Tampilkan postingan dengan label SP Matius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Matius. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2019

19.07 -

Mat 2:13-15, 19-23

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 29 Desember 2019: Pesta Keluarga Kudus - Tahun A/II (Putih)
Bacaan: Sir 3:2-6, 12-14; Mzm 128:1-2, 3, 4-5; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15, 19-23


Setelah orang-orang majus itu berangkat, (1A) nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." 

(3A) Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. (2A) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." 

Setelah Herodes mati, (1B) nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati."

(3B) Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. (4A) Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. (4B) Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.

Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. (2B) Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. 


Renungan


1. Santo Yusuf, pelindung keluarga

(1AB) Mengapa malaikat itu menampakkan diri kepada Yusuf bukan kepada Maria? Karena Yusuf adalah kepala keluarga, bukan sekadar boneka, meskipun Yesus bukan anak kandungnya. Tanggung jawab atas kesejahteraan keluarga diberikan langsung kepada Yusuf.

(2AB) Bagian dari rencana Allah yang sudah diucapkan oleh para nabi (Kel 4:22; Mat 21:11). (3AB) Yusuf taat pada rencana Allah. (4AB) Yusuf adalah seorang yang proaktif, mempunyai kepekaan dan taat dalam melakukan rencana Allah. Dia adalah seorang yang sangat bertanggung jawab menjaga keselamatan keluarganya.

Panggilan Gereja untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus adalah pengingat akan tatanan yang telah diciptakan Allah untuk keluarga. Peran ayah sangat penting! (Ef 5:23).

Masa depan Gereja dan masyarakat dimulai dalam keluarga yang sehat. Marilah kita meneladan Santo Yusuf, pelindung keluarga.



Kamis, 26 Desember 2019

21.26 -

Mat 21:23-27

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 16 Desember 2019: Hari Biasa Adven III - Tahun A/II (Ungu)
Bacaan: Bil 24:2-7, 15-17a; Mzm 25:4bc-5ab, 6-7bc, 8-9; Mat 21:23-27


Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: (*) "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" 

Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi."

Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."


Renungan


1. Kuasa ilahi

Imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi, ternyata tetap penasaran dengan Yesus. Mereka tidak mengerti mengapa anak muda seperti Yesus mampu mengajar dengan cara yang berwibawa dan mampu membuat orang terpesona? Mengapa Yesus mampu menyembuhkan orang hanya dengan bersabda, dan bukan dengan menggunakan ramuan obat seperti para tabib?

Keheranan mereka seakan tidak berakhir. Karena itu mereka terdorong untuk datang bertanya langsung kepada Yesus (*). Bagi Yesus itu pertanyaan retoris, pertanyaan basa-basi saja, karena jawabannya mereka sudah tahu. Menjawab pertanyaan itu buang-buang waktu saja.

Kuasa ajaran Yesus adalah kuasa ilahi. Melalui baptisan suci, setiap murid-Nya mendapat kuasa untuk mengajar dengan baik dan mempesona. Hal ini hanya mungkin, kalau kita tetap berakar dalam iman dan selalu mendekatkan diri kepada Yesus, sambil merenungkan firman-Nya.

Kita mungkin tidak bisa mengajar setara dengan Yesus, atau membuat mujizat seperti Yesus. Tetapi bila kita mempunyai iman sebiji sesawi, maka yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam setiap pengajaran atau kesaksian hidup kita. Marilah kita berjuang untuk menambahkan iman, agar kuasa Yesus tercurah pada kita.


Kamis, 03 Oktober 2019

16.03 -

Mat 14:13-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya



Penanggalan liturgi

Senin, 5 Agustus 2019: Hari Biasa XVIII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Bil 11:4b-15; Mzm 81:12-13, 14-15, 16-17; Mat 14:13-21


Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. (1) Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."

Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, (2) Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. 


Renungan


1. Bersyukur

Orang yang tidak mampu bersyukur adalah orang yang paling malang dan menderita dalam hidupnya. Karena mereka tidak pernah merasa puas dan cukup dengan apa yang telah dimilikinya, mereka selalu merasa kekurangan serta merasa selalu diperlakukan tidak adil dalam hidupnya.

Orang-orang yang demikian, akan terus merasa kelelahan dalam hidup ini karena mereka senantiasa mengejar hal-hal yang sebenarnya menghancurkan hidup mereka.

(1) Sikap murid-murid-Nya 》 pesimistis. (2)Yesus 》tergerak oleh belas kasihan-Nya sehingga mengadakan mujizat. Sebelum menggandakan roti dan ikan, Yesus mengucap syukur dan memohon berkat sehingga mendatangkan kelimpahan yang tak terduga. 

Ketika kita bersyukur, Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan hidup kita bahkan berkelimpahan.



15.05 -

Mat 16:24-28

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 9 Agustus 2019: Hari Biasa XVIII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Ul 4:32-40; Mzm 77:12-13, 14-15, 16, 21; Mat 16:24-28


Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia (1) harus menyangkal dirinya, (2) memikul salibnya dan (3) mengikut Aku.

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."
 

Renungan


1. Komitmen murid Kristus

Pada saat kita berkomitmen untuk menjadi murid Yesus kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh 2:6), belajar untuk berpikir, berperasaan, dan berkehendak seperti Tuhan Yesus (Flp 2:5). 

(1) Menyangkal diri berarti menyangkal keinginan daging kita: ego, ambisi, pikiran, perasaan dan kehendak diri sendiri, lalu bertekad melakukan apa yang Tuhan Yesus kehendaki. 

(2) Memikul salib berarti mau menderita bagi Kristus (Flp 1:29), berupa perlakuan tidak adil, dibenci, dikucilkan, diintimidasi oleh orang lain karena status kita sebagai pengikut Kristus. 

(3) Mengikut Yesus artinya taat melakukan firman Tuhan (Yoh 8:31). Saat kita taat melakukan firman-Nya kita sedang melangkah menuju standar seperti Yesus. 


Rabu, 02 Oktober 2019

14.29 -

Mat 19:3-12

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya
 

Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 16 Agustus 2019: Hari Biasa XIX - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Yos 24:1-13; Mzm 136:1-3, 16-18, 21-22, 24; Mat 19:3-12


Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu (*) laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."


Renungan


1. Suami-istri saling menguduskan

(*) Perkawinan merupakan sebuah persekutuan manusiawi yang diberkati dalam keluhuran ilahi. Setiap pasangan dipanggil untuk menjadi sakramen keselamatan bagi pasangannya. Suami dipanggil untuk menguduskan istri, demikian juga istri dipanggil untuk menguduskan suami. Suami istri dipanggil untuk menguduskan keluarga yang di dalamnya anak-anak hadir bagi mereka.

Hidup dalam pekawinan tidak menjanjikan kebahagiaan yang tanpa masalah. Jika pasangan mau saling mendengarkan dan memperbaiki diri maka mereka sanggup menghadapi persoalan yang berat dalam keluarga karena Tuhan menjanjikan penyertaan untuk selamanya.

Semoga setiap pasangan senantiasa semakin mendewasakan setiap pasangannya dan mempunyai pengharapan dalam nama-Nya.


00.58 -

Mat 23:13-22

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 26 Agustus 2019: Hari Biasa XXI - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 1 Tes 1:2b-5, 8b-10; Mzm 149:1-2, 3-4, 5-6a, 9b; Mat 23:13-22


(1) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu (2) menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

[Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu (3A) menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk (3B) mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi (3C) bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.


Renungan


1. Kecaman Yesus

(1, 2) Dalam setiap kalimat kecaman itu, selalu ada alasan mengapa kata itu dinyatakan oleh Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. 

Yesus sebenarnya sedang memerangi sikap dan tindakan mereka sebagai orang beriman, yang bukan menjadi pembuka pintu keselamatan bagi orang lain, melainkan menjadi batu sandungan. Tindakan imoral mereka yang turut menyesatkan,
merintangi keselamatan orang lain (3ABC).

Jadi, Yesus sangat mengecam orang beriman yang memiliki tampilan luar menawan namun menyembunyikan berbagai maksud jahat dan kejam terhadap sesamanya, bukannya menyelamatkan sesama tetapi menyesatkannya. 


00.36 -

Mat 23:27-32

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 28 Agustus 2019: PW St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: 1 Tes 2:9-13; Mzm 139:7-8, 9-10, 11-12ab; Mat 23:27-32; RUybs.


Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab (*) kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!


Renungan


1. Pentingnya mengenal diri sendiri

(*) Yesus berani mengungkapkan realita kehidupan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang melaburi kehidupan mereka dengan kebaikan, ketulusan, kesetiaan dan kasih namun sesungguhnya itu hanyalah sebuah sandiwara.

Hendaknya kita bertobat dan memperbaiki diri sehingga kita mengenal diri kita secara baik, kita bersikap jujur pada diri sendiri dan menampilkan kehidupan apa adanya.

Jadi, janganlah menyembunyikan kejahatan kita dibalik kemunafikan-kemunafikan yang kita ciptakan. Ingatlah! Hukuman telah tersedia bagi orang-orang jahat yang berlagak baik dan suci.


Selasa, 01 Oktober 2019

05.33 -

Mat 18:1-5

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21) 


Penanggalan liturgi

Selasa, 1 Oktober 2019: Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan, Pujangga Gereja dan Pelindung Misi - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Ayb 42:1-3, 5-6, 12-17; Mzm 119:66, 71, 75, 91, 125, 130; Luk 10:17-24 atau Yes 66:10-14c atau 1 Kor 12:31 - 13-13; Mat 18:1-5


Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya (*) jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."


Renungan


1. Belajar seperti anak kecil

(*) Jawaban Yesus ini benar-benar mengejutkan mereka! Mengapa Dia memberikan contoh anak kecil, bukan yang lain? Karena ada sifat-sifat anak kecil yang bisa kita teladani.

(1) Ia percaya penuh kepada bapanya, tidak pernah kuatir dan takut terhadap apa pun. Karena ia tahu bahwa bapanya pasti akan menyediakan segala sesuatu yang ia butuhkan. 

(2) Ia mudah diajar (taat).

Milikilah iman seperti anak kecil dan jangan menolak didikan Tuhan. Jadi, serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Ptr 5:7).

Berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa (Ayb 5:17).


Minggu, 07 Juli 2019

00.51 -

Mat 28:16-20

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 27 Mei 2018: Hari Raya Tritunggal Mahakudus - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Ul 4:32-34, 39-40; Mzm 33:4-5, 6, 9, 18-19, 20, 22; Rm 8:14-17; Mat 28:16-20


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan (1) baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, (2) Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Renungan


1. Persekutuan kasih Allah

Hari ini, bersama seluruh Gereja kita merayakan dengan sangat agung dan meriah hari raya Tritunggal Mahakudus. Kita memuji dan menyembah dengan hormat kesatuan kasih Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi Ilahi ini diikat oleh cinta kasih yang mendalam.

Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putra adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna dan tak terbatas. Kasih inilah yang membuahkan Roh Kudus. Allah Bapa mengasihi Putra-Nya dan Yesus sebagai Putra Allah telah menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib.

Roh Kudus adalah buah dari pertukaran dan kasih Allah Putra yang mengorbankan diri. Oleh karena itu, dalam Syahadat Panjang dituliskan, "Aku percaya akan Roh Kudus. Ia Tuhan yang menghidupkan. Ia berasal dari Bapa dan Putra."

Singkatnya, Allah Tritunggal ini pada hakikatnya adalah Kasih Yang Agung. Di hadapan-Nya, kita hanya bisa menunjukkan sikap hormat dan penyembahan, sebab akal budi kita tidak mampu untuk menyelaminya.

(1) Melalui Sakramen Baptis, kita dipersatukan dalam Gereja kudus. Hal ini berarti kita masuk dalam persekutuan cinta kasih Allah Tritunggal Mahakudus, sebab Ia adalah kasih yang menyatukan seluruh ciptaan kepada-Nya.

Yesus ingin supaya semua orang yang dibaptis itu disatukan dalam Gereja-Nya dan mengambil bagian dalam kesatuan cinta kasih-Nya yang agung. Dan Ia mengutus Roh Kudus, Roh-Nya sendiri untuk menyertai para murid-Nya sampai kepada akhir zaman (2).

Hanya orang yang mau membuka diri pada cinta kasih-Nya yang akan mampu merasakan kehadiran Allah Tritunggal dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Hal inilah yang mempengaruhi tingkah lakunya menjadi serupa dengan-Nya.

Misteri kesatuan Allah Tritunggal ini menyadarkan kita bahwa kita senantiasa dipanggil oleh Allah untuk hidup di hadirat-Nya dan menikmati cinta kasih-Nya yang berlimpah. Kesulitan kita adalah seringkali kita terlalu sibuk dengan banyak pekerjaan, sehingga kurang mampu merasakan kehadiran-Nya.