Tampilkan postingan dengan label *Sakramen dan Sakramentali*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Sakramen dan Sakramentali*. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2020

Misa pemberkatan hewan



Masa Liturgi Penciptaan (Musim Penciptaan) yang dimulai sejak 1 September dan berpuncak pada penerjemahan Hari St. Fransiskus Assisi pada 4 Oktober, orang kudus pelindung ekologi.

Paskalis, Ordo Ketiga Fransiskan Sekular (OFS) mengulas St Paskalis di Cempaka Putih, dan KPKC KPK-Indonesia. Terlihat banyak orang yang sangat antusias mengikuti perayaan tahunan ini.

Ursula Maria Widya Astuti, ketua Seksi Lingkungan Hidup paroki Paskalis, mengungkapkan bahwa Misa pemberkatan hewan pada perayaan puncak Masa Liturgi Penciptaan memungkinkan orang untuk menimba semangat hidup St. Fransiskus Assisi yang berusaha menyapa dan merangkul setiap pembuatan ciptaan sebagai pengikut dan saudara.

Selain itu, menurut Widy, begitu ia akrab disapa, Perayaan ini juga mengingatkan manusia yang serakah terhadap bumi, Ibu Pertiwi. Perayaan ini merupakan doa dan harapan Gereja Katolik untuk bumi, Ibu Pertiwi yang 'menangis' karena melakukan eksploitatif manusia yang semena-mena.

"Dengan ini, kita mau mendorong dan mengajak orang untuk semakin peduli, menerima dan memperbaiki lingkungan dan menjadi sadar apa yang terjadi jauh di luar sana tetapi menjadi bagian dari diri kita yang membentuk ekosistem kehidupan bersama," pungkasnya.

Kebiasaan yang harus dipelihara: agar semakin menumbuhkan Iman umat. Nixon Tamba, anggota Ordo Fransiskan Sekular (OFS) menyatakan bahwa acara ini telah diadakan pada setiap tahun yang membutuhkan partisipasi aktif umat agar dapat juga mempelajari gereja yang luas.

“Perayaan ini telah dirayakan sejak tahun 2012 hingga sekarang. Melalui perayaan ini, umat berunding akan membahas Gereja, baik itu soal iman dan moral yang berkaitan dengan manusia, tetapi juga menyangkut kepedulian di lingkungan dan segenap ciptaan. Puji Tuhan, animo umat sangat positif, ”kesannya.

Hal tersebut diamini oleh RP. Jimmy Hendrik Tnomat OFM, pastor rekan, paroki St. Paskalis. Menurut Jimmy, perayaan ini menjadi sarana untuk menggugah kecintaan umat terhadap ciptaan.

“Perayaan ini menggugah kecintaan orang terhadap ciptaan yang ada. Pesertanya tidak hanya berasal dari St. Paskalis karena umat dari paroki tetangga, seperti Katedral, Pulo Mas, dan Kelapa Gading juga hadir. Dua tahun lalu, kami mengadakan Misa pemberkatan tanaman. Mereka membawa beragam jenis tanaman yang indah, ”jelasnya.

Selain itu menurut Pastor Jimmy, perayaan ini juga kerinduan umat terhadap roh Fransiskan. “Umat selalu bertanya,“ Kapan akan diadakan lagi Misa (yang peduli Lingkungan, merah) semacam ini? Ternyata ada yang antusias dan berpartisipasi dari umat untuk mengenal dan menghidupi nilai-nilai spirit Fransiskan. Maka, kita selalu berhasil pada hari Minggu setelah tanggal 4 Oktober agar lebih banyak umat yang dapat terlibat, ”tambahnya.

Pendeta asal Kefamenanu juga berharap agar perayaan ini dapat mendorong iman umat. “Semoga perayaan ini tidak hanya berhenti pada ritual tetapi sekaligus bisa mewujudkan iman orang akan Firman Allah yang hidup dan hadir dalam alam ciptaan. Selain itu, semoga juga menggerakkan orang untuk menjadi lawan Firman yang terlibat untuk merawat dan menyelamatkan ciptaan yang ada. Semangat persaudaraan St. Fransiskus Assisi ikut memenangkan dalam diri umat dan niscaya berbuah dalam kesaksian hidup beriman di masyarakat, ”harapnya.

Perayaan ini menjawab kerinduan umat. Natasya, salah seorang peserta mengungkapkan kegembiraannya atas perayaan ini.

“Sangat bersemangat ya karena berkat hewan seperti ini jarang sekali. Yang pasti bersyukur banget, ternyata bukan cuman kita tapi piaraan kita juga terima kasih dari Tuhan. Saya membawa piaraan saya, Eliot dan Elios. Kemudian ngajak temen dan piaraannya juga, Mika dan Kenji (nama piaraan anjing, red). Selain di rumah, mereka udah kita anggap bagian dari keluarga kita. Harapannya, mengajak orang-orang lebih sadar dan peduli sama mengumpulkan hidup lainnya, ”paparnya.

“Terus, bicarakan banget ya karena bisa ngajak temen lain dari lintas paroki. Terimakasih untuk panitia dan Gereja St. Paskalis yang ngadain acara ini. Semoga setiap tahun acara ini selalu ada dan makin mengundang orang agar menjadi kesaksian dalam hidup kita bersama, ”ungkapnya.

Misa pemberkatan hewan di Gereja St. Paskalis dilaksanakan terus sejak tahun 2012. Pada tahun 2015, berhubung Gereja sedang disetujui dengan konsep pembangunan gereja hijau, panitia menggantinya dengan Misa pemberkatan tanaman dan lomba Foto: “Aku dan Pet Kesayanganku.” Lalu , tradisi Misa pemberkatan hewan ini berlanjut hingga tahun 2018 ini.

Kita semua adalah saudara dari ciptaan dan rekan kerja Allah

Dalam khotbahnya pastor Kepala Paroki St. Paskalis, RP. Agung Suryanto OFM, menyinggung tentang Misa pemberkatan hewan dan alam ciptaan sebagai pengakuan bahwa kita adalah saudara dari segenap ciptaan.

Dengan nada jenaka, dia berkomentar, “Itu bukti penghormatan kita pada hewan dan sekaligus tanaman karena mereka kita panggil sebagai 'saudara tua'. Apakah dalam tatanan ciptaan, hewan dan tanaman diciptakan lebih dulu dari manusia? ”Ungkapnya disambut tawa umat.

Pastor Agung, menambahkan ajakan untuk hidup bersaudara dengan menjalankan pertobatan ekologis.

“Mengutip Paus Fransiskus, kita semua harus hidup dalam pertobatan ekologis yang terus-menerus. Tanpa sadar, ternyata dosa yang kita perbuat selama ini turut berdampak buruk pada ibu pertiwi, rumah kita bersama. Jangan sampai lupa akan tugas utama kita sebagai rekan kerja Allah yang ikut membentuk keutuhan alam ciptaan yang adalah saudara dan saudari kita,” tutupnya.

Saat ritus pemberkatan hewan dipegang setelah berkat penutup di halaman Gereja.

Perlindungan terhadap hewan yang dilindungi

Panitia juga melibatkan tim dokter hewan dari Glorius Z Pet dalam acara ini. Drh. Arsentina Panggabean, MAP mengungkapkan kegembiraannya karena menjadi pengalaman setuju bisa dipahami di Gereja St. Paskalis.

“Bagus banget ya. Gereja Katolik memang luar biasa karena tidak hanya melayani manusia semua makhluk hidup, tetapi juga menciptakan hewan-hewan ini. Saya seorang Kristen tetapi bukan Katolik. Di Gereja saya belum ada acara seperti ini. Saya menghargai benar acara ini. Karena apapun yang menjadi ciptaan Tuhan harus kita jaga,” ungkapnya.

Drh. Arsentina berharap agar Gereja turut mendukung dalam mendukung hewan yang dilindungi.

“Lebih bagus lagi, pihak Gereja ikut menyuarakannya, bahkan ikut serta memberkati alam ciptaan agar hewan-hewan yang lalu ini juga lebih dekat dengan manusia. Maka, yang perlu kita waspadai adalah orang yang membawa hewan. Kita ganti agar orang tidak melepaskan hewan yang dilindungi, bahkan meminta untuk melepaskannya ke habitat asalnya, ”harapnya.

Selain itu, ia juga mengharapkan perlunya kerjasama antara Gereja dengan Pemerintah.

“Pemerintah juga memiliki agenda Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional di bulan November. Acara seperti ini meminta tolong kerja sama sambil membahas kepada Pemerintah Gereja juga memiliki kepedulian terhadap Lingkungan Hidup, ”ungkapnya. 

(Sumber: jpicofmindonesia.com)

Jumat, 26 April 2019

Dasar 7 Sakramen dalam Gereja Katolik

Mungkin banyak orang Katolik yang bertanya tentang dasar-dasar sakramen dalam Gereja Katolik. 

Berikut dasar-dasar sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik dan penjabarannya dalam Katekismus Gereja Katolik.

Dasar Kitab Suci
1. Sakramen Baptis (Mat. 28:18-20).
2. Sakramen Krisma (Mat. 3:13-17).
3. Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Yak. 5:12-20).
4. Pernikahan (Kej. 2:24-25).
5. Imamat (mat. 19:12).
6. Ekaristi (Luk 22:7-23).
7. Pengakuan Dosa (Yoh. 20:21-23).

Penjabaran Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK)

1. Sakramen Pembaptisan (KGK 1213-1284)

Akibat dosa asal, kita lahir di dunia dengan kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23), sehingga kita tidak mungkin bersekutu dengan Allah. Yesus telah turun ke dunia untuk membawa manusia kembali ke pangkuan Allah. Yesus mengatakan bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5), yaitu di dalam Pembaptisan, di mana seseorang dilahirkan kembali secara spiritual. Oleh kelahiran baru di dalam Pembaptisan ini kita diselamatkan (lih. 1Pet 3:21), karena di dalam Pembaptisan kita dipersatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia (Rom 6:5).

Jadi Sakramen Pembaptisan mendatangkan dua macam berkat, yaitu penghapusan dosa dan pencurahan Roh Kudus beserta karuniaNya ke dalam jiwa kita, yang memampukan kita untuk hidup baru (Acts 2:38). Oleh Pembaptisan, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan digabungkan ke dalam Gereja yang menjadikan kita anggota Tubuh Kristus.

2. Sakramen Ekaristi (KGK 1322- 1419)

Kristus mengasihi Gereja-Nya tanpa batas dengan menganugerahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri kepada setiap anggota keluargaNya di dalam perjamuan Ekaristi. Ekaristi merupakan penyempurnaan dari perjamuan Paska Perjanjian Lama, yang ditandai dengan kurban anak domba yang membebaskan orang-orang Israel dari maut. Dalam Ekaristi, Kristuslah, Anak Domba Allah yang menjadi kurban untuk menghapus dosa-dosa kita, dan karena itu kita memasuki Perjanjian Baru yang membebaskan kita dari kematian kekal.

Yesus sendiri berkata, “Jika kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, engkau tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53). Maka, dengan menyambut Ekaristi, kita melaksanakan ajaran Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal. Sakramen ini ditetapkan oleh Yesus sendiri pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya, ketika Ia berkata kepada para rasulNya, “Ambillah, makanlah, inilah TubuhKu… Minumlah…inilah darahKu yang ditumpahkan bagiMu.. ..perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19-29, Mat 26: 28, Mrk 14:22-24).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus untuk mendatangkan buah-buahnya, yaitu penebusan dan pengampunan dosa. Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian, sehingga kurbanNya dapat dihadirkan kembali, tanpa berarti diulangi.

Melalui perkataan imam yang dikenal sebagai konsekrasi, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Karena itu, kita harus memeriksa diri sebelum menyambut Ekaristi, sebab “barangsiapa dengan tidak layak makan roti dan minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan…dan barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29). Dari pengajaran Rasul Paulus ini, kita mengetahui bahwa Kristus sungguh hadir di dalam Ekaristi. Yesus memakai segala cara untuk menyatakan bahwa Ia mau tinggal bersama kita, untuk menyertai dan menguduskan kita, karena sungguh besarlah kasihNya kepada kita sebagai anggota Gereja-Nya.

3. Sakramen Penguatan (KGK 1285-1321)

Tuhan memperkuat jiwa kita juga dengan Sakramen Penguatan. Hal ini kita lihat dari kisah para rasul yang, walaupun telah menerima rahmat Tuhan, mereka dikuatkan secara istimewa pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus turun atas mereka. Atas karunia Roh Kudus ini para rasul dapat dengan berani mengabarkan Injil dan melaksanakan misi yang Yesus percayakan kepada mereka. Karunia Roh Kudus ini diturunkan melalui penumpangan tangan para rasul (Kis 8:14-17) yang kemudian juga dilanjutkan oleh para penerus mereka (para uskup) kepada Gereja-Nya. Melalui Sakramen Penguatan inilah kita dikuatkan dalam iman untuk menghadapi tantangan hidup.

4. Sakramen Pengakuan/ Tobat (KGK 1422-1498)

Allah mengetahui bahwa di dalam perjalanan iman, kita dapat jatuh di dalam dosa. Maka Ia menganugerahkan Sakramen Pengakuan/ Tobat pada kita, karena Allah selalu siap sedia untuk mengangkat kita dan mengembalikan kita ke dalam persekutuan dengan Dia. Di dalam sakramen ini kita mengakukan dosa kita di hadapan imam, karena Yesus telah memberi kuasa kepada para imamNya untuk melepaskan umatNya dari dosa. Setelah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada para rasulNya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23). Melalui Sakramen Tobat ini kita menerima pengampunan dosa dari Tuhan dan juga rahmatNya, yang membantu kita untuk menolak godaan dosa di waktu yang akan datang.

5. Sakramen Perkawinan (KGK 1601-1666)

Sebagian besar orang dipanggil untuk kehidupan berumah tangga. Melalui Sakramen Perkawinan, Tuhan memberikan rahmat yang khusus kepada pasangan yang menikah untuk menghadapi bermacam tantangan yang mungkin timbul, terutama sehubungan dengan membesarkan anak-anak dan mendidik mereka untuk menjadi para pengikut Kristus yang sejati.

Dalam sakramen Perkawinan terdapat tiga pihak yang dilibatkan, yaitu mempelai pria, mempelai wanita dan Allah sendiri. Ketika kedua mempelai menerimakan sakramen Perkawinan, Tuhan berada di tengah mereka, menjadi saksi dan memberkati mereka. Allah menjadi saksi melalui perantaraan imam, atau diakon, yang berdiri sebagai saksi dari pihak Gereja.

Sakramen Perkawinan adalah kesatuan kudus antara suami dan istri yang menjadi tanda yang hidup tentang hubungan Kristus dengan GerejaNya (Ef 2:21-33). Karenanya, perkawinan sakramental Katolik adalah sesuatu yang tetap dan tak terceraikan, kecuali oleh maut (Mrk 10:1-2, Rom 7:2-3, 1Kor 7:10-11).

6. Sakramen Tahbisan (KGK 1536- 1600)

Pada zaman Perjanjian Lama, meskipun bangsa Israel telah dikatakan sebagai ‘kerajaan imam dan bangsa yang kudus’ (Kel 19:6), Allah tetap memanggil para pria tertentu untuk menjalankan tugas sebagai imam (Kel 19:22). Hal yang sama terjadi di dalam Perjanjian Baru, sebab walaupun semua orang Kristen dikatakan sebagai ‘imamat yang rajani’ (1Pet2:9), namunYesus memanggil secara khusus beberapa orang pria untuk menjalankan tugas pelayanan sebagai imam. Melalui Tahbisan ini, para imam diangkat untuk menjadi pelayan Gereja untuk menjalankan tugas-tugas Kristus, yaitu sebagai imam untuk menguduskan, nabi untuk mengajar dan raja untuk memimpin dan melayani umat-Nya. Di atas semua ini tugas yang terpenting adalah mengabarkan Injil dan menyampaikan sakramen-sakramen.

7. Sakramen Pengurapan Orang Sakit (KGK 1499- 1532)

Alkitab mengatakan agar jika kita sakit, maka baiklah kita memanggil penatua Gereja untuk mendoakan dan mengurapi kita dengan minyak di dalam nama Tuhan. Dan doa yang didoakan dengan iman ini akan menyelamatkan kita yang sakit dan mengampuni dosa kita (Yak 5:14-15). Oleh karena itu, sakramen Urapan orang sakit ini tidak hanya dimaksudkan untuk menguatkan kita di waktu sakit, tetapi juga untuk membersihkan jiwa kita dari dosa dan mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Tuhan.

Dengan demikian kiranya kita semakin menyadari bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik mempunyai dasar dari Alkitab.

(Sumber: jalapress.com)

Minggu, 04 September 2016

Sakramentali



Sakramentalia adalah kegiatan atau barang, yang berkaitan dengan sakramen (mirip, menunjang, menyiapkan, atau melanjutkan sakramen), yang digunakan Gereja untuk memohon hal-hal khusus yang bermanfaat untuk kehidupan jemaat.

Ada tiga jenis Sakramentalia: Upacara Pemberkatan (benedictio, misalnya: rumah, sawah ladang, anak dll.); Pengikhraran Kaul-Kaul (consecratio); Pengusiran Setan (exorcitio).

(Sumber: Warta KPI TL No. 54/X/2008 » Puji Syukur )


Umat Katolik sering memintakan berkat imam atas benda-benda religius, seperti rosario, salib/crucifix, Kitab Suci, ataupun benda-benda lainnya, bahkan rumah dan tempat usaha.

Ini termasuk golongan sakramentali, yang merupakan tanda suci yang diberikan untuk memohonkan hasil/akibat yang baik terutama secara rohani, yang diperoleh berkat permohonan Gereja.

Berikut ini adalah ketentuan dari Kitab Hukum Kanonik dan Katekismus Gereja Katolik tentang sakramentali:

Sakramentali ialah tanda suci yang dengan cara yang mirip sakramen menandakan hasil-hasil, terlebih yang rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja (KHK 1166).

Pelayan sakramentali ialah klerikus yang dibekali dengan kuasa yang perlu untuk itu; beberapa sakramentali sesuai norma buku-buku liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki kualitas yang sesuai (KHK 1168).

“Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja.

Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan pelbagai situasi hidup disucikan” (SC 60, Bdk. KHK, can. 1166; CCEO, can. 867.) (KGK 1667).

Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia.

Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman.

Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan (KGK 1668).

Sakramentali termasuk wewenang imamat semua orang yang dibaptis: setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi “berkat” (Bdk. Kej 12:2) dan untuk memberkati (Bdk. Luk 6:28; Rm 12:14; 1Ptr 3:9).

Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu (Bdk. SC 79; KHK, can. 1168). Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sakramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, imam, dan diaken) (Bdk. Ben 16; 18) (KGK 1669).

Sakramentali tidak memberi rahmat Roh Kudus seperti dibuat Sakramen, tetapi hanya mempersiapkan oleh doa Gereja, supaya menerima rahmat dan bekerja sama dengannya

“Dengan demikian berkat liturgi Sakramen-sakramen dan sakramentali bagi kaum beriman yang hatinya sungguh siap hampir setiap peristiwa hidup dikuduskan dengan rahmat ilahi yang mengalir dari Misteri Paska sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dari misteri itulah semua Sakramen dan sakramentali menerima daya kekuatannya. 

Dan bila manusia menggunakan benda-benda dengan pantas, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang tak dapat dimanfaatkan untuk menguduskan manusia dan memuliakan Allah” (SC 61) (KHK 1670).

(Sumber: Sakramentali, katolisitas.org).

Jumat, 11 Desember 2015

Sakramen-sakramen





Agama Kristiani adalah salah satu agama wahyu, artinya agama yang berdasarkan wahyu/Kitab Suci.



Walaupun demikian agama Kristiani bukan suatuagama kitab’, di mana kita hanya membaca tentang karya-karya Allah di masa lampau; sebab melalui sakramen-sakramen (tanda-tanda iman) dan liturgi (perayaan ibadat, pewartaan injil-injil cintakasihKGK 1070) Allah terus-menerus menghadirkan rahmat-Nya yang menyelamatkan.


Liturgi dan sakramen adalah pintu masuk kita ke dalam sejarah keselamatan.


Ibadat bukanlah doa pribadi/perorangan, melainkan sebagai doa Gereja sebagai umat Allah; merupakan doa dari, bagi dan bersama Gereja yang ada di seluruh dunia, dan mempunyai pengaruh yang sangat dalam bagi hidup manusia. Inilah perbedaan yang nyata dengan doa-doa lingkungan yang tidak bersama seluruh Gereja.

Liturgi bukan satu-satunya kegiatan Gereja. Sebab sebelum manusia dapat mengikuti Liturgi, ia perlu dipanggil untuk beriman dan bertobat.

Oleh karena itu Gereja mewartakan berita keselamatan kepada kaum tak beriman, supaya semua orang mengenal satu-satu-Nya Allah yang sejati dan Yesus Kristus yang diutus-Nya, lalu bertobat dari jalan hidup mereka seraya menjalankan ulah tapa (Yoh 17:3; Luk 24:27; Kis 2:38).

Umat beriman pun wajib mewartakan iman dan pertobatan; selain itu harus menyiapkan mereka untuk menerima sakramen-sakramen, mengajar mereka mengamalkan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Kristus (Mat 28:20) (SC 9).




Dalam peradaban-peradaban kuno, perjanjian adalah suatu persetujuan yang diadakan dengan khidmat, yang menciptakan suatu hubungan keluarga (perkawinan, adopsi seorang anak).

Bila suatu keluarga menyambut seorang anggota baru, kedua pihak akan meresmikan perjanjian itu dengan mengucapkan sumpah, dengan mengadakan perjamuan bersama dan dengan mempersembahkan suatu kurban. 

Secara berkala kedua pihak dapat mengulangi sumpah itu, bersamaan dengan perjamuan serta kurban, untuk membarui ikatan perjanjian.

Dengan cara itulah, Allah mengadakan perjanjian-Nya dengan Musa, suatu perjanjian yang diperbarui setiap tahun dalam perjamuan Paskah (seder).

Aturan ini tidak berakhir dengan penebusan kita oleh Yesus Kristus, karena para rasul-Nya disuruh membarui perjanjian dengan Allah dengan cara yang sama (Perbuatlah ini ... menjadi peringatan akan Aku – 1 Kor 11:25).

Sejak dahulu kala umat Kristiani biasanya menyebut perbuatan ini dengan istilah Latin ‘sacramentum’ (sumpah).

Kedua Perjanjian yang termuat dalam Kitab Suci merupakan satu kesatuan; dan keseluruhan Kitab Suci bersatu tak terpisahkan dengan detail-detail kecil kehidupan Gereja dewasa ini.

Jadi, dalam kesaksian Gereja awal dan dalam praktik paroki-paroki kita dewasa ini – kita melihat sumpah-sumpah dari Perjanjian Lama terungkap dan terpenuhi dalam sacramentum Perjanjian Baru, dengan tuntunan Roh Kudus, telah mengantar kita kepada saat-saat khusus rahmat sakramental ini.

Banyak orang Katolik tidak mempunyai pengertian yang mendalam tentang apa arti sakramen-sakramen itu, sehingga memandang sakramen-sakramen itu sebagai upacara-upacara Gereja belaka/sebagai ritualisme primitif.

Sakramen-sakramen adalah tanda-tanda (kata-kata dan tindakanyang dapat ditangkap oleh pancaindera, yang terjangkau untuk kodrat manusia. Berkat karya Kristus dan kuasa Roh Kudus, mereka menghasilkan rahmat yang mereka tandakan (KGK 1084). 

Dengan pencurahan Roh Kudus menampilkan satu era baru dalam ‘penyampaian misteri’, di mana Kristus menghadirkan dan menyampaikan karya keselamatan-Nya melalui liturgi Gereja-Nya.

Dalam era Gereja ini, Kristus hidup dan bertindak dalam dan bersama Gereja-Nya melalui Sakramen-sakramen.

Sakramen tidak dilaksanakan oleh kesucian manusia yang memberi atau menerima (Sakramen), tetapi oleh kekuasaan Allah (Tomas Aqu, s.th, 3, 68, 8). Pada saat Sakramen dirayakan sesuai dengan maksud Gereja, bekerjalah di dalam dia dan oleh dia kekuasaan Kristus dan Roh-Nya, tidak bergantung pada kekudusan pribadi pemberibuah-buah Sakramen juga bergantung pada sikap hati orang yang menerimanya (KGK 1128).

Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen, sehingga bila ada orang yang membaptisKristus sendirilah yang membaptisIa hadir dalam Sabda-Nyasebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja (KGK 1088).

Apa yang terjadi jika sakramen-sakramen yang mengalir dari Kitab Suci terpotong? Maka pengertian dan penghargaan yang lebih dalam terhadap misteri-misteri sakramen-sakramen akan mengering, seperti air di sungai yang terputus dari sumbernya.

Ada perbedaan amat besar antara PL dan PB, antara bayangan dan kenyataan (Ibr 10:1), antara tanda dan sakramen.

Sakramen-sakramen itu begitu berkuasa dan selalu efektif, karena sakramen-sakramen telah didirikan dan dikuasakan oleh Yesus (KGK 1127). Karena Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4).

Sakramen-sakramen dalam konteks sejarah keselamatan, masing-masing terdiri dari tiga bagian pokok:

1. Memakai Kitab Suci sebagai lensa untuk melihat bagaimana misteri sakramen dihadirkan dalam situasi nyata kehidupan sehari-hari kita.

Liturgi tidak hanya mengingatkan kita peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan, tetapi menghadirkannya juga. Di dalam setiap perayaan terjadi curahan Roh Kudus yang membuat misteri yang terjadi hanya satu kali itu, menyata dalam waktu sekarang (KGK 1104).

Roh Kudus memungkinkan kemenangan Allah di masa lalu tersedia bagi kita pada saat ini.

“Oleh kekuasaan-Nya untuk mengubah, Roh Kudus menghadirkan misteri Kristus di sini dan kini (KGK 1092).

2. Menempatkan sakramen dalam konteks PL, sebabdalam ekonomi sakramental Roh Kudus memenuhi apa yang sudah dilambangkan dalam PL’ (KGK 1093).

3. Memandang sakramen-sakramen dalam terang hidup dan kematian Yesus. ‘Dengan membaca ulang ini dalam Roh Kebenaran, maka mulai dengan Kristus, arti pralambang-pralambang itu dibuka (KGK 1094) – seharusnya kita mampu melihat hubungan antara PL dan PB.

Oleh karena itu, seperti Kristus diutus oleh Bapa, begitu pula Ia mengutus para Rasul yang dipenuhi Roh Kudus ... untuk mewujudkan karya keselamatan yang mereka wartakan itu melalui Korban dan sakramen-sakramen, sebagai pusat seluruh hidup liturgis. 

Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgi (SC 6, 7).

Dalam Liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi Sorgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan peziarahan kita. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah, sebagai pelayan tempat tersuci dan kemah yang sejati (Why 21:2; Kol 3:1; Ibr 8:2) (SC 8).

Sakramen adalah tanda-tanda tampak dari hal-hal yang tidak tampak yang menguduskan manusia (St. Thomas Aquino).



1. Sakramen Baptis: pintu gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air bersama rumus kata-kata yang diwajibkan (Kan 849).

Air sebagai lambang seperti pedang bermata dua: di satu pihak air memberi hidup dan kesuburan; di pihak lain air merupakan kekuatan yang merusakkan, yang dapat menenggelamkan seluruh kehidupan.

Arti air pembaptisan 
Melambangkan kematian, perbuatan daging dan segala dosa. Segi Pembaptisan ini dilambangkan dalam PL oleh kekuatan untuk merusakkan yang dilihat dalam air bah dan dalam air Laut Merah. Pembaptisan menghanyutkan dosa-dosa kita seperti Laut Merah telah menghanyutkan tentara Firaun. 

Melambangkan hidup baru. Seperti Roh hadir dalam penciptaan dunia serta dalam pembaptisan Yesus, demikian pula, pada saat Pembaptisan kita, Roh Kudus datang atas diri kita, sehingga kita menjadi ciptaan baru; mengambil bagian dalam kodrat ilahi; karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus (2 Kor 5:17; 2 Ptr 1:4; 1 Kor 6:19; KGK 1262, 1265). 

Baptisan ... untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus (1 Ptr 3:21)



2. Sakramen Penguatan: yang memberikan meterai dan dengan mana orang-orang yang telah dibaptis melanjutkan perjalanan inisiasi kristiani dan diperkaya dengan anugerah Roh Kudus serta dipersatukan lebih sempurna dengan Gereja, menguatkan dan semakin mewajibkan mereka untuk dengan kata dan perbuatan menjadi saksi-saksi Kristus, menyebarkan dan membela iman (Kan 879).

Tanda sakramen ini adalah pengurapan dengan minyak suci, yang bernama krisma. Pengurapan ini menjelaskan nama ‘Kristen’ yang berartiterurapi’ dan disimpulkan dari Kristus sendiri, yang ‘Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa’ (Kis 10:38; KGK 1289).

Tanpa rahmat Allah kita tidak mampu mengikuti Yesus serta meneladan perbuatan-Nya. Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikanimam, nabi, dan raja’.

Seluruh umat mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (KGK 783).

Oleh penerimaan Krisma dengan rahmat-rahmatnya kita seharusnya mendapat keberanian untuk memberi kesaksian tentang Yesus di depan semua orang, dengan membagi-bagi iman kita sebagai suatu tindakan kasih bagi orang lain dan juga sebagai tindakan kasih bagi Allah.


Hal ini berarti bahwa Bapa telah mempercayakan kepada kita suatu misi di mana kita meneladan Putra oleh kekuatan Roh (KGK 1294).




3. Sakramen Ekaristi: sakramen yang terluhur, di mana Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan dengan mana Gereja selalu hidup berkembang.

Kurban Ekaristi, kenangan wafat serta kebangkitan Tuhan Yesus, di mana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani serta sumber yang menandakan dan menghasilkan kesatuan umat Allah serta menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus.

Sedangkan sakramen-sakramen lainnya dan segala karya kerasulan gerejawi berhubungan erat dengan Ekaristi Mahakudus serta diarahkan kepadanya).

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja, di mana Kristus Tuhan, dengan pelayanan iman, mempersembahkan Diri-Nya yang hadir nyata dalam warna roti dan anggur kepada Allah Bapa, serta memberikan Diri sebagai rejeki rohani kepada umat beriman yang diikut sertakan dalam persembahan-Nya. Dalam Perjamuan Ekaristi umat Allah dihimpun menjadi satu (Kan 897 - 899).


Komuni Kudus harus kita terima dengan hormat dan kasih yang besar (1 Kor 11:27-28). Itulah salah satu alasan bagi Gereja untuk mengajak kita sering memanfaatkan Sakramen Rekonsiliasi/tobat.
4. Sakramen Tobat - dalam Sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim (tertahbis dan tidak ada dalam halangan), menyesal atas dosa-dosa itu serta berniat untuk memperbaiki diri, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah dibaptis lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan sakramen itu, sekaligus mereka diperdamaikan kembali dengan gereja yang dilukai dengan perbuatan dosa mereka (Kan 959).

Dosa adalah terutama pelanggaran terhadap Allah, pemutusan persekutuan dengan Dia (KGK 1440).

Dosa mengeraskan hati kita, memperbudak kita dan membuat kita terpisah dan terpotong dari apa yang sebenarnya diinginkan hati kita, ialah Allah sendiri.

Seluruh pelayanan Yesus dipusatkan pada pengampunan dosa. Nama-Nya sendiri sudah menyatakan-Nya sebagai Dia ‘yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21).

Terdorong oleh belaskasihan-Nya, Allah telah memberikan Sakramen Renkonsiliasi/tobat kepada Gereja untuk memulihkan persatuan kita dengan-Nya dan untuk menyembuhkan kita dari dosa.

Panggilan bertobat ini pertama-tama merupakan panggilan untuk mengubah hati (metanoia) serta bertobat dalam batin.

Tobat batin ialah mengarahkan seluruh hidup kita secara radikal kembali kepada Allah, berpaling kepada Allah dengan segenap hati, mengakhiri dosa, membelakangi kejahatan, dengan keengganan terhadap perbuatan dosa yang telah kita lakukan (KGK 1431).



5. Sakramen Pengurapan Orang sakit - dengan mana menyerahkan umat beriman yang sakit berbahaya kepada Tuhan yang menderita serta dimuliakan, agar Ia meringankan dan menyelamatkan mereka, diberikan dengan mengurapi mereka dengan minyak serta mengucapkan kata-kata yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi (Kan 998).

Dengan membebaskan orang-orang tertentu dari kemalangan dunia berupa kelaparan, ketidakadilan, penyakit dan kematian, Yesus melakukan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Dialah Mesias.

Walaupun demikian, Ia tidak datang untuk menghapuskan segala kemalangan di dunia ini, tetapi untuk membebaskan manusia dari perbudakan yang paling berat, dosa, yang menghalangi dalam panggilannya sebagai anak-anak Allah dan menyebabkan berbagai macam bentuk perbudakan manusia (KGK 549).

Sakramen Pengurapan Orang Sakit mendapatkan rahmat, yang membawa penyembuhan serta penguatan jasmani dan rohani. Namun kadang-kadang Tuhan memanggil kita untuk mengambil bagian dalam sengsara-Nya yang lebih penuh.

Oleh penderitaan dan wafat-Nya di salib, Kristus telah memberi makna baru kepada penderitaan: selanjutnya penderitaan dapat membuat kita lebih serupa dengan-Nya dan mempersatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan (KGK 1505).


6. Sakramen Imamat - dengan sakramen imamat (meliputi episkopat, presbiterat dan diakonat) menurut ketetapan ilahi beberapa orang beriman diangkat menjadi pelayan-pelayan rohani, dengan ditandai oleh meterai yang tak terhapus, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk selaku pribadi Kristus Sang Kepala, menurut tingkatan masing-masing, menggembalakan umat Allah dengan melaksanakan tugas-tugas mengajar, menguduskan dan memimpin (Kan 1008-1009).

Ada 3 tingkat tahbisan
1. Episkopat (Uskup). 
2. Presbiterat (Imam). 
3. Diakonat (Diakon). 

Selama sejarah keselamatan, umat Allah selalu mempunyai imam-imam sebagai pengantara Allah dan manusia. Para imam mempersembahkan kurban-kurban untuk pemulihan-pemulihan dosa umat dan memimpin ibadat.

Imamat jabatan atau hierarkis para Uskup dan imam dan imamat bersama semua orang beriman ‘atas caranya yang khas mengambil bagian dalam imamat Kristus dan ‘diarahkan satu kepada yang lain’, walaupun berbeda dalam kodratnya (LG 10; KGK 1547). 

Imamat bersama umat beriman terlaksana dalam pengembangan rahmat Pembaptisan; dalam penghayatan iman, harapan dan cinta; dalam hidup sesuai dengan Roh Kudus. 

Imamat jabatan itu ada untuk melayani imamat bersama ini. Ia adalah salah satu sarana, yang olehnya Kristus secara berkesinambungan membangun dan membimbing Gereja-Nya. Oleh karena itu, ia diterimakan oleh suatu Sakramen Tahbisan.



7. Sakramen Perkawinan - dengan perjanjian perkawinan pria dan wanita membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen (Kan 1055).

Bagi mereka yang terpanggil untuk menerima Sakramen Perkawinan, seharusnya memperbarui dedikasinya, untuk menghayati panggilannya dalam perkawinan itu dengan sepenuh-penuhnya.

Perjanjian antara dua mempelai dipadukan dengan perjanjian Allah dengan manusia: ‘Cinta kasih sejati suami istri ditampung dalam cinta ilahi (KGK 1639).

Setiap perkawinan seharusnya menjadi gambaran konkret dari hubungan kasih Kristus dengan mempelai-Nya, Gereja (Bdk Ef 5:32).

Oleh karena itu, kasih Kristus bagi Gereja dan kasih Gereja bagi Kristus merupakan contoh bagi pasangan suami istri.

Perkawinan menyediakan pelajaran-pelajaran dalam hal kasih-mengasihi yang perlu kita renungkan untuk memperdalam keinginan serta kemampuan kita untuk mengasihi Allah.

Kalau kita gagal mencintai pasangan hidup kita, ini merupakan tanda bahwa kita juga gagal mencintai Allah.

Pengajaran Kitab Suci yang kaya tentang perkawinan tidak melulu ditujukan bagi mereka yang terpanggil untuk hidup sebagai suami istri.

Semua orang Kristiani, baik secara perseorangan maupun sebagai warga Gereja, terpanggil untuk menjadi mempelai wanita bagi Kristus (KGK 1617).

Aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus (2 Kor 11:2)

(Sumber: Warta KPI TL No. 42/X/2007 » Sakramen dalam Kitab Suci kehadiran sejarah keselamatan, Tim Gray; Dokumen Konsili Vatikan II; KGK; Kitab Hukum Kanonik).

Minggu, 15 November 2015

Mengalami Kehadiran Tuhan Dalam Keluarga

Zaman dahulu dengan pelbagai cara Allah berulangkali berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, sebagai puncaknya Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Ibr 1:1; Yoh 3:16).

Namun seringkali kasih yang Allah berikan pada semua orang itu tidak dapat dinikmati. Karena ada banyak orang menolak kasih Allah itu, mengganggap kehadiran Allah dalam diri Yesus, dilihat sebagai karya Beelzebul, penghulu setan. Yesus menolak bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. 

Maka Yesus berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.” 

Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu (Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah kita/Allah menyertai kita - Luk 11:14-25).

Tetapi Kerajaan Allah itu belum sempurna, maka harus diperjuangkan agar sempurna. Ketika kesempurnaan itu terjadi, kita bisa berhadapan muka dengan Tuhan Allah sendiri, seperti melihat di dalam cermin (1 Kor 13:12).

Di dalam kedekatan Kerajaan Allah itu Yesus hadir di situ dan mempersatukan semua anggota, membuat keanggotaan itu semakin hari semakin lebih besar sehingga terjadilah persaudaraan Kristiani yang semakin hari semakin sejati.

Sakramen adalah tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan

Jika kita menerima sakramen sebetulnya kita menerima Tuhan Allah sendiri.

Tuhan Allah hadir dilambangkan dengan tanda/simbol.

Pada waktu kita dibaptis dan kita percaya diberi kehidupan baru, sebenarnya kita sudah merasakan kehadiran Kerajaan Allah

Yang dilambangkan dengan tanda menuang air suci di dahi; air yang memberi hidup baru dan membersihkan segala dosa-dosa kita.  

Akan tetapi banyak orang yang tidak menyadarinya, sehingga ketika berdoa, bernyanyi, membaca/mendengar firman Tuhan tidak merasakan kehadiran Roh Kudus yang menyemangati.

Kalau kita hayati dan kita yakini di dalam Sabda-Nya, mendengar/membaca firman Tuhan dengan hati yang penuh iman sebagai tanggapan kasih Allah yang begitu besar akan dunia ini. 

Maka Sabda yang menjadi daging itu akan pelan-pelan meresap ke dalam tubuh kita dan merubah daging kita yang bersifat kedagingan duniawi akan menjadi makin hari menjadi daging yang kudus seperti Kristus sendiri.

Demikian juga dalam Sakramen Perkawinan, Tuhan Allah memberikan sukacita kebahagiaan kepada suami dan istri

Kedua pengantin saling menerimakan sakramen, artinya: pengantin itu saling memberikan tanda kehadiran Allah, Tuhan Allah memberikan kebahagiaan kepada suami/istri lewat pasangannnya.

Maka di gereja Katolik dibuat sedemikian rupa sehingga ‘tidak boleh ada perceraian/poligami’. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari sakramen yang kudus itu, maka sebenarnya Kerajaan Allah hadir/berkarya secara nyata, menyatakan cintanya sehingga setiap hari kita dapat hidup penuh kebahagiaan.

Banyak orang yang ingin menghancurkan gereja Katolik dengan:

1. Putuskan hubungan yang universal, karena persatuan Paus di Roma itu merupakan kekuatan yang luar biasa (tidak boleh ada misionaris/bantuan-bantuan dari luar).

2. Hancurkan Sakramen Pengakuan Dosa.

3. Hancurkan lebih dahulu Sakramen Ekaristi yang membuat orang Katolik merasa bersatu/bersaudara satu dengan yang lain.

4. Hancurkan kelompok-kelompok/lingkungan-lingkungan, di mana orang Katolik dihimpun yang satu dan yang lain merasa bersaudara.

5. Usahakan Sakramen Perkawinan cemar, dengan menghamili orang Katolik untuk menghilangkan sakramen itu. Karena inilah inti yang paling luar biasa buat orang Katolik itu bersatu berkembang dari dulu sampai sekarang tidak tergoyahkan. 

Marilah kita sebagai orang Katolik menyadari bahwa betapa pentingnya persatuan keluarga/komunitas sehingga kita benar-benar dapat hidup bahagia karena Kerajaan Allah sudah hadir di tengah-tengah kita. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 47/III/2008; Renungan KPI TL Tgl 28 Februari 2008, Rm Damianus Weru SVD).