Kamis, 26 Desember 2019

05.24 -

Rm 1:1-7

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 22 Desember 2019: Hari Minggu Adven IV - Tahun A/II (Ungu)
Bacaan: Yes 7:10-14; Mzm 24:1-2, 3-4ab, 5-6; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24


Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.

Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah (*) DIPANGGIL MENJADI MILIK KRISTUS. Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang DIKASIHI ALLAH, yang dipanggil dan DIJADIKAN orang-orang KUDUS: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.


Renungan


1. Dipanggil menjadi milik Kristus

(*) Bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus mutlak menjadi “milik Kristus”. Sebab kita telah diselamatkan oleh Allah yang di tebus dengan harga yang mahal, yaitu melalui darah-Nya.

Sebagai hamba milik Kristus, kita memiliki panggilan dan tanggungjawab. Ketaatan dan kepercayaan kita hanya pada Kristus yang telah menebus kita, hidup dan pengabdian kita hanya bagi Dia. kita dipanggil dan dijadikan menjadi orang-orang kudus, kita sedang berjalan dan sedang memenuhi panggilan kita menjadi umat yang kudus.

Tuhan juga membekali kita dengan “kasih karunia dan damai sejahtera” yang berasal dari Dia untuk mampu hidup dalam panggilan-Nya. 

Hal ini adalah dasar kita berpijak di dunia ini sebagai seorang Kristen. Dimana seorang Kristen itu hidup pada situasi yang tidak bergantung pada dunia tetapi bergantung pada Tuhan. 


05.12 -

Luk 1:57-66

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 23 Desember 2019: Hari Biasa Adven IV - Tahun A/II (Ungu)
Bacaan: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mzm 25:4bc-5ab, 8-9, 10, 14; Luk 1:57-66


Kemudian genaplah bulannya bagi (1) Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian."

Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: (2A) "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. 

Dan (2B) seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.


Renungan


1. Ketika kita mau berserah pada-Nya

(1) Zakharia dan Elisabet tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya (Luk 1:5, 7). Allah adalah penguasa hidup dan matinya manusia, maka Ia dapat menyatakan kuasa-Nya yang melampaui daya pikir manusia atas hukum biologisnya.

(2AB) Zakharia menjadi bisu karena tidak percaya (Luk 1:20). Di sini terbukti bahwa, perpaduan antara iman dan kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan, dapat mendatangkan hal-hal yang "ajaib" dalam hidup, mendapatkan ganjaran yang luhur dan suci dari Allah.

Dalam hidup ini, sering kita mengalami kehidupan yang dapat membuat iman, kesetiaan, kesabaran dan daya korban kita menjadi luntur. Ingatlah! Ketika kita mau berserah pada-Nya, percayalah bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita berjuang dan menanggung beban hidup kita sendirian, Dia juga ikut menanggung beban hidup kita.


St. Stefanus, Martir Pertama



Nama Stefanus berasal dari Bahasa Yunani Stephanos, yang berarti "mahkota". Ia adalah pengikut Kristus pertama yang menerima mahkota kemartiran. 

Stefanus adalah seorang diakon pada masa Gereja Perdana. Kita membaca kisah tentangnya dalam Kitab Kisah Para Rasul. Petrus dan para rasul lainnya menyadari bahwa mereka membutuhkan penolong-penolong untuk mengurus para janda serta kaum miskin. Jadi, mereka mentahbiskan tujuh orang diakon. Stefanus adalah yang paling terkenal dari antara mereka.

[Kis 6:1-6] Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 

Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui St. Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan karunia yang membuat banyak dari para pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh Gereja Yesus merasa geram melihat betapa berhasilnya kotbah St. Stefanus. Pada akhirnya, mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka tidak dapat membantah perkataan-perkataannya yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya. Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus telah berbicara hujat terhadap Tuhan. Stefanus menghadapi gerombolan para musuhnya yang banyak itu tanpa rasa takut. Kitab Suci mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa dengan wajah malaikat.

[Kis 6:15] Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

Dalam sidang itu Stefanus berbicara tentang Yesus dan menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan Tuhan. Ia mencela ketidak-percayaan mereka kepada Yesus sama seperti dulu nenek moyang mereka yang juga tidak percaya kepada nabi-nabi terdahulu. Mendengar itu, mereka menjadi amat marah serta berteriak-teriak kepadanya. 

[Kis 7:55-56] Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” 

Para musuhnya menutup telinga mereka dan tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret St. Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya dengan batu hingga mati. Orang kudus itu berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian ia berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak menghukum para musuh yang membunuhnya.

[Kis : 7:60] Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. 

Setelah pernyataan kasih yang sedemikian besar itu, Stefanus lalu meninggalkan dunia ini menuju kebahagiaan abadi bersama Yesus yang dikasihinya.

Pada Kis 8:2 dikatakan : “Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat”. Tidak ada penjelasan tentang dimana lokasi makam Martir pertama ini. Sampai Pada Tahun 415 Masehi seorang peziarah dan imam bernama Lucian mendapat penglihatan yang mengungkapkan lokasi jenazah Santo Stefanus dimakamkan. Lokasi dimana saat ini berdiri Gereja St Stefanus, di Yerusalem.

(Sumber: https://katakombe.org).

Jumat, 20 Desember 2019

04.48 -

Menertawakan = menghina



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa (Pkh 3:14).

Seorang doktor sekaligus ahli psikologi mengatakan bahwa tertawa adalah baik untuk kesehatan kitaHal ini tidak perlu diragukan lagi, karena Alkitab sendiri mengatakan bahwa, ''Hati yang gembira adalah obat yang manjur." (Ams 17:22).

Namun Alkitab membedakan antara tertawa yang baik dan tertawa yang buruk. Penulis kitab Pengkotbah menyatakan bahwa bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat bagi Allah di hatinya, tertawa tidak lebih berharga dari duri yang terbakar (Pkh 7:6). 

Tuhan mencela setiap lelucon atau gurauan yang meremehkan orang lainataupun gurauan yang menyakitkan hati orang lainKadang ada orang yang telah berdosa, dan orang itu dijadikan bahan gurauan. 

Dosa bukanlah hal yang patut ditertawakanJoe E. Brown adalah seorang bintang film kelas atas dan seorang komedian pada masa Perang Dunia II. Ketika menghibur pasukan Amerika di Pasifik Selatan, ia diminta oleh seorang prajurit untuk menceritakan beberapa ''lelucon kotor."

Ia menjawab, ''Anakku, seorang pelawak seperti saya hidup untuk tepuk tangan dan hal-hal yang lucu. Namun jika menceritakan sebuah lelucon kotor merupakan harga yang harus saya bayar untuk menghiburmu, saya tidak tertarik untuk hal itu. Saya tidak akan melakukan peran yang akan mempermalukan ibu saya, dan saya tidak akan pernah mau melakukannya."

Tertawa yang sehat memiliki nilai yang besar! Stop mentertawakan kekurangan orang lain. Stop mentertawakan kegagalan orang lain. Stop mentertawakan kelemahan orang lain. Stop mentertawakan kejatuhan orang lain. Menertawakan pribadi orang lain itu menghina!

'Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita (Amsal 14:21).

Tuhan, berilah kami hati yang gembira. Dan tolong kami untuk berhikmat sehingga kami hanya akan tertawa untuk alasan yang benar dan tentang sesuatu yang benar.

Selasa, 17 Desember 2019

Allah Tritunggal, suatu komunitas kasih

 

Beata Elisabeth dari Tritunggal (1880-1906) merenungkan misteri bahwa Allah adalah faktanya sebuah komunitas; tiga pribadi dalam satu Allah yang disatukan oleh kasih

Ia tahu bahwa komunitas Tritunggal menemukan rumahnya di dalam diri seseorang yang hidupnya sangatlah sederhana yaitu orang yang hidupnya hanyalah untuk momen sekarang ini sebagai hal yang penting: "Jiwa disederhanakan, disatukan dan menjadi takhta dari Tritunggal kudus." 

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu (Yoh 14:23; 1 Kor 6:19). 

Komunitas menuntut hanya kesatuan. Kesatuan merefleksikan tindakan Allah. Sebagaimana seorang Yesuit, Gerard O'Mahony menyatakan: "Di mana kesatuan ditemukan, Tritunggal ditemukan juga: dalam atom, dalam elektron, dalam gerakan bintang-bintang, dalam binatang, dalam keluarga, di dalam kesatuan tubuh manusia, di dalam satu dunia di mana kita hidup" (A Way in the Trinity, 2004). Maka, di manapun kita hidup, sungguh-sungguh dalam komunitas, secara misterius, mencerminkan kehidupan dari Tritunggal Mahakudus

Orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya (Keb 13:5). 

Kita semua yang dibaptis dalam Kristus dipanggil kepada kekudusan. Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). Untuk menggapai kekudusan itu, semua umat beriman pada Kristus dipanggil untuk hidup bersama di dalam kehidupan Gereja sebagai suatu komunitas. 

Komunitas Kristiani adalah persekutuan orang-orang yang terus menghayati semangat pengampunan dan pembaharuan diri berdasarkan iman akan Yesus sehingga merupakan suatu keluarga rohani. Kita perlu membangun rumah damai, tempat tinggal ilahi yang kasat mata yang nampak dalam komunitas, yakni hidup bersama yang ditandai oleh kesiapsediaan untuk saling mendukung dan kritis terhadap diri sendiri (Henry Nouwen). 

Krisis hidup komunitas bisa mengakibatkan krisis iman. Bisa juga krisis panggilan di dalam mengikuti Yesus. Krisis hidup bersama - hidup komunal - hidup komunitas sebagian besar dipengaruhi oleh faktor dari dalam komunitas itu sendiri. Sifat-sifat pribadi maupun relasi antar pribadi dalam komunitas itulah yang sebagian besar menyebabkan suasana hidup dalam komunitas menjadi tidak menyenangkan, tidak mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang yang hidup dalam komunitas itu. 

Serangan hebat yang menghimpit kesabaran, menyita energi, itu biasanya datang dari mereka yang kita cintai, sahabat-sahabat seperjuangan, rekan-rekan sekerja dan seperjalanan dalam menggapai kekudusan. 

Mereka menjadi "batu asah" untuk menajamkan cinta kita kepada Allah. Mereka menjadi "gergaji" yang barangkali sungguh menyakitkan, tetapi justru membuat kita menjadi "orang suci" dihadapan Tuhan. Mereka menjadi "linggis" yang mampu mencungkil akar-akar kedosaan kita sehingga kita bisa bernafas lega berjalan menuju Allah. Percayalah, tanpa mereka, kita tidak ada apa-apanya. Justru Tuhan menghadirkan sesama bersama kita untuk mengantar kita kepada-Nya. 

Gereja ingin mencanangkan di hadapan masyarakat teladan komunitas-komunitas tempat rasa kesepian diatasi melalui kepedulian timbal-balik, komunikasi mengilhamkan pada tiap anggota kesadaran bertanggung jawab bersama dan luka-luka disembuhkan melalui pengampunan, serta komitmen tiap anggota terhadap persekutuan makin dimantapkan. 

Tujuan dari komunitas untuk selalu membentuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati, yang menjadi kontemplatif untuk berusaha mengenal dan mengasihi Allah dan membuat Allah dikenal dan dikasihi. Pengakuan akan kehadiran Allah yang penuh kasih dalam diri kita inilah yang memampukan kita mengenalinya di dalam diri orang lain dalam hidup komunitas dan membawa kita untuk membagi kasih kepada orang lain. 

Penyebab hidup komunitas menjadi "penghalang" utama bagi seseorang di dalam menggapai kekudusan. 

- Komunitas kehilangan roh kebersamaan sebagai saudara, sehingga ada anggota yang tidak mau ikut kegiatan bersama, tidak mau lagi doa bersama dsb. Masing-masing ada bersama, tetapi kehilangan kebersamaan dalam hidup komunitas. 

- Lemahnya daya kepemimpinan komunitas dalam hidup bersama. Pimpinan komunitas tidak dipercaya lagi, dia kehilangan wibawa karena tindakan dan kata-katanya tidak selaras, terlalu berpikir negatif terhadap anggota komunitas, kurang bisa hidup bersama dan tidak mempunyai daya pemersatu, terlalu otoriter dan mau menang sendiri, kurang rendah hati dan tidak mau menerima kelemahan para anggota komunitasnya. 

Masing-masing anggota komunitas kurang saling mengenal secara baik dan mendalam antar pribadi. Masing-masing anggota sibuk dengan dunianya sendiri, tidak mau peduli dengan anggota komunitas lainnya. Masing-masing pribadi kurang terbuka terhadap saudaranya se-komunitas, terlalu egois dan mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri. 

- Kurangnya komunikasi dan rasa saling percaya antara anggota dalam hidup bersama sebagai satu komunitas. Para anggota komunitas kurang diajak bicara tentang hidup bersama, kurang dilibatkan dalam kehidupan dan berbagai kegiatan komunitas. Akibatnya komunitas tidak dipandang sebagai "rumah"nya sendiri, kurang adanya "rasa tanggung jawab"nya terhadap komunitas. 

Apalagi orang yang lebih senior merasa lebih "hebat, sudah berbuat lebih banyak" dari yang lebih yunior, sehingga apapun pendapat yang lebih yunior selalu dipandang tiada manfaatnya. Atau sebaliknya, orang yang lebih yunior tidak mau mengikuti nasehat dari orang yang lebih senior. Kadang memandang mereka sebagai orang yang tidak "up to date". 

Sebagaimana kehidupan kristiani lebih mendalam melalui formasi yang otentik, komunitas kita akan mulai menemukan karakter yang berasal dari kontemplasi: kita akan menjadi lebih terbuka dan penuh iman, sebagai cermin dan iman dan kepercayaan kita akan kehadiran kasih Allah di saat baik atau buruk. 

Seperti yang dikatakan John Welch, doa adalah keterbukaan pada anugerah kontemplasi dari Allah sebagai akibat dari penghargaan yang diperbaharui dari orang-orang yang mana kita hidup bersama dan layani. Kita mulai melihat orang lain melalui mata Allah dan belajar untuk menghargai dan menilai apa yang sebelumnya tak diperhatikan. Kita mulai melihat setiap orang sebagai yang dikasihi dan sama. Karena itulah kemudian, relasi dengan yang lain menjadi persahabatan yang sejati, tak lagi berpusat pada diri sendiri tetapi selalu menghendaki yang terbaik bagi yang lain

Jadi, kita semua dipanggil untuk hidup bersama sebagai saudara dalam komunitas. Semua halangan ini bisa diatasi jika ada semangat keterbukaan dan persaudaraan dalam komunitas. St. Teresa Avila mengingatkan bahwa komunitas para pengikut Yesus harus menjadi komunitas para sahabat yang bersahabat dengan Yesus Kristus

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » Membangun hidup komunitas, Alberto A, Djono Moi, O.Carm).

Tinggal di dalam Kristus



Ketika berumur empat puluh tahun, nenek saya pernah menderita kanker ganas, namun beliau tetap aktif dalam grup tarinya dan aktif juga dalam berbagai kegiatan gereja. Pada waktu merayakan pesta ulang tahun yang kesembilan puluh, beliau menari bersama teman-temannya. Kami cucu-cucunya deg degan (ketakutan) ketika melihat nenek menari, tetapi beliau menari dengan lincahnya. 

Meskipun sudah berusia lanjut, nenek masih tetap mengirim makanan ke paroki bahkan suka berbagi botok alur ke tetangga. Beliau suka naik becak mengunjungi rumah teman-temannya, bahkan yang berada di panti jompo pun dikunjunginya. 

Meskipun sudah berusia sembilan puluh lima tahun, beliau tetap merawat wajahnya dan menata rambutnya sendiri. Suatu hari, sesudah memakai make up dan mengeset rambutnya, beliau terjatuh dan kepalanya mengalami pendarahan. Kami membawanya ke Rumah Sakit, namun keesokan harinya beliau meninggal. 

Sebagai cucunya, saya percaya bahwa nenek saya tahu tujuan hidupnya. Oleh karena itu beliau selalu tinggal di dalam Kristus sehingga mempunyai suatu kekuatan yang luar biasa dalam hidup ini. 

Marilah kita belajar dari Yoh 15:1-16: 

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang (1A) tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang (2A) berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah (2C) bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. 

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu (1B) tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa (3B) tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 

(4B) Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." 

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu (3A) menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 

(4A) Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi (2B) Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, (4C) supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 

» (1AB, 2A) Kita masuk kategori yang mana? (2BC) Sesungguhnya, pembaptisan membersihkan kita dari semua dosa (ketika menerima Sakramen Baptis). Tritunggal Mahakudus menganugerahkan rahmat pengudusan, rahmat pembenaran, yang menyanggupkan percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya; hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus; bertumbuh dalam kebaikan (KGK 1265-1266). 

(3AB) Seringkali kita mengira dengan “mengikuti Kristus” maka segala masalah, baik itu masalah keluarga, keuangan atau sakit penyakit akan terbebas dengan sendirinya oleh karena Kristus. Tidak! 

Yang dimaksud dalam perikop ini adalah adanya “relasi” dengan Kristus (tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia), maka kita akan terhubung dengan Kristus secara terus-menerus seperti “colokan listrik” pada alat-alat elektronik sehingga dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. 

Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8, 16). Ketika kita tinggal dalam kasih-Nya, maka karakter Kristus akan tertrasfer kepada kita sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh (KGK 1832: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

Oleh karena itu kita harus berusaha untuk menambahkan kepada iman: 1. kebajikan (menggenapi rancangan Tuhan untuk hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral) 2. pengetahuan (mempelajari firman Tuhan untuk memperoleh hikmat guna melawan kepalsuan) 3. penguasaan diri (mengagungkan Tuhan begitu rupa, sehingga kita memilih untuk berperilaku saleh) 4. ketekunan (memiliki sikap penuh pengharapan, bahkan di masa-masa yang sulit, karena kita percaya pada sifat Tuhan) 5. kesalehan (menghormati Tuhan di setiap hubungan dengan sesama dalam hidup kita) 6. kasih akan saudara-saudara (menunjukkan perhatian yang hangat terhadap saudara seiman), dan (7) kasih akan semua orang (rela berkorban demi kebaikan sesama) (2 Ptr 1: 5-7) sehingga kita bisa menjadi “surat Kristus” di dalam hati manusia (2 Kor 3:3). Maksudnya, kita bisa mengasihi sesama kita, menjadi Kristus kecil, yang memberi pengaruh positif pada sesama kita. 

Ada seorang gadis (X) yang diajak pacarnya (Y) untuk berhubungan intim. Karena sangat mencintai pacarnya, maka X menyetujuinya. X tidak menyangka kalau Y lagi bertaruh hanya untuk membuktikan bahwa betapa hebatnya dia di muka teman-temannya, telah berhasil merebut hati dan keperawanannya. Ketika video hubungan mereka tersebar luas, X sangat depresi, dia malu untuk kuliah dan ada juga keinginan untuk bunuh diri. 

X mempunyai dua sahabat A dan B. A dengan setia membawanya ke dokter untuk mengobati depresinya. Kadangkala peristiwa itu dapat dilupakan, kadangkala tidak. Jika teringat peristiwa itu, X ingin bunuh diri dengan cara minum semua obat dokter. 

B mengajak X pindah kost. Ketika B tidak ada kegiatan kuliah, dia menemaninya, mengajaknya berbincang-bincang, makan bersama, mengingatkan mandi dll. Ketika liburan semesteran, B mengajak X untuk pindah kost ke luar kota agar X memulai hidup baru lagi di kota yang tidak ada seorang pun yang mengetahui masa lalunya. Setiap liburan B mengunjungi X. Dengan berjalannya waktu, masa gelap itu dapat dilupakan dan X memperoleh hidupnya kembali, keceriannya kembali seperti semula. 

Siapa yang tinggal dengan X? B, B adalah sahabat sejati, dia selalu menyertai X dan membawa pengaruh positif dalam kehidupan sehingga sukacitanya menjadi penuh. X melihat kasih Tuhan melalui kehidupan B. Jadi, B adalah Yesus kecil bagi X. 

Ada seorang guru yang mengajak murid-muridnya untuk memberikan sebuah pita sebagai tanda penghargaan buat orang lain. 

Sepulang sekolah, salah satu muridnya (C) memberikan pita tersebut kepada kakak kelasnya (D), eksekutif muda yang sangat dikaguminya, katanya: “Kak, saya merasa bangga boleh mengenal kakak. Keberhasilan kakak menjadi inspirasi hidupku. Berikan pita ini pada orang lain sebagai tanda penghargaan.” 

Dengan hati berbunga-bunga karena dikagumi, D memberikan pita tersebut kepada bosnya (E), katanya: “Bos, saya merasa bangga menjadi bawahanmu. Berkat bimbinganmu, saya bisa menjadi eksekutif muda. Engkau telah menjadi inspirasi hidupku. Berikan pita ini pada orang lain sebagai tanda penghargaan.” 

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba E teringat akan anak satu-satunya yang suka membantah, tindakannya menjengkelkan dan gagal sekolah. Sesampainya di rumah, E memberikan pita tersebut kepada anaknya (F) sambil memeluknya, E berkata: “Anakku, engkau adalah satu-satunya harta papa yang sangat berharga. Papa sangat mengasihimu.” 

Sambil berderai air mata F menyerahkan sepucuk surat pada E, katanya: “Andaikata papa tidak memberikan penghargaan pada saat ini. Malam ini aku merencanakan bunuh diri, karena aku merasa tak seorangpun yang sungguh-sungguh peduli padaku, termasuk papa. Aku berpikir bahwa papa tidak akan merasa kehilangan. Ternyata hidupku sangat berharga di mata papa.” 

Bilamana kita dikatakan tinggal di dalam Yesus? Bila kita merasakan kehadiran Yesus ketika berada dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengurbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-Sakramen sekian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20 » komunitas kaum beriman)" (SC 7) (KGK 1088). Kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (KGK 2653). Semua firman-Nya adalah kebenaran dan menguduskan (Yoh 17:17; Mzm 105:42). 

(4ABC) Yesus adalah Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita (Mat 1:23). Janji-Nya: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Jika kita tinggal di dalam kasih-Nya maka kita akan mendapat bonus-Nya. 

Kadangkala hidup kita seperti HP yang kehabisan kuota atau tidak dapat terhubung dengan sinyal wifi sehingga karakter Kristus tidak nampak lagi dalam kehidupan kita. Koneksi putus-nyambung ini akibat dari pengaruh dunia sehingga pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33). 

Akibat dari koneksi yang putus-nyambung ini, manusia lama dan kelakuannya yang pingsan bangkit kembali ketika jiwanya mengalami tekanan hidup (Yer 17:5 » Mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatannya sendiri; Ayb 36:13 » Hatinya menyimpan kemarahan; Yud 1:16; Mzm 10:7; Ams 15:28 » Menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, mulutnya penuh dengan sumpah serapah, mencurahkan hal-hal yang jahat, mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan). 

Jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Ibr 12:15). Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka (Ibr 10:24-27). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 21 November 2019, Ibu Kristina).

19.49 -

3 macam salib



1. Salib hitam (godaan dari setan supaya manusia jatuh) » penderitaan karena kesalahan sendiri

[Luk 4:1-13] Yesus dicobai Iblis. ... Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. [1 Ptr 5:8] Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya

[Yak 1:13-15] Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. 

[Kej 3:6] Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 

[Pkh 5:9] Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya

[Ams 23:3] Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu

2. Salib putih (cobaan: di-ijinkan Tuhan untuk membuktikan kemurnian iman – 1 Ptr1:7) » penderitaan karena ujian

[Ayb 1:12] Firman Tuhan kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." 

3. Salib merah » penderitaan karena mengikuti ajaran Yesus, menjadi pelaku firman (Yak 1:22). 

[Luk 9:23] Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » youtube Rm Eko Wahyu OSC).