saya yang terus-menerus menangis di lantai, suami saya mengguncang-guncangkan tubuh saya sambil memanggil-manggil nama saya, akhirnya saya terbangun dari “resting in the spirit”. Waktu pulang ke Balikpapan, saya tidak merasakan sakit lagi. Sungguh, Tuhan adalah Tabib yang ajaib, Dia telah menyembuhkan saya dengan cara-Nya yang ajaib. 

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi menjadikan Tuhan seperti “Jinny oh Jinny” (sinetron, jika butuh saja baru dipanggil), saya tidak mau membuat Tuhan Yesus kecewa. Saya rindu melihat Tuhan Yesus selalu tersenyum pada saya, bahkan bangga melihat saya, yang mau berkomitmen untuk selalu menjalin hubungan dengan-Nya melalui doa dan membaca surat cinta-Nya. 

(Sumber: GPM, Marya BEM).

Kamis, 11 Juni 2020

Musibah yang membawa berkat

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh (Yoh 15:5-11). 


Di akhir bulan Maret, ada kerinduan di hati saya untuk memberikan hadiah yang terbaik untuk ulang tahun, anak pertama saya. Lalu saya menanyakan pada istri saya apa yang kira-kira dibutuhkan. Dia menjawab: “Sepatu.” 

Sesudah itu saya berselancar di online untuk mencari sepatu. Saya menemukan sepatu yang saya inginkan, namun saya memikirkan selama dua hari untuk memutuskan membelinya karena saat itu keadaan ekonomi saya benar-benar terpuruk akibat dari Covid-19. Jadi, sekarang, jika menginginkan segala sesuatu harus difilter terlebih dahulu harganya sebelum memutuskan. Kalau dulu, hendak membeli bukan hanya melihat modelnya saja, tapi juga mereknya. 

Sebelum memutuskan itu, saya berdoa: “Tuhan, saya punya keinginan untuk memberikan hadiah ulang yang terbaik buat anak saya yang pertama. Jika Engkau berkenan, saya akan membelinya.” Saya juga berunding dengan istri saya mengenai keinginan saya untuk membeli dua sepatu memakai kartu kredit, satu untuk anak pertama dan satunya lagi untuk anak ke dua. Istri saya pun menyerahkan keputusan tersebut kepada saya. 

Suatu hari mobil yang saya kendarai ditabrak oleh sebuah truk. Kami sepakat untuk membawa masalah itu ke kantor polisi. Sesampainya di sana, kami dianjurkan untuk berdamai. Akhirnya kami berdua ke bengkel untuk memperbaiki mobil yang rusak tersebut. Karena kerusakannya agak berat, maka biaya perbaikannya cukup besar. Si penabrak mau bertanggung jawab dan dia hanya mampu membayar 950 ribu, maklumlah dia hanya seorang sopir bukan pemilik truk tersebut. Semua masalah ini saya ceritakan sejujur-jujurnya pada pemimpin perusahaan di tempat saya bekerja, bahkan tentang uang dari si penabrak itu juga saya serahkan padanya. 

Dua minggu kemudian, saya dipanggil oleh bagian transportasi di kantor, katanya: “Mobil ini masih dalam tanggungan asuransi. Jadi kita hanya membayar 300 ribu untuk membayar biaya resiko sendiri. Oleh karena penabrak membayar kamu sebesar 950 ribu, maka sisanya adalah berkat buat kamu.” 

Di sinilah saya melihat kemurahan Tuhan yang luar biasa, uang sisa hasil ganti rugi tersebut dapat untuk membayar kartu kredit sepatu anak saya yang habis 450 ribu, bahkan masih ada sisanya, yaitu: 200 ribu. 

Melalui peristiwa ini saya sungguh sangat bersyukur karena sejak kecil saya di-didik oleh ibu saya untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu yang akan saya jalani dalam kehidupan ini. 

Tuhan tidak jauh dari kita, Ia ada di samping kita untuk menjaga kita, Ia selalu ada dalam setiap helaan nafas kehidupan kita. Asal kita selalu berharap dan mengandalkan-Nya. 

Pada tahun 2009, saat saya mulai bekerja, Tuhan mulai menarik hati saya untuk mengenal-Nya. Sejak saat itu saya merasa sangat beruntung karena benih ilahi telah ditanamkan ibu saya sejak kecil. Saya sungguh bersyukur, para malaikat melindungi saya, Roh Kudus juga terus-menerus menarik jiwa saya, hidup saya diarahkan kembali kepada Allah sehingga hidup saya selaras dengan firman-Nya. 

Bahkan saya juga dimampukan oleh-Nya untuk berani bersikap sejujur-jujurnya tentang keadaan saya pada keluarga saya. Jadi, saat berada dalam keadaan terpuruk, baik ibu maupun kakak saya adalah pendoa bagi saya. Melalui dukungan doa mereka, saya beroleh kekuatan dalam menjalani kehidupan. 

Terlebih lagi sejak tahun 2017, saya ditarik-Nya lebih dan lebih dalam lagi untuk mengenal-Nya. Melalui pertobatan ini, saya berjuang hidup melekat pada-Nya sehingga dalam keadaan terpuruk saya dimampukan oleh-Nya untuk tetap bangkit dan tetap dapat bersukacita meskipun menghadapi kehidupan yang berat ini. 

(Sumber: GPM, Bertibole).

Minggu, 10 November 2019

Bergumul dengan Tuhan itu enak

Beberapa waktu lalu saya mengalami kesalahpahaman dengan seorang pembimbing rohani di sebuah persekutuan doa. Saya merasa kecewa dan memutuskan untuk tidak datang lagi ke persekutuan doa tersebut. Saat itu saya berpikir bahwa itu adalah keputusan yang terbaik, karena saya takut dikecewakan kembali. Namun hati saya merasa tidak enak, tidak ada damai dan sukacita. 

Ada beberapa teman yang tau saya mau mundur memberikan saya nasehat-nasehat, ayat-ayat Firman dan video-video yang menguatkan saya dan mereka mendoakan saya. Saya pun berdoa kepada Tuhan dan meminta tanda dari Tuhan. 

Malamnya saya membaca Kitab Suci dan mendapat teguran dari Tuhan melalui Yohanes 21:15-17, disitu Tuhan bertanya kepada Petrus sampai 3x, apakah Petrus sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Saya berkata dalam hati kepada Tuhan bahwa saya mengasihi Tuhan, tetapi saya juga mengevaluasi diri saya, apakah saya hanya mengasihi Tuhan di mulut saja. 

Tiga hari sesudah kejadian, waktu doa pagi, saya seperti disadarkan. Saya bisa berkata bahwa saya ini keras kepala, sangat keras kepala. Tidak mudah hati saya mau menerima nasehat ataupun Firman apalagi melakukannya. Saya sering merasa diri saya sudah benar. 

Siang harinya saya mengantarkan anak saya ke sekolah. Waktu perjalanan ke sekolah, saya berpikir kalau saya butuh waktu hening untuk menata pikiran saya, karena begitu banyak kejadian yang saya alami baik di rumah maupun di luar rumah. Sampai di sekolah ternyata tidak ada satu pun teman yang bisa diajak mengobrol sehingga saya pergi berdoa di gua Maria. 

Saya sampaikan apa yang ada di hati saya kepada Yesus dan Bunda Maria dan saya tidak tahu harus berbuat apa, saya berserah saja. Setelah selesai berdoa tiba-tiba saya merasakan kerinduan untuk kembali ke persekutuan tersebut. 

Lalu saya menelepon teman saya dan teman saya cerita kalau orang yang berkonflik dengan saya ini juga menelepon dia dan menanyakan pendapatnya. Dan teman saya meluruskan masalah ini kalau ternyata ini hanya salah paham. 

Seketika itu juga saya merasa beban saya telah diangkat. Saya bersyukur kepada Yesus dan Bunda Maria telah menyelamatkan jiwa saya dari kekecewaan. 

Dari peristiwa ini saya belajar untuk menghadapi konflik. Saya biasanya takut menghadapi konflik dan suka “mutung”. 

Saya mau membagikan kepada teman-teman bahwa apapun permasalahanmu datanglah kepada Tuhan, bergumullah dengan Tuhan dalam doa, jangan mengandalkan pikiranmu dan kekuatanmu sendiri, serta milikilah teman-teman yang bisa menguatkan dan mendoakan kita. Hidup kita pasti tak lepas dari konflik, percayalah bergumul dengan Tuhan itu enak. EL SHADDAI 

Jumat, 24 Maret 2017

Penyertaan Tuhan

Anak pertama saya harus menjalani interview di Jakarta. Saya tidak tega melepas anak perempuan saya sendiri, maka saya menemaninya ke sana. 

Jadi, hari Kamis itu saya membereskan segala sesuatunya di Surabaya agar hari Jumatnya dapat mengantarkan anak saya. 

Saya membayar rekening-rekening melalui ATM di salah satu bank di RMI. Setelah menjalankan mobil, saya baru tahu bahwa ban mobil saya ada yang kempes. 

Ketika saya membelok ke jalan Ngagel Jaya Selatan, ada seseorang (X) mengendarai sepeda motor menunjuk-nunjuk ban mobil kiri yang kempes. Saya tidak menghentikan mobil karena saya merasa curiga pada X. 

Mobil saya jalankan secara perlahan-lahan sampai ke tempat tambal ban. Di tukang tambal ban, orangnya tidak ada, justru di sana berdiri dua orang yang mencurigakan. 

Saya berdoa memakai bahasa roh sambil menjalankan mobil dengan perlahan-lahan. Mobil saya hentikan di depan toko-toko yang buka dan ramai pengunjungnya. 

Syukur kepada Allah, meskipun keadaan seperti itu, saya tidak merasakan panik. X mengetuk-ketuk pintu kaca mobil sambil menawarkan dirinya hendak menolong saya, tetapi saya katakan 'tidak'. Hal ini dilakukan X sampai tiga kali. 

Di kaca spion saya juga melihat teman X menunjuk-nunjuk ke mobil saya. Melihat kejadian itu saya langsung menyadari bahwa ban mobil saya kempes gara-gara ada seseorang yang menembaknya. 

Saya menghubungi teman-teman dari KPI TL untuk memohon bantuan, tetapi tidak ada satupun HP yang dapat dihubungi. Saya tahu mereka belum mengaktifkan HP setelah pertemuan KPI TL. 

Saya menghubungi tetangga saya, tetangga saya mengatakan bahwa suaminya saat itu sedang menjemput anaknya di SMA St. Louis maka suaminya bisa langsung meluncur ke tempat saya. 

Kemudian suaminya menelpon saya, dia mengatakan "jangan keluar dari mobil, tetap nyalakan mesinnya sampai saya datang."

Saya juga menelpon suami saya, dia mengatakan bahwa akan mengirim sopir dari Gresik. Kemudian suami saya menelpon lagi, mengatakan bahwa dia juga memohon bantuan teman kontraktornya yang posisi kantornya dekat saya berada.

Singkat cerita, Ibu Judy dan anaknya Johan, suami tetangga saya, sopir suami saya dan teman suami saya datang menemui saya. Melihat ada banyak orang yang menolong saya, maka kedua orang yang mencurigakan itu tidak kelihatan batang hidungnya lagi.

Dari kejadian itu, saya sangat malu kepada Tuhan. Karena begitu sibuk dengan berbagai macam kegiatan, saya telah mengecewakan hati-Nya, kurang setia dalam berelasi dengan-Nya, tetapi Dia begitu setia membentengi saya dari rencana si jahat. 

Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat (2 Tes 3:3).

(Sumber: Warta KPI TL No.108/IV/2013).

Selasa, 01 November 2016

Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat

Di bulan Mei 2010 kira-kira pukul dua siang, ketika menjemput anak saya, saya mengalami kecelakaan sepeda motor di depan BCA Rungkut Mapan. 

Menghadapi peristiwa ini, saya bingung sekali karena suami saya saat itu tidak berada di Surabaya, ia bekerja di Serang, Jawa Barat. Apalagi yang menyebabkan saya kecelakaan (X) bukannya menolong saya malahan dia menggertak saya. 

Tiba-tiba saya teringat teman saya yang bernama Emmy, lalu saya menghubunginya. Dia langsung datang ke tempat kejadian dan membawa saya ke RSI. Setelah diperiksa dokter dan difoto, ternyata ada tulang selangka yang patah dan harus di-pen. 

Jam empat sore, Emmy menghubungi X, tetapi dia hanya tertawa, tidak percaya bahwa saya mengalami patah tulang dan harus dioperasi.

Keesokan harinya, saya diantar Emmy lapor ke polsek Rungkut Menanggal, ternyata kasus kecelakaan ini dilimpahkan ke Polres Kapasan. 

Pada saat kami melaporkan kejadian ini, kami justru dimarahi oleh polisinya karena tidak segera melaporkan pada saat terjadi kecelakaan. 

Lalu kami menceritakan kronologi kejadian tersebut dan kendala yang kami hadapi, maka polisi tersebut mau mengerti, katanya: “Ibu sabar ya …” Beberapa kali kami datang ke sana tetapi jawabannya sama, alias tidak ada solusi. Untuk menangani kasus ini, X selalu didampingi pengacara.

Saya merasa heran karena ada orang yang mau menolong saya demikian tulus melebihi saudara, lalu saya berkata padanya: “Em, aku nggak bisa membalas kebaikanmu.” 

Jawabnya: “Jangan dipikirkan. Karena aku berdoa kepada Tuhan bahwa aku ingin menolong seseorang, ternyata kamu yang harus aku tolong.”

Seminggu kemudian, kasus ini di-BAP (Berita Acara Perkara). Beginilah BAPnya: mobil X parkir di depan BCA Rungkut Mapan tidak di tempat parkir yang benar, karena menghindari bayar parkir. Jadi posisi mobil itu agak di tengah jalan. 

Pada saat saya melewati jalan itu, bersamaan X membuka pintu mobilnya sehingga pintu mobil itu menyentuh stang stir sepeda motor saya sehingga saya jatuh dan sulit untuk berdiri.

Menghadapi peristiwa ini saya berdoa dan berdoa mohon Tuhan segera campur tangan. Ternyata, sungguh luar biasa penyertaan-Nya, Dia kirimkan saudara saya yang ada di Cirebon untuk menangani kasus ini. 

Karena dia mempunyai teman di Polda, maka Polres Kapasan mau bergerak sehingga ada solusinya sampai tuntas, meskipun prosesnya berbulan-bulan. 

Akhirnya terjadi jalan damai, X mau membayar setengah dari biaya operasi sehingga dikeluarkan SP3 (Surat Penghentian Perkara Pidana); mobil X dan sepeda motor saya yang ditahan di kepolisian dapat diambil kembali. 

Karena sudah merasa sembuh, saya melakukan kegiatan seperti biasanya dengan naik sepeda motor. Tiba-tiba tulang yang di-pen itu patah lagi, padahal saya tidak mengalami jatuh. Saya kembali berobat ke RSI dan dokternya menyarankan untuk dilakukan operasi yang kedua kalinya. 

Pada saat patah tulang yang kedua ini saya sempat merasa putus asa karena sakitnya luar biasa, sedangkan operasi yang pertama saya mengalami sakit hanya satu bulan. 

Atas saran orang-orang disekitar saya, saya bertanya pada beberapa dokter. Dokter RKZ yang pertama saya datangi mengatakan bahwa tidak perlu dilakukan operasi lagi, tetapi ada beberapa dokter yang menyarankan operasi. 

Akhirnya saya memutuskan tidak operasi. Tetapi setiap ada doa penyembuhan, saya selalu hadir.

Pada suatu hari saya diajak Ibu Elly untuk menghadiri KPI TL, dipersekutuan ini telinga saya terngiang-ngiang kata “Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Engkau pasti dipulihkan.” 

Meskipun dalam keadaan sakit, kata-kata itu saya amini. Akhirnya saya mulai aktif menghadiri persekutuan ini dan rajin membaca warta KPI TL. 

Di bulan Mei 2011, saya menghadiri doa penyembuhan oleh romo Yohanes. Pada saat romo mengatakan: “Yang sakit … berdiri.” 

Saya langsung berdiri dan merasakan panas pada bagian yang patah tulangnya dan saya juga merasakan ada yang tersambung kembali. Sejak saat itu, seringkali mulut saya meluncur puji-pujian syukur. Pada saat pujian penyembahan di persekutuan inipun, saya merasakan jamahan Tuhan, sekujur tubuh saya rasanya seperti disengat listrik. 

Setelah mengikuti persekutuan ini secara aktif, saya merasakan buahnya, yaitu sikap saya sangat berbeda dalam menghadapi suatu masalah, lebih sabar dan selalu merefleksikan suatu peristiwa. 

Syukur kepada Allah, tangan saya berangsur-angsur dipulihkan dan saya juga mendapat bonus yang luar biasa, yaitu dapat berkumpul lagi dengan suami karena dia sekarang mendapatkan pekerjaan di Surabaya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 87/VII/2011).




Penyertaan Tuhan sungguh telah terbukti

Pada saat mengikuti doa syafaat, saya ditelpon oleh teman kantor suami saya, dia mengatakan bahwa suami saya masuk RS HCOS karena keracunan makanan. 

Saya, Raphael dan ibu Magiati langsung meluncur ke RS. Di UGD saya melihat banyak orang berseragam mengerang kesakitan, ada yang muntah-muntah dan berak-berak, menggigil kedinginan meskipun sudah memakai dua selimut. Mereka keadaannya sudah seperti mayat, termasuk suami saya. 

Saya dan ibu Magiati berdoa memohon keselamatan suami saya beserta teman-temannya. Pertolongan-Nya sungguh tepat waktu, pada saat itu ada banyak dokter yang memberikan pertolongan pertama dengan cara menguras lambung dengan Norit. Karena keadaannya sangat kritis, maka saya menunggu di rumah sakit selama dua malam tiga hari.



Saya sungguh sangat bersyukur hidup dalam suatu komunitas yang benar. Melalui komunitaslah saya memperoleh kekuatan, ada yang membantu secara materi maupun moril, ada yang mau mengurusi anak saya yang kecil, ada juga yang membawakan makanan agar saya tidak jatuh sakit. 

Setelah kesehatan suami saya agak pulih, dia bercerita kejadiannya.

Pada waktu dia interview di lantai 1, ada seseorang yang mengirim kue terang bulan. Kue tersebut dibawa ke lantai 3 dan dibagi-bagikan diantara orang kantor (sudah tradisi kalau boleh berkat dibagi rata). 

Setelah selesai interview, suami saya naik ke lantai 3 dan ditawari makan kue tersebut. Suami saya turun lagi ke lantai 1. Tiba-tiba dia merasakan badannya menggigil, perutnya mulas dan berak-berak dua kali. Teman-teman yang ada di lantai atas menelponnya ke HP tetapi dia tidak bisa menjawabnya karena badannya lemas. 

Meskipun keadaannya demikian, dia masih dapat berpikir untuk mohon bantuan sahabatnya yang berada satu komplek pertokoan itu. Akhirnya dua rombongan korban diangkut mobil sahabat suami saya dan satu rombongan korban naik taksi. 

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan atas kejadian itu:

* Suatu peristiwa terjadi pasti ada penyebabnya. Dalam kasus pembunuhan berencana ini, mungkin si pelaku merasa iri hati /sakit hati.

* Makanan dapat juga dipakai sebagai sarana untuk kejahatan, hal itu terbukti di dalam kasus ini. Ada yang tidak suka dengan terang bulan, tetapi pada saat itu dia sangat tergiur untuk memakannya (terhipnotis). Bahkan ada yang makan dua potong. 

* Penyertaan Tuhan sungguh luar biasa pada anak-anak-Nya. Meskipun ada orang yang merancangkan kejahatan dengan mengirim kue yang di dalamnya ada unsur racun dan kuasa jahat, tetapi Tuhan meluputkannya dari kematian. 

Terlebih lagi pada tgl 28 Juli 2009 itu ada seminar dokter-dokter di RS HCOS sehingga mereka dapat memberikan pertolongan dengan segera kepada sepuluh orang korban yang keracunan. 

Syukur pada Allah, ada yang alergi coklat, dia tidak makan kue tersebut sehingga dia dapat meminta pertolongan pada orang sekitarnya untuk mengangkut korban keracunan ke rumah sakit.

(Sumber: Warta KPI TL No. 86/VI/2011).

Jadi saksi Kristus

Perjumpaan saya dan suami saya hanya berlangsung tiga bulan, setelah itu kami langsung menikah. Saya tidak merasakan adanya kerukunan dalam kehidupan rumah tangga saya, seringkali saya marah dan tersinggung ketika mendengar kritikannya. 

Ketika saya bete, saya mengajaknya jalan-jalan di mall, tetapi dia menolaknya karena dia lebih senang berada di rumah atau mengikuti kegiatan di lingkungan. 

Setiap jam tiga pagi, saya merasa terusik ketika mendengar puji-pujian dan penyembahan yang dilakukannya. Menanggapi kemarahan saya, dia hanya diam saja tanpa berkomentar sepatah katapun. 

Di bulan Mei 2003, saya keluar-masuk rumah sakit karena kondisi kesehatan saya yang kurang baik. Berdasarkan pemeriksaan delapan dokter, tidak ada suatu penyakit apapun; kata dokter, saya mengalami stres berat. 

Hal ini terjadi karena saya takut meninggal di usia 40 tahun sesuai dengan ramalan yang saya dengar. Karena diwaktu kecil, saya sekeluarga diramal; dan ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan pada kakak saya yang No. 1 meninggal di usia 36 tahun; kakak saya No. 2 meninggal di usia 40 tahun. 

Pada suatu hari saya diajak oleh seorang tetangga untuk hadir ke persekutuan ini, tetapi saya menolaknya. Katanya: “Kamu harus mau! Lihatlah! Suamimu selalu sehat-sehat dan doanya dikabulkan. Sedangkan kamu selalu sakit-sakitan dan doamu tidak pernah dikabulkan. Apakah kamu tahu penyebabnya? Karena kamu tidak pernah berdoa dengan benar sehingga Tuhan tidak mengenal orang yang namanya Sandra.” 

Sesudah memasuki persekutuan ini, saya berkenalan dengan seorang ibu yang membantu kesehatan saya dengan dikeroki. 

Pada saat dia melihat begitu banyak obat di meja, dia berkomentar: “Janganlah menaruh segala macam obat di meja. Hal ini dapat menimbulkan pernyataan ganda di pikiran kita, sehingga mujizat yang sudah ada ditangan akan terlepas lagi.” 

Di bulan Mei 2008, suami saya pulang dari kantor dengan keadaan tangannya lemas dan jalannya pincang. Atas saran dokter keluarga, dia harus masuk rumah sakit tetapi dia menolaknya. Setelah mengalami stroke ringan, dia berkeringat terus sebesar jagung dan mengalami sendawa (cegukan) terus-menerus.

Atas saran seseorang, saya memberinya minum teh. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, suami saya muntah berwarna coklat di dalam taksi. Melihat itu saya gemetar, lalu saya menghubungi kakak saya, tetapi hpnya tidak aktif. Menghadapi hal ini saya berdoa: “Tuhan tolong saya … saya sudah nggak kuat …” 

Sesampainya di RKZ, suami saya langsung masuk UGD dan diberi infus serta disuntik. Setelah itu sendawanya mulai berkurang. Dokterpun menyarankan untuk rawat inap. 

Tetapi kamar di RKZ penuh semua, maka dokter tersebut menyarankan untuk rawat inap di RS Wiliam Both. Pada saat menyeberang, saya berdoa: “Tuhan, jangan banyak mobil ya … saya mau menyeberang …” 

Pada saat menyeberang, saya merasakan kaki saya tidak menginjak tanah dan ada tangan yang menuntun saya. Terlebih lagi tidak ada kendaraan satupun yang berada di dekat saya. 

Hal ini terjadi pada saat saya pergi ke RS Wiliam Both maupun pada waktu kembali ke RKZ, padahal jalur ini sangat padat lalu lintasnya. Karena RS Wiliam Both juga tidak ada kamar kosong, maka kami membawanya ke RS Adi Husada dengan taksi.

Ketika suami saya berada di RS, ada seorang bapak yang mengamat-amati keluarga saya. Pada suatu hari dia memberanikan diri bertanya pada kami, katanya: “Saya heran melihat kalian bertiga. Kalian sedang dalam keadaan susah, tetapi kenapa kalian kok bisa bersukacita? Kok nggak sedih?” 

Jawab suami saya: “Pak, kami belajar untuk bersukacita dengan apapun yang Tuhan berikan. Masalah sakit-penyakit ini, bukan berasal dari Tuhan. Ini terjadi karena kita tidak bisa menjaga kesehatan dengan baik.” 

Tak ketinggalan sayapun ikut menjawabnya: “Kami sekeluarga selalu berusaha menyerahkan segala permasalahan hidup kami pada Tuhan. Tuhan sangat mengerti kesusahan kami, Dia tak pernah terlambat dalam menolong kami.” 

Secara kasat mata, kami tidak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya RS. Tetapi mukjizat terjadi secara sungguh luar biasa, Dia mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk mencukupkan semua biaya RS tersebut.

Setelah pensiun dari perusahaan, suami saya diharuskan cek kesehatan hati, ginjal, gula darah dan tumor di lab tertentu untuk melengkapi persyaratan kontrak kerja. 

Mendengar itu pikiran saya kacau dan tidak bisa tidur semalaman. Lalu suami dan anak saya menghibur saya, kata mereka: “Serahkan saja pada Tuhan pasti semua baik.” 

Akhirnya saya berdoa menyerahkan semuanya pada Tuhan ... puji Tuhan hasil lab-nya baik semua.

Tanggal 28 April 2011 KPI TL merayakan Hari Raya Paskah, saya mengambil kartu yang bunyinya: “Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku (Mzm 66:19-20). 

Setelah membaca kartu tersebut, saya langsung menangis sambil berkata dalam hati: “Tuhan, ampuni saya ya. Terima kasih Tuhan karena setiap doaku Kau dengarkan.”

Sejak mengikuti persekutuan ini, hidup saya diubahkan secara luar biasa.

* Ketika dinasehati/dikritik, tidak ada lagi kemarahan di hati saya.

* Jika malas datang ke persekutuan, di hati ini ada kerinduan untuk datang.

* Tidak merasa terbeban lagi ketika harus berbagi, karena saya sadar bahwa berkat yang telah diberikan Tuhan tidak semuanya untuk diri sendiri, tetapi ada juga bagian untuk orang lain.

* Jika sakit, saya tidak berfokus ke dokter tetapi memohon hikmat-Nya, minum nutrisi serta cukup beristirahat … mujizat kesembuhan terjadi.

* Ada suatu kebiasaan baru dalam kehidupan saya, yaitu dalam melakukan segala sesuatu, saya memohon “dalam nama Yesus” … sehingga perasaan kuatir/stres hanya mampir sebentar dalam kehidupan saya. Karena saya tahu bahwa pertolongan-Nya tidak pernah datang terlambat, janji-janji-Nya sungguh telah tergenapi dalam kehidupan keluarga saya.

Hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Bukan apa yang aku kehendaki yang aku buat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm 7:14-15) 

(Sumber: Warta KPI TL No. 85/V/2011).

Kamis, 13 Oktober 2016

Perlindungan Tuhan

Pada tanggal 28 November 2010, Paduan suara Solafide melayani di Gereja GPDI “Talita” yang berada di Kepanjen-Malang, tahun lalu gereja ini kena bom. Meskipun kondisi gereja ini agak rusak gentengnya, tetapi jemaat di sana tetap beribadah setiap hari Minggu.

Setelah melayani di sana, kami melanjutkan perjalanan ke pos-pos penginjilan yang berada di Gunung Kawi. Meskipun Gunung Kawi sangat terkenal dengan orang-orang yang minta kekayaan, kami tetap melayani daerah itu karena motivasi kami hanya untuk melayani saja. 

Rombongan kami berangkat dengan naik bis. Sebelum kami berangkat, kami mohon perlindungan Tuhan. Meskipun hujan tiada henti dan petir sambar-menyambar, di dalam bis kami tetap bergembira dan bersukacita memuji-muji Tuhan.

Ketika mendekati lokasi, kami harus pindah naik angkot karena jalannya sangat menanjak. Pada saat saya turun dari bis, saya merasakan getaran yang dahsyat dan saya mendengar teriakan sopir: “Saya kena petir karena saya memegang ibu ini.” 

Mendengar teriakan itu hamba Tuhan yang ikut bersama rombongan berkata: “Puji Tuhan, bapak selamat. Bapak memegang ibu itu, di dalam ibu itu ada Yesus.”

Di sinilah saya merasakan perlindungan Tuhan yang begitu dahsyat, meskipun saya lupa doa peperangan ketika memasuki wilayah setan, tetapi Dia memberi perlindungan yang dahsyat pada umat-umat-Nya yang mau melayani Dia.

Siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka (Ams 1:33)

(Sumber: Warta KPI TL No. 80/XII/2010).


Senin, 10 Oktober 2016

Dikala sendirian, Tuhan kirimkan anak-Nya yang lain

Pada hari Senin tgl 9 Juli 2010 saya menerima telpon dari seseorang, katanya: “Ibu, pada pengundian point reward telkom, ibu memenangkan hadiah kedua berupa sebuah mobil Innova. Ibu, tolong telpon kembali ke ...”

Sebelum menelpon kembali, saya berdoa sebentar: “Tuhan, apakah benar aku memperoleh hadiah itu? Tuhan lindungilah aku, Roh Kudus naungilah aku sekiranya telpon itu tidak benar.”

Lalu saya menelponnya. Dia bertanya: “Ibu, apakah kemarin ibu menonton acara point reward telkom? Jawab saya: “Tidak.” Katanya lagi: “Kemarin ibu mendapatkan hadiah kedua dari point reward telkom. Mohon kirim uang ke ... untuk pengurusan surat-suratnya.” 

Jawab saya: “Ya, kalau barangnya sudah ada, surat-suratnya akan saya urus sendiri.” Mendengar jawaban saya, telpon langsung ditutup. Dan saya segera menelpon ke 147 untuk minta keterangan. 

Ternyata... pengundian point reward telkom tersebut sudah berlangsung tgl 28 Juli 2010 di RCTI (sudah lewat 12 hari), pemenangnya orang Makasar. Orang Surabaya belum pernah memenangkan hadiah tersebut. 

Saya bersyukur telah terbebas dari penipuan tersebut.

Pada hari Kamis pagi, saya mengantar anak saya ke kampus. Sewaktu perjalanan pulang, mobil saya disrempet oleh sebuah sepeda motor, posisi mobil saya hampir sesudah pertigaan Rungkut Alang-alang (jam enam pagi sampai jam tujuh malam kendaraan yang berasal dari Yakaya tidak boleh belok kanan). 

Mengalami kejadian ini saya begitu kaget, karena tidak menyangka ada sepeda motor yang memotong jalan. Pengendara sepeda motor itu pun jatuh, lalu saya turun dari mobil. 

Yang aneh, dia langsung minta maaf dan sayapun tidak marah meskipun saya dirugikan, justru saya memeluknya dan di hati saya timbul belas kasihan padanya.

Akhirnya dia saya ajak pulang ke rumah saya. Dan kakinya yang sakit akibat jatuh itu dipijat oleh pembantu saya. Sambil menangis dia bercerita: “Saya merasa hidup ini begitu berat, saya merasa Tuhan meninggalkan saya sendirian. Tadi saya tidak fokus di jalan karena saya sedang memikirkan nasib anak-anak saya. Karena sudah sepuluh tahun ini, suami saya tidak bertanggung jawab terhadap biaya keempat anaknya, meskipun dia tinggal di sebelah rumah saya, di rumah orang tuanya.”

Tiba-tiba saya berkata: “Kamu tidak sendirian, kamu bersama Yesus. Bukankah Tuhan sudah berjanji pada kita, bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Dia mengirimkan Roh-Nya yang Kudus bagi kita. Dia senantiasa beserta kita. Percayalah!”

Pada saat dia pulang, saya juga memberkatinya secara materi. Hal ini terjadi bukan karena kemauan saya, tetapi Roh Kuduslah yang mengetuk hati saya dan suami saya untuk melakukannya.

Dari peristiwa ini saya mendapat pelajaran secara langsung bahwa Tuhan selalu membentengi kehidupan anak-anak-Nya. Dikala anak-Nya merasa sendirian, Dia kirimkan sesamanya dalam pertemuan yang tak terduga. 

Meskipun saya mengalami peristiwa buruk ini, Roh Kudus memampukan saya tidak marah sehingga Allah dapat berkarya melalui diri saya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 76/VIII/2010).

Kamis, 06 Oktober 2016

Perjumpaan yang menyembuhkan

Saya ingin memberikan suatu kesaksian dimana kesaksian saya tidak mengajak bapak/ibu untuk turut bersedih mendengar kesaksian ini. Tetapi untuk melihat tangan Tuhan berkarya atas hidup saya, menyelamatkan iman saya dari keterpurukan.


Empat tahun yang lalu, anak perempuan saya yang berusia tiga puluh sembilan tahun meninggal di pelukan saya. Setiap kali berbicara mengenai kematiannya, saya menangis. Demikian pula ketika memasuki kamarnya, maupun ketika melihat fotonya - hidup ini terasa hampa karena peristiwa itu. 



Pada bulan ke lima setelah anak saya meninggal, fisik saya sangat lemah karena kesedihan yang terus-menerus ... akhirnya saya jatuh sakit selama sebulan. 

Saya benar-benar malas untuk berdoa maupun untuk berobat. Tetapi saya dipaksa oleh suami saya untuk pergi ke dokter. Pulang dari dokter, saya membawa setumpuk obat-obatan, tetapi obat-obatan tersebut hanya saya simpan di laci meja. 

Melihat keadaan saya yang patah semangat itu, suami saya panik dan menghubungi anak saya yang berada di Amerika dan yang berada di Gorontalo.

Anak saya yang berada di Gorontalo datang dan berkata: “ Mama, sudah masuk terlalu jauh dalam teritorial Tuhan. Mama sudah salah, tidak boleh begini. Hidup harus berjalan terus. Kalau ini memang sudah teritorialnya Tuhan, waktu Tuhan, kita manusia harus patuh.”

Pada bulan ke tujuh, sebenarnya saya ingin ke luar dari lingkaran setan ini. Tetapi saya selalu terkenang dengan buah hati saya.

Pada suatu hari saya bermimpi “saya dan suami saya berlayar naik kapal ke Timor Leste. Tiba-tiba saya melihat patung Yesus turun bermandikan cahaya yang luar biasa.” Padahal saya tidak pernah ke sana, tetapi hal itu sangat jelas dalam mimpi saya.

Seminggu kemudian, saya merasakan Allah benar-benar berkarya dalam hidup saya. Dia memulihkan hidup saya dengan cara mengenalkan saya dengan Ibu Yovita. 

Beliau mengajak saya untuk ikut bergabung dalam kelompok ini. Di sinilah saya mengadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita tidak boleh patah semangat. 

Dalam persekutuan, kita akan memperoleh kekuatan melalui sharing iman, pujian-penyembahan dan firman-firman-Nya. Saya benar-benar merasakan bahwa Tuhan menyelamatkan hidup saya dari keterpurukan iman ini.

Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (Rm 1:16-17)

(Sumber: Wrta KPI TL No. 71/III/2010).













Tanpa terasa sudah delapan tahun saya mengikuti pencerahan di KPI TL. Setiap sharing dan pengajarannya selalu saya tanamkan di hati. 

Dalam kelompok ini, setiap Paskah ada tradisi mengambil ayat-ayat Kitab Suci yang dapat memberikan kekuatan bagi setiap orang yang mendapatkannya. Pada Paskah tahun ini saya mendapatkan kartu “Doa ketika dalam kesedihan”. Pada saat mendapatkan doa tersebut saya bertanya-tanya dalam hati ‘Kesedihan apa yang akan terjadi pada saya? Wong Bapak, suami dan anak-anak saya sehat semua. Apakah doa saya kurang?’



Di bulan November 2009, pesan iman ini baru jelas.

Ketika mendampingi Bapak menerima sakramen pengurapan orang sakit, hati saya hancur. Sebab, sebagai anak tunggal saya merasa bakal ditinggalkan Bapak. Selain itu saya merasa sendirian karena tidak mempunyai saudara seiman di daerah tempat tinggal Bapak saya. Meskipun demikian, ternyata mereka begitu peduli terhadap saya. Merekalah yang menolong saya, mulai dari Bapak sakit sampai meninggalnya, bahkan sampai empat puluh harinya.

Ketika mendampingi Bapak saya yang dalam keadaan kristis, saya hanya bisa melakukan pujian penyembahan. Di sinilah saya merasakan penghiburan yang luar biasa. Meskipun dalam kesedihan, saya bisa enjoy. Dan yang lebih aneh lagi, ketika saya melakukan pujian penyembahan di Klaten, saya benar-benar merasakan kehadiran Ibu Yovita dan tim doa hari Selasa ikut serta bersama saya melakukan pujian dan penyembahan. Dan saya juga teringat sharing-sharing serta pengajaran yang diberikan di KPI TL. Itulah penghiburan yang Tuhan berikan kepada saya, sehingga saya tidak merasa sendirian lagi.



Inilah “Doa ketika dalam kesedihan” yang setiap hari saya baca mulai bulan April sampai November 2009, sesuai anjuran Ibu Emmy.

“Tuhan, Engkau adalah penolong bagi setiap orang yang berseru kepadaMu. Saat ini aku datang kepadaMu dalam kesedihan yang mendalam menghadapi kesulitan dan kesesakan hidup ini. Dunia sekelilingku nampak suram, gelap dan hati ini terasa pilu. Setiap malam air mataku mengalir membasahi tempat tidurku. Tiada lagi rasa malu untuk menangis, karena ketika berada di dunia, Yesus pun menangis. Tuhan, aku tidak memohon agar Engkau menghapuskan penderitaan ini, karena Yesus menjadi sempurna dalam penderitaanNya. Namun, sertailah aku senantiasa. Engkaulah Bapa bagiku dan hiburlah aku. Kasihanilah aku Tuhan, dan bentuklah aku lewat pengalamman pahit ini. Bangkitkanlah sukacita mengatasi kesedihan ini. Terima kasih Tuhanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.



Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera ,

sebab kepada-Mulah ia percaya.

(Yes 26:3)



(Sumber: Warta KPI TL No. 69/I/2010 »






Selasa, 04 Oktober 2016

Indah pada waktunya

Sejak kecil anak laki-laki saya, Daniel bercita-cita menjadi penyanyi. Dia seringkali menang dalam lomba-lomba menyanyi, sehingga dia sekarang tidak boleh ikut lagi lomba-lomba tersebut. Dia memang mempunyai bakat seniman seperti saya. 

Tahun kemarin anak saya gagal UNAS, dia jatuh pada pelajaran matematika. Sebagai orang tua, saya takut sekali dia down. Ternyata, justru dia yang memberi kekuatan pada saya, katanya: “Ma, ini mungkin Tuhan punya rencana lain buat saya.” Akhirnya saya pun tersadar dan berpikiran juga seperti anak saya. 

Maka dia mengejar paket C dan mencoba ke Jakarta untuk mengurus kuliahnya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Di sana dia diterima. Ternyata, hasil UNAS tidak berpengaruh terhadap penerimaan mahasiswa di IKJ. Dia mengambil jurusan sutradara karena dia merasa materi vokalnya sudah cukup, sewaktu kursus di Surabaya.

Setelah semua proses selesai, Daniel tinggal di rumah ipar saya, di Bogor. Ipar saya berkata kepada saya: “Anakmu ini berbakat di bidang nyanyi, janganlah dihalang-halangi untuk mencapai cita-citanya.” Saya iseng-iseng berkata pada kakak ipar saya : “Gimana, kalau Daniel ke Ahmad Dani?”

Sambil mengurusi kuliahnya, dia diantar sopir ke rumah Ahmad Dani tanpa mau dikawal mamanya. Meskipun Ahmad Dani terkenal arogan, Daniel yang belum mengenalnya diterima dengan baik. Di sana Daniel hanya berbincang-bincang, tidak mengatakan bahwa dia ingin menjadi penyanyi.

Beberapa hari kemudian kakak ipar saya berkata pada Achmad Dani: “Dan, kapan itu keponakanku ke sana, keponakanku itu suaranya enak ...” Dani langsung menjawab: “Mbak, tolong take vokal dulu, nanti aku dengarkan dulu.”

Mendengar itu saya bingung, karena saya berada di Bogor dan tidak tahu tempat studio rekaman suara. Tetapi Tuhan itu sungguh baik, Dia mengingatkan saya bahwa adik saya yang di Jakarta mempunyai alat-alat untuk merekam. Jadi, Daniel langsung diantar sopir ke Jakarta untuk take vokal.

Karena ada urusan di Surabaya, saya pulang. Di Surabaya saya menunggu kabarnya, sampai jam satu malam belum ada kabarnya, maka saya menelponnya. Saya merasakan hatinya begitu riang dan tanpa beban ketika menjawab telpon, katanya: “Belum selesai ma. Rencananya aku nyanyi tiga lagu, satu slow, middle dan rancak.” 

Besok paginya hasil take vokal dibawa ke rumah Ahmad Dani. Di sana dia ditemui oleh managernya. Dan managernya membuat janji untuk bertemu dengan Ahmad Dani tanggal 28. Ternyata tgl itu Dani harus mengantar keluarganya ke Bangkok.

Sekarang dia sedang mempersiapkan album perdananya.

Dari peristwa ini saya menyadari bahwa ada rencana Tuhan yang lebih baik bagi anak saya. Andaikata dia tidak gagal UNAS, kemungkinan besar dia tidak kuliah di IKJ, sehingga cita-citanya tidak dapat terealisasi.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai terakhir (Pkh 3:11)

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009)







Jumat, 09 September 2016

Penyertaan Tuhan

Pada hari Minggu di bulan April yang lalu, anak kedua saya mengajak saya ke Gereja Santa Maria tak bercela, karena dia ingin mengakses internet secara gratis di cafe, di area wifi. Sambil menunggu anak saya, saya membeli buku rosario pembebasan dan membacanya sampai tuntas.


Pada saat itu hujan turun deras disertai angin kencang. Pohon-pohon terombang-ambing tertiup angin ke kanan dan ke kiri. Saya takut pohon itu tumbang dan menimpa mobil saya, karena mobil saya parkir di bawah pohon. Tetapi puji Tuhan hal itu tidak terjadi.

Ketika hujan mulai reda, kami putuskan untuk pulang. Ternyata jalan di depan gereja sudah penuh air, alias banjir. Sepanjang perjalanan pulang saya dan anak saya berdoa terus berharap mobil yang dipakai itu tidak mogok. Karena air sudah menutupi ban mobil, tanpa sadar saya berdoa rosario pembebasan “Tuhan kasihanilah kami...Tuhan bebaskanlah kami dari mogok.” 

Terlebih-lebih lagi di depan Sampurna, jalan Kali Rungkut. Mobil-mobil di sana jalannya merambat. Saya berdoa semakin kencang agar tidak ada satupun mobil di depan yang mogok. 

Tiba-tiba saya teringat peristiwa Petrus berjalan di atas air. Lalu saya mengimani bahwa Tuhan juga akan memampukan saya dan mobil saya berjalan di atas air seperti Petrus. 

Di depan saya ada sebuah mobil sedan, saya berharap mobil tersebut segera minggir, sehingga saya dapat cepat sampai di rumah dengan selamat, terhindar dari banjir. Puji Tuhan, Tuhan mengabulkan doa saya. 

Tetapi sebagai manusia biasa, saya masih merasa kurang puas dengan adanya satu mobil yang minggir. Saya masih berharap lagi agar mobil box yang menghalangi pandangan di depan saya juga minggir. Lagi-lagi Tuhan mengabulkan doa saya. 

Tetapi ketika mobil box itu benar-benar minggir, saya justru merasakan ketakutan luar biasa melihat air begitu tinggi, pembatas jalan pun tidak kelihatan, seperti berada di tengah lautan. Di sinilah saya menyadari bahwa saya kurang sabar dalam menanti pertolongan-Nya secara tuntas. Lalu saya memohon ampun kepada-Nya.

Akhirnya kami dapat sampai di rumah tanpa mengalami hambatan apapun juga. Saya bersyukur atas penyertaan Tuhan yang ajaib, Dia benar-benar menyelamatkan dan membebaskan kami dari mogok. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 62/VI/2009

Selasa, 06 September 2016

Perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup

Pada tanggal 6-8 Desember 2008, Romo Lulus sebagai romo untuk anak-anak muda di paroki St. Matius Kuala Kapuas mengundang saya dan teman-teman untuk membimbing pujian penyembahan dalam acara jumpa orang muda Katolik di sana. Acara itu dihadiri oleh anak-anak muda dari 2 keuskupan, Kalimantan Tengah dan Selatan.


Begitu para peserta turun dari bis, mereka diantar ke paroki dan diberi makan dulu. Setelah itu para peserta diantar ke rumah umat untuk istirahat/mandi. Sebelum acara dimulai mereka dijemput lagi oleh Rm Lulus dibantu oleh bapa ibu di sana.

Paroki ini ini sangat sederhana, terletak persis di depan sungai (lebar sungai 1 km), segalanya serba susah di sana. Apalagi ada pabrik karet di seberang sungai. Jika pabrik itu bekerja, baunya sampai di gereja.

Dalam setiap pelayanan yang saya ikuti, para peserta pasti dipungut biaya akomodasi/makan. Tetapi acara kemarin itu, tidak sepeser pun dipungut biaya dari peserta. Meskipun para peserta tidak dipungut biaya apapun, panitianya begitu solid dan kompak dalam melayani, tidak ada satupun yang mengeluh atau ada yang iri hati diantara mereka. Bahkan di waktu senggangpun mereka selalu bertanya apa yang bisa saya bantu/perbuat. Semangat untuk melayani sesama dan hidup berkomunitas sangat menonjol di paroki ini. Sungguh suatu pengalaman yang jarang saya jumpai. 

Saya bertanya pada mereka: “Apa yang membuat mereka itu begitu bersemangat untuk melayani para peserta?” Jawabnya: “Kami menjumpai Yesus di dalam camping dan adorani di Tumpang. Jadi kami ingin bagikan itu untuk sesama kami.”

Tantangan yang dihadapi pada waktu persiapan acara ini sungguh berat, karena mereka lagi menghadapi ujian. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat. Begitu selesai ujian, mereka pulang ganti baju langsung ke pastoran, persiapan. 

Meskipun peserta begitu banyak, tempatnya selalu bersih, tidak ada satu sampah pun. Karena begitu ada sampah yang tercecer, ada team yang memunguti sampah. Begitu acara selesai ada team penyapu dan pengepel.

Pada waktu acara terakhir, Romo Lulus minta perwakilan dari masing-masing paroki untuk menceritakan pengalamannya. Ternyata mayoritas mereka bercerita bahwa “dalam parokinya ribut terus, anak-anak mudanya lemes/loyo, kegiatannya hanya olah raga, makan-makan.” 

Akhirnya Romo Lulus minta para peserta untuk memilih salah satu dari 60 anak Paroki Kapuas untuk bercerita. 

Ceritanya: “Kegiatan kami di sini: 
Setiap hari kami mengikuti misa harian. 
Berpuasa sederhana, jam 12 malam sampai jam 12 siang. 
Doa Koronka Kerahiman Ilahi setiap jam 3 sore, mengunjungi Sakramen Mahakudus. 
Mengunjungi orang sakit. Mengantar romo atau suster, jika ada yang membutuhkan komuni. Umat yang sakit, rumahnya kotor, kami bersihkan. 
Melakukan PD seminggu 2 x. Setiap Sabtu, ada PD besar; satu kali dalam seminggu, kelompok sel mengadakan PD juga. Kami memimpinnya secara bergiliran. 
Pada saat Romo Lulus memberikan retret di suatu tempat lain, kami secara bergantian berdoa di Sakramen Mahakudus. 
Kami menabung, agar dapat pergi ke Tumpang untuk mengadakan retret sendiri.” 

Romo Lulus dipuji-puji oleh para peserta. Jawabnya: “Apa artinya seorang Romo Lulus.” Ada peserta yang bertanya: “Apa rahasianya, sehingga Romo bisa membimbing anak-anak muda yang penuh semangat untuk melayani sesama tanpa memikirkan dirinya sendiri.”

Jawabnya: “Saya sebagai pastor yang tugas di paroki Kapuas ini bersyukur diberi anak-anak yang mempunyai kehidupan doa yang kuat. Sehingga mereka tidak pernah membuat masalah dengan orang tua atau guru. Dengan sendirinya mereka tidak ada yang terbawa arus pergaulan bebas atau terlibat narkoba. Saya tidak menginstruksikan apa pun kepada mereka. Saya hanya memberikan gambaran tugas begini-begitu, mereka menjalankannya. 

Acara ini dapat berjalan dengan sukses karena saya selalu mengajarkan pada mereka bahwa dalam hidup ini kita harus selalu mempunyai harapan. 

Mulailah dari yang ada (misalnya: dalam membentuk sel persekutuan doa, meskipun hanya ada tiga orang, lakukan. Biar Tuhan yang menambahkannya - Kis 2:47). Jika ada silih sengketa, selesaikanlah. Itu adalah permintaan Yesus (Mat 5:23-24 – jika engkau mempersembahkan persembahanmu ... dan teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu... pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali). 

Meskipun mereka itu masih SMP, SMA dan satu orang yang sudah bekerja, semangat untuk melayani sesama sungguh luar biasa. Saya yakin dengan semangat mereka yang ada, akan menjadi kekuatan tersendiri untuk perkembangan gereja Katolik ke depan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009).




Kamis, 25 Februari 2016

Perjalanan di Padang Gurun

Setelah lulus dari STM Mesin (tahun 1986), saya menganggur selama tiga bulan. Setelah itu saya berganti-ganti pekerjaan. 


Sejak saat itulah saya mengenal paranormal, Jika doa saya tidak terjawab, maka saya bertanya kepadanya.



Akhirnya, pada tahun 1990 saya bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan. Dan pada tahun 1995 saya diangkat sebagai kepala cabang di Surabaya. Dengan kenaikan pangkat ini, saya mendapatkan fasilitas rumah dan mobil.


Sejak berada di Surabaya, saya mencurahkan seluruh waktu saya untuk perusahaan sehingga saya melupakan kegiatan gereja, sampai-sampai ke gereja hanya saat Natal dan Paskah saja.

Padahal saat saya berada di Jakarta, ada banyak kegiatan kerohanian yang saya ikuti, antara lain: menjadi putera altar, Mudika, Legio Maria, KKMK (Kelompok Karyawan Muda Katolik).

Pada tahun 1996 saya menikah, tetapi istri saya tidak ikut ke Surabaya karena dia masih bekerja.

Pada tahun 1998 keluarga saya boyong ke Surabaya, istri dan anak saya beserta ayah dan ibu saya.

Pada tahun 2004, saya di PHK oleh perusahaan. Seluruh fasilitas perusahaan ditarik, sehingga saya harus mengontrak sebuah rumah kecil. Karena keadaan ekonomi yang terpuruk, saya minta kakak saya untuk merawat ibu saya. 

Ayah saya juga ingin pulang ke Jakarta, tetapi saya melarangnya karena saya tidak ingin beliau ikut anak tirinya. 

Suatu hari ayah saya keluar rumah tanpa pamit, saya mencarinya dan menemukannya. Hal ini terjadi berulang kali sehingga saya berpesan pada istri saya: “Jika papa ingin keluar rumah, biarkan saja!”

Ketika pulang kerja, saya tidak melihat ayah saya di rumah. Saya mencarinya tidak ketemu, maka saya langsung lapor ke polres, radio SS dan bertanya pada paranormal.

Saya menyebarkan foto ayah saya melalui sarana internet. Saya juga ke sebuah stasiun TV untuk mengikuti acara pengaduan masyarakat mencari orang hilang. 

Namun, semua usaha itu sia-sia. Sampai saat ini saya tidak tahu dimana keberadaan ayah saya.

Hari lepas hari keadaan ekonomi saya semakin terpuruk sehingga istri saya balik ke Jakarta untuk bekerja, anak saya juga dibawanya.

Untuk bertahan hidup, segala pekerjaan saya lakukan, antara lain pernah menjadi supplier, jualan degan, jualan burger bahkan pernah juga menjadi calo TKI ke Malaysia. 

Saya menjual apa saja yang masih ada pada saya, yaitu: buku koleksi yang hampir dua lemari, printer dan tempat tidur. Karena tidak ada dana untuk mengontrak, akhirnya saya indekost.

Pada tahun 2005, saya mulai kembali ke jalan Tuhan, saya bertobat dan mengikuti kegiatan rohani lagi. Di sinilah Tuhan mulai membuka jalan, saya berjualan nasi pecel. Di saat melayani pelanggan, saya menceritakan penyertaan Tuhan dalam hidup saya.

Pada tahun 2009, tiba-tiba anak saya (A) menelpon, dia mengatakan bahwa ingin tinggal bersama saya. Menghadapi permintaannya saya bingung, lalu saya minta saran pada teman-teman saya.

Mereka memberi saran: “A membutuhkan kehadiranmu, bukan hartamu. Jika kamu menunggu kaya, A sudah tidak butuh kamu lagi.”

Berbekal saran itu maka saya menjemput anak saya di Jakarta. Puji Tuhan, meskipun saya berjualan nasi pecel di pinggir jalan, ternyata Tuhan mencukupkan segala keperluan hidup kami berdua. 

Setelah A tinggal di Surabaya, saya mengurus sekolahnya. Puji Tuhan, berkat pertolongan-Nya, A dapat pindah dari SMP Negeri ke SMP Katolik, meskipun A belum dibaptis. Jadi, selama tinggal bersama ibunya, A dididik secara berkeyakinan berbeda, dia disekolahkan di Madrasah.

Jika hendak berangkat ke sekolah, A agak enggan berangkat. Selain itu wali kelasnya mengatakan bahwa A kurang bisa berelasi dengan teman-temannya. 

Saya berupaya membawa A ke psikolog. Saran psikolog tersebut: “A harus diterapi ke tempat keramaian dengan didampingi mentor selama empat bulan, biayanya sepuluh juta.” Mendengar itu saya mengurungkan niat saya karena saya tidak mempunyai dana sebesar itu.

Saya juga memperkenalkan A pada komunitas rohani anak muda, tetapi hasilnya sama saja.

Suatu hari saya dikenalkan dengan seorang dosen psikolog di Untag. Setelah konseling dengannya, ternyata IQ anak saya 79 dan MA 9. Mendengar itu saya sangat terkejut.

Lalu saya dianjurkan untuk bertemu dengan ibu Onne, pemilik komunitas ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Beliau menyarankan untuk mengikuti program terapi prilaku. 

Karena biaya mengikuti terapi itu tidak murah, maka saya menceritakan keadaan saya, beliau mau mengerti dan mau membantu anak saya.

Akhirnya anak saya keluar dari sekolah formal dan mengikuti kegiatan komunitas anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Dipertengahan bulan November 2014, tiba tiba istri saya menelpon mencari A. Katanya: “Mama mau menjalankan amanah suami mama untuk memberikan warisan kepadamu.”

Sejak saat itu terjadilah pemulihan hubungan antara A dan ibunya. Mereka hampir setiap hari saling melepas rindu karena sudah lima tahun tidak bertemu. Bahkan A menawari bisnis kosmetik kepada ibunya dan ibunya sangat mendukung kegiatan ini. Pertengah Januari 2015 team dari bisnis kosmetik berencana mengunjungi rumah ibu A di Jogya.

Sebelum bertemu dengan ibunya, saya persiapkan mental A. Kami mengikuti serangkaian retret awal dan retret luka batin di Tumpang. 

Setelah A mengikuti “retret pribadi” terjadilah sesuatu perubahan sikap yang luar biasa, dulu A seperti robot, tidak ada ekspresinya, tetapi sekarang sikapnya mulai terbuka.

O ... betapa indahnya ketika jiwa telah dipulihkan dari luka-luka batin sehingga dimampukan mengampuni. 

Akhirnya Tuhan memulihkan hubungan keluarga kami dan juga membuka tingkap-tingkap langit sehingga saya tidak perlu lagi berjualan pecel di pinggir jalan. Sungguh luar biasa didikan Tuhan Allah bagi kami, sungguh indah rencana-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 130/II /2016).

Seluruh perjalanan di padang gurun
dengan maksud
merendahkan hatimu dan mencobai engkau
untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu,
 yakni
apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Untuk membuat engkau mengerti
bahwa manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi
manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.
(Ul 8:2-3)

Jumat, 13 November 2015

Tuhan menguji




X, anak saya pulang dari HSM ditabrak lari oleh mobil. Orang-orang yang menyaksikannya melihat kalau dia kopral 3 x, tetapi dia tidak merasakan apa-apa. Dilihatnya sepeda motornya nggak apa-apa, dia langsung pulang sambil sakit-sakit. 


Sampai di rumah rasanya dia mau nangis karena bajunya robek dan berdarah; dia teriak-teriak memanggil mamanya, tetapi mamanya tidak ada, karena saya harus mengurus mama saya yang sakit, butuh darah.


Agak malam saya pulang dan melihat lututnya bengkak, saya langsung gemetar. Tanpa memikir saya ajak dia ke rumah sakit, tapi jawabnya: “Besok aja tak lihat dulu.” Akhirnya saya biarkan saja dan berdoa. 

Saya bingung mau doa apa, lalu saya ditegor Tuhan: “Mengapa engkau tidak memakai bahasa Roh?” Lutut X saya usap-usap dengan minyak tawon sambil berdoa berbahasa roh, saya disuruh Roh Kudus menekan lututnya yang bengkak sebanyak 3 x, dia merasakan sakit luar biasa. 

Besoknya saya diajak teman-teman yang baik hati untuk membawa X ke RKZ, ternyata hasil foto lutut yang dikuatirkan tidak ada apa-apa. 

Tetapi tangannya yang dipikir lecet-lecet biasa ternyata tangannya retak. Dokternya mengatakan dibalut aja sama karet kalau nggak mau digips oleh dokter tulang. 

Malamnya teman-teman HSM datang berdoa, saya ditegor teman-temannya: “Tangannya kok nggak di doakan tante?”

Kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan (Rm 8:26).

Setelah 1 minggu sejak kejadian itu dia harus melayani sebagai WL, karena dia dilatih untuk memimpin KRK. Meskipun keadaannya demikian dia tidak mengizinkan untuk digantikan orang lain, karena dia tahu visi yang telah diberikan Tuhan padanya.

Mengapa Tuhan mengizinkan X mengalami kecelakaan? 

Karena Tuhan menguji dia dan orang-orang sekitarnya, apakah dengan mengalami kejadian itu masih tetap setia melayani-Nya.

Ternyata Tuhan mempunyai rencana ... agar emosinya menurun pada saat dia memimpin KRK (mungkin dia merasakan kesakitan), sehingga semua yang hadir dapat merasakan hadirat Allah.

(Sumber: Warta KPI TL No. 45/I/2008).

Selasa, 10 November 2015

Kemuliaan Allah dinyatakan

Pada waktu melahirkan anak ke 3, ada masalah dengan matanya. Dokter mengatakan ‘small’ (kecil), tidak dapat terbuka karena pada waktu di kandungan, matanya tidak dapat berkembang. Mata yang satunya terbuka lebar, nggak apa-apa, anaknya lucu sekali.

Hati saya sebetulnya hancur, ketika melihat keadaan anak saya yang baru lahir ini. Saya takut dan menangis karena membayangkan ‘bagaimana dia menghadapi kehidupannya nanti’. 

Ketika saya melihat salib di RKZ, seakan-akan saya goncang sambil berteriak: “Tuhan, mengapa ini terjadi pada saya?”

Biasanya kalau anak berusia 40 hari, di depan matanya dimain-mainkan warna merah/disentolop, bola matanya akan berlari-lari mengikuti arah warna/sinar yang ada.

Selama 40 hari hati saya nggak karuan, menanti ... menanti ... 

Pada waktu saya main-mainkan selendang merah/disentolop matanya, bola mata anak saya diam saja/cuma satu arah; saya menangis nggak karuan dan berteriak-teriak; suami saya di luar kaget, lari masuk, saya tidak bisa berbicara apa-apa, cuma menangis sambil jongkok. 

Saya diangkat suami saya, dipepetkan ke tembok dan dipukul-pukul pipi saya sambil berkata: “Kamu sadar!” Akhirnya saya berhenti menangis karena kesakitan.

Tanpa pikir, saya gendong anak saya sambil berkata: “Ayo, kita ke dokter, kalau kamu nggak mau ngantar aku, aku naik becak sendiri.” Akhirnya saya naik becak dan diikutinya dari belakang. 

Sampai di dokter ditanya: “Sakit ... ya?” Jawab saya: “Ndak dok, anak saya sudah 40 hari kok ndak ada respon matanya.”

Dokternya memainkan sentolopnya dan bola mata anak saya ikut goyang-goyang mengikuti arah sinar.

Langsung anaknya saya gendong, lari ke depan, naik ke becak lagi.

Di situ saya menangis mengucapkan syukur: “Terima kasih Tuhan, walaupun matanya tidak sempurna, Engkau telah memberikan terang pada mata anak saya.”

Akhirnya ada suara: “Iya ..., selama 40 hari, kamu tidak pernah mengucapkan syukur, mana bisa dia mengeluarkan sinar.”

Tetapi ucapan syukur saya tidak berhenti di situ, karena meskipun mata anak saya yang satunya tidak sempurna, tetapi dia begitu percaya diri menjadi WL di HSM. 

Demikian juga ketika diwisuda, saya peluk dia sambil berkata: “Terima kasih engkau sudah bekerjasama sama mama.”

Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku (Mzm 138:1, 3).

(Sumber: Warta KPI TL No. 42/X/2007).

Rabu, 04 November 2015

Bagi Allah Tak Ada yang Mustahil

Lima tahun yang lalu, saya hadir di dalam suatu persekutuan doa, saya begitu tersentuh dengan kesaksian hidup Ibu pembawa firman. Pada saat itu dia berkata akan mengambil program S2 dan minta persetujuan suaminya. 

Saya kagum dengan pembawa firman itu, saya mau belajar dari dia, tetapi saya hanya tahu namanya saja. Saya berdoa dengan iman (Mrk 11:24): “Tuhan, kalau Engkau mengizinkan saya untuk bisa belajar dan bertemu lagi, pertemukan saya dengan dia.” 

Selain itu kalau saya bertemu dengan pasutri hamba Tuhan yang melayani secara bersama, saya berkata dalam hati: “Tuhan, saya juga kepingin seperti itu, kapan hal itu Engkau berikan pada saya.” 

Dua tahun yang lalu melalui seorang teman, janji tersebut digenapi dalam hidup saya; saya dipertemukan dengan kelompok KPI TL.

Saya percaya rencana Tuhan luar biasa dalam hidup saya, setiap peristiwa hidup yang Tuhan izinkan terjadi pasti di balik itu ada rencana-Nya yang indah agar kehendak-Nya terjadi.

Pada suatu Kamis, beliau menyatakan firmannya dalam Ef 5:22 “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”. 

Saya berkata dalam hati: “Ini firman yang berat bagi saya, tetapi kalau saya mau keluarga saya dipulihkan, saya harus berubah lebih dahulu, mau belajar ... dan mencoba ‘tunduk pada suami.”

Sejak itu kalau ada perselisihan, saya berusaha belajar diam. Ternyata Tuhan bekerja sungguh luar biasa, ketika saya belajar ... dan belajar ... ternyata Tuhan juga memproses suami saya. 

Dua bulan yang lalu, suatu pagi saya bangun, suami saya juga bangun. Dia bilang: “Lho..., kamu kok nggak berangkat adorasi?” Saya bilang: “Ayo ... ikut ...” Tetapi dia diam saja. Saya pikir ini mungkin adalah suatu kesempatan pada saya, lalu saya cepat-cepat siapkan perlengkapan mandi (biasanya tidak pernah saya lakukan). Saya lalu kembali masuk ke kamar dan mengatakan: “Ayo ... berangkat ikut adorasi ... slak dijemput sebentar lagi, ayo ... ayo ...” E ... ternyata bangun.

Saya percaya Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya (2 Ptr 3:9). Yang menurut saya ‘tidak mungkin mengajak suami berjaga-jaga menemani Yesus di dalam Sakramen Mahakudus, 1 jam dalam 1 minggu.

Di depan Sakramen Mahakudus saya menangis dan berkata: “Tuhan, Engkau sungguh luar biasa baiknya, yang menurut saya puluhan tahun, ... tetapi dalam waktu satu tahun hal tersebut sudah terjadi.”

Kalau pagi ini Engkau tarik dia, terus tariken ... Tuhan, saya tahu ini berat bagi kami, karena jam adorasi yang kami pilih adalah jam-jam berkat, tetapi saya percaya di balik itu akan ada berkat-berkat dalam kehidupan saya. 

Sekarang dalam rumah tangga saya jarang terjadi perselisihan pendapat dan damai sejahtera dalam keluarga Dia berikan terus ...

(Sumber: Warta KPI TL No. 40/VIII/2007).