Tampilkan postingan dengan label *Kesombongan*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kesombongan*. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2020

05.25 -

Mengenali tingkat stadium kesombongan kita

Seorang pria bertamu ke rumah sang guru dan ia tertegun keheranan melihat sang guru sedang sibuk mengangkat air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya hingga bersih.

Pria itu bertanya: “Apa yang sedang guru lakukan?” Sang guru menjawab: “Tadi telah datang tamu yang minta nasihat kepada saya. Saya telah berikan banyak nasihat yang bermanfaat dan mereka tampak puas. Namun, setelah mereka pulang, saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai muncul. Itulah sebabnya saya melakukan ini untuk coba menetralisir perasaan sombong saya itu. 

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benih-nya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat Pertama, ada rasa sombong disebabkan oleh faktor materi 

Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain, lalu disadari maupun tidak, akan timbul Kesombongan dalam berbagai bentuk yaitu perasaan ogah bergaul 
dengan kalangan orang yang tidak mampu atau tidak selevel dengan dia.

Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya (Ams 10:15).

Di tingkat Kedua, ada rasa kesombongan yang disebabkan karena faktor pengabdian

Rasa seperti ini banyak dihinggapi oleh seorang karyawan yang sudah bekerja terlalu lama disuatu perusahaan lalu dia merasa bahwa tanpa dirinya perusahaan tsb. tidak akan ada seperti yang sekarang ini. Dan merasa bahwa semua ini bisa berjalan karena jasa-jasanya. Dan dia selalu merasa tidak puas dengan penghasilan yang dia terima sampai hari ini

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh 5:9).

Rasa sombong jenis ini biasanya juga dialami oleh seseorang yang merasa sudah banyak membantu / menolong kepada rekannya lalu dia merasa bahwa rekannya tersebut sudah terlalu banyak hutang budi padanya dan kalau tidak ada dia maka rekan tersebut tak akan sempurna hidupnya.

Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila Tuhan, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah Tuhan membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah Tuhan menghalau mereka dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya Tuhan menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu Tuhan, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ul 9:4-6)  

Rasa sombong jenis ini akan menimbulkan jarak, baik itu terhadap rekan-rekan maupun pada bawahan dan atasannya.

Di tingkat Ketiga, ada rasa sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan

Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dari orang lain, lalu bisa juga timbul kesombongan, biasanya dalam bentuk tak mau bergaul dengan kalangan yang berpendidikan lebih rendah.

Kita semua mempunyai pengetahuan. Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya (1 Kor 8:1-2).

Di tingkat Ke empat, ada rasa sombong yang disebabkan oleh faktor kebaikan.

Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain, lalu akan timbul Kesombongan dalam bentuk bahwa diri sendiri seolah-olah adalah orang terbaik di dunia.

Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa! (Pkh 7:20).

Yang menarik disini bahwa semakin tinggi tingkat kesombongan seseorang akan semakin sulit pula mendeteksinya oleh dirinya sendiri, sampai suatu hari ada seseorang yang menegornya.

Sombong pada tingkat pertama yaitu karena materi sangat mudah terlihat, tetapi rasa sombong pada tingkat tertinggi yang di karenakan kebaikan sulit terdeteksi karena sering hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita, biasanya ada rasa bahwa dirinya sudah terlalu baik tetapi perlakuan dari pihak lain selalu dianggap kurang baik.

Cobalah setiap hari kita memeriksa hati kita masing-masing dari benih-benih yang salah itu. Karena setiap hal yang baik maupun yang buruk, akan mempunyai akibat pula di masa ke depan kita.

Kita ini manusia ini sebenarnya hanyalah seperti debu, yang suatu saat akan hilang dan lenyap dan kembali pada Sang Pencipta (Pkh 12:7  » debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya).

Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang sangat dalam (Ams 16:18 »  Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan; Ams18:12 » Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan).

Senin, 06 April 2020

13.07 -

Kekosongan dan kesombongan



Sebuah refleksi yang memberikan pencerahan iman

Mobil pribadi tak lagi beranjak dari garasi. Jet pribadipun terparkir rapi di bandara. Lalu lintas udara telah ditutup. Masing-masing negara fokus untuk merawat warganya, berperang melawan musuh kecil yang tak terlihat.

Setiap manusia terkurung dalam kamarnya. Pakaian dari designer terkenal, sepatu dan jam bermerek, minyak wangi dan seonggok alat make up kehilangan artinya, tergeletak tak berguna.

Tak ada lagi meeting mendadak ataupun bisnis meeting yang menyita waktu sehingga sering kali kita tak punya lagi waktu untuk keluarga dan untuk Tuhan.

Tak ada lagi pesta yang harus dihadiri, tak ada lagi nonton bareng, tak ada pula tongkrongan di cafe, tak ada lagi arak-arakan dan hura-hura pesta, pertunjukan seni/pameran-pameran, bahkan uang pun terhenti di bank, semua tak ada arti.

Bahkan hall gereja yang megah dan mahal pun sekarang kosong, tiba waktunya setiap orang menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran di dalam hati.

Yang kita butuhkan hanya makanan dan udara untuk di hirup, kita hanya ingin hidup. Selebihnya menjadi tidak penting lagi. Dunia tak pernah melihat kesombongan narsis seperti di jaman ini! 

Kabar baiknya: kita diberikan 1 kesempatan lagi untuk introspeksi, melihat kedalam diri, bertanya kepada Tuhan: "Kenapa Tuhan membiarkan saya hidup?" Untuk bersuka-suka atau untuk membeli mobil barukah? Atau mungkin untuk menyelesaikan pendidikan sarjana? Mari mawas diri, intropeksi kedalam dengan khusyuk.

- Apakah tujuan hidupku sekarang? Apakah tujuan hidupku setelah pandemi Covid 19?

- Mengapa Tuhan menyelamatkan aku dan mengijinkan yang lain mati?

- Manfaat apa yang harus kubawa untuk sesamaku manusia, apa yang harus kulakukan dengan sisa hidupku untuk Tuhan sehingga Tuhan memberikan ku satu kesempatan lagi?

*Mari kita berdoa dan bertobat. Membuat komitmen baru untuk menjalani hidup ini dengan lebih berarti, bisa bermanfaat untuk Semua.

Minggu, 05 Agustus 2018

04.32 -

Penyakit tersembunyi yang dinamakan kesombongan



Kesombongan - mungkin ini lah dosa paling berbahaya diantara dosa-dosa lainnya. Mengapa? Karena kesombongan seringkali memburamkan penglihatan kita - ia mengubah hal terburuk dari diri kita menjadi sesuatu yang baik di mata kita. Maka itu, kesombongan adalah sesuatu yang seringkali menahan seseorang dari rasa membutuhkan seorang Juruselamat—tidak ada orang yang merasa dirinya sehat pergi mencari seorang dokter.

Kita tidak dapat berkonklusi kesombongan tidak ada di dalam hidup kita berdasarkan penilaian kita sendiri; karena seringkali kita sendirilah satu-satunya yang tidak dapat melihat kesombongan di dalam diri kita, dimana semua orang di sekitar kita menyadarinya. 

Beberapa ciri-ciri dari kesombongan

1. Orang sombong fokus pada kesalahan orang lain

Pernahkah kamu merasa lebih baik dari orang lain karena orang lain itu memiliki sebuah kebiasaan buruk atau kesalahan di dalam hidupnya yang tidak kamu miliki? Jika ya, maka mungkin kamu memiliki apa yang dinamakan kesombongan.

Saya yakin pasti banyak yang akan mengatakan, “Tentu saja iya, kebanyakan orang juga seperti itu kali.” Saya setuju! Kebanyakan orang memang seringkali sombong di dalam hatinya, termasuk saya sendiri. 

Tuhan mengatakan bahwa hati manusia dari mulanya memang jahat maka itu harus ada yang memberikan hati yang baru kepada mereka - hati yang tidak sombong dan mau mengasihi. 

Maka itu, Tuhan mengajak kita untuk mengikut-Nya, sehingga Dia dapat memproses hidup kita sehingga kita dapat meninggalkan kesombongan-kesombongan lama kita dan menjadi orang-orang yang berbeda dengan kebanyakan orang di dunia ini. 

Tuhan ingin kita untuk hidup menggunakan lensa-Nya untuk melihat kebaikan di dalam orang lain dan menyadari akan kebutuhan kita sendiri akan kasih-Nya.

2. Orang sombong selalu menghakimi

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Matius 7:1-5) 

Menghakimi berbeda dengan mengingatkan. Mengingatkan adalah ketika kita melihat ada sesuatu yang salah pada seseorang, dan kita memberitahukannya kepada orang itu di dalam kasih demi kebaikan orang itu. 

Sedangkan menghakimi adalah ketika kita memandang kesalahan orang lain dengan perasaan jengkel atau dengan menganggap orang itu seorang yang berdosa.

Sesungguhnya, orang-orang yang menghakimi adalah orang-orang yang memiliki permasalahan yang lebih besar dari orang yang dihakimi. 

Jika kita menghakimi, berarti kita merasa diri kita lebih layak mendapatkan berkat Tuhan dibandingkan orang lain berdasarkan performa kita di dalam hidup. 

Sikap ini sangatlah keliru, karena berarti kita telah menyangkal kasih karunia Tuhan. Tuhan mengingatkan bahwa bukanlah hak kita untuk menghakimi orang lain akan kesalahan mereka, tetapi sudah merupakan kewajiban kita untuk terus mengingatkan orang lain akan apa yang benar.

3. Orang sombong lebih banyak berbicara dengan dirinya sendiri dibandingkan dengan Tuhan

Kesombongan seringkali masuk ke dalam hidup kita karena kita menutup telinga kita akan suara Tuhan. Bagaimana kita dapat menutup telinga kita dari suara Tuhan? Jawabannya: Dengan menolak untuk membaca Alkitab.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibr 4:12) 

Sesungguhnya, Alkitab merupakan sumber daya yang Tuhan sediakan untuk membantu kita dalam mengidentifikasi dosa-dosa di dalam hidup kita. 

Namun permasalahannya, masih banyak orang Kristen yang menolak untuk membaca Alkitab mereka setiap hari, sehingga mereka kesulitan dalam menyadari dosa-dosa di dalam hidup mereka yang seharusnya mereka kalahkan.

Oleh sebab itu, jika kita mau mengalahkan kesombongan dan juga dosa-dosa lain di hidup kita, kita harus membuka Alkitab kita dan berdoa agar Tuhan memberikan hikmat dalam kita membacanya.

Janganlah menganggap dosa kesombongan ini sebagai sesuatu yang kecil. Jika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa Tuhan sangat tidak menyukai kesombongan. 

Namun, rencana Tuhan bukanlah untuk memusnahkan orang-orang sombong, melainkan untuk mengubahkan orang-orang sombong. 

Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Dia menyelidiki hati kita dan mengubah hidup kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu membantu kita dalam mengalahkan setiap musuh kita, termasuk musuh tersembunyi kita yang dinamakan kesombongan.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mzm 139:23-24)

(Sumber: @gracedepth).

Senin, 19 Juni 2017

19.01 -

Refleksi tentang kesombongan

Ul 8:18)

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di level pertama: sombong disebabkan oleh faktor materi, di mana kita merasa: lebih kaya, lebih rupawan, lebih terhormat daripada orang lain. 

Di level kedua: sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan, kita merasa: lebih pintar, lebih hebat, lebih kompeten, paling benar, lebih berwawasan dibandingkan orang lain. 

Di level ketiga: sombong disebabkan oleh faktor kebaikan, kita sering menganggap diri: lebih rohani, lebih bermoral, lebih pemurah dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Semakin tinggi tingkat kesombongan kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena materi mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan sulit terdeteksi, dan sombong karena diri lebih rohani, lebih kudus, seringkali kita tidak menyadarinya karena hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akibatnya kita tidak menyadarinya maka kita tidak pernah merasa bahwa kita telah melukai hati Allah dan hal ini tidak pernah kita akui sebagai dosa dan satu saat dapat menjadi dosa kekal, karena Firman Tuhan berkata : 

Aku berkata kepadamu: "Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat 18:18).

Segala "pujian" hanyalah bagi Allah 

Kita mampu melakukan segala sesuatu itu semua karena Allah, Dialah yang memberikan segala sesuatu dalam hidup kita, pengetahuan, kepintaran, kebijaksanaan, kekayaan, keelokan rupa, kesalehan,semua itu karena anugrah-Nya semata mata dalam kehidupan kita

Marilah kita berusaha setiap hari untuk refleksi sebab setiap hal yang baik dan yang mampu kita lakukan, semua adalah semata mata karena anugerah Allah.

Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang mendalam.

Firman Tuhan bersabda : 

Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh (Mzm 138:6).

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa (Ams 21:4).

Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya Tuhan sajalah yang maha tinggi pada hari itu. (Yes 2:11)

Sebab Tuhan semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan  (Yes 2:12)

Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel! (Yes 37:23)

Firman Tuhan berkata jika terdapat kesombongan dalam diri kita terhadap siapakah kita melakukan semuanya itu, bukan hanya terhadap manusia tapi terlebih lagi terhadap Yang Mahakudus Allah Israel

Mengapa demikian, karena semua yang kita miliki semuanya berasal dari Allah, jadi tidak ada dasar bagi kita untuk menyombongkan diri.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong (1Kor 13:4)

Tetaplah bersabar dan milikilah kerendahan hati karena sehebat, sepintar, sebijaksana, sekaya, sekudus apapun kita, tanpa kita sadari terkadang orang yang kita hadapi ternyata lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, lebih bijaksana, lebih kudus sari kita.

Kemalangan tidak menyembuhkan orang sombong, sebab tumbuhan keburukan berakar di dalam dirinya (Sir 3:28).

Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang terhindar dari kesombongan dan termasuk dalam orang-orang yang bersabar, rendah hati, penuh kasih dan memperoleh rahmat serta kasih karunia Allah setiap saat. Sebab dari setiap helaan nafas kita semuanya hanyalah milik Allah semata mata.

Hati yang arif merenungkan amsal, dan telinga pendengar merupakan idaman orang bijak (Sir 3:29).

Jumat, 27 Januari 2017

03.41 -

Kecewa




Ketika petinju Muhammad Ali sedang berada di puncak ketenarannya, ia berpergian dengan naik sebuah pesawat. Ketika hendak take-off, seorang pramugari mengingatkannya untuk mengenakan sabuk pengaman. Muhammad Ali dengan lantang menjawab: “Superman tidak perlu sabuk pengaman.” Dengan cepat sang pramugari menjawab: “Superman juga tak perlu naik pesawat terbang.” Lalu Muhammad Ali segera memasang sabuk pengaman.

Begitu mudah bagi seseorang yang memiliki kelebihan untuk terperangkap dalam kesombongan, khususnya ketika dia merasa lebih tinggi dari orang lain. 

Tetapi pada saat yang sama, ia akan merasa minder dan rendah diri ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki level lebih tinggi dari dirinya. Inilah yang dalam bahasa psikologi disebut dengan distorsi self-image.

Kesombongan adalah awal kehancuran! Ketika perusahaan kita berkembang pesat, ketika jabatan kita mendapat promosi, ketika prestasi kita menjadi perbincangan banyak orang, ketika seseorang menyampaikan kekagumannya kepada kita, hendaklah kita berhati-hati dan tidak terburu-buru menganggap diri seperti Superman! Jangan biarkan semua hal tersebut membuat kita jadi sombong, sebab saat kita sombong kita sedang menuju ke dalam kehancuran.

Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman. Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Ams 16:5, 18).

Musuh terbesar dalam kehidupan ini adalah kekecewaan. Orang-orang yang sangat dekat dengan kita-lah yang seringkali membuat kita kecewa. Mengapa terjadi demikian? Karena kita terlalu banyak berharap darinya. 

Pada saat harapan kita tidak terpenuhi maka hati terluka dan tidak ada sukacita dan kasih dalam kehidupan kita

Kekecewaan ini menimbulkan banyak masalah … akhirnya menjauhkan diri kita dari kuasa Tuhan dan membuat seluruh hidup kita kacau, baik dalam organisasi maupun dalam rumah tangga. 

Ketika kecewa, kita tidak dapat menerima janji-janji Allah. Maka datanglah segera memohon pengampunan kepada Tuhan, karena Dia-lah yang membebaskan batin kita atas semua luka dan kepahitan akibat kejahatan dan ketidak adilan yang terjadi dalam kehidupan ini.

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Si Iblis (musuh jiwa) berjalan keliling mencari orang yang dapat ditelannya (1 Ptr 5:8)

Marilah kita belajar dari Matius 7:21-23

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga 

» Kehendak Bapa adalah kasih (Mrk 12:29-31). Di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus (Ef 4:15). 

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan mujizat demi nama-Mu juga? 

» Seringkali tanpa sadar kita menjadi sombong karena telah melayani. Ingatlah! Kasih tidak sombong dan menutupi segala sesuatu (1 Kor 13:4, 7), orang sombong tidak akan masuk Kerajaan Allah (Ams 16:5). 

Meskipun kehidupan kita banyak masalah, bangun pagi jangan lupa untuk memberkati hari itu supaya Kerajaan Allah beserta kita. 

Kerajaan Allah bukan hanya dirasakan sesudah kematian tetapi di atas bumi ini juga sudah ada (kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan, karena Allah menyertai kita - Yoh 10:10; Mat 1:23; soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus Rm 14:17). 

Sombong adalah wujud nyata dari kekecewaan. Maka jangan jadi orang yang sombong, agar kita juga mempunyai kuasa seperti Bapa. 

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! 

» Seringkali kita mengatakan mengenal Allah, apa buktinya? Apakah Allah juga mengenal kita? 

Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai (Luk 18:10-14).

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya: "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku." 

» Ini adalah gambaran dari kita.

Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, ia tidak berani menengadah ke langit, ia memukul diri dan berkata: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." 

» Orang ini adalah gambaran orang yang dibenarkan Allah. Jika kita ingin dikenal Allah, datanglah dengan rendah hati kepada-Nya seperti pemungut cukai. 

Marilah kita bertekun dalam pengajaran yang sehat dan selalu berada dalam suatu komunitas sehingga pada saat kita kecewa, iman kita dikuatkan oleh saudara seiman. 

(Sumber: Warta KPI TL No.103/XI/2012 » Renungan KPI TL tgl 4 Oktober 2012, Bapak Benny Lolong).

Sabtu, 02 Juli 2016

05.49 -

Penyembuhan kesombongan



Dalam penyembuhan kesombongan ini, kita temui dua sarana:

1. Merenungkan kebesaran Tuhan – kesadaran akan siapakah diri kita di hadapan Tuhan (tanpa Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa – Yoh 15:5), tidak ada seorangpun yang lebih baik dari yang lain kecuali kehendak Allah, karena Allah mempunyai rencana dan menghendakinya. 

Jadi jangan bangga dengan karunia-karunia kodrati/adikodrati yang kita miliki (kepandaian, kemampuan, kesehatan, dsb. Itu semuanya datangnya dari Allah – Flp 2:13).

2.Pemurnian pasif melalui karunia Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam diri kita.

Orang merasa hebat selama ia belum diterangi oleh cahaya Roh KudusBegitu terang Allah meneranginyaia akan melihat kekotorannya sendiri.

Oleh karena itu, kerendahan hati yang sejati akan lebih dalam dan besar jika dicapai melalui pengalaman Allah.

Allah pun kadang-kadang merendahkan kita dengan berbagai macam caraMisalnyadifitnahorang memandang rendah kita – itu sebenarnya suatu rahmat

Dengan bersikap pasrah terhadap pemurnian yang dilakukan Allahmaka perlahan-lahan dampak dari kesombongan itu akan menghilang dari dalam diri kita, sehingga kita tidak terganggu lagi oleh kesombongan dan kita beristirahat di dalam kerendahan hati (tidak dipengaruhi lagi oleh apa yang dikatakan orangbaik berupa sanjungan-sanjungan, maupun kritikan).

Di sinilah kita mulai mengerti bahwa betapa berharganya penderitaan dan salib di dalam kehidupan kita. Bahkan bila kita direndahkan dan difitnah, kita mengerti bahwa kita sedang dimurnikan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 06/X/2004 » Penyembuhan kesombongan, HDR Januari-Februari 2004).

05.42 -

Kesombongan (St. Bernadus dari Clairvaux)



Ajaran rohani ini diberikan St. Bernadus dari Clairvaux, seorang abas biara sistersian yang termasyur, memiliki hati yang  lemah lembut dan penuh kasih.

Atas permintaan seorang rahibnya, St. Bernadus menguraikan kebajikan kerendahan hati dan dosa kesombongan.

Tahap-tahap kesombongan :

I.Penghargaan yang kurang terhadap saudara-saudara/memandang remeh saudara-saudara yang lain

1. Rasa ingin tahu

Orang seperti ini tidak lagi memeriksa batin-nya, tetapi sebaliknya mulai memeriksa orang lain. Seringkali membiarkan panca indranya untuk melihat dan mendengar apa saja; lalu timbul suatu pembelaan diri: “Mengapa tidak boleh melihat, bukankah Tuhan telah memberikan mata untuk melihat:”

Pandangan itu bukanlah dosa, tetapi dosa mengintip dibelakangnya. Maka jika ada godaan-godaan kita harus hentikan segera dan tidak berdialog dengan godaan tersebut.

Kita tahu kelihaian setan yang tahu kelemahan manusia dimana ia tidak menggoda secara langsung tetapi perlahan-lahan, sedikit demi sedikit hingga jatuh ke dalam dosa.

Contoh : Hawa mulai memandang buah pengetahuan itu, setan mulai menggoda dengan licik dan berkata: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej 3:1). Maka setan telah memberikan buah terlarang kepada Hawa dan mengambil  kehidupan dalam diri Hawa (firdaus).

2. Pikiran dan sikap yang sembrono

Tidak memperhatikan dirinya sendiri, melainkan ingin tahu tentang orang lain (pikirannya tidak terarah kepada Allah yang hadir dalam dirinya, perhatiannya tercerai-berai keluar).

Mudah iri hati/dengki/meremehkan orang lain yang dianggap rendah darinya/sering menghakimi/kadang-kadang menunjukkan kesedihan atas kesalahan-kesalahannya, tetapi pada saat lain berbangga-bangga seperti anak kecil akan kehebatannya/bersedih hati, kalau melihat orang lain lebih baik daripada dia (ini menunjukkan pribadinya yang tidak seimbang).

3. Suka bersenang-senang

Perhatiannya hanya terarah bagaimana supaya ia bisa tampak lebih baik daripada orang lain (melihat kebaikan pada orang lain, ia tidak senang; tidak segan-segan menghancurkan orang lain yang mulai bertumbuh).

Seperti pelawak yang hanya memperhatikan penampilannya saja, tidak pernah mengingat-ingat sesuatu yang merendahkan dia dan karena itu tidak pernah memikirkan kegagalan/apapun (hanya mengarahkan pandangannya kepada jasa-jasanya sendiri dan senang membicarakan dirinya sendiri).   Inilah gambaran orang yang mengisi pikirannya dengan sesuatu yang kosong dan murahan.

4. Suka membual

Jika orang ini mempunyai kesempatan untuk berbicara, ia akan mengungkapkan ide-ide dan gagasan-gagasannya supaya pada akhirnya orang tahu ia hebat, ia melakukan untuk mendapatkan pujian (kalau tidak ia akan stress--menyalurkan sesuatu dalam dirinya/menyalurkan betapa hebatnya dia itu).

Orang seperti ini suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan dijawab sendiri, tidak peduli dan tidak berminat untuk menambah pengetahuan orang lain, kalau orang lain berbicara suka dipotongnya untuk mendengarkan dia dan ia senang memberikan nasehat-nasehat.

5. Suka berbuat aneh-aneh

Orang ini membanggakan diri, seolah-olah ia lebih baik dari orang lain dan ingin melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain, agar tampak kelebihannya bahwa ia lebih superior”.

Contoh: Perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan perpuluhan dari segala penghasilanku” (Luk 18:10-12).

Orang-orang seperti ini senang melakukan devosi-devosi pribadi agar kelihatan kesalehannya, tetapi dia malas beribadat bersama.

6. Suka menerima sanjungan

Ingin dipuji dan disanjung, jika dipuji ditelannya bulat-bulat (merupakan sanjungan kosong/sebagai racun). Suka memuji pekerjaannya sendiri dan tidak memperhatikan motivasinya (lebih percaya pandangannya sendiri daripada orang lain—walaupun suara hatinya menuduh dia, dia akan mengabaikan suara hatinya).

Bagi orang rendah hati sanjungan itu tidak ada artinya.

II. Meremehkan kewibawaan

1. Kecandangan/presumsi

Bila seseorang mengira bahwa dia itu lebih baik daripada orang lain, maka ia akan berusaha untuk tampil ke depan umum agar selalu menjadi yang nomer satu dalam pertemuan maupun diskusi.

Kalau ada persoalan/diskusi yang sudah selesai ia selalu mengungkit-ungkit lagi dan membahas hal-hal yang sudah selesai. Karena ia mengira tidak ada sesuatu yang baik, semuanya dicela/hal apapun selalu dikritiknya.

Kalau diberi tugas yang tidak begitu penting, maka dia akan marah-marah dan memberontak. Suka mengambil tugas-tugas yang melampaui kekuatannya, sehingga akhirnya melakukan kesalahan-kesalahan. Umumnya tidak mau mengakui kesalahan/tidak mau ditegur.

2. Pembelaan/pembenaran diri

Banyak sekali  cara-cara untuk melakukan pembelaan diri yang sebenarnya pembelaan terhadap dosa. Bila melakukan kesalahan besar, akan memberikan alasan bahwa ia tidak bermaksud melakukan kesalahan itu.

3. Pengakuan yang tidak jujur

Orang melakukan pengakuan pura-pura supaya dilihat rendah hati, tetapi sebenarnya menunjukkan kesombongan yang lebih besar (memakai topeng kerendahan hati, supaya tidak diketahui orang lain).

Pengakuan ini lebih berbahaya daripada membela kesalahan dengan keras kepala. Orang seperti ini tidak berusaha membela kesalahannya, tetapi justru melebih-lebihkan kesalahannya

Kemudian ia mengakukan kejahatan seolah-olah kesalahan yang dilakukannya tersebut tidak dapat diampuni, sehingga orang yang menegurnya menjadi bingung karena timbul suatu pertanyaan, “Benarkah ia melakukan kesalahan itu, mungkinkah tuduhan itu keliru.”

4.Pemberontakan

Hanya rahmat Tuhan yang besar saja, dapat memberikan orang ini kemampuan untuk menerima hukuman dengan tenang. 

Kalau sebelumnya ia memperlakukan saudara-saudaranya dengan kesopanan yang pura-pura, sekarang ia terang-terangan menyatakan ketidaktaatan dengan meremehkan wibawa pimpinan

Orang yang mencintai Allah harus sungguh taat dan segenap hati patuh kepada pimpinannya.

III. Penghinaan kepada Allah.

1. Berbuat dosa dengan bebas.

Bila Allah dalam kerahiman-Nya yang besar tidak mencegah orang tersebut, maka dia akan sampai kepada suatu keadaan untuk “meremehkan Allah”. 

Kita jumpai orang-orang yang murtad dan keluar dari Gereja Katolik cukup sering terjadi karena pemberontakan-pemberontakannya, misalnya seorang imam/suster yang murtad akan menjadi jauh lebih jahat daripada awam yang jahat (karena kepahitan dan kebencian).

2. Kebiasaan untuk berbuat dosa.

Orang ini sedikit demi sedikit kehilangan rasa “Takut akan Allah” karena seringkali berbuat dosa. Orang ini diperbudak hawa nafsunya, sehingga perlahan-lahan suara hatinya mati (tidak memperdulikan orang lain).

Marilah dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk mengalahkan kesombongan ini dan bertumbuh dalam kerendahan hati yang sejati.


(Sumber: Warta KPI TL No. 06/X/2004 & No. 07/XI/2004 » Tahap-tahap kesombongan, HDR Januari-April 2004).

Artikel terkait

Penyembuhan kesombongan

Selasa, 03 November 2015

20.22 -

Kesombongan



Kesombongan adalah hilangnya kerendahan hati, dosa yang sangat berbahaya, akar dari dosa-dosa yang lain; erat sekali kaitannya dengan pemberontakan dan karakter.

Ada 2 karakter dalam kehidupan kita:

1. Karakter Allahkerendahan hati.
2. Karakter Ibliskesombongan.

Pertama kali kesombongan hadir di sorga, di suasana yang damai. Ketika kekuasaan malaikat (Lucifer) begitu banyak di tangannya, lalu lupa diri bahwa segala sesuatu hanya ciptaan dari Allah, lalu dia memberontak dan Tuhan membuang dia bersama 1/3 dari pengikut-pengikutnya ke dasar bumi yang paling dalam (bdk 2 Ptr 2:4) – satu kali berbuat dosa tiada maaf, jadi iblis/setan.

Iblis ingin menyamai Allah (Yes 14:12-15):

Aku hendak naik ke langit – tidak puas dengan kedudukan yang dipercayakan Allah, ingin lebih lagi ... dengan menghalalkan segala cara.

Aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang di langit – merasa lebih tinggi.

Aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara – mengejar kekuasaan dan selalu memerintah, tidak mau melayani.

Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi – selalu meninggikan diri, ingin seperti Allah dalam hal kekuasaan.

Allah sangat membenci kesombongan:

Allah merendahkan orang yang angkuh, menyelamatkan orang yang menundukkan kepala (Ayb 22:29).

Ia tidak menjawab, oleh karena kecongkakan orang-orang jahat (Ayb 35:12).

... orang yang memandang dengan kecongkak Kaurendahkan (Mzm 18:28).

... orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tangung-tanggung (Mzm 31:24).

Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan dibinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka (Mzm 101:5).

Tuhan itu tinggi ... mengenal orang yang sombong dari jauh (Mzm 138:6).

Yang dibenci Tuhan ... mata sombong ... (Ams 6:16-17).

Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan ... kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut penuh tipu muslihat (Ams 8:13).

Rumah orang congkak dirombak Tuhan ... (Ams 15:25).

Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan ... ia tidak akan luput dari hukuman (Ams 16:5).

Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang angkuh akan ditundukkan (Yes 2:11).

Kecongkakkan, keangkuhan ... hancur luluh sama sekali (Yes 16:6-7).

Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau ... (Ob 1:3)

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yak 4:6; 1 Pet 5:5-6).

Tetapi manusia jatuh dalam dosa satu kali masih ada pengampunan (tidak ada satu manusiapun yang tidak punya kesombongan); makanya iblis iri hati luar biasa dengan manusia dan sakit hati luar biasa dengan Tuhan

Dia mau melawan Tuhan tidak bisa, maka dia merusak anak-anak-Nya dengan menjauhkannya, sehingga Bapanya sakit hati.

Strategi iblis mendorong pada kelebihan kita bukan pada kelemahan kita, pada saat kita merasa sukses/sombong, diserang dikelemahannya.

Ciri-ciri kesombongan:

- Merasa tidak sombong Contoh: ahli Taurat merasa tidak buta; ketika dibilang buta, reaksinya marah sehingga hatinya sulit bertobat dan menjadi dosa kekal - tidak mengenal Yesus yang sudah hadir, masih menunggu Mesias yang dijanjikan.

- Merasa dirinya rendah hati – yang bisa mengatakan rendah hati itu orang lain dan Tuhan.

- Gampang tersinggung – kupingnya tipis.

Definisi kesombongan:

- Memandang diri lebih dari orang lain. Mudah melihat kesombongan pada orang lain dari pada diri sendiri.

- Sikap melawan Tuhan, artinya bermusuhan dengan Tuhan – memandang rendah orang lain, selalu melihat kesalahan orang lain, kurang waktu untuk memandang Allah.

- Punya pandangan terhadap diri lebih besar dari pada pandangan Allah terhadap dirinya.

- Ingin berdiri sendiri, terlepas dari Allah.

- Tidak mau kalah dan selalu membandingkan dengan dirinya.

- Senang kalau mendapati dirinya lebih hebat dari orang lain. Sebaliknya marah, kecewa, minder jika dirinya lebih rendah dari orang lain.

- Membenci orang yang disainginya.

- Merasa puas jika mendapati dirinya sudah lebih hebat dari saingannya.

- Berusaha menjatuhkan orang lain, merendahkan orang lain.

- Selalu mendambakan kata-kata manis/pujian dari orang lain. Puas kalau disanjung dan sedih kalau tidak ada yang menyanjung.

- Sulit ditegur, mudah tersinggung dan marah, jika dikritik apalagi bila bicara keras pada dia.

- Selalu berpusat pada diri sendiri, mengandalkan kekuatan sendiri.

- Dalam percakapan akan terlihat: selalu mengecam dan mengkritik karena merasa lebih baik dari orang lain.

- Akan mencari alasan untuk melawan siapa pun. 

Allah memanggil orang yang rendah hati (1 Kor 1:27-29)

- Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat,

- apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

-  apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.

Supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Contoh: kisah Gideon (Hak 6-8) – Ketika orang Median berkuasa atas orang Israel; Tuhan pilih Gideon untuk memimpin tiga puluh dua ribu orang Israel untuk menyerang orang Median sebanyak seratus tiga puluh lima ribu orang (berarti perang 1:4); 

Tuhan berkata: “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki ... jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku ... 

Siapa yang takut dan gentar biarlah ia pulang ...” “Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka minum air, Aku akan menyaring mereka bagimu ... 

Barangsiapa menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat (karakter tidak baikseakan-akan mau minum semuanya), 

semua orang yang berlutut untuk minum - menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang (karakter yang baiksabar).” Tuhan hanya minta tiga ratus orang untuk menemani Gideon berperang melawan orang Median yang berjumlah seratus tiga puluh lima ribu orang (1:450).

Anugerah itu bisa membelokkan semua hukum membuka semua pintu yang tertutup/membuat perkecualian. 

Tahap-tahap kesombongan menurut St. Bernadus dari Clairvaux

1. Rasa ingin tahu
2. Pikiran dan sikap sembrono
3. Suka bersenang-senang
4. Suka membual
5. Suka berbuat aneh-aneh
6. Suka menerima sanjungan
7. Kecandangan/presumsi
8. Pembelaan/pembenaran diri
9. Pengakuan yang tidak jujur
10 Pemberontakan
11 Berbuat dosa dengan bebas 
12 Kebiasaan untuk berbuat dosa 

Tanda-tanda kesombongan:

1. Merasa lebih penting dari orang lain
2. Mementingkan hak-haknya dari pada tanggung jawabnya, tidak mau melayani kalau tidak dilayani
3. Selalu melihat kelemahan orang lain
4. Sulit mengampuni
5. Rasa kasihan diri sendiri
6. Lebih takut pada manusia dari pada Tuhan
7. Tidak mau diajar
8. Mementingkan diri sendiri
9. Tidak mau mengakui kesalahan
10 Pelit/kikir

11 Menyakiti orang lain ... sinis
12 Berdasarkan pada hikmat/kepandaian sendiri
13 Sulit untuk taat
14 Tak sabar terhadap orang lain
15 Suka menceritakan kelemahan orang lain
16 Seringkali tidak puas dengan keadaan diri sendiri
17. Perlu dibujuk-bujuk kalau di minta melakukan sesuatu
18. Memberikan alasan sebelum melakukan sesuatu sebelum mulai
19. Kurang menghargai diri
20. Mengharapkan orang lain meminta pendapatnya

21. Menuntut orang lain harus sama dengan dirinya
22. Mudah iri hati
23. Seolah-olah menjamah kemuliaan Tuhan
24. Ingin selalu terlihat kuat dan gagah
25. Hanya mau tunduk pada keinginannya sendiri
26. Kurang setia kawan
27. Selalu menuntut kesempurnaan (perfeksionis)
28. Kurang tau berterima kasih
29. Mudah curiga dengan orang lain
30. Bersuka cita kalau orang lain menderita

31. Tidak mau menerima sesuatu dari orang lain
32. Tidak ada rasa hancur hati/kurang lemah lembut
33. Merasa memiliki kelebihan dalam hal berorganisasi
34. Merasa memiliki kelebihan dalam hal kebangsaan/suku
35. Merasa memiliki kelebihan dalam hal kekayaan
36. Kurang mampu melihat kebutuhan orang lain
37. Menuntut agar keluarga mendengan suaranya (mentang-mentang sudah bayar ... marah-marah)
38. Merasa memiliki dalam hal kepandaian
39. Seringkali merasa tanpa dia, sesuatu tidak akan berhasil
40. Secara sadar membuat dirinya berbeda dangan mereka

41. Merasa orang lain beruntung bila mengenal dia
42. Merendahkan diri secara sengaja/dibuat-buat
43. Membela kebenaran diri sendiri
44. Menganggap remeh pekerjaan yang harus dikerjakan (malas).
45. Tidak ingin disamakan dengan orang lain
46. Sukar untuk mengekspresikan perasaan/menyatakan perasaan
47. Suka mencampuri pekerjaan orang lain (jadi pengacau)
48. Berpikir ia punya jawaban atas semua masalah untuk semua orang
49. Tidak bisa rileks, selalu merasa tegang, akhirnya sulit bersifat wajar
50. Suka memusatkan perhatian pada pekerjaan
51. Suka menasehati orang lain tanpa diminta, tetapi tidak mau dengar nasehat orang lain

Kalau hal-hal di atas masih ada dalam kehidupan kita, mari kita berubah, datang pada Tuhan dan minta pengampunan atas kesombongan kita.

(Sumber: Warta KPI TL No. 39/VII/2007; Renungan KPI TL Tgl 14 Juni 2007 & 12 Juli 2007, Dra Yovita Baskoro, MM