Senin, 30 Desember 2019

21.48 -

Yoh 10:22-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 24 April 2018: Hari Biasa Pekan IV Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 11:19-26; Mzm 87:1-3, 4-5, 6-7; Yoh 10:22-30


Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.

Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami."

Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-ku. 

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (*) Aku dan Bapa adalah satu."


Renungan


1. Mengenal kehendak Allah

Orang-orang Yahudi sudah lelah berada di bawah penjajahan bangsa Romawi. Mereka amat menantikan hadirnya seorang Mesias yang akan membebaskan mereka dari penjajah Romawi itu. Namun jawaban yang keluar dari bibir Yesus adalah “(*).”

Jawaban Yesus tersebut sama artinya dengan mengatakan bahwa Diri-Nya adalah Allah. Karena jawaban Yesus ini, mereka bukan saja amat kecewa, tetapi juga tersinggung dan marah.

Seringkali pikiran manusia berbeda dengan pikiran Allah. Manusia memang tidak bisa dilarang untuk menjadi kecewa, namun dilain pihak manusia diundang untuk makin mengenal Allah sehingga makin mengenal kehendak-Nya atas diri kita.


04.17 -

Yoh 13:16-20

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya

 
Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 26 April 2018: Hari Biasa Pekan IV Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 13:13-25; Mzm 89:2-3, 21-22, 25, 27; Yoh 13:16-20


Aku berkata kepadamu: (*) Sesungguhnya seorang "hamba" tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang "utusan" dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."


Renungan


1. Semangat melayani sebagai tanda kasih

Yesus membasuh kaki para murid-Nya sebagai wujud cinta kasih-Nya sampai tuntas. Untuk mempertegas pelayanan-Nya bagi manusia Yesus berkata: "(*)." Yesus adalah Tuhan tetapi menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai Hamba dan Utusan. Inilah cara Tuhan merendahkan diri-Nya bagi kita. 

Di dalam sejarah Gereja, semangat pelayanan dan perutusan ini diwujudkan dalam kerelaan misioner seperti para rasul (Paulus dan Barnabas).

Tugas kita adalah mengambil segala sesuatu yang Yesus miliki terutama semangat melayani sesama sebagai tanda kasih untuk kita hayati dalam kehidupan setiap hari


Minggu, 29 Desember 2019

Kis 14:19-28

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 1 Mei 2018: Hari Biasa Pekan V Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 14:19-28; Mzm 145:10-11; 12-13ab, 21; Yoh 14:27-31a


Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu (1) mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.

Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu (2) mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.

Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu (3) menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

Mereka menjelajah seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia, di pantai. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan.

(4) Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. (5) Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu.


Renungan


1. Hamba Tuhan sejati

Maju terus, pantang mundur!” demikianlah kira-kira semangat Paulus dan Barnabas dalam pemberitaan Injil. Sebagai hamba Tuhan:

(1) Penganiayaan yang mereka telah alami tidak membuat mereka trauma. 

Tuhan mengizinkan musuh iman menghadang kita agar kita belajar bagaimana menggunakan senjata Allah dan tetap tegak dalam iman. Melalui pencobaan kita belajar berserah pada Allah dan tak bergantung pada diri sendiri.

(2) Mereka menguatkan hati orang yang telah percaya Tuhan agar tetap setia bila mengalami sengsara. 

(3) Menolong jemaat untuk hidup sebagai komunitas orang beriman yang terorganisir di bawah kepemimpinan penatua.

(4) Mereka bertanggung jawab kepada jemaat yang mengutus mereka. Mereka melaporkan segala sesuatu yang Allah telah lakukan bersama mereka.

Mereka memuliakan Allah atas segala sesuatu yang Allah telah lakukan melalui mereka. Mereka pergi karena kasih karunia Allah dan karena kasih karunia pula mereka dapat menyelesaikan tugas mereka.

(5) Mereka tahu kapan harus beristirahat dan mengisi kembali “baterai” rohaninya sebelum mereka harus pergi untuk pelayanan yang berikutnya.

Setiap orang beriman tentu harus memiliki hati seorang hamba Tuhan, walaupun kita tidak bekerja di bidang kerohanian. Belajar dari Paulus dan Barnabas, milikilah sikap bertanggung jawab terhadap apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan muliakanlah Allah melalui apa yang kita lakukan.


23.07 -

Yoh 15:1-8

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 2 Mei 2018: PW St. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 15:1-6; Mzm 122:1-2, 3-4a, 4b-5; Yoh 15:1-8; RUybs.

Minggu, 29 April 2018: Hari Minggu Paskah V - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 9:26-31; Mzm 22:26b-27, 28, 30, 31-32; 1 Yoh 3:18-24; Yoh 15:1-8


"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."


Renungan


1. Berbuah kekudusan

Ranting selalu menempel dan menyatu dengan pokok pohon, sehingga bisa berbuah. Berbuah yang dimaksudkan dalam Injil hari ini adalah kekudusan suatu kehidupan yang menghasilkan buah karena persatuannya dengan Kristus (KGK 2074).

Berkat Sakramen Pembaptisan, kita telah menyatu padu dengan Yesus, sang pokok anggur. Kualitas hidup kita diukur dari kualitas relasi yang intensif dengan Yesus.

Oleh karena itu, janganlah memisahkan diri dari Yesus. Sebab, terpisah dari Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa; kita tidak berbuah kekudusan.


2. Membangun relasi yang intim dan akrab

Dengan menjadi seorang Kristen, pertama-tama kita diundang untuk membangun relasi dan keakraban dengan Tuhan, sebagai hal yang paling mendasar dalam kehidupan rohani seseorang.

Dalam membangun relasi, hal yang paling mendasar adalah suatu perjumpaan. Tanpa perjumpaan, relasi tak akan pernah terjadi. Dalam "doa" kita berjumpa dengan Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya.

Membangun relasi yang intim dan akrab diperlukan juga pengenalan yang mendalam, bukan hanya pengenalan yang supervisial. Bagaimana kita dapat mengenal Yesus lebih dalam? Tidak ada cara lain untuk mengenal Yesus lebih dalam selain "membaca dan merenungkan Kitab Suci" dengan setia. 

Dengan merayakan "Sakramen-sakramen Gereja", terutama Sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi, kita akan mengalami perjumpaan dengan Yesus sendiri secara pribadi.

Semoga relasi kita dengan Tuhan makin hari makin intim dan akrab sehingga hidup kita akan berbuah manis. Buah manis itu akan dapat dinikmati oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, mereka akan memuliakan Bapa kita yang ada di sorga dan kita pun pantas disebut murid-murid-Nya.

22.48 -

Yoh 15:12-17

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Jumat, 4 Mei 2018: Hari Biasa Pekan V Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 15:22-31; Mzm 57:8-9, 10-12; Yoh 15:12-17


Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."


Renungan


1. Kita dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan

Tuhan menyapa kita bukan sebagai hamba karena Dia memberi martabat baru kepada kita sebagai sahabat-Nya. 

Yesus adalah sumber cinta kasih yang benar. Dia tidak hanya berbicara bahwa Dia mengasihi kita tetapi Dia juga berkurban untuk mewujudkan cinta kasih-Nya itu. 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya pandai berteori tentang cinta tetapi tidak mampu melakukannya dalam perbuatan dan kebenaran? Pandanglah Yesus tersalib dan lihatlah dengan iman sungai kasih-Nya.

Kita semua juga diajak untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Mengapa? Karena kita masuk dalam rencana Allah: Dialah yang memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah yang banyak. Buah yang dimaksudkan adalah iman semakin berkembang, cinta kasih semakin subur dan harapan akan keselamatan dari Tuhan semakin besar.

Memilih dan menetapkan adalah karya Tuhan bagi setiap orang. Lebih lagi ketika kita merenungkan sakramen pembaptisan sebagai saat awal kita dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan menjadi orang kudus-Nya.


22.26 -

Yoh 15:18-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 5 Mei 2018: Hari Biasa Pekan V Paskah - Tahun B/II (Putih
Bacaan: Kis 16:1-10; Mzm 100:1-2, 3, 5; Yoh 15:18-21


"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.


Renungan


1. Konsekuensi mengikuti Yesus

Setiap orang dipanggil dan diutus sesuai dengan bidang kehidupan yang digelutinya. Perutusan kita, baik dalam panggilan hidup berkeluarga, karier, maupun sebagai imam dan biarawan/ti, tentu tidak mulus-mulus dan aman-aman saja. 

Banyak tantangan yang harus kita hadapi ketika kita mulai menghayati cara hidup kristiani dengan lebih bertanggungjawab, penuh cinta, jujur, rendah hati, dan sabar. Misalnya: dibenci dan dikucilkan bila melakukan sesuatu yang baik dan benar, diremehkan, tidak dipercaya, dan seterusnya.

Pengalaman itu sangat menyakitkan. Namun, apakah kita berani menerimanya sebagai anugerah untuk mendewasakan hidup rohani kita? Kedewasaan hidup sesorang bukan terletak pada pendidikan tinggi yang dimilikinya, melainkan pada cara menyikapi dan menerima semua pengalaman hidup, baik yang menyakitkan maupun yang menggembirakan itu sebagai anugerah.

Itulah konsekuensi mengikuti Yesus. Kalau Yesus, guru dan Tuhan kita mengalami kebencian dan dianiaya, maka kita pengikut-Nya harus berani juga mengalami hal serupa. 

Hanya satu yang perlu kita imani, yaitu: Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Dia akan senantiasa menyertai dan memberi kekuatan kepada kita.


22.03 -

Yoh 15:26 - 16:4a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 7 Mei 2018: Hari Biasa Pekan VI Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 16:11-15; Mzm 149:1-2, 3-4, 5-6a, 9b; Yoh 15:26 - 16:4a


(1) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

Mereka akan berbuat demikian, karena (2) mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.


Renungan


1. Peranan Roh Kudus

(1) Para rasul dan seluruh umat beriman kapanpun dan dimanapun, kita semua tidak akan menghadapi perlawanan itu sendiri, karena Roh Kebenaran akan bersaksi tentang Tuhan Yesus. Segala kesusahan yang akan kita alami diimbangi dengan kehadiran dan karya Roh Kebenaran. Dia akan bersaksi tentang Tuhan Yesus.

Kesaksian Roh Kebenaran diperlukan secara mutlak, tetapi murid-murid-Nya harus juga bersaksi. mengkisahkan hubungan yang erat antara kesaksian murid-murid-Nya dan kesaksian Roh Allah.

(2) Dosa membutakan mata rohani seseorang untuk mengenal Yesus. Roh Kudus akan mencelikkan mata rohani orang tersebut.

Roh Kudus adalah sumber kita bertumbuh ke arah Kristus dan dengan setia mengiring Dia. Oleh kesaksian Roh Kudus, dari banyak orang yang membenci pengikut Yesus, pasti ada orang-orang yang diinsyafkan dan diselamatkan!

Sekarang ini, tugas pengabaran Injil dan kesaksian pelayanan lebih luas ada di pundak kita. Namun, keberhasilan penginjilan kita maupun kontribusi kita untuk menyatakan kebenaran pada dunia ini ada pada kuasa dan otoritas Roh Kudus. Hanya Dia yang bisa menginsyafkan manusia berdosa akan dosa-dosanya. Yang dituntut dari kita adalah kesetiaan dan keberanian untuk menyaksikan Kristus!