Rabu, 03 Juni 2020

05.29 -

Mengenali cinta, bakat, karunia dan misi Tuhan

Terhadap ORANG LAIN, kita sering IRI pada PRESTASINYA, CEMAS pada KEAKRABANNYA, GUNDAH pada KEMAMPUANNYA. Kata Yesus kepada Petrus, ITU BUKAN URUSANMU, tetapi kamu ikutlah Aku" (Yoh 21:20-25).

TUHAN MENCINTAI dan MENILAI KITA TANPA MEMBANDINGKAN dengan orang lain. Maka PERLU MENGENALI CINTA, BAKAT, KARUNIA, MISI KHAS yang DIBERIKAN TUHAN untuk kita masing-masing.

Apakah saya SUDAH MENSYUKURI KARUNIA dan MISI Tuhan untuk saya?

(Rm Handoko)

05.25 -

Mengenali tingkat stadium kesombongan kita

Seorang pria bertamu ke rumah sang guru dan ia tertegun keheranan melihat sang guru sedang sibuk mengangkat air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya hingga bersih.

Pria itu bertanya: “Apa yang sedang guru lakukan?” Sang guru menjawab: “Tadi telah datang tamu yang minta nasihat kepada saya. Saya telah berikan banyak nasihat yang bermanfaat dan mereka tampak puas. Namun, setelah mereka pulang, saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai muncul. Itulah sebabnya saya melakukan ini untuk coba menetralisir perasaan sombong saya itu. 

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benih-nya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat Pertama, ada rasa sombong disebabkan oleh faktor materi 

Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain, lalu disadari maupun tidak, akan timbul Kesombongan dalam berbagai bentuk yaitu perasaan ogah bergaul 
dengan kalangan orang yang tidak mampu atau tidak selevel dengan dia.

Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya (Ams 10:15).

Di tingkat Kedua, ada rasa kesombongan yang disebabkan karena faktor pengabdian

Rasa seperti ini banyak dihinggapi oleh seorang karyawan yang sudah bekerja terlalu lama disuatu perusahaan lalu dia merasa bahwa tanpa dirinya perusahaan tsb. tidak akan ada seperti yang sekarang ini. Dan merasa bahwa semua ini bisa berjalan karena jasa-jasanya. Dan dia selalu merasa tidak puas dengan penghasilan yang dia terima sampai hari ini

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh 5:9).

Rasa sombong jenis ini biasanya juga dialami oleh seseorang yang merasa sudah banyak membantu / menolong kepada rekannya lalu dia merasa bahwa rekannya tersebut sudah terlalu banyak hutang budi padanya dan kalau tidak ada dia maka rekan tersebut tak akan sempurna hidupnya.

Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila Tuhan, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah Tuhan membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah Tuhan menghalau mereka dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya Tuhan menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu Tuhan, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ul 9:4-6)  

Rasa sombong jenis ini akan menimbulkan jarak, baik itu terhadap rekan-rekan maupun pada bawahan dan atasannya.

Di tingkat Ketiga, ada rasa sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan

Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dari orang lain, lalu bisa juga timbul kesombongan, biasanya dalam bentuk tak mau bergaul dengan kalangan yang berpendidikan lebih rendah.

Kita semua mempunyai pengetahuan. Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya (1 Kor 8:1-2).

Di tingkat Ke empat, ada rasa sombong yang disebabkan oleh faktor kebaikan.

Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain, lalu akan timbul Kesombongan dalam bentuk bahwa diri sendiri seolah-olah adalah orang terbaik di dunia.

Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa! (Pkh 7:20).

Yang menarik disini bahwa semakin tinggi tingkat kesombongan seseorang akan semakin sulit pula mendeteksinya oleh dirinya sendiri, sampai suatu hari ada seseorang yang menegornya.

Sombong pada tingkat pertama yaitu karena materi sangat mudah terlihat, tetapi rasa sombong pada tingkat tertinggi yang di karenakan kebaikan sulit terdeteksi karena sering hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita, biasanya ada rasa bahwa dirinya sudah terlalu baik tetapi perlakuan dari pihak lain selalu dianggap kurang baik.

Cobalah setiap hari kita memeriksa hati kita masing-masing dari benih-benih yang salah itu. Karena setiap hal yang baik maupun yang buruk, akan mempunyai akibat pula di masa ke depan kita.

Kita ini manusia ini sebenarnya hanyalah seperti debu, yang suatu saat akan hilang dan lenyap dan kembali pada Sang Pencipta (Pkh 12:7  » debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya).

Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang sangat dalam (Ams 16:18 »  Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan; Ams18:12 » Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan).

Lebih buta daripada seekor keledai



Penyataan Allah terkadang tidak sejalan dengan pikiran manusia. Dalam hal ini, Tuhan kita dapat dikatakan sebagai Tuhan yang sangat humoris. Kita melihat bagaimana Tuhan menyampaikan maksud-Nya dengan cara yang unik. Hal ini tampak ketika Allah berfirman kepada Bileam (Bil 22:21-35).

Keledai Bileam merespons secara berbeda dalam tiga perjumpaan dengan Malaikat Tuhan yang menghunus pedang. Pertama, keledai Bileam menyimpang dari jalan dan menapaki ladang, sehingga Bileam memukulnya untuk mengarahkannya kembali (23). Kedua, sang keledai menekankan diri pada tembok, sehingga kaki Bileam terimpit dan ia kembali memukulnya (25). Ketiga, sang keledai meniarap dan tidak mau berjalan. Akibatnya, Bileam pun memukulnya lagi (26-27).

Dalam setiap perjumpaan ini dikatakan bahwa sang keledai melihat Malaikat Tuhan, sedangkan Tuhan baru menyingkapkan mata Bileam setelah terjadi percakapan antara dia dengan keledainya yang merasa tidak senang karena dipukuli terus-menerus (31). Saat itulah Bileam melihat Malaikat Tuhan dan tersungkur.

Bileam dikenal sebagai seorang pelihat yang ahli, tetapi tidak sanggup melihat Malaikat Tuhan yang berdiri di depannya. Allah menunjukkan bagaimana penglihatannya kalah dari seekor keledai. Ini adalah teguran Allah yang humoris. Sebab, peristiwa ini sangat tak terduga dan ironis bagi seorang pelihat terkenal.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita mempunyai "penglihatan" dan pengertian yang cukup baik tentang Allah? Atau, jangan-jangan kita juga lebih buta dari seekor hewan? Mungkin kita bisa menimba ilmu pengetahuan dan teologi sedalam-dalamnya, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Tuhanlah yang membukakan itu semua bagi kita.

Marilah kita terus belajar peka terhadap kehadiran Allah, supaya kita tahu apa yang Allah kehendaki untuk kita kerjakan. Dengan demikian, kita dapat menjalankan kehidupan yang menyenangkan hati-Nya. Kita bersukacita sebab diizinkan melihat lebih dalam isi hati-Nya dan memasuki undangan hidup di dalam kehendak-Nya. 

Kisah monyet dan angin



Alkisah, di sebuah hutan, tampak seekor monyet sedang bergelantungan atas pepohonan. Tak jauh dari sana, ada sekelompok angin yang sedang bertiup. Ada angin topan, ada angin ribut, serta ada angin badai. Ketiga jenis angin itu sedang adu mulut tentang siapa yang paling hebat di antara ketiganya.

Makin lama, perdebatan mereka makin seru. Maka, karena tak ada yang mengalah, mereka pun sepakat untuk saling adu kekuatan. Mereka lalu melihat sekelilingnya. Dan, tampaklah di dekat mereka monyet yang sedang asyik bergelantungan itu. Ketiga angin itu pun sepakat adu kuat dengan berusaha menjatuhkan monyet itu dari pohon.

Pertama adalah giliran angin topan. Ia pun segera bertiup pada monyet itu. Monyet yang ditiup angin topan, segera memeluk erat pohon yang digelayutinya. Makin kencang angin bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon itu. Angin topan pun akhirnya menyerah, diiringi ejekan kedua angin lainnya.

Tiba giliran angin ribut. Dengan ribut, ia segera meniup monyet itu, seolah tak ingin memberi kesempatan monyet yang tadinya sedikit melonggarkan pegangan setelah angin topan berhenti meniup. Tapi, keributan yang ditimbulkan angin ditanggapi monyet dengan cara yang sama. Makin kencang bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon besar nan kokoh yang seolah jadi pelindungnya.

Angin ribut pun menyerah. Terakhir, angin badai segera memperlihatkan kekuatannya. Dengan badai yang dimilikinya, ia segera meniup sekencang-kencangnya monyet itu. Tapi, lagi-lagi, sang monyet justru makin kencang berpegangan pada pohon besar yang bergoyang-goyang akibat tiupan angin badai. Monyet pun tak berhasil dijatuhkan oleh angin badai.

Maka, angin badai pun akhirnya juga menyerah. Ketiga angin itu ternyata tak cukup punya kekuatan yang bisa menjatuhkan monyet. Hingga, saat mereka membicarakan kehebatan monyet, datanglah angin sepoi. Angin kecil yang bertiup itu penasaran mengapa ketiga angin besar itu membicarakan kehebatan monyet yang tak berhasil mereka jatuhkan.

Mendengar kehebatan monyet itu, angin sepoi pun ingin mencoba kekuatannya. Tentu saja, ketiga angin besar itu menertawakannya. Sebab, angin yang sangat kencang saja tak berhasil menjatuhkan monyet, apalagi angin kecil sepertinya. Namun, angin sepoi tak memedulikan ejekan mereka. Ia segera menuju ke monyet dan meniupkan angin sejuknya.

Monyet yang mendapat tiupan angin sepoi rupanya merasa keenakan. Hawa sejuk yang bertiup membuatnya tertidur di salah satu dahan besar pohon. Tak lama, karena tertidur dengan posisi yang kurang pas, monyet langsung terjatuh. Pegangan kuat monyet yang melonggar karena tertidur mendapat tiupan angin sepoi menjadikan monyet kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Melihat itu, ketiga angin besar yang sombong mengaku kalah. Angin sepoi yang kecil tapi menyejukkan itu rupanya justru berhasil membuat monyet takluk dan terjatuh dari pohon besar yang melindunginya. 

Selasa, 02 Juni 2020

19.54 -

Kebangkitan menunjukkan adanya hidup kekal



Allah BUKANLAH Allah orang mati, melainkan ALLAH ORANG HIDUP" (Mrk 12:18-27). ADANYA KEBANGKITAN menunjukkan ADANYA HIDUP KEKAL di mana orang tidak lagi kawin dan dikawinkan atau menjual dan membeli. Ada "NEW NORMAL" yang berlaku untuk HIDUP KEKAL yang BERBEDA dari hidup di dunia ini. 

Hidup kekal itu adalah "HIDUP DALAM KRISTUS YESUS" yang SUDAH DIBERIKAN (Yoh 17:3) dan KITA ICIPI di dunia sekarang ini. Hidup itu dikerjakan oleh "ROH yang membangkitkan KEKUATAN, KASIH dan KETERTIBAN " dalam diri kita (2 Tim 1:1-3.6-12). 

Jika kita PERCAYA pada Kristus Yesus, kita akan memperhatikan NEW NORMAL untuk HIDUP KEKAL dan Kristus BERKUASA MEMELIHARA KITA sampai pada hari KEDATANGANNYA KELAK. 

Selama di dunia ini kita DIPANGGIL untuk BERSAKSI tentang Kristus dan BEKERJASAMA dengan ROHNYA untuk MEMBANGUN NEW NORMAL SEKARANG DI DUNIA INI.

(Rm Handoko)

Kamis, 28 Mei 2020

00.17 -

Kuasa Pujian Penyembahan dan kuasa nama-Nya

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Flp 4:6-7). 


Pada tanggal 28 April 2020, Ferry, anak saya memberitahu bahwa dia akan pergi ke Bali. Dengan berbagai cara, kami, sebagai orang tuanya mencegahnya dan menasehatinya, namun dia berkata: “Pa, Ma, ini urusan penting dari kantor.” Mendengar penjelasan itu, kami hanya bisa memohon penyertaan Tuhan, kami berdua berdoa bersama Bunda Maria melalui Doa Rosario. 

Keesokan harinya jam dua siang dia pamit pada kami, katanya: “Papa, Mama, jangan kuatir aku pergi dengan membawa surat dari kantor. Jika ada pemeriksaan, akan aku tunjukkan surat tersebut. Aku pergi dengan Iin (istrinya) dan Didik (sopirnya). Aku mohon dukungan doa papa dan mama.” 

Sepanjang hari kami tidak mendapat kabar dari Ferry. Sesudah mengikuti Gideon Prayer Ministry dan berdoa rosario berdua dengan suami saya, saya menyuruh suami saya untuk menelponnya. Puji Tuhan, saya mendapatkan kabar baik. Dia lolos dari pemeriksaan dan hasil rapid testnya negatif semuanya. 

Jumat, 1 Mei 2020, Ferry menelpon menceritakan bahwa dua hari di Bali pekerjaannya berjalan sesuai dengan rencana. Mendengar kabar itu, pikiran kami tenang. Namun jam empat sore saya mendengar kabar buruk dari Cindy, adik Ferry bahwa pelabuhan ditutup, baik dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya. 

Karena kami tidak mendapatkan kabar lagi, maka sesudah mengikuti GPM, kami menelpon Ferry, katanya: “Aku saat ini berada persis di tempat penjagaan, aku dibentak-bentak karena ketidak tahuanku bahwa pelabuhan ditutup atas perintah Gubernur. Aku saat ini mengalami kesulitan, kemungkinan besar aku tidak bisa pulang.” Mendengar penjelasan itu, secara spontan saya berkata: “Nyo, kamu berdoa, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Papa dan mama juga akan mendukungmu dalam doa.” 

Saya segera menghubungi Gaby, cucu saya dan memberitahu kondisi papanya dan memerintahkan padanya untuk mengambil gitar dan mengajak adik-adiknya memuji dan menyembah Tuhan bersama kami. 

Sungguh luar biasa kuasa pujian penyembahan. Ketika kami selesai melakukan pujian penyembahan tersebut, tiba-tiba kami mendengar kabar baik, yaitu Ferry teringat dengan seorang bapak yang bernama Chandra (anak buah dari pemilik kapal) dan dia mau membantu kesulitannya. 

Pak Chandra mengatakan bahwa dia akan menemui Ferry di pom bensin. Dia memberi petunjuk untuk sampai ke tempat tersebut. Begitu Ferry bertemu dengan pak Chandra, kemudi mobil langsung digantikan olehnya sehingga sampai ke parkiran pelabuhan, Sesampainya di sana dia berkata: “Jam sepuluh lebih dua belas menit kapal itu jalan dan mobil harus segera masuk.” 

Tiba-tiba Iin ingin ke toilet, maka Ferry berpesan pada Didik: “Kamu tunggu di sini!” Ketika Ferry dan Iin kembali ke mobil, mereka kaget melihat Didik berada di luar mobil dan mobil dalam keadaan mati mesinnya. Ketika ditanya Didik menjawabnya: “Pak, saya minta maaf. Tadi saja juga ke toilet. Ketika saya mau menyalakan mesinnya, tidak mau nyala.” 

Sungguh luar biasa penyertaan-Nya, Ferry dalam keadaan tenang langsung mengambil kunci kontak dan memasukkan ke dalam lubangnya sambil berdoa: “Tuhan Yesus tolonglah aku. Dalam nama Yesus, aku perintahkan menyala!” Mujizatnya sungguh nyata, mobil langsung bisa menyala dan mobil tersebut dikemudikan oleh Ferry sampai ke pinggiran kapal. Di sana pak Chandra sudah menunggu dan meng-instruksikan agar mobil dimasukkan ke kapal. Ferry menelpon lagi, katanya: “Pa, Ma tidurlah. Kami sudah sampai di Ketapang. 

Melalui pengalaman ini saya melihat penyertaan Tuhan yang luar biasa, ada kuasa dalam pujian dan penyembahan, ada kuasa berdoa dalam nama-Nya. Oleh karena itu setialah dalam memuji dan menyembah-Nya dan percayalah pada-Nya dengan sepenuh hati.

Rabu, 27 Mei 2020

17.17 -

Berdoa dan bersilih bagi bangsa dan dunia



Dalam Kitab Kejadian ada kisah menarik tentang doa syafaat Abraham untuk Sodom. Saat itu Tuhan hendak menghukum dan melenyapkan penduduk kota Sodom karena dosa-dosa mereka (Kej 18:20-33). 

Abraham memberanikan diri berdiri di hadapan Tuhan dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” 

Tuhan berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” Dialog ini kemudian berlanjut dan berlanjut. Akhirnya, jika ada sepuluh orang benar saja di kota Sodom, Tuhan tidak akan memunahkan kota ini. 

Dari perikop Kitab Suci di atas, kita bisa melihat bahwa dosa penduduk kota Sodom mendatangkan bencana yang merupakan hukuman Tuhan. Jika kita refleksikan, di jaman kita ... juga di negeri kita ... ada banyak bencana dan ada banyak dosa dan kejahatan. Namun, sayang, tidak banyak orang yang menghubungkan keduanya. 

Umumnya, orang memandang bencana hanya sebagai gejala alam atau peristiwa biasa dan sama sekali tidak dapat terdengar pesan ilahi dibaliknya yang mengajak untuk bertobat. Padahal, tidak ada satu pun “kebetulan” di mata Tuhan. Bahkan, tak satu helai rambut pun jatuh karena “kebetulan” bagi Dia. Tuhan sendiri menghendaki agar kita membaca tanda-tanda jaman (Mat 16:3). 

Seperti Abraham, kita juga dipanggil untuk berdoa bagi dunia, bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pedulikah kita ... dalam sehari berapa kali kita berusaha berdoa atau bersilih untuk itu? Kepedulian akan keselamatan jiwa-jiwa merupakan salah satu kepribadian kristiani yang dewasa

Sebenarnya dasar kepedulian kita bukanlah hanya kasih kita kepada mereka, tetapi terlebih lagi kasih kita pada Kristus. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi apa yang dikasihi-Nya. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi sesamanya. Kasih itu peduli, kasih itu melibatkan diri (walaupun tidak secara konkrit, tetapi bisa melalui doa, dll). 

Kita bisa berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa, tidak hanya secara khusus saat kita duduk manis dalam gereja, tetapi juga dengan mempersembahkan semua yang kita lakukan (entah itu doa, puasa, penyangkalan diri, ataupun aktivitas-aktivitas kita lainnya kepada Yesus untuk keselamatan jiwa-jiwa). 

Contoh konkritnya: jika kita sedang berjalan, kita bisa katakan kepada Yesus dalam hati: “Untuk-Mu, Yesus setiap langkah-ku, untuk keselamatan jiwa-jiwa.” Atau, sebelum memulai suatu pekerjaan, kita bisa berdoa kecil: “Tuhan, kupersembahkan untuk-Mu pekerjaan ini, untuk pertobatan para pendosa, pertobatanku, pertobatan keluargaku, ...” Masih banyak contoh lainnya. 

Jika dipersembahkan kepada Yesus, maka semua yang kita lakukan itu (asal bukan dosa) mempunyai nilai (membawa rahmat) bagi keselamatan jiwa-jiwa. Sayang khan jika hanya karena kita lupa mempersembahkan aktivitas kita kepada Yesus, maka satu jiwa tak tertolong dan tercebur ke dalam api neraka? 

(Sumber: Hidup dalam Roh September-Oktober 2009 Tahun XIII, Sr Maria Andrea, P.Karm).