Minggu, 30 Juni 2019

19.50 -

Mat 16:13-19

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 22 Februari 2018: Pesta Takhta St. Petrus, Rasul - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: 1 Ptr 5:1-4; Mzm 23:1-3a, 3b-4, 5, 6; Mat 16:13-19

Sabtu, 29 Juni 2019: Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: Kis 12:1-11; Mzm 34:2-3, 4-5, 6-7, 8-9; 2 Tim 4:6-8, 17-18; Mat 16:13-19


Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 

(*) Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."


Renungan


1. Bertobat dan terbuka, Tuhan akan mendidik kita

Hari ini kita merayakan dua rasul besar dalam Perjanjian Baru: Petrus sang pemimpin para rasul dan Paulus sang misionaris bangsa-bangsa. 

Petrus menjalankan mandat Yesus sebagai pemimpin Gereja (*) dari Yerusalem menuju ke Roma, sedangkan Paulus dengan kegiatan misinya membuat banyak bangsa dari Asia dan Eropa bertobat (2 Tim 4:17).

Keduanya bekerjasama sebagai pimpinan umat setelah peristiwa Kenaikan Yesus ke Sorga. Menurut tradisi, keduanya wafat di Roma sebagai martir di bawah kepemimpinan Nero: Paulus dipenggal, Petrus disalibkan. Sampai saat ini, tahta Petrus masih berlangsung dan semangat misi Paulus kepada bangsa-bangsa juga masih meresapi Gereja.

Menarik apabila kita merenungkan perjalanan hidup kedua rasul besar ini. Mereka tokoh besar yang punya kelemahan di masa lalu. 

Petrus terkenal karena perkataannya yang penuh semangat, tetapi ketika Yesus menderita, dia menyembunyikan diri dan menyangkal Yesus 3x. Paulus yang menguasai Kitab Taurat sejak muda memiliki peran dalam penganiayaan dan pengejaran orang-orang Kristen, termasuk persetujuannya membunuh Stefanus (Kis 8:1-3). Petrus dan Paulus memiliki kelemahan di masa lalu, Tuhan mempertobatkan dan mendidik mereka sampai mereka menjadi rasul-rasul yang berani.

Jadi, kalau kita mau bertobat dan membuka diri, Tuhan juga akan mendidik kita seperti yang Ia kerjakan pada Santo Petrus dan Paulus.


2. Pesta Takhta St. Petrus

Mengapa kita merayakan pesta Takhta St. Petrus? Menurut cerita lisan yang beredar di kalangan gereja, St. Petrus yang diberi kuasa oleh Yesus untuk memimpin Gereja dengan mendirikan dua buah tahkta keuskupan.

Yang pertama didirikan di Antiokhia, di tengah-tengah kaum Yahudi dan orang orang kafir pada tahun 35. Disana Petrus memimpin jemaatnya selama tujuh tahun. Setelah dua kali mengunjungi Roma, maka pada tahun 65 ia menetap disana sebagai Uskup pertama.

Maksud pesta Tahkta suci Santo Petrus adalah untuk menghormati Petrus sebagai Wakil Kristus dan gembala tertinggi gereja yang mempunyai kuasa rohani atas segenap anggota gereja dan semua gereja setempat. Kuasa Petrus ini yang lazim disebut Primat Petrus – diberikan langsung oleh Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga (Yoh 21:15-19).

Kisah panggilan Petrus menjadi murid Yesus hingga terpilih menjadi pemimpin jemaat adalah sesuai rencana dan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus sendiri yang mengundang Simon Petrus dan memberi kuasa kepadanya untuk menjadi abdi dan pelayan bagi para rasul dan seluruh Gereja.

Kita merayakan Pesta Takhta Suci berarti merayakan Martabat kepausan. Takhta biasa disebut cathedra, tempat duduk bagi Uskup untuk melayani, mempersatukan dan mengajar umat Allah di keusukupannya. Itu sebabnya kita mengenal Gereja Katedral yakni bangunan Gereja di mana terdapat kursi atau Takhta dari uskup setempat.

Uskup sebagai pemersatu dan pelindung seluruh gereja lokal atau keuskupannya. Paus adalah Uskup di Roma. Ketika ia duduk di Takhtanya, ia juga melayani, mengajar dan mempersatukan seluruh Gereja universal. Paus adalah servus servorum Dei (hamba dari para hamba Allah).

Petrus dalam bacaan hari ini mengingatkan para penatua, khususnya pengganti rasul-rasul untuk menggembalakan kawanan domba Allah yang telah dipercayakan kepada mereka, bukan dengan terpaksa tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, bukan untuk mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian diri (1 Ptr 5:2).

Pesan Petrus bagi para penatua masih aktual hingga saat ini. Sebuah pesan yang sangat menantang bagi para gembala. Artinya bahwa dalam menjalankan tugas kegembalaan, para gembala haruslah menjalaninya dengan sukarela sesuai kehendak Allah dan tidak mencari keuntungan, popularitas dan lain sebagainya. Para gembala membawa umat Allah kepada Kristus bukan bagi dirinya sendiri.

Para gembala menurut Petrus, bukanlah orang yang berbuat seolah-olah mau memerintah dengan kuasa penuh, dengan tangan besi, tetapi menjadi teladan bagi kawanan domba. Gembala yang baik bagi kawanan domba selalu mencari domba untuk melayani dan menyelamatkan.

19.22 -

Luk 9:51-62

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 30 Juni 2019: Hari Minggu Biasa XIII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 1 Raj 19:16b, 19-21; Mzm 16:1-2a, 5, 7-8, 9-10, 11; Gal 5:1, 13-18; Luk 9:51-62


Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."

Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." 

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana."

Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."


Renungan


1. Pengalaman cinta mengikuti Yesus

Mengikuti Yesus adalah sebuah perjuangan tanpa henti. Dalam perjuangan itu, mungkin kita seringkali jatuh, tetapi jangan menyerah. Teruslah bangkit dan bangkit karena orang yang tidak takut jatuh dan mau bangkit lagi akan menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Dalam perjuangan itu, kita meski yakin bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita dalam pencarian iman kita. Dia tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Dia akan memberikan rahmat-rahmat-Nya yang kita butuhkan dalam perjuangan iman kita.

Mengikuti Yesus adalah sebuah pengalaman penuh cinta. Dalam mengikuti Yesus, kita kadang merasa bahwa Dia begitu dekat dengan kita. Tetapi, kita seringkali juga merasa bahwa Dia begitu jauh atau telah meninggalkan kita. Inilah pengalaman cinta.

Cinta kita kepada Yesus akan diuji oleh ruang dan waktu. Apakah kita mau tetap setia terhadap-Nya dalam saat susah dan sulit hidup? Ataukah kita hanya setia kepada-Nya pada saat kita mengalami situasi yang menyenangkan? Apakah kita mau datang kepada-Nya dengan penuh cinta?



Daftar bidaah-bidaah dan janji Yesus kepada Gereja Katolik



Gereja Katolik melawan semua bidaah, dapat bertempur, tidak pernah terkalahkan. Semua bidaah keluar sebagai ranting yang tidak berguna, terpotong dari pokok anggur. Gereja Katolik tetap berakar, tumbuh dalam pokoknya, dalam cinta kasih (Indonesian Papist).

Sekalipun Gereja terdiri dari orang-orang pendosa dan orang-orang Kudus (Mat 5:13-16 ; 7:15-23 ; 10:1-4 ; 13:1-9,24-50 ; 26:69-75 ; Mrk 3:19 ; Luk 22:54-62 ; Yoh 6:70 ; Yoh 18:2-4), Allah berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18) dan Allah berjanji bahwa Dia akan menjaganya dari kesesatan (Yoh 16:13 ; 1 Tim 3:15). Allah memang teguh memegang janji-Nya. Sampai sekarang Gereja Katolik tetap konsisten pada ajaran-ajaran Kristus yang disampaikan melalui Gereja.

Allah menganugerahkan Magisterium yang terdiri dari Paus bersama Uskup-uskup yang bersatu dengan Paus bagi Gereja Katolik. Paus adalah suksesor / pengganti St. Petrus, sedangkan Uskup-uskup adalah suksesor Para Rasul.

Berikut ini adalah daftar dan penjelasan singkat bidaah-bidaah yang berusaha menguasai Gereja tapi gagal.

Docetisme (abad ke-1): Bidaah ini menolak kodrat manusia dari Yesus Kristus.

Gnostikisme (abad ke-1): Bidaah ini adalah percampuran antara Kekristenan, agama-agama timur dan filosofi Yunani. Menurut bidaah ini, pengetahuan keselamatan hanya diperuntukkan bagi yang terpilih saja. Semua materi adalah iblis dan spirit adalah baik. Perkawinan ditolak karena menghasilkan materi, yaitu anak-anak.

Gnostikisme Basilides (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan: 

a) Hanya beberapa orang yang boleh memiliki pengetahuan (gnosis) yang diperlukan untuk keselamatan. b) Hanya jiwa saja yang ditebus, sedangkan tubuh tetap korup. 

c) Penolakan bahwa Yesus yang disalib dan hanya menekankan bahwa Yesus satu-satunya yang diutus oleh Bapa.

Gnostikisme Valentinus (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa aeon Kristus sendiri bersatu dengan manusia Kristus untuk membawa pengetahuan rahasia bagi yang terpilih, kaum Gnostik. Pengetahuan rahasia ini digunakan saat pembebasan jiwa dari tubuh sehingga jiwa dapat memasuki alam spiritual setelah kematian.

Gnostikisme Ptolomeus (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Hukum-hukum Perjanjian Lama adalah produk dari Demiurgos (Pencipta dunia) yang bukan merupakan Allah tertinggi ataupun Iblis. Demiurgos tidak sempurna seperti Allah Tertinggi (Supreme God) bukan juga pencipta kesesatan seperti Iblis. Demiurgos ini diketahui sebagai pencipta dunia, pencipta materi yang memerangkap jiwa di dalam tubuh.

Marcionisme (abad ke-2): Bidaah ini menolak validitas / keabsahan Perjanjian Lama.

Montanisme (abad ke-2): Bidaah ini percaya akan kerajaan 1000 tahun (Millenarianisme) dan mengajarkan bahwa dosa berat (mortal sin) tidak dapat diampuni. Banyak dari kaum montanis menolak menikah karena kepercayaan akan imminent return of Christ.

Modalisme (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Bapa, Putera, dan Roh Kudus sederhananya adalah cara kehadiran dari 1 Pribadi Ilahi. Dengan kata lain, bidaah ini mengajarkan bahwa Allah itu Satu dan hanya memiliki Satu Pribadi sedangkan Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah cara kehadiran dari Allah yang satu itu.. Tentang Pengajaran Gereja Katolik mengenai Tritunggal dapat ditemukan di dalam Katekismus Gereja Katolik (silahkan klik link ini).

Monarkianisme (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya adalah manusia saja yang pada suatu ketika (yaitu saat pembaptisan-Nya di Sungai Yordan) menerima daya ilahi (divine power)

Subordinasionisme (abad ke-2): Bidaah ini memandang Yesus sebagai yang tidak setara (not co-equal) dengan Bapa.

Sabelianisme (abad ke-3): Bidaah ini menolak pembedaan antara Pribadi Bapa dengan Pribadi Putera.

Patripassionisme (abad ke-3): Bidaah ini mengajarkan bahwa adalah Bapa, dengan kedok Putera, yang sesungguhnya menderita dan disalibkan.

Novasianisme (abad ke-3): Bidaah ini menyatakan bahwa pendosa berat tidak dapat diterima kembali ke dalam Gereja Katolik.

Manikeisme (abad ke-3): Bidaah ini mengajarkan adanya 2 sumber abadi yang setara yang hadir sebelum dunia tercipta; Yang baik dan yang jahat, satu spirit dan satu materi, satu cahaya dan satu kegelapan.

Arianisme (abad ke-4): Bidaah ini menolak keilahian Yesus Kristus dan Tritunggal Mahakudus. Arianisme ini dipandang sebagai bidaah terbesar yang pernah dihadapi Gereja Katolik. Tidak seperti Protestantisme yang muncul di Gereja Barat, Arianisme muncul baik di Gereja di Barat maupun Gereja di Timur dalam berbagai bentuk seperti Semi-Arianisme, Eunomianisme dan sebagainya.

Pneumatomakisme / Pembunuh Roh Kudus (Abad ke-4): Bidaah ini menolak keilahian Roh Kudus dan dengan demikian juga menolak Tritunggal Mahakudus.

Eunomianisme (Abad ke-4): Bidaah ini adalah bentuk radikal dari Arianisme yang menolak keilahian Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Donatisme (abad ke-4): Donatisme mengajarkan bahwa pendosa berat (mortal sinner) tidak dapat diterima kembali ke dalam Gereja Katolik dan sakramen yang diberikan oleh kaum tertahbis yang berada dalam keadaan berdosa berat merupakan sakramen yang tidak sah.

Priskilianisme (abad ke-4): Bidaah ini merupakan percampuran Manikeisme, Docetisme, dan Modalisme. Bidaah ini menolak preeksistensi Allah Putera sebelum segala abad dan menolak kemanusiaan Allah Putera.

Monofisitisme (abad ke-5): Bidaah ini mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat yaitu yang Ilahi saja. Menurut bidaah ini, kodrat manusia Yesus telah diserap hingga hilang oleh kodrat Ilahi-Nya.

Nestorianisme (abad ke-5): Bidaah ini mengajarkan bahwa Pribadi manusia Yesus dan Pribadi Allah Putera adalah dua pribadi yang berbeda yang bersatu di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua Pribadi dengan dua kodrat. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah satu Pribadi dengan dua kodrat, Allah dan Manusia. Bidaah ini juga menolak gelar Bunda Allah terhadap Bunda Maria. Bidaah ini mengajarkan bahwa Maria hanya melahirkan manusia Yesus sebagai Temple of God the Son, sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus bukan sebagai Temple of God the Son melainkan adalah sungguh-sungguh Allah yang mengambil kodrat manusia (ber-inkarnasi) tanpa kehilangan kodrat Ilahi-Nya. Dengan kata lain, Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus yang adalah sungguh-sungguh Allah sungguh-sungguh manusia, bukan sekadar Temple of God the Son. Bidaah Nestorianisme adalah serangan terhadap ajaran Gereja Katolik akan Inkarnasi Sang Allah Putera.

Pelagianisme (abad ke-5): Bidaah ini menolak eksistensi dosa asal (original sin). Bidaah ini juga mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan keselamatan dengan perbuatan-perbuatan tanpa rahmat atau Gereja.

Tradusianisme (abad ke-5): Bidaah ini memandang jiwa manusia tidak diciptakan oleh Allah secara langsung melainkan berasal dari orang tuanya dengan cara yang sama seperti tubuh manusia.

Monotelitisme (abad ke-7): Bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus hanya memiliki satu kehendak yaitu kehendak Ilahi saja, sedangkan kehendak manusianya tidak ada.

Paulisianisme (abad ke-7): Bidaah ini menolak eksistensi hierarki Gereja, sakramen Baptis, sakramen Ekaristi dan sakramen Perkawinan. Bidaah ini juga menolak Perjanjian Lama dan beberapa bagian Perjanjian Baru.

Ikonoklasme (abad ke-8 dan ke-9): Bidaah ini menolak penggunaan ikon-ikon dan mengatakan penggunaan ikon tersebut sebagai penyembahan berhala.

Albigensianisme (abad ke-11): Bidaah ini menolak otoritas Gereja, sakramen-sakramen Gereja dan kuasa pemerintah sipil untuk menghukum kriminil-kriminil. Bidaah ini memandang materi sebagai yang jahat. Bidaah ini juga mengajarkan bunuh diri sebagai cara terbaik untuk membebaskan diri dari tubuh yang jahat.

Katarianisme (abad ke-11): Bidaah ini menolak pembaptisan dan perkawinan. Mereka memandang tubuh dan materi sebagai yang jahat.

Waldesianisme (abad ke-11): Bidaah ini mempertanyakan sejumlah sakramen-sakramen Gereja. Mereka menolak validitas sakramen-sakramen yang diberikan oleh pelayan sakramen yang tidak layak. Bidaah ini juga menolak api penyucian dan devosi kepada orang-orang Kudus.

Lollardisme (abad ke-14): Bidaah ini menolak dogma Transubstansiasi (Perubahan Substansi) dengan mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekarisi adalah kehadiran spiritual bukan kehadiran nyata. Sedangkan Gereja Katolik dengan tegas mengajarkan bahwa kehadiran Yesus dalam Ekaristi adalah Kehadiran Nyata, substansi roti dan anggur berubah menjadi sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus ketika konsekrasi. Bidaah ini juga menolak peran Imam sebagai perantara sekunder (secondary mediator) kepada Kristus.

Hussitisme (abad ke-15): Hussitisme menolak Sakramen Pertobatan, Komuni satu rupa dan penghukuman terhadap pelecehan indulgensi.

Protestantisme (abad ke-16): Protestantisme memiliki banyak denominasi sehingga sulit mendeskripsikan keseluruhan sistem kepercayaan mereka secara akurat. Sebagai contoh ada denominasi Protestan yang menerima ajaran mengenai Tritunggal Mahakudus, ada juga yang tidak menerima seperti denominasi Oneness Pentecostal. Lalu, mayoritas denominasi Protestan menerima ajaran akan keilahian Kristus, tetapi ada denominasi Protestan yang menolaknya seperti Christaldelphian. Oleh karena itu, pada bagian ini hanya diterangkan kepercayaan-kepercayaan essensial (essential beliefs) dari Protestantisme pada masa Reformasi Protestan.

1) Pembenaran oleh iman saja, Sola Fide.
2) Kitab Suci adalah satu-satunya aturan Iman, Sola Scriptura.
3) Dosa asal merusak sepenuhnya kodrat manusia.
4) Hanya Pembaptisan dan Perjamuan Kudus yang merupakan sakramen.
5) Penolakan terhadap Dogma Transubstansiasi.
6) Paus dan Uskup-uskup tidak dibutuhkan
7) Penolakan terhadap sebagian peran Bunda Maria dalam Gereja. 
8) Penolakan terhadap indulgensi.

Gallikanisme (abad ke-17): Bidaah ini mengajarkan bahwa gereja lokal adalah otonom dan tidak bertanggung jawab terhadap Paus.

Jansenisme (abad ke-17): Bidaah ini mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, bahwa Kristus tidak mati untuk semua orang, kemanusiaan Kristus terlalu ditekankan dan hanya yang paling kudus yang boleh menerima Ekaristi.

Febronianisme (abad ke-18): Bidaah ini mengajarkan bahwa negara, dengan dibimbing oleh Kitab Suci dan ketaatan terhadap konsili-konsili ekumenis, berhak menentukan keputusan-keputusan Gereja. Paus tidak dapat ikut campur dalam urusan negara.

Amerikanisme (abad ke-19): Bidaah ini mengajarkan bahwa ada kompatibilitas unik antara Katolisisme dan nilai-nilai Amerikan. Bidaah ini mengajarkan juga bahwa Amerika Serikat memiliki peran penting dalam membimbing Gereja Universal ke dalam era modern dan secara khusus ke dalam berbagai isu-isu sosial kontemporer.

Modernisme (abad ke-20): Modernisme dalam bentuk ekstrim menolak keilahian Kristus, kesucian Kitab Suci, dan kekudusan Gereja. Bidaah ini juga mengajarkan bahwa doktrin-doktrin iman dapat berubah seturut perkembangan zaman, dengan kata lain menolak karunia pengajaran-pengajaran tidak dapat sesat yang dianugerahkan Kristus kepada Gereja.

Kekristenan Sekuler (abad ke-20 dan ke-21): Kekristenan Sekuler (Secular Christianity) berhubungan dengan Modernisme dan merupakan sebuah hasil dari Modernisme. Bidaah ini berusaha mencetak dan mengubah Kekristenan berdasarkan kebudayaan modern dan nilai-nilai sekuler.

(Sumber: https://www.indonesianpapist.com/2011/06/daftar-bidaah-bidaah-dan-janji-yesus.html, diterjemahkan dari Ecce Fides Chapter II karya Pater John J. Pasquini).

05.51 -

Kuasa doa



Dr. Lin adalah orang Taiwan pertama yang menjadi dokter muda di Rumah sakit itu. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang didirikan oleh Dr. Maxwell, seorang misionaris Inggris. Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat sederhana.

Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit tersebut dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari 2 jam dari desanya ke Rumah Sakit melalui jalan setapak melewati hutan dan sawah. Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung bangkit dari bangkunya, meraih botol obat dan bergegas pulang. 

Sore harinya pukul 5, ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan berbisik, "Dokter Lin, botol obat untuk pasien malaria masih ada disini. Tetapi ... ada 1 botol yang hilang, isinya disinfektan."

Dr. Lin terkejut, diperiksanya botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah.

Botol-botol di kamar obat itu memang berbentuk sama dan berwarna sama, lagipula baik obat Malaria maupun disinfektan sama-sama cairan.

"Celaka kita! Ibu anak itu bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati," ujar Dr. Lin dengan wajah cemas. 

Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr. Maxwell. Ia juga terkejut. "Sekarang pukul 5, anak itu pergi dari sini pukul 3, jadi ia sudah hampir tiba. Tidak mungkin kita mengejarnya. Lagi pula kita tidak tahu jalan ke desa itu," ujar Dr. Maxwell. 

Dr. Maxwell termenung, lalu ia berkata, "Mulai hari ini semua obat keras tidak boleh lagi diletakkan di atas meja. Sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul. Kita akan berdoa!"

Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu berkumpul dan berdoa bersama. Dr. Maxwell berdoa, "Tuhan, kami telah membuat kecerobohan. Ampunilah kami! Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah itu."

Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan. Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling memandang dengan gugup. 

Kemudian anak itu berkata, "Maaf dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh, botol itu pecah dan isinya tumpah semua."

Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung menangis dan berseru: "Terima kasih Tuhan"

Dr. Lin bertanya, "Kapan jatuhnya?" Anak itu menjadi makin ketakutan, "Maaf, dokter. Saya baru datang sekarang. Jatuhnya kemarin sore, menjelang gelap."

Dr. Lin langsung ingat: menjelang gelap, itu adalah saat ketika semua karyawan rumah sakit berkumpul men-doa-kan ibu anak ini. Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.

Itulah KUASA DOA! Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang sungguh berharap kepada-Nya. Kita tahu sekarang, bahwa "Tuhan itu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya" (Rm 8:28). Dan "Doa orang benar besar kuasanya (Yak 5:16). Karena itu hendaklah kita senantiasa hidup dekat dan senantiasa membangun hubungan dengan Tuhan. Dan percayalah, mujizat masih ada bagi orang yang berdoa dan sungguh sungguh percaya.

05.28 -

Jangan lewatkan "momen emas"



Seorang manager yang memiliki gaji 100 juta perbulan tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, ketika seorang nelayan merapatkan perahunya. 

Manager itu bertanya: "Berapa lama waktu yang anda habiskan untuk menangkap ikan sebanyak ini?" "Tidak lama, cukup 5 jam," jawab nelayan.

"Mengapa tidak pergi lebih lama lagi dan menangkap lebih banyak lagi?" "Ini sudah cukup buat keluargaku."

"Apa yang Anda lakukan diluar menangkap ikan?" "Bermain dengan anak-anakku, tidur siang, makan siang bersama keluargaku, mengantar dan jemput anak ke sekolah, mengaji, ngobrol dengan teman-temanku, ya, hidup yang begitu kunikmati."

"Aku punya ide untuk membantumu," ujar si manager. "Aku lulusan master dari Amerika, saranku, habiskan waktumu lebih banyak untuk menanggkap ikan, beli perahu yang lebih besar, dapat lebih banyak uang, beli lagi beberapa perahu. Jangan jual ikan ke perantara, jual langsung ke pengolahan sampai Anda memiliki pabrik sendiri. Kendalikan produk, distribusi dan produksinya. Setelah itu anda pindah ke kota besar, kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha ini."

"Menarik, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu? tanya nelayan mulai tertarik. "Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat," jawab si manager. 

"Setelah itu pak, Pak?" "Inilah bagian yang paling menarik, Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran. "Wah, miliaran ya! Lalu apa setelah itu Pak?"

"Lalu, Anda bisa istirahat dan pulang ke rumah. Pindah ke desa kecil di tepi laut, memancing, bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama istri, mengantar anak ke sekolah, bermain gitar serta ngobrol dengan teman-teman dekat."

"O ... kalau tujuan akhirnya cuma itu, sekarang saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan, kalau menunggu 20 tahun lagi, anak-anak saya sudah besar, jadi gak mungkin lagi saya bermain dan mengantar mereka ke sekolah", sahut si nelayan sambil meninggalkan manager yang kebingungan.

Pesan moral:

Jangan lewatkan "momen emas" bersama anak-anak dan keluargamu. Karena hal indah ini tidak akan terulang dua kali dalam kehidupanmu. Syukurilah semua hal baik yang kau miliki bersama keluargamu saat ini.

05.04 -

Perlakukan usia senja dengan baik


Novelis Yang Jiang menuliskan puisi ini di usia 103 tahun. Beliau wafat usia 105, bulan Mei 2016 yang lalu. 


Musim berganti, tak terasa kita memasuki usia senja. Sejak tangisan pertama waktu lahir ke dunia hingga rambut berubah putih, beban perjalanan hidup kita dipenuhi aneka pengalaman duka dan suka, pahit dan manis, naik dan turun. Selanjutnya, bagaimana kita bisa berbahagia di usia senja bergantung pada kondisi fisik dan mental kita.

Kebanggaan dan kekecewaan hidup sudah ada di belakang kita. Dan sekarang kita melanjutkan hidup keseharian dengan segala rutinitasnya.

Jika kita pernah memimpikan kemewahan hidup dunia, kini kita menyadari bahwa kehidupan terindah dan paling berbahagia adalah memiliki pikiran yang tenang dan hati yang tentram.

Tak perlu bingung menunggu kunjungan anak cucu. Mereka memiliki kehidupan pribadi yang harus diurus. Mereka seperti gasing yang tak berhenti berputar. Terjepit antara orang tua dan anak-anak. Yang tua seperti matahari senja, yang muda bak matahari pagi. Dan tentu saja yang muda lebih mendapatkan banyak perhatian. Itu sudah hukum alam. Itulah siklus perjuangan hidup anak manusia yang tak seorangpun bisa menyangkalnya. Ingatlah bahwa anak-anak kita selalu lebih sibuk daripada kita.

Dalam hidup entah sebagai suami dan istri, atau orangtua dan anak. Entah harmonis dan intim atau tidak. Masing-masing unik dan memiliki hidupnya sendiri. 

Karena itu kita harus belajar mengatasi kesepian dengan menemukan cara menghibur dan menyemangati diri sendiri ketika merasa sendirian.

Dalam mencapai usia senja, kita memiliki harga diri dan kemurahan seperti siklus 4 musim. Masing-masing memiliki keindahan dan kebaikannya sendiri. Tersenyum dan nikmatilah tiap fase kehidupan.

Usia senja adalah awal fase hidup yang baik. Tenang, damai, tidak terburu-buru dan sukacita. Kita harus mempertahankan damai sejahtera, tidak terlalu menuntut, lebih legowo dan pemaaf. Jangan terlalu GR jika diperhatikan ataupun diacuhkan. Tetap tinggal atau berangkat pergi tidak masalah. Tetaplah tersenyum ketika menyambut hari yang baru dan berlakulah baik pada diri sendiri.

Jujur dan tulus membuat persahabatan langgeng. Jangan mengharapkan balas budi atas apa yang diberikan pada orang lain. Membahagiakan orang adalah prestasi hidup yang besar bukan?

(Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yang_Jiang).

Sabtu, 29 Juni 2019

Kapan bersyukurnya?



Henry Ward Beecher berkata, "Orang sombong jarang yang tahu bersyukur, sebab ia tidak pernah menganggap dirinya sudah mendapatkan apa yang sepantasnya ia peroleh." 

Penghambat utama rasa syukur adalah anggapan diri kita cukup baik sehingga pantas menerima pahala. Kalau kebaikan mengunjungi dirinya, dianggap sudah sepantasnya. Tak ada rasa syukur. Parahnya, dalam kenyataan ia justru selalu merasa dirinya belum mendapatkan hal yang sepantasnya. Serba belum cukup; selalu kurang. Kapan bersyukurnya?

Mazmur 107 mengungkap kebenaran ini secara lebih jernih. Kebaikan bukan ada pada kita, melainkan pada Tuhan. Bukan kita yang baik sehingga patut diganjar kebaikan dalam hidup ini. Kala Anda dituangi atau disirami kebaikan dalam hidup, itu karena Tuhan baik! Periksalah dengan jujur betapa banyak perkara yang semestinya tak pantas kita peroleh, namun nyatanya kita dapatkan. Banyak hal dalam hidup sehari-hari yang datang sebagai karunia, bukan upah kebaikan kita. Semua tersedia dengan indah dan limpah karena Tuhan itu baik. Maka, jangan sombong dan merasa diri pantas, melainkan bersyukurlah! Bersyukur karena kebaikan-Nya!

Sadarkah Anda bahwa 11.000 liter udara kita hirup-hembus setiap hari secara gratis, tidak seperti asupan oksigen bagi pasien di rumah sakit? Cahaya mentari yang tak kita upayakan. Langit biru yang bukan buah karya kita. Kicau burung yang tak kita ciptakan. Uluran tangan sukarela. O, masih banyak lagi curahan anugerah-Nya yang layak kita syukuri! 

Kesombongan membuat kita serba menuntut, kerendahan hati membuat kita senantiasa bersyukur.