Tampilkan postingan dengan label *Perbuatan daging*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Perbuatan daging*. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2015

Mati Secara Daging

Bagaimana reaksi kita (hati bukan wajah) dalam memandang setiap peristiwa/menerima masalah yang tidak menyenangkan? Misalnya: ketika dihina orang/orang lupa menyapa kita/hati kita dilukai - difitnah yang tidak kita lakukan dan merusak nama baik kita/sudah capai-capai kerja dalam rumah tapi tak boleh penghargaan.

Semua peristiwa yang kita alami dalam kehidupan ini dipakai Tuhan sebagai sarana untuk membuat kita mampu mematikan kedagingan kita.

Kalau daging kita habis dan tinggal tengkoraknya saja, maka reaksi hati dan wajah kita tak akan pernah berubah, walaupun kita mengalami tekanan/susah, orang lain tidak tahu (karena tahu segala sesuatu Allah yang atur). Tengkorak modelnya tetap – tidak bereaksi ketika diejek/dihina dipuji/ditendang.

Orang yang sudah mati dagingnya, maka syaraf-syaraf kesedihan/sakit hati/kepahitan/yang membuat hidupnya tidak nyaman sudah putus. Memang dia bisa sedih/marah/membalas tapi dia tidak mau melakukannya (itulah penyangkalan diri - syarat mengikuti Yesus).

Tanpa kematian daging yang kita lewati tidak mungkin menerima kemuliaan/pengurapan-pengurapan dari Tuhan. 

Keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah, karena ia tidak takluk dengan Allah (Rm 8:7). Barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa (1 Ptr 4:1-2).

(Sumber: Warta KPI TL No. 37/V/2007; Renungan KPI TL Tgl 19 April 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).






Senin, 26 Oktober 2015

Hadirat Allah membawa pada kematian daging

Pergumulan yang paling sulit dialami anak-anak Allah pada saat makin sungguh-sungguh mencari Dia – menjadi pelaku firman.

Kedagingan itu berpusat pada kepentingan dan kenikmatan pribadi. Misalnya ketika memuaskan nafsu marah, hanya puas sesaat. Apabila ego kita bertambah besar, kita tidak akan pernah mau merendahkan diri/menyadari ketidak berdayaan/bersalah/merasa kita yang paling benar – kesombongan seperti inilah yang dibenci Tuhan – menjauhkan kita dari anugerah Allah.

Kalau manusia mau mencari Tuhan dengan kemauannya sendiri - ilustrasi jari kelingking (manusia) disentuhkan ke jempol (Tuhan) – tidak akan tersentuh. Tuhan mau datang tapi manusia tidak mau membuka dirinya – hanya ujung dalam kelingking yang tersentuh. Jadi Tuhan-lah yang menganugerahkan dan kita yang menanggapinya (ujung jempol dan kelingking dapat bertemu). 

Tidak ada kedagingan yang akan mendapat tempat di dalam hadirat Allah. Hadirat-Ku akan menyertai engkau dan akan memberi istirahat padamu ketika menyadari kekurangan/kelemahan/dosa/najis kesombongan akan runtuh (1 Kor 1:29; Kel 33:14 versi James King).

Ketika kita mengalami hadirat Allah/berjumpa dengan Pencipta, saat itulah kita melihat diri kita kotor – mau dikoreksi - akan membuat hati lembut, rendah hati, mengalami keterbukaan hati. jika selalu mengalami hadirat Allah: buahnya selalu baik. Contoh:

- Daniel: yang begitu luar biasa terhormat, takut akan Tuhan, tidak ada suatu cela, sehari berdoa 3 x dan berpuasa (Dan 1; 9; 6:11); ketika berjumpa dengan Tuhan keagungannya berubah menjadi kebusukan (Dan 10:7-9).

- Yesaya: sudah lama bernubuat (menyampaikan pesan-pesan Tuhan) tentang Yehuda dan Yerusalem, tetapi belum merasakan hadirat Allah (Yes 1-5). Tetapi pada saat melihat kemuliaan Allah, Yesaya baru sadar “celaka aku ... najis bibir” – hatinya merendah dan mengakui kesalahannya sehingga kesalahan dan dosanya diampuni (Yes 6).

- Ayub: orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Tapi mengalami penderitaan bertubi-tubi: semua ternaknya habis dirampas dan ada juga yang habis terbakar disambar api dari langit; semua anaknya mati; mengalami barah yang busuk dari telapak kakinya sampai batu kepalanya (Ayb 1-2). 

Semuanya diungkapkan secara kepahitan: “Aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. Beritahukanlah mengapa Engkau berpekara dengan aku. Kalau aku berdosa, apakah yang kulakukan terhadap Engkau; mengapa menjadikan aku sasaran-Mu; mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku dan menghapuskan kesalahanku? Aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang. Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku. Kucari Engkau, aku tidak melihat Engkau. Hati sanubariku merana karena rindu. (Ayb 10:1-2; 7:20-21; 30:26, 20; 23:9; 19:27). 

Ketika Ayub mencabut perkataannya dengan menyesal maka keadaannya dipulihkan. Menurut hukum Taurat-Yahudi: penderitaan/kemiskinan adalah upah dari dosa

Jangan sekali-kali mengevaluasi/menghakimi orang lain karena Tuhan mempunyai rancangan untuk setiap kehidupan seseorang. 

Contoh : Tuhan murka terhadap sahabat-sahabat Ayub (Yes 42:7).

Takut akan Allah, itulah hikmat. Menjauhi kejahatan itulah akal budi. Dia yang memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian (Ayb 28:28; Dan 2:21)

(Sumber: Warta KPI TL No. 29/IX/2006; Renungan KPI TL Tgl 10 Agustus 2006, Dra. Yovita Baskoro, MM).