Tampilkan postingan dengan label *K Doa*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *K Doa*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Maret 2017

05.33 -

Berkat doa Tuhan menggerakkan hati

Setelah lulus dari kuliah S1, kakak saya bertanya: “Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliah lagi?” Jawab saya: “Biayanya terlalu mahal, dari pada untuk biaya kuliah, lebih baik saya belikan rumah.” 

Mendengar jawaban itu, kakak saya langsung menjanjikan akan membiayai kuliah saya.

Berbekal janji itu, maka saya mencari kampus yang lebih murah biayanya. Satu bulan lamanya saya menunggu transfer uang kuliah, tetapi uangnya tidak kunjung ditransfer. 

Saya bercerita pada kakak saya yang lainnya, lalu dia mendesak saya untuk menagihnya. Dalam keadaan bimbang saya berdoa: “Tuhan, saya nggak tahu mesti bagaimana?” 

Tiba-tiba saya diingatkan firman di Yer 17:5 – “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri”. Begitu mendengar firman itu, saya memohon ampun pada-Nya.

Untuk pembiayaan awal kuliah, saya berhutang pada kakak saya yang lainnya. Pada suatu hari, kakak saya berkata: “Aku bosan sama kamu, setiap kali datang ke sini selalu berhutang. Cobalah untuk sms pada yang menjanjikan biaya kuliahmu.” 

Menjelang ujian, saya harus sudah membayar lunas biaya kuliah. Dalam keadaan bimbang saya sms pada kakak saya yang menjanjikan biaya kuliah. 

Ternyata Tuhan mengetuk hatinya, malam itu juga saya mendapatkan balasan sms, katanya: “Aku sudah transfer biaya kuliahmu.” 

Setelah membaca SMS itu saya langsung bersyukur sekaligus juga memohon ampun pada Tuhan karena dalam menghadapi suatu permasalahan lebih banyak mengandalkan logika daripada percaya pada-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 94/II/2012).



Apa saja yang kamu minta dan doakan,

percayalah bahwa kamu telah menerimanya,

maka hal itu akan diberikan kepadamu.



(Mrk 11:24)

Jumat, 24 Maret 2017

20.36 -

Kuasa doa

Kadangkala pada saat saya pelayanan, saya kesulitan dengan mobil saya, mobil itu jalannya pelan dan sering mogok. Maklumlah mobil itu sudah tua, buatan tahun 1987.

STNK mobil itu atas nama keponakan saya yang berdomisili di Surabaya. Karena keponakan saya berencana membeli mobil baru, maka kami berniat menjual mobil itu agar keponakan saya terhindar dari pajak progresif.

Suami saya mengatakan akan menjual mobil itu dengan harga Rp 45 juta, tetapi tawaran tertinggi hanya 35 juta.

Setiap malam saya berdoa: "Tuhan, jikalau Engkau berkenan aku melanjutkan pelayanan. Tolong tukar mobil yang mogok-an ini." Meskipun sudah berdoa, ternyata mobil tua ini tidak ada yang membeli.

Karena mobil belum ada yang membeli, maka saya berniat mengganti nama kepemilikan mobil tersebut dengan nama saya. 

Di samsat saya mengurus mutasi surat mobil tersebut. Pada saat saya mengurus surat tersebut, ada salah satu polisi di sana berkata: "Ibu, ibu sudah tua kok ngurus surat sendiri? Kok nggak minta tolong diuruskan orang saja?" 

Tanya saya: "Berapa ongkosnya?" Jawabnya: "Empat ratus ribu rupiah ditambah pajaknya ... dua juta rupiah." Kata saya: "Dua juta? Wong mobil ini mau saya jual." 

Polisi itu balik bertanya: "Mau dijual berapa?" Jawab saya: "Empat puluh lima juta rupiah." Kata polisi itu: "Merem-mereman aja empat puluh juta. Ada AC-nya apa nggak?" Jawab saya: "Ada."

Polisi itu setuju membeli mobil saya dan beliau langsung mengurus surat balik nama kepemilikan mobil tersebut. Saat surat-surat mobil dikerjalan, polisi itu mentraktir saya makan. 

Kemudian polisi itu membayar harga mobil tersebut tanpa melihat kondisi mobil saya. 

Mengalami peristiwa ini saya benar-benar bingung, mobil saya terjual di kantor samsat, pembeli tanpa melihat kondisi mobil langsung membayarnya.

Terlebih lagi ketika saya mengatakan: "Nanti pulangnya saya naik apa?" Polisi itu langsung memberi uang lima puluh ribu untuk naik taxi.

Ketika selesai semua surat-surat secara sah, polisi itu bertanya di mana mobil saya. Saat melihat kondisi mobil saya, polisi itu marah, katanya: "Mobil ini keropos semua dan AC-nya tidak nyala, Ibu membohongi saya!"

Saya jawab: "Saya bohong apa pak? Tadi bapak tanya 'ada AC atau tidak', saya jawab 'ada'. Bapak tidak tanya apakah AC-nya nyala atau tidak."

Polisi itu marah-marah dan mengatakan: "Jual beli ini batal saja, kembalikan uang saya!" Saya menjawab: "Bagaimana transaksi ini bisa dibatalkan, karena surat-suratnya sudah diproses semua?"

Setelah mendapat uang dari penjualan mobil tua itu, saya berdoa novena: "Tuhan saya mau beli mobil yang sesuai dengan uang ini."

Pada waktu menantu saya datang ke rumah, saya menceritakan penjualan mobil itu, kok malah uang hasil penjualan mobil itu dimintanya. Meskipun dengan perasaan kecewa, saya berikan karena saya menyadari bahwa uang itu memang berasal dari mobil yang dulu diberikan kepada saya.

Saya berserah kepada Tuhan dan saya percaya rencana Tuhan pasti indah.

Pada suatu hari saya mendapat telpon dari seseorang, katanya: "Bu, ada kabar gembira. Ibu mendapat mobil baru." 

Saya mohon penyertaan Tuhan pada waktu mengambil mobil baru itu. Karena gembiranya mendapatkan mobil baru dengan asesoris yang komplit, maka tanpa sadar saya menabrak mobil depan saya. Puji Tuhan, dia tidak minta ganti rugi bemper belakang yang rusak.

Tiga hari setelah itu, menantu saya menelpon menanyakan kabar saya seperti biasanya. Dengan penuh semangat saya bercerita tentang mobil baru itu. Ditengah pembicaraan itu saya baru menyadari bahwa mobil itu adalah pemberian menantu saya sebagai hadiah ulang tahun. 

Entah mengapa tiba-tiba saya juga berkata: "Ada mobil tapi nggak ada bensinnya, percuma nggak bisa jalan." Mendengar itu menantu saya juga memberi uang bensin.

Itulah karya Tuhan yang luar biasa, dimana kita mau melayani Dia dengan segenap hati, Dia sediakan segala-galanya. 

(Sumber: Warta KPI TL No.100/VIII/2012 »

18.57 -

Merasakan jamahan Tuhan

Pada tanggal tanggal 30 Desember 2012 - 1 Januari 2013 lingkungan saya mengadakan ziarah rohani ke Jawa Tengah. Karena ingin memberikan kegembiraan di hari ulang tahun ibu saya (31 Desember), maka saya mengajaknya untuk ikut ziarah rohani ini. 

Pikir saya agar beliau tidak jenuh dengan kegiatan rutin setiap hari, yaitu merawat nenek dan ayah saya yang sakit, selain itu ibu saya juga ikut mengasuh cucunya yang masih bayi dan TK.

Ibu saya beragama Kristen Bethany, meskipun demikian beliau mau juga berdoa di gua Maria, bahkan beliau juga ikut beribadah di Gereja Katolik yang berada di Ambarawa. Pada saat berdoa Bapa Kami,saya merasakan ada sesuatu yang terjadi pada ibu saya. 

Jadi, pada saat salam damai, saya tidak mau mengganggunya dengan memberi salam damai. Sedangkan anak saya yang belum mengerti, mengejutkan neneknya dengan memberi salam damai. 

Setelah selesai misa, ibu saya bercerita bahwa pada saat berdoa Bapa Kami, telapak tangan kirinya terasa berat karena ada salib perak, ada corpusnya yang terikat pada rantai. Pada saat itu beliau sangat bersukacita karena merasa dikasihi Tuhan. 

Pada saat malam pergantian Tahun Baru, rombongan kami berada di sebuah restoran untuk makan malam. Di sana kami dihibur dengan berbagai macam lagu. 

Pada saat Galan, anak Ibu Inneke menyumbangkan suara emasnya, suasana makan malam menjadi lebih meriah lagi. 

Di sana juga dibagikan berbagai macam hadiah dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak restoran. Pada saat MC mengatakan: "Siapa yang mau hadiah?" Ibu saya dengan boneknya maju ke depan bersamaan dengan seorang ibu lainnya. 

MC bertanya: "Makanan favorit restoran ini apa?" Karena ibu saya tidak bisa menjawab makanan khas Jogya maka beliau diam saja, tetapi rombongan satu bis menjawab: "Rawon." 

Meskipun demikian pihak restoran tetap memberi hadiah blender kepada ibu saya karena ibu saya lebih tua dibandingkan ibu yang lainnya itu. 

Saya sungguh bersyukur atas hadiah yang diberikan Tuhan pada ibu saya. Bukan blender yang terutama tetapi jamahan Tuhan pada saat berdoa Bapa Kami. 

(Sumber: Warta KPI TL No.105/I/2013).



Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau,

yang berhasrat mengadakan ziarah!



(Mzm 84:6)

Kamis, 23 Maret 2017

20.17 -

Kuasa ucapan syukur



Saya adalah salah satu mahasiswa Sanata Dharma Jogya yang melakukan KBP (Karya Bakti Paroki) di Paroki Roh Kudus Surabaya. 

Saya adalah tipe orang yang mudah stress, jika mempunyai pikiran yang berat atau mempunyai tugas yang menumpuk maka saya jatuh sakit sehingga kadangkala tidak dapat mengerjakan tugas tersebut. 

Setelah selesai mengerjakan tugas, biasanya saya selalu berobat ke dokter. Dan dokter selalu menyarankan untuk beristirahat lama untuk memulihkan kesehatan saya.

Demikian pula pada saat saya menjalani KBP di Surabaya, penyakit tipus dan maag saya kambuh lagi karena keluarga saya rindu untuk berjumpa dengan saya, dan saya pun memikirkan mereka yang berada di Jogya. 

Kebetulan saya mempunyai bibi di Surabaya, beliaulah yang mengantarkan saya ke dokter. Dokter tersebut menyarankan agar saya beristirahat seminggu, tetapi saya menolak saran tersebut. 

Jadi saya hanya minum obat dan berusaha menjalankan tugas sambil menahan sakit. Seminggu kemudian saya terserang batuk yang begitu hebat dan berbagai macam obat sudah saya coba tetapi tidak menyembuhkan batuk saya. 

Pada saat saya mengikuti pengajaran di KPI TL, saya berbincang-bincang dengan Ibu Suliani. Beliau mengatakan akan memberi kumpulan warta KPI TL yang berisi tentang “Masalah Kesehatan dan Solusinya” 

Saya percaya bahwa suatu saat Tuhan akan menyembuhkan kesehatan saya. Maka saya melakukan uji coba penelitian Masaru Emoto tentang “Kekuatan Sebenarnya dari Air”.

Hari pertama: saya mohon berkat dari Tuhan untuk kesehatan saya, lalu sebelum minum air saya mengucapkan syukur atas minuman itu, dan berbicara pada tenggorokan: “Tenggorokan, saya bersyukur Tuhan menciptakanmu untukku. Kalau aku tidak batuk, mungkin aku melupakanmu. Sekarang aku hanya ingin memberikan air untuk menyegarkanmu semoga engkau cepat sembuh.” 

Sungguh luar biasa, air yang hambar terasa manis di lidah dan saya merasakan tenggorokan saya mulai tidak terasa sakit lagi. Sejak saat itu saya selalu berdoa dalam hati: “Tuhan terima kasih atas air yang Engkau berikan kepadaku, semoga air ini dapat menjadi berkat bagi hidupku.” 

Pada waktu hendak mandi, saya juga berdoa: “Semoga hadirmu (air) dapat menyegarkan tubuhku.” Ternyata air yang sama berbeda rasanya ketika didoakan, air yang berada di bak mandi dingin, setelah didoakan terasa segar dan hangat.

Demikian pula pada saat hati saya bete, saya berdoa: “Air jadilah penyalur damai dan mampukan aku untuk mengampuni.” Sungguh luar biasa, saya merasakan ada air yang membasahi wajah saya sehingga wajah saya terasa segar dan saya mampu tersenyum untuk mengampuni, dan hati saya tidak bete lagi.

Setelah mengalami mujizat demi mujizat, saya mulai mengerti bahwa ucapan syukur sangat penting dalam kehidupan ini. 

Maka setiap bangun pagi saya mengucap syukur kepada Tuhan atas tidur yang nyenyak karena tubuh saya mau bekerjasama untuk beristirahat sehingga tubuh saya terasa segar kembali. 

Pada malam hari sebelum tidur saya berterimakasih atas kerjasama yang baik antar seluruh organ tubuh sehingga saya memperoleh kesehatan yang baik. Terima kasih Tuhan atas pengabulan doaku sehingga aku sekarang boleh memperoleh kesehatan yang berasal dariMu.

(Sumber: Warta KPI TL No.117/I/2014).


18.12 -

Berkat doa berani membuka topeng

Dua belas tahun yang lalu, saya mengalami banyak hal yang mengubah cara pandang saya dalam menghadapi kehidupan ini. Salah satunya, saya mendapat “salam damai” ketika mengikuti rekoleksi di Tumpang, sejak saat itu aku merasakan damai sejahtera. 


Karena sudah merasakan rahmat damai sejahtera Allah melampaui segala akal, hati dan pikiran saya tetap tenang meskipun berada di padang gurun. Maka dalam menghadapi suatu persoalan, saya tidak mau lagi menyimpan persoalan itu dalam hati, tetapi saya menyelesaikannya dengan yang bersangkutan. 

Jika kita menghadapi persoalan dengan cintai damai, kita hanya menuai sakit penyakit atau retaknya hubungan dengan keluarga atau komunitas. 

Jadi, sejak saat itu aku berkomitmen mau menjadi orang yang membawa damai di manapun saya berada, maksud saya mau menjadi kaki, tangan, dan hati-Nya. 

Saya di sms oleh seseorang (A) yang mengatakan bahwa dia putus asa dengan keadaan hidupnya, sikap suaminya menyakitkan hati. Karena kegemaran saya adalah kata-kata bijak, maka saya balas sms tersebut dengan penghiburan kata-kata bijak. Ternyata sms tersebut dibaca oleh suaminya (B), dan B menanyakan apa maksud dari sms itu. 

Untuk menghindari kejadian yang tidak diingini, maka saya mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis dalam sms tersebut. 

Layaknya seorang konselor, saya bertanya apa permasalahan yang dihadapi A dan B secara bergantian, kemudian saya menanyai A dan B secara bersama. Di akhir pertemuan, B minta dukungan doa untuk kehidupan rumah tangganya agar harmonis. 

Dulu, saya berpikir: “A dan B sama-sama egois mana mungkin mereka bisa bersatu.” Meskipun B meminta dukungan doa, saya tidak melaksanakan. 

Akhirnya, Tuhan mengirimkan sebuah mimpi pada suami saya sehingga saya didera perasaan berdosa karena tidak mendoakan A dan B. 

Mimpi tersebut adalah A memakai baju pengantin, sedangkan B bersama dengan teman-temannya cuek terhadap A. Menuruit cerita, jika seseorang memakai baju pengantin tandanya mau meninggal.

Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak 4:17).

Sejak saya bergabung dengan komunitas KPI TL dan mendengar pengajaran, cara berpikir saya diubahkan oleh-Nya sehingga saya tidak lagi berpikir seperti dulu dalam menghadapi suatu persoalan. Jadi, sekarang saya belajar melihat segala sesuatunya dalam terang iman.

Suatu hari saya tergerak untuk membuat sebuah renungan kecil di grup BBM ibu-ibu BIAK di wilayah saya setiap hari. Karena Romo Yoseph pernah mengatakan bahwa saya tidak boleh hanya menjadi berkat bagi komunitas saya saja, maka aku menawarkan pada setiap orang untuk membaca renungan “Sarapan Pagi Agar Jiwa Kita Disegarkan OlehNya”, salah satu yang aku tawari adalah C. 

Entah mengapa, suatu hari orang tua C (XY) juga tertarik untuk membaca renungan Sarapan Pagi. 

Suatu hari X sms mengatakan bahwa ingin sharing iman kepada saya. Tentu saja saya bersedia untuk membacanya sesuai dengan komitmen saya. 

X bercerita tentang kehidupan keluarganya, baik suami maupun kedua anaknya. Suatu hari Y juga sms menanyakan apakah X pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya. Dengan jujur saya akui bahwa memang X menceritakan. Lalu Y juga sms menceritakan kehidupan rumah tangganya. 

Inilah kehidupan rumah tangga XY

Dua puluh enam tahun yang lalu X dan Y menikah, mereka hidup sangat bahagia. X begitu bangga mempunyai suami yang jujur, murah hati, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin dan begitu mencintainya meskipun kedua orang tua Y pada awal mulanya tidak menyetujui pernikahan itu.

Dengan berjalannya waktu X merasa heran, ketika ada suatu persoalan yang tidak sepaham, Y sangat marah, padahal Y dikenalnya sebagai seorang yang berhati lembut. Ketika Y marah, X merasa ketakutan dan tidak berdaya, demikian pula dengan kedua anaknya, mereka dicekam perasaan takut.

Y pernah berkata kepada X: “Ibu jangan mengira bapak ini jahat. Sebenarnya hati bapak begitu tulus mencintai ibu dan anak-anak. Bapak tak ingin ada cacat cela apa pun dalam keluarga. Bapak suka lepas kendali, mudah marah dan emosi, mungkin ini akibat dari kata-kata orang tua. 

Sebenarnya bapak dilarang menikah dengan ibu karena dua alasan (1) keluarga ibu keluarga priyayi, pasti banyak aturannya dan derajatnya lebih tinggi. (2) Weton ibu Setu Paing, sedangkan weton bapak Rebo Legi. Menurut hitungan Jawa, bapak kalah dengan ibu. Keluarga bapak takut kalau hal itu terjadi pada bapak.”

Suatu ketika usaha bengkel mereka sepi sehingga mereka mengalami krisis ekonomi. X gali lubang tutup lubang tanpa sepengetahuan Y untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Kasus inilah yang menjadi pertengkaran mereka, karena X menginginkan menjual tanah agar tidak terlilit hutang semakin dalam, sedangkan Y tidak menyetujui rencana X.

Suatu ketika X menerima sms dari mantan pacarnya (D). Karena ada perasaan marah dalam hati yang terakumulasi sekian lama, maka X menanggapi sms tersebut. 

Berkat doa yang dilakukan setiap malam, X disadarkan telah melakukan suatu kesalahan besar. X sangat menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur. 

Suatu hari sms D dibaca oleh Y. Sesudah membacanya, Y bertambah marah karena sudah stres memikirkan keadaan usahanya yang sedang sepi ditambah lagi dengan pengkhianatan X. 

Y lalu menelpon kedua anaknya yang berada di luar kota mengatakan bahwa ibunya telah selingkuh. Mendengar perkataan bapaknya, kedua anaknya mengalami kegalauan yang luar biasa. 

Dari kisah kehidupan XY ada banyak hal yang bisa kita pelajari.

- Kita masing-masing diciptakan dengan kepribadian yang unik. Ketika memasuki bahtera rumah tangga, ada banyak hal perbedaan yang harus disatukan, maksudnya kebahagiaan itu harus dipelihara dan diusahakan. Jadi, kebahagiaan itu harus dipupuk dan disirami agar bunga cintanya tidak layu.

- Sejak kita dibaptis, kita adalah ciptaan baru, seharusnya kita lebih percaya pada firman daripada dunia. 

Ketika jiwa Y merekam kata-kata negatif yang berasal dari orang tuanya, maka tanpa sadar Y telah dijerat/diikat Iblis untuk melakukan kehendaknya (2 Tim 2:24-26) sehingga mengikuti kata dunia, yaitu ingin menjadi penguasa sebelum dikuasai X. Y lupa bahwa dalam kehidupan rumah tangga seharusnya saling melengkapi. 

Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya (1 Ptr 5:10-11).

- Babak baru dalam kehidupan rumah tangga XY dimulai ketika usaha bengkel mereka sepi sehingga mereka mengalami krisis ekonomi. X mengusahakan kebutuhan hidup dengan cara gali lubang tutup lubang tanpa sepengetahuan Y. X mengusulkan menjual tanah agar tidak terlilit hutang semakin dalam, tetapi Y menolak usul itu, maka terjadilah pertengkaran setiap saat. 

Belum selesai menghadapi persoalan krisis ekonomi, datanglah D yang membuat suasana menjadi lebih kacau. Akhirnya Y tidak menaruh kepercayaan lagi pada X. 

Sesungguhnya kehadiran D dalam kehidupan XY adalah rancangan-Nya. 

1. Tuhan ingin menguji X, apakah X tetap setia pada pasangannya dan Tuhan yang disembahnya? 

Ternyata X tetap setia kepada Y maupun kepada Tuhan karena sejak kecil X telah mempunyai warisan iman dari orang tuanya dan setiap malam X selalu memohon roh kesalehan dan roh kebijaksanaan sehingga tidak menyimpang dari jalan-Nya. 

2. Tuhan ingin menyadarkan Y bahwa sesungguhnya Y mempunyai mutiara yang indah tetapi mutiara itu tidak terlihat keindahannya karena mata hatinya telah tertutup oleh kata dunia. 

Berkat doa dan rahmat Tuhanlah X dan Y berani membuka topeng mereka. Apa yang menyebabkan hati mereka terluka, mereka berani untuk mengungkapkannya ... mereka mengakui kesalahan masing-masing dan berkomitman untuk memperbaikinya. Akhirnya mereka menemukan cinta mula-mula. Saat ini antara Y, X dan kedua anak mereka telah terjadi rekonsiliasi. 

Jika kita melihat suatu pergumulan dalam terang iman, inilah yang sebenarnya yang terjadi:

- Bagi orang beriman, tidak ada kejadian yang kebetulan (Rm 8:28). 

- Setiap orang yang mengabdi pada Tuhan, bersedialah untuk masuk dalam pencobaan (Sir 2:1). 

Pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya (1 Kor 10:`13).

- Iblis menunggu waktu yang baik (Luk 4:13) dan mendakwa siang dan malam (Why 12:10). Tuhan mengijinkan Iblis untuk mencobai kita (Ayb 1:6-12; 2:1-7). Oleh perkataan kesaksian, rancangan jahat si pendakwa dapat dikalahkan (Why 12:11).

(Sumber: Warta KPI TL No.124/VIII/2014)

Rabu, 22 Maret 2017

18.22 -

Kuasa doa

Saya bekerja di sebuah MLM yang bergerak di bidang minuman kesehatan dan cream kecantikan. Up Line tertinggi saya berada di Singapura, sedangkan semua transaksi di Surabaya melalui X, seorang pemuda belia. 

Hubungan saya dengan X baik sekali sehingga saya menganggap X seperti anak saya sendiri karena dia sebaya dengan usia anak saya.

Ada sebuah kasus yang terjadi antara saya dan X. Tanggal 16 Mei 2014, saya mendapatkan downline baru dan saya juga membeli barang, transaksi itu dibantu oleh X dengan menggunakan kartu kredit saya. 

Tanggal 22 Mei 2014, X datang ke rumah mengatakan bahwa telah menggunakan kartu kredit saya sebesar 70 juta. Mendengar perkataannya saya hanya mengatakan bahwa X harus membayar tanggal 19 Juni 2014, karena saya harus membayar ke bank tanggal 20 Juni 2014. 

Pertengahan Juni, saya merasakan firasat yang kurang enak, ternyata firasat itu benar, X tidak membayar tagihan, bahkan dia tidak dapat dihubungi seperti biasanya. 

Lalu saya menghubungi kantor MLM tempat saya bergabung, saya menanyakan alamat X, saya minta semua bukti transaksi yang melalui kartu kredit saya oleh X dan semua bukti penerimaan barang. 

Ternyata semua transaksi fiktif, penerima barang ditanda tangani oleh X sendiri, pengiriman barang dari rumah tunangannya, semua nama pembeli fiktif.

Menghadapi kasus ini saya lebih giat berdoa Koronka dan Novena Tiga Salam Maria. Didalam doa, saya mohon pengampunan untuk X dan memohon agar X diberkati sehingga X dapat segera menyelesaikan kasus ini dengan sebaik-baiknya. 

Berkat doa, saya memperoleh roh kesabaran, dan saya percaya bahwa Tuhan melindungi saya dari orang-orang yang mau mencelakai saya.

Akhirnya, saya dapat berjumpa dengan X, bahkan berkat pertolonganNya, X mau membuat surat penyataan bahwa akan melunasi hutangnya sebelum tanggal 31Agustus 2014. Jika janjinya tidak tepat, dia bersedia dibawa ke jalur hukum.

Puji Tuhan, X mulai mencicil hutangnya 10 juta, lalu 5 juta lagi. Tanggal 31 Agustus 2014 komunikasi saya dan X mulai lancar. Karena hutangnya belum lunas, maka tanggal 2 September 2014 saya memanggil X ke rumah untuk membuat surat pernyataan yang terakhir.

Karena sudah berbulan-bulan kasus ini tak kunjung selesai, maka saya mengajukan KTA untuk menutupi "card yang lubang besar", tetapi permohonan itu ditolak karena faktor usia. 

Teman saya juga membantu untuk meminjam uang ke Up Line yang di Singapura, tetapi tidak ada jawaban. Karena tidak ada jalan keluar saya berencana untuk tidak membayar hutang ke bank dengan resiko nama baik hancur dan dicari terus oleh Debt Collector, karena saya memang benar-benar tidak mempunyai uang. 

Sebelum hal ini terjadi, saya ke polsek Sukomanunggal untuk mencari info mengenai kasus ini, tetapi saya dianjurkan ke Ngesong. Ternyata Mabespolri-lah yang menangani kasus kartu kredit, di sini saya bertanya banyak tentang kasus ini.

Sesampainya di rumah, tiba-tiba saya ingin segera melihat HP, ternyata ada sms dari X yang mengatakan bahwa X sudah membayar lunas semua hutangnya. Membaca berita itu, saya langsung sujud syukur, saya benar-benar merasakan kasih Tuhan yang luar biasa.

Sungguh mujizatnya nyata, Dia berikan yang terbaik bagi anak-anakNya, pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Dia telah menyentuh hati X sehingga X melakukan kewajibannya dan Dia juga tidak menghendaki cara-cara dunia dalam menghadapi suatu kasus.

(Sumber: Warta KPI TL No. 125/IX/2014)

17.47 -

Kuasa doa Rosario

Saya dan kelompok saya diberi tugas oleh wilayah saya untuk menggalang kekurangan dana dalam acara Live In Rekat di stasi Sekar Kidul dan OMK di stasi Sumber Rejo Pare. 

Sebelum menggalang dana saya berdoa dulu. lalu kami berkeliling ke umat. Ternyata sungguh luar biasa hasilnya. dana yang terkumpul melebihi dari apa yang kami butuhkan.

Pada waktu saya menyerahkan dana tersebut ke panitia Live In. saya diminta juga untuk menjadi pembinanya. Ketika itu saya masih belum memberi jawaban karena saya belum memberitahukan keluarga. 

Selain itu pikir saya: "Saya adalah pembina BIAK. bukan pembina Rekat maupun OMK." Saya membicarakan tentang keinginan panitia tersebut kepada sahabat saya. 

Sahabat saya mengatakan: "Berangkat saja! Sebelum panitia memintamu, Tuhan telah memberikan suatu tugas padamu. jalankanlah! Jika kamu tidak menjalankannya, pasti akan terjadi penyesalan di kemudian hari."

Akhirnya saya berangkat bersama rombongan Rekat dan OMK. Saya mendampingi dua anak Rekat. Sesampai di rumah induk semang. Induk semang tersebut memperingatkan agar tidak melewati daerah itu karena ada banyak anak yang kesurupan. 

Tetapi salah satu anak yang saya dampingi melanggar pesan tersebut sehingga dia benar-benar kesurupan. 

Menghadapi hal itu saya kebingungan karena saya tidak pernah doa pelepasan. Lalu saya mohon petunjuk Tuhan dalam doa. dan saya dibimbing-Nya untuk berdoa Rosario. 

Doa Rosario sungguh-sungguh senjata yang ampuh sehingga anak itu mengalami pemulihan dari kesurupan.

Dari peristiwa ini. saya melihat bahwa rancangan Tuhan begitu indah bagi anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Sebelum terjadi suatu peristiwa yang begitu menakutkan. Dia telah mempersiapkan seseorang untuk menjadi penjaga bagi sesamanya sehingga mereka mendapatkan pertolongan tepat pada waktunya.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pkh 3:11)

(Sumber: Warta KPI TL No. 123/VII/2014)

Rabu, 12 Oktober 2016

03.10 -

Rosario Pembebasan

Dalam kehidupan saya sekarang, saya belajar untuk terlebih dulu berdoa sebelum berpikir dan selalu mensyukuri setiap peristiwa yang terjadi. Efeknya sungguh luar biasa! Sekarang dalam menghadapi setiap masalah, saya banyak mengalami ketenangan.

Sebelum saya melakukan hal di atas, saya dalam menghadapi suatu peristiwa selalu mengalami ketegangan, terlalu cepat mengambil keputusan sehingga keliru, terlalu cepat bereaksi sehingga terjadi salah paham. 

Selain itu, setiap saya belajar bersaksi dalam keluarga, rasanya canggung sekali, saya maupun suami saya seolah-olah merasa sok suci, anak-anak juga menanggapi kesaksian saya sebagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

Menghadapi hal itu saya bertanya-tanya pada Tuhan, “Tuhan, doa apa lagi yang harus saya daraskan? Setiap hari saya sudah berdoa untuk suami dan anak-anak saya, tetapi mengapa hati saya selalu diliputi perasaan khawatir terhadap mereka?” 

Beberapa minggu kemudian Tuhan menjawab pertanyaan saya melalui seorang teman, dia mengatakan: “Niek, sebaiknya kamu berdoa Rosario Pembebasan dengan satu wujud ‘penyembuhan luka batin sekeluarga.’ 

Dengan adanya kesembuhan batin, Roh Kudus akan bekerja melalui kita. Dialah yang akan memampukan kita untuk selalu bersyukur, berpikir positif dan juga yang memampukan kita mengucapkan kata-kata berkat sehingga kehidupan kita selalu diliputi damai sejahtera.” 

Selain itu saya teringat dua nasehat ayah saya, yaitu: 
1. Dalam menghadapi persoalan, kamu tidak dapat mengubah orang lain. Jadi, ubahlah dirimu sendiri terlebih dahulu. 
2. Kalau sedang marah, kecilkan volume suaramu. 

Setelah saya mendaraskan Rosario Pembebasan dan melakukan nasehat ayah saya ... sungguh luar biasa hasilnya, Roh Kudus membimbing saya dalam berdoa dan mencelikkan saya kebenaran-kebenaran hidup melalui firman-Nya, baik dalam Misa Gereja, rekoleksi maupun pengajaran-pengajaran di KPI TL.

Sejak Tuhan membuka pikiran saya, saya tidak mau mempertahankan keinginan saya yang ideal. Karena saya tahu, di dunia ini tidak ada yang ideal, jika kita ingin semuanya ideal akan membuat kita mudah putus asa dalam menghadapi hidup ini. Jadi, saya belajar memuliakan Tuhan dengan cara-Nya, bukan dengan cara saya. 

Kadang-kadang karena sibuknya sebagai ibu rumah tangga, saya mendaraskan doa tersebut di dapur. Jadi lembaran doa Rosario Pembebasan ada juga di dapur.

Selain itu saya mendapat anugerah yang luar biasa, yaitu: hampir setiap malam dapat berdoa bersama keluarga. Jika ada di antara keluarga kami yang lelah karena berbagai macam kesibukan, maka kami sepakat hanya berdoa “Bapa Kami 1x” dengan penuh iman, maka hati kami sekeluarga merasa lega. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 79/XI/2010).

Jumat, 07 Oktober 2016

00.01 -

Doa ketika dalam kesedihan

Tanpa terasa sudah delapan tahun saya mengikuti pencerahan di KPI TL. Setiap sharing dan pengajarannya selalu saya tanamkan di hati. 

Dalam kelompok ini, setiap Paskah ada tradisi mengambil ayat-ayat Kitab Suci yang dapat memberikan kekuatan bagi setiap orang yang mendapatkannya. 


Pada Paskah tahun ini saya mendapatkan kartu “Doa ketika dalam kesedihan”. Pada saat mendapatkan doa tersebut saya bertanya-tanya dalam hati ‘Kesedihan apa yang akan terjadi pada saya? Wong Bapak, suami dan anak-anak saya sehat semua. Apakah doa saya kurang?’

Di bulan November 2009, pesan iman ini baru jelas.

Ketika mendampingi Bapak menerima sakramen pengurapan orang sakit, hati saya hancur. Sebab, sebagai anak tunggal saya merasa bakal ditinggalkan Bapak. Selain itu saya merasa sendirian karena tidak mempunyai saudara seiman di daerah tempat tinggal Bapak saya. 

Meskipun demikian, ternyata mereka begitu peduli terhadap saya. Merekalah yang menolong saya, mulai dari Bapak sakit sampai meninggalnya, bahkan sampai empat puluh harinya.

Ketika mendampingi Bapak saya yang dalam keadaan kristis, saya hanya bisa melakukan pujian penyembahan. Di sinilah saya merasakan penghiburan yang luar biasa. 

Meskipun dalam kesedihan, saya bisa enjoy. Dan yang lebih aneh lagi, ketika saya melakukan pujian penyembahan di Klaten, saya benar-benar merasakan kehadiran Ibu Yovita dan tim doa hari Selasa ikut serta bersama saya melakukan pujian dan penyembahan. 

Dan saya juga teringat sharing-sharing serta pengajaran yang diberikan di KPI TL. Itulah penghiburan yang Tuhan berikan kepada saya, sehingga saya tidak merasa sendirian lagi.

Inilah “Doa ketika dalam kesedihan” yang setiap hari saya baca mulai bulan April sampai November 2009, sesuai anjuran Ibu Emmy.

“Tuhan, Engkau adalah penolong bagi setiap orang yang berseru kepada-Mu. Saat ini aku datang kepada-Mu dalam kesedihan yang mendalam menghadapi kesulitan dan kesesakan hidup ini. Dunia sekelilingku nampak suram, gelap dan hati ini terasa pilu. 

Setiap malam air mataku mengalir membasahi tempat tidurku. Tiada lagi rasa malu untuk menangis, karena ketika berada di dunia, Yesus pun menangis. 

Tuhan, aku tidak memohon agar Engkau menghapuskan penderitaan ini, karena Yesus menjadi sempurna dalam penderitaan-Nya. Namun, sertailah aku senantiasa. 

Engkaulah Bapa bagiku dan hiburlah aku. Kasihanilah aku Tuhan, dan bentuklah aku lewat pengalamman pahit ini. 

Bangkitkanlah sukacita mengatasi kesedihan ini. Terima kasih Tuhanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebabkepada-Mulah ia percaya (Yes 26:3)

(Sumber: Warta KPI TL No. 69/I/2010)








Kamis, 06 Oktober 2016

23.41 -

Pendoa dapat menemukan kehendak Tuhan

Entah mengapa, sejak awal tahun 2010 tiba-tiba saya mempunyai kerinduan yang luar biasa untuk pulang kampung di Flores.



Adik saya yang berada di NTT juga telpon: “Kak, meskipun kita sudah mempunyai keluarga dan rumah sendiri-sendiri, rasanya lain bila kita bisa berkumpul bersama-sama di kampung. Walaupun papa dan mama sudah tidak ada lagi, di rumah kita bisa merasakan kasih sayang mereka.”


Tiba-tiba adik saya yang ada di Solo menelpon: “Kak, kita harus pulang. Karena ada masalah dengan peninggalan orang tua kita. Meskipun peninggalan itu tidak banyak, tetapi harus diurus dengan baik, karena ada yang ingin menguasainya.”

Ipar saya yang berada di Solo telpon: “Kak, kakak harus segera pulang ... semua biaya perjalanan akan saya tanggung.” Mendengar itu saya sangat bersyukur. Karena kerinduan saya terjawab dan saya dapat juga berjumpa dengan teman-teman di sana tanpa mengeluarkan dana. 

Akhirnya... saya pulang dan mohon dukungan doa pada teman-teman agar permasalahan yang dihadapi keluarga saya ada jalan keluarnya.

Sesampai di sana, pada awalnya ada hambatan dan terjadi adu argumentasi antara adik no. 2 dan adik no. 6. Mendengar dan melihat itu saya diam saja. 

Tetapi di dalam hati, saya memohon Roh Kudus menerangi hati kami sekeluarga. Akhirnya kami semua tersadar atas permasalahan itu, terutama adik saya no.6. 

Melalui sms, adik saya no.6 memohon maaf karena sikap kasarnya terhadap kakak-kakaknya. SMS itu tidak saya balas, karena saya tidak ingin dia merasa lebih bersalah lagi. 

Besok paginya dia sms lagi, dia mengatakan ingin ke rumah. Lagi-lagi tidak saya balas. Tetapi adik saya no. 3 memohon saya untuk membalasnya. Dia datang ke rumah dan memohon maaf atas kesalahannya. 

Akhirnya permasalahan itu dapat diselesaikan dengan lancar, seperti membalik tangan saja, semua pihak dapat menerimanya dengan sukacita. 

Itulah kuasa doa, di mana kita mengeluh pada Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita dan memberi jalan ke luar yang terbaik bagi kita semua.

Anda tidak dapat mengubah kehendak Tuhan, tetapi pendoa dapat menemukan kehendak Tuhan (Sundar Singh)

(Sumber: Warta KPI TL No. 72/IV/2010).

Rabu, 21 September 2016

18.39 -

Doa Yesus melembutkan hatiku

Kami sekeluarga hendak berbelanja di Alfa. Ketika keluarga saya hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada sebuah mobil yang nyelonong (seenaknya sendiri atau tidak pedulikan sekitarnya) mundur hendak parkir di sebelah mobil saya. 

Karena kaget istri saya berteriak kepada anak muda tersebut (X): “Yang sabar to!” Mendengar teguran istri saya, X marah. Lalu saya berkata: “Kamu anak muda, yang sopan!” mendengar perkataan saya, X bertambah marah.

X menantang saya. Lalu saya menyuruh keluarga saya untuk masuk ke Alfa. Istri dan kedua anak perempuan saya masuk ke Alfa, sedang anak laki-laki saya menemani saya. 

Sebagai atlit Kempo saya memasang kuda-kuda, namun ada dorongan di hati kecil saya untuk Doa Yesus. Sungguh luar biasa kuasa Doa Yesus, X yang hendak memukul saya dengan pengungkit dongkrak tiba-tiba terpental jatuh ke tanah. 

Dan hati saya yang penuh amarah tiba-tiba terasa ada siraman air sejuk yang membuat saya mempunyai belas kasih pada X. Saya hampiri X, saya peluk dia bahkan saya mampu minta maaf pada dia. Sungguh, doa ini mengubah hati saya menjadi lembut. 

(Sumber: Warta KPI TL No.137/IX/2016).

Rabu, 07 September 2016

03.01 -

Berdoa sebelum melayani

Pada pertengahan November 2008, bertepatan dengan ulang tahun saya, saya mengalami sakit. Jika banyak bergerak, badan panas dan lemas rasanya, untuk berbicara saja saya tidak kuat. Saya diperkirakan sakit tifus oleh dokter. 

Setelah diperiksa di lab, ternyata hasilnya negatif. Kemudian saya di suruh tes kultur dan foto dada (pada waktu itu saya sulit untuk bernafas). Tapi saya putuskan untuk tidak melakukan saran dokter tersebut.



Selama saya sakit, dengan sendirinya saya tidak dapat berjualan mie. Apalagi saya tidak mempunyai pembantu. Tetapi justru di saat lemah, saya mengalami banyak penyertaan Tuhan. Kami sekeluarga tidak pernah kekurangan, malah berkelimpahan. Karena ada yang mengirimi masakan, makanan ringan maupun materi. 

Dan yang lebih mengherankan lagi, ada seorang sahabat saya yang selama ini tidak ingat HUT saya, dia memberikan hadiah berupa sejumlah uang (yang memang sedang saya butuhkan untuk pemeriksaan lab) dan sebuah rosario. 

Di saat mendapat rosario itu saya tahu bahwa Tuhan menghendaki saya untuk berdoa Rosario Pembebasan. Karena sebelum saya sakit, seorang sahabat saya lainnya datang ke rumah memberikan lembaran doa Rosario Pembebasan.

Jadi selama saya terbaring sakit, saya hanya berdoa lewat Rosario Pembebasan. Meskipun dokter tidak tahu penyakit saya sampai sembuh, tetapi saya sungguh bersyukur karena Tuhan benar-benar menyembuhkan, menyelamatkan dan membebaskan saya dari kuasa-kuasa lain. 

Setelah saya sembuh, saya bertemu dengan Bu Phang. Saya menceritakan pengalaman saya. Lalu Bu Phang bersaksi: “ Selama ini kalau ada pelayanan, terlebih lagi pelayanan yang berhubungan dengan kuasa-kuasa lain. Saya selalu berdoa agar Tuhan membentengi saya dan keluarga saya. Tetapi kadangkala saya atau keluarga saya mendapatkan serangan kembali, karena saya kurang persiapan sebelum melayani.” 

Setelah mendengar kesaksian itu, saya merefleksi hidup saya. Ternyata benar, saya kurang mempersiapkan diri dalam melayani sebagai catcher pada saat Pencurahan Roh Kudus di Seminar Hidup Baru Dalam Roh, akibatnya saya mendapat serangan. Puji Tuhan, melalui Rosario Pembebasan saya benar-benar disembuhkan, diselamatkan dan dibebaskan dari kuasa-kuasa lain.

(Sumber: Warta No. 60/IV/2009)

Rabu, 22 Juni 2016

19.07 -

Kuasa doa

Setiap hari Selasa kami selalu berkumpul di rumah Ibu Yovita untuk melakukan doa syafaat. Kegiatan kami di sini adalah: memuji dan menyembah Tuhan; bersyukur atas berkat yang kami terima; membaca salah satu perikop sesuai penanggalan liturgi gereja, sharing perikop dalam kehidupan kami; mendoakan bangsa dan negara, para gembala (Paus, Uskup dan Imam Paroki), kelompok-kelompok persekutuan doa terutama TL, dan titipan doa bagi yang membutuhkan.

Tetapi kelompok kami ini mengalami suatu penurunan anggotanya. Entah mengapa sebabnya. Apakah mungkin yang biasanya ikut sekarang ada kesibukan lain atau ada yang tidak merasa senang dengan cara kami atau sudah terhinggapi Roh Kanaan sehingga tidak mempunyai roh berkorban lagi?

Meskipun jumlah yang ikut doa syafaat dapat dihitung dengan jari, kami tetap melakukan kebersamaan iman ini dan percaya bahwa Yesus hadir di tengah-tengah kami.

Setelah mendoakan seseorang, kami kadangkala menerima jawaban dari doa tersebut. Sehingga kami dapat bersyukur atas jawaban doa tersebut.

Ini adalah  salah satu jawaban dari titipan doa dari Jakarta.
Ada seorang Ibu yang sakit kanker paru-paru stadium akhir yang bernama X, suaminya pun juga mengalami sakit jantung yang parah. Kami mendoakan agar mereka diberi rahmat pengampunan, masalah sakit penyakitnya kami memberikan sepenuhnya otoritas pada Tuhan.

Pada HUP mereka, mereka ingin mengadakan misa di rumahnya. Selain itu suami X memberikan hadiah mobil terbaru tahun 2008. Sebelum misa diadakan suaminya menyuruh sopirnya untuk menjemput sahabat-sahabatnya dengan naik mobil baru tersebut, sopirnya diberi uang tiga ratus ribu dan berpesan agar melalui tol saja.

Tetapi sopirnya tidak mematuhi perintah itu dan mengalami kecelakaan parah sehingga mobil baru tersebut hancur total.
Mendengar kabar itu mereka mampu bersyukur karena sopirnya selamat, tidak mengalami luka sama sekali meskipun mobilnya hancur total.

Di situlah terjadi mujizat yang luar biasa: X yang tadinya badannya melepuh dan hanya dapat berbaring setiap hari, pada saat itu juga badan yang melepuh hilang dan dapat berdiri. Demikian juga dengan suaminya. Biasanya kalau mendengar berita yang mengejutkan langsung masuk ICU.

Meskipun mobilnya hancur total, sopir itu menjemput sahabat-sahabat mereka dengan naik taksi sehingga misa pun dapat dilaksanakan sesuai rencana.

Keesokan harinya mereka memeriksakan penyakit mereka ke dokter. Ternyata penyakit mereka telah diangkat Tuhan dengan cara yang ajaib.

Sekarang X  sudah dapat bekerja lagi seperti biasa sebagai dosen dan merawat anak-anaknya. 


(Sumber: Warta KPI TL No. 53/IX/2008).

Selasa, 10 November 2015

18.48 -

Rosario Pembebasan

Ketika Ibu Vira cs pulang dari retret luka batin, dia membawakan oleh-oleh sebuah buku Doa Rosario Pembebasan. Saya praktekkan, mengharapkan anak saya yang nomer dua segera dibebaskan dari belenggu tidak punya pekerjaan.

Pada saat Ibu Yovita mengajarkan tentang Doa Rosario Pembebasan, di dalam hati saya tertawa, saya sudah tahu doa ini, gampang, nggak perlu hening pun saya sudah tahu apa yang harus saya doakan.

Ternyata waktu hening, saya kaget ada bisikan dalam hati ‘bahwa doa pembebasan itu untuk kamu, bukan untuk anakmu’. Saya protes di dalam hati ‘kok saya?’

Setelah pulang, di rumah saya ambil waktu untuk hening dan saya bertanya: “Tuhan, apakah maksudnya?” 

Terdengar bisikan dalam hati: “Bukankah kamu gelisah/kuatir, bahwa anakmu tidak lekas mendapatkan pekerjaan. Yang perlu dibebaskan itu kamu, dari kekuatiranmu dan tidak kepercayaan. Tidak tahukah kamu, kalau itu dosa? Tidak tahukah kamu, ketika bilang saya sudah bisa doa, itu suatu kesombongan?” Saya kaget mendapat teguran itu, lalu saya minta ampun pada Tuhan.

Tanggal 27 Oktober 2007 ada persekutuan di stasi Roh Kudus, saya kembali hening dan berdoa: “Tuhan, Engkau mau berbicara apa pada saya untuk persekutuan doa nanti sore?” 

Tiba-tiba saya tergerak untuk membuka Yesaya 30:15 – Beginilah firman Tuhan Allah Yang Mahakudus: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. Tetapi kamu enggan.” 

Ternyata yang Tuhan jawab bukan untuk persekutuan sore, tetapi lanjutan teguran yang kemarin. Jadi saya harus bertobat karena kegelisahan itu tidak berkenan di hati-Nya.

Saya bersyukur banget. Ketika saya tinggal diam, dan tetap mempraktekan Doa Rosario Pembebasan dengan menyebut nama saya .... saya benar-benar bebas dari rasa kekuatiran. 

Dan saya pun diberi hikmat: “Kalau Tuhan memberi hidup kepada kamu, anakmu pun ciptaan Tuhan juga. Tuhan juga akan memberi kehidupan tersendiri, beda dengan kamu.”

Saya sungguh percaya bahwa melalui pembebasan itu, saya boleh dibebaskan/dilepaskan dari segala kekuatiran dan keterikatan yang ada, terutama kemalasan.

Karena saya merasa terbebas, saya teruskan berdoa lagi. Ternyata Tuhan masih berbicara lagi dan saya mendapat hikmat dari Yesaya 30:16-17 – Kami mau mengendarai kuda tangkas dan lari cepat, maka kamu akan lari dan lenyap ... maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi, artinya ketika kita mendapat masalah, kita ingin cepat ke luar dari masalah, tetapi ...

Ternyata saya harus duduk tenang, terserah Tuhan yang menyelesaikan masalah sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. 

Sekarang anak saya sudah mendapatkan pekerjaan, itu bukan karena doa saya. Tetapi saya menuntun anak saya supaya hanya berharap pada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan permohonannya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 43/XI/2007).