Sabtu, 24 Oktober 2015

Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Sakramen Pengurapan Orang Sakit dulu dikenal sebagai Sakramen Perminyakan terakhir, hanya boleh dilayani oleh imam, karena sakramen ini yang mendatangkan buah-buah rahmat berlimpah bagi penyembuhan baik tubuh maupun jiwa.

Mereka yang menjalankan pelayanan ini adalah para uskup sebagai yang mengemban wewenang penuh, para imam paroki, para imam yang melayani paroki, para imam yang melayani rumah-rumah sakit dan rumah-rumah orang lanjut usia, serta pemimpin lembaga-lembaga pendidikan imam. Imam-imam lain dapat menerimakan Sakramen Pengurapan dengan persetujuan mereka yang disebut di atas.

Buah-buah rahmat yang diperoleh dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit:

· Persatuan orang sakit dengan sengsara Kristus demi keselamatannya sendiri dan keselamatan Gereja.

· Penghiburan, perdamaian dan keberanian untuk menderita secara Kristen sengsara yang ditimbulkan oleh penyakit atau oleh usia lanjut.

· Pengampunan dosa, apabila orang sakit tidak dapat menerimanya melalui Sakramen Pengakuan.

· Penyembuhan, kalau ini berguna bagi keselamatan jiwa.

· Persiapan untuk peralihan ke hidup abadi.

Dengan dasar-dasar di atas, seorang awam yang bertindak sebagai pelayan luar biasa Komuni Suci (pro-diakon) atau “pelayan kesehatan” janganlah pernah memberikan kesan bahwa ia melayani Sakramen ini - jangan pernah kita menyesatkan orang walaupun tanpa sengaja, karena jiwa orang dapat celaka akibat tindakan simbolik serupa pengurapan yang tak mendatangkan rahmat apapun. Patutlah kita berhati-hati untuk tidak pernah melakukan sesuatupun yang dapat disalahtafsirkan sebagai pelayanan sakramen. 

Penerima pengurapan ini ialah setiap orang beriman yang karena penyakit/usia lanjut/orang sakit yang tak sadar lagi – jika sewaktu dalam keadaan sehat menyatakan keinginannya untuk menerima sakramen ini, berada dalam keadaan yang mengancam keselamatan nyawanya. 

Pengurapan dapat diulangi jika keadaan tersebut timbul kembali atau jika timbul satu kemelut yang lebih berat. Kepada orang-orang tua yang sudah sangat lemah dapat diterimakan sakramen ini, meskipun tidak dalam keadaan sakit gawat, anak-anak juga dapat menerima pengurapan, jika mereka sudah mencapai tahap penggunaan akal, sehingga mereka dapat mengalami penguatan dari sakramen pengurapan.

Perayaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit terdiri dari dua bagian, yaitu: Liturgi Sabda dan perayaan Sakramen Pengurapan yang sebenarnya. 

Pada puncak perayaan, imam mengurapi si sakit dengan minyak suci pada dahi dan tangan sambil mengucapkan rumusan-rumusan tertentu

Bagi si sakit dimohonkan karunia Roh Kudus dan janji keselamatan diucapkan baginya, agar dalam ketakberdayaan jiwa raga si sakit diluputkan serta dikuatkan, bila perlu, juga diampuni dosa-dosanya. 

Jika saat ajal sudah tiba sebelum imam datang, maka baginya diucapkan doa-doa, sedangkan pengurapan tidak dapat lagi diberikan. Tetapi jika kematiannya masih diragukan, maka Sakramen Pengurapan ini dapat diterimakan sub conditione (=kondisi khusus).

Untuk pengurapan sakramental digunakan minyak zaitun atau minyak lain dari tumbuh-tumbuhan yang telah diberkati oleh uskup dalam Misa Krisma pada hari Kamis Putih. Dalam perayaan darurat, setiap imam dapat memberkati minyak untuk pengurapan ini.

(Sumber: Warta KPI TL No. 24/IV/2006).

Santo Dismas



Ketika Maria dan Yusuf bersama Kanak-Kanak Yesus dalam perjalanan pengungsian ke Mesir untuk menghindari rencana pembunuhan oleh Herodes, tiba-tiba mereka didekati dan disapa oleh dua orang penyamun: Titus (Dismas) dan Dumachus (Gestas).

Dismas  mengajak temannya Gestas untuk membantu Maria dan Yusuf dalam perjalanan itu. Menyaksikan kebaikan hati Dismas, Maria berkata: ”Tuhan akan mengangkat engkau dengan tangan kanan-Nya dan memberikan engkau pengampunan atas dosa-dosamu.”

Sedangkan kepada ibu-Nya, Kanak-Kanak Yesus berkata meramal: “Ibu, setelah Aku berusia 30 tahun, orang-orang Yahudi akan menyalibkan Aku di Yerusalem, dan dua penyamun ini akan di salib juga bersama Aku: Titus di sebelah kanan-Ku, dan Dumachus di sebelah kiri-Ku. Dan setelah itu Titus akan masuk bersama-Ku ke dalam Firdaus" (Luk 23:39-43).

Pesta Santo Dismas 23 Maret - penyamun yang disalibkan di sebelah kanan Yesus dan bertobat, dihormati sebagai pelindung orang-orang yang perlu bertobat secara sempurna dan santo pelindung orang yang dihukum  mati.



(Sumber: Warta KPI TL No. 24/IV/2006; Santo Dismas,orang-orang kudus sepanjang tahun – Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders CICM).

Maria Simma



Romo Berlioux menceritakan tentang seorang wanita yang mempersembahkan hidupnya demi membantu membebaskan jiwa-jiwa dari api penyucian


Saat menjelang ajalnya, wanita ini diserang dengan dahsyat oleh para iblis. Tampaknya seluruh neraka bersatu melawan dia, mengelilinginya dengan bala pasukan neraka. 


Wanita ini memberontak sekuat tenaga untuk beberapa waktu lamanya, ketika sekonyong-konyong ia melihat masuk ke dalam kamarnya sejumlah jiwa-jiwa tak dikenal yang bercahaya menyilaukan namun indah, yang membuat para Iblis melarikan diri

Dengan tarikan nafas terakhirnya wanita itu bertanya penuh suka cita sambil menangis: “Siapakah kalian? Oh, kalian amat baik kepadaku?” 

Para pengunjung menjawab, “Kami adalah jiwa-jiwa yang atas pertolonganmu telah dibimbing ke dalam kebahagiaan sorgawi. Kami datang dengan penuh rasa terima kasih untuk membantumu menyeberangi batas kekekalan dan membawamu masuk ke dalam sukacitaKota Kudus’, mendengar jawab demikian, seulas senyum tampak menghiasi wajah si wanita dan matanya tertutup dalam damai jiwanya yang murni bagai merpati dipersembahkan kepada Raja Segala Raja dengan banyak pelindung dan pembela. Maria Simma, visioner dari Sontang-Austria wafat Maret 2004.

Sebagai tindakan amal dan belas kasihan yang mengagumkan, marilah kita senantiasa berdoa mengenangkan sanak saudara serta sahabat atau siapapun yang tidak kita kenal, agar mereka mendapat rahmat yang sama dari Tuhan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 24/IV/2006).

06.52 -

Indulgensi



Beata Maria dari Quito, seorang biarawati Spanyol, melihat dalam suatu penglihatan suatu harta pusaka yang berlimpah, yang diterangkan kepadanya oleh Tuhan – melambangkan segala rahmat dan jasa-jasa Yesus (harta pusaka Gereja) dari mana indulgensi diperoleh.

Gereja Katolik mempunyai wewenang untuk memberikan indulgensi karena gereja memperolehnya dari kekayaan tak terhingga jasa-jasa Kristus – ketika Ia memberikan kunci Kerajaan Sorga kepada Petrus (Mat 16:19), Bunda Maria dan semua orang kudus.

Umat beriman yang tidak peduli untuk mendapatkan keuntungan dari indulgensi ini dapat diumpamakan seperti seorang penggembara yang melewati suatu padang penuh dengan perhiasan berharga, yang tidak mau merepotkan diri untuk memungut dan mengisi kantungnya dengan harta pusaka itu, meskipun ia tahu bahwa ia akan memerlukan harta tersebut setibanya di tempat tujuan.

Karena dosa asal (dosa ketidaktaatan Adam dan Hawa di taman Eden), manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik. Mengapa saya masih memiliki hutang kepada Tuhan? Sedang saya sudah menerima Sakramen Tobat dan Tuhan sudah mengampuni dosa-dosa saya! 

Dengan berdosa kita telah melukai jiwa kita dan sekarang kita harus memulihkan kembali luka-luka itu; seperti mencabut paku pada kayu, lubangnya tetap ada dan harus diperbaiki. 

Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang

Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan penintensi. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali, mereka seringkali melakukan mati raga atau silih agar dapat lebih dapat menguasai keinginan-keinginan mereka.

Namun demikian, karena kita tidak dapat melihat luka yang diakibatkan oleh dosa pada jiwa kita, kita seringkali tidak cukup menyesali dosa-dosa kita itu; kita lupa untuk berdoa serta lupa melakukan silih. 

Karenanya jiwa kita harus dibersihkan, baik dalam masa kita hidup di dunia melalui berbagai pencobaan, atau kelak – sesudah kita meninggal – di Api Penyucian. 

Tuhan, melalui gereja-Nya menyediakan bagi kita suatu “bonus” bagi doa dan silih yang kita lakukan, yaitu indulgensi (harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa).

Indulgensi tidak dapat digunakan untuk orang lain yang masih hidup, tetapi kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di sorga dengan menggunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.

Ada dua macam indulgensi

1. Indulgensi sebagian - dapat diperoleh beberapa kali dalam sehari - menghapuskan sebagian hukuman (sisa dosa sementara) yang timbul karena dosa-dosa kita. 

Diberikan kepada umat beriman yang

- Dalam melaksanakan kewajibannya dan dalam menanggung pencobaan-pencobaan hidupnya, mengangkat akal budi dengan penuh percaya dan rendah hati kepada Tuhan, dan menyerukan – bahkan jika hanya secara batin – seruan-seruan saleh (misalnya “Bunda Maria, doakanlah kami”, dsbnya).

- Dengan semangat iman dan belas kasihan memberikan dirinya/harta miliknya untuk melayani sesamanya yang membutuhkan.

- Dengan semangat silih secara sukarela menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mereka senangi.

- Menjadi saksi iman di lingkungan bukan Katolik, seperti berdoa di sebuah restaurant. 

2. Indulgensi seluruhnya – hanya dapat diperoleh satu kali dalam sehari - menghapuskan seluruh hukuman (siksa dosa sementara) yang timbul dari dosa-dosa kita. 

Jika seseorang menerima indulgensi seluruhnya dan tiba-tiba meninggal, maka orang itu tidak akan perlu pergi ke Api Penyucian! 

Karena rahmat yang terkandung dalam indulgensi adalah tak terbatas (tentu saja, karena berasal dari jasa-jasa Kristus). Tetapi penyesalan diri sendiri atas dosa-dosa adalah faktor yang menentukan dalam menerima rahmat itu – tidak lagi mempunyai kelekatan terhadap dosa/harus menyesali dosa-dosa secara sempurna dan tidak ingin melakukannya lagi. 

Tetapi, jika melakukan perbuatan/doa yang dapat mendatangkan indulgensi sepenuhnya, tetapi masih memiliki kelekatan terhadap dosa, maka hanya menerima indulgensi sebagian.

Diberikan kepada umat beriman yang:

- Melakukan perbuatan/mendaraskan doa yang dapat mendatangkan indulgensi.

- Mengakukan dosa-dosa kepada imam dengan penyesalan sempurna karena telah menghina Tuhan.

- Menerima Komuni Kudus.

- Berdoa bagi intensi Bapa Suci (doa-doa yang lazim ialah Bapa Kami, Salam Maria dan Sahadat Para Rasul).

Berbagai macam doa/perbuatan yang mendatangkan indulgensi:

- Membaca Kitab Suci – indulgensi sebagian; apabila lebih dari setengah jam - indulgensi seluruhnya. 

- Mengajar/belajar ajaran Gereja – indulgensi sebagian.

- Rosario – indulgensi seluruhnya apabila didaraskan di gereja/kelompok/dalam keluarga; di luar kondisi tersebut - indulgensi sebagian.

- Sembah sujud di hadapan Sakramen MahaKudus – indulgensi sebagian; jika sembah sujud lebih dari setengah jam - indulgensi seluruhnya.

- Meluangkan waktu sedikitnya tiga hari dalam suatu retret – indulgensi seluruhnya.

- Ambil bagian dalam Penghormatan Salib dalam Ibadah Jumat Agung dan mencium salib dengan khidmat – indulgensi seluruhnya.

- Pembaharuan Janji Baptis – indulgensi sebagian; jika Pembaharuan Janji Baptis dilakukan pada Malam Paskah/pada peringatan pembaptisan seseorang - indulgensi seluruhnya.

- Jalan Salib, Sahadat Nikea – indulgensi seluruhnya.

- Litani Hati Yesus yang Mahakudus, Litani Santa Perawan Maria atau Litani Orang Kudus – indulgensi sebagian.

- Ratu Sorga, Sahadat Para Rasul, Tanda Salib, doa untuk panggilan hidup religius dan imamat – indulgensi sebagian.

- Mengunjungi makam dan berdoa bagi mereka yang meninggal (diperuntukkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian) - indulgensi penuh dari tanggal 1 hingga 8 November; untuk hari-hari lainnya - indulgensi sebagian.

- Masih ada banyak macam dan ragam indulgensi lainnya.

Seorang biarawati dalam biara St. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya indulgensi dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. 

Ketika biarawati itu meninggal, St Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung menuju sorga tanpa melalui Api Penyucian! Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, 

St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju sorga. Yesus menjawab bahwa itu karena semua indulgensi yang dengan setia diperolehnya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya!

(Sumber: KPI TL No. 24/IV/2006; Indulgensi, Vacare Deo edisi Oktober/Tahun V/2003).

Api Penyucian

Apakah Api Penyucian itu ada? Api penyucian (Purgatorium) itu tidak direka-reka oleh Paus Gregorius pada tahun 600; dokrin ini telah ada sejak jaman para rasul.

Bukti adanya api penyucian dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, antara lain: Trifani mengajak Tekla ke rumah bersamanya dan mereka pun tidur. Dan lihatlah, anak perempuan Trifani, yang telah meninggal dunia, menampakkan diri kepada ibunya dan berkata, “Ibu, biarlah wanita muda Tekla ini engkau ambil sebagai putrimu untuk menggantikan aku; mintalah padanya untuk berdoa bagiku, agar aku dapat dipindahkan ke kebahagiaan kekal (Kisah Paulus dan Tekla, 8:5-6: 160 A.D.); dalam Prasasti Abercius (190 A.D.); kemartiran Perpetua dan Felisitas 2:3-4; 202 A.D.); Tertulianus dalam Mahkota 3:3; 211 A.D.) dll. 

Dokrin gereja Katolik mengenapi Api Penyucian dapat ditemukan dalam Konsili Firence dan Trente, dipertegas lagi dalam Konsili Lyons II, dan terakhir ditetapkan secara final dalam Konsili Vatikan II, 2 Mak 12:38-45, Mat 12:32, 1 Pet 3:19 , Credo (...ke tempat penantian ...), KGK 1030 (siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah dipastikan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalani satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk dalam kegembiraan sorga).

Tujuan api penyucian adalah untuk memurnikan kita dari segala noda dosa, silih atas segala hutang dosa sepanjang hidup kita, serta melepaskan kita dari segala keterikatan duniawi agar kita dapat sepenuhnya mengasihi Tuhan dan sesama. 

Setelah noda dosa sepenuhnya dibersihkan, maka jiwa akan segera masuk dalam kemuliaan dan persekutuan penuh dengan Tuhan di sorga. 

Jiwa-jiwa menderita memiliki kerinduan yang kuat untuk berada di sorga, tetapi mereka tak layak. Walaupun jiwa-jiwa di sana sangat kesakitan secara rohani, namun terdapat sukacita besar, sebab dijamin keselamatannya.

Berdoa bagi mereka yang telah meninggal sangat bermanfaat dan penting. Sayang sekali kebiasaan ini hampir terabaikan. 

Kita telah lupa Gereja Katolik terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan

1. Gereja Pejuang – kita di dunia, yang setiap hari berjuang demi keselamatan kita.

2. Gereja Menderita/Gereja dalam Penantian – jiwa-jiwa di api penyucian.

3. Gereja Jaya/Gereja Mulia – para malaikat dan para kudus di surga.

Ketiga gereja tersebut membentuk Tubuh Mistik Kristus dan saling bekerja sama dalam mempertahankan pondasi gereja. Jika kita, Gereja Pejuang, lalai berdoa bagi jiwa-jiwa para saudara kita di api penyucian (Gereja Menderita), berarti kita ikut melemahkan pondasi gereja.

Sebagai warga Gereja Pejuang, sungguh sangat penting bagi kita untuk membangkitkan kembali praktek saleh “Devosi bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian”, karena jiwa-jiwa menderita tidak lagi dapat berdoa bagi diri mereka sendiri – mereka bergantung pada kita. 

Ketika pada akhirnya jiwa-jiwa di api penyucian telah terbebas dari penderitaan dan menikmati sukacita sorgawi, mereka tidak melupakan/tidak henti-hentinya berdoa bagi kita yang telah mendoakan. Dengan doa-doanya, melindungi kita dari mara-bahaya/kalau kelak tiba masa tinggal kita di Api Penyucian dapat diperingan (dipercepat) atau bahkan dapat memperoleh pengampunan seutuhnya.

Orang yang menyelamatkan satu jiwatelah menyelamatkan jiwanya sendiri serta membersihkan banyak dosa (St. Yakobus).

Ada berbagai cara kita dapat menolong jiwa-jiwa di api penyucian:

Misa Kudus – merupakan sarana yang mujarab dan paling tepat. Sebab dalam Misa Kudus kita merayakan kembali kenangan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus demi penebusan dosa segenap umat manusia, baik yang masih hidup, yang telah meninggal dunia maupun yang masih tinggal di api penyucian. 

Rosario Arwah – doa Rosario bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian.

- Rosario Koronka – Devosi Kerahiman Ilahi – wahyu pribadi Yesus kepada St Faustina Kowalska “Hari ini bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang berada dalam kurungan api penyucian, dan benamkanlah mereka ke dalam samudera kerahiman-Ku. Biarlah aliran-aliran Darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa itu sangat Kukasihi. Mereka sedang menebus keadilan-Ku. Engkau mampu memberi kelegaan kepada mereka. Ambillah dari perbendaharaan Gereja segala indulgensi dan persembahkanlah itu bagi mereka. Oh, seandainya engkau mengetahui sengsara mereka, tentu tanpa henti-hentinya, demi mereka itu, akan mempersembahkan amal rohani serta membayar lunas hutang-hutang mereka terhadap keadilan-Ku.”

- Ibadat/Renungan Sengsara Yesus – Jalan Salib.

- Indulgensi bagi jiwa-jiwa di purgatorium – sesuai ketentuan Gereja.

- Sebagian kecil doa-doa singkat bagi pembebasan jiwa-jiwa:

* “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, hantarlah jiwa-jiwa ke sorga, terlebih mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.” – doa ini diajarkan Bunda Maria kepada Lucia, Yasinta dan Fransesko di Fatima pada tanggal 13 Juli 1917.

* “Bapa yang kekal, aku persembahkan kepada-Mu, Darah Kristus yang tak ternilai harganya, bersama dengan semua misa yang di adakan di seluruh dunia hari ini, untuk jiwa-jiwa dalam Api Penyucian.” – Tuhan memperlihatkan kepada St Gertrude Agung sekelompok jiwa-jiwa yang meninggalkan Api Penyucian dan naik ke sorga sebagai hasil dari doa yang sering diucapkan sebagai kebiasaannya sehari-hari.

* “Yesus, Maria, aku mengasihiMu, selamatkan jiwa-jiwa.”; gabungkanlah dalam tindakan kasih tak kunjung henti. Dengan doa ini engkau mempersembahkan segalanya bagi-Ku – kata-kata ini diajarkan Yesus kepada Sr M. Consolata.

Suatu tindakan amal kasih yang dilakukan dengan cinta kasih murni dapat menutup dosa dan mengurangi masa tinggal di api penyucian secara menakjubkan!

Bunda Maria sering mengunjungi api penyucian - memegang peranan penting dalam pembebasan jiwa-jiwa dari api penyucian, sebab dia mendapatkan rahmat dan kuasa dari Tuhan untuk membebaskan jiwa-jiwa yang ada di sana.

Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku meringankan penderitaan anak-anakku (ungkapan Bunda Maria kepada Beato Alain de la Roche).

Selama berabad-abad, Kristus telah menganugerahkan kepada banyak orang kudus dan pribadi-pribadi kudus yang dipilih-Nya, karunia karisma yang memungkinkan seseorang mendapat kunjungan dari jiwa-jiwa di Api Penyucian (St Gertrude Agung, St Katarina dari Genovena, Maryam dari Yesus, St Margareta Maria dari Paray-Ie-Monial, St Yohanes Maria Vianney, St Faustina Kowaska, St Yohanes Bosco, Maria Simma dan banyak lagi yang lainnya). 

Kristus menganugerahkan karunia ini guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa menderita. Pribadi-pribadi terpilih ini memperoleh kunjungan-kunjungan dari jiwa-jiwa di api penyucian, yang menyampaikan informasi kepada mereka tentang api penyucian, yang hingga kini masih tetap misteri bagi kita.

Karisma ini merupakan sesuatu kodrati di luar kendali pribadi yang bersangkutan – ia tidak dapat memanggil jiwa-jiwa atas kehendaknya sendiri. 

Jadi harap tidak menyamakan karisma ini dengan praktek okultisme memanggil arwah-arwah yang sudah meninggal.

(Sumber: Warta KPI TL No. 24/IV/2006; Segala Sesuatu Tentang Api Penyucian, Seminar Jiwa-jiwa di Api Penyucian oleh Rm Yosef Tarong, Pr dan berbagai sumber).

Makna Kematian Bagi Hidup

Dalam kehidupan ini banyak misteri, tetapi dari sekian banyak yang cukup menarik untuk kita renungkan adalah misteri kelahiran dan kematian.

Tidak seorang pun yang bisa bercerita tentang pengalaman pribadinya waktu ia dilahirkan berdasarkan ingatan pribadinya. Inilah keagungan dan keadilan Tuhan.

Karena pengalaman ini dapat menyebabkan orang trauma – kalau ingat bagaimana perjuangan ibunya yang berani mempertaruhkan nyawanya waktu melahirkannya, bagaimana para perawat membantu kelahirannya, dsb. – mungkin ia akan stres dalam perjalanan hidupnya setiap kali mengingat semua itu. 

Dalam dunia sekuler seperti sekarang ini, hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang akan mengelak berbicara soal kematian – didominasi oleh rasa takut terhadap realitas itu. Sikap menolak ini bukanlah sesuatu yang baru sama sekali. Sebab para murid Yesus pun berbuat yang sama. “Kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” (Mat 16:22).

Sebaliknya dalam dunia religius, pembicaraan soal kematian sungguh bukan hal tabu, mengapa? Karena justru melalui peristiwa kematian, semua pembicaraan eskatologis menjadi mungkin dan mendapat tempat, pembicaraan tentang hidup sesudah hidup ini memperoleh jembatannya (lih. Peta Iman).

Pintu satu-satunya untuk sampai kepada kehidupan sejati, yakni kematian - sungguh-sungguh sesuatu yang riel dan tak terhindarkan. 

Oleh karena itu, perlulah dikembangsuburkan dua hal berikut:

- Mau akrab dengan kematian – kehidupan ini rapuh, maka perlu dirawat dengan doa. Dengannya kita boleh berharap, bahwa begitu saat kematian tiba; kita ada dalam keadaan siap sebagaimana didoakan pada bagian doa “Salam Maria - ... sekarang dan pada waktu kami mati. Amin”.

- Jujur dengan kematian – semata-mata karena hidup/mati kita adalah milik Allah dan hanya lewat kematian sajalah orang sampai kepada kebahagiaan abadi (Doa Siap Menghadapi Kematian – PS 148).

Makna kematian bagi hidup (Martin Heidegger):

- Suatu kemungkinan yang unik – suatu peristiwa yang tidak bisa terulangi/tidak ada bandingnya/tidak bisa tergantikan.

- Suatu peristiwa individual – tidak bisa dialami secara bersama. Misalnya: dalam kecelakaan pesawat, setiap orang tetap mengalami mautnya secara pribadi pula.

- Suatu kemungkinan permanen yang tak bisa dilewatkan – suatu fase hidup yang harus dialami oleh setiap orang.

- Suatu peristiwa yang pasti dan akan terjadi - memunculkan kesadaran bahwa hidup kita setiap saat selalu terancam maut. Dengan ini, kita dituntut untuk selalu waspada dalam hidup.

- Sesuatu hal yang pasti tetapi sekaligus tidak pasti menyangkut saatnya

(Sumber: Warta KPI TL No. 24/IV/2006; Makna Kematian Bagi Hidup, Suara No. 12/Th II Okt-Nov 2005).

06.44 -

Manusia Terdiri Dari Tubuh, Jiwa dan Roh

Berdasarkan 1 Tes 5:23, Gereja mengajarkan bahwa manusia terdiri dari:


1.Tubuhtempat di mana adanya kesadaran material/kebendaan yang ada di dunia (bisa pegang pinsil, buku dll.). Kalau tubuh itu mati, roh akan meninggalkan tubuh – tidak bisa berhubungan dengan dunia material.



Tubuh - bagian fisik/material dari seorang manusia – dimensi dari manusia yang kelihatan, seperti badan, kepala, tangan, kaki, rambut, kepala, mata, hidung, telinga, mulut, pipi, leher, jari-jari dll.; organ-organ tubuh manusia yang tak kelihatan, seperti lambung, usus, jantung, ginjal dll.

2. Jiwatempat kesadaran diri kita [budi (pikiran manusia)  dan hati manusia (batin seperti perasaan, kebebasan, kehendak manusia)].

Tuhan menciptakan manusia tidak seperti robot, tetapi jiwa memiliki keinginan, perasaan dan kehendak.

3. Rohsebelum manusia jatuh ke dalam dosa, yang dominan itu adalah rohnya; roh mempengaruhi jiwa, dan jiwa berbicara pada tubuh.

Roh – pribadi manusia yang sesungguhnya – tempat pertemuan manusia dengan Allahmenyangkut dimensi iman dan kepercayaan dari seorang manusia.

Roh manusia tidak dapat memerintah tubuh, roh menginformasikan apa yang dikehendaki oleh jiwa, menyimpulkan atas kehendak roh itu dan memerintahkan pada tubuh melakukan seperti yang roh kehendaki. Roh hanya tahu yang baik-baik saja dari Allah.

Iblis mengerti tidak mungkin berhubungan langsung dengan roh manusia, sebab sumber hidup manusia ada pada rohnya; kalau mau sentuh tubuh kita nggak ada gunanya, sebab tubuh bagaikan pikiran bergerak kemanapun jiwa perintahkan (mata telinga – jendela jiwa).

Langkah pertama ular itu menjebak perempuan itu dengan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud membuat jiwanya bergejolak. Rohnya hanya mengerti bahwa buah itu tidak boleh di makan karena Tuhan melarangnya. Jiwa yang mandiri mulai berpikir kencang-kencang mengambil inisiatif melebihi wewenangnya - tanpa dia sadari matilah rohaninya (rohnya terputus dengan Roh Allah).

Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh (lahir baru = ketika jiwa kita terbuka terhadap manifestasi Roh Kudus - menerima Yesus sebagai Tuhan dalam batin secara pribadi bukan di dalam pikiran), ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:5).

Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya – tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga – Gal 5:24, 19-21).

Ketika lahir baru pertumbuhan jiwa dan roh tidak sama.

Ketika roh kita masih mati, maka yang mendominasi adalah jiwa (pikiran/perasaan/kehendak), lama-kelamaan roh itu menempel dengan keinginan jiwa. Itulah sebabnya manusia jatuh kedalam dosa pelanggaran (jiwa bukan budaknya roh) - jika jiwanya diberi makan terus menerus dengan hawa nafsu/keinginan-keinginan (jiwanya mendominasi rohnya).

Pada saat lahir baru, roh menguasai/mendominasi dalam jiwa kita, maka jiwa itu menahannya - karena ada otoritas yang diambil/ada peperangan/konflik. Maka jiwa mulai bergolak karena kebiasaan lama.

Sebenarnya Tuhan mendisain roh yang memiliki keinginan kuat, karena roh itu bergantung dari suplai dari Allah. Misalnya bunga dipotong dari tanamannya, bunga itu mati karena tidak mendapat suplai dari akarnya. Kita dikatakan mati kalau tidak mendapat suplai dari Tuhan.

Untuk mampu berhubungan dengan Allah, kita harus berjuang mengalahkan jiwa agar roh kita akan semakin dewasa dalam pimpinan Roh Allah (hidup berjalan dalam roh); menjadikan fungsi jiwa sebagai perantara untuk menggerakan tubuh, diperlukan adanya kerelaan/tunduk seperti yang Yesus syaratkan: ‘sangkali diri’ (keinginan daging/jiwa untuk tunduk pada keinginan roh), baru mampu melakukan ‘pikul salib’ – untuk bisa menjadi pemenang sejati.

Roh kehidupan telah memerdekakan kita dalam Kristus dari hukum dosa dan maut. Hidup menurut daging (menurut kemauan/jiwa kita) tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi kita harus mewaspadai jika jiwa kita sudah tidak bisa dikendalikan (Rm 8:1-8).

Ketika orang yang sensitif dalam alam roh/mempunyai bakat alami ‘lahir baru’, bakat kesensitifannya menjadi tajam dengan Roh Tuhan, karena rohnya sudah terbiasa dengan dunia roh - dia bisa langsung mendapatkan penglihatan ilahi dan bisa bernubuat.

Tetapi ada bahayanya, kalau tidak cukup makan firman Tuhan (roh masih melekat dengan jiwanya) sehingga melihat ada setan dimana-mana/setan bisa main-main di hati/kepekaannya dapat untuk memanipulasi orang lain sehingga orang datang untuk mengaguminya.

Firman Allah hidup dan kuat lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; Ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12)

Banyak sekali orang Kristen yang kalah ketika Tuhan mendidiknya dalam perjuangan ini, lalu sakit hati dan kecewa pada diri sendiri (tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan).

Lalu Iblis menjebaknya dengan memakai pertanyaan yang dia berikan untuk memicu pikiran, sehingga kalau ada masalah selalu berkata: Apa salahku...; Mengapa seperti ini nasibku?; Aku manusia lemah; Aku bukan orang kudus, sedangkan kamu ...; Apakah bahasa roh mutlak? - mencari pembenaran dari luar.

Perjuangan kita harus berlanjut antara kemauan roh dan jiwa; sampai jiwa kita ditundukkan menjadi anak laki-laki dewasa - itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Ketika roh kita kuat maka kita akan menjadi kuat dan menerima begitu banyak hal yang Tuhan sudah sediakan buat setiap kita.

Kalau kita masih anak-anak kecil tidak akan menerima bagian dari anak-anak yang besar, misalnya tidak ada anak SD dibelikan mobil. Jadi kalau mau berkat yang berkelimpahan dari Tuhan, maka harus menjadi laki-laki dewasa agar hidup kita berkenan di hadapan Tuhan. Karena hanya roh manusialah yang bisa melayani kehendak Roh Allah.

Marilah kita belajar dari Yesus: sebagai manusia tidak pernah mau disembah (melarang orang memberitahukannya kepada siapapun - karena dia tidak mau promosi yang terlalu cepat/instant).

(Sumber: Warta No. 36/IV/2007; Renungan KPI TL Tgl 22 Februari 2007, Dra Yovita Baskoro, MM)