Selasa, 21 Juli 2015

21.51 -

"Kata"










Setiap kata yang keluar dari mulut kita

sama seperti kita sedang menabur benih.
Baik buruknya tuaian
tergantung benih yang kita tanam.

Perkataan positif 
akan membawa berkat bagi hidup kita,
tetapi perkataan negatif
akan mendatangkan jerat bagi langkah kita.

Kata-kata yang baik
bisa singkat dan mudah diucapkan
tetapi gemanya sungguh tiada batas.
(Mother Teresa)

Siapa memelihara mulut dan lidahnya
memelihara diri daripada kesukaran.
(Ams 21:23)

Karena menurut ucapanmu
engkau akan dibenarkan,
dan menurut ucapanmu pula
engkau akan dihukum.
(Mat 12:37)

Untuk menguasai lidahmu,
izinkan Kristus berkuasa di dalam hatimu.

Perkataan-perkataan yang Yesus katakan
adalah perkataan Roh dan hidup kekal.




Berhati-hatilah dalam banyak berbicara,
sebab banyak bicara mengenyahkan dari jiwa
pemikiran-pemikiran kudus
 dan persatuan dengan Allah.
(St. Dorotheus)




Lidah itu tidak bertulang
tapi 
sangat kuat untuk menghancurkan sebuah hati.

Siapa yang mau mencintai hidup
dan mau melihat hari-hari baik,
ia harus menjaga lidahnya
terhadap yang jahat
dan bibirnya 
terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
(1 Ptr 3:10)




Pada waktu yang tepat,
Roh Kudus akan memberi kita kata-kata
untuk diucapkan,
apabila itu memang diperlukan.


Mengapa kita harus membela diri 
ketika kita disalahpahami 
atau dihakimi dengan keliru?
Tinggalkanlah hal itu. 
Mari kita tidak mengucapkan apapun.
Merupakan hal yang manis 
untuk membiarkan orang lain menghakimi kita 
dengan cara yang mereka suka.
oh keheningan yang terberkati,
yang memberi begitu banyak kedamaian bagi jiwa!
(St Thersia Lisieux)






21.46 -

"kasih"




***









Kasih adalah ukuran dari iman.
(Paus Fransiskus)


Barangsiapa tidak mengasihi, 
ia tidak mengenal Allah.
sebab Allah adalah kasih.
(1 Yoh 4:8)


Agar dapat melihat wajah Allah 
dan dapat memberi kepada sesama
harus dipenuhi dengan cinta Allah
dan memiliki sebuah hati 
yang benar-benar suci, bersih dan bebas.
(Ibu Teresa)



Aku adalah kasih,
belajarlah kasih mengasihi dari-Ku,
mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, 
tetapi dengan perbuatan dan kebenararan.
(1 Yoh 4:8, 16; 1 Tes 4:9; 1 Yoh 3:18)

Kasih yang kita berikan
,mencerminkan kasih yang telah kita terima.

Seperti halnya sebuah musim yang selalu berganti
seperti itulah sebuah hati.

Ketika hati memiliki kasih
ia akan selalu berbuah tanpa mengenal musim.




Kasih Allah dalam hati kita
mendorong kita untuk memiliki hati yang peduli
kepada orang lain.


Tidak ada hal sia-sia 

jika dilakukan untuk Tuhan dan untuk sesama

bila kita lakukan dengan kasih.






Setetes kebencian di dalam hati
akan menghasilkan kesusahan
tetapi setetes kasih di dalam relung hati
selalu menghasilkan kebahagiaan sejati.



Kasih tidak dibentuk 
saat kita berada di tempat yang penuh perhatian
tetapi ketika kita tidak dipedulikan,
ketika adanya penolakan
dan ketika adanya kebencian

***




*


***


*


***


Damai dimulai dari sebuah senyuman.
(Mother Teresa)

Damai sejahtera 
diperoleh dengan jalan 
menyerahkan setiap kekuatiran hidup 
ke dalam tangan Allah.

Di mana ada kebenaran 
di situ akan tumbuh damai sejahtera,
dan akibat kebenaran 
ialah ketenangan dan ketentraman
 untuk selama-lamanya.
(Yes 32:17)

Damai sejahtera hasil kebenaran
dan kemuliaan hasil dari takwa.
(Bar 5:4)

Kedamaian  akan kita miliki
ketika kita tidak mengizinkan 
orang lain atau keadaan menguasai perasaan kita.

Damai sejahtera Allah, 
yang melampaui segala akal,
akan memelihara hati dan pikiranmu 
dalam Kristus Yesus.
(Flp 4:7)

***







Dua hal yang menegaskan dirimu.
kesabaranmu 
ketika engkau tak memiliki apapun,
dan 
prilakumu 
ketika engkasu memiliki segalanya.

*
Menunggu dengan sabar
merupakan cara terbaik 
untuk melakukan kehendak Allah.

***


*

*

Harta tak selalu berupa uang
waktumu juga hartamu
tenagamu juga hartamu
perkataanmu juga hartamu.

Semua kebaikan 
yang dapat engkau lakukan  itulah hartamu,
lakukanlah semuanya maka penuhlah harta sorgawimu.

*
Kebaikan dibalas kebaikan itu balas budi namanya.
kejahatan dibalas kejahatan itu balas dendam namanya.
kebaikan dibalas kejahatan itu kelicikan yang kejam.
Kejahatan dibalas kebaikan 
itulah tindakan yang Tuhan suka.

*
Janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan
sebab korban-korban yang demikianlah
yang berkenan kepada Allah.
(Ibr 13:16)

*

Jangan kita jemu-jemu berbuat baik
karena apabila sudah datang waktunya
kita akan menuai.
(Gal 6:9)

*
Kebaikan hati memunculkan sukacita 
dan menjadi pendorong orang lain 
untuk memuliakan Tuhan.

***


***







21.45 -

Rahmat



Anugerah adalah pemberian pihak atas, karena berkenan memberi sesuatu kepada pihak bawah, yakni suatu perbuatan yang dilakukan atas dorongan kemurahan hati pihak atas.

Anugerah digunakan dalam arti sama seperti kata Sansekerta lain, yaitu 'karunia', artinya belaskasih atau sayang kepada pihak bawahan.

Kedua kata ini dipakai untuk menyatakan pemberian Tuhan sehingga sama artinya seperti kata rahmat (Arab); lih pula entri Rahmat.

(Sumber: Ensiklopedi Gereja, A Heuken SJ)


Rahmat adalah bantuan yang Allah berikan kepada kita, supaya kita dapat menjawab panggilan kita menjadi anak angkat-Nya. Ia mengantar kita masuk ke dalam kehidupan Tritunggal yang paling dalam (KGK 2021).

Kita memperoleh pembenaran berkat rahmat Allah. 

Rahmat adalah kemurahan hati, pertolongan sukarela yang Allah berikan kepada kita, agar kita dapat menjawab panggilan-Nya.

Sebab panggilan kita ialah menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12-18), anak-anak angkat-Nya (Rm 8:14-17), mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:3-4), dan dalam kehidupan abadi (Yoh 17:3) (KGK 1996).

Rahmat adalah keikutsertaan pada kehidupan Allah, Ia mengantar kita masuk ke dalam kehidupan Tritunggal yang paling dalam: melalui Pembaptisan warga Kristen mengambil bagian dalam rahmat Kristus, yang adalah Kepala Tubuh-Nya.

Sebagai “anak angkat”, orang Kristen dapat menamakan Allah “Bapanya” hanya dalam persatuan dengan Putera yang tunggal. Ia menerima kehidupan Roh, yang mencurahkan kasih kepadanya dan yang membangun Gereja (KGK 1997).

Tidak mudah untuk mengerti kerjasama antara rahmat (grace) dengan kehendak bebas (free will) manusia.

Rahmat dikelompokkan menjadi dua hal (Fundamentals of Catholic Dogma, Ludwig Ott):

1. Rahmat pengudusan adalah rahmat yang menetap (habitual), yang membuat jiwa kita kudus dan berkenan kepada Allah.

Rahmat ini membersihkan dan memurnikan jiwa kita yang sebelumnya ternoda dan kotor oleh dosa, sehingga pada akhirnya jiwa manusia menjadi indah kembali dan berkenan kepada Allah.

Rahmat pengudusan yang telah hilang karena dosa asal didapatkan kembali oleh manusia ketika manusia dibaptis.

2. Rahmat yang membantu (actual grace) adalah bantuan dari Tuhan yang menerangi akal budi (disebut iluminations of the will) dan menggerakkan keinginan kita (disebut inspiratons of the will) untuk menolak kejahatan dan melakukan kebaikan. 

Sebagai contoh, rahmat yang membantu sebenarnya dapat mendorong seseorang menolak untuk mencuri, menolak untuk melakukan kecurangan.

Rahmat adi kodrati yang diberikan Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya (created grace):

1. Rahmat pengudusan (sanctifying grace).

2. Tiga kebajikan ilahi (three theological virtues – iman, harapan dan kasih – 1 Kor 13:13).).

3. Karunia Roh Kudus (gifts of the Holy Spirit).

4. Kebajikan moral yang adi kodrati (the supernatural moral virtues).

Created grace, yang mengalir dari misteri Paskah Kristus, diberikan melalui sakramen-sakramen, terutama adalah Sakramen Baptis. Sakramen-sakramen yang lain semakin memperkuat rahmat untuk lebih berdayaguna.

Bagaimana dengan orang-orang di dalam Perjanjian Lama maupun di luar bangsa Israel menerima rahmat-rahmat ini?

Secara prinsip, Tuhan dapat bekerja dengan cara-Nya yang luar biasa.

Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5).

Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Mrk 16:16).

Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi.

Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. 

Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya (KGK 1257).

Jadi, sebelum Sakramen Baptis diinstitusikan oleh Kristus dan mengantisipasi misteri Paskah Kristus, maka Tuhan dapat memberikan justifikasi kepada bangsa Yahudi dengan tanda sunat – yang mengungkapkan iman – dan juga harus dibarengi dengan pertobatan yang sejati dan kasih yang bersifat adi kodrati.

Bangsa-bangsa lain juga bisa mendapatkan justifikasi dengan pertobatan yang sejati, kasih dan ungkapan iman – keinginan untuk bersama dengan Tuhan.

(Sumber: Definisi rahmat, rahmat pengudusan dan rahmat yang membantu, katolisitas.org).

Minggu, 12 Juli 2015

"Kesaksian"


Penderitaan
adalah salah satu alat yang kerap Tuhan pakai
untuk membuat kita kembali kepada-Nya.

Masalah akan memberikan kamu inspirasi
untuk bertindak agar lebih baik.

Masalah adalah ujian pendewasaan.
Tidak ada alasan menyalahkan orang lain.
Benahi diri sendiri 
dan jadilah pribadi yang dewasa.


Tuhan selalu punya alasan
ketika Dia mengijinkan 
sesuatu yang tidak kamu harapkan
namun terjadi dalam hidupmu.

Skenario Tuhan tidak pernah salah
karena Dia adalah sutradara kehidupan
yang paling sempurna.



***

Lakukanlah yang terbaik
yang menjadi bagianmu dalam hidupmu

dan biarkan Tuhan melakukan yang terbaik 
yang menjadi bagian-Nya dalam hidupmu.

*









***
Supaya  berita keselamatan dapat menunjukkan kepada manusia 
kekuatan kebenaran dan kekuatan sinarnya,
ia harus disahkan oleh kesaksian hidup orang Kristen.




18.43 -

"Bunda Maria"







***
Kita telah menutup Taman Firdaus;
engkau, ya Maria,
telah membuka jalan masuk ke dalam pohon kehidupan lagi.
Engkau adalah jembatan kehidupan, tangga ke Sorga.
(St. Yohanes Damaskus)


Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke ... 
seorang perawan; namanya Maria ...
(Luk 1:26-38)


Ketika Elisabet mendengar salam Maria,

melonjaklah anak yang di dalam rahimnya
dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
lalu berseru dengan suara nyaring:
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan
dan diberkatilah buah rahimmu ..."
(Luk 1:39-45)


Yesua
 hidup dalam asuhan orang tuanya.
(Luk 2:51)


Semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras
yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah api
seperti nyala api yang bertebaran 
dan hinggap pada mereka masing-masing.
maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus ...
(Kis 2:1-4)


Maria Sponsa Spriritus Sancti
(Maria Mempelai Roh Kudus)
Gereja Katolik Roh Kudus - Puri Mas Surabaya




Dan demikianlah kita dapat berharap bahwa mereka yang merenungkan teladan mulia yang diberikan Bunda Maria kepada kita, dapat menjadi semakin yakin akan nilai kehidupan manusia yang dicurahkan untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa dan untuk membawa kebaikan kepada sesama ... di dalam cara yang agung ini, semua orang dapat dengan jelas melihat kepada tujuan akhir yang demikian luhur, yang ditentukan bagi tubuh dan jiwa kita. 



Akhirnya, adalah harapan kami bahwa kepercayaan akan pengangkatan tubuh Maria ke Sorga akan membuat kepercayaan kita akan kebangkitan tubuh kita sendiri menjadi lebih kuat dan menjadikannya menjadi lebih berdaya guna (Munificentissimus Deus, 42)