Selasa, 23 Februari 2016

23.43 -

Sunat ~ Pembaptisan

Ada pertanyaan yang menarik. Kalau Yesus disunat, mengapa kemudian sunat tidak menjadi keharusan bagi pengikut-Nya? 

Dari definisinya, sunat (circumcisio) mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit penis. 

Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.

Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar kita semakin dapat menghayati iman kita:

1. Sunat dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). 

Tradisi sunat ini dilanjutkan di jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. 

Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

2. Makna Yesus disunat

Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. 

Alasan kedua adalah untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. 

Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. karena 

- Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. 

- Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3) 

Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani. St. Athanasius dalam komentarnya tentang Luk 2:23, menuliskan hal ini dengan begitu indahnya, 

“Karena Anak Allah menjadi manusia, dan disunat di dalam daging, bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, namun agar Dia dapat menjadikan kita [anak-anak] Allah melalui rahmat, dan agar kita dapat disunat secara rohani; dengan demikian, sekali lagi, untuk kepentingan kita Dia dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dapat belajar untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.”[1]

Sunat rohani, yang menandai kita menjadi anak-anak Allah melalui rahmat-Nya, terjadi pada saat Pembaptisan, di mana melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). 

Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24). 

Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.

3. Yang ditekankan Yesus: sunat rohani

Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). 

Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23)

Maka Rasul Paulus mengajarkan:

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol 2:12)

Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.

4. Para rasul mengikuti ajaran Yesus, juga mengajarkan sunat rohani

Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. 

Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)

5. Sunat menurut Bapa Gereja

Berikut ini beberapa kutipan ajaran Bapa Gereja abad-abad awal tentang sunat yang merupakan tanda akan penggenapannya dalam Baptisan, yang dilestarikan oleh Gereja Katolik:

1. St. Yustinus Martir (155)

“Karena itu, bejana pertobatan dan pengetahuan akan Tuhan ini yang ditetapkan karena pelanggaran umat Tuhan, sebagaimana diserukan oleh Nabi Yesaya, telah kita imani dan saksikan bahwa Baptisan yang diwartakan-Nya itulah saja yang dapat memurnikan orang-orang yang telah bertobat; dan ini adalah air kehidupan….. 

Sebab apakah gunanya baptisan itu [sunat] yang hanya membersihkan daging dan tubuh saja? Baptislah jiwa dari kemarahan dan dari dengki dan iri hati, dan dari kebencian; dan lihatlah! Tubuh menjadi murni…. Tapi kamu telah memahami segala sesuatunya secara jasmani, dan kamu pikir itu adalah kesalehan jika kamu berbuat demikian, sementara jiwamu dipenuhi dengan tipu daya dan singkatnya, dalam setiap kejahatan….” (Dialogue with Trypho, ch. 14).

“Dan Nabi Musa menyatakan bahwa Tuhan sendiri bersabda: “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk…” (Ul 10:16, lih. Im 26:40-41). 

Sebab sunat jasmani sejak Nabi Abraham, diberikan sebagai sebuah tanda; bahwa kamu dipisahkan dari bangsa-bangsa lain, dan dari kami; dan bahwa kamu sendiri dapat menderita menanggung apa yang sekarang secara adil kamu tanggung … dan bahwa tak seorangpun dari kamu dapat pergi ke Yerusalem…. * Semua ini terjadi atasmu dengan setimpal dan adil, sebab kamu telah menganiaya Sang Keadilan, dan para nabi-Nya sebelumnya; dan sekarang kamu menolak mereka yang berharap kepada-Nya dan di dalam Dia yang mengutus-Nya – yaitu Tuhan yang Mahabesar Pencipta segala sesuatu - dengan mengutuk di dalam sinagoga-sinagoga, mereka yang percaya kepada Kristus. Sebab kamu tidak punya kuasa untuk melukai kami … (Dialogue with Trypho, ch. 16).

Catatan *: Lihat Apology, I, 47. Orang-orang Yahudi -menurut Hadrian’s edict, dengan hukum melarang orang-orang Yahudi untuk memasuki Yerusalem, dengan ancaman hukuman mati. St. Yustinus melihat dalam hal sunat, hukuman bagi mereka sendiri.

“Maka basuhlah, dan menjadi bersihlah dan jauhkan segala kejahatan dari jiwamu, sebagaimana Tuhan menghendaki kamu dibasuh dalam bejana ini, dan disunatlah dengan sunat yang sejati. Sebab kami juga akan melakukan sunat jasmani dan Sabat, dan semua perayaan-perayaan, kalau seandainya kami tidak tahu alasan mangapa hal-hal itu diajarkan kepada kamu, yaitu karena pelanggaranmu dan ketegaran hatimu. Sebab jika kami dengan sabar menanggung semua hal yang dirancangkan terhadap kami oleh mereka yang jahat…, supaya bahkan di tengah-tengah kekejaman yang tak terkatakan, kematian dan penganiayaan, kami berdoa untuk belas kasihan kepada mereka yang menganiaya kami ... mengapakah Trypho, bahwa kami tidak akan melakukan ritus-ritus itu yang tidak mencelakakan kami – yang kumaksud tentang sunat, Sabat dan berbagai perayaan Yahudi? (Dialogue with Trypho, ch. 18).

“Bahkan kamu yang disunat menurut daging, membutuhkan sunat kami [menurut rohani]; tetapi kami, yang telah memiliki hal yang kedua [sunat rohani], tidak membutuhkan hal yang pertama [sunat jasmani]. Sebab jika itu keharusan, seperti anggapanmu, Tuhan tak akan menciptakan Adam tidak disunat. Ia tak mungkin menghormati persembahan Habel yang tidak disunat saat mempersembahkan kurban, dan tak mungkin berkenan kepada Henokh yang tidak disunat… Lot yang tidak disunat diselamatkan dari Sodom dan Gomora…. Nuh, permulaan suku kita, meskipun tidak disunat, masuk ke dalam bahtera. Melkisedek, imam dari Yang Mahatinggi, tidak disunat… Maka untuk kamu sendiri sunat diperlukan; supaya bangsa tersebut menjadi bukan bangsa apapun; sebagaimana dikatakan oleh Nabi Hosea…. (Dialogue with Trypho, ch. 19).

2. Tertullian (160-220)

“Biarlah ia yang berusaha keras mempertahankan bahwa Sabat tetap harus dilakukan sebagai obat keselamatan dan sunat di hari kedelapan…. mengajarkan kita bahwa pada masa lalu, orang-orang benar melakukan hari Sabat dan sunat, dan karena itu mereka disebut ‘para sahabat Allah’. Sebab jika sunat memurnikan manusia, karena Tuhan menciptakan Adam tidak disunat, mengapa Ia tidak menyunatkan dia bahkan setelah ia berdosa, jika sunat itu memurnikan? … Maka, karena Tuhan pada mulanya menciptakan Adam tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, konsekuensinya keturunannya, Habel mempersembahkan kurban, yang tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, dipuji oleh-Nya (Kej 4:1-7, Ibr 11:4). Nuh juga tidak bersunat- ya, dan tidak melakukan Sabat- Tuhan membebaskan dari air bah. Sebab Henokh juga, orang yang paling benar, tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, ia diangkat dari dunia ini, yang pertama tidak mengalami kematian sehingga, menjadi kandidat bagi kehidupan kekal, ia menunjukkan kepada kita bahwa kita juga dapat, tanpa menanggung beban hukum Musa, menyenangkan Tuhan” (An Answer to the Jews, 2 [A.D. 203]).

3. Eusebius dari Kaisarea (260-339)

“Mereka [para orang kudus pertama di Perjanjian Lama] tidak memperhatikan sunat jasmani, demikian juga kita [orang-orang Kristen]. Mereka tidak melakukan Sabat, demikian juga kita. Mereka juga tidak menghindari jenis-jenis makanan tertentu, maupun pembedaan-pembedaan lain yang dikeluarkan oleh Musa kepada keturunannya untuk dilakukan sebagai simbol-simbol; demikian juga umat Kristen di zaman ini melakukan hal-hal itu” (Church History 1:4:8 [A.D. 312]).

4. St. Yohanes Krisostomus (347-407)

“Ritus sunat dulu sangat dihormati menurut adat Yahudi …. Ini dipandang sebagai lebih mulia dari Sabat, sebagai yang tidak dihapuskan pada waktu tertentu. Ketika kemudian ini [sunat] tidak dilakukan lagi, terlebih lagi [tidak dilakukan] adalah hukum Sabat.” (Homilies on Philippians 10 [A.D. 402]).

5. St. Agustinus (354-430)

“Apakah ada di dalam ke sepuluh perintah Allah, selain penerapan hari Sabat, yang tidak harus ditaati oleh seorang Kristen…. Yang mana dari perintah-perintah ini [sepuluh perintah Allah], yang dikatakan orang bahwa umat Kristen tak harus melakukannya? Adalah mungkin untuk menegaskan bahwa bukanlah hukum yang tertulis di kedua loh batu yang dijabarkan oleh Rasul [Paulus] sebagai ‘hukum yang tertulis mematikan’ (2Kor 3:6), tetapi hukum sunat dan ritus-ritus sakral lainnya yang kini dihapuskan” (The Spirit and the Letter 24 [A.D. 412]).

6. Paus Gregorius I (540-604)

“Telah sampai ke telingaku bahwa orang-orang tertentu dengan semangat yang menyimpang telah menabur di antara kamu sesuatu yang salah dan bertentangan dengan iman yang kudus, sehingga melarang pekerjaan apapun yang dilakukan pada hari Sabat. Adakah yang lain yang dapat kukatakan selain menyebut orang-orang ini sebagai pengkhotbah Antikristus, yang ketika ia datang akan menyebabkan hari Sabat seperti hari Tuhan, untuk dijadikan hari yang bebas dari semua pekerjaan…. Sebab inilah yang dikatakan nabi, “Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu…” (Yer 17:24) dapat dipegang sepanjang itu sesuai dengan hukum untuk dilakukan menurut hukum yang tertulis. Tetapi setelah rahmat Tuhan yang Mahakuasa itu, Tuhan kita Yesus Kristus, telah muncul, perintah-perintah hukum yang telah dikatakan secara figuratif tidak dapat dilaksanakan menurut hukum yang tertulis. Sebab siapapun yang mengatakan bahwa ini adalah tentang Sabat yang harus dilaksanakan, ia harus perlu juga mengatakan bahwa kurban-kurban jasmani [kurban hewan-hewan] harus dipersembahkan. Ia harus juga mengatakan bahwa perintah tentang sunat jasmani adalah untuk dipertahankan. Tetapi biarlah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yang berkata menentang dia: “…jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu” (Gal 5:2).

5. Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik?

Gereja Katolik, berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa hukum sunat jasmani dalam Perjanjian Lama merupakan tanda dan persiapan bagi penggenapannya dalam sunat rohani, yaitu Baptisan dalam Perjanjian Baru.

KGK 527 Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya (Bdk. Luk 2:21), adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum (Bdk. Gal 4:4) dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus”: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12).

KGK 1150 Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.

Oleh karena itu, setelah digenapi dalam Baptisan, Gereja tidak lagi kembali kepada hukum yang lama. Hukum sunat jasmani itu tidak untuk dianggap batal ataupun tidak ada, sebaliknya, tetap diakui sebagai gambaran Baptisan, namun pelaksanaannya disempurnakan. Prinsip dasar sunat, yaitu untuk meninggalkan kedagingan manusia yang lama, tetap disyaratkan, namun perwujudannya tidak secara jasmani, tetapi secara rohani, sebagaimana sejak awal direncanakan Allah (Ul 10:16). 

Setelah maksud sunat rohani tersebut, yaitu pertobatan, telah dipahami oleh umat-Nya, maka sunat jasmani tidak lagi disyaratkan. 

Keselamatan tidak diperoleh melalui sesuatu yang sifatnya jasmani semata, tetapi oleh sesuatu yang rohani. 

Sebab makna Baptisan itu tidak saja mencakup pertobatan, tetapi juga karunia kehidupan baru yang ilahi di dalam Kristus, yang menghantar kepada keselamatan kekal. 

Dan jika makna yang sempurna ini telah diperoleh di dalam Kristus, maka Gereja tidak dapat kembali ke makna samar-samar di zaman Perjanjian Lama saat penggenapannya di dalam Kristus belum terjadi. 

Hal yang serupa adalah pemaknaan Hari Tuhan, yang merupakan penggenapan makna hari Sabat pada Perjanjian Lama.

6. Jadi bagaimana sekarang, perlukah kita disunat?

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19). Dengan mengetahui bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, maka sekarang tidaklah menjadi penting, sunat atau tidak bersunat, asalkan kita melakukan hukum-hukum Allah terutama hukum kasih. 

Maka jika seseorang Katolik tidak disunat, itu disebabkan karena itu sudah bukan keharusan bagi kita sebagai pengikut Kristus, sebab keselamatan kita tidak diperoleh dari sunat/hukum Taurat tetapi oleh iman akan Kristus Tuhan.

Dengan demikian, seperti telah disampaikan di atas, “sunat” dalam Perjanjian Lama adalah persiapan/ gambaran dari Pembaptisan di Perjanjian Baru. 

Yesus memperbaharui dan menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum yang baru; Yesus tidak membatalkannya, namun menyempurnakannya dan memberikan arti yang lebih penuh terhadap apa yang ditentukan dalam hukum Taurat Musa. 

Bahwa kekudusan tidak hanya sesuatu yang terlihat dari luar namun lebih kepada apa yang ada di dalam hati. Dan kekudusan yang sejati inilah yang menghantar kita kepada keselamatan kekal.

Di sinilah kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 

St. Thomas Aquinas pernah mengajarkan tentang 3 jenis hukum yang ada dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana Yesus menggenapinya dalam Perjanjian Baru (lih. Hukum Taurat » “Kamus”). 

CATATAN KAKI:

St. Athanasius, on Lk. 2:23; dikutip oleh St. Thomas dalam ST, III, q. 37, a. 3, ad 2. [↩]

(Sumber: Mengapa Yesus disunat, kita tidak?, katolisitas.org)

04.14 -

Pengantin darah

Musa bersedia tinggal di rumah Yitro, imam Median, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya kepada Musa (Kel 2:21).

Tuhan berfirman: "... pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir (Kel 3:7-10).



Lalu Musa kembali kepada mertuanya Yitro serta berkata: "..."

Kemudian Musa mengajak istri dan anak-anaknya lelaki ... ke tanah Mesir (Kel 4:18, 20).

Di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Lalu Zipoira mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.” 

Lalu Tuhan membiarkan Musa. “Pengantin darah”, karena Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu (Kel 4:24-26).

» Musa dan istrinya berlainan tempat tinggal. Anak Musa tidak disunat pada hari ke 8 (Kej 17:10-12) karena Musa sibuk melaksanakan tugas perutusannya sehingga dia lalai dengan perjanjian Tuhan.

Dan hukuman bagi yang tidak menjalankan perjanjian ini adalah: “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang/sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kej 17:14).

Dalam konteks inilah, maka Musa harus bertanggung jawab agar anaknya mengikuti perjanjian Tuhan.

Menyadari akan hal ini, maka istri Musa menyunat anaknya dan menyentuhkan kulit khatan anaknya kepada kaki Musa, sebagai tanda bahwa sunat sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan telah dilaksanakan, sehingga dia berharap bahwa Musa dapat dilepaskan dari hukuman Tuhan.

Zipora mengatakan bahwa Musa adalah pengantin darah baginya, yaitu karena dia telah menyelamatkan Musa sehingga Musa tetap hidup menjadi suaminya dengan cara meneteskan darah dari anaknya yang disunat.

Dari perikop ini, kita dapat melihat bahwa untuk menjadi pemimpin, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah memimpin diri sendiri dan keluarganya.

Ini juga sesuai dengan kriteria yang diberikan oleh rasul Paulus kepada Timotius dalam memilih tetua. dikatakan “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1Tim 3:5).

03.41 -

Ragi

Peraturan Musa melarang pemakaian ragi selama Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi (Kel 23:15, 18). 

Larangan memakai ragi dan madu (Im 2:11), mungkin dibuat karena peragian melibatkan penghancuran dan pembusukan, dan bagi Israel keadaan membusuk menimbulkan kesan kenajisan.



Mereka membawa adonan dan tempat meremas tepung dan memanggang roti sambil berkelana (Kel 12:34; Ul 16:3).

Hal ini mengingatkan Israel tentang keberangkatan buru-buru dari Mesir, tatkala tidak ada waktu untuk memanggang roti beragi.

Dalam PB dipakai dengan arti kiasan yang mencerminkan pendapat lama tentang 'busuk dan menimbulkan kebusukan'.

Yesus memperingatkan murid mengenai ragi orang Farisi, Saduki dan Herodes (Mat 16:6; Mrk 8:15).

Maksud-Nya Farisi dan pemahaman yang berlebihan akan yang lahiriah (Mat 23:14, 16; Luk 12:1), skeptisidme dan ketidaktahuan Saduki (Mat 22:23, 29), kebencian dan tipu daya politik Herodes (Mat 22:16-21; Mrk 3:6).

Tapi maksud ragi lain dalam perumpamaan Yesus yang membandingkan Kerajaan Allah dengan 'ragi yang diambil seorang wanita, dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya' (Mat 13:33; Luk 13:21).

Perumpamaan ini mengikuti perumpamaan biji sesawi kecil dan lambat tumbuhnya.

Makna dari perumpamaan ragi menunjuk pada 'pengaruh ragi dalam tepung, tersembunyi, diam-diam, penuh rahasia tapi mempengaruhi seluruhnya secara merata.

(Sumber: Ensklopedi Alkitab Masa Kini).

Senin, 22 Februari 2016

Spiritualitas Katolik



Jika kita mendengar kata ‘spiritualitas’, kita dibawa pada suatu kenyataan bahwa di dalam hidup, manusia selalu mencari ‘sesuatu di atas dirinya’ sebagai manusia. 


Hal ini disebabkan karena kita manusia tidak hanya terdiri dari tubuh saja, melainkan juga jiwa spiritual, sehingga kita selalu memiliki kecenderungan untuk menemukan jati diri kita dengan mengenali Sang Pencipta. 


Seperti halnya ikan salmon yang mengembara ribuan kilometer dalam hidupnya untuk kembali ke tempat ia dilahirkan dan mati di tempat asalnya tersebut; demikian halnya dengan manusia. 

Sudah selayaknya, kita – yang diciptakan lebih sempurna dari ikan salmon - menyadari, bahwa kita berasal dari Tuhan dan suatu saat akan kembali kepada Tuhan. 

Maka, di dalam hidup, kita akan berusaha untuk mengenal diri sendiri dan Tuhan, dan di sinilah spiritualitas berperan dalam kehidupan kita.

Tuhanlah yang memberi makna hidup

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat, bahkan mengalami pergumulan untuk pencarian jati diri, yang lebih umum dikenal dengan pencarian makna hidup, atau singkat kata, kebahagiaan. 

Dan karena asal dan akhir manusia adalah Tuhan, maka tidak mengherankan bahwa di dalam pergumulan ini, banyak orang mengalami seperti yang dikatakan oleh Santo Agustinus, “Hatiku tak pernah merasa damai sampai aku beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.” 

Tuhanlah sumber kebahagiaan kita dan Dia-lah yang memberi arti dan maksud dari hidup ini. Maka, hanya jika kita sampai kepada Tuhan, barulah kita menemukan damai dan pemenuhan makna hidup. 

Kesaksian dari banyak orang membuktikan hal ini: ada banyak orang yang secara materiil tak kurang sesuatu apapun, tetapi tidak bahagia, sementara ada orang-orang lain yang hidup sederhana tetapi dapat sungguh berbahagia dan menikmati hidup. 

Pertanyaannya, kenapa demikian?

Dapat dimengerti, spiritualitaslah yang membedakan kedua kelompok ini. Spiritualitas di sini mengacu pada nilai- nilai religius yang mengarahkan tindakan seseorang.[1] 

Jika nilai- nilai yang dipegang tidak mengarah pada Tuhan, kebahagiaan yang dicapai adalah ‘semu’ sedangkan jika nilai-nilai itu mengarah pada Tuhan, kebahagiaan yang diperoleh adalah kebahagiaan sejati. 

Meskipun spiritualitas ini tidak terbatas pada agama tertentu, namun, kita bisa memahami, bahwa spiritualitas mengarah pada Tuhan Sang Pencipta, karena semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama, dan karena hanya di dalam Tuhanlah kita mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan di dalam kehidupan ini.

Spiritualitas Kristiani adalah Spiritualitas Tritunggal Maha Kudus yang berpusat pada Kristus

Sebagai umat Kristiani, kita percaya bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus PuteraNya[2] oleh kuasa Roh Kudus-Nya. 

Oleh karena itu, spiritualitas Kristen bersumber pada Allah Tritunggal Maha Kudus, yang berpusat kepada Kristus, Penyelamat kita,[3] karena hanya di dalam nama Kristus kita diselamatkan (Kis 4:12). 

Allah Bapa telah menciptakan kita sesuai dengan gambaran-Nya; dan menginginkan agar kita selalu tinggal di dalam kasih-Nya yang tak terhingga sebagaimana ditunjukkan oleh Kristus dengan wafat dan kebangkitan-Nya, untuk menghapus dosa-dosa kita (1 Yoh 4:10). 

Oleh Kristus, kita angkat menjadi anak-anak Allah (Rm 8:15). dan dipersatukan dengan Tuhan sendiri; Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Jadi, ‘komuni’ atau persatuan kudus kita dengan Allah Tritunggal adalah tujuan hidup kita. 

Sekarang masalahnya adalah, apakah kalau kita percaya kepada Tuhan, otomatis kita pasti bisa bersatu dengan Dia? Pertama-tama kita harus menyadari, bahwa persatuan dengan Tuhan yang membawa kita pada keselamatan adalah suatu karunia; itu adalah pemberian, bukan karena usaha manusia (Ef 2:8).

Karunia keselamatan tersebut diberikan oleh Kristus melalui wafat-Nya di salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga. Misteri ini-lah yang sampai sekarang selalu dihadirkan kembali oleh Gereja Katolik, melalui sakramen sakramennya, terutama Sakramen Ekaristi,[4] di mana kita dipersatukan dengan Tubuh dan Darah Kristus, Jiwa dan Ke–ilahian-Nya.

Persatuan atau komuni kudus ini adalah cara yang dipilih Allah untuk mengangkat kita menjadi serupa dengan Dia. Untuk maksud persatuan kudus inilah, Kristus mendirikan Gereja Katolik untuk melanjutkan karya Keselamatan-Nya kepada dunia sampai kepada akhir zaman.

Peranan Iman

Dalam hal persatuan dengan Tuhan melalui misteri Keselamatan inilah, iman mengambil peranan penting. Iman di sini bukan berarti kepercayaan subjektif bahwa pasti kita diampuni sehingga kita tidak perlu melakukan sesuatu apapun sebagai konsekuensi, melainkan iman yang objektif, yang diawali dengan pertobatan sejati dan diikuti dengan proses memperbaiki diri, yaitu suatu perjuangan untuk semakin menjadikan diri kita semakin mirip dengan Tuhan yang menciptakan kita. 

Dalam hal ini, iman yang dimaksud adalah ketaatan iman (Rm 16:26; 1: 5) yang diberikan kepada Allah yaitu dengan cara mempersembahkan ketaatan kita secara penuh yang mencakup kehendak dan akal budi, dan dengan mematuhi dan menyetujui segala kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan kepada kita.[5] 

Kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus dilanjutkan oleh Gereja-Nya, Gereja Katolik, sehingga ketaatan total kepada Tuhan membawa kita kepada ketaatan kepada kepada Gereja. 

Taat di sini tidak saja mencakup taat kepada Firman Tuhan yang tertera pada kitab suci, tetapi juga kepada Gereja-Nya, karena keduanya sejalan dan tidak dapat dipisahkan.

Spiritualitas Katolik adalah spiritualitas yang otentik

Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa spiritualitas yang dinyatakan oleh Kristus adalah spiritualitas yang otentik, meskipun Gereja Katolik tidak menolak apa yang benar dan kudus yang dinyatakan oleh agama-agama lain.[6] 

Dikatakan otentik karena spiritualitas ini berasal dari Tuhan sendiri, yang kini berada di dalam Gereja Katolik yang dipimpin oleh penerus Rasul Petrus dan para uskup pembantunya, meskipun ada banyak unsur pengudusan dan kebenaran ditemukan di luar struktur Gereja Katolik.[7] 

Berakar dari Firman Tuhan dan ajaran Gereja inilah, kita mengetahui bahwa panggilan hidup kita sebagai manusia adalah agar kita hidup kudus dan mengasihi, karena Allah itu Kudus dan Kasih (Im 19:2, 1 Yoh 4:16). 

Di sini kekudusan berkaitan erat dengan memegang dan melakukan perintah Tuhan[8], yang adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama (Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31)

Hanya dengan cara ini, maka kita dapat bertumbuh untuk menjadi ‘serupa’ dengan Allah, dan dikuduskan oleh Allah. Panggilan hidup kudus adalah panggilan bagi semua orang Kristen, bahkan panggilan untuk semua orang, karena kita semua diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama.

Jadi kekudusan bukan monopoli kelompok para pastor, suster dan religius lainnya tetapi harus menjadi tujuan bagi kita semua.

Konsili Vatikan II menyerukan pada semua orang panggilan untuk hidup kudus. Siapapun kita, dalam kondisi yang berbeda satu dengan lainnya, dipanggil Tuhan untuk menjadi kudus, sebab Allah sendiri adalah Kudus.[9] 

Jadi panggilan ini berasal dari Allah yang satu, dan berlaku untuk semua orang, karena Allah menciptakan semua orang di dalam kesatuan, dan menginginkan kesatuan itu kembali di dalam diri-Nya, yang berlandaskan kasih. 

Maka nyatalah bahwa Spiritualitas Katolik mengarah kepada kekudusan dan kasih di dalam kesatuan yang universal, yaitu yang merangkul semua orang kepada persatuan di dalam Tuhan. 

Persatuan ini adalah kesempurnaan dari hidup Kristiani, yang dihasilkan dari penerapan pengajaran Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari.[10] 

Jadi spiritualitas yang otentik haruslah diikuti oleh penerapan di dalam perbuatan, sebab jika tidak, spiritualitas menjadi hanya sebatas teori.

Ciri-ciri Spiritualitas Katolik

Dengan demikian, ciri-ciri dari Spiritualitas Katolik adalah[11]:

1. Berpusat pada Kristus. Kristuslah yang menciptakan hidup spiritual, sebab di dalam Dia, Tuhan menyatakan diri-Nya oleh kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu spiritualitas tergantung dari semua pengajaran Kristus.

2. Melalui Kristus menuju kesatuan dengan Allah Tritunggal. Karena Kristus adalah Pribadi kedua di dalam kesatuan Tritunggal Maha Kudus, maka jika kita bersatu dengan Kristus, maka kita akan bersatu dengan Allah Tritunggal

3. Keikutsertaan di dalam misteri Paska Kristus (salib, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga), melalui rahmat Tuhan, iman, kasih, dan nilai-nilai Kristiani lainnya. 

Singkatnya, Spiritualitas Katolik tak terlepas dari Salib Kristus,[12] penderitaan dan kesadaran diri akan dosa-dosa kita yang membawa kita pada kebangkitan di dalam Dia. 

Karena misi Keselamatan Kristus diperoleh melalui Salib, maka sebagai pengikut-Nya, kita-pun selayaknya mengambil bagian dalam penderitaan itu, terutama dengan kesediaan untuk terus-menerus bertobat dan mau menanggung penderitaan demi keselamatan sesama, dan dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya. 

Jika kita hanya mau mengambil bagian dalam ‘kemuliaan’ tanpa mau mengambil bagian dalam ‘penderitaan’ – yang dizinkan oleh Tuhan untuk terjadi di dalam hidup kita - maka kita tidak menerapkan Injil dengan seutuhnya.

4. Berdasarkan kesaksian akan Kasih Tuhan. Kitab Suci bukan hanya wahyu Tuhan, tapi juga pernyataan akan pengalaman manusia di dalam wahyu Tuhan itu. Apa yang dialami oleh Adam dan Hawa, Nabi Abraham, Ayub, Bunda Maria, Rasul Petrus dan Paulus, dapat dialami oleh kita semua.

5. Disertai kesadaran akan dosa dan belas kasihan Tuhan. Spiritualitas Katolik berlandaskan atas keyakinan akan Kasih Tuhan di atas segalanya yang mampu mengubah segala sesuatu. Pada saat Tuhan mengasihi kita, dan jika kita membuang segala dosa yang menghalangi kita untuk menerima kasih-Nya, dan dengan iman dan doa, maka kita dapat sungguh diubah, dikuduskan dan dimampukan berbuat baik.

6. Mengarah pada kehidupan kekal yang dijanjikan oleh Allah.

7. Melihat Bunda Maria sebagai contoh teladan. Spiritualitas Katolik menerima segala kebijaksanaan Tuhan yang selalu menggunakan peran pengantara, yaitu Musa, para nabi, Yohanes Pembaptis, dan terutama Bunda Maria untuk menyelenggarakan karya keselamatan-Nya.

Karya Tuhan yang ajaib juga nampak dalam mujizat keperawanan Maria dan melalui ketaatan dan kesediaan Maria, Allah menganugerahkan rahmat yang tiada batasnya, yaitu kelahiran Yesus Kristus, Penyelamat kita di dunia.

8.Mangacu pada Gereja-Nya, Gereja Katolik. Gereja merupakan sumber atau alat yang meneruskan rahmat Tuhan. 

Rahmat Tuhan ini kita peroleh melalui sakramen-sakramen terutama Ekaristi; dan juga melalui ketaatan kita pada para penerus Rasul Kristus yang telah dipilih oleh- Nya. 

Gereja sebagai kesatuan (komuni) manusia dengan Tuhan, selalu memperjuangkan martabat manusia, dan memperhatikan kesatuannya dengan para orang kudus; sebab melalui kesatuan ini Allah dimuliakan.

Kesimpulan

Dengan melihat ciri-ciri di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan akhir Spiritualitas Katolik adalah kemuliaan Tuhan, yang diwujudkan oleh kasih kepada Tuhan dan sesama. 

Untuk mencapai hal ini, bukan kesuksesan yang menjadi tolok ukurnya melainkan kesetiaan untuk bergantung pada Kristus, sebab tanpa Dia kita tidak bisa berbuah (bdk. Yoh 15:15). 

Bentuk wujud kesatuan dengan Kristus yang paling nyata di dunia ini adalah melalui Ekaristi kudus, di mana kita menyambut Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Ilahian Kristus, sehingga oleh-Nya kita dipersatukan dengan Allah Tritunggal. 

Oleh karena itu, Spiritulitas Katolik selalu berpusat dan bersumber pada Ekaristi, yang adalah Allah sendiri,[13] karena kekudusan adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan. 

Melalui Ekaristi, kita tinggal di dalam Kristus dan dimampukan untuk mengikuti teladan-Nya, sehingga dapat berjalan menuju kekudusan, yaitu persekutuan dengan Allah, yang menjadi sumber kebahagiaan kita. 

Di sinilah kebahagiaan kita sebagai manusia menjadi juga kemuliaan bagi Allah, karena Allah menciptakan kita agar kita berbahagia bersama-Nya!

CATATAN KAKI:

1. Lihat Jordan Aumann, Spiritual Theology, Spiritual Theology, (Continuum, London, reprint 2006, first published in 1980), p17, “…spirituality refers to any religious or ethical value that is concretized as an attitude or spirit from which one’s actions flow.” []

2. Kristus dan Allah Bapa adalah satu (Yoh 10: 30; 14: 9-11). []

3. Paus Yohanes Paulus II, dalam Redemptoris Hominis (Penyelamat Manusia), Surat Ensiklikal, 7, menulis, “Jiwa kita diarahkan pada satu arah, pada satu-satunya arah akal budi, kehendak dan hati – menuju Kristus Penyelamat kita, menuju Kristus, Sang Penyelamat manusia. Kita berusaha untuk mengarahkan pandangan kita kepada Dia- sebab tidak ada keselamatan di dalam siapapun selain dari Dia, Sang Putera Allah…” Our spirit is set in one direction, the only direction for our intellect, will and heart is – toward Christ our Redeemer, towards Christ, the Redeemer of man. We wish to look towards Him – because there is no salvation in no one else but Him, the Son of God…” []

4. Lihat Katekismus Gereja Katolik, 1085, dan 1362, “Ekaristi adalah kenangan akan Paska Kristus yang menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban satu-satunya dalam liturgi Tubuh-Nya yaitu Gereja.” []

5. Dei Verbum, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi 5, “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26 ;lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.” []

6. Lihat Nostra Aetate 2, Dokumen Vatikan II, Dokumen Vatikan II, Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristiani, “Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.” []

7. Lihat Lumen Gentium 8, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[[13]], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik. []

8. Lihat Im 20:7-8, “Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu sebab Akulah Tuhan Allahmu. Demikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah Tuhan yang menguduskan kamu” []

9. Lumen Gentium 40, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “…semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.” []

10. Lihat Jordan Aumann, Spiritual Theology, (Continuum, London, reprint 2006, first published in 1980), p25, 23. ”Spiritual theology reflects precisely on the mystery of our participation in divine life….Spiritual theology …is not a pure speculative science but also a practical and applied theology.” []

11. Diterjemahkan dan disederhanakan dari tulisan Douglas G. Bushman, S.T.L., Foundation of Catholic Spirituality, Institute for Pastoral Theology, Ave Maria University, 2006, p. 35-37. []

12. Hal ini sangat nyata dalam pengajaran Rasul Paulus, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengatahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”(1 Kor 2:2). []

13. Lihat Katekismus Gereja Katolik, dan Lumen Gentium 11, “Ekaristi adalah ‘sumber dan puncak seluruh hidup kristiani.” []

(Sumber: Apakah Spiritualitas Katolik?, katolisitas.org)..

Jumat, 19 Februari 2016

18.38 -

Konsili

Konsili Ekumenis merupakan sebutan “gatherings” dari otoritas Gereja Katolik yang bersifat universal.

Konsili ekumenis bukan saja mengatakan “otoritas mengajar” dari Gereja Katolik, tetapi juga mencetuskan Tradisi yang di dalamnya Allah telah bekerja lewat Gereja. 

Disebut ekumenis, sebab konsili tersebut melibatkan seluruh Gereja Katolik, tidak partikular atau lokal. Produk dari Konsili Ekumenis berlaku untuk seluruh Gereja, bukan Gereja setempat.

Tulisan ini merupakan ringkasan panoramik konsili-konsili yang pernah diadakan di dalam Gereja Katolik. Sebuah pemandangan keseluruhan diperlukan agar dapat melihat dengan lebih fokus posisi dari Konsili Vatikan II. 

Dalam sejarah konsili, Konsili Vatikan II merupakan konsili ekumenis yang ke-21. Konsili ekumenis apa yang pertama dan yang ke dua puluh, dapat disimak dalam panorama berikut.

Uraian panoramik menyiratkan bahwa Gereja Katolik senantiasa memperbarui diri dari masa ke masa (Ecclessia semper reformanda) dengan segala pengalaman jatuh bangun. 

Ada berbagai alasan mengapa konsili diadakan. Tetapi, yang sangat penting disimak ialah bahwa seiring dengan sejarah manusia yang berkembang, demikian juga tanggapan Gereja Katolik terhadap aneka persoalan yang dihadapinya. 

Dalam sejarah Gereja Katolik terdapat countless konsili-konsili. Tetapi, yang dimaksud dengan Konsili Ekumenis umumnya hanya 21. 

Tulisan ini lebih diinspirasikan oleh artikel “The 21 Ecumenical Councils” yang dapat disimak dalam situs internet Catholic Library, http://www.newadvent.org/library/...htm (akses 15 Agustus 2005).

1. KONSILI EKUMENIS I : NICEA I (325)

Konsili Nicea berlangsung dua bulan duabelas hari. Konsili Nicea I sangat istimewa. Konsili ini terjadi atas konvokasi dari St. Alexander, Uskup Alexandria. Partisipan terdiri dari 300-an uskup (jumlah yang pasti sulit ditentukan mengingat laporan yang berbeda dari Eusebius dan Athanasius tentang estimasi para peserta). Uskup Cordova bertindak sebagai yang mewakili Paus Sylvester. Kaisar Konstantinus juga hadir. Eusebius, sejarawan Gereja, melukiskan Konsili Nicea merupakan konsili yang sangat besar mengingat para uskup di sekitar wilayah Palestina, Mesir, Yunani dan sekitarnya hadir. 

Seringkali Konsili Nicea diadakan untuk “menghukum” (anathema) kesesatan yang diajarkan oleh Arius. 

Tetapi tidak hanya itu. Konsili ini juga dimaksudkan untuk upaya-upaya perdamaian yang pada waktu itu sangat mahal karena perpecahan umat karena ajaran-ajaran bidaah yang terjadi. Peritus dalam Konsili ini ialah St. Athanasius, Uskup Alexandria dan St. Ephrem. Keduanya adalah doktor Gereja.

Dari Konsili ini kita mewarisi Credo Nicean, sekaligus melawan ajaran Arius tentang kodrat keilahian Putera Allah (homoousios). 

St. Athanasius mengajukan rumusan “Credo” yang menegaskan kodrat keilahian Kristus, dan dengan demikian sekaligus melawan ajaran Arius yang memegang teguh bahwa Yesus hanya memiliki satu kodrat, kemanusiaan saja. 

Rumusan iman ini hingga sekarang masih tetap demikian adanya, dan diucapkan dalam Misa setiap hari minggu atau hari-hari raya.

Seringkali Konsili Nicea merupakan salah satu konsili terpenting Gereja Awali. Dalam Konsili ini dihasilkan 20 kanon yang menampilkan “organisasi” (penataan) awal kehidupan Gereja pada waktu itu. Berikut kanon-kanon tersebut:

Canon 1: On the admission, or support, or expulsion of clerics mutilated by choice or by violence. 

Canon 2: Rules to be observed for ordination, the avoidance of undue haste, the deposition of those guilty of a grave fault. 

Canon 3: All members of the clergy are forbidden to dwell with any woman, except a mother, sister, or aunt. 

Canon 4: Concerning episcopal elections. 

Canon 5: Concerning the excommunicate. 

Canon 6: Concerning patriarchs and their jurisdiction. 

Canon 7: Confirms the right of the bishops of Jerusalem to enjoy certain honours. 

Canon 8: Concerns the Novatians. 

Canon 9: Certain sins known after ordination involve invalidation. 

Canon 10: Lapsi who have been ordained knowingly or surreptitiously must be excluded as soon as their irregularity is known. 

Canon 11: Penance to be imposed on apostates of the persecution of Licinius. 

Canon 12: Penance to be imposed on those who upheld Licinius in his war on the Christians. 

Canon 13: Indulgence to be granted to excommunicated persons in danger of death. 

Canon 14: Penance to be imposed on catechumens who had weakened under persecution. 

Canon 15: Bishops, priests, and deacons are not to pass from one church to another. 

Canon 16: All clerics are forbidden to leave their church. Formal prohibition for bishops to ordain for their diocese a cleric belonging to another diocese. 

Canon 17: Clerics are forbidden to lend at interest. 

Canon 18: Recalls to deacons their subordinate position with regard to priests. 

Canon 19: Rules to be observed with regard to adherents of Paul of Samosata who wished to return to the Church. 

Canon 20: On Sundays and during the Paschal season prayers should be said standing. 

2. KONSILI EKUMENIS II : KONSTANTINOPEL I (381)

Hadir dalam Konsili ini 150 uskup. Konsili dipanggil oleh Kaisar Theodosius I. Konsili Konstantinopel I sering disebut sebagai Konsili Gereja Katolik Yunani. 

Konsili ini dimaksudkan untuk melawan para pengikut Macedonius yang menisbikan kodrat keilahian dari Roh Kudus. 

Credo yang dimiliki Gereja Katolik saat ini adalah Credo (rumusan iman) produk dari Konsili Nicea dan Konstantinopel, yang di dalamnya Roh Kudus dan Putera ditegaskan kodrat keilahiannya (qui simul adoratur).

Konsili ini dipimpin oleh St. Gregorius Nazianze, Uskup Konstantinopel dan St. Sirilus dari Yerusalem. Dalam patristik Yunani, Konsili Konstantinopel dilaporkan memproduksi 7 kanon penting. 

Tetapi dalam versi Latin, empat kanon, di antaranya kanon ketiga berisi deklarasi bahwa Patriarch Konstantinopel merupakan “New Rome” maka layak mendapat penghormatan keprimatan setelah Paus di Roma. 

Konon Tradisi Gereja Latin tidak mengakui kanon ini sampai tahun 869 delegasi Paus di Roma mengakui Konstantinopel sebagai primat kedua. Pengakuan ini akan berlanjut Konsili Lateran IV (1215) dan Konsili di Florence (1439).

3. KONSILI EKUMENIS III : EFESUS (431)

Lebih dari 200 uskup, Konsili ini dipimpin oleh St. Sirilus dari Alexandria, mewakili Paus Celestinus I. 

Konsili mendefinisikan kesatuan personal Kristus, mendeklarasikan Maria Bunda Allah (Theotokos), melawan Nestorius, Uskup Konstantinopel, dan sekaligus menghukum Pelagius. 

Konsili ini juga melawan ajaran Apollinarianisme yang mengajarkan kesesatan berkaitan dengan Yesus. Menurut Apollinaris, Kristus tidak sungguh-sungguh manusia, Ia hanya memakai “pakaian” tubuh manusia, tak memiliki “jiwa” manusia. 

Dalam Konsili ini, iman akan Kristus ditegaskan sebagai sungguh-sungguh manusia.

4. KONSILI EKUMENIS IV : KALSEDON (451)

Konsili Kalsedon diikuti oleh 150 uskup pada waktu jaman Paus Leo I (Leo Agung) dan Kaisar Marcianus. 

Konsili ini menegaskan dua kodrat (ilahi dan manusiawi) dalam diri Kristus. Dan, dengan demikian melawan Eutyches yang telah diekskomunikasikan, karena mengajarkan kesesatan Monophysitism, yaitu bahwa Kristus hanya memiliki kodrat ilahi saja.

5. KONSILI EKUMENIS V : KONSTANTINOPEL II (553)

Konsili Konstantinopel Kedua ini dijalankan oleh 165 uskup, di bawah pimpinan Paus Vigilius dan Kaisar Yustinus I. 

Konsili menegaskan kesesatan-kesesatan dari Origenes dan beberapa tulisan (The Three Chapters) dari Theodoret, Theodore, Uskup Mopsuestia dan Ibas, Uskup Edessa. 

Konsili ini juga menegaskan berlakunya keputusan-keputusan empat konsili terdahulu, istimewanya karena otoritas mengajar dalam Konsili Kalsedon disangsikan oleh para bidaah.

6. KONSILI EKUMENIS VI : KONSTANTINOPEL III (680-681)

Konsili Konstantinopel, di bawah Paus Agatho dan Kaisar Konstantinus Pogonatus, diikuti oleh Patriarch Konstantinopel dan Antiokia, 174 uskup dan Kaisar. 

Konsili ini mengakhiri monothelitisme sekaligus mendefinisikan dua kodrat dan kehendak dari Kristus (ilahi dan manusiawi) sebagai suatu prinsip yang berbeda dalam operasionalnya. 

Konsili ini mengutuk (anathematizing) Sergius, Pyrrhus, Paul, Macarius, dan para pengikutnya.

7. KONSILI EKUMENIS VII : NICEA II (787)

Konsili Nicea II diadakan atas inisiatif Kaisar Konstantinus VI dan ibunya, Irene, di bawah Palls Adrianus I. Konsili dipimpin oleh para utusan Paus Adrianus. 

Konsili ini mengatur penghormatan terhadap icon-icon suci. Hadir dalam Konsili ini 300 sampai 367 uskup. 

Konsili ini lebih dimaksudkan untuk mengurus apa yang disebut kontroversi “iconaklasme”.

8. KONSILI EKUMENIS VIII : KONSTANTINOPEL IV (869)

Konsili Konstantinopel yang keempat ini diadakan pada waktu jaman Paus Adrianus II dan Kaisar Basilius. Sejumlah 132 uskup dan 3 utusan Sri Paus, serta 4 Patriarch dalam konsili ini melawan konsili liar yang dibuat oleh Photius melawan Paus Nikolas dan Ignatius (Uskup dan Patriarch Konstantinopel). 

Konsili ini mengutuk Photius yang secara tak sah menjarah martabat ke-patriarch-an. Konsili ini - bagaimanapun juga - menegaskan betapa skisma Photius sungguh mendominasi Gereja Yunani. Dan, uniknya tidak pernah diadakan konsili di Gereja Timur untuk melawan Photius.

9. KONSILI EKUMENIS IX : LATERAN I (1123)

Konsili Lateran I adalah konsili pertama yang diadakan di kota Roma, di bawah Paus Callistus II. Partisipan sejumlah 900 uskup dan para abas (= pemimpin biara). 

Konsili ini menghilangkan hak-hak yang diklaim para pangeran atau raja atas benefisi kegerejaan. 

Konsili ini juga membahas disiplin dalam Gereja dan pemulihan Tanah Suci (Yerusalem) dari para penyerang, kaum tidak beriman (infidels).

10. KONSILI EKUMENIS X : LATERAN II (1139)

Konsili ini merupakan konsili kedua di Roma, di bawah Paus Inocentius II. Peserta Konsili Lateran II sekitar 1000 uskup dan Kaisar Konrad. 

Tujuannya ialah melawan kesesatan-kesesatan Ardoldus dari Brescia.

11. KONSILI EKUMENIS XI : LATERAN III (1179)

Lateran III terjadi di bawah Paus Alexander III, dan Kaisar Frederikus I. Terdapat 302 uskup. 

Konsili ini mengutuk kesesatan para Albigenses dan Waldenses. 

Disamping itu, konsili ini juga menerbitkan sejumlah dekrit reformasi moral.

12. KONSILI EKUMENIS XII : LATERAN IV (1215)

Konsili Lateran IV diadakan pada jaman Paus Innocentius III. Hadir pada waktu itu para Patriarch Konstantinopel dan Yerusalem, 71 uskup agung, 412 uskup, dan 800 abas (pimpinan biara Maronit) danSanto Dominicus. 

Konsili ini melawan secara rnendetil simbol-simbol Albigenses (Firmiter credimus), mengutuk kesesatan berkaitan dengan konsepnya tentang Allah Tritunggal dari Abas Yoakim dan menerbitkan 70 dekrit reformasi penting. 

Konsili ini termasuk konsili paling penting dalam Abad Pertengahan. Sebab dalam konsili ini dilukiskan hal-hal penting dalam hidup Gereja dan kekuasaan Paus.

13. KONSILI EKUMENIS XIII : LYONS I (1245)

Konsili pertama di Lyons dipimpin oleh Paus Innocentius IV. Hadir di dalam konsili ini: para Patriarch dari Konstantinopel, Antiokia dan Aquileia (Venezia), 140 uskup, Kaisar Baldwin II (Kaisar dari Timur), St. Louis, Raja Perancis.

Konsili ini mengekskomunikasi Kaisar Frederik II dan mengarahkan Perang Salib yang baru di bawah komando Raja Perancis, melawan Saracens dan para penyerang dari Mongolia.

14. KONSILI EKUMENIS XIV : LYONS II (1274)

Konsili ini atas inisiatif Paus Gregorius X, para Patriarch Antiokia dan Konstantinopel. Hadir 15 kardinal, 500 uskup dan lebih dari 1000 partisipan para bangsawan. 

Konsili ini lebih dimaksudkan untuk reunifikasi Gereja Yunani dan Roma. 

Nama filioque ditambahkan dalam simbol Konstantinopel dan cara-cara baru diupayakan untuk mempertahankan Palestina dari serangan orang-orang Turki. 

Di sini pula, digariskan peraturan pemilihan Sri Paus.

15. KONSILI EKUMENIS XV : VIENNE (1311-1313)

Konsili ini diadakan di sebuah kota di Perancis yang bernama Vienne atas perintah dari Paus Clemens V, Paus pertama yang tingga1 di Avignon. Para Patriarch dari Antiokia dan Alexandria, 300 uskup dan 3 raja (Philipus IV dari Perancis, Edward II dari Inggris, dan James II dari Aragon) hadir. 

Konsili memfokuskan pada upaya-upaya Perang Salib baru sekaligus reformasi kehidupan klerus dan ajaran bahasa Timur di universitas-universitas.

16. KONSILI EKUMENIS XVI : CONSTANCE (1414-1418)

Konsili Constance diadakan pada waktu skisma besar di Barat, dengan tujuan untuk mengakhiri perpecahan di dalam tubuh Gereja. 

Konsili ini sah karena Gregorius XI secara formal memanggilnya. Konsili ini cukup berhasil mengakhiri skisma, segera setelah pemilihan Paus baru, Martinus V. 

Berbagai perpecahan di Barat nyata dengan terdapatnya para paus, sampai akhirnya Paus yang sah (Martinus V) menegaskan dekrit konsili melawan Wyclif dan Hus. 

Konsili ini unik, karena produk konsili ini menjadi ekumenis hanya ketika menjelang berakhir (pada sesi ke 42-45). Namun demikian, dekrit-dekrit sebelumnya disahkan pula Paus Martinus V.

17. KONSILI EKUMENIS XVII : BASEL, FERRARA, FLORENCE (1431-1439)

Konsili Basel dijalankan untuk pertama kalinya di kota itu. Konsili dipimpin oleh Paus Eugenius IV dan Kaisar Sigismund dari Roma. 

Tujuannya ialah perdamaian religius Bohemia. 

Karena ada pertengkaran dengan Paus, konsili dipindahkan ke Ferrara (1438), kemudian ke Firenze (1439) di mana pertemuan singkat dengan Gereja Yunani berhasil dijalankan. 

Konsili Basel disebut konsili ekumenis hanya sampai sesi ke duapuluh lima. Eugenius IV mengesahkan dekrit-dekrit yang berhubungan dengan pembasmian heresi, perdamaian di antara umat Kristen, reformasi Gereja dan hak-hak Tahta Suci.

18. KONSILI EKUMENIS XVIII : LATERAN V (1512- 1517)

Konsili Lateran kelima berjalan lima tahun, di bawah Paus Julius II dan Leo X dan Kaisar Maximilian I. Sejumlah 15 kardinal dan sekitar 80 uskup agung dan uskup ambil bagian di dalamnya. 

Dekrit-dekrit keputusannya pada umumnya perihal disiplin hidup menggereja. 

Perang Salib baru melawan serangan invasi orang-orang Turki juga disiapkan, tetapi terhambat oleh gejolak agama yang dimunculkan oleh Luther di Jerman.

19. KONSILI EKUMENIS XIX : TRENTE (1545-1563)

Konsili Trente terbilang paling lama dalam sejarah konsili. Berlangsung delapan belas tahun (1545-1563) di bawah lima Paus: Paulus III, Julius III, Marcellus II, Paulus IV dan Pius IV dan dua Kaisar Charles V dan Kaisar Ferdinand. Hadir 5 kardinal utusan Tahta Suci, 3 Patriarch, 33 uskup agung, 235 uskup, 7 abas, 7 jenderal dari ordo-ordo monastik, 160 doktor teologi. 

Konsili Trente dimaksudkan untuk memeriksa dan menghukum kesesatan-kesesatan yang diproklamasikan oleh Luther dan kaum reformis (protestan) sekaligus untuk pembaruan disiplin intern hidup menggereja. 

Dari semua konsili, Konsili Trente bukan hanya konsili yang berlangsung paling lama, tetapi juga menerbitkan paling banyak dokumen dekrit dogmatik dan pembaruan dan menghasilkan produk-produk dokumen yang sangat berpengaruh dalam sejarah Gereja. Dari sendirinya Konsili ini juga menghukum protestantisme.

20. KONSILI EKUMENIS XX : VATIKAN I (1869-1870)

Konsili ini dipanggil oleh Pius IX. Konsili ini berlangsung dari tanggal 8 Desember 1869 dan berakhir (dihentikan) tanggal 18 Juli 1870. Tetapi, sampai tahun 1908 konsili ini belum tuntas. Hadir 6 uskup agung, 49 kardinal, 11 patriarch, 680 uskup agung, 28 abas, 29 pemimpin ordo dan tarekat. Semuanya 803 partisipan. 

Disamping banyak keputusan yang penting berkaitan dengan iman dan konstitusi Gereja, 

konsili juga menerbitkan dekrit infalibilitas Paus apabila berbicara ex cathedra, yaitu apabila sebagai gembala dan guru dari umat Katolik dia mendefinisikan ajaran iman dan moral bagi seluruh Gereja.

21. KONSILI EKUMENIS XXI : VATIKAN II (1962-1965)

Konsili Vatikan II dipanggil oleh Paus Yohanes XXIII. Diumumkan pertama kali tanggal 25 Januari 1959. Dibuka secara resmi tanggal 11 Oktober 1962, dengan persiapan yang cukup lama. Ditutup oleh Paus Paulus VI tanggal 8 Desember 1965. 

Konsili Vatikan II memproduksi 16 dokumen: tentang pewahyuan Allah, liturgi, Gereja, Gereja di dunia modern, komunikasi sosial, ekumenisme, Gereja-gereja Timur, pembaruan hidup religius, tentang awam, pendidikan calon imam, aktivitas misioner, pendidikan kristiani, relasi dengan agama-agama bukan kristen, dan kebebasan agama. 

Tidak seperti konsili-konsili sebelumnya, Konsili Vatikan II tidak dimaksudkan untuk menghukum atau mengutuk bidaah atau heresi atau kesesatan yang terjadi baik di masa lalu maupun masa kini. 

Konsili Vatikan II lebih dirancang untuk pembaruan hidup Gereja secara menyeluruh di dunia modern. Pada sesi pembukaannya, hadir 2540 uskup dan para partisipan lain, di dalamnya para ahli teologi dan para observers. 

Konsili Vatikan II adalah emblem bagi transformasi Gereja Katolik di peradaban modern.

Dalam sejarah Gereja umumnya dikatakan bahwa Konsili Vatikan II menjadi lapangan perdebatan ramai antara kelompok tradisionalis (konservatif) dan modernis (progresif). 

Yang tradisionalis ialah Kardinal Ottaviani, Kardinal Antonio Bacci, Uskup Marcel Levebvre (dari Perancis), Uskup Gerald de Proenca Sigaud (dari Jacarezinho, Brasil) termasuk di dalarnnya.

Sementara itu, kelompok modernis (umumnya mayoritas) terdiri dari tokoh-tokoh Jerman, Belgia, Belanda, Austria, Perancis, Italia dan Amerika, seperti Karl Rahner, Hans Küng, Hans Urs von Balthazar, Teilard de Chardin, Yves Congar, Gerard Philips, Walter Kasper, Joseph Ratzinger, Johannes Willebrands, Edward Schillebeeckx, Henri de Lubac, Christopher Basil Butler, John Courtney Murray, Uskup Zauner dari Linz, Austria, Julius Cardinal Dopfner, Eugene Cardinal Tisserant, Giacomo Cardinal Lercaro, Joseph Cardinal Frings, Bernardus Cardinal Alfrink, Leo Cardinal Suenens, Franz Cardinal König, Paul-Emile Cardinal Leger, Giuseppe Cardinal Siri, Paul Cardinal Richaud, Giovanni Cardinal Urbani, Francis Cardinal Spellman, Albert Cardinal Meyer, Augustine Cardinal Bea, Michael Cardinal Browne, wakil presiden Komisi Teologi dan John Joseph Cardinal Wright dari Amerika, Jean Cardinal Villot, Annibale Bugnini. Tokoh terakhir ini merupakan arsitek utama pembaruan Gereja dalam liturgi.

Di samping nama-nama ini, dari sendirinya Angelo Cardinal Roncalli (Paus Yohanes XXIII) dan Giovanni Cardinal Montini (Paus Paulus VI) termasuk dalam tokoh-tokoh yang menyerukan dengan lantang pembaruan hidup Gereja Katolik dalam Konsili Vatikan II.

( “40 Tahun Setelah Konsili Vatikan II: Bagaimanakah Peran Kaum Awam?” ; editor Dr. Henricus Pidyarto, O.Carm; Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol 14 No. Seri 13, 2005; penerbit Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang bekerjasama dengan Dioma).

(Sumber:Panorama 21 Konsili Ekumenis dalam Gereja, indocell.net).

Minggu, 07 Februari 2016

Skisma

Schism (bahasa Yunani 'perpecahan'). pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang bermusuhan ?(Yoh 7:43; 1 Kor 1:10; 11:18; 12:25). Dalam PL, terjadi perpecahan antara kerajaan Utara dan Selatan sesudah kematian Salomo (931 SM).


Perpecahan yang terjadi dalam Gereja selalu merugikan kehidupan dan kesatuan Gereja itu.

Bidaah dan skisma tidak selalu dapat dibedakan dengan jelas, tetapi dapat dikatakan demikian: bidaah yang sesungguhnya berarti berdosa melawan iman dengan sadar menolak kebenaran-kebenaran yang diwahyukan sedangkan skisma berdosa melawan cinta dengan memecahkan persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang lain.

Skisma tidak pertama-tama disebabkan oleh masalah-masalah dokrinal melainkan oleh perbedaan paham mengenai kekuasaan dan tata-susunan Gereja.

Skisma (schisma) : menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya (KGK 2089/KHK 751).

Skisma yang paling besar dalam Kristianitas  adalah pisahnya Katolik di Barat dan Ortodoks di Timur. Meskipun secara resmi dikatakan terjadi pada tahun 1054, skisma ini dari satu pihak sudah didahului oleh berbagai macam ketegangan sebelumnya, dan dari pihak lain belum dirasakan oleh semua orang Kristiani dan berbagai tingkatan sampai lama sesudah itu.

Meskipun rekonsiliasi antara Roma dan Konstantinopel sudah terjadi pada akhir Konsili Vatikan II, skisma ini belum sepenuhnya sembuh sampai hari ini.

Vatikan II mengakui adanya perpecahan dan pemisahan (UR 3; 13), tetapi tidak pernah memakai istilah "skisma" ataupun "skismatik", juga tidak pernah berbicara mengenai bidaah dalam hal ini.

(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ; Edward G.Farrugia, SJ)

01.15 -

Kemurtadan

KGK 2089/KHK 751

Kemurtadan (apostadia) ; menyangkal iman kristiani secara menyeluruh.