Rabu, 08 Juli 2020

Apakah Kerajaan Allah sudah nampak dalam Gereja?

Gereja ada “supaya di dunia ini tercipta ruang bagi Allah, supaya Ia dapat tinggal di dalamnya dengan demikian, dunia menjadi “Kerajaan-Nya.” (Joseph Ratzinger). 

Dalam diri Yesus Kristus, Kerajaan Allah sungguh telah dimulai di tengah-tengah dunia. Di mana sakramen diberikan, dunia lama yang penuh dosa dan kematian dilemahkan sampai keakar-akarnya dan diubah. Maka mulailah ciptaan baru, kerajaan Allah nampak. 

Namun, sakramen tetap menjadi tanda yang kosong jika orang Kristen tidak mewujudkan hidup baru yang diberikan kepada mereka ke dalam tindakan yang auntetik. Orang tidak bisa menerima komuni sekaligus menolak memberikan roti kepada orang lain. Sakramen menuntut kasih “yang siap sedia untuk keluar dari dirinya dan pergi ke pinggiran, bukan hanya dalam arti geografis, tetapi juga ke pinggiran eksistensi manusia: dalam misteri dosa, penderitaan dan ketidakadilan; pengabaian dan ketidakacuhan terhadap agama; pemikiran intelektual; dan dalam segala bentuk kemiskinan.” (pidato Kardinal Bergoglio sebelum konklaf, 2013). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 182/VI/2020 » Docat 21: Kopendium ASG 49-51; Youcat 123-124).

Kriteria seorang diberi gelar Santo/Santa

Secara umum, mereka yang diberi gelar Santo/Santa adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh pelaksanaan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan mereka ini harus dapat dibuktikan oleh argumen-argumen dan disertai juga oleh mujizat-mujizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa orang kudus itu. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia adalah benar sahabat Allah. 

Para orang kudus (Santo/Santa) adalah orang-orang yang semasa hidupnya meneladani Kristus sampai ke titik yang heroik, demikian pula martir, yang bahkan mencontoh Kristus sampai kepada menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus. 

Oleh karena itulah, maka gelar Santa- Santo dan martir itu dapat dikatakan diperoleh karena hubungan mereka dengan Kristus, dan yang telah menerima kepenuhan misteri Paska Kristus, yaitu wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 182/VI/2020).

Selasa, 07 Juli 2020

03.32 -

Kasih yang menyembuhkan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30). 


Saya bertumbuh di tengah keluarga yang mengajarkan bagaimana hidup saling mengasihi dan peduli pada sesama. Ayah saya (A) adalah seorang yang penuh kasih, bijak dan sabar. Saya adalah anak yang terkecil dalam keluarga, seringkali saya berlari-lari ke pangkuan ayah saya. Meskipun beliau sibuk atau capek sepulang kerja, beliau tetap membuka tangannya dan memeluk saya. Kadangkala saya mengajaknya bermain bersama, saya pura-pura sebagai tukang cukur dan beliau sebagai pelanggannya. 

Saya sangat mengasihi ayah saya. Oleh karena itu setiap hari dengan hati sukacita saya selalu menunggunya pulang kerja, lalu saya membukakan sepatunya dan menggantikan dengan sandalnya. Kadangkala saya terpelanting saat hendak melepas sepatu yang besar dan berat bagi saya. Kejadian itu membuat kami berdua tertawa bersama. Itulah kenangan indah bersama ayah saya

Ketika saya berumur 9 tahun, saya diajak berlibur ke Solo dan saya dipertemukan dengan kedua orang tua kandung saya. Sejak saya mengetahui bahwa saya bukan anak kandung A, maka hati saya sangat hancur dan sulit menerima diri saya sendiri, apalagi orang lain. 

Meskipun hubungan keluarga A dan keluarga kandung saya baik, namun hati saya tidak bisa menerima kenyataan ini, tetapi saya tidak punya keberanian untuk bertanya “Mengapa orang tua saya membiarkan saya sendirian di Bandung sementara mereka berada di Solo?” Pekara itu saya simpan dalam hati saja ... tanpa jawaban dan tanpa penjelasan sampai ayah kandung dan ayah angkat saya meninggal. 

Akibat dari luka batin tersebut, di luar rumah, saya menjadi seorang anak yang tidak percaya diri, tertutup, suka murung, tidak suka bergaul, mudah tersinggung, dan sering sedih tanpa sebab. Namun, di dalam rumah biasa-biasa saja. 

Puji Tuhan, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari, yaitu Yesus Kristus, sahabat sejati dalam perjalanan hidup. Perjumpaan ini terjadi dalam sebuah retret luka batin. Pada saat sesi pembasuhan kaki, saya mencari orang yang figurnya dapat mewakili ayah kandung saya secara fisik/wajah, untuk saya basuh kakinya. 

Berkat rekonsiliasi dalam alam roh, saya merasakan kelegaan yang tiada tara. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus telah menjamah hati saya dan hati ayah kandung saya juga, meskipun beliau tidak hadir pada kegiatan tersebut. 

Sejak saat itu saya mengalami pembaharuan-pembaharuan di dalam roh (gemar membaca Kitab Suci, suka berdoa dan pujian penyembahan) sehingga saya dimampukan untuk mengampuni ayah kandung saya maupun orang lain yang melukai hati saya. Berkat rahmat-Nya, saya dimampukan untuk mengasihi mereka dengan kasih-Nya. Bahkan saya mulai masuk dalam pelayanan doa dalam komunitas Karismatik.

(Sumber: GPM, Maria)

Minggu, 14 Juni 2020

05.04 -

Kemampuan menyelesaikan konflik

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). 


Suatu kali sepasang suami istri melakukan perjalanan melewati sebuah gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar. Sang suami memarahi istrinya dengan kata-kata kasar. Lalu istri tersebut menulis di atas pasir, “Hari ini suamiku melukai hatiku.” 

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Sang istri senang melihat kolam mata air dan segera berenang di sana. Ia tidak menyadari air di situ sangatlah dalam dan hampir tenggelam. Beruntung suaminya segera melompat dan menolongnya

Setelah itu, ia menulis di atas batu, “Hari ini suamiku menyelamatkanku.” Suaminya pun penasaran dan bertanya, kenapa waktu dimarahi ia menulis di atas pasir, sedangkan waktu diselamatkan ia menuliskannya di atas batu? 

Istri ini pun menjawab, ketika ia disakiti, ia ingin segera melupakan dan memberikan maaf kepada suaminya. Namun ketika suaminya melakukan hal yang baik terhadapnya, ia akan menyimpannya di hati dan tidak akan melupakannya.

Setiap keluarga pasti pernah mengalami yang namanya konflik. Entah itu konflik suami istri, orangtua anak, ataupun mertua dan menantu. Sebab setiap kita diciptakan Tuhan berbeda satu dengan yang lain. 

Jadi wajar saja kita masih mengalami konflik karena perbedaan-perbedaan yang ada. Permasalahannya adalah bagimana kita mengatasi konflik dalam keluarga?

Keluarga yang tidak mengetahui cara menyelesaikan konflik akan mempunyai banyak masalah yang tidak terselesaikan, seperti: kekecewaan, kepahitan, sakit hati, iri hati, dendam dan kebencian. Hal ini bisa menimbulkan keretakan dalam keluarga, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran.

Sebaliknya, keluarga yang mengetahui bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik bisa melewati masalah, perbedaan, pertengkaran; bahkan bisa semakin bersatu, sehati sepikir, serta menjadi keluarga yang sukses dan bahagia. 

Ya, meskipun kita menyadari bahwa hidup manusia penuh dengan konflik, kita harus selalu belajar mengembangkan kemampuan menyelesaikan konflik yang ada supaya kita bisa membangun keluarga yang damai dan bahagia. 

Hidup manusia PENUH DENGAN KONFLIK, itu sebabnya kita perlu MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN untuk menyelesaikan konflik.

Bapa, terima kasih karena Engkau sudah menempatkan kami di tengah-tengah keluarga kami. Ajari kami untuk selalu hidup damai dengan keluarga kami. Bantu kami ketika keluarga kami sedang mengalami konflik, ya, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

(Renungan Keluarga Allah)

Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya

Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:5-6). 


Di akhir bulan Maret Tahun 2019, saya harus menyiapkan sebuah materi untuk suatu acara yang cukup besar. Karena kesibukan tersebut, saya meninggalkan sesaat untuk tidak berdoa Rosario dan tidak membaca Kitab Suci sesuai dengan bacaan Kitab Suci di grup MBA. Dalam hati saya berkata: “Tuhan, Engkau mengerti keadaanku. Saat ini aku sangat sibuk dan capai sehingga tidak ada waktu untuk berdoa maupun membaca Kitab Suci. Rasanya waktu 24 jam kurang!” 

Suatu hari saya mengganti sprei di kamar anak saya di lantai dua. Pada saat hendak turun ke lantai bawah, tiba-tiba saya terpeleset. Lalu saya berusaha memegang pegangan tangga agar tidak bertambah jatuh ke bawah. Akhirnya saya terhenti di pijakan kelima dari atas. Saat terjatuh, saya mendengar ada sesuatu yang patah. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka mata saya lebar-lebar untuk mengetahui apakah saya buta atau tidak. 

Semalam suntuk saya tidak bisa tidur. Oleh karena itu saya dibawa ke Rumah Sakit oleh suami saya untuk di-rontgen. Ternyata tulang ekor saya mengalami “dislokasi” (tulang bergeser dan keluar dari posisi normalnya). Dokternya berkata: “Apakah mau dioperasi tanpa pisau bedah atau minum obat nyeri saja? Jika tidak mau dioperasi sekarang, akibatnya akan terasa nyeri diusia tua.” Akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi. Proses operasi hanya berjalan sebentar, namun pemulihannya benar-benar panjang. 

Melalui kejadian ini, ada suara kecil yang berbicara dalam batin saya: “BEM, kemarin kamu berkata tidak ada waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Sekarang Aku sudah memberimu waktu yang banyak.” Mendengar teguran ini saya merasa malu dan memohon ampun pada Tuhan. 

Saya tahu bahwa kejadian itu diijinkan Tuhan agar saya tahu berterima kasih atas pengorbanan-Nya. Oleh karena itu saya berjuang untuk kembali memberikan waktu yang terbaik untuk berdoa dan membaca Kitab Suci seperti dulu. Saya berdoa: “ Tuhan, aku tahu Engkau telah menghajarku. Proses ini jangan terlalu lama, aku mau melayani-Mu. Aku sangat butuh kekuatan-Mu untuk melakukan semuanya.” Jadi, saya berjuang untuk tidak memikirkan sakitnya, tetapi melayani dengan sukacita seperti biasa. 

Tiga setengah bulan setelah kejadian itu, saya dan suami saya mengikuti seminar tentang “Kekuatan Doa” di Samarinda. Selama 3 jam duduk di dalam mobil, saya merasakan tulang ekor saya sakit sekali (perjalanan dari Balikpapan, rumah saya ke Samarinda). 

Puji Tuhan, sesi pertama seminar “teori tentang doa” dapat saya ikuti dengan baik meskipun duduk saya agak condong ke depan supaya tulang ekor saya tidak tertekan. 

Keesokan harinya peserta seminar dibagi dalam beberapa kelompok, tiap kelompok berisi 10 orang. Lalu Pak Tjendana memberikan instruksi agar setiap kelompok melakukan Pujian Penyembahan dan fokus mendengarkan Tuhan mau bicara apa, dan saling mendoakan. Saya berjuang fokus, namun saya tidak memperoleh penglihatan dan tidak merasakan apapun juga seperti biasanya. 

Tiba-tiba saya mendengar Sabda Pengetahuan: “Hai tulang-tulang! Mengapa engkau lemah?” Ketika saya mendengar sabda tersebut, saya sangat kaget dan saya langsung berteriak dalam hati: “Tuhan, tolong Tuhan, tulang ekor saya sakit sekali.” 

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, namun pada saat itu seperti melihat sebuah film, saya melihat seberkas sinar yang berasal dari seorang pria. Meskipun saya tidak dapat melihat dengan jelas wajah-Nya namun batin saya yakin bahwa pria itu adalah Tuhan Yesus. Dia seakan-akan menatap saya dengan tatapan kecewa sambil berkata: “Why BEM?” Ketika mendengar pertanyaan tersebut, ada penyesalan yang dalam, dalam hati saya. Tanpa sadar saya menangis sambil berkata: “Tuhan, ampunilah aku. Aku telah bersalah pada-Mu. Sekiranya Engkau berkenan, sakit tulang ekor ini janganlah terlalu lama sehingga aku bisa melayani-Mu, melayani suami dan anak-anakku dengan baik.” Seketika itu juga Tuhan Yesus mengangkat tangan-Nya dan menyembuhkan tulang ekor yang sakit. 

Melihat keadaan saya yang terus-menerus menangis di lantai, suami saya mengguncang-guncangkan tubuh saya sambil memanggil-manggil nama saya, akhirnya saya terbangun dari “resting in the spirit”. Waktu pulang ke Balikpapan, saya tidak merasakan sakit lagi. Sungguh, Tuhan adalah Tabib yang ajaib, Dia telah menyembuhkan saya dengan cara-Nya yang ajaib. 

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi menjadikan Tuhan seperti “Jinny oh Jinny” (sinetron, jika butuh saja baru dipanggil), saya tidak mau membuat Tuhan Yesus kecewa. Saya rindu melihat Tuhan Yesus selalu tersenyum pada saya, bahkan bangga melihat saya, yang mau berkomitmen untuk selalu menjalin hubungan dengan-Nya melalui doa dan membaca surat cinta-Nya. 

(Sumber: GPM, Marya BEM).

Sabtu, 13 Juni 2020

Peneguhan melalui sabda pengetahuan

Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah (Yes 30:1). 


Pada awal GPM terbentuk, ada kerinduan di hati saya untuk bergabung. Namun di pikiran saya: “Apakah aku bisa bangun pagi dan berkomitmen.” Ada juga keinginan untuk japri ibu Elly, namun niat baik tersebut juga tidak terlaksana. Oleh karena itu saya berdoa mohon Tuhan memberikan peneguhan dari teman-teman jika saya boleh bergabung dengan GPM.

Sebelum pertemuan KPI TL-ONLINE berlangsung (28 Mei 2020), saya berencana untuk tidak mengikutinya karena suami saya di rumah dan saya hendak memasak. Saya mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Ketika mengupas bawang, tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat untuk melihat HP dan ikut bergabung dengan line-voice KPI TL. 

Pada saat Pujian Penyembahan, Ibu Ivon mengucapkan sabda pengetahuan: “Ada seorang ibu yang masih ragu dengan komitmennya. Ingatlah! Tuhan rindu anak-anak-Nya selalu datang memuji dan menyembah-Nya.” Saya merasa bahwa sabda pengetahuan itu ditujukan pada saya. Oleh karena itu saya menangis sepanjang pertemuan itu. Setelah pertemuan, saya cepat-cepat menyelesaikan masakan saya sambil terus bergumul dalam hati, apakah benar sabda itu untuk saya?

Menjelang jam 2 siang, saya melihat WA. Ternyata jam 10.58 ada WA dari Ibu Cecil, yang bunyinya: “Desiii ... aku merasa Tuhan memanggilmu untuk bergabung di GPM.” 

Saat saya membaca WA tersebut saya menangis dan saya langsung menelpon ibu Cecil karena ingin mendengar peneguhan dari Tuhan, katanya: “Entah mengapa saat itu aku melihat wajah anggota di KPI TL-ONLINE, tiba-tiba mataku tertuju pada fotomu dan jantungku berdebar-debar, ada dorongan yang sangat kuat di hatiku untuk menyampaikan padamu bahwa kamu harus masuk grup GPM. Ketika saya mendengar ibu Ivon mengeluarkan sabda pengetahuan: ‘Ada seorang ibu yang Tuhan mau dia bergabung di GPM. Jangan ragu untuk tidak bisa berkomitmen.’ Ketika mendengar sabda pengetahuan itu, aku langsung WA kamu dengan tangan gemetar. Setelah aku menyampaikan kabar itu kepadamu, hatiku lega.” Setelah itu saya japri ibu Yovita minta ijin untuk dapat bergabung di GPM. 

Selama ikut GPM ini, saya sering mendapat teguran melalui renungan dan kesaksian yang diberikan. Semoga melalu GPM dapat terus meningkatkan iman saya dan membawa saya untuk mencintai Tuhan lebih dalam lagi.

(Sumber: GPM, Deasy).

08.08 -

Karunia Sabda Pengetahuan dan Nubuat



Karunia sabda pengetahuan dan nubuat adalah karunia Roh Kudus yang sangat berharga dalam pelayanan. Karunia ini akan sangat membantu dalam pelayanan konseling, terutama pelayanan penyembuhan batin, pertobatan, pembebasan, penyembuhan fisik, dan juga dalam kebangunan rohani atau KRK dll. Seperti dalam 1 Kor 12: 8b: “… kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.”

Melalui karunia ini Allah mengungkapkan suatu situasi khusus, yang sudah terjadi, atau apa yang sedang terjadi pada saat ini dalam sejarah hidup seseorang. 

Berkat pernyataan Allah itu, seseorang dapat menemukan akar persoalan, penyebab suatu kebekuan hati, dosa yang tersembunyi, atau pengetahuan suatu penyembuhan baik penyembuhan fisik maupun batin

Seringkali karunia ini dinyatakan lewat pikiran, berupa kata-kata, gambar/penglihatan (visiun), atau perasaan yang pasti (keyakinan). Kita memiliki kepastian tentang hal itu, walaupun kita tahu bahwa itu tidak berasal dari kita, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Contoh: pertobatan dan penyembuhan batin Wanita Samaria, oleh sabda pengetahuan Yesus.

Kisah Wanita Samaria (Yoh 4: 1-42)

Pada waktu panas terik dan suasana di sumur sudah sepi, Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub untuk menimba air. Mungkin ia pernah beberapa kali pergi ke sumur pagi-pagi bersama wanita-wanita lain yang menimba air, tetapi wanita-wanita yang berjumpa dengannya, selalu menatapnya dengan sikap penuh curiga dan kejijikan. Hal ini tentu menyedihkan ketika ia sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kehidupannya yang memalukan dan dia dikenal sebagai wanita pendosa, oleh sebab itu masyarakat sangat merendahkan dan menjauhi dia.

Pada siang terik itu, Yesus yang sangat letih oleh perjalanan, duduk di pinggir sumur. Wanita ini tak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan Yesus. Di tepi Sumur Yakub itu Yesus dan wanita Samaria bercakap-cakap dari hati ke hati. Dari pembicaraan itu, Yesus menyingkapkan seluruh rahasia kehidupannya. Ia mengenal dan mengetahui kehidupan pribadinya yang terdalam.

“Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggilah suamimu, dan datanglah ke sini.’ Kata perempuan itu: ‘Aku tidak punya suami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ Kata perempuan itu, ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.’” (Yoh 4: 16-18, Sabda pengetahuan Yesus)

Yesus sungguh Seorang Pribadi yang mengagumkan. Dia penuh kasih, lemah-lembut, dan murah hati, walaupun Ia mengetahui dosa-dosa yang telah diperbuat Wanita itu, namun Ia memancarkan kerahiman Allah yang menghangatkan hatinya yang beku. Ia menerima wanita itu apa adanya dan mengasihinya sehingga Ia tidak ingin wanita itu binasa oleh dosa-dosanya. Yesus melihat dalam diri Wanita Samaria ini suatu potensi untuk berubah, suatu potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Yesus memberi kesempatan kepadanya untuk bertumbuh dalam kasih. Tidak seperti masyarakat yang seringkali memberi cap-cap yang mematikan. Yesus memberikan kasih-Nya yang tanpa syarat, maka Wanita Samaria itu terpesona oleh-Nya dan menanggapi kasih-Nya.

Perjumpaan pribadi dengan-Nya pada hari itu menjadi awal pertobatannya, mengubah hidupnya, menyembuhkan batinnya yang terluka, perjumpaan dengan Yesus di siang hari itu memberikan kehidupan baru kepadanya.

Karena sukacitanya, Wanita Samaria ini menceritakan kepada orang-orang sekampungnya bahwa ia telah bertemu dengan Mesias dan banyak orang menjadi percaya kepada-Nya Yoh 4: 29: “Mari, lihat. Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat…”

Yesus mengetahui masa lalu dan seluruh kehidupan wanita Samaria itu. Yesus membuka seluruh rahasia hidupnya melalui sabda pengetahuan. Yesus menunjukkan dosa-dosa, kebobrokan moral dan kehancuran yang dialami dalam hidupnya. Yesus menerangi hatinya, bahwa wanita itu membutuhkan pertobatan, pengampunan dan penyembuhan. Kasih dan rahmat selalu ada tetapi kadang-kadang kehancuran dalam diri seseorang terlalu berat, sehingga menghambat masuknya kasih Tuhan secara penuh

Sabda pengetahuan adalah karunia Allah yang dapat membawa keluar luka-luka batin, trauma-trauma yang tersembunyi dan perasaan-perasaan negatif kepada terang Kristus, untuk disembuhkan dan dipulihkan. 

Buah karunia sabda pengetahuan:

Wanita Samaria ini menanggapi kasih Yesus, sehingga ia mengalami kesembuhan, iman yang lebih mendalam, damai dan sukacita, pengalaman kasih Allah yang memperbaharui hidupnya, kekuatan dan penghiburan Roh Kudus yang melampaui segala sesuatu, memaklumkan Yesus sebagai Tuhan, memuji dan menyembah Allah.

Hal-hal umum tentang karunia sabda pengetahuan:

Karunia sabda pengetahuan membantu kita dalam pelayanan untuk membebaskan umat dari belenggu dosa, dan luka-luka batinnyaMenemukan akar masalah yang tersembunyi di hati umat-Nya. Merupakan diagnosa Tuhan, manusia melihat bagian luar tetapi Tuhan melihat hati, keberadaan manusia diketahui Tuhan lahir batin.

Sabda pengetahuan penting untuk pelayanan penyembuhan batin: manusia 90% terdiri dari alam bawah sadar, tidak diketahui apa yang terjadi di sana, terkubur di bawah sadar, tetapi Tuhan tahu dan dapat melacak serta memberitahu kepada kita apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh orang itu, kita dibimbing untuk menemukan akar penyebab luka batin.

Karunia sabda pengetahuan erat kaitannya dengan karunia penyembuhan, amat mendukung untuk pelayanan penyembuhan, baik penyembuhan fisik maupun batin.

Sabda pengetahuan menyanggupkan pelayanan Yesus Kristus tersalur melalui kita, kita menjadi alat untuk menyalurkan kasih Tuhan.

Sabda pengetahuan mempunyai efek penginjilan: membawa banyak orang percaya kepada Yesus, Sang Juruselamat dunia.

Berbicara tentang sabda pengetahuan dan nubuat, mengingatkan pengalaman saya sewaktu mengikuti Retret Karunia Roh Kudus di Lembah Karmel setahun lalu. Dulunya saya sering mempunyai feeling (insting) yang kuat tentang sesuatu dan dengan selang waktu yang singkat sering terbukti kebenaran insting saya itu, tetapi saya sering bingung tentang arti dari insting tersebut. 

Saya disadarkan memiliki karunia sabda pengetahuan saat saya mengikuti pengarahan dari Suster sewaktu workshop karunia dalam retret. Pada waktu itu, peserta retret dibagi dalam kelompok dan diajak untuk membentuk satu lingkaran lalu kami saling mendoakan berdua-dua dengan meletakkan tangan pada orang di sebelah kanan saya. 

Orang yang saya doakan adalah seorang ibu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, dimana ibu itu terlihat muram dan menangis tersedu-sedu tanpa saya tahu penyebabnya. Kemudian, saya berdoa dalam hati dengan penuh kerinduan mau dipakai sebagai alat kecil Tuhan untuk menyampaikan sabda-Nya dan saya bertanya apa yang ingin Tuhan katakan pada ibu ini. 

Sewaktu saya masuk dalam keheningan dan mengarahkan diri pada Yesus, saya melihat dalam imaginasi iman bahwa ibu itu sedang marah-marah sambil menangis. Setelah itu, kami diajak untuk mensharingkan apa yang saya lihat tadi dengan orang yang saya doakan untuk menguji kebenarannya. 

Namun perlu diingat, bahwa cara penyampaian kita perlu bijaksana dan hati-hati dalam mengungkapkannya. Kemudian saya bertanya pada ibu itu: “Ibu, apakah ibu sedang marah dengan seseorang?” Lalu ibu itu menjawab: “Benar”. Kemudian saya berkata: “Tolong ampuni orang itu ya, Bu”. Lalu seketika ibu itu terlihat lebih tenang dan berhenti menangis, dia pelan-pelan menjawab: ”Iya, memang saya masih belum bisa mengampuninya”.

Hal serupa juga terjadi saat saya memperoleh karisma Nubuat. Dalam pertemuan sel khususnya saat sesudah senandung Bahasa Roh (saat hening), saya sering merasa terkagum sekaligus heran dengan teman-teman satu sel saya yang memiliki karunia bernubuat. Mereka dapat menyampaikan suatu pesan dengan kalimat yang cukup panjang terkadang berupa cuplikan ayat Kitab Suci yang membawa efek menenangkan ataupun menampar saya karena yang mereka sampaikan sesuai dengan kondisi saya saat itu. 

Awalnya saya menutup diri dengan berkata dalam hati bahwa saya tidak mungkin bisa seperti mereka. Suatu ketika, saya berada dalam pertemuan sel yang anggotanya cukup pasif dalam penyampaian nubuat ataupun sabda pengetahuan. Hal ini mendorong saya untuk berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mau memakai saya jika Dia ingin menyampaikan Sabda-Nya. 

Dalam keheningan doa dalam sel, suatu kali saya melihat sebuah kata “Serahkanlah” dan seketika itu saya melihat kata-kata itu ditujukan untuk salah satu teman sel saya yang terlihat murung. Meskipun ada rasa ragu dan takut yang sering mengganggu, saya merasa ada dorongan kuat untuk menyampaikan hal itu. Kemudian dengan iman, saya berani melangkah untuk berkata-kata dengan tegas: “Serahkanlah kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Dialah yang memelihara kamu”. Setelah menyampaikan nubuat itu, barulah saya merasa sedikit lega. 

Saya menyadari bahwa hal itu sungguh berasal dari Tuhan ketika sesi sharing, teman saya yang ada dalam penglihatan saya tadi berkata: “Sewaktu kamu menyampaikan kalimat Serahkanlah kekuatiranmu pada Tuhan, saya merasakan ada kedamaian dalam hati karena memang sebelumnya saya sedang mengalami banyak kekuatiran dan ketakutan, Terima kasih ya”. 

Dan sharing dari teman saya tentang apa yang dia rasakan ini yang meneguhkan saya untuk menyadari karunia ini dan mau merindukannya untuk dipakai dalam membangun jemaat (dalam hal ini teman satu sel).

Bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menerima karunia ini? 
- Memupuk hubungan pribadi dengan Tuhan agar kita menjadi lebih peka.
- Membaca dan mempelajari buku mengenai karunia-karunia Roh Kudus, mendambakannya, juga mendengarkan sharing-sharing dari orang-orang yang sudah berpengalaman dalam karunia ini
- Berdoa mohon kepada Tuhan agar diberi karunia ini, serta berani bertindak atau melangkah dalam iman.