Tampilkan postingan dengan label *Kesabaran*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kesabaran*. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

19.57 -

Teladan penderitaan, kesabaran dan ketekunan Ayub



[1:6] Pada suatu hari datanglah ANAK-ANAK ALLAH menghadap Tuhan dan di antara mereka datanglah juga IBLIS.

[1:7-8] Maka bertanyalah Tuhan kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Lalu bertanyalah Tuhan kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku AYUB? Sebab TIADA SEORANGPUN DI BUMI SEPERTI DIA, yang demikian SALEH dan JUJUR, yang TAKUT AKAN ALLAH dan MENJAUHI KEJAHATAN."

[1:9-11] Lalu JAWAB IBLIS KEPADA TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? BUKANKAH (A) ENGKAU YANG MEMBUAT PAGAR SEKELILING DIA dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah KAUBERKATI dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

(A) ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN, YANG SANGAT SUKA KEPADA SEGALA PERINTAH-NYA: 

Malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu (Mzm 91:11); 

Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya (Mzm 112:1-3).

[1:12] Maka FIRMAN TUHAN KEPADA IBLIS: (B) "NAH, SEGALA YANG DIPUNYAINYA ADA DALAM KUASAMU; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan Tuhan

[1:13-15] Lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang.

[1:16] Kambing domba dan penjaga-penjaga, api telah menyambar dari langit dan membakar habis.

[1:17] Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang.

[1:18-19] Anak-anak Ayub yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati.

[1:20-21] Maka berdirilah AYUB, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, KATANYA: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL, TERPUJILAH NAMA TUHAN!"

[2:1] Pada suatu hari datanglah ANAK-ANAK ALLAH menghadap Tuhan dan di antara mereka datang juga IBLIS untuk menghadap Tuhan.

[2:2] Maka bertanyalah Tuhan kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

[2:3] FIRMAN TUHAN KEPADA IBLIS: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku AYUB? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia TETAP TEKUN DALAM KESALEHANNYA, MESKIPUN ENGKAU TELAH MEMBUJUK AKU MELAWAN DIA UNTUK MENCELAKAKANNYA TANPA ALASAN."

[2:4-5] Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

[2:6] Maka FIRMAN TUHAN KEPADA IBLIS: (C) "NAH, IA DALAM KUASAMU; HANYA SAYANGKAN NYAWANYA."

[2:7-8] Kemudian Iblis pergi dari hadapan Tuhan, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.

» (BC) ALLAH tidak akan MENGIZINKAN KEJAHATAN jika Dia tidak menyebabkan suatu kebaikan yang datang dari kejahatan itu (Kopendium KGK 58; 1Ptr 3:17; Rm 8:28).

[2:9] Maka (D) BERKATALAH ISTRINYA KEPADANYA: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!

[2:10] Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"

[2:11] Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghiburnya.

[4:8, 5:17-18] Maka (E) BERBICARALAH ELIFAS, orang Teman: "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. ... Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula."

[22:10, 21-27] Maka (F) Elifas, orang Teman, menjawab: "Itulah sebabnya engkau dikelilingi perangkap, dan dikejutkan oleh kedahsyatan dengan tiba-tiba. ... Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan. Terimalah apa yang diajarkan mulut-Nya, dan taruhlah firman-Nya dalam hatimu. Apabila engkau bertobat kepada Yang Mahakuasa, dan merendahkan diri; apabila engkau menjauhkan kecurangan dari dalam kemahmu ... Jikalau engkau berdoa kepada-Nya, Ia akan mengabulkan doamu."

[8:3-7] Maka (G) BERBICARALAH BILDAD, orang Suah:. "Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? ... Kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia."

[11:4-6, 11] Maka (H) BERBICARALAH ZOFAR, orang Naama: "Katamu: Pengajaranku murni, dan aku bersih di mata-Mu. Tetapi, mudah-mudahan Allah sendiri berfirman, dan membuka mulut-Nya terhadap engkau, dan memberitakan kepadamu rahasia hikmat, karena itu ajaib bagi pengertian. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Allah tidak memperhitungkan bagimu sebagian dari pada kesalahanmu. ... Ia mengenal penipu dan melihat kejahatan tanpa mengamat-amatinya."

[36:5-7, 21] (I) BERKATALAH ELIHU bin Barakheel, orang Bus itu: "Ketahuilah, Allah itu perkasa, namun tidak memandang hina apapun, Ia perkasa dalam kekuatan akal budi. Ia tidak membiarkan orang fasik hidup, tetapi memberi keadilan kepada orang-orang sengsara. Ia tidak mengalihkan pandangan mata-Nya dari orang benar, tetapi menempatkan mereka untuk selama-lamanya di samping raja-raja di atas takhta, sehingga mereka tinggi martabatnya. Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara."

[42:7-8] (J) FIRMAN TUHAN KEPADA ELIFAS, orang Teman: "MURKA-KU MENYALA terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, KARENA KAMU TIDAK BERKATA BENAR TENTANG AKU SEPERTI HAMBA-KU AYUB. Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan PERGILAH KEPADA HAMBA-KU AYUB, LALU PERSEMBAHKANLAH SEMUANYA ITU SEBAGAI KORBAN BAKARAN UNTUK DIRIMU, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena HANYA PERMINTAANNYALAH YANG AKAN KUTERIMA, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub."

» (D-J) PENYEBAB PENDERITAAN ada dua: 

(1) Karena DICOBAI OLEH KEINGINANNYA SENDIRI, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yak 1:14-15). 

(2) Karena DIKEHENDAKI ALLAH (1 Ptr 3:17).

Jadi, JANGANLAH MENGHAKIMI SESEORANG YANG SEDANG MENDERITA, karena kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan orang tersebut.

[42:9] Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan Tuhan kepada mereka. Dan Tuhan menerima permintaan Ayub.

[42:10] Lalu (K) TUHAN MEMULIHKAN KEADAAN AYUB, SETELAH IA MEMINTA DOA UNTUK SAHABAT-SAHABATNYA, dan TUHAN MEMBERIKAN KEPADA AYUB DUA KALI LIPAT DARI SEGALA KEPUNYAANNYA DAHULU.

(K) Ada berkat yang luar biasa jika kita mau mengasihi musuh kita (Mat 5:44).

TELADAN PENDERITAAN, KESABARAN dan KETEKUNAN AYUB (Yak 5:10-11).

SEKALIPUN AKU DICEMOHKAN OLEH istri dan sahabat-sahabatku, NAMUN KE ARAH ALLAH MATAKU MENENGADAH SAMBIL MENANGIS, supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya (2:9; 16:20-21, 6).

IA TAHU JALAN HIDUPKU; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. KAKIKU TETAP MENGIKUTI JEJAK-NYA, AKU MENURUTI JALAN-NYA dan TIDAK MENYIMPANG. PERINTAH DARI BIBIR-NYA TIDAK KULANGGAR, DALAM SANUBARIKU KUSIMPAN UCAPAN MULUT-NYA. Tetapi Ia tidak pernah berubah siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga. Karena IA AKAN MENYELESAIKAN APA YANG DITETAPKAN ATASKU, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya (23:10-14).

ALLAH MEMPUNYAI PERTIMBANGAN DAN PENGERTIAN (12:13). AKU TAHU: PENEBUSKU HIDUP, AKU SENDIRI AKAN MELIHAT MEMIHAK KEPADAKU; MATAKU SENDIRI MENYAKSIKAN-NYA dan bukan orang lain (19:25-27).

Allah itu bijak dan kuat, ... Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah AKU HARUS MEMOHON BELAS KASIHAN KEPADA YANG MENDAKWA AKU (9:4, 15). BILA AKU BERBICARA, PENDERITAANKU TIDAK MENJADI RINGAN (16:6).

Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya dan menuduh Allah berbuat yang kurang patut (1:22; 2:10)

Ingatlah! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

(Sumber: Kitab Ayub)


Kamis, 05 Januari 2017

18.56 -

Peranan kesabaran dan kelembutan dalam hidup bersama



Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendirian, kita membutuhkan orang lain. Dalam hidup bersama ini tidaklah mudah, terkadang kita bisa merasakan sakit hati atau terluka, namun hal itu tidak berarti bahwa seketika itu juga kita boleh menunjukkan perasaan tersebut dan melampiaskan kemarahan dan sakit hati kita kepada orang lain.

Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh (Ams 12:16).



Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin (Ams 17:27).



Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Ams 13:3).


Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu (1 Ptr 3:10).

Manusia batiniah berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Tuhan (1 Ptr 3:4).

Allah berkenan pada kesetiaan dan hati lembut (Sir 1:27).

Janganlah memfitnah dan bertengkar, hendaklah selalu ramah dan bersikap lemah lembut dan hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Tit 3:2; Rm 12:18). 

Kalau dimaki, berkatilah; kalau dianiaya, bersabarlah; kalau difitnah, tetaplah menjawab dengan ramah (1 Kor 4:12-13) sehingga kita dapat memancarkan cinta kasih-Nya melalui kebajikan kesabaran dan kelemahlembutan. Kebajikan ini sangat penting untuk kehidupan bersama dalam keluarga, komunitas, Gereja, dan masyarakat. 

Bila menghadapi suatu masalah atau keadaan yang kurang menyenangkan, yang mungkin tidak sesuai seperti yang tidak kita kehendaki, janganlah kehilangan kesabaran. 

Apalagi kalau kita melampiaskan kekesalan hati kita, hanya demi mendapatkan kelegaan hati sesaat, namun penyesalan dan kerugian besar yang panjang di kemudian hari. Sikap yang tidak baik ini pada akhirnya mendatangkan kerugian pada diri sendiri dan orang lain.

Tuhan berkehendak supaya kita tetap menjaga sikap yang baik dan tetap santun, bahkan ketika kita tengah menghadapi situasi yang sangat tidak adil. Sikap yang baik akan berbuah kebaikan dan kemenangan (Ams 16:32; Sir 1:22-23). 

Pelanggaran cinta kasih kepada sesama karena tidak sabar, cepat marah, cepat emosi, suka akan perbantahan, mengucapkan kata-kata kasar dan keras, telah melukai hati banyak orang dan merusak relasi-relasi dalam hidup bersama. 

Bila kita membiarkan kemarahan menguasai diri kita, suka memegahkan diri, dan merendahkan orang lain, bahkan orang-orang yang dekat dengan kita, maka sesungguhnya kita tidak tahu cara mengasihi.

Mengasihi adalah menghargai, melihat sesama sebagai kehadiran Tuhan sendiri (Sir 9:14; Mat 25:4; Rm 12:10)

Teladan kesabaran bagi kita adalah Tuhan Yesus sendiri sebagai penjelmaan Allah, Dia sabar menanggung segalanya dan Dia sabar pada murid-murid-Nya, ketika murid-Nya lamban mengerti, dengan sabar Yesus terus membimbing mereka menuju kedewasaan rohani.

Roh kesabaran ini sangat membantu kita untuk bisa rendah hati. Sabar dalam segala sesuatu, baik hal yang baik maupun yang tidak baik. Sabar ini lebih mengarah pada hati dan tindakan kita. Karena orang sabar itu dikasihi dan disayang oleh Tuhan dan manusia.

Kelemahlembutan artinya tidak melawan, bersedia menerima pandangan orang lain. Seperti Tuhan Yesus yang lemah lembut, tidak melawan tindakan kekerasan dengan kekerasan; bisa sabar dan rendah hati dalam segala ancaman; dalam melayani, ramah terhadap siapa saja, menerima siapa saja tanpa kecuali dan tidak membeda-bedakan. 

Roh yang lembut dan tenang ini sangat berharga dalam pandangan Allah, maka setiap orang dianjurkan untuk mengejar kelembutan hati. Sebab ini mendatangkan damai dan sukacita di bumi dan dalam hidup bersama dengan orang lain.

Ciri-ciri orang yang lemah lembut

Orang yang baik, mereka tidak mengejar kebaikan diri sendiri, tetapi kebaikan orang lain, mereka hidup bagi orang lain.

Tidak menyakiti hati orang lain, tetapi dengan penuh kelembutan, tenang, dan sederhana bergaul, berdamai dengan siapa saja.

Tidak banyak bicara namun dia memiliki kebijaksanaan sebab dia dikuasai oleh Roh Kudus yang ada dalam hatinya. 

Selama manusia menolak untuk menerima bahwa kita adalah campuran dari terang dan gelap, kebaikan dan kegagalan, kebencian dan cinta, altruis dan egosentris, kematangan dan ketidak matangan, dan bahwa kita semua adalah anak-anak Bapa yang sama, kita akan selalu membagi dunia menjadi musuh dan kawan, keburukan dan kebaikan. Kita akan terus membangun dinding yang tinggal di sekeliling kita dan komunitas kita, dan menyebarkan prasangka.

Bila kita menerima bahwa kita memiliki kelemahan dan cacat-cacat, maka kita dapat tumbuh dalam kebebasan batin dan cinta yang lebih besar. Dan kita dapat sungguh-sungguh menerima orang lain apa adanya.

Komunitas adalah tempat pengampunan, sebab selalu ada saja kata-kata, perbuatan-perbuatan, sikap-sikap yang melukai, situasi-situasi rawan penyebab perpecahan.

Pengampunan adalah mau terbuka, mau mendengarkan sekali lagi, memberikan tempat kepada mereka dalam hati kita.

Mengampuni memang tidak selalu mudah, kita semua harus mau diubah oleh-Nya, mau berubah, belajar memaafkan setiap hari, dan setiap hari lagi.

Mengampuni 70 kali 7 kali, mengampuni dengan segenap hati dan terus menerus. Saling memaafkan akan menyembuhkan hati kita, menyembuhkan relasi kita, dan menyembuhkan komunitas kita, keluarga kita, Gereja kita, dan masyarakat kita. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk menjadi terbuka seperti itu. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 90/X/2011 » Peranan Kesabaran dan Kelemahlembutan Dalam Hidup Bersama, Vacare Dero Edisi V/XIII/2011).

Selasa, 27 Oktober 2015

00.33 -

Sabar Menanti Tuhan Bekerja



Dalam menghadapi masalah kehidupan, seringkali kita tidak sabar menanti Tuhan bekerja (marah/kecewa/putus asa) seakan-akan semua pergumulan terkantung-kantung dan tidak jelas, menanti begitu lama (sudah berdoa, novena/membaca Kitab Suci/sudah ikut pelayanan) tetapi jawaban Tuhan tidak kunjung datang, lalu memakai akal budi sehingga masalah tidak selesai. Perjalanan rohani seperti mendaki gunung, setapak demi setapak.


Hal ini yang perlu diwaspadai. Karena banyak anak-anak Tuhan bangga sekali dengan teori-teori firman Tuhan, tetapi ketika mengalami sendiri begitu rapuh. Karena teori yang dikatakan dalam Alkitab tidak sesederhana dalam prakteknya. Jangan biarkan setan tertawa karena hati kita marah pada Tuhan. 



Contoh: Elkana orang yang sangat setia dan tidak terkenal, menyembah Tuhan tanpa melihat orang. Hana hatinya gusar, karena Tuhan ... (1 Sam 1:1-11). Hati yang gusar karena masalah menunggu waktu.


Untuk segala sesuatu ada waktunya
Berjaga-jagalah dan waspada terhadap ...
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan 
apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu 
rancangan damai sejahtera 
dan bukan rancangan kecelakaan 
(Pkh 3; Mat 16:6; Yer 29:11)

Jika kita yang minta percepatan/tidak sabar menunggu waktu Tuhan, ada kompensasinya/ada harga yang dibayar. 

Contoh: Kalau mata pencaharian kita diambil, maka ada kemungkinan kita lari dari Tuhan Yesus pergi ke Tuhan yang lain – ini permainan Iblis tingkat tinggi.

Jika Tuhan yang mau mempercepat, Tuhan yang bertanggung jawab.

Contoh: Dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus ... sebelum waktunya ... Maka setan-setan itu meminta pindah ke dalam kawanan babi. Maka terjunlah sekawanan babi dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. ... maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dengan mendesak supaya Ia meninggalkan (Mat 8:28-34). Satu kota diizinkan mengalami kesusahan (pengusaha babi/nelayan bangkrut) - karena babi terjun ke danau melambangkan mata pencaharian (karena danau tercemar - babi haram).

Tuhan akan menjadi pembimbing kita 
bahkan sampai pada kematian'
(Mzm 48:15 versi James King)

Dalam kenyataan sejarah gereja. Banyak orang-orang di bawa ke padang rumput yang hijau dengan air yang tenang, tetapi tidak sedikit orang-orang yang pada akhirnya hidupnya di bawa pada kematian untuk kemuliaan.

Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; 
orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
Kebodohan menyesatkan jalan orang, 
lalu gusarlah hatinya terhadap Tuhan.
(Ams 19:1-3)

Kita perlu belajar Perjanjian Lama dan evaluasi/analisa “apa yang Tuhan lakukan di PL”. Pada PL “Roh Kudus ” hanya menyertai “Raja, Nabi, dan Imam”, sedang sejak Yesus kembali ke sorga semua orang yang sudah dibaptis disertai Roh Kudus. Jadi kita tidak perlu belajar mulai dari nol. 

Tetapi ingatlah! Karena “cangkokan”, kita harus waspada pada saat berbuah lebat - akar tidak kuat – dapat tumbang. Maka dari itu kita harus hidup dalam komunitas yang saling menopang/menguatkan.

Marilah kita belajar pada tokoh Daud dan Ayub - anak kesayangan Tuhan - melakukan dosa, selalu bertobat dan dalam segala hal mendahulukan Tuhan (mempunyai kerendahan hati – mampu menutupi segala kekurangan kita).

Kesalahannya telah diampuni, ...menerima hukuman dari tangan Tuhan karena segala dosanya (Yes 40:2).


Daud : mengambil istri orang, lalu membunuh suaminya (2 Sam 11) – Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; anak haram tersebut akan mati (2 Sam 12).

Ayub : setiap kali, apabila hari-hari pesta anak-anaknya yang lelaki telah berlalu, Ayub mempersembahkan korban bakaran untuk silih atas dosa-dosanya (Ayb 1:4-5); Ayub takut anaknya masuk neraka (Ayb 3:25) - mengambil silih seperti ini adalah tindakan yang tidak benar, seharusnya anak dihajar.

Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (kebajikan) ... dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman ... yang membawa kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita ... ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan ... supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa ... janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. 

Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya ... menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. ... berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Ibr 12:1-17).

(Sumber: Warta KPI TL No. 30/X/2006).