Minggu, 06 Maret 2016

19.15 -

Kuk [Mat 11:28-30]




Apa Arti Kuk (Mat 11:28-30)?

Tentang kuk (Mat 11:28-30), terdapat beberapa penafsiran, yaitu:

Kuk dalam Perjanjian Lama adalah gambaran/metafor dari hukum Taurat (Yer 5:5, Kis 15:10). 

Maka di Injil Matius, kuk merupakan gambaran bagi hukum yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, sebagai Pemberi hukum yang baru. 

Kuk ini menjadi lebih ringan, sebab Kristus menyempurnakan hukum Taurat (Mat 5:17) dengan mengembangkan hukum kasih di dalam diri orang-orang yang percaya kepada-Nya, sehingga membuat penerapan ketentuan ini menjadi lebih mudah dan menarik bagi mereka yang berkehendak baik. 

Dengan menanggung kuk ini bersama Yesus, kita juga akan menerima pertolongan-Nya, sehingga kuk itu menjadi lebih ringan.

Sejumlah Bapa Gereja menghubungkan gambaran kuk dengan dosa manusia dan keterikatan kepada hal-hal duniawi:

St. Hieronimus: Bahwa beban dosa itu berat, diajarkan oleh Nabi Zakaria (Zak 5:7); demikian pula kitab Mazmur, “… sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku” (Mzm 38:5).

St. Gregorius: Sebab kuk yang kejam dan berat bebannya maksudnya adalah tunduknya seseorang kepada hal-hal yang sifatnya sementara, menjadi ambisius terhadap hal-hal duniawi dan melekat kepada hal-hal yang rapuh, mencari pijakan pada sesuatu yang tidak dapat menjadi tempat berpijak, menghendaki hal-hal yang akan berlalu, tetapi tidak ingin berlalu bersama mereka. 

Sebab ketika semua hal akan berlalu berlawanan dengan kehendak kita, semua itu yang dulunya mengganggu pikiran kita agar kita menginginkannya, kini menekan kita dengan kekuatiran bahwa kita akan kehilangan semua itu.

St. Yohanes Krisostomus: Kristus tidak berkata, datanglah orang ini dan orang itu, tetapi ‘semua’ yang berbeban berat, yang sedang berduka, atau yang berdosa, bukan “agar Aku menghukummu, tetapi agar Aku dapat mengampuni kamu. Datanglah kamu, bukan karena aku memerlukan kemuliaanmu tetapi karena aku menginginkan keselamatanmu. “Dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”; bukan hanya menyelamatkanmu, tetapi lebih dari itu, “memberikan kelegaan”, yaitu menempatkan kamu dalam ketenangan.

Nah, apapun interpretasinya, kita ketahui bahwa apapun yang kita hadapi di dalam hidup, jika kita hadapi bersama Tuhan, akan membuat kita menghadapinya dengan lebih mudah. 

Hal ini kita ketahui dalam bacaan liturgis pada hari yang sama ketika bacaan Injil Mat 11:28-30 dibacakan, yaitu Yesaya 26 : 7-9, 12, 15-19 ; Mazmur 102 : 13-21. 

Di bacaan dari kitab Yesaya itu dikatakan tentang jejak hidup orang benar, yang dekat pada Tuhan. 

Pada mereka ini Tuhan memberikan damai sejahtera, dan apapun yang mereka lakukan, mereka melakukannya bersama Tuhan. 

Tuhan yang memampukan mereka untuk melakukan apa yang benar (ay. 9, 12). 

Sedangkan kalau orang mulai mengandalkan kemampuannya sendiri, maka ia tidak akan dapat melakukan apa-apa (ay. 17-19). 

Namun bagi umat-Nya yang setia, Tuhan terus mendampingi, bahkan dalam keadaan yang sulit, dan sepertinya tidak ada harapan, Tuhan tetap membuka jalan dan memberikan harapan. “…. Dan bumi akan melahirkan arwah kembali”, kemungkinan berkaitan dengan nubuatan tentang apa yang kemudian terjadi pada umat Israel di zaman Raja Koresh (sekitar abad 5 sebelum Masehi), ketika Raja itu menguasai Babilonia. Sebelumnya bangsa Israel telah ditawan dan kemudian dibuang ke tanah Babel/Babilonia untuk dijadikan budak. 

Namun setelah Babilonia jatuh ke tangan Raja Koresh, raja itu memperbolehkan bangsa Yahudi itu untuk kembali ke Yerusalem untuk kembali membangun bait Allah (Ezr 1:1-2 dst). 

Di sinilah terlihat campur tangan Tuhan, yang menggerakkan hati seorang raja Persia untuk membela kepentingan bangsa pilihan-Nya. 

Di sinilah terlihat bahwa bahkan di tanah pembuangan, Allah setia menyertai umat-Nya, dan tetap berkarya untuk membebaskan mereka dari kuk perhambaan, dan menyelamatkan mereka. 

“… Sebab Ia [Allah] telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari Sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan….” (Mzm 102: 19-21)

Demikianlah di dalam Injil Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, agar kita memikul kuk yang dipasangkan-Nya atas kita, bersama dengan Dia. 

Kuk ini bisa diartikan sebagai hukum yang baru, yang diberikan oleh Yesus kepada kita, ataupun sebagai beban hidup akibat dosa kita manusia, yang kita alami atas izin Tuhan. 

Tuhan Yesus mengajarkan kita agar kita memikul beban kuk ini bersama-Nya agar kita beroleh kelegaan. Sebab sama seperti dahulu bangsa Yahudi menerima pertolongan Tuhan, demikianlah kini kita-pun dapat memperoleh pertolongan-Nya, asalkan kita mau datang kepada-Nya, dan mau mengikuti semua perintah-Nya. 

Dengan kesetiaan kita mengikuti hukum dan perintah Kristus, dan memohon belas kasihan-Nya, kita akan memperoleh pertolongan dan kelegaan, sehingga apapun yang kita hadapi akan menjadi lebih ringan.

(Sumber: Apa Arti Kuk (Mat 11:28-30), katolisitas.org).

Jumat, 04 Maret 2016

05.04 -

Jika kasih itu tidak cemburu, mengapa Allah cemburu?

Ada orang bertanya, jika Allah adalah kasih dan kasih itu tidak cemburu (1 Kor 13:4), mengapa dikatakan bahwa Allah itu cemburu (Kel 20:5; Ul 4:24)?

Istilah ‘cemburu’ yang kita pahami sekarang memang cenderung mengarah kepada arti negatif. Artinya sering dihubungkan dengan rasa iri, atau curiga terhadap pihak lain. 

Nampaknya inilah yang terjadi dalam jemaat sebagaimana ditulis oleh Rasul Paulus di dalam suratnya di Korintus (2 Kor 12:20) dan Roma (Rm 13:13). Rasul Paulus mengkhawatirkan adanya “perselisihan dan iri hati dalam jemaat.

Namun dalam Kitab Suci, kata yang sama, dapat digunakan untuk menggambarkan arti yang baik. Kata ‘cemburu’ dalam bahasa Ibrani adalah qi’nah, atau dalam bahasa Yunani zelos, mempunyai akar kata ‘hangat/panas’. 

Maka tergantung konteksnya, kata ‘cemburu’ ini dapat digunakan untuk menggambarkan baik suatu perasaan negatif ataupun positif. Rasul Paulus menggunakan kata yang sama ini, zeloo, ‘earnestly desire’, yang diterjemahkan LAI dengan ‘berusahalah untuk memperoleh’, yaitu untuk memperoleh karunia-karunia rohani (1 Kor 12:31; 14:1,39). Atau yang lebih eksplisit adalah dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Rasul Paulus berkata:

“Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.” (2 Kor 11:2-4)

Pada ayat-ayat tersebut, ‘cemburu’ mempunyai arti positif, yaitu: mengasihi sedemikian, sehingga menjaga agar jangan sampai yang dikasihi tersesat dan tidak setia. 

Dalam arti yang positif inilah, Allah dikatakan sebagai Allah yang cemburu. Allah tidak cemburu dalam arti iri hati terhadap bangsa Israel, tetapi Ia begitu mengasihi bangsa Israel dengan kasih yang kuat bagaikan api yang panas, yang tidak menghendaki umat-Nya mendua hati. 

Demikianlah kita membaca dalam Kitab Ulangan, “Sebab Tuhan, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (Ul 4:24); 

sebagai kesimpulan dari nasihat Nabi Musa agar bangsa Israel tidak melupakan perjanjian dengan Allah, dengan menjadi tidak setia (Ul 4:21-23). 


Di sini Kitab Suci menggambarkan perkawinan rohani antara Allah dengan umat-Nya bagaikan kasih antara suami dan istri. 

Allah menghendaki agar bangsa pilihan-Nya hanya menyembah-Nya sebagai Allah yang satu-satunya. 

Sayangnya, bangsa Israel berkali-kali tidak setia kepada Allah, mereka berpaling kepada para dewa/berhala, sehingga dalam Kitab Suci sering dikatakan bahwa bangsa Israel dan Yehuda ‘bersundal’ (Yer 3:6-10). 

Sebaliknya, Allah adalah Allah yang tetap setia. Allah tetap menunjukkan bahwa kasih-Nya kepada umat-Nya itu adalah kasih yang begitu total dan kuat/intense, yang menghendaki balasan yang serupa. Ia menjaga umat-Nya dengan kasih yang ‘cemburu’ dalam arti positif, yang tak ingin bertoleransi dengan kehadiran allah-allah lain di tengah umat-Nya (Kel 20:3-6, Yos 24:24-16,19-20, dst). 

Arti ‘cemburu’ ilahi yang sedemikian berbeda dengan ‘cemburu’ yang disebutkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13:4. Namun karena akar katanya sama, arti positif dan negatif dari kata tersebut, disampaikan dalam kata yang sama.

(Sumber: Jika Kasih itu tidak cemburu, mengapa Allah cemburu?, Tanya Jawab katolisitas.org)

02.43 -

Kita [Kej 1:26] ~ Allah Tritunggal

Dalam kisah penciptaan dunia dalam Kitab Kejadian, Nabi Musa menggunakan kata “Kita” sebagai kata ganti Allah. 

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….” (Kej 1:26).

Penggunaan kata “Kita” di ayat ini menimbulkan pertanyaan, dan yang paling umum ditanyakan adalah apakah ini mengacu kepada banyak Allah? Tentu tidak, sebab kita semua mengetahui bahwa Nabi Musa yang sama, di ayat-ayat lainnya dalam kitab-kitab yang ditulisnya, mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah, dan tidak ada allah yang lain (Kel 20:3; Ul 5:7; 6:4; lih. Kel 32). 

Juga berkali-kali Musa menuliskan bahwa Allah berkata, “Akulah, Tuhan, (bukan Kami-lah Tuhan”… ” (Kel 6:6-7; Im 11:45;19:34,36;22:33;25:38;26:13, dst). Maka, bagaimana mengartikan ayat Kej 1:26-27 ini?

Sejumlah orang memperkirakan bahwa perkataan “Kita/we” di sini adalah kata ganti yang umum dipakai untuk menjadi kata ganti orang pertama/orang yang bicara, pada pembicaraan resmi, seperti di hadapan raja - seperti halnya yang juga ada pada gaya bahasa resmi dalam bahasa Indonesia sekarang. 

Namun nyatanya, kita tidak menemukan bukti tentang hal ini pada tulisan-tulisan yang se-zaman dengan kitab Pentateuch/ kitab-kitab Musa tersebut.[1] Oleh karena itu, pandangan macam ini tidak didukung oleh bukti yang kuat.

Ada sejumlah orang yang lain, yang mengambil interpretasi Yahudi, yang percaya bahwa pada ayat-ayat tersebut (Kej 1:26-27), Allah berbicara dengan para malaikat-Nya, yang sudah diciptakan-Nya sebelum menciptakan manusia. 

Namun pandangan ini tidak masuk akal, karena jika demikian, maka malaikat juga ikut serta menciptakan manusia. 

Padahal di ayat-ayat Kitab Suci yang lain, dikatakan bahwa hanya ada satu Allah yang menciptakan langit dan bumi/alam semesta dan segala isinya (Kej 1:1; 14:22; Mzm 8:4; 1 Kor 8:4,6; 2 Mak 7:28). Maka, paham ini tidak sesuai dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci.

Maka yang paling masuk akal adalah pandangan berikut ini. Adalah suatu fakta, bahwa dalam Kitab Suci, kata Elohim, yaitu kata benda plural/jamak yang mengacu kepada sebutan Allah, dituliskan sebanyak sekitar 2500 kali, yang diikuti dengan kata kerja maupun kata sifat yang sifatnya singular/ tunggal. 

Fakta ini mengakibatkan ada banyak ahli Kitab Suci mengatakan bahwa hal ini menunjukkan adanya penggambaran ‘uniplurality’ dalam diri Allah. Hal ini tentu bukan kebetulan ataupun ketidaksengajaan, sebab diulangi sampai ribuan kali. 

Bahwa dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, artinya belum sepenuhnya dinyatakan, namun dalam Perjanjian Baru, Allah kemudian menyingkapkan maksudnya. Yaitu bahwa penggambaran ini mengacu kepada adanya Tiga Pribadi dalam diri Allah yang Satu, yang kemudian dikenal dengan “Trinitas” atau “Allah Tritunggal”. 

Pewahyuan ini secara bertahap disingkapkan oleh Kristus Sang Putera Allah, sebagaimana disampaikan oleh para Rasul-Nya. 

Injil Yohanes menyatakan hal ini dalam Yoh 1:1-14, dengan mengatakan bahwa: 1) pada mulanya adalah Firman, Firman itu ada bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah; 2) oleh Firman segala sesuatu dijadikan/diciptakan; 3) Dan Firman itu kemudian menjelma menjadi manusia dalam diri Kristus. 

Maka Yoh 1:1-14 ini menjelaskan dan menggenapi makna ayat-ayat tentang penciptaan yang telah dituliskan oleh Nabi Musa dalam kitab Kejadian, yang memang menyebutkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu melalui firman-Nya. Sebab dikatakan di sana, “Berfirmanlah Allah, ….” (Kej 1:3,6,11,14,20,24,26,29). 

Demikian pula, dengan disebutkannya bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2) di awal mula penciptaan dunia, ini merupakan gambaran samar-samar akan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, yaitu saat kita diciptakan secara baru di dalam Kristus saat Pembaptisan, yaitu saat kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh (Yoh 3:5).

Ajaran menginterpretasikan Kitab Suci dengan melihat hubungan tipologi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Luk 24:13-35). 

Demikianlah pula, para penerus Rasul mengajarkannya kepada kita, bahwa ayat Kej 1:26-27 tersebut adalah ayat-ayat yang menggambarkan tentang Allah Trinitas. 

Demikianlah ajaran mereka:

1. St. Barnabas (74):

“Sebab Kitab Suci berbicara tentang kita, ketika Ia [Allah] berkata kepada Putera-Nya, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Lih. St. Barnabas, Epistle of Barnabas, Ch. VI). Di abad ke-1 ini, St. Barnabas telah mengajarkan bahwa kita manusia, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah; sebagaimana yang dikatakan oleh Allah kepada Putera-Nya.

2. St. Yustinus Martir (150):

Berbicara kepada para teolog Yahudi, St. Yustinus mengatakan bahwa perkataan, “Baiklah Kita menjadikan…” kita dapat dengan tiada ragu mengetahui bahwa Allah bercakap dengan Seseorang Pribadi yang lain… Dan Allah mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita… (Kej 3:22), Musa menyatakan bahwa terdapat sejumlah Pribadi yang saling berhubungan, bahwa minimal ada dua Pribadi…. [Pribadi ini] lahir dari Bapa, dan telah ada bersama dengan Bapa sebelum segala ciptaan lain-Nya, dan Bapa bersekutu dengan-Nya sebagaimana dikatakan dengan jelas dalam Kitab Suci oleh Salomo, bahwa Ia yang disebutkan Salomo sebagai Kebijaksanaan, telah lahir sejak awal mula sebelum semua ciptaan-Nya…” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, a Jew: Ch. LXII)

3. St. Irenaeus (180):

“Maka bukan para malaikat, yang menciptakan kita, ataupun membentuk kita, juga para malaikat tidak mempunyai kuasa untuk membuat/mencipta sebuah gambar rupa Allah. Tidak seorangpun, tidak ada kuasa apapun yang terpisah dari Bapa segala sesuatu, selain daripada Sang Firman Allah [yang mencipta]. Sebab Allah tidak memerlukan para malaikat ini, untuk menyelesaikan apa yang telah ditentukan-Nya sejak semula, seolah Ia tidak memiliki tangan-Nya sendiri. Sebab pada-Nya selalu hadir Sang Firman dan Kebijaksanaan, Sang Putera dan Roh Kudus, yang dengan Keduanya dan di dalam Keduanya.. Ia [Allah] menciptakan segala sesuatu; yang kepada Keduanya Ia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kej 1:26) (St. Irenaeus, Against Heresies, 4:20:1).

4. Tertullian (200)

Tertullian mengatakan bahwa pemilihan kata jamak “Kita” pada Kej 1:26, mempunyai maksud menggambarkan adanya pluralitas dalam ketunggalan Allah, sebab tidak mungkin Allah bermaksud menipu ataupun membuat kita bingung, jika sebenarnya Ia hanya punya Pribadi yang Tunggal. Juga bukan maksud Allah mengatakan bahwa Ia sedang berbicara kepada para malaikat, seperti yang diinterpretasikan oleh orang-orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenali Sang Putera Allah.

– Sebab Allah telah mempunyai Putera-Nya di samping-Nya, dan Pribadi ke-tiga juga…, sehingga Ia dengan sengaja mengambil kata jamak, “Biarlah Kita menjadikan…” “menurut rupa Kita”; “dan menjadi salah satu dari Kita.” (Tertullian, Against Praxeas, Ch. XII.)

– “Maka sebab ia [manusia] adalah gambaran Penciptanya (sebab Ia, ketika melihat kepada Kristus Sang Firman-Nya, yang akan menjadi manusia, bersabda, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambaran dan rupa Kita”), bagaimana mungkin saya mempunyai kepala lain selain Dia yang menurut gambaran-Nya saya diciptakan? Sebab kalau saya adalah gambaran Pencipta, maka tidak ada ruang dalam diriku bagi kepala yang lain” (Tertullian, Book V, Elucidations, Ch VIII.)

5. Origen (w 254):

“Adalah kepada Dia [Kristus] Allah berkata mengenai penciptaan manusia, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Origen, Against Celsus, Book V, Ch. XXXVII)

6. Novatian (w 258):

“Sebab siapa yang tidak mengenali bahwa Pribadi Sang Putera adalah Pribadi yang kedua setelah Bapa, ketika ia membaca apa yang dikatakan oleh Bapa kepada Sang Putera, “Baiklah Kita membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita;” dan setelah ini, maka hubungannya adalah, “Dan Allah menciptakan manusia, dan Allah menciptakannya menurut gambar-Nya?” (Novatian, A Treatise Concerning the Trinity, Ch XXVI.)

Tulisan-tulisan ini merupakan beberapa bukti dari ajaran Bapa Gereja sebelum abad ke-4, yang menunjukkan bahwa Gereja sejak awal mengartikan Kej 1:26 sebagai salah satu ayat yang mengajarkan tentang Allah Trinitas dalam kitab Perjanjian Lama. 

Maka ajaran tentang Trinitas itu sudah menjadi keyakinan Gereja sejak zaman para Rasul, dan bukan baru diyakini di abad ke-4 sebagaimana disangka oleh sejumlah orang. 

Bahwa ajaran itu baru dirumuskan pada Konsili Nicea (325) yang kemudian disempurnakan dalam Konsili Konstantinopel (381), itu disebabkan karena di abad tersebut berkembang ajaran sesat Arianisme yang menentang ajaran tentang Trinitas, sehingga Gereja merumuskan ajaran tentang Trinitas ini secara definitif, untuk meluruskan paham yang sesat ini.

Kesimpulannya, jika ditanya, mengapa Musa menggunakan kata “Kita” dalam Kej 1:26? Maka jawaban yang paling masuk akal adalah, karena Allah memang mewahyukannya demikian kepada Musa. Musa hanya menuliskannya dengan setia, suatu frasa yang mungkin belum sepenuhnya dipahami pada saat itu. 

Namun Allah sendiri kemudian menyatakan maksudnya dalam Perjanjian Baru. Yaitu setelah Ia sendiri mengutus Yesus Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya yang menginspirasikan para penulis Injil dan surat-surat para Rasul lainnya, yang menjelaskan tentang adanya ketiga Pribadi Allah ini dalam ke-esaan Allah.

(Sumber: Mengapa Musa menggunakan kata “Kita” (Kej 1:26), katolisitas.org).


Kamis, 03 Maret 2016

Arianisme

Arianisme adalah bidaah/heresi yang sangat berbahaya, di awal abad ke-4 (319) karena mengajarkan ajaran sesat dalam hal Trinitas dan Kristologis.

Bidaah ini diajarkan oleh Arius, seorang imam dari Alexandria, yang ingin menyederhanakan misteri Trinitas. 

Ia tidak bisa menerima bahwa Kristus Sang Putera Allah berasal dari Allah Bapa, namun sehakekat dengan Bapa. Maka Arius mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa maka mestinya Ia adalah seorang ciptaan biasa, namun ciptaan yang paling tinggi. 

Arius tidak memahami bahwa di dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.

Berikut ini adalah ringkasan ajaran sesat/heresi Arianisme:

- Kristus Sang Putera tidak sama-sama kekal (tak berawal dan berakhir) dengan Bapa, melainkan mempunyai sebuah awal. 
- Kristus Sang Putera tidak sehakekat dengan Allah Bapa. 
- Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia dari pada Kristus Sang Putera. 
- Kristus Sang Putera adalah seorang ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super-archangel) yang tidak sehakekat dengan Allah Bapa. 
- Tuhan bukan Trinitas secara kodratnya. 
- Kristus Putera Allah bukan Putera Allah secara kodrati, tetapi Putera angkat. 
- Kristus Putera Allah diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa. 
- Kristus Putera Allah tidak tanpa cela, tetapi dapat secara kodrati berubah/ berdosa. 
- Kristus Putera Allah tidak dapat memahami Allah Bapa. 
- Jiwa dari Kristus Putera Allah yang sudah ada sebelumnya (dari super archangel tersebut) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus. 

Maka menurut Arius, Kristus adalah bukan sungguh-sungguh Allah, namun juga bukan sungguh-sungguh manusia (sebab jiwanya bukan jiwa manusia).

Sebagai dasarnya Arius mengambil ayat Yoh 1:14, “Firman itu menjadi manusia/ “the Word was made flesh”, dan ia berkesimpulan bahwa Firman itu hanya menjelma menjadi daging saja tetapi tidak jiwanya. Prinsip ini kemudian juga diikuti oleh Apollinaris (300-390).

Ajaran sesat ini diluruskan melalui Konsili Nicea (325) yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal. 

Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” 

Pada waktu penanda-tanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri.

Konsili Nicea ini sering disalah mengerti oleh umat non-Kristen, sebab mereka menyangka bahwa baru pada tahun 325 Yesus dinobatkan sebagai Tuhan. 

Ini salah besar, sebab pernyataan Kristus sehakekat dengan Allah tersebut dibuat untuk meluruskan ajaran sesat Arianism dan untuk menegaskan kembali iman Gereja yang berasal dari pengajaran para rasul. 

Maka kita mengenal pernyataan itu sebagai “Syahadat Para Rasul”, karena dalam syahadat tersebut tercantum pokok-pokok iman yang diajarkan oleh para rasul.

Perjuangan melawan bidaah Arianism kemudian dilanjutkan oleh St. Athanasius (296-373). Ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah bahwa kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan ... Ini bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. 

“Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.”[1]

Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai bidaah/heresi Arianism. Bidaah ini tidak menyebutkan secara khusus tentang Roh Kudus dan menghubungkannya dengan malaikat Gabriel/ Jibril. 

Namun melalui sejarah kita mengetahui bahwa sudah sejak abad awal ada orang-orang yang berusaha menyederhanakan konsep Trinitas, dan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus.

Dengan mempelajari sejarah Gereja, kita mengetahui betapa pentingnya peran Paus dan para uskup untuk mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab dan para rasul, yang memang sering disalah-artikan oleh interpretasi pribadi orang-orang tertentu. 

Semoga kita semua dapat mempunyai kerendahan hati untuk menerima pengajaran dari para penerus rasul dalam Magisterium Gereja Katolik, dan dengan demikian menerima kemurnian pengajaran Alkitab sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.

(Sumber: Tanya Jawab Tentang Ajaran sesat Arianisme, katolisitas.org).

Anathema

Anathema’ artinya menyatakan bahwa seseorang/sejumlah orang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang tersebut, sebagai orang-orang di luar Gereja.

22.13 -

Konsili Nicea

Apa yang terjadi di Konsili Nicea (325)?

Konsili Ekumenis pertama di Nicea yang diadakan tahun 325, diadakan sebagai tanggapan Gereja universal terhadap ajaran sesat dari Arius dari Gereja Aleksandria, di Mesir, sekitar tahun 319.

1. Latar belakang diadakannya Konsili Nicea (325)

Di semua ajaran sesat yang terjadi dalam sejarah Gereja, terdapat usaha untuk merasionalisasi ajaran iman Katolik dengan menghilangkan sejumlah misteri iman yang dianggap sulit diterima oleh akal. 

Paham Arianisme merupakan contoh yang sempurna tentang hal ini. (Paham Arianisme merupakan ajaran sesat yang mengguncang Gereja, yang tadinya dalam keadaan damai, setelah penganiayaan terhadap Gereja dihentikan, karena dikeluarkannya Edict Milan (313) oleh pihak penguasa Romawi). 

Arius berusaha menyederhanakan misteri yang terbesar dalam ajaran Kristiani yaitu tentang Trinitas -Allah yang satu dalam tiga Pribadi - karena ia menganggap ajaran itu merupakan skandal bagi pemikiran manusia.

Selanjutnya tentang apakah yang diajarkan oleh paham Arianisme [lih. Aruanism 

Menanggapi ajaran sesat di wilayahnya, Patriarkh Aleksandria, St. Aleksander mengadakan konsili di Aleksandria sekitar tahun 321, yang dihadiri oleh sekitar 100 uskup dari Mesir dan Lybia, dan mereka mengecam ajaran Arius tersebut. 

Namun Arius mempunyai kemampuan politik yang tinggi, untuk memperoleh dukungan dari mereka yang mempunyai kedudukan, baik di pemerintahan maupun pejabat Gereja. 

Pendukungnya yang terpenting adalah dua orang Uskup yang bernama Eusebius. Yang pertama adalah Eusebius Uskup Kaisarea, Palestina, yang juga penulis buku sejarah Gereja, History of the Church; yang kedua adalah Uskup Eusebius dari Nikomedia, yang kemudian menjadi pemimpin partai Arian dan pelindung Arius. Uskup Nikomedia ini adalah sahabat Konstantia, kakak perempuan Kaisar Konstantin.

Setelah diekskomunikasi oleh Konsili Aleksandria, Arius pergi ke Palestina dan kemudian ke Nikomedia. 

Sementara itu, St. Aleksander menerbitkan surat yang berjudul, “Epistola encyclica“, yang kemudian ditanggapi oleh Arius, dan timbullah pertentangan antara kedua kubu yang mengakibatkan pergolakan dalam masyarakat. 

Kekacauan itu kemudian diperparah dengan pertikaian antara Kaisar Konstantin dan Licinius, di tahun 322-323. Setelah Kaisar Konstantin menang dan menjadi penguasa tunggal, ia mempunyai kepentingan untuk mengembalikan keadaan damai di daerah kekuasaannya. 

Untuk itulah ia menulis surat kepada St. Aleksander dan kepada Arius, dengan maksud agar keduanya membuat semacam persetujuan secepatnya. Untuk itulah ia bermaksud mengadakan Konsili Ekumenis untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kaisar Konstantin kemudian menulis surat kepada para uskup di seluruh negeri untuk datang ke Nicea. Maka para Uskup itu (dari Mesir, Persia, Asia, Syria, Yunani, Thrace) datang ke Konsili di Nicea. 

Tidak diketahui secara historis apakah atas namanya sendiri Kaisar Konstantin memprakarsai Konsili, ataukah ia bertindak bersama dengan/atas nama Paus saat itu. 

Namun demikian, mengingat banyaknya Uskup yang hadir dengan fokus utama pembahasan doktrinal sehubungan dengan tanggapan Gereja terhadap ajaran sesat Arianisme, dan ke-20 Kanon yang khusus membahas tentang ketentuan Gerejawi, menunjukkan besarnya kemungkinan bahwa Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I bertindak dalam persetujuan bersama untuk memprakarsai Konsili itu.

2. Konsili Ekumenis pertama di Nicea (325)

Akhirnya, di musim panas tahun 325 diadakanlah Konsili Nicea. Menurut catatan St. Athanasius, jumlah Uskup yang hadir dalam Konsili Nicea adalah sekitar 300 orang, (dalam suratnya, Ad Afros, ia menyebutkan jumlah 318 orang, sedangkan Eusebius menyebutkan 250 orang), mayoritas dari wilayah timur kerajaan. Pandangan Arius ditolak oleh mayoritas Uskup yang hadir. 

Hanya ada dua orang (yaitu Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais) bersama Arius sendiri, yang akhirnya menolak untuk menandatangani teks Syahadat Nicea yang dirumuskan oleh Konsili tersebut. 

Sebab teks syahadat itu merumuskan dengan jelas, bahwa Kristus “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.”

Sayangnya fakta ini diselewengkan. 

Buku Dan Brown yang terkenal itu, Da Vinci Code, mengutip pandangan yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus dianggap sebagai nabi biasa, dan baru dinobatkan sebagai ‘Putera Allah’ oleh Konsili Nicea, yang diperoleh melalui voting dengan kemenangan tipis. Ini tidak sesuai kenyataan. 

Ajaran tentang Trinitas itu sudah sejak awal diimani oleh Gereja. Walaupun kata “Trinitas” tidak secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci, namun prinsipnya jelas diajarkan dalam Kitab Suci. 

Para Bapa Gereja sebelum tahun 325 juga telah mengajarkan tentang Trinitas.

3. Tentang siapa yang memimpin Konsili

Kaisar Konstantin sebagai tuan rumah di Nicea membuka Konsili, dan kemungkinan iapun hadir dalam sesi-sesi Konsili. Namun melihat hasil konsili yang jelas membahas hal-hal doktrinal dan disiplin Gereja yang khas, maka adalah lebih masuk akal bahwa pemimpin sesi-sesi Konsili itu adalah pihak otoritas Gereja, (dalam hal ini adalah Hosius dari Kordova dibantu perwakilan Paus, yaitu Vitus dan Vincentius, ataupun Patriarkh Aleksander dari Aleksandria atau Eustathius dari Antiokhia) dan bukan Kaisar Konstantin itu sendiri. 

4. Pernyataan Iman Konsili Nicea

We believe in one God, the Father Almighty, maker of all things visible and invisible; and in one Lord Jesus Christ, the Son of God, the only-begotten of his Father, of the substance of the Father, God of God, Light of Light, very God of very God, begotten (γεννηθέντα), not made, being of one substance (ὁμοούσιον, consubstantialem) with the Father. By whom all things were made, both which be in heaven and in earth. Who for us men and for our salvation came down [from heaven] and was incarnate and was made man. He suffered and the third day he rose again, and ascended into heaven. And he shall come again to judge both the quick and the dead. And [we believe] in the Holy Ghost.

And whosoever shall say that there was a time when the Son of God was not (ἤν ποτε ὅτε οὐκ ἦν), or that before he was begotten he was not, or that he was made of things that were not, or that he is of a different substance or essence [from the Father] or that he is a creature, or subject to change or conversion — all that so say, the Catholic and Apostolic Church anathematizes them.

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang dari Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dari sorga dan menjelma menjadi manusia, menderita dan bangkit pada hari ketiga, Ia naik ke sorga, Ia akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Dan [aku percaya akan] Roh Kudus…

Dan barang siapa yang berkata bahwa ada waktunya ketika Putera Allah tidak ada, atau sebelum Ia lahir Ia tidak ada, atau Ia diciptakan dari benda-benda yang tadinya tidak ada, atau bahwa Ia berasal dari hakikat yang berbeda dengan Bapa, atau bahwa Ia adalah mahluk ciptaan, atau Ia dapat berubah atau bertobat- semua yang serupa itu, Gereja Katolik dan Apostolik meng-anathema mereka.

Catatan:

– ‘Anathema’ artinya menyatakan bahwa seseorang/sejumlah orang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang tersebut, sebagai orang-orang di luar Gereja.

– Syahadat Nicea yang kita kenal sekarang (tercatat dalam buku Puji Syukur no.2) adalah hasil Konsili Nicea (325) dan Konstantinopel (381).

(Sumber: Apa yang terjadi di Konsili Nicea (325)?, katolisitas.org)

17.26 -

Raksasa [Kej 6:4]

Apakah itu manusia raksasa/nephilim (Kej 6:4)?

Penjelasan dari The Navarre Bible tentang ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam Kej 6:1-4 disebutkan istilah “anak-anak Allah”, yang cukup mengundang perdebatan. Sejumlah orang menganggap istilah itu mengacu kepada para malaikat yang berdosa (fallen angels). 

Namun arti ini tidak memungkinkan, mengingat kemudian disebutkan bahwa mereka menikahi anak-anak manusia. Sedangkan malaikat adalah mahluk rohani sehingga tidak dapat menikah dengan manusia. 

Karena itu ‘anak-anak Allah’ di perikop ini diartikan sebagai keturunan dari Set, yang kemudian menikahi para wanita keturunan Kain, yang disebut sebagai ‘anak-anak manusia’. 

Penjelasan ini diberikan oleh St. Augustinus (De civitate Dei, 15,23), St. Yohanes Krisostomus (Homiliae in Genesim, 22,4), St. Sirilus dari Aleksandria (Glaphyra in Genesim, 2,2) dan para Bapa Gereja lainnya. Pemerosotan moral dan nilai-nilai perkawinan menjadi penyebab terjadinya air bah.

Selanjutnya di ayat 4 tertulis, “Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.” (Kej 6:4)

‘Orang-orang raksasa’ di sini adalah terjemahan dari kata Ibrani נפלים, nephilim, yang berasal dari kata נפל, naphal, artinya “ia jatuh”.

Maka para ahli Kitab Suci mengartikan kata ini sebagai mereka yang telah jatuh dari ajaran agama yang benar. 

Kitab Septuaginta menerjemahkan kata nephilim ini dengan kata Yunani γιγαντες, yang secara literal artinya adalah ‘lahir dari bumi/dunia’, 

yang kemudian diterjemahkan menjadi ‘raksasa’ yang sering dihubungkan dengan arti orang-orang yang berbadan besar, walaupun jika dilihat dari akar katanya tidak secara literal menyatakan demikian. 

Akar kata nephilim/naphal ini (ia jatuh) justru menunjukkan kontras dengan anak-anak Allah. Nephilim ini mengacu kepada orang-orang yang lahir dari bumi, yang telah jatuh ataupun menyimpang, dengan pikiran yang jahat. 

Mereka adalah para keturunan Kain, yang dengan nafsu duniawi menguasai dunia. 

Sedangkan anak-anak Allah adalah keturunan Set, yaitu mereka yang mengikuti Allah dan kehendak-Nya. 

Di sini kita melihat pertentangan antara para pendosa dengan orang-orang kudus; yang pertama, γιγαντες atau ‘lahir dari dunia’, sedangkan yang kedua, ἁγιοι, adalah orang-orang yang bukan dari dunia, atau dipisahkan dari dunia.

Namun demikian, beberapa ahli Kitab Suci lainnya, mengacu kepada temuan-temuan historis mengatakan bahwa ‘orang-orang raksasa’ tersebut memang mengacu kepada orang-orang zaman dulu yang relatif lebih besar perawakannya jika dibandingkan dengan orang-orang zaman sekarang. 

Mereka mengacu kepada beberapa teks dalam Kitab Suci yang menunjukkan hal ini, seperti ayat-ayat yang menuliskan tentang Goliat (1Sam 17:4), Og (Ul 3:11), dan anak-anak Enak (Bil 13:33) yang disebut sebagai ‘raksasa’, di mana orang-orang Israel melihat diri mereka seperti belalang jika dibandingkan dengan perawakan mereka.

Apapun interpretasi nephilim ini, tidak mempengaruhi fakta yang kemudian dituliskan di kitab Kejadian yaitu bahwa keturunan Set kemudian menikah dengan keturunan Kain, dan keturunan mereka menghasilkan orang-orang perkasa. 

Dalam bahasa aslinya kata ‘perkasa’ adalah גברים gibborim, yang mengacu kepada kata גבר gabar, artinya ‘ia menang’. Dan kata אנשי השם anshey hashshem, “orang-orang kenamaan” diterjemahkan dalam Septuaginta, ανθρωποι ονομαστοι, artinya terkenal, ‘diberi nama dua kali’, yaitu nama aslinya dari orang tua dan nama julukan karena keberanian mereka. 

Baik diketahui bahwa terdapat tujuh kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai ‘raksasa’, yaitu: nephilim, gibborim, enachim, rephaim, emim, and zamzummim, yang artinya adalah orang-orang yang besar dalam hal pengetahuan, kesalehan, keberanian, namun juga dapat diartikan besar dalam hal kejahatan, jadi tidak selalu harus diartikan sebagai orang besar perawakannya.

(Sumber: Apakah itu manusia raksasa/nephilim (Kej 6:4)?, katolisitas.org).