Tampilkan postingan dengan label *Spiritualitas*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Spiritualitas*. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Spiritualitas Kristiani menurut Santo Ignatius Loyola

Spiritualitas Ignatian tidak spesifik menunjuk pada panggilan hidup tertentu, misalnya sebagai imam atau biarawan, tetapi untuk semua orang Kristiani

Tiga ciri hakiki spiritualitas Ignatius Loyola menurut Romo Josephus Darminta, SJ:

1.  Manusia dari Allah

Manusia berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan

Segala sesuatu diarahkan pada pengabdian kepada Allah dan menolong sesama. Hal itu bisa terjadi bila manusia yang bersangkutan menjadi manusia pendoa

Ignatius tidak mementingkan banyaknya kata-kata atau lamanya orang berdoa. Yang penting orang itu dapat berjumpa dengan Tuhan secara intensif. Sebagai bahan renungan: Mrk 1:35.

2.   Manusia bagi sesama

Menolong orang lain, dan dengan demikian menyelamatkan jiwa diri sendiri, merupakan keprihatinan utama dalam hidup Ignatius. 

Oleh karena itu sharing pengalaman rohaninya ditulis untuk membantu orang lain, bukan sekedar sharing. 

Tulisan itu merupakan bantuan metode untuk membantu sesama seturut kondisi dan panggilan masing-masing manusia.  Ignatius tidak pernah memaksakan cara hidupnya (yang telah terbukti suci) untuk orang lain melainkan memberikan bantuan sarana pada orang untuk membantu orang lain. Sebagai bahan renungan: Mrk 1:29-34. 

3. Manusia dalam pengutusan

Bagi Ignatius, diutus berarti pengutusan di dalam Gereja. Mengabdi Kristus tidak mungkin di luar pengutusan Gereja. Agar secara efektif menjadi rasul, ia harus mempunyai semangat kemiskinan, artinya kemampuan menjadi lepas bebas, kesediaan untuk berubah untuk mengikuti dinamika pengutusan kita

Apakah itu berarti orang harus menjadi rohaniwan/biarawan? Tentu tidak. Jikalau kita sebagai awam, bekerja dengan penuh dedikasi bagi sesama, tidak korupsi dan kolusi, kita sudah menjadi rasul yang hebat dan menjalankan pengutusan Gereja. Sebagai bahan renungan: Mrk 1:36-39.

(Sumber: Warta KPI TL No. 122/VI/2014 »

 (Sumber: Renungan KPI TL Tgl 12 Des 2013, Sdri Agnes Sanata Dharma).

Selasa, 21 Februari 2017

Spiritualitas “Jalan Kecil”



Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Kata "agama" (bahasa Sansekerta) berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi (bahasa Latin) berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan

Jika seseorang agamanya kuat, maka dia akan memiliki kekuatan spiritual di dalam dirinya. Hal ini akan nampak dalam perbuatannya

Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak 2:26), perbuatan nyata adalah perbuatan iman (St. Theresia Lisieux). Beriman adalah hasil relasi yang baik dengan Tuhan, menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya.

Jadi, agama berkaitan dengan iman, tetapi tidak identik dengannya. Agama merupakan ungkapan lahiriah dan konkret dari hubungan batin manusia dengan Allah. Inisiatif Allah adalah Wahyu dan jawaban manusia kepada-Nya adalah iman

Iman sebagai sikap dan sebagai penyerahan-diri manusia kepada Allah yang tidak kelihatan, tetapi terwujud dalam berbagai pengungkapan sikap yang bercorak pribadi ataupun sosial. Jadi, agama ada demi iman yang pada intinya adalah sikap pribadi orang beragama.

Oleh karena itu, bukan hanya salah, melainkan fatal, jika "beragama" diartikan terutama sebagai tekad untuk menjalankan kewajiban dan hukum agama, kehilangan jiwanya dan merosot akhlaknya.

Sikap fanatik itu menyerupai bias (kesalahan yang konsisten dalam memperkirakan sebuah nilai) dimana seseorang tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis, yang disebabkan adanya kesalahan dalam sistem persepsi.

Jalan pikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang lain tidak menyukai keyakinannya. Selanjutnya perasaan itu berkembang menjadi rasa benci kepada orang lain. 

Fanatisme juga bisa melahirkan manusia-manusia yang berhati kerdil, pola pikir yang sempit, keterbatasan wawasan dan egoisme yang berlebihan yang akan berakhir dengan bentrok/perselisihan antar manusia.

Orang yang mempunyai agama yang mendalam (kuat) akan lahir spiritualitas yang membawa dia hidup secara baik. Kalau agamanya hanya permukaan saja, maka spiritualitasnya tidak kuat

Maka di dalam suatu perusahaan/organisasi selalu dicari seseorang yang spiritualitasnya kuat, bukan agama seseorang. Jika spirit yang menggerakkan itu baik, maka perusahaan/organisasi itu akan menjadi lebih baik. Kalau spiritualitas tidak kuat, maka orang tersebut hanya akan menimbulkan masalah, mempersoalkan hal-hal yang sepele, misalnya: mempersoalkan tempat ibadah.

Apa itu Spiritulitas? Spiritus (bahasa Latin) = Roh/Jiwa/Semangat; Ruach (bahasa Ibrani) – Pneuma (bahasa Yunani) = Angin/Nafas. 

Jadi Spiritualitas secara sederhana bisa disebut sebagai “Semangat dari dalam yang menggerakan sesuatu”, yang mengacu pada nilai-nilai religius yang mengarahkan tindakan seseorang

Oleh karena itu Spiritualitas Kristen bersumber pada Allah Tritunggal Yang Maha Kudus.

Misalnya: kalau orang merasa kebahagiaan itu berasal dari dirinya sendiri, kadangkala kebahagian itu hanya semu saja. 

Tapi kalau merasa kebahagiaan ini rahmat dari Tuhan, maka dia akan bersyukur dan kebahagiaan itu akan dibagikan kepada orang lain. Karena dia menyadari bahwa sebagai orang Kristiani tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia (2 Kor 5:15). Jadi, orang Kristiani dipanggil untuk memperoleh berkat dan memberkati (1 Ptr 3:9).

Marilah kita belajar dari spiritualitas Santa Theresia Lisieux, yaitu Spiritualitasjalan kecil

1. Membuat Yesus dicintai semua orang

Apa tujuan terdalam hidup orang beriman? Memancarkan kemuliaan-Nya.

Allah dari mulanya telah memilih kita untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kita dan dalam kebenaran yang kita percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kita oleh Injil sehingga kita boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita (2 Tes 2:13-14). Jadi, hendaklah kita menjadi kudus di dalam seluruh hidup kita sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kita (1 Ptr 1:15).

Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan. Kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Kor 3:18).

Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, kehidupan manusia adalah memandang Allah (KGK 294). Semua orang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku (DS 3025; Yes 43:7).

Bagi Theresia Lisieux; hidup adalah Kristus. Dia menulis dalam catatannya: “Ketika di dalam sukacita yang kegila-gilaan, aku berseru: Oh Yesus, Kekasih-ku, akhirnya kutemukan panggilanku. Panggilan-ku ialah Cinta Kasih” 

Dan ketika hendak menghembuskan nafas terakhir, sambil memandang Salib, Theresia Lisieux pun berkata untuk menutup seluruh hidupnya; “Oh Tuhan-ku, aku mencintai-Mu”

2. Non multa sed multum

Multa = kuantitas (jumlah); multum = kualitas (mutu)

Theresia Lisieux mengalami penderitaan demi penderitaan dalam hidup-nya. Hidupnya singkat (hanya 24 tahun), tetapi hidupnya dijalankannya dengan nilai hidup yang berkualitas

Tidak pernah ke tanah misi, tetapi perhatiannya terhadap misi luar biasa besar. Kita memang mesti belajar jalankan hidup yang berkualitas. Komunitas-komunitas juga harus membangun terus menerus kualitas hidup berkomunitas.

Marilah kita belajar hidup komunitas dariKisah Satu Jiwa” (otobiografi Santa Theresia Lisieux).

1. Kesatuan dalam doa (relasi dengan Tuhan)

Doa adalah sebuah ungkapan iman. Kalau orang kesulitan dalam doa, dia sebenarnya kesulitan dengan imannya.

Iman adalah kita datang kepada Tuhan, percaya kepada-Nya dan mengharapkan sesuatu kepada-Nya. 

Theresia mengatakan bahwa dia berbicara apa adanya kepada Allah sesuai dengan dorongan hatinya. Ia tidak perlu menyusun sebuah kalimat yang lengkap dan sempurna (doa pribadi). Karena dia sadar, Allah senantiasa memahaminya. 

Dia pun berkata, “Bagi saya doa adalah sebuah luapan hati, sebuah pandangan sederhana ke sorga. Suatu luapan syukur dan cinta, baik dalam suka maupun dalam duka.” 

Kata-kata Theresia ini pun dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik no. 2558, berdasarkan pertanyaan apa itu doa

2. Kesatuan dalam komunitas persaudaraan (relasi dengan sesama)

Hanya dengan kekuatan iman, orang bisa membangun sebuah kehidupan komunitas persaudaraan yang menyenangkan. Komunitas persaudaraan lalu menjadi sebuah kesempatan untuk berbagi pengalaman akan Allah

Itulah juga yang dihayati oleh Theresia dalam hidup komunitasnya. Kendati ia mengalami banyak kendala atau kesulitan dengan rekan kerja atau sesama suster dalam komunitas, Theresia tetap mau bertekun dan bergabung dalam hidup komunitas dan terlibat dalam membangun sebuah persaudaraan. 

Theresia sungguh mencintai sesamanya apa adanya. Dia pernah berkata, “Akh, kini saya tahu bahwa cinta kasih kepada sesama yang sempurna terletak dalam menanggung keterbatasan sesama, tidak heran melihat kelemahan mereka, dan merasa senang bila melihat perbuatan-perbuatan kebajikan terkecil sekalipun yang mereka lakukan.” (hal negatif dapat melihat segi positifnya)

Theresia membagikan pengalamannya bagaimana ia mencintai seorang suster yang tidak simpatik baginya. Tingkah laku, kata-kata dan wataknya sungguh menjengkelkan hati Theresia

Namun ia tidak mau menyerah kalah pada perasaan antipatinya. Ia menegaskan dalam dirinya bahwa cinta kepada sesama bukan terletak dalam perasaan melainkan dalam perbuatan

Bagi Theresia, suster tersebut adalah orang kudus, yang sungguh sangat berkenan di hati Allah. Itulah sebabnya, Theresia berusaha untuk bersikap terhadap suster tersebut seperti kepada orang yang paling dicintainya. 

Lalu apa yang Theresia lakukan : 

Pertama, ketika berpapasan, Theresia berdoa baginya dan mempersembahkan kepada Allah segala jasa dan kebajikan suster tersebut

Kedua, Theresia merasa tidak cukup hanya mendoakannya. Ia berusaha sedapat mungkin menyumbangkan jasa kepadanya. Itulah sebabnya, saat tergoda untuk secara kasar menjawabnya, Theresia berusaha seramah mungkin tersenyum kepadanya

Ketiga, Theresia mengakui bahwa tidaklah gampang untuk melakukan semuanya itu. Ia pernah gagal dalam mewujudkannya. Hal ini terjadi bila pembagian kerja dan mendapatkan tugas bersama dengan suster tersebut. Ia pernah lari karena perjuangan batinnya tak tertahankan. Memang perjuangannya menjadi lebih besar, karena suster tersebut tidak tahu menahu tentang perasaannya. Bahkan suster tersebut menyangka, Theresia menyukai wataknya

Keempat, akhirnya Theresia menemukan nilai rohani yang mendalam. Hal itu terungkap ketika suster tersebut dalam kesempatan rekreasi bersama bertanya kepada Theresia. “Suster Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, dapatkah anda mengatakan apa yang membuat anda terpikat kepadaku? Karena setiap kali anda memandang kepadaku, saya melihat anda tersenyum.” 

Bagi Theresia, Yesus ada dalam lubuk hati suster tersebut. Itulah yang memikat Theresia. Karena Yesus sendirilah yang membuat semua kepahitan menjadi manis

Mengapa Theresia sampai mampu menghayati persaudaraan yang demikian? Ia sadar, ia tidak berjalan sendirian. Selain bahwa ia melihat Yesus dalam lubuk hatinya, Theresia sendiri menyadari bahwa Yesus berkarya dalam orang lain.

3. Kesatuan dalam pelayanan (doa dan korban bagi misi)

Pelayanan yang tulus hanya bisa lahir dari pengalaman iman. Pelayanan menjadi saat indah mengungkapkan pengalaman akan Allah yang mengutusnya. Itulah yang juga dialami oleh Theresia. Semangatnya berkobar-kobar untuk melayani bersumber dari pengalamannya akan Allah yang telah mengubah dan menyembuhkannya

Dari pengalaman rahmat Natal, Theresia mulai merasakan keinginan yang besar untuk melayani sesamanya. Theresia berkata, “Kurasa keinginan yang kuat muncul di benakku untuk bekerja bagi pertobatan orang berdosa.” 

Dan tatkala masuk Karmel, dia dengan semangat berkobar-kobar berkata, “Saya datang untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, terutama berdoa bagi para imam.”

Theresia mengungkapkan semangat misinya secara khusus dalam doa dan korban bagi jiwa-jiwa, teristimewa bagi para misionaris dan karya misi mereka. 

Ia bahkan mempersembahkan sakit dan deritanya untuk kepentingan misi. Sebagai contoh, tatkala menderita sakit TBC, yang akhirnya membawanya kepada kematian, Theresia tetap menelan obat yang diberikan, walaupun hal itu tidak menolong untuk kesembuhannya. 

Semuanya itu ia lakukan karena ia memikirkan para misionaris yang ada di tempat-tempat yang sulit untuk mendapatkan obat ketika harus menderita sakit. Ia menelannya untuk kepentingan mereka semua. 

Atau juga, ketika ia diminta untuk berjalan-jalan di kebun biara untuk menghirup udara segar, ia nampak kelelahan. Seorang suster memintanya untuk kembali ke kamar saja untuk beristirahat. Namun ia tetap melakukan latihan tersebut demi sebuah tujuan mulia, ia mau mempersembahkan semua kelelahannya bagi para imam dan misionaris yang juga kelelahan dalam karya pastoral dan misi mereka. 

Pelayanan kita dalam dan sebagai komunitas harus berakar, bertumbuh dan berbuah dalam dan bersama Dia.

Jadi, doa, persaudaraan dan pelayanan adalah tiga pilar kehidupan beriman dalam sebuah komunitas. Ketiga hal ini biasa kita ungkapkan dan coba hayati dalam kehidupan setiap hari.

Dan hanya orang yang beriman mau sungguh tetap setia berdoa, tekun berjuang menghayati persaudaraan dan tetap mau melayani dalam suka dan duka, pahit manis kehidupan. (tanpa iman = mundur).

St. Theresia dari Lisieux telah menghayati itu dalam perjalanan hidupnya yang singkat di dunia ini. Dia menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan jalan dan cara yang biasa dan sederhana.

(Sumber: Warta KPI TL No.142/II/2017 » Rekoleksi keluarga KPI TL Tgl 4-5 Februari 2017, Rm Gregorius Kaha, SVD).

Selasa, 31 Januari 2017

Spiritualitas pertobatan pintu masuk Kerajaan Allah



Dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial, dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya (GS 25). 

Maka sebagai seorang Bapa, Allah tidak mau manusia hidup dan tinggal sendiri-sendiri, Dia menghendaki agar manusia hidup dan tinggal bersama-sama dengan orang lain sebagai sebuah keluarga

Atas dasar pemahaman ini, kita berada, kita tinggal dan hidup, kita bertumbuh dan berkembang, kita membina dan dibina di dalam sebuah komunitas kehidupan bersama, baik dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam panggilan religius karena panggilan Tuhan. 

Panggilan Tuhan dalam setiap kehidupan bersama bukanlah suatu panggilan yang serba bebas dari segala tantangan dan kesulitan, dari segala penderitaan dan kesusahan tetapi seringkali manusia mengalami gangguan jiwa atau penyakit hati karena berbagai persoalan dan kesulitan

Untuk menenangkan gangguan jiwa dan menyembuhkan penyakit hati dari berbagai persoalan hidup, kita perlu datang kepada Tuhan, memandang dan memperhatikan Dia, mendengarkan dan menghayati Sabda-Nya dan kata-kata-Nya, teguran-teguran-Nya, ajakan-ajakan dan nasihat-nasihat-Nya. 

Ketika kita tidak lagi mengandalkan Tuhan dan tidak lagi tergantung kepada-Nya, kita memang bisa menjadi amat bebas. Kita menjadi satu-satunya perancang dan pelaksana riwayat kita sendiri. 

Namun, dengan menjadi tuan atas diri sendiri, kita justru sering menjadi hamba atau budak dari keinginan dan nafsu pribadi yang tak terkendali

Jadi, dalam kehidupan bersama hanya dapat lestari dan bertahan apabila Tuhan selalu hadir dan tetap hadir, atau dihadirkan dan diandalkan oleh setiap anggota keluarga/komunitas baik secara individual-pribadi maupun secara kolektif-bersama.

Tanpa sentuhan atau kontak dengan Kristuspertobatan akan menemui jalan buntu dan kehilangan "rohuntuk berdaya dan berbuah bagi pertumbuhan dan kemajuan hidup manusia.

Apabila kita waspada dalam hidup dan selalu berbuat baik dalam setiap pekerjaan, penderitaan dan salib pada umumnya tidak menimpa kita

Namun, apabila kita lalai dalam hidup dan berbuat jahat dalam pekerjaan dan pergaulan sehari-hari, sudah pasti penderitaan dan salib muncul dalam kehidupan kita

Orang yang melakukan kejahatan sama dengan orang yang menanam benih-benih kejahatan untuk kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah-buah penderitaan dalam hidup pribadi dan dalam hidup bersama (Ayb 4:8-9; Yer 2:17,19). 

Manusia menderita karena kejahatan, yang merupakan sesuatu kekurangan, pembatasan atau penyimpangan dari sesuatu yang baik (Ams 11:27, 21,19; Mzm 140:12; Yer 2:19).

Untuk menghadapi penderitaan dan salib yang tidak dapat dihindari ini, ada dua sikap yang perlu kita miliki dan hayati

1. Kesabaran untuk memikul dan menanggung penderitaan yang ada (2 Kor 6:4-5). 

Orang yang memiliki ketahanan dan kesabaran, beban penderitaan akan terasa lebih ringan baginya. Kesabaran dan ketahanan untuk dengan ikhlas menanggung penderitaan menghantar seseorang kepada kemenangan dan keberhasilan (Mat 10:22; 2 Tim 4:5; Rm 5:3-5; Yak 1:12).

Sikap tobat

Barangsiapa menyembunyikan kesalahannya dan tidak mau bertobat dari kesalahannya itu, ia akan selalu merasa tertekan dan tekanan itu pasti menimpa diri dan hidupnya (Mzm 32:3-4; 5:10-11). 

Kejahatan dan dosa merendahkan martabat manusia setingkat dengan binatang, dan dengan demikian menghilangkan makna hidupnya sebagai putra Allah di dunIa ini

Orang yang banyak berdosa menderita kesakitan, sedangkan orang benar dan orang yang dengan jujur mengakui dosa dan kesalahannya akan bergembira dan berbahagia.


Jalan menuju perubahan hidup ke arah yang baik dan benar adalah pertobatan. Melalui pertobatan, kita pertama sekali akan menyadari kesalahan dan kekeliruan kita. Sesudahnya, kita berbalik pada sikap dan tingkah laku yang baik dan benar. Kita kembali pada tindakan dan perbuatan yang berkenan dan menyelamatkan.


Dalam kehidupan yang biasa, memang tidak gampang kita memisahkan manusia dari kejahatan yang dilakukannya, kejahatan identik dengan pelakunya

Namun, sebagai orang beriman kita harus mampu membedakan kejahatan dan pelakunya sama seperti kita membedakan pasien dari penyakitnya. Hal yang mesti kita benci adalah jenis penyakit atau kejahatan, dan bukan pasien atau pelaku kejahatan.

Prinsip ini berlaku bagi setiap orang dan setiap kita, baik dalam relasi keluar dengan orang lain maupun dalam relasi ke dalam dengan diri sendiri. 

Dalam kaitan dengan diri sendiri, kita harus mampu melihat dan menyadari, mengenal dan mengakui kejahatan-kejahatan yang timbul dalam hati dan pikiran kita dan yang lahir dalam perkataan dan perbuatan kita. 

Penyadaran diri dan pengakuan dosa sudah merupakan suatu bentuk pembenaran hidup dan sebuah langkah maju menuju pertobatan.

Pengakuan atau penyampaian dosa membebaskan kita dan merintis perdamaian kita dengan orang lain. Melalui pengakuan itu orang melihat dengan jujur dosa-dosanya, bahwa ia orang berdosa; ia menerima tanggung jawab atas dosa-dosanya itu, dengan demikian membuka diri kembali untuk Allah dan untuk persekutuan Gereja, sehingga dimungkinkanlah satu masa depan yang baru (KGK 1455).

Pertobatan akan berhasil dilaksanakan apabila pertobatan itu lahir dari hati. Dengan kata lain, orientasi dasar dan bentuk utama dari pertobatan dijalankan "bukan pertama-tama dengan karya yang kelihatan (puasa dan mati raga), melainkan pertobatan hati, pertobatan batin. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan.

Untuk bertobat, manusia membutuhkan rahmat Allah yang mampu membalikkan hati kita kepada-Nya. Menurut iman Katolik, "Manusia tidak dapat berbuat sesuatu yang baik, tidak dapat menentang godaan, tidak dapat melangkah untuk bersatu dengan Tuhan, kecuali dengan bantuan rahmat yang diberikan Tuhan secara bebas."

Mengapa untuk bertobat, manusia harus terus-menerus bergulat dan berjuang dalam hidup? Hal ini terjadi karena dalam diri setiap orang terdapat dua kekuatan atau kekuasaan yang saling bertentangan dan saling berperang

Peperangan antara Tuhan dan Setan, antara kebaikan dan kejahatan ini terjadi di dalam hati manusia. Kita berada dalam dua kutub yang tarik menarik seperti terjadi dalam perlombaan "tarik tambang". Kita akan bergerak "maju mundur maju mundur" dalam hidup. Kita akan senantiasa bimbang dan ragu, tidak berani mengambil sikap atau keputusan.

Dengan posisi demikian, Tuhan atau Setan menjadi "tuan" atas manusia, namun manusia menjadi "tuan" atas dunia. Tuhan atau Setan dapat meraja dan menguasai, memimpin dan menentukan manusia, tetapi manusia dapat meraja dan menguasai, memimpin dan menentukan dunia dan lingkungan sekitar. Apabila hidup manusia berhasil "dikuasai" dunia dan lingkungan sekitar juga akan mudah "dikuasai".

Suatu kehidupan yang baik dan selamat di dalam Kerajaan Allah tidak berjalan secara otomatis seperti sebuah mesinIa lahir dari suatu perjuangan yang keras sepanjang hidup.

Penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia. Sekalipun penderitaan merupakan pengalaman hidup manusia, namun tidak semua orang bersikap positif dan responsif terhadap penderitaan

Karena itu, manusia perlu bertobat untuk menemukan sikap yang tepat berhadapan dengan pengalaman penderitaan dalam hidup

Secara khusus, setiap orang Kristen yang tinggal di dalam Kerajaan Allah mesti memandang Kristus untuk dapat memaknai dan menyikapi dengan baik dan benar berbagai bentuk penderitaan dalam ziarah hidup di dunia ini. 

Bagi orang Kristen, "persatuan dengan sengsara Kristus" (KGK 1521) adalah sikap tobat dasariah yang harus dibangun untuk menghadapi segala bentuk penderitaan di dunia ini

Ingatlah! Penderitaan merupakan jalan Tuhan untuk menegur dan mengoreksi, untuk membimbing dan mendidik kita menuju kematangan dan kedewasaan panggilan, menuju kesempurnaan dan keselamatan hidup

Bagi orang yang mencintai dan mengikuti Tuhan, kegembiraan dan penderitaan dapat hadir bersama dalam jiwa dan dalam hidupnya

Dengan demikian, muara akhir dari pendidikan Tuhan melalui jalan salib atau penderitaan selalu merupakan kesembuhan dan keselamatan.

Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkantetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian (2 Kor 7:10)

Solidaritas Tuhan Yesus dalam penderitaan manusia, yaitu mengembalikan makna hidupnya di dunia, makna yang sebagian besar telah hilang akibat dosa (penghidupan yang mulia dan bermartabat).

Setiap orang juga dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Dalam solidaritasnya dengan Tuhan, manusia mengalami dua dimensi kehidupan Kristus: kegembiraan dan kesusahan, kemuliaan dan kehinaan, dan akhirnya kehidupan dan kematian, manusia akan mencapai keagungan, martabat, dan nilai dirinya sebagai citra Allah. 

Solidaritas dan partisipasi manusia dalam penderitaan dan salib tidak hanya terjadi dalam relasi dengan Kristus. Namun, kita juga mesti solider dengan orang-orang lain dan mengambil bagian dalam penderitaan dan salib hidup mereka. 

Dasar dari partisipasi horisontal ini adalah keanggotaan kita dalam Gereja sebagai Tubuh Kristus sendiri (1 Kor 12:27; Rm 12:4-5; 1Kor 12:26). 

Sebagai anggota dari Tubuh Kristus, setiap kita berbeda-beda satu dari yang lain, baik dalam kelebihan maupun kekurangan. 

Perbedaan ini bertujuan agar kita saling melengkapi dan saling menolong untuk memenuhi hukum Kristus (Rm 12:15-16; 1 Yoh 3:17; Ef 4:28; 2 Kor 8:14-15; Gal 6:2).

Untuk dapat menanggung penderitaan bagi kepentingan dan keselamatan bersama, kita perlu memiliki sikap bela rasa terhadap orang lain. Sikap "bela rasa" tidak sama dengan "rasa kasihan". 

Rasa kasihan mengandaikan ada jarak, bahkan sikap merendahkan. Misalnya memberikan uang kepada pengemis, tetapi tidak melihat matanya, tidak berbicara dengan dia. 

Bela rasa berarti menjadi dekat dengan orang yang menderita, memberikan seluruh hatinya untuk orang lain, juga tidak sayang untuk memberikan sarana-sarana material dan siap untuk terluka.

Penderitaan hadir di dunia untuk mempertalikan kasihuntuk melahirkan karya-karya kasih terhadap sesamauntuk mengubah seluruh peradaban manusia menjadi suatu peradaban kasih (Santo Yohanes Paulus II)

Kebangkitan tidak dapat dipisahkan dari kematian. Kebangkitan dan kematian selalu merupakan sebuah mata uang logam dengan kedua sisi yang berbeda, namun saling mengandaikan, saling menentukan dan saling menyempurnakan. 

Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan; tanpa kebangkitan, sia-sialah kematian. Dengan kebangkitan, kematian tidak menjadi sia-sia, tetapi amat bernilai atau bermakna bagi munculnya suatu kehidupan baru (Yoh 12:24). 

Dengan kebenaran ini 

1. Salib, penderitaan, dan kematian merupakan "benih" kehidupan baru yang siap bertumbuh dan berkembang, siap bertunas dan berbuah bagi manusia. 

2. Kehidupan kita sebagai pengikut Kristus selalu berwajah ganda: antara susah dan senang, suka dan duka, untung dan malang, sedih dan gembira, jatuh dan bangun, turun dan naik, sakit dan sehat, mati dan hidup atau mati dan bangkit (Bdk. Pkh 3:1-8). 

Dengan melihat warna atau kondisi hidup yang silih berganti ini, hendaklah kita jangan terlalu kecewa, putus asa atau putus harapan, apabila kita mengalami kegagalan, persoalan atau krisis hidup. 

Konkretnya, kalau kita gagal dalam ujian, janganlah kita gelisah sampai "makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, komunikasi menjadi beku, senyum menjadi hambar. Akibatnya her-ujian jumlahnya terus bertambah. 

Sebaliknya juga, ketika kita menemukan atau mengalami kesuksesan, keuntungan, atau prestasi yang gemilang, hendaknya kita tidak menjadi orang yang lupa daratan atau lupa diri. 

Misalnya, nilai ujian kita dalam semester sekarang ini 9 (sembilan), lalu karena kita lupa diri, kita sombong dan angkuh serta tidak belajar lagi, nilai kita pada semester berikutnya turun menjadi 5 (lima).

Bertobat berarti selalu bersiap siaga menanti kedatangan Tuhan yang menyelamatkansehingga manusia pantas dan layak untuk hidup dan tinggal di dalam Kerajaan Allah, Kerajaan Tuhan sendiri.

Pada tingkat penyesalan, orang yang sudah jatuh biasanya merasa amat sedih dan kecewa, merasa tertekan dan stres, merasa malu dengan dirinya dan orang lain, merasa jijik dan malu dengan dosa yang dilakukannya, merasa dirinya hina dan tidak berarti di mata Tuhan dan sesama. 

Dalam ketakutan ini, manusia tidak melihat "titik terang" kehidupan. Yang ada dalam hati dan pikiran manusia dan yang ada di depan mata hanya bayang-bayang gelap, suram, muram dan hanya bayang-bayang maut

Hal ini disebut "Ketakutan patologis", ketakutan sebelum kebangkitan, ketakutan negatif yang merusak, membelenggu atau menghambat perkembangan atau kemajuan hidup manusia

Orang yang berjiwa patologis merasa biasa-biasa saja dengan kegagalan atau kejatuhannya. Kalau pun ia merasa sedih atau kecewa, ia juga tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi kegagalannya. Ia menyerah atau bersikap pasrah pada kegagalan atau kejatuhannya. Ia tidak mempunyai ambisi yang sehat untuk berjuang dan bangkit lagi dari kejatuhan dan kegagalannya. 

Orang yang menghayati spiritual kebangkitan tidak mengenal putus asa. Ia tidak merasa kecewa atau puas sesaat, tetapi ia selalu memiliki harapan hidup yang besar untuk maju terus di tengah kesulitan dan tantangan hidup.

Ketakutan spiritual (ketakutan sesudah kebangkitan, suatu ketakutan religius atau ketakutan suci) merupakan ketakutan yang lahir dari perasaan cinta dan tanggung jawab atas kehidupan

Dalam konteks kebangkitan, ketakutan spiritual berarti kemauan untuk bangkit dan hidup sekaligus kemauan untuk tetap bangkit dan tetap hidup

Dalam keseharian hidup, ketakutan spiritual ini amat diperlukan. Sebab, sebagai manusia yang rapuh, kita seringkali mengalami jatuh bangun atau pasang surut. 

Orang yang memiliki ketakutan spiritual akan berusaha bangun lagi kalau ia sudah jatuh, ia tidak putus asa atau kecewa, ia akan bertobat dan mengubah diri, membarui sikap dan tingkah laku yang membuat ia jatuh atau gagal

Pada orang seperti ini, biasanya ada satu langkah yang amat penting dalam proses pertobatannya yaitu penyesalan sebagai "kesedihan jiwa dan kejijikan terhadap dosa yang telah dilakukan", dihubungkan dengan niat, mulai sekarang tidak berdosa lagi (KGK 1451).

Bangkitlah dan angkatlah muka, sebab penyelamatmu sudah dekat (Luk 21:28).

Untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus meresmikan Kerajaan Allah di dunia (LG 3). Dalam dunia, khususnya dalam Gereja, Kerajaan Allah menjadi "tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia" (LG 1). 

Wujud paling nyata dari Kerajaan Allah seperti ini adalah komunitas hidup bersama, baik dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam panggilan religius

Dalam arti ini, spiritual pertobatan bagi manusia berarti sebuah adventus di dalam komunitas hidup bersama. Adventus bisa mengacu pada Tuhan, tetapi juga bisa mengacu pada manusia. 

Dalam acuan pada Tuhan, adventus berarti kedatangan Tuhan kepada kita. Dalam adventus kita menantikan Tuhan yang datang kepada kita untuk menjumpai dan mengunjungi kita, untuk menghampiri dan mendekati kita dalam suasana hidup bersama, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam komunitas hidup religius. Namun, dalam acuan pada manusia, adventus berarti kedatangan manusia kepada Tuhan

Dalam nuansa ini, Spiritual tobat berarti bukan lagi terutama Tuhan yang datang kepada kita, tetapi kitalah yang wajib dan mewajibkan diri untuk datang kepada Tuhan

Dalam pertobatan, Tuhan memang menerima dan menyambut kita, tetapi kita juga mesti menerima dan menyambut Tuhan dalam kebersamaan hidup kita.

Dengan masuknya Tuhan ke dalam hati kita, kita merasa aman dan tentram dalam hidup. Hati kita menjadi damai, pikiran kita menjadi tenang, kehendak kita menjadi kuat dan mantap, perasaan kita menjadi lega

Alasannya jelas, yaitu karena dengan masuknya Tuhan ke dalam hati kita serta beristirahat di dalamnya, bukan lagi kita yang hidup, melainkan Dia yang hidup di dalam kita (Gal 2:20)

Dalam masa adventus bukan hanya Tuhan yang aktif dan giat untuk mendatangi kitatetapi juga kita sendiri aktif dan giat untuk mendatangi Tuhan (Bdk. Luk 24:13-35).

Dalam dunia ini ada orang yang mengangkat diri atau diangkat oleh orang lain untuk menjadi raja atas dirinya sendiri dan atas orang lain. 

Selain itu, ada juga orang yang melihat 'raja kehidupannya' dan menilai kebahagiaan hidupnya dalam banyak hal duniawi, misalnya "harta dan kehormatan", kekayaan dan kekuasaan", "ketenaran dan kekuasaan", karya manusia ... seperti ilmu pengetahuan, teknik dan kesenian (KGK 1723). 

Semua orang bertekuk lutut di depan kekayaan: Manusia, kebanyakan orang menyembahnya secara naluriah. Mereka mengukur kebahagiaan menurut kekayaan, dan menurut kekayaan mereka mengukur juga nilai seseorang. 

Semuanya itu berasal dari keyakinan bahwa dengan kekayaan orang bisa beroleh segala sesuatu. Kekayaan adalah salah satu berhala dewasa ini, dan selanjutnya kesohoran ... kemasyuran, kenyataan bahwa seorang dikenal dan disanjung dunia telah dianggap sebagai sesuatu hal yang baik dalam dirinya sendiri, suatu kebaikan tertinggi, satu objek untuk dihormati (John Henry Newman).

Tuhan Allah menganugerahkan segala kuasa dan harta kekayaan kepada manusiaKerajaan manusia yang bertumpuh pada harta kekayaan duniawi tidak mungkin bertahan lama, hartanya tidak kekal (Pkh 5:17-18; Ayb 15:29)

Dalam kerajaan dunia ada penindasan dan pemaksaan, tetapi dalam Kerajaan Allah ada kerelaan dan tawaran, ada dorongan dan persuasi

Dalam kerajaan dunia ada penguasaan, tetapi dalam Kerajaan Allah ada pelayanan yang bernafaskan kepatuhan dan ketaatan dan berisi sikap mendengarkan dan menerima apa yang baik dan menyelamatkan

Dalam kerajaan dunia, manusia ingin menjadi "Tuan" dan penguasa, tetapi dalam Kerajaan Allah manusia mau menjadi hamba dan pelayan, "hanya melakukan apa yang harus dilakukan" (Luk 17:10). 

Seorang hamba atau pelayan tidak menuntut dan memaksa. Ia hanya melakukan tugas kewajibannya dengan tekun dan rajin, setia dan penuh tanggung jawab. Ia mau berkorban bagi orang-orang lain dalam tugas pelayanannya.

Manusia dari zaman kita membutuhkan Kristus dan kata-kata keselamatan-Nya. Sesungguhnya hanya Tuhan dapat memberikan jawaban-jawaban  kepada kecemasan-kecemasan dan persoalan-persoalan dari zaman kita sekarang ini (Santo Yohanes Paulus II)

Roh Kudus-lah yang menolong kita untuk membiarkan Tuhan Allah sendiri meraja dalam hidup kita sehingga mampu mengubah hati dan pikiran karena Kerajaan Allah dan demi Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah berarti Allah sendiri menjadi satu-satunya Raja dalam kehidupan manusia. Kehadiran Allah sebagai Raja yang mulia dan perkasa dalam kehidupan, pekerjaan, dan perbuatan manusia bertujuan bukan pertama-tama untuk menghukum atau membalas, melainkan untuk menyelamatkan dan memberi perlindungan kepada manusia (Mzm 145:11-13; Yes 33:22). Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri (Sir 15:14; KGK 1730-1731).

Ciri-ciri Kerajaan Allah

Kerajaan Ilahi (Yoh 18:36; 3:31); 
Bermarkas di hati (Yoh 18:34); 
Jauh dari perlawanan, dari pembangkangan, dan dari pemberontakan (Yoh 18:36). 
Kerajaan-Nya tidak menghendaki kekerasan, melainkan hanya "kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Rm 14:17). 
Dalam Kerajaan-Nya tidak ada dorongan nafsu yang gelap dan rangsangan hati yang buta, yang ada hanyalah "keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (1 Tim 6:11).

Untuk dapat mewartakan Kristus yang bangkit kepada sesama, marilah kita mewartakan melalui kesaksian hidup kita, suatu kehidupan baru yang tidak lagi dikuasai oleh dosa yang menghancurkan, membinasakan dan mematikan. 

Rahasia Paskah mempunyai dua sisi:

Dengan kematian-Nya Kristus membebaskan kita dari dosa;
Dengan kebangkitan-Nya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah (KGK 654).

(Warta KPI TL No.109/V/2013 » Spiritualitas Pertobatan Pintu Masuk Kerajaan Allah, Mgr. Humbertus Leteng).

Senin, 30 Januari 2017

Spiritualitas pembebasan



Yesus hadir dan menghembuskan angin segar "reformasi sejati" dengan komunitas-Nya yang terbuka. Komunitas Yesus membongkar tembok-tembok pemisah dan sekat-sekat pemecah belah, serta membuka pintu lebar-lebar untuk menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya; terutama mereka yang tersingkir, sakit, menderita dan miskin. 

Komunitas kasih yang terbuka bagi siapa saja yang dibangun oleh Yesus Kristus dengan spiritual pembebasan-Nya itu secara nyata dapat kita baca dalam karakter para murid yang dipanggil secara khusus.


Simon Petrus


Seorang yang keras karena dia putra teroris, dia pernah menghunuskan pedangnya dan menetakkannya ke telinga kanan Malkhus (Yoh 18:10). 

Simon orang Zelot

Kata Zelot adalah nama kelompok nasionalis yang menganjurkan cara kekerasan untuk merebut kemerdekaan Palestina dari penjajahan Romawi. Gerakan Zelotisme merupakan salah satu gerakan radikal baik dalam azas hukum maupun keagamaan Yahudi. Mereka selalu bergerilya dan melancarkan "teror" politik untuk menuntut hak kemerdekaan penuh, sehingga beban-beban pajak yang mencekik leher rakyat dapat dihapuskan.

Yudas Iskariot

Kata Iskariot amat dekat dengan kelompok teror lain, yakni kelompok Sicarius. Kelompok ini melancarkan teror politik dengan pembunuh-pembunuhan yang mereka lakukan. Itulah sebabnya, dia kemudian kecewa terhadap Yesus yang gerakan-Nya tidak bersifat politis, melainkan gerakan religius. Wujud dari kekecewaannya adalah sikap tidak segan-segan menyerahkan Yesus untuk "dibunuh" oleh penguasa!

Matius si pemungut cukai

Pemungut cukai adalah orang yang bekerjasama dengan kelompok penjajah dalam menindas rakyat, khususnya dalam bidang pembayaran pajak yang sangat mencekik kehidupan orang kecil.

Bagi Yesus, apa pun nama kelompok itu, dan bagaimana pun latar belakang kelompok itu, tidaklah menjadi soal. Asal orang terbuka dan berkehendak baik untuk bergabung dengan komunitas kasih yang dirintis-Nya, semua diterima dengan baik dan dengan tangan terbuka. Jadi, kelompok Yesus adalah kelompok yang terbuka, merangkul dan mempersatukan.

Ciri komunitas Kristiani: bertekun dalam pengajaran para rasul (Kis 2:42); beroleh persekutuan seorang dengan yang lain karena hidup di dalam terang (1 Yoh 1:7); mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas (1 Ptr 1:22); mengusahakan yang baik, tidak membalas jahat dengan jahat (1 Tes 5:15); ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni (Ef 4:32); saling menyapa satu sama lain dalam kerendahan hati (1Ptr 5:5); memberi tumpangan dengan tidak bersungut-sungut (1 Ptr 4:9); sabar dan mengampuni (Kol 3:13); selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar (Ef 4:2); merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Ef 5:21); saling mengaku dosa dan saling mendoakan (Yak 5:16) dll.

Komunitas kasih adalah komunitas yang anggota-anggotanya satu dengan yang lain saling berbagi kasih seturut terang Injil

Para anggotanya mampu membawa segala permasalahan yang ada ke dalam hidup doa dan penyerahan kepada Allah sehingga memungkinkan manusia mengalami tindakan yang menyelamatkan dan mendamaikan kehidupan (sukacita di tengah penindasan, kebahagiaan dalam kekerasan, kemuliaan dalam keprihatinan dan penderitaan dalam kesepian). 

Doa menumbuhkan semangat hidup yang semakin terarah kepada Allah. Semangat hidup yang terarah kepada Allah memancarkan penghayatan iman, harapan dan kasih yang memerdekakan

Dalam perspektif iman, tidak ada yang mustahil bagi Allah dan bagi kita yang percaya. Doa yang mendasari setiap spiritualitas hidup kita membawa kita pada suatu jalan penuh misteri, yaitu misteri kemanusiaan dan misteri ke-Allah-an. Proses penghayatan hidup semacam inilah yang menjadi tuntutan kita dalam situasi kehidupan yang serba dilematis itu.

Setiap orang yang menghayati spiritual pembebasan akan mampu mendekati kaum miskin dan tertindas, bukan sebagai obyek kasih, melainkan sebagai subyek kasih.

Gereja mencoba mewarisi ciri dan semangat dasar yang ada dalam sikap Yesus, terutama dalam konteks penebusan dan keselamatan. 

Gereja mengembangkan keterbukaan pula bagi kelompok-kelompok lain yang berkehendak baik untuk membangun suatu komunitas yang memancarkan kasih di dalam kehidupan ini. 

Bahkan Gereja mengatakan "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin, dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. 

Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya (GS 1).

Mengenal dan mengalami kasih Allah, menerima anugerah belas kasihNya adalah sumber terdalam dari sukacita dan kegembiraan pribadi-pribadi yang hidup berkat Sabda Allah, berkat pewartaan Injil. 

Pewartaan Injil merupakan pewartaan pengalaman akan Allah, suatu pengalaman yang hidup akan kasih Allah. Kasih itu mengubah kehidupan manusia, membuat manusia lebih sepenuhnya manusiawi, sebagai suatu komunitas yang hidup dan berdayaguna. 

Hanya dalam komunitas yang hidup dan berdayaguna berkat kasih itulah, iman dapat dihidupi dalam kasih, dirayakan dan diperdalam

Komunitas kasih yang kokoh menciptakan solidaritas antarmanusia dan menjadi tanda pembebasan di dalam Kristus.

Spiritualitas Kristiani adalah spiritual pembebasan, yang berakar dalam pengalaman akan Yesus Kristus (menjadi miskin dan demi kaum miskin) berkat daya kekuatan Roh Kudus untuk mengarahkan hidup kepada Bapa.

Sekalipun Ia kaya,Yesus Kristus telah menjadi miskin karena manusia, supaya manusia menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9).

Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Allah (Mrk 10:25).

Kebijaksanaan unta ini terjadi dengan "melepaskan" diri dari segala beban "harta" yang ada di punggungnya

Jadi, setiap orang yang mau mengikut Kristus harus mengingkari dan menolak segala bentuk manifestasi Mamon (uang, segala hal yang menjamin dan menjanjikan keamanan, keberhasilan, kekuasaan dan harga diri). Mamon adalah kekuatan halus yang bekerja dalam diri manusia, suatu naluri keserakahan yang menyebabkan manusia menjadi kaya yang bodoh (Luk 12:13-21).

Arah dan jalan menuju Allah hanya dapat ditempuh kalau mau "melepaskan" diri dari beban-beban harta-kekayaan (baik secara material-finansial, maupun secara spiritual). 

Perjuangan menjadi miskin bukan perkara yang gampang dilaksanakan. Untuk melaksanakannya, orang kerap kali harus mengalami krisis iman (Mat 26:39, 42). Jika kita menyerahkan segala perkara pada kehendak-Nya maka Dia akan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk memberi kekuatan pada kita (Luk 22:42).

Spiritualitas Kristiani sebagai perjuangan demi kaum miskin sesungguhnya berarti langkah bagi setiap orang yang kaya dalam menjawab panggilan untuk menjadi miskin demi kaum miskin, supaya tidak ada lagi si miskin. 

Ini tentu tidak berarti bahwa kita akan berame-rame menjadi kere, melainkan kita bersama-sama menumbuhkan semangat solidaritas, kepekaan, dan bela rasa, sehingga mereka yang berkekurangan (entah itu kekurangan secara material, psikologis, spiritual, maupun sosial-kultural) dapat terangkat martabatnya.

Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan selalu ada dari mereka menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kis 2:44-45)

Dengan mengikuti Yesus dan menempuh jalan menurut Roh Kudus, orang harus mengalami perjumpaan dengan Allah dalam kaum miskin (Mat 25:35-36). Tanpa perjumpaan dengan Allah, tidak akan terjadi perjumpaan yang benar dengan kaum miskin.

(Sumber: Warta KPI TL No.107/III/2013 » Spiritualitas Pembebasan Apaan Sih?, Aloys Budi Purnomo, Pr.)

Senin, 15 Agustus 2016

Spiritualitas damai





Apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini? Kekuasaan, jabatan, uang, pengaruh, ketenaran, hidup enak atau... apa lagi? Ternyata setiap orang merindukan kedamaian batin, kasih sayang yang tulus, dan kebahagian sejati


Kedamaian hati tidak mengalir dari perasaan yang serba nyaman dan enak (tanpa soal, tanpa konflik, tanpa masalah dan tanpa keributan). 



Misalnya: karena badan yang sehat atau terpenuhinya berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Melainkan kedamaian batin yang merupakan sukacita yang mengalir dari Allah sendiri (Yoh 14:27; 2 Kor 1:3-4); merupakan buah karya Roh Kudus sebagai daya kekuatan Allah yang bekerja di dalam diri kita; yang bersumber pada sikap hati dan tindakan kita yang lepas bebas. Sikap yang mau menyerahkan diri kita secara total kepada Tuhan, memberikan ruang gerak yang sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya kepada Tuhan di dalam hati dan diri kita.



Damai yang diberikan oleh dunia hanyalah damai yang bersifat sementara, damai yang mudah hilang lagi. Karena lebih merupakan hasil usaha atau prestasi sendiri dan sukanya menciptakan korban pada sesama

Saat memasuki masa pacaran, pasangan tampil anggun, menyenangkan dan menarik. Saat kedatangan anak yang pertama lalu kedua membahagiakan pasangan keluarga muda. 

Akan tetapi ketika uang gaji mereka berdua tidak cukup, terasa betapa tidak mudahnya hidup berkeluarga. Masalah demi masalah timbul bertubi-tubi, entah hubungan dengan keluarga besar, dengan anak dan pasangan hidup, dengan penyakit, dengan masyrakat sekitarnya dst - kini terasa menyebalkan dan membosankan.

Saat memasuki masa postulat, novisiat, hati seorang frater, bruder atau suster sangatlah berkobar dan penuh semangat. Bayangan hidup suci, berjalan kayak malaikat sorgawi, memenuhi kalbunya setiap hari. 

Namun, saat sudah menjadi imam, bruder dan suster yang sudah profes ... muncullah litani serba salah.

Demikianlah hari-hari yang harus kita jalani. Perasaan bahagia bergantian timbul tenggelam dengan perasaan sedih, kecewa dan jengkel. Entah apa pun status dan profesi kita, kedamaian hati tidak serta merta datang.

Ciri-ciri orang yang mengalami damai dalam hidupnya
- Menghadapinya dengan tenang dan sederhana. 
- Tidak menggunakan macam-macam cara untuk membela diri, apalagi ganti menyerang mereka yang menuduh. 
- Menyerahkan diri seutuhnya pada Allah dengan kedamaian, sehingga ia menemukan kekuatan untuk dapat mengampuni orang yang menuduhnya, bahkan akhirnya berdamai dengannya, mempertobatkannya dan menghiburnya. 

Orang-orang yang bertobat secara mendadak atau melalui peristiwa besar harus mengalami proses pemurnian (kadang menyakitkan dan masanya panjang, berlangsung seumur hidup); agar siap menerima karunia kedamaian. Doa menjadi kekuatan dan kunci utama untuk masuk ke dalam kedamaian batin bersama Tuhan.

Marilah kita belajar dari Paulus (Kis 9:1-2; 1 Tim 1:12-17)

Paulus sebelum bertobat meyakini bahwa jalan kedamaian dan kebahagian hidup terletak pada jalan hidup yang memegang dan melaksanakan hukum Taurat secara konsekuen - secara halus dan tidak disadari dia melakukan dosa besar dengan menempatkan segala usaha ketekunan dan ketelitiannya dalam menempati hukum Taurat sebagai jaminan keselamatan Tuhan. 

Saat menyaksikan sekelompok orang Yahudi yang menjadi pengikut Yesus Kristus memiliki cara hidup dan keyakinan yang berbeda, Saulus berkobar-kobar hatinya untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan 

» dia mengira dengan melenyapkan orang-orang Kristen dan pahamnya, kebenaran akan bisa ditegakkan dan damai akan bertumbuh (damai yang semu).

Sesudah bertobat, Paulus menyadari bahwa Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa; semua itu dia lakukan tanpa pengetahuan/di luar iman (1 Tim 1:12-16).

Pengenalan akan Kristus menjadi kunci utama seluruh perubahan hidup Saulus menjadi Paulus (Gal 1:15-16; 1 Kor 15:8-9; Flp 3:8) – memiliki cara pandang baru; rela melepaskan dan mengosongkan apa pun yang dianggap berharga selama ini demi dan karena Tuhan Yesus Kristus (Gal 2:19-20).

Paulus harus pulang ke Tarsus, karena dianggap oleh jemaat Yerusalem sebagai orang yang menimbulkan persoalan dengan tokoh-tokoh Yahudi. 

Dia mengalami hidup penuh kesepian yang panjang (Kis 9:29-31; 26:16-17). Tentunya saat itu dia banyak refleksi hidupnya (pewartaannya berkobar-kobar namun dengan perspektif jangka pendek; pewartaan Injil hanyalah karya Tuhan, dia hanya pelayan/kawan sekerja Allah – 1 Kor 3:5-7), banyak membaca Kitab Suci dan terus berdoa. 

Itulah masa sepuluh tahun sesudah pertobatannya, merupakan masa-masa gelap, tidak enak, penuh tantangan dan pergulatan, keraguan dan pertanyaan – merupakan masa pemurnian agar kembali ke makna pokok panggilan dan perutusannya.

Setelah ditempa oleh berbagai cobaan, penderitaan dan kesulitan yang luar biasa, Paulus menjadi seorang pribadi yang istimewa dalam kehidupan iman/rohaninya. Dia memancarkan kedamaian batin yang unggul, kaya dan mendalam sehingga mengalami transfigurasi Tuhan Yesus Kristus sendiri (2 Kor 3:18): 

1. Adanya sukacita batin dan kedamaian yang besar (2 Kor 7:4). 

2. Adanya kemampuan untuk bersyukur (1 Kor 1:4; Flp 1:3). 

3. Adanya sikap pujian (Ef 1:3). 

4. Kemampuan untuk setiap kali memulai lagi tanpa kenal lelah. 

5. Berani tampil dan mengambil sikap yang terkadang berlawanan dengan keyakinan umum (Bdk. Gal 2:5, 13).

(Sumber: (Sumber: Warta KPI TL No. 56/XII/2008 » Spiritualitas Damai, E. Martasudjita, Pr.)