Kamis, 06 April 2017

Kelemah-lembutan mendatangkan kuasa



Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23).

Banyak orang Kristiani yang telah keliru memahami definisi Alkitab dari kata kelemahlembutan. Semua orang tahu bahwa Yesus lemah lembut, dan mereka biasanya menghubungkan kelemahlembutan-Nya dengan kemampuan-Nya untuk menderita aniaya tanpa melawan atau membalas sedikit pun. 

Padahal kelemahlembutan sebenarnya mempunyai tiga definisi yang jauh lebih luas daripada hanya tidak membalas.


Menurut James Strong dalam bukunya "Strong's Exchaustive Concordance of the Bible", Orang yang lemah lembut mempunyai sikap (1) penuh penguasaan diri dan tidak cepat menyerang ataupun membalas (2) mempunyai roh dan cara berpikir yang rendah hati (3) mau diajar

Ketiga atribut inilah yang membentuk buah Roh Kelemahlembutan dalam pribadi seorang yang beriman.

Fungsi pertama dari buah Roh kelemahlembutan adalah memampukan orang-orang beriman untuk mengembangkan roh penguasaan diri sehingga tidak mudah menyerang ataupun membalas (1 Ptr 2:19-20 » karena sadar akan kehendak Allah: berbuat baik, menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung).

Banyak orang Kristiani masa kini yang menganggap mereka bersikap lemah lembut jika mereka tidak tersinggung bila ditegur oleh karena kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. 

Tetapi, sebenarnya kita tidak dapat menyamakan penderitaan seseorang yang telah membuat kesalahan atau melakukan kejahatan sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan terjadi bila seseorang tidak tersinggung ketika ia harus menderita karena hidup dalam kebenaran.

Orang yang benar lemah lembut memiliki penguasaan diri tidak mengeluarkan reaksi yang negatif walaupun ia dituduh, difitnah, disakiti, atau dianiaya. Kekuatan untuk menguasai diri sementara menderita ketidakadilan dimilikinya karena ia telah memupuk buah roh kelemahlembutan.

[Bil 12:1-13] Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.

Kata mereka: "Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada Tuhan

Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah Tuhan dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." 

Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah Tuhan dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.

Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, Tuhan menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 

Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa Tuhan. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" Sebab itu bangkitlah murka Tuhan terhadap mereka, lalu pergilah Ia. 

Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta

Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya." Lalu berserulah Musa kepada Tuhan: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia." 

» Kelemahlembutan memberikan kekuatan dan penguasaan diri kepada Musa untuk tidak membalas dendam, membela diri ketika difitnah tetapi membiarkan Allah membenarkan dirinya.

Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi gunakanlah peristiwa-peristiwa yang membuat sakit hati dan ingin membalas dendam sebagai kesempatan bersyafaat bagi kepentingan orang lain.

Fungsi kedua dari buah kelemahlembuatan adalah membuat orang-orang beriman mampu hidup dalam roh dan pikiran yang rendah hati. 

Seorang sarjana Alkitab terkemuka W.E Vine mengartikan kelemahlembutan sebagai "kebalikan dari sikap suka menonjolkan dan mementikan diri sendiri; sama sekali tidak memusatkan perhatian kepada diri sendiri." (Flp 2:3-4 » rendah hati: menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri, memperhatikan kepentingan orang lain juga).

Orang Kristiani yang mengembangkan buah Roh kelemahlembutan di dalam dirinya akan mendapatkan bahwa Ia mempunyai sikap baru, yakni kesejahteraan orang lain menjadi lebih penting daripada kesejahteraan dirinya. 

Pada saat hal ini terjadi, orang Kristiani ini akan mendapatkan bahwa suatu rintangan besar yang sebelumnya membuat ia tidak bisa maju dalam kehidupannya telah hancur.

Sebagai contoh, jika ia menghadapi suatu pencobaan, umpamanya menderita suatu penyakit, ia tidak hanya akan mendoakan dirinya melainkan juga mendoakan orang lain yang sedang menghadapi cobaan yang sama. 

Hanya kelemahlembutan bisa membuat seorang beriman memiliki pikiran yang rendah hati untuk mendahulukan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain daripada kesejahteraan dan kebahagiaan dirinya sendiri.

[Kel 32:30-32] Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu." 

Lalu kembalilah Musa menghadap Tuhan dan berkata: "Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." 

» Bagi Musa, keselamatan umat Allah sangat berharga sehingga ia rela mengorbankan keselamatannya sendiri.

Ditengah-tengah masyarakat saat ini yang selalu mementingkan diri sendiri, kita sangat perlu mengembangkan sikap kelemahlembutan ini.

Rasul Paulus menasihatkan “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Gal 6:1).


[Bil 20:7-12] Tuhan berfirman kepada Musa: "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." 



Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan Tuhan, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya


Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" 

Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

Tetapi Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." 

» akibat tidak punya penguasaan diri. 


Paulus menjelaskan sikap dan perlakuan yang Tuhan ingin kita lakukan terhadap orang-orang semacam itu adalah memimpin (= memperbaiki, menegur dan menasehati secara terus menerus dengan penuh kesabaran dan ketekunan) orang tersebut, meskipun telah berlangsung lama dan belum menunjukkan respon yang positif, tetapi tetap dengan kelemahlembutan, memimpinnya ke jalan yang benar.

Fungsi ketiga dari buah Roh kelemahlembutan adalah membuat orang-orang Kristiani mau menerima pengajaran Firman.

Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.’ (Yak 1:21).

Firman hanya dapat tertanam dalam hati kita bila kita lemah lembut. Penerimaan terhadap Firman "yang tertanam dalam hati" akan membuahkan "keselamatan jiwa"; yakni kemampuan untuk bertahan sampai pada akhirnya, berkemenangan, tidak dapat dikalahkan iblis. Kemampuan ini hanya dapat diperoleh jika kita memiliki roh yang mau diajar.

Pengajaran, kotbah, teguran maupun nasihat Firman Tuhan akan memperbarui pikiran kita.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Tim 3:16).

Penghalang terbesar yang dihadapi orang Kristiani yang mau mengembangkan sikap roh yang mau diajar adalah adat istiadat manusia. 

Suka atau tidak, ada hal-hal dalam adat istiadat yang sudah temurun diajarkan oleh orang tua kita harus dikikis agar kebenaran firman Tuhan dapat kita terima secara utuh. Ketika kita menuruti Roh kelemahlembutan maka hal ini bukanlah permasalahan yang sulit karena kuasa Tuhan lah yang membantu menjalani keputusan yang menurut kita berat tersebut.

Setelah kita mengerti akan fungsi dari Roh kelemahlembutan terus bertumbuh dalam hidup kita, maka pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah, "bagaimana cara menumbuhkannya?" 

Setidaknya ada 3 cara, yakni pertama dengan melakukan puasa. Dengan berpuasa maka sebenarnya Anda sedang belajar untuk mengorbankan hal-hal yang penting dalam hidup Anda, dalam hal ini yang Anda korbankan adalah nafsu makan Anda. 

Ketika Anda berhasil melaksanakannya sebenarnya itu dapat menjadi tolok ukur kemungkinan besar akan bersedia juga mengorbankan hal-hal lain yang dimilikinya bagi orang tersebut bila dianggapnya perlu. 

Ingat, bahwa salah satu unsur dari Roh kelemah lembutan adalah penyangkalan diri, yang mencakup antara lain berpuasa atau tidak makan.

Cara kedua adalah dengan mengambil manfaat dari pengalaman padang gurun kehidupan

Kehidupan Musa adalah contoh yang menunjukkan betapa Allah menunjukkan pengalaman-pengalaman padang gurun untuk mengembangkan kelemahlembutan dalam diri anak-anak-Nya. 

Dan cara ketiga atau terakhir adalah melakukan penyangkalan diri. Kelemahlembutan merupakan kebalikan dari sikap mementingkan diri sendiri. Yesus ketika hidup sebagai manusia pun melakukan hal ini (Filipi 2:5-8). 

Dia mengosongkan diri-Nya agar kehendak Allah tergenapi di bumi. Yesus menyangkal diri-Nya sendiri dan mau taat akan tugas yang diberikan Allah kepada-Nya. Hasilnya adalah saat ini hubungan antara manusia dengan Allah pun kembali tersambung.

Memiliki Roh kelemahlembutan di dalam diri seseorang adalah sebuah hal yang luar biasa. Dengan terus menerus mengembangkan buah kelemahlembutan maka orang tersebut sebenarnya akan semakin rendah hati terhadap setiap ajaran firman Tuhan.

Begitupun dengan Anda saat ini. Ketika Anda mau belajar mengembangkan buah kelemahlembutan, firman Tuhan yang Anda dengar dan baca akan membakar hati Anda untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan

Miliki dan kembangan buah Roh kelemahlembutan itu sekarang dan jadilah orang yang menjadi pembawa kabar injil keselamatan itu kepada setiap orang yang Anda temui.

(Sumber: www.jawaban.com)

20.38 -

Sebuah kisah tentang ayah

Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk-batuk. "Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak "disimpan dalam hati" karena kau perempuan", kata ibu. 

Aku mendengarkan ibu dengan heran.

"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.

Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki-laki "tak lazim" memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.

"Ibu memang sering menelponmu. Tahukah kau, itu karena ayahmu yang menyuruh dan mengingatkan. Mengapa bukan ayahmu sendiri yang menelpon? 

Dia bilang, "Suaraku tak selembut suaramu.  Anak kita harus menerima yang "terbaik".

"Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang. Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas."Alangkah cantiknya anak kita ya bu," kata ayahmu sambil menyeka air matanya.

Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah. Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar.

Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. 

Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang. Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yang kuminta. 

Ibu heran. "Tidak jadi ke dokter?" tanya ibu. "Kapan-kapan saja. Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri", kata ayah. 

Rupanya "biaya ke dokter", uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan "mengorbankan kesehatannya".

"Dulu setelah prosesi nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar. Kau tahu apa yang dilakukan?" tanya ibu. Aku menggeleng.

"Ayahmu berdoa dan bersyukur sambil berdoa untukmu. Air matanya membasahi pipinya yg sudah keriput. Dia mohon agar Tuhan melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu. 

Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa bersyukur kepada-Nya. Sekiranya diberi ujian, mohon ujian itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu. 

Lama sekali dia berdoa sambil terisak. Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu. Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya."

Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi. Dari kamar terdengar ayah batuk lagi. Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.

"Kau habis menangis?" ayah menatapku melihat sisa air di mataku. "Oh, tidak ayah!" aku tertawa renyah.

Ku pijit betisnya lalu pundaknya. "Pijitanmu enak sekali seperti ibumu", katanya sambil tersenyum. 

Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian. 

Itulah pertama kali aku memijit ayah. Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.

"Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku. Nanti sore ayah kuantar ke dokter", kataku. 

Ayah menolak. "Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri." 

"Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku", kataku berbohong.

Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter. Tapi aku "berbohong" agar ayah mau kubawa ke dokter. Aku bawa ayah ke dokter spesialis.

Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yang lebih murah. Aku hanya tersenyum.

Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga. Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku. Ibu bertanya setengah protes. "Dari mana biayanya?". Aku tersenyum, "Aku yang menanggung seluruhnya bu."

Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku. Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah. Aku bisa! Aku bisa bu!". 

Kepada dokter aku berbisik: "Tolong lakukan yang terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya", kataku. Dokter tersenyum.

Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk "membayar keinginannya" di stasiun dulu. "Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu", kataku. 

Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, aku berpikir, "berapa banyak anak yang tidak paham" dengan ayahnya sendiri seperti aku.

Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.

Hari-hari berikutnya aku selalu berdoa. Namun kini dengan perasaan berbeda. Terbayang ketika ayah berdoa pada hari pernikahanku sampai pipinya yg keriput basah dengan air matanya.

I love you ayah... 

20.22 -

Sel-sel kanker paling takut dengan kasih

Penemuan mutakhir di USA yang menggemparkan tentang manusia: menyatakan bahwa sel-sel kanker paling takut dengan kasih


Penelitian menemukan banyak orang sakit karena tidak punya cinta kasih!

Profesor Amerika Hawkins yg adalah seorang dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. 

Begitu melihat seseorang, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena dari tubuhnya tidak ditemukan kasih sedikitpun kasih dalam dirinya, yang ada hanya penderitaan, keluhan dan deraian air mata yang membungkus seluruh tubuhnya. 

Profesor Hawkins mengatakan: kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati yg mangasihi dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

David Hawkins mendapati bahwa sebagian orang sakit selalu menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang "di atas 200" maka dia tidak akan sakit. 

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu: suka mengeluh, suka mnyalahkan orang lain, dendam pada orang.

Kalau pikiran-pikiran itu yang menguasai pikiran seseorang berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja. 

Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200. 

Orang- orang seperti itu sangat mudah mengidap berbagai jenis penyakit.

Frekuensi paling tinggi berada di angka 1000 dan yang paling rendah berada di angka 1. 

Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat yang mempunyai frekuensi positif di atas 700 maka kekebalannya/kemampuannya sangat cukup. 

Jika orang-orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu. Seorang yang berkebajikan tinggi yang mendapatkan penghargaan novel perdamaian seperti Bunda Teresa jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif dan sangat tinggi. Semua orang yang hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran kasihnya yang sangat tinggi, semua orang merasa nyaman dan sangat tergugah di dalamnya.

Pada saat orang yang memiliki getaran hawa positif tampil di suatu tempat maka dia akan menggerakkan semua orang dan makhluk yang ada di tempat itu menjadi nyaman dan merasa damai

Namun pada saat orang memiliki pikiran negatif muncul di suatu tempat bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan atmosfir/hawa positif di tempat tersebut memburuk.

Profesor Hawkin telah melakukan puluh kali riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu: asal getaran frekuensinya berada "di bawah 200" maka orang itu "pasti sakit". Tapi jika berada "di atas 200" maka orang itu "tidak sakit." 

"Yang di atas 200": apa saja yg didasari dengan hati welas asih, cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois dalam semua hal, hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang "paling rendah". 

Hal itu yg menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya.

Dia memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

Kekuatan Kasih:

Seorang seniman biola setelah mengidap penyakit kanker dia berjuang melawan penyakitnya namun dia merasakan semakin hari semakin memburuk lalu dia memperbaiki konsep pikirannya dengan mencintai semua sel kanker yang ada dalam dirinya sendiri, dia melihat sel kanker yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelayanan pada dirinya dan ia berterima kasih padanya dan dia merasakan perasaannya lebih nyaman. 

Selanjutnya dia memutuskan menjalani dengan kasih untuk menghadapi dan semua masalah yang dihadapinya dia memutuskan untuk melayani setiap orang dan dirinya sendiri dengan kasih

Setelah beberapa waktu berlalu di luar dugaan, semua sel-sel kanker dalam dirinya menjadi hilang. Terakhir dia menjadi seorang ahli therapy di Jepang. Dia mendapati dasar dari semua kehidupan adalah kasih 

Pada saat seseorang telah bisa hidup dengan cinta, maka dia bisa mendapatkan kedamaian dan kesehatan secara fisik dan batin.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Ams 17:22).


Porselen

Saat kebakaran melanda pasar, semua barang jadi arang. Tapi barang porselen tetap utuh dan tidak terbakar. Kenapa? Karena barang porselen sudah pernah melewati api.

Demikian juga dengan penderitaan. Salah satu tujuan penderitaan adalah agar membentuk kita menjadi manusia yang kuat dan tahan uji

Contoh, Api memurnikan emas, penderitaan memurnikan manusia. Melalui penderitaan, kita mengetahui kekuatan iman seseorang. Contoh, untuk membuktikan kesalehan Ayub, Tuhan mengizinkan iblis mencobainya.

Kalau Yesus saja rela menderita demi menebus dosa manusia, kenapa kita umat Tuhan menuntut hidup tanpa penderitaan? Padahal ikut Tuhan atau tidak ikut Tuhan, penderitaan pasti ada. Hanya saja, saat kita ikut Tuhan, penderitaan membuat iman kita dimurnikan.

Ayub 23:10 "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."

Selasa, 04 April 2017

18.11 -

Hari Sabat



[Kej 2:2] Ketika Allah pada (1) hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, (2) berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.

(1) Kej 2:2a kedengarannya agak janggal, maka penulis LXX (Septuaginta = terjemahan Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani) mengganti hari ke tujuh” pada dengan hari “keenam” (“Ketika Allah pada hari keenam telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, ...”). Kalimat ini juga sesuai dengan perintah Sabat pada Kel 20:8-11.

Namun, para rabbi Yahudi menandaskan bahwa “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu bukan suatu kesalahan tulis. Hal itu menunjukkan bahwa karya penciptaan baru sempurna pada hari ketujuh, yakni dengan “diciptakannya” istirahat itu sendiri.

Jadi, penciptaan baru sempurna dengan beristirahat-Nya Allah. Allah beristirahat bukan karena Ia letih. Allah beristirahat karena Ia mau menarik diri dari karya penciptaan sehingga Ia dapat memandang, mengagumi, dan menikmati karya-Nya.

(2) Dengan beristirahat pada hari ketujuh, Allah menunjukkan bahwa Dia mampu menguasaimembatasi, dan mengontrol kekuasaan-Nya. Dia tidak diperbudak oleh kuasa-Nya untuk terus-menerus mencipta tanpa henti.

Inilah Dia yang benar-benar mahakuasa, yakni Dia yang mampu menguasai segalanya termasuk kuasa-Nya sendiri sehingga Dia tetap tuan atas kuasa-Nya

[2:3] Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

» kata menguduskan adalah terjemahan kata Ibrani qadas yang sejatinya berarti “memisahkan” atau “mengkhususkan” dari yang lain. Allah memisahkan hari ketujuh dari hari yang lain sehingga menjadi hari yang khusushari milik Tuhan. karena dikhususkan untuk Allah, ia pun akhirnya memiliki makna keagamaan dan disebut hari Sabat. Untuk menjamin pengudusannya, dirumuskanlah hukum Sabat dalam Dekalog (Sepuluh Firman).

Enam hari kerja secara simbolis dikaitkan dengan masa perbudakan, sedangkan Sabat dikaitkan dengan saat pembebasan

Sabat mengenang tindakan Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Ia membuat Israel menjadi manusia yang manusiawi, bangsa yang otonom dan berdaulat, subjek yang bebas yang memiliki hak dan martabat.

Dengan menguduskan hari Sabat Israel diingatkan bahwa ia orang bebas yang tidak boleh diperbudak oleh apa puntermasuk kerja. Ia juga diingatkan bahwa kebebasan dan keselamatannya adalah pemberian Tuhan dan bukan pekerjaan tangan mereka sendiri. Karena itu, pada hari Sabat Israel mengucap syukur kepada Tuhan dan hidup dalam sukacita.

Makna dasar hukum Sabat bukanlah beristirahat, melainkan pembebasan dari perbudakan yang tersirat dalam beristirahatnya Allah pada hari ketujuh dan keluarnya Israel dari perbudakan Mesir.

Orang Yahudi yang terlalu menekankan istirahat dalam peraturan Sabat yang begitu ketat, tanpa sadar justru menghilangkan makna dasar hukum Sabat. Mereka menjadi budak peraturan itu.

Yesus sering melanggar hukum Sabat untuk meluruskan pemahaman mereka (Mat 12:1-8, 9-15; Mrk 2:23-28; 3:1-6; Luk 6:1-5, 6-11; 13:10-17; 14:1-6); Yoh 5:1-18). Berkali-kali Ia menekankan bahwa manusia adalah tuan atas hari Sabat dan bukan budak hari Sabat (Mrk 2:27-28; Luk 6:5).

Bagi orang Kristen pembebasan sempurna dari perbudakan, khususnya perbudakan dosadilakukan oleh Kristus melalui sengsara dan kebangkitan-NyaKebangkitan-Nya itu terjadi pada hari Minggu, hari pertama dalam minggu (Mat 28:1; Mrk 16:2, 9; Luk 24:1; 20:1). Karena itu sepatutnyalah Gereja merayakan Sabat pada hari Minggu dan bukan hari Sabtu.

Orang Kristen beribadah merayakan karya penebusan Kristus yang membebaskan mereka dari perbudakan dosa, dan kerinduan mereka akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya sebagai pemenang yang jaya.

Hari Minggu merupakan hari pertama dari semua hari dan semua pesta, karena dia adalah hari ciptaan baru yang dimulai oleh kebangkitan Kristusyang menyempurnakan kebenaran rohani Sabat Yahudi.

Kebiasaan merayakan hari Minggu, hari pertama dalam minggu, sudah ada sejak zaman Gereja awali (Kis 20:7). Mereka juga menyebut hari itu hari Tuhan (Why 1:10) meskipun istilah hari Tuhan lebih banyak mengacu ke akhir zaman, hari kedatangan Kristus yang kedua kalinya (1 Kor 1:8; 3:13; 5:5; 2 Kor 1:14; 2 Ptr 3:10).

Enam hari karya penciptaan ini dilengkapi dengan istirahat pada hari ketujuh dan ditutup dengan pernyataan "Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan" (Kej 2:4a).

Penutup ini pararel dengan pengantar pada Kej 1:1sehingga membentuk sebuah inclusio yang sangat indahInclusio adalah sebuah gaya menulis di mana lesatuan suatu cerita ditunjukkan melalui pemakaian kata atau ide yang sama atau bertentangan di awal dan di akhir cerita.

(Sumber: Warta KPI TL No. No.143/III/2017 » Perempuan sumber dosa?, Dr Penka Yasua).




18.08 -

Manusia menurut gambar dan rupa Kita



[26] hari ke-enam, (1) Baiklah Kita (2) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kitasupaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. 

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Mengapa Allah menciptakan manusia paling akhir dari seluruh rangkaian penciptaan-Nya? Ia menciptakan manusia pada hari terakhir di mana segala sesuatu telah diciptakan karena manusia sangat berharga di mata-Nya lebih daripada ciptaan-ciptaan-Nya yang lain, Semua ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan kebutuhan manusia, sejak manusia itu muncul pertama kali di bumi ini.

(1) Siapakah “Kita” yang diajak ikut serta oleh Tuhan ini? Mengapa pengarang memakai bentuk jamak “Kita” dan bukan bentuk tunggal “Aku”. 

Ada banyak tafsiran.

Menurut beberapa Bapa Gereja, “Kita” adalah ketiga Pribadi Tritunggal (Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Tafsiran ini lazim di kalangan Gereja, dan masih banyak dipakai sampai sekarang untuk mendasari iman akan Tritunggal. 

Namun harus diakui bahwa pendasaran ini tentu tidak kuat. Mengapa? Ayat ini ditulis sekitar abad ke-6 SM oleh para imam Yahudi yang pasti belum mengenal konsep Tritunggal. Selain itu, sampai kini orang Yahudi, yang mempercayai teks ini sebagai Kitab Suci mereka, tidak percaya akan Tritunggal. Rasanya tidak masuk akal bahwa menulis sesuatu yang sama sekali tidak diketahui atau dipikirkannya. Karena itu tafsiran ini kini mulai ditinggalkan.

Kita” adalah Allah dan manusia. Jadi, ayat 26a harus dipahami dalam arti Allah mengajak manusia (“marilah Kita”) untuk ikut serta dalam penciptaan manusia. Tafsiran inilah yang tampaknya paling tepatdan kini diikuti oleh banyak penafsir modern.

Terhadap tafsiran seperti ini orang mungkin mengajukan keberatan berikut: bagaimana mungkin manusia yang belum ada sudah diajak ikut serta dalam menciptakan manusia

Jawabannya sederhana. Keberatan seperti itu muncul karena kita terbatas pada ruang dan waktu, sementara Allah tidak. Seperti Petrus dalam suratnya mengatakan: “Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari (2 Ptr 3:8).

Keakuratan tafsiran ini tampak dari pemakaian kata kerja “asa” (membuat) pada ayat 26 dan “bara” (mencipta) ayat 27. 

(2) Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan (asa) manusia (adam) menurut gambar dan rupa Kita. Kata ‘asa’ yang berarti membuat atau menjadikan, dipakai bisa untuk Allah ataupun manusia sebagai subjek. 

Allah menyatakan rencana-Nya mengajak manusia untuk bekerja sama membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita (Allah dan manusia). 

Manusia diciptakan setengah jadibelum sempurna sebagai manusiaartinya ia selalu dalam proses menjadi manusia sejatimanusia yang memiliki gambar dan rupa Allahmanusia yang ilahi dan insani.

Proses pengembangan diri ini merupakan perwujudan kreavitas manusia yang sejak semula direncanakan oleh Allah mewakili diri-Nya di dunia ini.

Jadi, rencana Allah sejak semula, sejak belum diciptakan, Allah sudah merencanakan manusia serupa dengan diri-Nyayaitu kreatif.

Manusia dianugerahi akal budi (reason) yang terdiri dari akal (intellect) dan kehendak (will). Akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kehendak bebas untuk berkata “ya” atau “tidak” terhadap Pencipta.

Gambar ini rusak bahkan hilang karena manusia berdosa (tidak terarah kepada Allah). Satu-satunya manusia sejatimanusia yang bebas dari dosa, ialah Yesus Kristus. Ia bukan saja memiliki gambar dan rupa manusia melainkan juga gambar Allah (Bdk. Kol 1:15; Yoh 14:9).

Jika seseorang mau mengetahui manusia sejati, ia harus melihat Yesus, sebab Dia mempunyai dua rupa: Dia sungguh Allah, sungguh manusia dan bukan manusia setengah jadi.

Jika seseorang mau menjadi manusia sejati seperti yang direncanakan oleh Allah, ia harus meneladani Yesusmenjadi serupa dengan-Nya (Rm 8:29).

Jika kita melihat Kristus maka tampak bahwa unsur utama Allah bukanlah akal budi melainkan kasih dan keterarahan total kepada Allah. Kasih-Nya begitu besar sampai Ia rela melayani dan menyerahkan nyawa-Nya untuk keselamatan manusia (Mrk 10:45; Yoh 15:13).

Seluruh hidupnya terarah kepada Allah dan Dia datang hanya untuk melakukan kehendak Allah (Yoh 4:34). Selain itu, Ia juga berkuasa penuh atas alam seperti Ia buktikan dalam meredakan badai, berjalan di atas air, dan menyembuhkan pelbagai macam penyakit.

Sudahkah hidup kita dalam kasih dan sepenuhnya terarah kepada Allah? Atau adakah kita lebih terarah kepada hal-hal duniawi seperti kekayaan dan kenikmatan jasmani?

Memiliki martabat sebagai citra Allah mengandaikan relasi yang dekat dengan Allah, seperti manusia dan gambarnya di cermin, atau seperti bapa dan anak.

Manusia menghadirkan Allah di dunia ini bukan karena sifat dan keunggulannya dibandingkan dengan ciptaan lain, melainkan kedekatannya dengan Allah.

Relasi yang dekat membuat manusia mengenal Allah dan memiliki gambaran yang benar tentang AllahPengenalan ini menjadi sumber pengenalan manusia akan dirinya.

Ketika mengenal Allah sebagai penciptamanusia mengenal dirinya sebagai ciptaan yang serupa dengan Allah.

Ketika relasi ini rusak dan manusia tidak lagi terarah kepada Allah serta menempatkan-Nya sebagai asal dan tujuan akhir hidupnya, bukan saja martabatnya terkoyak melainkan identitasnya.

Manusia mengalami krisis identitas, keterkoyakan dan keterbelahan kepribadian serta keterasingan diri. Hal yang demikian ini banyak dialami oleh manusia dewasa ini.

Mereka merasa seperti terputus dengan dirinya sendiri, orang lain dan Tuhan karena ruang spiritual dalam dirinya terkoyak.

[27] Maka Allah menciptakan (bara) manusia (adam) itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah menciptakan adam. Apa yang dimaksud adam? Dari sudut etimologis, tampaknya kata Ibrani ‘adam’ dari akar kata ‘dm’ yang berarti merah. Hal ini mungkin merujuk ke warna kulit manusia yang kemerah-merahan ketika lahir. Selain itu, sepertinya juga ada permainan kata antara adam (manusia) dan adamah (tanah) yang menekankan bahwa manusia berasal dari tanah (Bdk. Kej 2:7).

Yang jelas, adam di sini bukanlah nama diri, melainkan kata benda umum yang berarti manusia (baik laki-laki maupun perempuan) atau kemanusiaan.

Kemudian pada Kej 2:22 ia digunakan dalam arti orang laki-laki yang dipertentangkan dengan perempuan, Hawa, namun dalam terjemahannya tetap dipakai kata manusia. Baru pada Kej 4:25 Adam mulai digunakan sebagai nama diri.

Ketika manusia (adam) diciptakan oleh Allah, manusia itu satu, karena dikatakan “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia” 

Kemudian Allah membuat manusia yang satu ini menjadi jamak (mereka): “laki-laki (zakar) dan perempuan (neqebah) diciptakan-Nya mereka”.

Dipakainya kata zakar (jenis laki-laki/maskulinitas dan neqebah (jenis perempuan/feminitas) dan bukan is (orang laki-laki) dan issa (orang perempuan) mungkin mau menunjukkan bahwa kemanusiaan itu adalah perpaduan laki-laki (maskulinitas) dan perempuan (feminitas).

Manusia bukanlah perempuan semata-mata atau laki-laki saja. Setiap manusia memiliki dalam dirinya unsur feminitas dan maskulinitas. Itulah salah satu sebab mengapa ia kreatif.

Manusia adalah gambar Allah ketika mereka satu (tunggal “ia”), ketika ia merupakan persatuan antara laki-laki dan perempuan.

Perbedaan gender ini dimaksudkan untuk saling mengisi dan melengkapi agar manusia menjadi semakin kreatif

Ketika laki-laki dan perempuan ada dalam relasi yang harmonisada dalam kesatuanmereka semakin mendekati gambar Sang PenciptaKarena ketika laki-laki dan perempuan bersatu (bersetubuh) mereka kreatif (melahirkan anak) seperti Allah kreatif.

[28] Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "(1) Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan (3) taklukkanlah itu, (2) berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

» Tuhan tidak saja menciptakan, tetapi memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan-Nya mewujudkan rencana-Nya (KGK 306). Kepada manusia diberikan kuasa untuk memenuhi dan menaklukkan bumi (Kej 1:26-28); mengambil bagian dalam karya penciptaan, dan mengusahakan keseimbangannya demi kebaikannya dan kebaikan sesama.

Manusia diundang untuk mengambil bagian dalam rencana Allah, melalui perbuatannya, doa-doanya maupun penderitaannya, dan dengan demikian menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9, 1 Tes 3:2; Kol 4:11).

Menjadi penakluk bumi bukan dengan merusak bumisebab Tuhan memanggil manusia laki-laki dan perempuan untuk menjadi gambaran Allah yang menyayangi semua yang ada dan mengambil bagian dalam penyelenggaraan bagi ciptaan yang lain dan manusia bertanggungjawab atas bumi kepada Tuhan yang telah mempercayakannya kepadanya (KGK 373).

Kreativitas manusia tersirat dalam berkat yang diberikan kepadanya setelah ia diciptakan. Jadi Allah memberkati manusia agar ia berkembang biak, kreatif membuat anak dan berkuasa atas ciptaan lain.

(1) Mendapat anak adalah tanda berkat atau kasih Allah untuk manusia (Bdk Mzm 127:3). Setiap pasangan suami istri sepatutnya menerima dan menghidupi tanggung jawab atas anugerah itu, yakni tanggung jawab memberi hidup!

(2) Namun berkat untuk berkuasa atas ciptaan lain sering disalahartikan sebagai pembenaran tindak kekerasan manusia terhadap ciptaan lain. Merasa mendapat berkat khusus dari Allah manusia mengelola alam sewenang-wenang hingga merusak keseimbangan dan kelestarian alam.

(3) Memang sepintas berkat Allah agar manusia “menaklukkan” dan “menguasai” segala jenis binatang kedengarannya berbau kekerasan.

Marilah kita melihat konteks Kej 1:1-2:4a. Konteks ini berbicara tentang Allah sebagai Pencipta yang menciptakan semesta alam ini baik, indah, teratur, dan harmonis.

Adalah sangat tidak masuk akal bila pada puncak karya penciptaan-Nya, Ia memerintahkan manusia untuk memperlakukan dan mengelola alam semesta secara sewenang-wenang dan tidak bertanggung jawab.

Selain itu, berkuasa merupakan bentuk gambar Allah dalam diri manusia, karena itu dalam mengejawantahkannya manusia harus bercermin pada Allah.

Allah menunjukkan kekuasaan-Nya tanpa kekerasantanpa menghancurkan apa-apa. Bahkan kuasa kejahatan pun tidak dihancurkan-Nya, sebaliknya dari kejahatan Ia mampu melahirkan kebaikan.

Jadi, tidak ada alasan untuk mengartikan ayat ini sebagai hak manusia melakukan tindak kekerasan atas binatang dan ciptaan yang lainnya. 

Demikian gambar dan rupa Allah dalam diri manusia terlihat pertama-tama dalam kapasitas kreatif dan kuasa yang dimiliki manusia. Kapasitas ini ada terutama karena manusia memiliki akal budi. 

Dengan karya-karyanya yang kreatif manusia melanjutkan karya penciptaan Allahmencerminkan, dan mewakili Allah - Pencipta di bumi.

Ketika kekuasaan itu buah kreativitas manusia yang mencerminkan Allah di dunia, ia memperlihatkan sesuatu tentang Allahkasih, kemurahan hati dan kebaikan.

[29-30]. Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu

Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." 

Perbedaan pemberian makan ini menghindari konflik dengan kekerasan antara manusia dan binatang dalam memperebutkan makanan. Manusia juga tidak makan daging binatang sehingga tidak perlu melakukan kekerasan menyembelih dan mencurahkan darah binatang.

Baru setelah air bah, daging binatang boleh dimakan manusia (Kej 9:3-4). Alasannya? Karena pada saat itu tanah belum menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Jadi, boleh manusia makan daging binatang yang ada dalam bahtera.



(Sumber: Warta KPI TL No. No.143/III/2017 » Perempuan sumber dosa?, Dr Penka Yasua).