Minggu, 14 Juni 2020

Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya

Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:5-6). 


Di akhir bulan Maret Tahun 2019, saya harus menyiapkan sebuah materi untuk suatu acara yang cukup besar. Karena kesibukan tersebut, saya meninggalkan sesaat untuk tidak berdoa Rosario dan tidak membaca Kitab Suci sesuai dengan bacaan Kitab Suci di grup MBA. Dalam hati saya berkata: “Tuhan, Engkau mengerti keadaanku. Saat ini aku sangat sibuk dan capai sehingga tidak ada waktu untuk berdoa maupun membaca Kitab Suci. Rasanya waktu 24 jam kurang!” 

Suatu hari saya mengganti sprei di kamar anak saya di lantai dua. Pada saat hendak turun ke lantai bawah, tiba-tiba saya terpeleset. Lalu saya berusaha memegang pegangan tangga agar tidak bertambah jatuh ke bawah. Akhirnya saya terhenti di pijakan kelima dari atas. Saat terjatuh, saya mendengar ada sesuatu yang patah. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka mata saya lebar-lebar untuk mengetahui apakah saya buta atau tidak. 

Semalam suntuk saya tidak bisa tidur. Oleh karena itu saya dibawa ke Rumah Sakit oleh suami saya untuk di-rontgen. Ternyata tulang ekor saya mengalami “dislokasi” (tulang bergeser dan keluar dari posisi normalnya). Dokternya berkata: “Apakah mau dioperasi tanpa pisau bedah atau minum obat nyeri saja? Jika tidak mau dioperasi sekarang, akibatnya akan terasa nyeri diusia tua.” Akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi. Proses operasi hanya berjalan sebentar, namun pemulihannya benar-benar panjang. 

Melalui kejadian ini, ada suara kecil yang berbicara dalam batin saya: “BEM, kemarin kamu berkata tidak ada waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Sekarang Aku sudah memberimu waktu yang banyak.” Mendengar teguran ini saya merasa malu dan memohon ampun pada Tuhan. 

Saya tahu bahwa kejadian itu diijinkan Tuhan agar saya tahu berterima kasih atas pengorbanan-Nya. Oleh karena itu saya berjuang untuk kembali memberikan waktu yang terbaik untuk berdoa dan membaca Kitab Suci seperti dulu. Saya berdoa: “ Tuhan, aku tahu Engkau telah menghajarku. Proses ini jangan terlalu lama, aku mau melayani-Mu. Aku sangat butuh kekuatan-Mu untuk melakukan semuanya.” Jadi, saya berjuang untuk tidak memikirkan sakitnya, tetapi melayani dengan sukacita seperti biasa. 

Tiga setengah bulan setelah kejadian itu, saya dan suami saya mengikuti seminar tentang “Kekuatan Doa” di Samarinda. Selama 3 jam duduk di dalam mobil, saya merasakan tulang ekor saya sakit sekali (perjalanan dari Balikpapan, rumah saya ke Samarinda). 

Puji Tuhan, sesi pertama seminar “teori tentang doa” dapat saya ikuti dengan baik meskipun duduk saya agak condong ke depan supaya tulang ekor saya tidak tertekan. 

Keesokan harinya peserta seminar dibagi dalam beberapa kelompok, tiap kelompok berisi 10 orang. Lalu Pak Tjendana memberikan instruksi agar setiap kelompok melakukan Pujian Penyembahan dan fokus mendengarkan Tuhan mau bicara apa, dan saling mendoakan. Saya berjuang fokus, namun saya tidak memperoleh penglihatan dan tidak merasakan apapun juga seperti biasanya. 

Tiba-tiba saya mendengar Sabda Pengetahuan: “Hai tulang-tulang! Mengapa engkau lemah?” Ketika saya mendengar sabda tersebut, saya sangat kaget dan saya langsung berteriak dalam hati: “Tuhan, tolong Tuhan, tulang ekor saya sakit sekali.” 

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, namun pada saat itu seperti melihat sebuah film, saya melihat seberkas sinar yang berasal dari seorang pria. Meskipun saya tidak dapat melihat dengan jelas wajah-Nya namun batin saya yakin bahwa pria itu adalah Tuhan Yesus. Dia seakan-akan menatap saya dengan tatapan kecewa sambil berkata: “Why BEM?” Ketika mendengar pertanyaan tersebut, ada penyesalan yang dalam, dalam hati saya. Tanpa sadar saya menangis sambil berkata: “Tuhan, ampunilah aku. Aku telah bersalah pada-Mu. Sekiranya Engkau berkenan, sakit tulang ekor ini janganlah terlalu lama sehingga aku bisa melayani-Mu, melayani suami dan anak-anakku dengan baik.” Seketika itu juga Tuhan Yesus mengangkat tangan-Nya dan menyembuhkan tulang ekor yang sakit. 

Melihat keadaan saya yang terus-menerus menangis di lantai, suami saya mengguncang-guncangkan tubuh saya sambil memanggil-manggil nama saya, akhirnya saya terbangun dari “resting in the spirit”. Waktu pulang ke Balikpapan, saya tidak merasakan sakit lagi. Sungguh, Tuhan adalah Tabib yang ajaib, Dia telah menyembuhkan saya dengan cara-Nya yang ajaib. 

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi menjadikan Tuhan seperti “Jinny oh Jinny” (sinetron, jika butuh saja baru dipanggil), saya tidak mau membuat Tuhan Yesus kecewa. Saya rindu melihat Tuhan Yesus selalu tersenyum pada saya, bahkan bangga melihat saya, yang mau berkomitmen untuk selalu menjalin hubungan dengan-Nya melalui doa dan membaca surat cinta-Nya. 

(Sumber: GPM, Marya BEM).

Sabtu, 13 Juni 2020

Peneguhan melalui sabda pengetahuan

Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah (Yes 30:1). 


Pada awal GPM terbentuk, ada kerinduan di hati saya untuk bergabung. Namun di pikiran saya: “Apakah aku bisa bangun pagi dan berkomitmen.” Ada juga keinginan untuk japri ibu Elly, namun niat baik tersebut juga tidak terlaksana. Oleh karena itu saya berdoa mohon Tuhan memberikan peneguhan dari teman-teman jika saya boleh bergabung dengan GPM.

Sebelum pertemuan KPI TL-ONLINE berlangsung (28 Mei 2020), saya berencana untuk tidak mengikutinya karena suami saya di rumah dan saya hendak memasak. Saya mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Ketika mengupas bawang, tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat untuk melihat HP dan ikut bergabung dengan line-voice KPI TL. 

Pada saat Pujian Penyembahan, Ibu Ivon mengucapkan sabda pengetahuan: “Ada seorang ibu yang masih ragu dengan komitmennya. Ingatlah! Tuhan rindu anak-anak-Nya selalu datang memuji dan menyembah-Nya.” Saya merasa bahwa sabda pengetahuan itu ditujukan pada saya. Oleh karena itu saya menangis sepanjang pertemuan itu. Setelah pertemuan, saya cepat-cepat menyelesaikan masakan saya sambil terus bergumul dalam hati, apakah benar sabda itu untuk saya?

Menjelang jam 2 siang, saya melihat WA. Ternyata jam 10.58 ada WA dari Ibu Cecil, yang bunyinya: “Desiii ... aku merasa Tuhan memanggilmu untuk bergabung di GPM.” 

Saat saya membaca WA tersebut saya menangis dan saya langsung menelpon ibu Cecil karena ingin mendengar peneguhan dari Tuhan, katanya: “Entah mengapa saat itu aku melihat wajah anggota di KPI TL-ONLINE, tiba-tiba mataku tertuju pada fotomu dan jantungku berdebar-debar, ada dorongan yang sangat kuat di hatiku untuk menyampaikan padamu bahwa kamu harus masuk grup GPM. Ketika saya mendengar ibu Ivon mengeluarkan sabda pengetahuan: ‘Ada seorang ibu yang Tuhan mau dia bergabung di GPM. Jangan ragu untuk tidak bisa berkomitmen.’ Ketika mendengar sabda pengetahuan itu, aku langsung WA kamu dengan tangan gemetar. Setelah aku menyampaikan kabar itu kepadamu, hatiku lega.” Setelah itu saya japri ibu Yovita minta ijin untuk dapat bergabung di GPM. 

Selama ikut GPM ini, saya sering mendapat teguran melalui renungan dan kesaksian yang diberikan. Semoga melalu GPM dapat terus meningkatkan iman saya dan membawa saya untuk mencintai Tuhan lebih dalam lagi.

(Sumber: GPM, Deasy).

08.08 -

Karunia Sabda Pengetahuan dan Nubuat



Karunia sabda pengetahuan dan nubuat adalah karunia Roh Kudus yang sangat berharga dalam pelayanan. Karunia ini akan sangat membantu dalam pelayanan konseling, terutama pelayanan penyembuhan batin, pertobatan, pembebasan, penyembuhan fisik, dan juga dalam kebangunan rohani atau KRK dll. Seperti dalam 1 Kor 12: 8b: “… kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.”

Melalui karunia ini Allah mengungkapkan suatu situasi khusus, yang sudah terjadi, atau apa yang sedang terjadi pada saat ini dalam sejarah hidup seseorang. 

Berkat pernyataan Allah itu, seseorang dapat menemukan akar persoalan, penyebab suatu kebekuan hati, dosa yang tersembunyi, atau pengetahuan suatu penyembuhan baik penyembuhan fisik maupun batin. 

Seringkali karunia ini dinyatakan lewat pikiran, berupa kata-kata, gambar/penglihatan (visiun), atau perasaan yang pasti (keyakinan). Kita memiliki kepastian tentang hal itu, walaupun kita tahu bahwa itu tidak berasal dari kita, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Contoh: pertobatan dan penyembuhan batin Wanita Samaria, oleh sabda pengetahuan Yesus.

Kisah Wanita Samaria (Yoh 4: 1-42)

Pada waktu panas terik dan suasana di sumur sudah sepi, Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub untuk menimba air. Mungkin ia pernah beberapa kali pergi ke sumur pagi-pagi bersama wanita-wanita lain yang menimba air, tetapi wanita-wanita yang berjumpa dengannya, selalu menatapnya dengan sikap penuh curiga dan kejijikan. Hal ini tentu menyedihkan ketika ia sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kehidupannya yang memalukan dan dia dikenal sebagai wanita pendosa, oleh sebab itu masyarakat sangat merendahkan dan menjauhi dia.

Pada siang terik itu, Yesus yang sangat letih oleh perjalanan, duduk di pinggir sumur. Wanita ini tak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan Yesus. Di tepi Sumur Yakub itu Yesus dan wanita Samaria bercakap-cakap dari hati ke hati. Dari pembicaraan itu, Yesus menyingkapkan seluruh rahasia kehidupannya. Ia mengenal dan mengetahui kehidupan pribadinya yang terdalam.

“Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggilah suamimu, dan datanglah ke sini.’ Kata perempuan itu: ‘Aku tidak punya suami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ Kata perempuan itu, ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.’” (Yoh 4: 16-18, Sabda pengetahuan Yesus)

Yesus sungguh Seorang Pribadi yang mengagumkan. Dia penuh kasih, lemah-lembut, dan murah hati, walaupun Ia mengetahui dosa-dosa yang telah diperbuat Wanita itu, namun Ia memancarkan kerahiman Allah yang menghangatkan hatinya yang beku. Ia menerima wanita itu apa adanya dan mengasihinya sehingga Ia tidak ingin wanita itu binasa oleh dosa-dosanya. Yesus melihat dalam diri Wanita Samaria ini suatu potensi untuk berubah, suatu potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Yesus memberi kesempatan kepadanya untuk bertumbuh dalam kasih. Tidak seperti masyarakat yang seringkali memberi cap-cap yang mematikan. Yesus memberikan kasih-Nya yang tanpa syarat, maka Wanita Samaria itu terpesona oleh-Nya dan menanggapi kasih-Nya.

Perjumpaan pribadi dengan-Nya pada hari itu menjadi awal pertobatannya, mengubah hidupnya, menyembuhkan batinnya yang terluka, perjumpaan dengan Yesus di siang hari itu memberikan kehidupan baru kepadanya.

Karena sukacitanya, Wanita Samaria ini menceritakan kepada orang-orang sekampungnya bahwa ia telah bertemu dengan Mesias dan banyak orang menjadi percaya kepada-Nya Yoh 4: 29: “Mari, lihat. Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat…”

Yesus mengetahui masa lalu dan seluruh kehidupan wanita Samaria itu. Yesus membuka seluruh rahasia hidupnya melalui sabda pengetahuan. Yesus menunjukkan dosa-dosa, kebobrokan moral dan kehancuran yang dialami dalam hidupnya. Yesus menerangi hatinya, bahwa wanita itu membutuhkan pertobatan, pengampunan dan penyembuhan. Kasih dan rahmat selalu ada tetapi kadang-kadang kehancuran dalam diri seseorang terlalu berat, sehingga menghambat masuknya kasih Tuhan secara penuh. 

Sabda pengetahuan adalah karunia Allah yang dapat membawa keluar luka-luka batin, trauma-trauma yang tersembunyi dan perasaan-perasaan negatif kepada terang Kristus, untuk disembuhkan dan dipulihkan. 

Buah karunia sabda pengetahuan:

Wanita Samaria ini menanggapi kasih Yesus, sehingga ia mengalami kesembuhan, iman yang lebih mendalam, damai dan sukacita, pengalaman kasih Allah yang memperbaharui hidupnya, kekuatan dan penghiburan Roh Kudus yang melampaui segala sesuatu, memaklumkan Yesus sebagai Tuhan, memuji dan menyembah Allah.

Hal-hal umum tentang karunia sabda pengetahuan:

Karunia sabda pengetahuan membantu kita dalam pelayanan untuk membebaskan umat dari belenggu dosa, dan luka-luka batinnya. Menemukan akar masalah yang tersembunyi di hati umat-Nya. Merupakan diagnosa Tuhan, manusia melihat bagian luar tetapi Tuhan melihat hati, keberadaan manusia diketahui Tuhan lahir batin.

Sabda pengetahuan penting untuk pelayanan penyembuhan batin: manusia 90% terdiri dari alam bawah sadar, tidak diketahui apa yang terjadi di sana, terkubur di bawah sadar, tetapi Tuhan tahu dan dapat melacak serta memberitahu kepada kita apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh orang itu, kita dibimbing untuk menemukan akar penyebab luka batin.

Karunia sabda pengetahuan erat kaitannya dengan karunia penyembuhan, amat mendukung untuk pelayanan penyembuhan, baik penyembuhan fisik maupun batin.

Sabda pengetahuan menyanggupkan pelayanan Yesus Kristus tersalur melalui kita, kita menjadi alat untuk menyalurkan kasih Tuhan.

Sabda pengetahuan mempunyai efek penginjilan: membawa banyak orang percaya kepada Yesus, Sang Juruselamat dunia.

Berbicara tentang sabda pengetahuan dan nubuat, mengingatkan pengalaman saya sewaktu mengikuti Retret Karunia Roh Kudus di Lembah Karmel setahun lalu. Dulunya saya sering mempunyai feeling (insting) yang kuat tentang sesuatu dan dengan selang waktu yang singkat sering terbukti kebenaran insting saya itu, tetapi saya sering bingung tentang arti dari insting tersebut. 

Saya disadarkan memiliki karunia sabda pengetahuan saat saya mengikuti pengarahan dari Suster sewaktu workshop karunia dalam retret. Pada waktu itu, peserta retret dibagi dalam kelompok dan diajak untuk membentuk satu lingkaran lalu kami saling mendoakan berdua-dua dengan meletakkan tangan pada orang di sebelah kanan saya. 

Orang yang saya doakan adalah seorang ibu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, dimana ibu itu terlihat muram dan menangis tersedu-sedu tanpa saya tahu penyebabnya. Kemudian, saya berdoa dalam hati dengan penuh kerinduan mau dipakai sebagai alat kecil Tuhan untuk menyampaikan sabda-Nya dan saya bertanya apa yang ingin Tuhan katakan pada ibu ini. 

Sewaktu saya masuk dalam keheningan dan mengarahkan diri pada Yesus, saya melihat dalam imaginasi iman bahwa ibu itu sedang marah-marah sambil menangis. Setelah itu, kami diajak untuk mensharingkan apa yang saya lihat tadi dengan orang yang saya doakan untuk menguji kebenarannya. 

Namun perlu diingat, bahwa cara penyampaian kita perlu bijaksana dan hati-hati dalam mengungkapkannya. Kemudian saya bertanya pada ibu itu: “Ibu, apakah ibu sedang marah dengan seseorang?” Lalu ibu itu menjawab: “Benar”. Kemudian saya berkata: “Tolong ampuni orang itu ya, Bu”. Lalu seketika ibu itu terlihat lebih tenang dan berhenti menangis, dia pelan-pelan menjawab: ”Iya, memang saya masih belum bisa mengampuninya”.

Hal serupa juga terjadi saat saya memperoleh karisma Nubuat. Dalam pertemuan sel khususnya saat sesudah senandung Bahasa Roh (saat hening), saya sering merasa terkagum sekaligus heran dengan teman-teman satu sel saya yang memiliki karunia bernubuat. Mereka dapat menyampaikan suatu pesan dengan kalimat yang cukup panjang terkadang berupa cuplikan ayat Kitab Suci yang membawa efek menenangkan ataupun menampar saya karena yang mereka sampaikan sesuai dengan kondisi saya saat itu. 

Awalnya saya menutup diri dengan berkata dalam hati bahwa saya tidak mungkin bisa seperti mereka. Suatu ketika, saya berada dalam pertemuan sel yang anggotanya cukup pasif dalam penyampaian nubuat ataupun sabda pengetahuan. Hal ini mendorong saya untuk berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mau memakai saya jika Dia ingin menyampaikan Sabda-Nya. 

Dalam keheningan doa dalam sel, suatu kali saya melihat sebuah kata “Serahkanlah” dan seketika itu saya melihat kata-kata itu ditujukan untuk salah satu teman sel saya yang terlihat murung. Meskipun ada rasa ragu dan takut yang sering mengganggu, saya merasa ada dorongan kuat untuk menyampaikan hal itu. Kemudian dengan iman, saya berani melangkah untuk berkata-kata dengan tegas: “Serahkanlah kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Dialah yang memelihara kamu”. Setelah menyampaikan nubuat itu, barulah saya merasa sedikit lega. 

Saya menyadari bahwa hal itu sungguh berasal dari Tuhan ketika sesi sharing, teman saya yang ada dalam penglihatan saya tadi berkata: “Sewaktu kamu menyampaikan kalimat Serahkanlah kekuatiranmu pada Tuhan, saya merasakan ada kedamaian dalam hati karena memang sebelumnya saya sedang mengalami banyak kekuatiran dan ketakutan, Terima kasih ya”. 

Dan sharing dari teman saya tentang apa yang dia rasakan ini yang meneguhkan saya untuk menyadari karunia ini dan mau merindukannya untuk dipakai dalam membangun jemaat (dalam hal ini teman satu sel).

Bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menerima karunia ini? 
- Memupuk hubungan pribadi dengan Tuhan agar kita menjadi lebih peka.
- Membaca dan mempelajari buku mengenai karunia-karunia Roh Kudus, mendambakannya, juga mendengarkan sharing-sharing dari orang-orang yang sudah berpengalaman dalam karunia ini
- Berdoa mohon kepada Tuhan agar diberi karunia ini, serta berani bertindak atau melangkah dalam iman.

Kamis, 11 Juni 2020

Musibah yang membawa berkat

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh (Yoh 15:5-11). 


Di akhir bulan Maret, ada kerinduan di hati saya untuk memberikan hadiah yang terbaik untuk ulang tahun, anak pertama saya. Lalu saya menanyakan pada istri saya apa yang kira-kira dibutuhkan. Dia menjawab: “Sepatu.” 

Sesudah itu saya berselancar di online untuk mencari sepatu. Saya menemukan sepatu yang saya inginkan, namun saya memikirkan selama dua hari untuk memutuskan membelinya karena saat itu keadaan ekonomi saya benar-benar terpuruk akibat dari Covid-19. Jadi, sekarang, jika menginginkan segala sesuatu harus difilter terlebih dahulu harganya sebelum memutuskan. Kalau dulu, hendak membeli bukan hanya melihat modelnya saja, tapi juga mereknya. 

Sebelum memutuskan itu, saya berdoa: “Tuhan, saya punya keinginan untuk memberikan hadiah ulang yang terbaik buat anak saya yang pertama. Jika Engkau berkenan, saya akan membelinya.” Saya juga berunding dengan istri saya mengenai keinginan saya untuk membeli dua sepatu memakai kartu kredit, satu untuk anak pertama dan satunya lagi untuk anak ke dua. Istri saya pun menyerahkan keputusan tersebut kepada saya. 

Suatu hari mobil yang saya kendarai ditabrak oleh sebuah truk. Kami sepakat untuk membawa masalah itu ke kantor polisi. Sesampainya di sana, kami dianjurkan untuk berdamai. Akhirnya kami berdua ke bengkel untuk memperbaiki mobil yang rusak tersebut. Karena kerusakannya agak berat, maka biaya perbaikannya cukup besar. Si penabrak mau bertanggung jawab dan dia hanya mampu membayar 950 ribu, maklumlah dia hanya seorang sopir bukan pemilik truk tersebut. Semua masalah ini saya ceritakan sejujur-jujurnya pada pemimpin perusahaan di tempat saya bekerja, bahkan tentang uang dari si penabrak itu juga saya serahkan padanya. 

Dua minggu kemudian, saya dipanggil oleh bagian transportasi di kantor, katanya: “Mobil ini masih dalam tanggungan asuransi. Jadi kita hanya membayar 300 ribu untuk membayar biaya resiko sendiri. Oleh karena penabrak membayar kamu sebesar 950 ribu, maka sisanya adalah berkat buat kamu.” 

Di sinilah saya melihat kemurahan Tuhan yang luar biasa, uang sisa hasil ganti rugi tersebut dapat untuk membayar kartu kredit sepatu anak saya yang habis 450 ribu, bahkan masih ada sisanya, yaitu: 200 ribu. 

Melalui peristiwa ini saya sungguh sangat bersyukur karena sejak kecil saya di-didik oleh ibu saya untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala sesuatu yang akan saya jalani dalam kehidupan ini. 

Tuhan tidak jauh dari kita, Ia ada di samping kita untuk menjaga kita, Ia selalu ada dalam setiap helaan nafas kehidupan kita. Asal kita selalu berharap dan mengandalkan-Nya. 

Pada tahun 2009, saat saya mulai bekerja, Tuhan mulai menarik hati saya untuk mengenal-Nya. Sejak saat itu saya merasa sangat beruntung karena benih ilahi telah ditanamkan ibu saya sejak kecil. Saya sungguh bersyukur, para malaikat melindungi saya, Roh Kudus juga terus-menerus menarik jiwa saya, hidup saya diarahkan kembali kepada Allah sehingga hidup saya selaras dengan firman-Nya. 

Bahkan saya juga dimampukan oleh-Nya untuk berani bersikap sejujur-jujurnya tentang keadaan saya pada keluarga saya. Jadi, saat berada dalam keadaan terpuruk, baik ibu maupun kakak saya adalah pendoa bagi saya. Melalui dukungan doa mereka, saya beroleh kekuatan dalam menjalani kehidupan. 

Terlebih lagi sejak tahun 2017, saya ditarik-Nya lebih dan lebih dalam lagi untuk mengenal-Nya. Melalui pertobatan ini, saya berjuang hidup melekat pada-Nya sehingga dalam keadaan terpuruk saya dimampukan oleh-Nya untuk tetap bangkit dan tetap dapat bersukacita meskipun menghadapi kehidupan yang berat ini. 

(Sumber: GPM, Bertibole).

Rabu, 03 Juni 2020

2 Tim 2:8-15

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya



Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 4 Juni 2020: Hari Biasa IX - Tahun A/II (Hijau)
Bacaan: 2 Tim 2:8-15; Mzm 25:4bc-5ab, 8-9, 19, 14; Mrk 12:28-34


(1) INGATLAH ini: YESUS KRISTUS, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

Karena pemberitaan Injil inilah (2A) AKU MENDERITA, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu (2B) AKU SABAR MENANGGUNG SEMUANYA ITU bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; (*) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." 

Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka BERSILAT KATA, karena hal itu SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.


Renungan


Menikmati kesetiaan Kristus

(*) Ayat ini banyak disalah artikan oleh banyak orang Kristen.

Bagaimana caranya agar kita bisa menikmati kesetiaan Kristus (1) Fokus pada Yesus Kristus. (2) Mau membayar harga, yaitu taat pada kehendak-Nya. Mintalah pertolongan Roh Kudus agar dimampukan melaksanakan kehendak-Nya.

Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela (Mzm 18:26).


08.04 -

2 Ptr 12-15a, 17-18

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 2 Juni 2020: Hari Biasa IX - Tahun A/II (Hijau)
Bacaan: 2 Ptr 12-15a, 17-18; Mzm 90:2, 3-4, 10, 14, 16; Mrk 12:13-17


Yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan (1A) LANGIT YANG BARU dan BUMI YANG BARU, di mana TERDAPAT KEBENARAN. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan (1B) TAK BERCACAT dan TAK BERNODA DI HADAPAN-NYA, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam keSESATan orang-orang yang TAK MENGENAL HUKUM, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. 

Tetapi (2) bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.


Renungan


Sikap batin

(1A) Jika kita selalu bersatu dengan Tuhan pencipta kita maka kita akan melihat langit dan bumi yang baru, yang di dalamnya ada kebenaran. Ketika kita mengetahui kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan kita (Yoh 8:32). Jadi, di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes 32:17). 

Berkat damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal (Flp 4:7) inilah yang memampukan kita untuk melakukan kehendak-Nya, hidup berpadanan dengan Injil Kristus (Flp 1:27). (1B) Syaratnya: hidup sebagai orang kudus (Mzm 24:3-4). 

(2) Jika sikap batin kita penuh dengan pertobatan maka kita akan berdamai dengan Allah, sesama, diri sendiri dan dengan alam semesta seperti St. Fransiskus Asisi, kita akan bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.