Tampilkan postingan dengan label *Iri hati*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Iri hati*. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2019

05.20 -

Cemburu



Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.


Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang.

“Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah,” lanjut sang bambu dengan nada sedih.

Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, “Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu.” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu.”

Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. “Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?”

“Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun,” ujar sang mawar. “Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat,” tambah sang mawar dengan nada sedih.

Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. “Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,”

Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layu beberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”

Bambu kembali bingung, “Aku tidak mengerti,” “Ah bambu ...” ujar mawar sambil menggeleng, “Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman,” lanjut sang mawar. “Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,”

Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selama ini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. 

Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.

Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.

Minggu, 08 Juli 2018

21.54 -

Bagaimana cara mengalahkan iri hati?



Iri hati
mungkin ini adalah dosa yang paling unik diantara segala dosa yang ada. Mengapa? Karena iri hati adalah dosa yang tidak memberikan kenikmatan sama sekali

Biasanya, dosa akan memberikan kenikmatan-kenikmatan sementara, tetapi iri hati tidak. Hawa nafsu memberikan kenikmatan seksual yang menggairahkan, kerakusan memberikan kenikmatan dan kesenangan dari banyaknya harta yang dimiliki, dan kesombongan memberikan perasaan senang akan diri sendiri karena merasa diri lebih baik dari yang lain. Tetapi bagaimana dengan iri hati? 

Iri hati malah hanya membuat diri kita tersiksa karena mengingini apa yang orang lain miliki. Namun entah mengapa, kita seringkali jatuh ke dalamnya.

Setiap orang dapat jatuh ke dalam iri hati - mau kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda - semua orang dapat mengingini lebih dari apa yang dirinya sudah miliki. 

Iri hati adalah sebuah dosa yang dapat dengan mudah merengut rasa syukur dan rasa sukacita kita atas berkat-berkat Tuhan di dalam hidup kita. Dan seringkali, iri hati dapat memimpin kita menuju dosa-dosa lainnya. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yak 3:16).

Maka itu, iri hati bukanlah sebuah musuh yang dapat kita anggap remeh. Kita harus dapat membuang iri hati dari dalam kehidupan kita jika kita ingin menikmati berkat Tuhan secara sepenuhnya. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengalahkan iri hati di dalam diri kita: 

1. Berdoa untuk memiliki perasaan puas

“Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:2-3)

Kekeliruan yang seringkali terjadi, ketika kita mengingini apa yang orang lain miliki, kita malah berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hal yang sama seperti yang orang lain itu miliki. Dimana seharusnya kita berdoa agar Tuhan mengajari kita untuk menjadi puas akan apa yang sudah kita miliki saat ini.

Kebenarannya, Tuhan tidak pernah menahan berkat-berkat-Nya darimu. Setiap orang memiliki berkat yang berbeda-beda. Orang yang membuatmu iri mungkin memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki, tetapi sesungguhnya, kamu juga memiliki sesuatu yang orang itu tidak miliki. 

Kunci dari menghilangkan rasa iri hati bukanlah dengan mendapatkan apa yang kamu inginkan tersebut, melainkan bersyukur bahkan ketika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan tersebut—menyadari bahwa kamu juga telah mendapatkan berkat-berkat yang unik dari Tuhan. 

2. Selidikilah dirimu akan adanya berhala

Untuk mengalahkan iri hati sepenuhnya, kita harus mencabutnya hingga ke akarnya. Dan sesungguhnya, seringkali hal-hal yang membuat kita iri adalah hal-hal yang sebenarnya merupakan berhala tersembunyi di hidup kita.

Jika kamu hidup dengan rasa iri hati akan harta orang lain, kemungkinan besar kamu secara tidak sadar telah menjadikan harta dunia sebagai berhalamu. Jika kamu hidup dengan rasa iri hati akan popularitas orang lain, kemungkinan besar kamu secara tidak sadar telah menjadikan popularitas sebagai berhalamu.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-34)

Alkitab mengajak kita untuk berdoa dan meminta Tuhan menyelidiki hati kita. Seringkali sulit bagi kita untuk melihat akar dari dosa-dosa kita. Maka itu, kita harus senantiasa meminta pimpinan Tuhan dalam mengidentifikasinya dan mengalahkannya. Bertanyalah kepada Tuhan apakah masih ada tuhan-tuhan lain yang merengut takhta-Nya di dalam hatimu. Kebenarannya, semakin kita memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, akan semakin mudah bagi kita untuk menyadari dan melepaskan dosa-dosa kita, termasuk dosa iri hati. 

3. Letakkanlah pandanganmu pada Injil Kristus

Injil Kristus adalah kebenaran bahwa kita telah menerima keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang begitu mengasihi kita. Jika kita mengetahui identitas kita di dalam Yesus Kristus dan menyadari seberapa berharganya yang kita miliki di dalam diri-Nya, tentu kita dapat lebih bersyukur di dalam setiap keadaan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:11-13)

Rasul Paulus mengatakan bahwa dia sudah menemukan kunci untuk merasa puas di dalam setiap keadaan, dan kunci itu adalah pengenalan akan Yesus Kristus. Bagi Paulus, Yesus bukanlah sekedar tambahan di dalam hidupnya yang membuat hidupnya menjadi sedikit lebih baik, melaikan Yesus adalah satu-satunya yang membuat hidupnya berharga. Sukacita dan rasa syukur Paulus di dalam hidupnya tidak lagi ditentukan oleh apa yang dia miliki dan apa yang tidak dia miliki, melainkan ditentukan oleh apa yang Yesus Kristus telah lakukan di atas kayu salib untuknya.

(Sumber: @gracedepth).

Jumat, 07 Oktober 2016

13.45 -

Mental kepeting

Apakah saudara tahu bagaimana seseorang menangkap kepiting? Sebuah kotak akan ditaruh di dalam air dengan sisi bagian atas yang dibiarkan terbuka agar kepiting-kepiting dapat masuk. 

Ketika kotak tersebut sudah penuh, maka sisi yang terbuka kemudian ditutup. Kepiting-kepiting yang sudah masuk dapat keluar kembali dengan mudah. 

Tetapi hal itu tidak pernah terjadi karena disaat seekor kepiting berusaha untuk keluar, maka yang lain akan menariknya turun sehingga tidak ada yang dapat keluar dari kotak itu. Akhirnya hidup mereka semuanya berakhir dipenggorengan!



Hal ini sama dengan orang yang memelihara sifat iri hati – tidak akan pernah maju. Waspadalah terhadap perasaan iri hati ini, karena perasaan itu dapat datang kapan saja. 

Rasa iri hati sebenarnya bersumber dari kesombongan, yaitu perhatian yang hanya berpusat pada diri sendiri, menganggap diri lebih baik, lebih bisa dan tidak seorang pun yang dapat menandingi

Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situlah ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yak 3:16)

(Sumber Warta KPI TL No. 73/V/2010 » Mansor November 2003 No. 68 TahunVI).




Kamis, 28 Juli 2016

06.01 -

Hargai apa yang kita miliki


Ada seekor anjing mendapatkan tulang dari tong sampah. Wow…. Makanan yang sedap. Si anjing berlari sambil membawa tulang di mulutnya, melewati jembatan.

Dia terpukau melihat bayangan anjing membawa tulang yang kelihatan lebih besar dan nampak lebih nikmat, terpampang pada bayangan di air yang jernih.

Jangan mengabaikan apa yang Anda miliki sekarang, Karena bergairah menginginkan apa yang tidak Anda miliki; Namun ingatlah, bahwa apa yang Anda miliki sekarang, Dulu juga merupakan salah satu dari yang Anda inginkan dengan penuh hasrat pula.

Kamis, 30 Juli 2015

20.47 -

Yang Serakah dan Pengiri

Di kisahkan, adalah seorang tua yang bijak bertemu dengan dua orang musafir. Musafir yang pertama sangat rakus, serakah, tamak dan loba. Sedangkan musafir yang ke dua adalah seorang pengiri dengki dan selalu tidak senang jika melihat orang memiliki sesuatu yang lebih darinya

Seorang bijak berkata kepada kedua musafir ini: “Aku ingin memberikan sesuatu kepada kalian berdua. Siapa yang minta pertamakali, maka apapun keinginannya pasti akan dikabulkan. Dan orang lainnya akan menerima dua kali lipat dari apa yang diperoleh orang pertama.”

Musafir pengiri berpikir, jika ia sebutkan permintaannya, maka ia akan rugi karena temannya akan lebih untung daripadanya. Kemudian ia berpikir cepat, bagaimana agar temannya menderita kerugian lebih banyak darinya.

Aku minta mataku buta satu”, jawab musafir pengiri dengan tegas. Dan apa yang dimintanya segera terjadi, matanya jadi buta satu dan temannya buta keduanya.

Begitulah akhir hidup orang yang serakah dan pengiri, kedua-duanya tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya.

Orang serakah dan kejam selalu melihat siapapun sebagai ancaman atas dirinya karena hatinya dipenuhi oleh kuasa kegelapan.

Bagaimanakah dengan hati anda?

(Warta No. 07/XI/2004: Sumber: Mansor ...)

Karena serakah … hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda (2 Ptr 2:3).

Iri hati karena tidak mencapai tujuan (Yak 4:2).

Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yak 3:16).

Perasaan iri hati, bukanlah hikmat yang berasal dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu-nafsu manusia, dari setan-setan (Yak 3:14-15).