Tampilkan postingan dengan label *Bunda Maria*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Bunda Maria*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2020

18.37 -

Rosario: Salam Maria adalah doa Trinitas sekaligus Ekaristik



Semua doa-doa dalam Rosario berasal dari Surga, didiktekan oleh Bapa, oleh Putra dan oleh Roh Kudus.

KEMULIAAN yang kita daraskan di antara perpuluhan didiktekan oleh Bapa kepada para malaikat ketika Ia mengutus mereka untuk memadahkannya dekat Sabda-Nya, Kanak-kanak yang baru dilahirkan. Juga merupakan suatu madah kepada Tritunggal Mahakudus.

BAPA KAMI didiktekan oleh Putra, merupakan doa yang ditujukan kepada Bapa.

SALAM MARIA sepenuhnya diresapi oleh baik makna Trinitas maupun Ekaristik. 

Kata-kata pertama didiktekan oleh Bapa kepada Malaikat ketika Ia mengutusnya untuk mengabarkan misteri Inkarnasi Sabda: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Engkau penuh rahmat sebab dalam engkau diam sumber rahmat, dan juga sebab persatuanmu dengan Tritunggal Mahakudus.

Digerakkan oleh Roh Kudus, St Elisabet mengatakan: “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”

Gereja, juga digerakkan oleh Roh Kudus, menambahkan, “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.” Doa ini ditujukan kepada Allah melalui perantaraan Maria. Sebab engkau adalah Bunda Allah, sudi doakanlah kami.

Salam Maria adalah doa Trinitas sebab Maria adalah bait hidup pertama dari Tritunggal Mahakudus, bukti dari perkataan Malaikat: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Salam Maria adalah juga doa Ekaristik sebab Maria adalah Tabernakel hidup pertama dimana Bapa menempatkan PutraNya, Sabda yang menjadi daging

Hatinya yang Tak Bernoda adalah Montrans pertama yang memeluk-Nya. Dada dan kedua tangannya adalah Altar pertama di mana Bapa mentahtakan Putra-Nya untuk adorasi. Di sanalah para Malaikat, para Gembala dan para Majus bersembah sujud kepada-Nya.

Maria adalah yang pertama, yang memeluk Putra Allah dalam tangan-tangannya yang murni dan tak bernoda. Maria-lah yang membawa-Nya ke Bait Allah guna mempersembahkan-Nya kepada Bapa sebagai kurban bagi keselamatan dunia.

Jika kita memberikan kepada Salam Maria maknanya yang sepenuhnya - segala keindahan dari permenungan-permenungan saleh ini - kita lihat bahwa Salam Maria adalah sungguh suatu doa Trinitas dan Ekaristik, bahkan lebih dari sekedar doa Maria. Saya tidak tahu apakah kita dapat menemukan doa yang terlebih agung atau terlebih pantas untuk didaraskan di hadapan Sakramen Mahakudus.

Di samping itu, sesudah Liturgi Suci Ekaristi, doa Rosario adalah yang paling membantu dalam jiwa kita perkembangan misteri-misteri iman, harapan dan kasih

Rosario adalah roti rohani jiwa-jiwa. Barangsiapa tidak berdoa akan menjadi lemah dan mati. Adalah dalam doa kita berjumpa dengan Allah, dan dalam perjumpaan ini, Ia menganugerahkan kepada kita iman, harapan dan kasih. Tanpa keutamaan-keutamaan ini kita tak dapat diselamatkan.

Sayangnya, kita tak dapat sepenuhnya berharap sejumlah besar jiwa-jiwa ikut ambil bagian dalam Misa harian, namun demikian kita dapat berharap menghantar sejumlah lebih besar dari jiwa-jiwa untuk mendaraskan Rosario setiap hari. Praktek ini akan memelihara dan menambah iman, sebab kehidupan doa yang dikembangkannya dan sebab misteri-misteri Penebusan kita yang direnungkan dalam setiap perpuluhan.

Rosario adalah doa bagi mereka yang miskin dan yang kaya, yang bijak dan yang bodoh. Menyingkirkan devosi ini dari jiwa-jiwa berarti menjauhkan jiwa-jiwa dari roti rohani sehari-hari mereka. 

Rosario membantu memelihara api iman yang berkedip-kedip, yang belum sepenuhnya padam dari banyak batin. Bahkan bagi jiwa-jiwa yang mendaraskannya tanpa permenungan, tindakan sederhana menelusurkan manik-manik dalam jemari sementara berdoa sudah merupakan suatu kenangan akan Allah - akan yang adikodrati. Dan sekedar permenungan sederhana akan misteri-misteri sebelum tiap-tiap perpuluhan adalah juga berkas cahaya yang menopang api yang berkelap-kelip dalam jiwa mereka.

Itulah sebabnya mengapa iblis memaklumkan perang sengit terhadap Rosario. Dan yang terburuk adalah bahwa iblis telah memperdaya dan menipu jiwa-jiwa yang memiliki tanggung jawab besar karena jabatan mereka. Mereka adalah orang buta yang menuntun orang buta. Mereka mencari dalam Konsili Vatikan Kedua dukungan bagi posisi mereka, tanpa menyadari bahwa Konsili Suci telah menginstruksikan kepada mereka untuk memelihara segala praktek yang dalam tahun-tahun yang lewat telah dikembangkan demi menghormati Perawan Immaculata Bunda Allah; bahwa doa Rosario adalah yang paling penting dari semua ini, dan bahwa, karenanya, seturut dekrit-dekrit Konsili Suci dan anjuran-anjuran Bapa Suci, rosario adalah yang harus kita pelihara.

Marilah berdoa, berkarya, dan berkurban serta percaya bahwa “Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang.” Amin

(Dikutip dari surat St. Lucia)

Jumat, 27 Desember 2019

15.36 -

Salam Maria adalah doa yang hebat



Anak laki-laki, protestan, berusia 6 tahun, sering mendengar temannya yang katolik mendoakan Salam Maria. Ia menyukainya sehingga ia menirunya, mengingatnya dan mendoakannya setiap hari. 

"Lihat ibu, ini doa yang indah", ia berkata kepada ibunya suatu hari. "Jangan pernah mengucapkannya", jawab ibunya. "Salam Maria adalah doa tahayul orang katolik yang menyembah berhala dan berpikir bahwa Maria adalah Dewi. Bagaimanapun, ia adalah wanita seperti yang lain. Ambillah Kitab Suci ini dan bacalah. Kitab Suci mengandung segalanya tentang apa yang harus kita lakukan."

Sejak saat itu anak laki-laki itu tidak melanjutkan Salam Maria-nya setiap hari dan menghabiskan waktunya membaca kitab suci. Suatu hari, selagi ia membaca Injil, ia melihat kutipan tentang Kabar Gembira Malaikat kepada Bunda Kita. Dengan penuh suka cita, anak laki-laki itu berlari kepada ibunya dan berkata, "Ibu, aku telah menemukan Salam Maria di kitab suci yang berkata: 'Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau diantara wanita'. Mengapa engkau menyebutnya doa tahayul?"

Pada kesempatan lain ia menemukan pemberian hormat yang indah dari St. Elisabet kepada Perawan Maria dan nyanyian pujian yang luar biasa. MAGNIFICAT dimana Maria diramalkan bahwa "para bangsa akan menyebutnya berbahagia". Ia tidak mengucapkan apapun kepada ibunya namun mulai mendoakan Salam Maria setiap hari seperti sebelumnya. Ia merasakan kesenangan dalam menujukkan kata-kata yang memikat itu kepada Ibu Yesus, Penyelamat kita.

Ketika ia berusia 14 tahun, suatu hari ia mendengar diskusi tentang Bunda Maria diantara anggota keluarganya. Setiap orang berkata bahwa Maria sama seperti wanita lainnya. Anak itu, setelah mendengar penalaran mereka yang keliru, tidak dapat bertahan lagi, dan dengan penuh amarah, ia berkata: "Maria tidak seperti anak Adam lainnya, ternoda dengan dosa. Tidak! Malaikat menyebutnya PENUH RAHMAT DAN TERBERKATI DIANTARA WANITA. Maria adalah Ibu Yesus Kristus dan konsekuensinya ia adalah Bunda Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dimana ciptaan bisa diangkat seperti itu. Injil berkata bahwa para bangsa akan memproklamasikan ia sebagai yang berbahagia dan kamu mencoba merendahkannya. Semangatmu bukanlah semangat Injil atau Kitab Suci yang kamu katakan adalah fondasi agama Kristen." 

Begitu dalam kesan ucapan anak itu sehingga membuat ibunya menangis dengan sedih: "Oh Allahku! Aku takut putraku ini suatu hari akan bergabung dengan agama katolik, agama para Paus!"

Dan memang, tidak lama setelahnya, setelah melakukan pembelajaran serius tentang protestanisme dan katolisisme, anak laki-laki itu menemukan bahwa Katolik adalah satu-satunya agama yang benar dan menganutnya dan menjadi satu dari rasulnya yang paling bersemangat.

Setelah pertobatannya dari protestan ke katolik, ia bertemu saudara perempuannya yang telah menikah, yang memakinya dan berkata dengan marah: "Kau tidak tahu betapa aku mencintai anak-anakku. Jika salah satu dari mereka ingin menjadi katolik, Aku akan menusuk hatinya dengan pisau dan mengijinkannya untuk menganut agama Paus!"

Kemarahan dan wataknya sehebat kemarahan St. Paulus sebelum pertobatannya. Namun, ia akan mengubah jalannya, seperti yang dilakukan St. Paulus di jalan menuju Damaskus.

Suatu ketika putranya menderita sakit parah dan dokter menyerah untuk menyembuhkannya. Saudara laki-lakinya kemudian mendekatinya dan berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang, berkata: "Saudariku terkasih, kamu berharap anakmu disembuhkan. Baik, maka lakukanlah apa yang kuminta. Ikuti aku, mari kita berdoa satu kali Salam Maria dan berjanjilah pada Allah bahwa, jika putramu sembuh, kamu akan secara serius mempelajar doktrin katolik, dan kesimpulanmu haruslah bahwa katolisisme adalah satu-satunya agama yang benar, kamu akan menganutnya tidak peduli apapun pengorbanannya.”

Saudarinya agak enggan pada awalnya tapi ia berharap akan kesembuhan putranya. Ia menerima usul saudaranya dan mendoakan Salam Maria bersama dengannya. Hari berikutnya putranya sembuh total! Ibunya memenuhi janjinya dan mempelajari doktrin katolik. Setelah persiapan panjang ia menerima sakramen baptis bersama keluarganya, berterima kasih pada saudaranya karena telah menjadi rasul baginya.

Kisah ini diceritakan selama khotbah yang diberikan oleh Rev. Romo Tuckwel. Saudara-saudara, ia berkata, "Anak laki-laki yang menjadi katolik dan mentobatkan saudara perempuannya ke katolisisme mendedikasikan seluruh hidupnya kepada pelayanan Allah. Ia adalah imam yang sedang berbicara kepadamu sekarang!"

Betapa aku berhutang budi kepada Bunda Kita, Bunda Maria. Kamu juga, saudaraku, dedikasikanlah semuanya kepada Bunda Kita dan jangan pernah membiarkan harimu berlalu tanpa mengucapkan doa yang indah, Salam Maria, dan Rosariomu. Mintalah ia menerangi pikiran para protestan yang terpisah dari Gereja Kristus yang sejati yang didirikan diatas Batu Karang (Petrus) dan alam maut tidak akan menguasainya.

(Sumber : Iman Katolik).



Area lampiran





BalasTeruskan




































Jumat, 18 Oktober 2019

08.10 -

Rosario Misioner



Asal mula untaian Rosario 

Praktik berdoa dengan untaian manik-manik sudah ada bahkan sebelum zaman Yesus, di mana umat Hindu dan Budha sudah melakukan praktik ini dengan “japamala” tradisi ini pun digunakan rahib Kristen abad awal hingga nanti menjadi “komboskini” dan “rosario”. Selanjutnya, praktik ini juga dilakukan umat Islam dengan “tasbih. 

Untaian ini berfungsi untuk menuntun seseorang dalam menghitung doa yang didaraskan. Bahan yang digunakan cukup beragam, mulai dari baru, kerang, kayu, biji-bijian, tali yang disimpul, dan plastik di zaman modern. 


Rosario, dari bahasa Latin rosarium (karangan mawar), yang dimaksudkan sebagai persembahan mawar bagi Bunda Maria, memiliki cerita dan perkembangan yang sangat panjang hingga kita kenal saat ini. 

Abad IIIRahib Kristen Purba memakai batu yang dimasukkan dalam kantong satu persatu untuk menghitung pendarasan 150 Mazmur. Umat juga mau meniru doa para Rahib itu, karena tak hapal Mazmur, mereka berdoa 150 Bapa Kami dibantu untaian manik-manik sederhana. Di masa kini, doa Salam Maria juga berkembang sebatas salam dari Malaikat Gabriel (Angelic Salutation, Luk 1:28). 


Tahun 1214 – St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Dominikan, mendapat penglihatan dari Bunda Maria dan menerima rangkaian Rosario untuk mempertobatkan bidah Albigensian di Eropa. Bunda Maria menganjurkan suatu rangkaian Salam Maria diwartakan

Abad XV – Henry dari Kalkar, seorang biarawan Kartusian, membagi 150 Salam Maria menjadi 15 dekade (persepuluh) dengan Bapa Kami diantara tiap dekade. Dominikus dari Prussia, biarawan Kartusian lain, memperkenalkan 3 misteri, yaitu gembira, sedih dan mulia

Tahun 1568 – Doa Salam Maria versi lengkap yang kita kenal saat ini mendapat pengesahan Takhta Suci. 



Tahun 1573 – Paus Gregorius menetapkan 7 Oktober sebagai Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.

Pesta Bunda Maria Ratu Rosari tanggal 7 Oktober dirayakan untuk memperingati kemenangan di Lepanto (1571) ketika armada laut Kristen mengalahkan armada Turki yang mengancam pantai negara-negara Kristen di seluruh Laut Tengah. Pada waktu itu seluruh umat Kristen berdoa rosario supaya mereka dibebaskan dari ancaman musuh yang akan membunuh atau menjual mereka yang ditawan ke dalam perbudakan.

Pada masa Paus Pius V mencapai tahta St. Petrus, Gereja sedang dilanda bahaya besar dari Timur yang mengancam untuk memusnahkan Kristianitas di seluruh Eropa. Kaum Muslim sangat kuat dan agresif. Bapa Suci memberi peringatan kepada para raja dan pangeran di Eropa mengenai situasi bahaya yang sedang mengancam, namun tak seorang pun yang mempedulikannya.

Ketika Jenderal La Valette yang hebat itu mempertahankan Malta dari serangan bangsa Moor, tak seorang pun yang membantunya kecuali Paus Pius V yang mengirimkan uang dari bendahara Vatikan untuk mempertahankan benteng yang penting itu. Ketika ia dikalahkan, Soliman II, Raja Turki mempersalahkan Paus dan menyatakan perang kepada Italia, mengancam akan menghancurkan setiap kota yang berada di tepi pantai. 

Menghadapi ancaman demikian, Bapa Suci memerintahkan setiap Gereja di Italia untuk mengadakan devosi 40 jam. Soliman mentertawakan cara perlawanan seperti itu, tapi 3 hari kemudian, ia wafat.

Kebebasan Italia hanya singkat saja karena raja yang baru, Raja Salin dari Sot memutuskan menjadikan Italia bagian dari kerajaannya. Kembali Bapa Suci memohon pada para penguasa di Eropa, tapi pesannya tidak juga dihiraukan dan tidak dijawab. Para utusan yang diutusnya tidak pula diterima. Hanya seorang pangeran muda dari Austria yang menjawab permohonannya. Don John dari Austria. Orang muda ini menawarkan bantuannya kepada Bapa Suci.

Meskipun Don John belum berpengalaman, Paus Pius V mengangkatnya sebagai kepala dari ekspedisi laut yang sedang dipersiapkannya untuk melawan bangsa Turki dalam mempertahankan Italia.

“Pergilah anakku, karena aku tahu Tuhan akan memberimu kemenangan. Rosario akan menjadi keselamatan bagi kita!”

Bapa Suci kemudian memberkati kapal-kapal dan seluruh armada diletakkan di bawah perlindungan Ratu Rosario yang Amat Suci. Semua yang ada di kapal menerima komuni kudus setiap hari dan berdoa rosario berkali-kali dalam sehari.

Para imam di Italia mengumpulkan umatnya dan semuanya diminta berdoa rosario. Paus masuk kapel pribadinya dan tinggal di sana terus-menerus.

Tahun 1571, sebuah armada Turki yang luar biasa besar berlayar menuju Eropa. Sasarannya menaklukkan Kota Abadi Roma. Dari Barat dikerahkan sebuah armada kecil yang sederhana persenjataannya. Pasukan pilihan gabungan Spanyol, Venesia, dan pasukan kepausan disiapkan di Pantai Lepanto dekat Yunani. Dalam La Real yang berbendera Spanyol, Don John dari Austria tak dapat menghindar dari kapal Turki yang membawa komando tertinggi Sultan Ali Pasha. Hari itu 7 Oktober 1571.

Don John baru saja keluar ke laut lepas ketika ia bertemu dengan pasukan kapal induk Turki yang hebat : 330 kapal. Ketika kedua armada itu saling berhadapan, Don John menyuruh anak buahnya berdoa rosario. Mereka memegang senjatanya sambil berdoa rosario yang ada di tangan mereka. Mereka bahkan tetap berdoa selama pertempuran memuncak. 

Dan sungguh amat mengherankan, satu demi satu perahu armada Turki itu tenggelam ditelan ombak dan gelombang sedangkan perahu-perahu orang Kristen tetap tidak mengalami kerusakan apa pun

Ketika Salin dari Sot menyadari bahwa ia sedang bertempur melawan lebih dari sekedar armada musuh yang kecil, ia melarikan diri ketakutan di hadapan Allah orang Kristen dan Ratu umat Katolik

Pertempuran Lepanto yang bersejarah itu terjadi pada siang hari minggu pertama bulan Oktober. Tiba-tiba Paus bangkit dari doanya dan memanggil mereka yang berada di sekitarnya. “Cepat kemari! Ini bukan waktunya untuk bekerja. Marilah kita bersyukur kepada Allah yang maha kuasa karena armada laut kita telah memperoleh kemenangan yang besar!”

Dari sudut pandang sebagai manusia, kemenangan itu adalah sesuatu yang mustahil. Waktu itu pimpinan Gereja tertinggi adalah Paus Santo Pius V. Beliaulah yang memanggil semua orang Katolik untuk memohon bantuan Bunda Allah dan menggempur surga dengan rosario tanpa henti. Umat Katolik menanggapi seruan Paus selama pertempuran berlangsung. 

Dalam saat-saat kritis, saat pertempuran berat sebelah dengan armada Kristen yang tak berdaya karena jumlahnya jauh amat kecil, tiba-tiba angin yang amat besar bertiup ke jurusan armada Turki. Armada yang kuat itu berantakan tenggelam, kapal pecah

Seharusnya berita itu baru sampai di Roma beberapa hari kemudian, tapi aneh, Paus justru yang memberi kabar ketika pada suatu pertemuan, tiba-tiba ia berkata : “marilah kita mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah, kemenangan sudah kita capai!”

Dua minggu kemudian Don John tiba di Roma membawa berita gembira tersebut. Isinya mengenai kemenangan yang terjadi tepat pada saat Paus mengumumkannya di Roma pada tanggal 7 Oktober 1571. Satu hari penuh dipersembahkan untuk menghormati Bunda dari semua kemenangan. 



[Baca jugaRahasia Rosario]




Tahun 1917 – Bunda Maria menampakkan diri kepada 3 anak gembala di Fatima, Portugal, memperkenalkan diri sebagai Ratu Rosario, dan meminta menambahkan Doa Fatima (Ya Yesus ...) di tiap akhir dekade Rosario. 


Tahun 2002 – Paus St. Yohanes Paulus II menambahkan Misteri Terang dalam Rosario, berfokus pada karya Yesus selama di dunia. 

Itulah sekilas kronologi perkembangan Rosario yang kita kenal saat ini dan menjadi salah satu devosi terindah dan terpopuler Gereja. Kalau mau kita sadari, dengan mendoakan semua peristiwa Rosario, kita sudah mendalami misteri seluruh hidup Yesus dan Maria, sang Bunda Allah. 


Rosario Misi untuk Dunia 

Rosario Hidup berawal pada tahun 1826. Pendiri Serikat Pengembangan Iman, Pauline Marie Jaricot menginginkan, agar doa rosario mendukung karya evangelisasi di seluruh dunia. Ia mengorganisir “Kelompok Limabelas” – kelompok doa yang beranggotakan 15 orang. Setiap hari masing-masing anggota kelompok tersebut berkewajiban untuk merenungkan dan mendoakan misteri Rosario yang dipilihnya. 

Dengan cara ini, anggota kelompok Rosario Hidup mempersatukan diri dalam doa dengan semua orang di seluruh dunia. “15 batu bara: Satu berkobar, tiga atau empat menyala, yang lainnya tetap dingin, tetapi kalau semuanya terkumpul, akan menjadi nyala api yang berkobar! Inilah semangat Rosario Hidup yang tepat”. Gerakan Rosario Hidup direstui oleh Paus Gregorius XVI. 

Pada tahun 50-an semangat misi Rosario Hidup dibaharui kembali oleh Uskup Agung Fulton J. Sheen, Direktur Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman di Amerika Serikat. Beliau menghendaki, agar semua umat kristiani berdoa bagi intensi Gereja seluruh dunia. Oleh karena itu, setiap peristiwa Rosario mempunyai warna berbeda yang melambangkan salah satu benua: warna hijau - Afrika (mengacu kepada hutan tropis Afrika yang hijau), warna merah - Amerika (simbol warna kulit suku bangsa Indian, asal-usul penduduk Amerika), warna putih - Eropa (dan Bapa Suci di Vatikan) (merujuk pada warna kulit orang Eropa),  warna biruOseania dan Australia (menggambarkan Samudera Pasifik, di mana tersebar banyak pulau),  warna kuningAsia (mengingatkan penduduk Asia, yang terbanyak di dunia). 


Maria misionaris yang pertama 

St. Yohanes Paulus II mengatakan: “Maria misionaris yang pertama, ibu dan penolong bagi semua pewarta Injil.” 

Maria adalah misionaris pertama, sebab Maria telah diinjili, artinya, kepadanya telah diwartakan Kabar Gembira oleh Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dengan perantaraan Malaikat Gabriel

Maria menanggapi warta gembira itu dengan berkata: “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Maria menyatakan dirinya siap bekerja sama dengan Allah Bapa, dengan Yesus dan dengan Roh Kudus untuk menyelamatkan dunia

Injil dan tradisi mencatat beberapa perjalanan misioner Maria 

Perjalanan ke pegunungan Yehuda: Maria membawa Yesus kepada Elisabet saudarinya dan Yohanes Pembaptis bergejolak di dalam kandungannya (Luk 1:39-45) 

Perjalanan ke Betlehem: Maria bersama St. Yusuf membawa Yesus ke Betlehem dan setelah lahir diperkenalkan-Nya kepada para gembala yang mewakili bangsa Yahudi dan orang-orang Majus dari Timur yang mewakili bangsa-bangsa bukan dari Yahudi (Luk 2:8; Mat 2:11). 

Perjalanan ke Afrika: Maria bersama St. Yusuf membawa Yesus mengungsi ke Afrika (Mesir), yang menjadi “Tanah Air Yesus yang kedua” (Paus Paulus VI) (Mat 2:13-15). 

Perjalanan ke Kana: Maria mempersiapkan kedatangan Yesus di Kana yang di Galilea (Yoh 2:1-2) dan mendesak agar “Saat Yesus” dinyatakan di situ. 

Perjalanan ke surga: Maria pergi ke surga; di sana sebagai Ibu Gereja, memohonkan rahmat agar Gereja-gereja setia dalam mewartakan Yesus kepada segala bangsa

Maria, misionaris yang pertama, akan selalu berjalan bersama Gereja Misionaris di dunia ini sepanjang zaman. Dialah “Ratu para rasul” (Homili Paus Yohanes Paulus II, Roma 1979). 

Untuk mempersiapkan Gereja memasuki Milenium III, Bapa Suci Yohanes II telah menghimpun Gereja per benua. untuk pertama kali selama 2000 tahun, Gereja dari masing-masing benua telah diberi kesempatan untuk mengungkapkan kepada Bapa Suci situasinya, sejarahnya, suksesnya, kegagalan dan harapannya. 

Bapa Suci “menyimpan segala pekara itu dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19) untuk mengerti apa yang mau dikatakan oleh Roh Kudus kepada Gereja-Nya (Why 2:7 dst). Kemudian Bapa Suci menunjukkan arah perjalanan bagi Gereja di masing-masing benua. 

Pengalaman Gereja dari masing-masing benua beserta pengarahan dari Bapa Suci akan menuntun kita dalam berdoa Rosario Misioner. Sambil berdoa Rosario Misioner, bersama Bunda Maria, kita akan berkeliling mengunjungi masing-masing benua di dunia. Kunjungan Bunda Maria akan mempersiapkan benua-benua untuk menerima Putranya Yesus Kristus sebagai satu-satunya Penyelamat dunia


Benua Amerika: Di Mexico Bunda Maria pada tahun 1531 telah menampakkan diri kepada Juan Diego, seorang penduduk asli yang istrinya meninggal dua tahun sebelumnya. Bunda Maria berpesan agar ia dikenali dan dihormati sebagai Santa Perawan Maria dari Guadalope


Pada kesempatan Audiensi dengan para peserta Pertemuan Pontifical Mission Societies (Serikat Misi Kepausan), disampaikan juga permintaan Paus Fransiskus untuk mengadakan Bulan Misi Luar Biasa untuk menyambut satu abad dideklarasikannya Surat Apostolik Maximum lllud (Tentang Pewartaan Iman). 

Tugas mewartakan Injil, bisa diistilahkan dengan meng-injil-i, atau berisi dan juga mengadakan Evangelisasi yang merupakan tugas utama Gereja. Mengingat pentingnya tugas pewartaan Injil itu, maka Paus Fransiskus mengajak seluruh Gereja untuk mengadakan Bulan Misi Luar Biasa pada bulan Oktober 2019.

Doa untuk Bulan Misi Luar Biasa pada bulan Oktober 2019 

Bapa Surgawi, 
Pada saat Putra-Mu yang tunggal Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati, Ia mengutus para murid-Nya untuk “pergi dan menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya dan Engkau mengingatkan kami bahwa melalui Sakramen Baptis, kami dijadikan pewarta misi Gereja. 

Kuatkanlah kami dengan karunia Roh Kudus-Mu supaya berani dan penuh semangat memberikan kesaksian Injil, sehingga misi yang dipercayakan kepada Gereja yang masih sangat jauh dari sempurna, dapat menemukan ungkapan yang baru dan tepat yang membawa kehidupan dan cahaya ke dunia. 

Bantulah kami untuk memungkinkan semua orang mengalami cinta yang menyelamatkan dan belas kasihan dari Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa, bersama dengan Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Doa Rosario 

1. Warna hijau - Afrika 

Doa: Tuhan, pandanglah dengan cinta Gereja Afrika yang masih muda dan bukalah mata hati mereka untuk melihat lebih jelas bahwa Engkaulah satu-satunya Jalan dan Kebenaran. Kiranya mereka dapat membagikan pengalaman iman mereka kepada saudara-saudara yang belum mengenal-Mu. 

2. Warna merah – Amerika 

Doa: Bunda Perawan Maria dari Guadalupe, Bunda Amerika, berdoalah kepada Tuhan untuk kesucian umat Allah dan mohon banyak panggilan. Bunda Kasih Ilahi, doakanlah keluarga-keluarga agar mereka hidup dalam keharmonisan dan berkatilah mereka dalam mendidik anak-anak dan kaum muda. 

3. Warna putih – Eropa 

Doa: Ratu para Rasul, Bunda Yesus Kristus, engkau ada bersama Yesus di awal hidup dan misinya. Rangkullah bangsa-bangsa Eropa dalam pangkuan-mu. Bapa, jadikanlah, agar keluarga-keluarga Kristen kembali ke akar ajaran Kristiani. Semoga Gereja menjadi sumber baru bagi panggilan hidup misi yang banyak. 

4. Warna biru – Oseania dan Australia 

Doa: Maria, terima kasih atas cinta-mu, yang engkau anugerahkan untuk putra dan putri-mu di Papua New Guinea. Terima kasih atas perhatian keibuan-mu dalam mewartakan injil Putra-mu di negara ini. Kami mohon rahmat panggilan untuk kehidupan imamat dan membiara. Mohonkanlah pada Putera-mu untuk mengirimkan pekerja-pekerja di kebun anggur-Nya. 

5. Warna kuning – Asia 

Doa: Tuhan, yang memilih dari antara bangsa-bangsa Asia, banyak orang yang siap untuk mengabdi-Mu. Kiranya teladan hidup mereka sebagai penunjuk jalan kepada-Mu. Semoga orang Asia sungguh-sungguh mencari Engkau dan mengikuti suara-Mu. Biarkan benih Injil bertumbuh subur dan menghasilkan panen yang berlimpah. 

(Sumber: Asal mula untaian Rosario, holytrinitycarmel.com; Rosario Misioner, disebarluaskan oleh Serikat Misionaris Xaverian Indonesia; Rosario Misi untuk Dunia - Official Website of Karya Kepausan Indonesia, https://karyakepausanindonesia.org)

Kamis, 10 Oktober 2019

19.21 -

Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario - 7 Oktober







Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. 

Paus Pius V yang pada waktu itu duduk di Tahta St. Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki.

Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari armada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-menerus.

7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore. Mujizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai Hari Raya Rosario.

15 Janji Bunda Maria bagi mereka yang setia berdoa rosario

1. Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna.

2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka semua yang mendaraskan Rosario.

3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan kesesatan.

4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini.

5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario tidak akan binasa.

6. Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal.

7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja.

8. Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran pada kudus di surga.

9. Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi Rosario, dari api penyucian.

10. Putera-puteri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surga.

11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan Rosario.

12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan Rosario Suci dalam segala kebutuhan mereka.

13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.

14. Mereka semua yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus

15. Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur.

Jumat, 19 Juli 2019

19.52 -

Peranan Bunda Maria di dalam Pembaharuan Karismatik



Masih banyak dijumpai pandangan-pandangan yang keliru tentang apa dan bagaimana Pembaharuan Karismatik Katolik. Di antaranya adalah masih adanya suara-suara yang mengatakan bahwa Pembaharuan Karismatik Katolik lebih mengarah ke iman Kristen yang lain. Tandanya adalah bahwa Pembaharuan Karismatik Katolik tidak mau berdoa melalui Bunda Maria. Pandangan ini sama sekali keliru. 

Seorang ahli Teologi yang khusus mendalami Mariologi, yaitu Stefani de Fiores, justru membuat satu tulisan khusus tentang bagaimana peranan Bunda Maria di dalam Pembaharuan Karismatik, dan tulisan ini dimasukkan dalam bukunya yang tebal tentang Mariologi: 

“Dari antara semua gerakan dalam Gereja Katolik yang menemukan kembali peran Maria dalam hidup yang injili atau dalam perjalanan hidup kristiani adalah Pembaharuan Karismatik.” 

Apakah artinya bahwa Maria adalah buah Pentakosta dan model kepenuhan dalam Roh Kudus? Marilah kita melihat 3 hal yang akan membawa kita sampai pada pengertian tersebut. 

1. Maria adalah tipe dari Gereja yang lahir dari Roh Kudus

Maria adalah model bagi Gereja di dalam hubungannya secara baru dengan Roh Kudus dalam usaha untuk sungguh menjadi seperti Kristus, bersatu dengan Dia. Ada persamaan di antara dua peristiwa Pentakosta ini, yaitu dalam struktur dan dinamikanya: 

- Kedatangan Roh Kudus 

Pentakosta untuk Bunda Maria: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau (Luk. 1:26-37). 

Kisah Pentakosta para Rasul: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, ... (Kis. 2:1-13). Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu (Kis 1:8). 

- Melakukan misi 

Maria: Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda (Luk 1:39). 

Para Rasul yang dipilih-Nya: Kamu akan menjadi saksi-Ku ... sampai ke ujung bumi. Kis 1:3, 8). 

- Adanya luapan kegembiraan 

Elisabet dan Yohanes Pembaptis dan Maria: Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana (Luk 1:40-45). 

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia. ..." (Luk 1:46-55). 

Para Rasul: Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: 

Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat ... Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak ... (Kis 2:14-33). 

2. Maria adalah model utama bagi orang yang sudah mengalami Pencurahan Roh Kudus (hidup baru dalam Roh) 

Dari kisah pewartaan Kabar Gembira oleh Malaikat Gabriel kepada Maria, kita bisa melihat bahwa Maria adalah manusia pertama yang menerima karya Roh Kudus di dalam dirinya (Luk 1:35). Oleh karena fakta itulah, maka Maria disebut sebagai model utama bagi mereka yang menerima Pencurahan Roh. 

Berdasarkan pengertian teologis dari Kisah Para Rasul, Pentakosta adalah peristiwa pembaptisan dalam Roh Kudus (Kis. 1:5), yang kemudian di dalam Pembaharuan Karismatik disebut sebagai Pencurahan Roh. Perubahan sebutan ini sebenarnya adalah untuk menghindari kerancuan dengan realitas Sakramen Baptis, karena memang pembaptisan dalam Roh Kudus bukanlah Sakramen. 

3. Maria adalah model utama dari hidup karismatik (hidup dalam Roh) 

Maria, ibu Yesus adalah satu-satunya nama yang disebut-sebut ada bersama para Rasul pada waktu mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14). Karunia berbahasa roh merupakan salah satu karunia yang mewarnai peristiwa Pentakosta: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4). 

Terlebih lagi, karena Pentakosta yang dialami secara khusus oleh Bunda Maria sewaktu dia menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, maka Maria disebut tipe pre-Pentakosta dalam karunia nubuat. Hal ini dapat dilihat melalui Fiat-nya, yaitu dalam Magnificat (Luk. 1:46-56), yang diucapkannya setelah Roh Kudus tercurah atas dirinya (Luk. 1:35) Dan karena adanya karunia nubuat inilah maka Maria diberi gelar nabiah dalam Tradisi Yunani dan Latin. 

Berdasarkan semua penjelasan di atas, dengan memakai istilah Karismatik zaman sekarang, kita dapat mengatakan bahwa memang Maria adalah orang Karismatik pertama. Artinya orang pertama yang sungguh mengalami kepenuhan dalam Roh Kudus. Oleh karena itu, sungguh tepatlah dan memang sudah seharusnya kalau dia dijadikan model atau teladan bagi orang-orang Karismatik. 

Jumat, 09 November 2018

14.52 -

Jatuh bangun Paus Fransiskus dan bantuan Bunda Maria pengurai simpul



Jika Anda melihat senyum kedamaian di wajah Paus Fransiskus saat ini, mungkin Anda tak percaya bahwa beliau juga pernah mengalami saat-saat sulit dalam kehidupannya, wajahnya sulit tersenyum, tampak serius karena menanggung beban.

Bergoglio muda (Nama Paus Fransiskus sebelum diangkat menjadi Paus), menjadi imam Yesuit di Seminari Villa Devoto pada umur 22 tahun sesaat setelah ia lulus menjadi Master di bidang Kimia Universitas Buenos Aires. Pada umur 24 ia memegang diploma Filsafat dari Colegio Maximo San Jose di San Miguel. Pada umur 25-26 ia mengajar sastra dan psikologi di Colegio de la Inmaculada Santa Fe, serta Colegio del Salvador di Buenos Aires.

Menjadi Provinsial Yesuit

Pada tahun 1973 di usianya ke 36, Bergoglio ditunjuk menjadi Provinsial Serikat Yesuit di Argentina (1973 1979) yang terpecah-belah akibat munculnya paham Teologi Pembebasan yang dimotori oleh sebagian imam Yesuit. 

Teologi Pembebasan sendiri muncul akibat porak porandanya kondisi masyarakat akibat konflik politik, korupsi, jurang kaya miskin, dll. Sebagian imam Yesuit tampil ke depan untuk membela rakyat. 

Namun sebagian imam Yesuit lainnya berpandangan mereka sebaiknya tidak tampil langsung dalam membela masyarakat. Bergoglio muda yang cerdas diharapkan dapat menyatukan perpecahan tersebut.

Sebenarnya Bergoglio dianggap terlalu muda untuk menjadi seorang Provinsial, Tapi ada beberapa kejadian yang membuat ia naik pangkat dengan pesat. Di antaranya seniornya yang lebih layak menjadi provinsial meninggal dalam kecelakaan mobil, serta menipisnya jajaran Yesuit akibat perubahan-perubahan besar dalam Gereja Katolik yang diakibatkan Konsili Vatikan II tahun 1962.

Namun alih-alih menyatukan, periode 1976-1983 adalah periode yang di kenal sebagai Perang Kotor. Sekitar 30.000 orang Argentina dibunuh atau menghilang dalam periode itu. Dalam masa-masa itulah Bergoglio memimpin imam Yesuit yang terkenal militan.

Biara-biara Yesuit berulang kali diserbu oleh juta militer yang berkuasa. Hal ini karena banyak para Yesuit di seluruh Amerika Latin mengganti buku doa harian mereka dengan selebaran-selebaran. Mereka siap menjadi martir untuk membela rakyat miskin yang menderita dan tertindas akibat konflik politik. Dua pastor Yesuit, Yorio dan Jalics bahkan mengorganisasi orang miskin di perkampungan Buenos Aires untuk menghadapi para penindas mereka.

Sebagai pimpinan Bergoglio berkewajiban untuk mengamankan organisasinya, sehingga ia terpaksa meng-ultimatum kedua pastor Yesuit tersebut. Tetap di biara atau keluar. Kedua pastor tersebut memilih keluar, dan beberapa hari kemudian orang-orang bersenjata menangkap kedua pastor tersebut.

Meski setelah 5 bulan, Yorio dan Jalics akhirnya dilepaskan berkat usaha dan negosiasi Bergoglio, selama bertahun-tahun Yorio menyalahkan Bergoglio untuk penculikannya, menuduh Provinsial meninggalkan dia, tidak melindunginya dan menyerahkannnya pada militer.

Hal inilah yang menjadi sumber ketegangan utama Bergoglio, yang agaknya ditangkap juga oleh jajaran tinggi Yesuit. Sehingga mereka merasa perlu memberinya cuti untuk menenangkan kembali jiwa dan pikirannya. Mereka menugaskannya belajar menempuh pendidikan doktoral di Jerman.

Bertemu Altar Bunda Maria Pengurai Simpul

Bukan tugas mudah untuk belajar menempuh program doktoral dalam kondisi tertekan. Setelah bertahun-tahun berhasil di studi, sehingga di anggap cerdas oleh kebanyakan orang. Saat itu Bergoglio yang merasakan kegagalan dalam tugasnya sebagai Provinsial, tak bisa fokus dalam studinya, dan bayangan ke gagalan studi sudah terasa olehnya. Dalam kondisi hancur, gagal, ia pergi ke sebuah gereja untuk berdoa.

Gereja di Jerman saat itu mempunyai banyak altar, yang biasanya merupakan sumbangan dari para bangsawan. Satu altar utama biasanya digunakan untuk misa dengan umat. Dan beberapa altar lainnya digunakan oleh beberapa kelompok biarawan lainnya untuk berdoa sendiri-sendiri maupun berkelompok.

Bergoglio khusyuk berdoa, sampai ia menyadari ada yang tak biasa pada lukisan di altar tersebut. Lukisan Bunda Maria itu menggambarkan Bunda Maria yang sedang mengurai simpul-simpul. Dan baru kali inilah ia menjumpai lukisan Bunda Maria mengurai simpul tersebut. 

Dan Bergoglio pun tersadarkan, permasalahan-permasalahan dalam karirnya sebagai biarawan, kegagalan-kegagalannya dalam menunaikan tugas atasan, mungkin seperti untaian pita yang penuh simpul tadi, dan ia kesulitan menguraikannya sendiri. Maka ia pun berdoa untuk meminta bantuan Bunda Maria guna membantu menguraikan permasalahan-permasalahan yang ia hadapi.

Entah berapa lama Bergoglio berdoa, dan meski permasalahan-permasalahan yang ia hadapi masih seperti semula, ia telah merasa sedikit kelegaan. Karena masalah-masalah tadi tak lagi dihadapinya sendiri. Ia mengimani bahwa Bunda Maria pasti akan membantu menguraikan permasalahannya.

Asal-usul Lukisan Bunda Maria Pengurai Simpul

Dan ia mulai bertanya pada biarawan di sana, tentang asal-usul lukisan Bunda Maria pengurai simpul tadi. Ternyata lukisan dan altar tersebut adalah sumbangan dari seorang bangsawan Jerman bernama Wolfgang Langenmantel pada 300 tahun lalu.

Wolfgang dinikahkan dengan seorang putri bangsawan bernama Sophia, yang derajat kebangsawanan keluarganya lebih tinggi dari keluarganya. Mungkin karena hal ini Sophia yang merasa derajatnya lebih tinggi, lebih suka membawa maunya sendiri sehingga pernikahan mereka sering cekcok dan diambang perceraian.

Saat itu dalam adat pernikahan kedua mempelai mengenakan mahkota yang dihiasi bunga-bunga, dan antara kedua mahkota yang dipakai mempelai pria dan wanita di satukan oleh sehelai pita panjang

Nantinya dalam kehidupan berumah tangga jika mereka menjumpai permasalahan pelik, mereka akan bersama-sama membuat satu simpul di tali pernikahan mereka, jika permasalahan berhasil di selesaikan, simpul tadi diurai kembali

Tapi dalam pernikahan Wolfgang dan Sophia, simpul-simpul di tali pernikahan mereka terus bertambah, tanpa ada yang diurai, sehingga tali pernikahan itu penuh simpul. Dan mereka memang merasakan bahwa konflik-konflik di pernikahan mereka terus meningkat, sampai suatu saat Wolfgang merasa bahwa pernikahan mereka tak bisa dipertahankan lagi.

Namun menyadari bahwa perceraian di larang di gereja Katolik. Maka sebelum resmi bercerai, Wolfgang mencoba meminta nasihat dari pihak gereja. Wolfang menemui Romo Jakob Rem, seorang imam Yesuit yang memiliki devosi kuat pada bunda Maria. Dan Jakob meminta agar Wolfgang melakukan saran-sarannya untuk 4 minggu ke depan, dan setiap akhir minggu meminta Wolfgang menemuinya di Biara untuk memantau hasilnya.

Wolfgang mengikuti saran Jakob, dan di akhir minggu melaporkan hasilnya, untuk kemudian melakukan saran lain dari Jakob untuk seminggu berikutnya.

Namun tidak ada perubahan dari sikap Sophia, sehingga Wolfgang merasa bahwa segala upaya yang dilakukannya tidak membawa hasil.

Pada janji pertemuannya yang terakhir (28 September 1615), dengan rasa putus asa Wolfgang menemui Jakob untuk terakhir kalinya. Ia membawa pula pita pernikahannya yang penuh simpul permasalahan tadi.

Jakobpun merasa tak bisa memberikan saran lain bagi Wolfgang untuk membatalkan perceraiannya, namun sebagai imam yang berdevosi kepada Bunda Maria, Jakob mengajak Wolfgang untuk berdoa bersama dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada Bunda Maria.

Dengan membawa tali pernikahan penuh simpul tadi, Jakob mengajak Wolfgang untuk berdoa bersama di hadapan Bunda Maria. 

Seusai mereka berdoa, mereka melihat bahwa tali pernikahan tersebut menjadi berkilat putih mempesona. Dan simpul-simpul mati yang sebelumnya terikat kuat (mungkin karena dibuat dalam kondisi emosi, sehingga terikat mati dan sulit diurai) menjadi longgar, sehingga mudah diurai.

Jakobpun menguraikan simpul itu satu persatu, dan menyerahkan kembali ke Wolfang, dan memintanya kembali ke rumah. Bunda Maria telah mengabulkan doamu, bawa kembali tali pernikahan ini, batalkan rencana perceraianmu. Pertahankan pernikahanmu dengan Sophia sampai ajal menjemput.

Tak diceritakan bagaimana perubahan sikap Sophia, yang pasti Wolfgang dan Sophia tak jadi bercerai, dan pernikahan mereka berlanjut sampai mereka mempunyai beberapa anak dan cucu.

Pada tahun 1700, 85 tahun kemudian, cucu Wolfgang, Romo Heironymus Ambrosius Langenmantel menyumbangkan sebuah altar keluarga. Dia menugaskan Johann Melchoir Georg Schmittdner untuk membuat lukisan kisah penyelamatan pernikahan kakeknya oleh Bunda Maria

Bunda Maria yang membantu menguraikan simpul-simpul permasalahan dalam pernikahan kakeknya. Di bawah lukisan Bunda Maria tersebut di gambarkan juga kakeknya yang di tuntun oleh Malaikat Rafael melewati masa perselisihan pernikahannya (yang diilhami oleh kisah malaikat Rafael menemani perjalanan Tobia untuk menemui Sara calon istrinya).

Kembali ke Argentina

Menyambung kembali kisah Bergoglio, setelah menguak sejarah lukisan Bunda Maria Pengurai Simpul, Bergoglio memutuskan tidak melanjutkan kuliah doktoralnya di Jerman. Ia memutuskan kembali ke Argentina.

Saat ia kembali ke Argentina, kelompok teologi pembebasan yang dulu dicopotnya semasa menjabat provinsial, sekarang merekalah yang menjadi pejabat tinggi dan mengatur provinsial berdasarkan beberapa petunjuk dari pemimpin Yesuit di Roma. Kehadiran Bergoglio di Argentina, menimbulkan dualisme kepemimpinan, antara pengikut setia Bergoglio dengan para pemimpin baru Provinsial. Akhirnya mereka mengirim Bergoglio ke Cordoba, yang 800 km jauhnya dari Buenos Aires.

Di Cordoba, Bergoglio tidak diberi tugas khusus. Tugas resminya adalah mendengar pengakuan dosa, duduk di kamar sambil menunggu terdengar bunyi bel, tanda bahwa ada beberapa jiwa yang merasa bersalah dan ingin melepaskan diri dari beban dosa.

Itu adalah malam-malam yang gelap bagi seseorang yang sekarang dikenal sebagai sosok yang begitu besar. Berada di sebuah kamar kecil yang mirip sel tahanan, di sebuah kota kecil di ujung Argentina. Ini adalah satu periode kehidupan yang penuh misteri yang tidak ada dalam biografi seorang Paus Fransiskus.

Tapi disinilah ia banyak membaca dan berdoa. Dan mungkin saja melakukan devosi kepada Bunda Maria Pengurai Simpul, yang memberi hatinya kedamaian. Karena ia telah menyerahkan permasalahannya kepada Bunda Maria.

Menjadi Paus

Dan sesuatu yang tampaknya mustahil terjadi. Dua tahun setelah pengasingannya, pada Juni 1992, Bergoglio diangkat menjadi uskup pembantu di Buenos Aires. Pada 1998, Bergoglio diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires, orang Katolik yang paling berkuasa di Argentina. Pada 21 Feb 2001, Bergoglio diangkat sebagai Kardinal. Dan p

Ia menjadi orang Yesuit pertama yang menjadi Paus. Ia juga menjadi Paus pertama yang berasal dari benua Amerika. Hal ini sebenarnya menunjukkan betapa kecilnya peluang Bergoglio untuk terpilih sebagai Paus.

Kita tak pernah tahu, apakah devosinya yang membawa Bergoglio keluar dari pengasingannya dan menjadi orang nomor satu di Gereja Katolik Roma. Yang pasti devosi itu membantunya terbebas dari beban-beban permasalahannya. Bunda Maria telah membantunya mengurai permasalahan yang membebani hidupnya.