Tampilkan postingan dengan label SP Kejadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Kejadian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2019

07.18 -

Kej 41:55-57; 42:5-7a, 17-24a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 10 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 41:55-57; 42:5-7a, 17-24a; Mzm 33:2-3, 10-11, 28-19; Mat 10:1-7


Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu."

Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir.
Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.

Jadi (1) di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. 

Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: "Dari mana kamu?" Jawab mereka: "Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan." 

Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. 
Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: "Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi (2) pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu.

Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati." Demikianlah diperbuat mereka. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." 

Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita." 

Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka.


Renungan


1. Pentingnya sikap mengampuni dan berbelas kasih

Atas dasar iri hati kepada Yusuf, saudara-saudaranya mau membunuh ... kemudian Yusuf dijual kepada orang Ismael. Lalu dibawa ke Mesir (Kej 37:11, 20, 26-28).

Sungguh luar biasa sikap Yusuf, dia bisa melihat rencana Tuhan yang indah dalam hidupnya (Kej 45:4-8 》Kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, JANGANLAH BERSUSAH HATI DAN JANGANLAH MENYESALI DIRI, karena KAMU MENJUAL AKU KE SINI, sebab UNTUK MEMELIHARA KEHIDUPANLAH ALLAH MENYURUH AKU MENDAHULUI KAMU. ... Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir."

(1, 2) Sikap rela mengampuni dan berbelas kasih amat dibutuhkan dalam hidup bersama sebagai sarana untuk memutuskan mata rantai dendam dan amarah. Tanpa sikap ini, hidup kita akan terasa berat. 


06.53 -

Kej 49:29-32; 50:15-26a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)
 

Penanggalan liturgi

Sabtu, 13 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau
Bacaan: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mzm 105:1-2, 3-4, 6-7; Mat 10:24-33


(1A) Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."

(1B) Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." 

Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu."

Tetapi (2) Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." 

Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. Adapun Yusuf, ia tetap tinggal di Mesir beserta kaum keluarganya; dan Yusuf hidup seratus sepuluh tahun. Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf.

Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." 

Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." 

Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.


Renungan


1. Mengampuni - bisa melakukan tindakan kasih

(1AB) Saudara-saudara Yusuf mengira bahwa Yusuf masih menyimpan dendam, padahal ia sudah mengampuninya (Kej 45:1-6). Karena mereka belum sepenuhnya bertobat, maka mereka MENGATUR SIASAT dengan mencatut nama Yakub, ayahnya. Perasaan TAKUT ini terjadi KARENA SUARA HATI DAN PIKIRAN mereka MENGHAKIMI segala sesuatu yang tersembunyi (Rm 2:15).

(2) Berkat bimbingan Roh Kudus maka Yusuf tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28).

Orang yang tidak bisa mengampuni orang lain sedang menghancurkan hidupnya sendiri. Akar pahit, kebencian, atau kemarahan merupakan beban yang tidak seharusnya kita pikul dalam hidup kita. Semakin lama kita hidup dengan perasaan-perasaan ini, akan semakin berat kehidupan yang kita lalui. Dari hati yang pahit selalu mengalir aliran-aliran yang pahit juga.

Hanya ada satu ciri orang yang sudah mengampuni, yaitu bisa melakukan tindakan kasih. Dengan adanya pengampunan di dalam hidup kita, maka kita akan dibebaskan dari rusaknya hubungan dengan Tuhan dan sesama (tidak ada roh dendam) sehingga kasih karunia Allah selalu mewarnai perjalanan hidup kita.


06.41 -

Kej 46:1-7, 28-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 12 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 46:1-7, 28-30; Mzm 37:3-4, 18-19, 27-28, 39-40; Mat 10:26-23


Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu (1A) dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya.

Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: "Yakub, Yakub!" Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, (1B) janganlah takut pergi ke Mesir, sebab (2A) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. (2B) Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah (2C) Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti."

Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan isteri mereka, dan mereka menaiki kereta yang dikirim Firaun untuk menjemputnya.

Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir, yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia. Anak-anak dan cucu-cucunya laki-laki dan perempuan, seluruh keturunannya dibawanyalah ke Mesir. 

Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen.

Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.

Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup."


Renungan


1. Bertanya kepada Tuhan sebelum melakukan sesuatu

(1AB) Perasaan takut adalah perasaan yang alami. Oleh karena itu Yakub terlebih dahulu bertanya kepada Tuhan, apakah memang kehendak Tuhan untuk pindah ke Mesir?

(2ABC) Tuhan kembali menegaskan janji-Nya kepada Yakub.

Seluruh janji-janji Tuhan sudah kita terima dalam Alkitab kita. Sudahkah kita bertanya kepada Tuhan sebelum kita melakukan sesuatu? Ataukah kita langsung maju tanpa bertanya dahulu kepada Tuhan dan mengandalkan pikiran kita sendiri?

Jika kita berjalan bersama Tuhan, meskipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, kita tidak takut bahaya karena Dia beserta kita.

Jumat, 04 Oktober 2019

14.45 -

Kej 28:10-22a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 8 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 28:10-22a; Mzm 91:1-2, 3-4, 14-15ab; Mat 9:18-26


Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. 

Maka (1) bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. 

(2) Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: "Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. 

Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. 

Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu." 

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya." 

Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga."

Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. 

Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. 


Renungan


1. Sapaan kasih Allah

(1, 2) Sapaan kasih Allah melalui mimpi, sehingga Yakub merasa diteguhkan, dikuatkan dan dihibur-Nya.

Sapaan kasih Allah menjadi nyata dalam kehidupan setiap hari melalui Gereja-Nya. Gereja hadir sebagai penyalur rahmat Allah dan sekaligus sebagai sarana dalam memberikan sapaan-sapaan kasih melalui kabar sukacita yang diwartakan. Gereja juga hadir sebagai Kristus yang hidup di tengah-tengah kehidupan kita umat manusia. 

Sapaan kasih Allah itu akan tetap hidup dan menjadi hiburan bagi kita dalam memberikan harapan baru bagi kehidupan kita. 

Jadi, sapaan kasih dari Allah hendaknya menjadi penyejuk dan penyemangat bagi kita dalam menjalani kehidupan, teristimewa dalam menghadapi segala persoalan yang terjadi dalam kehidupan kita.


Senin, 08 Juli 2019

06.00 -

Kej 32:22-32

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yal 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 9 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 32:22-32; Mzm 17:1, 2-3, 6-7, 8b, 15; Mat 9:32-38


Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 

Lalu (2A) tinggallah Yakub seorang diri. Dan (2B) seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga (3) sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."

Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi (1) Yakub, tetapi (4) Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." 

Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.

Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.


Renungan


1. Berkat - Tuhan tidak pernah menghalalkan cara apapun

(1) Nama YAKUB diberikan oleh orang tuanya karena dia memegang kaki kakaknya ketika lahir. Suatu SIFAT BAWAAN DARI LAHIR dimana dia TIDAK MAU BERJUANG untuk keluar lahir dari rahim ibunya, memanfaatkan orang lain, dan juga keinginan untuk memegang/mengambil kepunyaan kakaknya (Kej 25:26; Hos 12:3-4).

Dengan nama itu, ia tumbuh menjadi orang yang SUKA MENIPU dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang ia mau (Kej 27:36 - dua kali menipu Esau, kakaknya). Ada harga yang harus dibayar, dia sendiri DITIPU oleh orang yang lebih lihai, yakni Laban mertuanya (Kej 29:23 - HUKUM TABUR TUAI). 

(2AB) Pergumulan ini melambangkan suatu pergumulan doa, satu perjuangan iman yang dilakukan dalam kepercayaan untuk kesetiaan Allah, dalam kepastian, kemenangan yang dijanjikan kepada orang yang tabah (KGK 2592).

KETAKUTAN atas ancaman pembunuhan oleh Esau inilah yang mendorong Yakub untuk MEMOHON HIKMAT ALLAH. 

(3) Jawaban doanya. Mengapa Tuhan membuat KAKI Yakub CACAT SEUMUR HIDUP? Karena Tuhan tahu seberapa besar dendam hati Esau terhadap Yakub. Memang, secara jasmani tidak baik, tetapi ITU TERBAIK MENURUT KACAMATA ALLAH

Ketika ESAU melihat adiknya berjalan dengan terpincang-pincang dan sujud sampai ke tanah tujuh kali ... HATINYA MULAI LULUH, TIMBULLAH BELAS KASIHAN DI HATINYA sehingga dia berlari mendapatkan adiknya. Akhirnya ... TERJADILAH REKONSILIASI (Kej 33:3-4).

(4) Israel artinya bergumul melawan Allah dan manusia, dan menang. Dalam pergumulan doa, hatinya diubahkan sehingga mau merendahkan hati dengan mengambil jalan-Nya.

Ingatlah! DALAM MELAKSANAKAN KEHENDAK-NYA (Kej 25:23 - Dua bangsa ada dalam kandunganmu ... anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda), TUHAN TIDAK PERNAH MENGHALALKAN CARA APAPUN

Minggu, 30 Juni 2019

20.13 -

Kej 16:1-12, 15-16

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 27 Juni 2019: Hari Biasa XII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 16:1-12, 15-16; Mzm 106:1-2, 3-4a, 4b-5; Mat 7:21-29


Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

Berkatalah Sarai kepada Abram: (1A) "Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan (2A) Abram mendengarkan perkataan Sarai.

(1B) Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan —, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

(2B) Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu.

Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; Tuhan kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." 

Kata Abram kepada Sarai: (2C) "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya.


Renungan


1. Ujian besar dalam beriman

(1AB) Ini merupakan tindakan yang lazim pada zaman mereka. Pilihan yang ditempuh untuk “menyelesaikan” apa yang dianggap Sarai sebuah masalah dalam dirinya, justru kemudian menimbulkan masalah-masalah baru yang cukup serius. 

(2ABC) Abram menuruti rencana Sarai, tetapi pada saat masalah lain muncul, ia menolak menyelesaikan masalah.

Tindakan Sarai dan Abram ini bukanlah tindakan iman. Dengan mengikuti kebiasaan waktu itu, mereka telah menunjukkan keraguan akan janji Tuhan.

Berhadapan dengan situasi kacau buatan manusia yang tidak beriman dan tidak sabaran ini, Allah ternyata adalah Allah yang tetap menyatakan kuasa-Nya untuk turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm 8:28). 

Allah tetap setia pada janji-Nya. Allah menyadari kekurangan anak-anak-Nya dan tidak membiarkan masalah-masalah yang mereka hadapi ditanggung sendiri. Maka Sarai dan Abram pada akhirnya tetap mendapatkan anak mereka sendiri.

Ujian besar dalam beriman adalah membiarkan Allah bekerja sesuai waktu-Nya di dalam kehidupan, dan menanti waktu-Nya itu dengan iman, harapan, dan kasih. 

Senin, 29 April 2019

18.03 -

Kej 1:20 - 2:4a

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya
 

Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 12 Februari 2019: Hari Biasa V - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 1:20 - 2:4a; Mzm 8:4-5, 6-7, 8-9; Mrk 7:1-13)


Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 

Maka (1) Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan (2A) taklukkanlah itu, (2B) berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 

Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya."


Renungan


1. Gambar Allah yang rusak

Apa maksud Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya? (1) Supaya manusia sebagai wakil Allah di dunia ini memiliki sejumlah potensi ilahi. Hak istimewa ini untuk mengelola dunia dan segala isinya (2AB).

Namun, dosa menyebabkan gambar Allah dalam diri manusia menjadi rusak, tidak berfungsi lagi dengan benar. Manusia hidup bukan untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. 

Hanya ada satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri kita oleh karya penyelamatan Yesus.

Tuhan Yesus memberkati.


17.40 -

Kej 2:4b-9, 15-17

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 13 Februari 2019: Hari Biasa V - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 2:4b-9, 15-17; Mzm 104:1-2a, 27-28, 29bc; Mrk 7:14-23)


Ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu - ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. 

Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. 

Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden (*) untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.


Renungan


1. Rancangan Tuhan bagi kita

(*) Kata 'mengusahakan dan memelihara' memiliki arti melakukan pekerjaan. Jadi Tuhan menghendaki Adam bekerja, bukan bermalas-malasan atau berpangku tangan saja. Demikian pula kita ini dirancang Tuhan untuk bekerja bagi Dia. 

Rancangan Tuhan bagi kita sungguh luar biasa, jangan sia-siakan waktu yang ada! Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan kehendak-Nya, karena Tuhan telah memberikan kepada kita talenta dan karunia. 

Tuhan Yesus memberkati.


16.59 -

Kej 2:18-25

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 14 Februari 2019: Pw St. Sirilius, Pertapa dan Metodius, Uskup - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kej 2:18-25; Mzm 128:1-2, 3, 4-5; Mrk 7:24-30; RUybs


Tuhan Allah berfirman: (1A) "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri (1B) ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, (2A) Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 

Lalu berkatalah manusia itu: (2B) "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 

(3) Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. 


Renungan


1. Penolong yang sepadan

(1AB) Penolong sering dimengerti sebagai sekedar asisten yang berstatus lebih rendah daripada yang ditolong. Penolong di sini memiliki arti saling melengkapi.

Jadi, perempuan diciptakan untuk melengkapi laki-laki, sehingga keduanya dapat mewujudkan karya pemeliharaan Allah bagi dunia ini.

(2AB) Kesatuan esensi laki-laki dan perempuan inilah yang mendorong adanya persatuan suami istri yang melebihi sekadar persatuan tubuh (seks), melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Kesetaraan inilah yang harus mendasari pernikahan Kristen. Laki-laki dan perempuan sama derajatnya di hadapan Allah. Mereka memberikan dirinya untuk dipersatukan agar dapat dipakai Allah untuk menjadi alat anugerah-Nya bagi dunia ini. 

Persatuan ini harus dipelihara dengan tetap saling memberi diri sebagai wujud saling melengkapi, serta menjaga keterbukaan satu sama lainnya (3).

Tuhan Yesus memberkati.