Tampilkan postingan dengan label *K Hidup rohani*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *K Hidup rohani*. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2020

Tuhan sudah merencanakan seluruh perjalanan hidupku

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepada-Mu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Matius 11:28-30). 


Ketika melihat kembali ke masa kecil, saya menyadari betapa ada beberapa periode di masa kecil saya yang kurang kasih dalam keluarga. Saya hidup dalam pola asuh otoriter, dimana orang tua tidak memberikan ruang diskusi yang cukup pada anak. Saudara-saudara dan saya harus patuh, dan konsekuensi jika melanggar adalah hukuman yang ditentukan bahkan sampai pukulan. Jadi sedari kecil saya sudah terbiasa menerima persetujuan atau larangan, tanpa ada penjelasan mengapa hal itu boleh atau tidak boleh dilakukan. 

Ada suatu contoh konkrit yang masih saya ingat, ketika ayah saya melihat rambut saya dipotong pendek dan beliau sangat tidak suka, bahkan beliau mendiamkan saya selama berhari-hari. Saya dibiarkan kebingungan mengapa ayah saya tidak mau berbicara kepada saya. Hingga beberapa tahun kemudian saya mulai memahami tindakannya, beliau sangat takut jika anak perempuan nya akan bersikap kelaki-lakian jika rambutnya dipotong pendek. Dan hal sederhana seperti ini harus saya yang menyimpulkan, karena tidak ada diskusi yang menjelaskan segala sikap dari orang tua saya. 

Dan masa remaja saya, saya selalu merasa dianak tiri-kan” karena tidak ada penjelasan yang bisa saya terima mengapa ibu saya selalu membela kakak laki-laki saya meskipun sikapnya salah, ataupun ketika ibu saya membela adik saya jika berbuat kasar dan terus mengingatkan saya jika adik adalah anak yang membawa keberuntungan dalam kepercayaan orang tua. 

Dalam keluarga tidak ada sikap yang terbuka atau diskusi yang netral, banyak sekali pertanyaan dalam hidup saya yang tidak terjawab. Oleh sebab itu semasa masa SMP, saya memberontak dengan cara mengikuti banyak kegiatan di sekolah supaya tidak perlu pulang ke rumah tepat waktu. Saya mengikuti berbagai kegiatan seperti OSIS, koor untuk pelayanan di gereja, atau tim inti regu voli sekolah yang memakan waktu latihan cukup banyak. Dan dengan semua kegiatan ini, semua emosi negatif dan tenaga saya bisa tersalurkan dengan sebebas-bebasnya

Maju beberapa tahun kemudian, masa dimana saya kuliah kebetulan ibu saya menghendaki saya kuliah di suatu jurusan idamannya. Dan universitasnya pun sudah ditentukan harus yang di dekat rumah saya. Namun saya merasa itu bukanlah jurusan yang saya inginkan dan kebetulan juga jurusan yang saya inginkan tidak ada di universitas yang disarankan ibu saya. Dan saya pun mendapatkan suatu bentuk “hukuman” yaitu tidak boleh menggunakan fasilitas transportasi yang disediakan orang tua. Jadi saya selama beberapa tahun awal masa kuliah saya harus naik transportasi umum yang beberapa kali berganti (dari keluar gang berjalan kaki, naik bemo, lalu mengejar bus umum). 

Efek negatif dari pola asuh ini menjadikan saya seorang yang mandiri dan tomboy. Dari kecil memang saya suka memanjat pagar, memanjat pohon di depan rumah atau kalau sedang di rumah kakek, bisa saya panjat juga pohon kelapa di halaman rumahnya. Untuk bermain ke rumah sahabat saja saya lebih memilih untuk memanjat tembok samping rumah, hingga pada suatu hari ayah saya tanpa berkata apa-apa atau tanpa memberi peringatan langsung memasang teralis penghalang hingga tidak bisa saya lewati lagi.

Namun, puji Tuhan dengan segala karakter tomboy dan kemandirian saya, semua ini menjadi keuntungan besar untuk saya selama masa kuliah yang harus menggunakan transportasi umum. Dengan gaya tomboy dan wajah yang tidak begitu ramah membuat saya bisa lebih menjaga diri dengan baik ketika ada preman atau pengamen kasar di bus umum yang memiliki niat tidak baik pada penumpang. 

Semakin dewasa saya tumbuh dengan karakter yang keras, mudah marah dan mudah sekali menangis ke arah frustasi karena saya tidak bisa menyalurkan perasaan seperti orang kebanyakan. 

Sedari dulu karena hal ini saya selalu bercerita kepada Bunda Maria. Kebetulan dulu sekolah saya berdempetan dengan komplek gereja. Dan setiap curhat ada rasa kelegaan yang bisa menenangkan jiwa saya. Tuhan seakan selalu mendengarkan dan memberi petunjuk untuk semua keputusan yang saya tanyakan. Dan salah satunya adalah mengenai jodoh. Saya selalu rutin berdoa Rosario semenjak saya mendapatkan suatu Rosario skapulir oleh-oleh dari Korea Selatan pemberian boss saya. 

Dan ketika saya bertanya apakah ada seseorang di luar sana yang bisa memahami saya? Lalu suatu hari Tuhan jawab dengan mengirimkan seorang laki-laki yang berbeda dari kebanyakan teman laki-laki saya. Suami saya dulu pertama kali mengajak “date” bukan ke restoran atau cafe tetapi ke acara adorasi bersama Rm. Yohanes, O Carm. 

Singkat cerita setelah 4 tahun pacaran, kami menikah dan selama awal pernikahan kami mengalami pasang surut hubungan sebagai pasangan. Bertahun-tahun kami mengandalkan kekuatan manusia, tidak mengikuti ajaran Tuhan Yesus untuk saling mengasihi. Pertengkaran demi pertengkaran kami lalui hingga suatu saat keadaan rumah tangga kami hampir renggang. Hal itu terjadi karena saya keras kepala dan suami tidak sabar menghadapi saya . 

Akhir tahun 2016 suami saya mengikuti Camp Pria Sejati (PRISKAT) dan saya pun mengikuti Camp Wanita Berhikmat Katolik (WABERKAT). Puji Tuhan, kami dipulihkan dan saya mulai melihat begitu banyak sisi pandang lain yang dulunya dengan keras kepala saya tolak untuk melihat. 

Berkat pengajaran di Camp kami disadarkan akan peran kami masing-masing agar kehidupan keluarga kami bisa lebih harmonis dan bahagia. Selain itu saya juga melihat Tuhan membentuk saya dengan cara-Nya yang misteriusDia membentuk saya menjadi pribadi yang terus berharap dan mengandalkan kekuatan-Nya sejak saya kecil hingga saat ini. Sejak saat itu, saya merindukan menjadi "anak terang". 

Dengan berjalannya waktu  saya semakin mengerti arti cinta kasih yang saya rasa hilang dari orang tua tidaklah benar-benar hilang. Dulu, saya memang tidak di-didik dengan bahasa kasih melalui sentuhan atau pelukan. Sekarang, Tuhan memperlihatkan pada saya bahwa orang tua saya telah melakukan segala hal untuk saya dengan bahasa kasih melalui hadiah dan melayani. Setelah mengerti hal ini, maka saya sungguh berterima kasih atas segala pengorbanan mereka.

Oleh karena itu, saya mendekatkan anak-anak kepada Tuhan, mengajari mereka  untuk saling terbuka dan membantu sebisanya jika ada salah satu dari mereka mengalami kesulitan atau menghadapi masalah. Kami sekeluarga mulai belajar saling mendengarkan, saling mendukung dan saling menyayangi satu sama lain. 

Ketika saya letih lesu dan berbeban berat, saya percaya Tuhan akan memberikan kelegaan kepada saya. Dan ketika Dia mengatakan “pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” dan saya memegang janji-Nya ketika mengatakan: “jiwamu akan mendapatkan ketenangan”. Sebab ternyata benar saya bisa rasakan kuk yang dipasang itu enak dan bebannya pun ringan.” 

Sabtu, 13 Juni 2020

Peneguhan melalui sabda pengetahuan

Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah (Yes 30:1). 


Pada awal GPM terbentuk, ada kerinduan di hati saya untuk bergabung. Namun di pikiran saya: “Apakah aku bisa bangun pagi dan berkomitmen.” Ada juga keinginan untuk japri ibu Elly, namun niat baik tersebut juga tidak terlaksana. Oleh karena itu saya berdoa mohon Tuhan memberikan peneguhan dari teman-teman jika saya boleh bergabung dengan GPM.

Sebelum pertemuan KPI TL-ONLINE berlangsung (28 Mei 2020), saya berencana untuk tidak mengikutinya karena suami saya di rumah dan saya hendak memasak. Saya mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Ketika mengupas bawang, tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat untuk melihat HP dan ikut bergabung dengan line-voice KPI TL. 

Pada saat Pujian Penyembahan, Ibu Ivon mengucapkan sabda pengetahuan: “Ada seorang ibu yang masih ragu dengan komitmennya. Ingatlah! Tuhan rindu anak-anak-Nya selalu datang memuji dan menyembah-Nya.” Saya merasa bahwa sabda pengetahuan itu ditujukan pada saya. Oleh karena itu saya menangis sepanjang pertemuan itu. Setelah pertemuan, saya cepat-cepat menyelesaikan masakan saya sambil terus bergumul dalam hati, apakah benar sabda itu untuk saya?

Menjelang jam 2 siang, saya melihat WA. Ternyata jam 10.58 ada WA dari Ibu Cecil, yang bunyinya: “Desiii ... aku merasa Tuhan memanggilmu untuk bergabung di GPM.” 

Saat saya membaca WA tersebut saya menangis dan saya langsung menelpon ibu Cecil karena ingin mendengar peneguhan dari Tuhan, katanya: “Entah mengapa saat itu aku melihat wajah anggota di KPI TL-ONLINE, tiba-tiba mataku tertuju pada fotomu dan jantungku berdebar-debar, ada dorongan yang sangat kuat di hatiku untuk menyampaikan padamu bahwa kamu harus masuk grup GPM. Ketika saya mendengar ibu Ivon mengeluarkan sabda pengetahuan: ‘Ada seorang ibu yang Tuhan mau dia bergabung di GPM. Jangan ragu untuk tidak bisa berkomitmen.’ Ketika mendengar sabda pengetahuan itu, aku langsung WA kamu dengan tangan gemetar. Setelah aku menyampaikan kabar itu kepadamu, hatiku lega.” Setelah itu saya japri ibu Yovita minta ijin untuk dapat bergabung di GPM. 

Selama ikut GPM ini, saya sering mendapat teguran melalui renungan dan kesaksian yang diberikan. Semoga melalu GPM dapat terus meningkatkan iman saya dan membawa saya untuk mencintai Tuhan lebih dalam lagi.

(Sumber: GPM, Deasy).

Minggu, 26 Maret 2017

Memberkati anak

Pada pertengahan bulan Agustus 2011, saya mendapat undangan “Seminar Motivasi”. Untuk hadir ke seminar itu, saya bete sekali, pikir saya: “Ya … seperti biasa, hanya diberi teori-teori saja.” Karena sungkan pada guru kelas anak saya yang bungsu (SMP kelas IX), maka saya menghadiri seminar itu.

Karena perasaan saya bete, maka saya kurang memperhatikan narasumber ketika dia memprestasikan segala sesuatu yang harus dibuat oleh orang tua. 

Tiba-tiba telinga saya mendengar narasumber berkata: “Siapa yang setiap pagi memberkati anaknya?” Katanya lagi: “Di waktu pagi, pikiran masih fresh karena otak baru saja beristirahat. Maka sebelum berangkat sekolah, peganglah tangan anak anda dan berkatilah dia dengan bersuara, katakanlah: ‘Tuhan, aku bersyukur memiliki anak yang baik ini, dia begitu taat kepada-Mu, dia cerdas dan rajin belajar, dia sangat menghormati dan menyayangi keluarga dan sesama dsb (kata-kata positif). Lakukanlah ini setiap pagi selama tiga bulan secara rutin maka anda akan melihat hasilnya nanti.” 

Setelah mendengar penjelasan itu, dalam hati saya berkata: “Wouw … boleh juga dicoba. Hal ini tidak sulit, karena setiap hari saya memberkati anak-anak saya. Tinggal menambahkan doa bersuara sambil memegang tangannya.” 

Puji Tuhan, hasilnya sungguh luar biasa, anak saya sekarang memiliki pribadi yang lebih baik dari biasanya, sikap dan tutur katanya lebih lembut daripada biasanya. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 92/XII/2011).

Jumat, 24 Maret 2017

Melepas pengampunan

Anak ke dua saya menderita autisme. Pada suatu hari anak kost (Mbak X) berkata: " Aku tidak mau memegang anaknya cik Ming, karena anaknya cik Ming gila. Kalau aku memegangnya bisa ketularan karena kena air liurnya." 

Mendengar perkataan itu, saya sangat marah, hati saya sakitnya luar biasa ... tanpa sadar saya mengambil pisau dan mengejar Mbak X. 

Maklumlah, pada saat itu belum mengenal kebenaran firman Tuhan. Sambil menangis saya memeluk anak saya yang memang mempunyai kebutuhan khusus (anak autis), kata saya: "Mama sayang kamu."

Melihat kemarahan saya yang luar biasa, maka Mbak X pindah kost. Saya merasa tenang dan bebas karena tidak ada pengganggu lagi di rumah saya.

Setelah mengenal firman Tuhan, pada suatu hari saya mendengar teguran dalam batin: "Ingat! Kamu masih menyimpan dendam di hatimu."

Pada suatu hari ada seseorang yang berkata pada saya: "Saya tidak bisa tidur karena jengkel dengan seseorang." Setelah mendengarkan perkataan itu saya diingatkan kembali atas peristiwa yang lalu dengan Mbak X dan ada teguran dalam batin: "Aku tidak melihat persoalanmu, tetapi Aku melihat reaksimu dalam menanggapi persoalan itu ..." 

Setelah mendengar teguran itu saya berdoa: "Tuhan, jika Engkau sungguh-sungguh mencintaiku, pertemukanlah aku dengan Mbak X." 

Beberapa bulan kemudian saya melihat Mbak X naik sepeda motor sedangkan saya naik becak. Tukang becak langsung saya suruh ngebut mengejar Mbak X. 

Saya memanggilnya, tetapi dia tidak menghiraukan panggilan saya ... malahan dia meludahi saya. 

Karena usaha saya tidak berhasil maka saya berdoa lagi: "Tuhan, kalau saat ini aku tidak berhasil, berilah aku kesempatan lagi."

Beberapa bulan kemudian saya melihat Mbak X di sebuah toko yang penuh sesak pengunjungnya. Saya langsung memanggilnya, tetapi dia tidak menghiraukan panggilan saya ... malahan dia membuang muka.

Dalam hati saya berkata: "Terima kasih Tuhan, aku tidak diludahi lagi."

Lalu saya berdoa lagi: "Tuhan, Engkau sungguh baik, pertemukan lagi aku dengan Mbak X."

Mbak X akrab dengan mertua saya, maka dia datang ke mertua saya untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru Cina. Rencananya dia akan pulang sebelum saya datang, tetapi dia terserang diare pada saat itu sehingga dia menunda kepulangannya. 

Setiap Tahun Baru Cina keluarga besar saya, ada suatu kebiasaan untuk berkumpul dalam keluarga besar, maka saya beserta keluarga datang ke rumah mertua. 

Di ruang tamu saya melihat Mbak X dan saya langsung mengulurkan tangan sambil berkata: "Mbak, Maafkan saya." Katanya: "Cik Ming bukan kamu yang salah, tapi aku yang salah." Kami saling berpelukan dan saling memaafkan. Di sinilah terjadi rekonsiliasi.

Dalam hati saya berkata: "Tuhan, Engkau sungguh baik. Jika saat ini Engkau memanggilku, aku sudah siap karena aku telah melepas pengampunan."

Pengalaman ini sungguh-sungguh tidak pernah hilang dalam ingatan saya. Di sinilah saya melihat suatu kebenaran firman Tuhan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil jika kita memohon dengan sungguh-sungguh. 

Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga, apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat 18:18).

(Sumber: Warta KPI TL No.103/XI/2012)



Buah dari mengampuni

Sehari sebelum berangkat retret di Ngadireso Tumpang, pengasuh cucu saya pamit berhenti kerja. Saya bertanya pada Tuhan: “Tuhan, saya pergi retret apa tidak?” Suara hati saya berkata: “Tidak usah pergi.” 

Tetapi pada hari “H” ada dorongan yang kuat dalam hati untuk berangkat mengikuti retret. Lalu saya berpesan pada pembantu saya: “Tolong jagakan X (cucu saya) karena saya mau retret selama tiga hari.” Saya berpesan demikian karena A (ibu X) tidak perhatian terhadap anaknya.

Di dalam retret saya mendengar pengajaran “harus mengampuni, walaupun dalam keadaan apapun.” Sejak saat itu saya memutuskan “mau berjalan bersama Tuhan”, dan saya percaya bahwa Tuhan akan menyertai saya sehingga saya mampu untuk mengampuni dalam keadaan apapun juga. 

Tiba-tiba saya mendengar suara X: “Oma… Oma …” Pikiran saya berkata: “Aduh Tuhan, kehidupan saya berat lagi.” Meskipun berpikir demikian, pintu kamar saya buka, ternyata … X tertawa dan mencium saya. Melihat X, hati saya seperti disiram air yang sejuk, merasakan suatu kelegaan.

Lalu saya bangun dan membuka apotik. Karena apotik ramai, saya tidak bisa mengawasi X. Dengan asyiknya X menyobeki bungkus salep. Ketika melihat kejadian itu, saya panggil X dan X saya rangkul sambil berkata: “Kamu sobeki bungkus salep itu semua, bagaimana Oma bisa jual?” 

Pada saat itu saya merasa heran dengan keadaan saya, karena dengan tenang saya dapat berkata-kata tanpa nada kemarahan seperti biasanya, bahkan pikiran saya berkata: “Salep-salep itu akan saya jual dengan harga murah karena sudah tidak ada bungkusnya lagi dan saya rela merawat X dengan tulus.” 

Belum ada satu jam sejak kejadian itu, tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dan berkata: “Ibu, saya mau menjaga cucu ibu.” 

Melihat campur tangan Tuhan dalam permasalahan ini, saya menangis sambil berkata: “Tuhan, Engkau sungguh baik, Engkau kirimkan pembantu yang benar-benar bisa membantu saya.”

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa pada saat saya tidak mengandalkan Tuhan, hati saya mengalami kejengkelan-kejengkelan dengan keadaan di sekeliling saya yang tidak sesuai dengan harapan saya. Hal ini mengakibatkan sakit penyakit dalam tubuh saya sehingga kandungan saya diangkat.

Sejak saya memutuskanmau berjalan bersama Tuhan” sesuai dengan tema retret yang saya ikuti, banyak sekali yang Tuhan ubahkan dalam hidup saya.

Tuhan menyadarkan saya untuk menuntun A ke jalan yang benar. Sekarang saya dapat berkata-kata dengan lembut kepada A dan A sekarang juga mau ke gereja.

(Sumber: Warta KPI TL No.113/IX/2013).

Jumat, 04 November 2016

SAHABAT

Sejak memasuki persekutuan ini, saya sungguh-sungguh merasakan kasih Tuhan yang luar biasa, saya merasakan kebenaran firman Tuhan yang hidup.


Hal inilah yang membuat hati saya selalu berkobar-kobar untuk menceritakan kebaikan Tuhan dan pengajaran-pengajaran yang berkesan di hati saya kepada setiap orang yang saya jumpai.

Pada suatu hari, saya bercerita pada saudara saya (X) tentang ilustrasi “gelas kehidupan”. Gelas lambang bejana kehidupan kita. Jika kita mengisi gelas tersebut dengan batu besar (Tuhan) dan batu yang lebih kecil (keluarga) terlebih dahulu, maka gelas tersebut masih dapat diisi dengan kerikil (pekerjaan/apa yang ada di bumi ini). 

Jika kita goncang-goncangkan gelas tersebut, maka pasir (kesenangan/hobi) dapat memasuki celah-celah batu dan kerikil tersebut. Tetapi jika kita melakukan prioritas yang terbalik, kita akan dimuntahkan oleh Tuhan sehingga kita merasakan kesakitan. 

Ketika mendengar penjelasan ini, mulut X miring kiri, miring kanan. Karena begitu bersemangatnya, saya tidak menyadari keadaan tersebut. 

Melihat itu suami saya menendang kaki saya dan menegur saya, katanya: “Ngapain kamu cerita tentang Tuhan. Kalau mau cerita harus ada batasnya!”

Pada saat menghadiri Misa, saya mendengar homili Romo Goris tentang “Sahabat Yesus” Sahabat berarti Sa  - satu dalam suka, jika sahabat bersukacita maka kita juga turut bersukacita, tidak ada alasan untuk iri hati; ha - hadir dalam duka, jika sahabat mengalami kesesakan, kita harus hadir bersama-sama; bat - berjabat tangan, kita harus selalu mendoakan sahabat kita. Ketika mendengar homili tersebut saya benar-benar merasa belum menjadi sahabat yang baik terhadap X. 

Syukur kepada Allah, firman Allah yang hidup melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia mengusik hati X yang super keras dan tidak percaya kepada Tuhan sehingga dia menerima undangan seorang temannya untuk mengikuti kegiatan di salah satu komunitas yang pertemuannya sebulan sekali. 

Berkat firman-Nya, kehidupan X diubahkan secara dahsyat dan sekarang dia dapat berkata: “Kasih Tuhan begitu luar biasa dalam kehidupanku.” 

(Sumber: Warta KPI TL No. 88/VIII/2011).

Senin, 10 Oktober 2016

Mendidik anak

Setiap hari Kamis kelompok ini mengadakan Pendalaman Iman, sedangkan hari Selasa kelompok ini juga mengadakan doa syafaat. 

Di doa syafaat kami memuji dan menyembah Tuhan lalu mendoakan bangsa dan negara; pimpinan Gereja, mulai dari Paus, Uskup, Imam dan biarawan-biarawati; Kelompok kategorial, khususnya KPI TL; yang sakit, yang keluarganya bermasalah dll. Selain itu kami juga merenungkan sabda Tuhan.


Bertepatan dengan bulan Kitab Suci, kami merenungkan “Sabda Allah Sumber Energi Keluarga” dengan sub tema “Hidup Berkeluarga sebagai suatu panggilan dari Allah sendiri” 

Pada saat itu kami saling berbagi pengalaman sesuai dengan tema bulan Kitab Suci. 

Yohana

* Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-31). Allah mempunyai mega proyek bahwa semua manusia yang diciptakan-Nya akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, tetapi ada juga yang menggunakan kebebasannya dengan menolak tawaran tersebut

Masing-masing kita dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya, ada yang dipanggil untuk selibat, ada juga yang dipanggil untuk membentuk suatu keluarga, ada yang dianugerahi keturunan, ada yang tidak. Dan setiap manusia dipanggil-Nya untuk melayani-Nya

Di zaman sekarang ini, anak kita lebih cenderung main game, nonton TV , internet, face book dari pada membaca Kitab Suci. 

Jadi, kita yang lebih dahulu mengerti pengajaran Kitab Suci, kita harus menyadarkan mereka bahwa “Kitab Suci adalah rambu-rambu/pedoman, sumber segala-galanya dalam kehidupan ini.” 

Kita yang dipanggil melakukan karya-karya Tuhan janganlah berpikiran jadul (jaman dulu). Yang penting diri saya mengerti firman, anak-anak tidak perlu mengerti, mereka cukup hanya tahu ceritanya saja. Jangan cuma hafal firman saja, jadilah pelaku firman. Karena ada bahayanya jika kita hanya hafal, kita akan menjadi orang yang sombong. Hal ini akan menjadi batu sandungan bagi saudara seiman kita. 

Pada waktu anak-anak masih kecil, kami berkumpul di tempat tidur berdoa bersama-sama. Di bulan Mei dan Oktober, kami selalu berdoa rosario. 

Ketika Berty berusia empat tahun, dia sudah bisa mendaraskan “Salam Maria” Jadi dia juga mendapat giliran untuk mendaraskannya. Seringkali dia berdoa dalam keadaan mengantuk, jika hampir tiba gilirannya, dia dicubit kakaknya. Setelah selesai mendaraskan, dia tidur lagi, ketika hampir tiba gilirannya dicubit lagi sama kakaknya.

Dulu, saya berkecil hati karena bukan orang yang berprofesi sebagai dokter/karyawati, tetapi sekarang saya bersyukur berprofesi sebagai ibu rumah tangga. 

Ternyata panggilan itu sangat mulia dan lengkap, saya menjadi pendamping suami saya dan juga pengatur ekonomi keluarga, pendoa, penghibur, perawat dan pembantu yang baik bagi suami dan anak-anak saya, saya juga bisa menjadi pendidik bagi anak-anak saya, terutama dalam hal iman. 

Jika kita mendidik mereka secara benar sesuai dengan ajaran Yesus, maka suatu saat mereka dapat mengubah dunia ini menjadi lebih baik. 

Setiap manusia mendapat anugerah dari Tuhan, ini harus dipertanggungjawabkan sekecil apa pun yang dirasakannya.

Jadi, keprihatinan Gereja terhadap pengembangan iman ini juga harus kita pikirkan agar umat yang sudah dibaptis secara Katolik tidak mengalami kebimbangan dalam bergumul dengan imannya. 

Vira

Sejak anak-anak saya masih kecil, saya selalu menanamkan agar anak-anak mau ke Gereja. Kadang-kadang mereka menunda ke Gereja karena pagi harinya mereka lebih tertarik menonton TV. Meskipun mereka marah dan menangis, saya tidak peduli, saya memaksa mereka agar berangkat ke Gereja pagi hari. 

Ternyata setelah mereka sudah besar, mereka tahu kewajibannya. Jika di hari Minggu mereka ada acara, maka mereka pergi ke Gereja di hari Sabtunya.

Banyak pasangan muda yang lupa bahwa pendidikan iman itu adalah tanggungjawabnya, mereka mengira perkembangan iman adalah tanggungjawab guru sekolah maupun guru BIAK. 

Seharusnya kita mengajarkan Kitab Suci itu sejak dini kepada anak-anak kita sehingga firman itu akan mengakar dalam kehidupan mereka. 

Mengajar di sini bukan berarti saya berkotbah terhadap anak-anak saya, tetapi saya mengajak anak-anak saya untuk berdoa dan membaca Kitab Suci secara bersama-sama. 

Meskipun saat itu mereka tidak dapat mengerti, biarlah karunia Roh Kudus ada di dalam dirinya berkarya. Bukankah mereka sudah mendapatkan karunia Roh Kudus saat dibaptis? 

Jadi, pada saat Iblis mencobainya, mereka tidak akan terpengaruh arus global, karena mereka sudah mempunyai pedoman hidup yang benar. Kita yang menanam, Tuhanlah yang memberi pertumbuhan. 

Olga 

Saya dan keluarga saya menjadi Katolik karena pengaruh dari kakak saya. Namun sayang sekali, sekarang dia berpindah agama lain karena mempunyai pasangan bukan orang Katolik, padahal dulu dia pernah berkeinginan menjadi pastor. 

Begitu dibaptis, ibu saya begitu giatnya mengikuti kegiatan rohani (WK, Legio Maria) sehingga sesampainya di rumah kecapaian, langsung tidur. 

Jadi, pengajaran-pengajaran yang didapatnya tidak pernah diberikan kepada anak-anaknya. Itulah sebabnya pemahaman iman Katolik tidak mengakar pada anak-anaknya sehingga mereka berpendapat bahwa semua agama itu sama saja. 

Akhirnya ... adik-adik saya juga berpindah agama karena pengaruh lingkungannya. Kita yang telah mengikuti kegiatan rohani ini seharusnya menjadi pelaku firman sehingga keluarga dan orang-orang di sekeliling juga merasakan kasih Tuhan. 

Ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya kita menjadi pengajar, mengajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah. Tetapi kita lamban mendengarkan karena lebih menyukai susu daripada makanan keras (Ibr 5:11-12)

(Sumber: Warta KPI TL No. 77/IX/2010).










Senin, 03 Oktober 2016

Indahnya hidup berkomunitas

Ketika mengantar keponakan saya ke dokter kandungan, saya pun ingin pap smear Karena tahun ini saya terlambat untuk periksa pap smear.


Beberapa hari kemudian, saya ditelp dokternya, katanya: “Ibu, apakah ibu bisa datang ke sini hari ini? Karena hasilnya kurang bagus.” 

Pulang dari kantor saya langsung ke dokter tersebut. Tanpa persiapan apa-apa, di sana saya langsung dibiopsi (diambil dagingnya sedikit untuk diperiksakan ke Lab).

Beberapa hari kemudian, saya ditelpon kembali oleh dokter tersebut, katanya: “Ibu, apakah ibu bisa datang ke sini hari ini? Karena hasil biopsinya kurang bagus.” Saya pulang ke rumah dan dokter tersebut telpon lagi, katanya: “Persiapkan saja puasa, ketemu saya di Rumah Sakit Darmo.”

Saya datang jam sembilan dalam keadaan puasa, diterangkan hasilnya, ternyata hasil biopsinya jelek dan harus dilakukan operasi kecil di leher rahim.

Hasil dari conisasi dokter berkata: “Kandungan ibu diangkat saja karena di salah satu sisi ada sedikit sel yang jelek, lebih baik seluruh kandungan diangkat saja.”

Dari hasil Lab tersebut, saya konsultasi ke dokter yang lainnya. Hasilnya ... empat dokter mengharuskan saya operasi dan hanya satu dokter yang mengejutkan saya, karena dia mengatakan hasilnya jelek dan dia menyarankan untuk dikemo saja Saya begitu stres menghadapi masalah demi masalah ini. Rasanya kok nggak ada selesai-selesainya. 

Saya menyimpan pergumulan ini. Yang tahu penyakit saya hanya suami, anak-anak dan satu kakak perempuan saya. Suami dan anak-anak saya protes: “Kenapa mami, kok kami nggak boleh bilang pada saudara-saudara dan teman-teman?” Tetapi jawab saya: “Tidak! Saya percaya pada lima dokter! Dan kita berdoa sendiri saja.”

Pada suatu hari, saat pulang dari persekutuan, di dalam mobil Titiek bercerita bahwa teman anaknya, Raymond sudah tiga hari tidak pulang rumah. Dan pada saat Titiek turun dari mobil dia berkata: “San, tolong doakan Raymond ya?” Jawab saya: “Tik, kamu ini temen anakmu tiga hari nggak pulang aja kok semua orang dititipi doa.” 

Meskipun Tuhan sudah menyadarkan saya, bahwa dukungan doa sangat penting, tetapi saya masih menegarkan hati untuk tidak menceritakan pergumulan saya pada orang lain.

Pada saat persekutuan minggu berikutnya, saya berbisik pada Titiek: “Tik, aku ini punya masalah ... tolong bawakan ke doa syafaat. Tapi jangan beritahu siapapun. Hanya kamu saja yang tahu pergumulanku.” Jawab Titiek: “Nggak bisa San, harus menyebut namamu!” Tanya saya lagi: “Yo wes, kalau gitu aku akan datang ke doa syafaat.” 

Akhirnya saya datang ke doa syafaat. Di sana saya dapat mensyaringkan pergumulan saya dengan bebas. Di sana saya mendapatkan suatu kelegaan yang luar biasa. 

Pada waktu didoakan Bapa Kami, saya merasakan kesemutan dari kepala sampai ujung kaki saya, badan saya kaku, saya sangat takut pingsan dan saya berusaha melemaskan badan ... akhirnya tangis sayapun meledak.

Di rumah saya menceritakan pada suami dan anak-anak saya bahwa saya telah berani menceritakan pergumulan saya di doa syafaat. Mendengar hal itu mereka sangat senang dan merekapun berani menceritakan pada semua saudara dan teman-temannya.

Sungguh luar biasa ... setiap hari telpon dan sms terus berbunyi memberi dukungan doa. Ada juga teman-teman yang datang ke rumah menceritakan penyakitnya yang lebih berat, dan ternyata sampai sekarang mereka sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apa pun. Itulah yang memberi kekuatan pada saya.

Sebelum menjalani operasi, teman-teman di doa syafaat datang memberi dukungan saya. Saya masuk kamar operasi mulai jam dua siang dan pemulihan sampai jam delapan lebih seper-empat malam. Pada saat mulai operasi, saya bersikeras memegang rosario, meskipun dokter melarangnya. 

Seminggu di rumah sakit, saya masih mengalami kekuatiran dengan penyakit saya. Jadi saya hanya berdoa “Bapa Kami” sejumlah usia saya, sesuai dengan pengajaran yang pernah saya dapat dari Ibu Yovita.

Seminggu kemudian, pada waktu menyerahkan hasil operasi, saya berkata: “Dokter, jangan cerita hasilnya, baik atau buruk. Saya nggak mau dengar dulu hasilnya, saya nggak kuat. Ceritakanlah pada suami saya saja.” Pada saat dokternya membaca hasil lab, saya nggak berani melihat ekspresi mukanya, saya hanya berdoa “Bapa Kami”.

Akhirnya dokter tersebut berkata: “Puji Tuhan Susan, hasilnya baik. Tidak ada sedikitpun sel yang ada di kiri dan kanan kandunganmu. Semuanya sudah bersih.” Semakin hari saya merasakan semakin kuat badan saya.

Di sinilah saya merasakan kekuatan doa dan perbedaan dalam kehidupan saya. Dulu, ketika saya menyimpan pergumulan saya sendiri, saya merasa stres berat

Tetapi setelah saya berani terbuka pada komunitas saya, saya mendapatkan kekuatan dalam menghadapi pergumulan saya. Karena saya mendapat dukungan doa, saran-saran dan lain-lainnya. 

Sekarang saya bersyukur, karena Tuhan telah memberi roh keberanian, sehingga saya berani terbuka terhadap pergumulan. 

Inilah indahnya hidup berkomunitas, jika ada yang mengalami pergumulan, sesama anggota komunitas ikut mencarikan solusinya dengan kekuatan Allah secara bersama-sama.

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009).