Tampilkan postingan dengan label SP 1-2 Korintus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP 1-2 Korintus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2019

2 Kor 3:4-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya
 

Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 12 Juni 2019: Hari Biasa X - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 3:4-11; Mzm 99:5, 6, 7, 8, 9; Mat 5:17-19


Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, (2) kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi (3A) pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab (1B) hukum yang tertulis mematikan, tetapi (3B) Roh menghidupkan. 

(1A) Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa (3D) lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Sebab, jika (1D) pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa (3E) lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.

Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. Sebab, (1C) jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, (3C) betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan.


Renungan


1. Pelayanan Perjanjian Baru

(1ABC) Musa adalah pelayan dari perjanjian yang lama. Tuhan memberikan kepadanya kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah, di mana ada segala firman yang diucapkan Tuhan (Ul 9:10).

(1D) Kemuliaan Perjanjian Lama akan berakhir dengan penghukuman. Mengapa demikian? Karena Hukum Taurat berisi standar kebenaran yang tidak dapat dipenuhi oleh siapa pun! Dengan demikian, semua orang akan dianggap berdosa! Segala yang dihasilkan orang yang sudah digelapkan oleh dosa akan berakhir pada kegagalan dan hukuman Allah. 

(2, 3A-E) Paulus adalah pelayan dari perjanjian yang baru. Dia sadar bahwa pemberitaan Injil yang dikerjakannya menampakkan hasil, bukan karena kecakapan dirinya, melainkan karena Roh Allah saja yang membuat orang merespons Injil. 

Kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh adalah pembenaran Allah bagi orang yang berdosa. Mengapa bisa demikian? Karena tuntutan Hukum Taurat telah dipenuhi oleh Tuhan Yesus melalui penumpahan darah-Nya. Betapa besar perbedaan antara penghukuman dan pembenaran! 

Melalui pelayanan, keberadaan kita seperti surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca dan dikenal oleh semua orang (2 Kor 3:1-3). Oleh karena itu hidup kita harus menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus dengan mengosongkan diri, merendahkan diri, dan taat sampai mati (Flp 2:5-8). 

Jadi, kita tidak boleh sembarangan dalam menjalani kehidupan kekristenan kita, karena dimanapun kita berada, kemanapun kita pergi dan kapanpun waktunya, kita sedang mempertaruhkan nama Kristus di mata dunia. 


2 Kor 3:15 - 4:1, 3-6

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 13 Juni 2019: PW St. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: 2 Kor 3:15 - 4:1, 3-6; Mzm 85:9ab-10, 11-12, 13-14; Mat 5:20-26


Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi (1) apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. 

Dan (2) kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 

Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 


Renungan


1. Bertobat - selubung itu diambil dari padanya

Paulus pernah berjumpa dengan terang kemuliaan Kristus di jalan menuju Damsyik (Kis 9:3-5), ia berharap, melalui pelayanannya orang dapat berjumpa kembali dengan terang Kristus.

(1) Paulus menjelaskan bahwa pada saat bertobat, Tuhan menyingkapkan selubung dari hatinya sehingga penglihatan rohaninya tidak terhalang lagi, terang kemuliaan Kristus bersinar atas dirinya, barulah ia memiliki pengertian akan pernyataan Tuhan.

Pada saat itu orang akan memahami bahwa anugerah Tuhan Yesus memenuhi tuntutan hukum Taurat (Rm 10:4), dan di situlah terletak makna kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya meliputi selubung yang tersingkap; tetapi juga kemerdekaan dari dosa, maut dan tuntutan hukum Taurat.

(2) Pada saat dimerdekakan, orang akan memancarkan kemuliaan Tuhan. Bukan hanya di wajah, tetapi dalam hidup dan terpancar melalui karakter. Kemuliaan ini tidak akan memudar tetapi akan terus mentransformasi hidup hingga makin lama makin menyerupai Kristus.

Keserupaan dengan Kristus ini bukan hasil pencapaian manusia. Itu merupakan pertumbuhan yang dihasilkan oleh karya dan kuasa Roh Kudus. 


Rabu, 03 Juli 2019

2 Kor 4:7-15

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 14 Juni 2019: Hari Biasa X - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 4:7-15; Mzm 116:10-11, 15-16, 17-18; Mat 5:27-32

Kamis, 25 Juli 2019: Pesta St. YakobusRasul - Tahun C/I (Merah)
Bacaan: 2 Kor 4:7-15; Mzm 126:1-2ab, 2cd-3, 4-5, 6; Mat 20:20-28)


Tetapi (1) harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa (3) kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

(2D) Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 

(2B) Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 

Namun karena kami memiliki (2C) ROH IMAN yang sama, seperti ada tertulis: "Aku PERCAYA, sebab itu aku BERKATA-KATA", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

(2A) Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan (1B) semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. 


Renungan


1. Kehidupan Yesus nyata di dalam tubuh kita

(1AB) Paulus menyadari bahwa dirinya laksana bejana tanah liat, penuh kelemahan dan kerapuhan tetapi di saat yang sama merasa kuat karena Tuhan menyertainya dalam segala situasi kehidupannya. Dengan demikian ia berani bersaksi dan membawa banyak orang kepada Tuhan. 

(2A-D) Paulus mempunyai roh iman. Berkat kuasa kebangkitan Kristus, ia senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan (2 Kor 12:10). 

(3) Paulus percaya bahwa KRISTUS ADA DI DALAM DIRINYA [Yoh 14:23 》KAMI (YESUS dan BAPA-Nya) akan datang kepadanya dan DIAM BERSAMA-SAMA dengan dia; 1 Kor 3:16; 6:19 》Kamu adalah bait Allah dan ROH ALLAH diam di dalam kamu].

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih memiliki roh iman sehingga tetap bertahan dalam setiap pergumulan hidup dan tetap melekat pada Tuhan?


2. Karunia keperkasaan

(1) Sejak dibaptis, kita dipercayakan oleh -Nya harta yang indah, yaitu Roh Kudus yang diam di dalam kita (2 Tim 1:14). Berkat rahmat pengudusan dan rahmat pembenaran, kita disanggupkan hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus.

Dalam keseharian kita, kita dituntut untuk mati terhadap keinginan diri sendiri (penyangkalan diri) dan berjuang dalam kekudusan. 

Melalui karunia keperkasaan, Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita untuk yakin, percaya, dan bersandar kepada kekuatan Allah. Allah dapat menggunakan kita yang terbatas dalam banyak hal untuk memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. 

Dengan karunia keperkasaan, kita dapat berkata seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4:13). “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31).



2 Kor 5:14-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 15 Juni 2019: Hari Biasa X - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 5:14-21; Mzm 103:1-2, 3-4, 8-9, 11-12; Mat 5:33-37


Sebab (1) kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan (2) Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.


Renungan


1. Berani bayar harga karena kasih Kristus telah menguasainya

(1) Dalam pelayanannya, batin Paulus diperbaharui dari sehari ke sehari sehingga ia tidak tawar hati. Ia berani membayar harga yang begitu mahal dalam pelayanannya (2 Kor 4:7-12) karena kasih Kristus telah menguasainya.

(2) Sebelum beroleh pengertian ini, apapun yang kita lakukan hanyalah demi diri sendiri: kenyamanan dan kesenangan sendiri. Bahkan ketika kita melakukan kebaikan kepada orang lain, tujuan sebenarnya ternyata tetap untuk diri sendiri: supaya kita mendapatkan kepuasan diri, pujian dari orang lain, atau pahala dari Allah. Semua kebaikan kita adalah egoisme yang terselubung.

Di dalam Kristus semua kebaikan kita dimurnikan. Kita mengasihi karena kita lebih dahulu dikasihi (Yoh 13:34; 15:12; Rm 5:5-8; 1 Yoh 4:10). Tidak ada motivasi lain. Kasih bukan sarana untuk mendapatkan sesuatu, tetapi kekuatan untuk memberikan segala sesuatu.


Minggu, 30 Juni 2019

2 Kor 6:1-10

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 17 Juni 2019: Hari Biasa XI - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 6:1-10, Mzm 98:1, 2-3ab, 3cd-4; Mat 5:38-42


Sebagai teman-teman sekerja, kami (1B) menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.

Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 

Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab (1C) orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah (1A) pelayan Allah, yaitu: 

(2) dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; 

(3) dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.


Renungan


1. Menghidupi anugerah Allah

(1ABC) Sebagai pelayan Tuhan, Paulus telah menghidupi anugerah Allah. Ia berusaha keras menjaga diri agar tidak menjadi penyebab orang lain tersandung, ia menjaga diri agar pelayanan yang sudah dirintisnya tidak dicela orang.

(2) Menunjukkan kualitas seorang pelayan yang rela menanggung risiko ketika melayani.

(3) Paulus tetap sama, ia menunjukkan integritas seorang pelayan di berbagai situasi dan kondisi. 

Paulus mengalami semua kepedihan secara manusiawi, namun hal itu tidak lantas membuat ia dan pelayanannya hancur, sebaliknya justru makin memantapkan Paulus untuk setia menjaga anugerah yang Allah sudah berikan.


2 Kor 9:6-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 19 Juni 2019: Hari Biasa XI - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 9:6-11; Mzm 112:1-2, 3-4, 9; Mat 6:1-6, 16-18


Camkanlah ini: (1) Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Dan (2) Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." 

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.


Renungan


1. Hukum tabur tuai

(1) Apa yang dikatakan oleh Paulus itu sangat benar. Dalam dunia pertanian, misalnya, jika kita menanam padi hanya dalam satu petak kecil, maka jangan pernah berharap bahwa hasilnya akan sama jumlahnya dengan mereka yang menanam padi dalam sepuluh petak besar. (2) Janji Allah.

Yesus mengajarkan kepada kita tentang pengorbanan (Yoh. 12:24 》 Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah).

Benih itu harus ditaburkan ke tanah supaya bisa tumbuh. Ketika kita menaburkan sesuatu, dalam arti tertentu kita berkorban. Kita menaburkan benih kebaikan kepada orang lain. Kita mengorbankan waktu kita, tenaga kita, pikiran kita, bahkan materi kita. Itu tidak akan percuma. Pengorbanan kita akan diganjar oleh Tuhan.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang yang ikhlas menaburkan banyak kebaikan, akan banyak mendapatkan kebaikan pula. Biasanya, jika orang baik berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, orang lain tidak akan berpikir panjang untuk memberi bantuan.

Tetapi sebaliknya, orang yang selama hidupnya pelit dan tidak mau menaburkan kebaikan, hidupnya susah. Jika orang seperti itu berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, biasanya orang berpikir panjang untuk memberikan bantuan kepadanya. 


2 Kor 11:18, 21b-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)



Penanggalan liturgi

Jumat, 21 Juni 2019: PW St. Aloisius Gonzaga, Biarawan - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: 2 Kor 11:18, 21b-30; Mzm 34:2-3, 4-5, 6-7; Mat 6:19-23; RUybs.


Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga. Jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun — aku berkata dalam kebodohan — berani juga!

(1) Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!

Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; (3) lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. 

(4) Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. 

(5) Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. 

(6) Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. 

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? (7) Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita? Jika aku harus bermegah, maka (2) aku akan bermegah atas kelemahanku.


Renungan


1. Bermegah karena kelemahan

Jemaat Korintus memiliki pandangan yang keliru bahkan terkesan sangsi akan kualitas kerasulan Paulus. Namun hal ini tidak terlalu dirisaukan oleh Paulus. Sebetulnya bisa saja Paulus membanggakan garis keturunannya, pengalaman pertobatan (Kis. 22:6-15), atau latar belakang teologisnya (1)

Paulus memaknai semua itu sebagai kelemahan yang membuat dirinya semakin dikuatkan dalam Kristus (2; 2 Kor 12:9-10 》aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku).

Kelemahan yang menjadi kemegahan rasul Paulus, yakni (3) penderitaan karena penggembalaan. (4) penganiayaan fisik (5) bahaya dalam perjalanan (6) kelelahan fisik, minimnya akomodasi (7) penderitaan dalam memberitakan Injil.

Dalam hal apakah kita memegahkan diri? Dalam hal seperti tampilan, gaya berpakaian, atau kefasihan bicara? Hendaknya kita bermegah dalam pengorbanan, penderitaan demi pelayanan Injil dan karena mengikuti teladan Kristus.


2 Kor 11:1-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 20 Juni 2019: Hari Biasa XI - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 11:1-11; Mzm 111:1-2, 3-4, 7-8; Mat 6:7-15


Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku! Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.

Tetapi (*) aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. 

Tetapi menurut pendapatku sedikit pun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal.

Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?

Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian. 

Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya. Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya. 


Renungan


1. Ikutilah "Ajaran Gereja" agar tidak tersesat

(*) Sebagai gembala yang baik, Paulus kuatir atas pola hidup jemaat Korintus yang tidak mau bersikap kritis terhadap informasi yang ada. Mereka menerima begitu saja informasi yang ada dan tidak berupaya untuk melakukan penyaringan atasnya. Hal inilah yang akhirnya memudahkan orang lain untuk mempengaruhi dan menyesatkan mereka dengan ajaran-ajaran yang berbeda dari ajaran iman yang telah mereka terima.

Dunia di mana kita tinggal memang menyajikan informasi yang sangat beragam. Terkadang dalam hal kerohanian pun informasi-informasi yang kita terima, tidak selalu sama dengan apa yang selama ini kita yakini dan ikuti. Oleh karena itu ikutilah "Ajaran Gereja" agar kita tidak mudah untuk dibelokkan dan disesatkan oleh dunia.


2 Kor 12:1-10

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 22 Juni 2019: Hari Biasa XI - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Kor 12:1-10; Mzm 34:8-9, 10-11, 12-13; Mat 6:24-34


Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.

Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya

ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. 

Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. 

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab (*) justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 

Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Renungan


1. Berhentilah berfokus terhadap kelemahan

Betapa seringnya kita hanya terfokus memandang keterbatasan dan kekurangan kita. Kita mengeluh atas kelemahan, atas apa yang tidak kita punya dan mengabaikan kelebihan kita, melupakan apa yang kita punya. 

Jika kita terus-menerus membangun hubungan dengan Bapa di Sorga, maka kita akan bertumbuh dalam kekuatan, semangat, dan sukacita.

Jadi, berhentilah berfokus terhadap kelemahan, maksimalkan terus apa yang ada pada kita. Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa lewat apapun yang ada pada kita, Dia sanggup memakai kelemahan kita untuk menyatakan kuasa-Nya atas hidup kita.