Tampilkan postingan dengan label *Allah Tritunggal*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Allah Tritunggal*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2019

Hidup kekal: mengenal Allah yang benar



Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicarinya terus-menerus: 

"Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah. Sebab manusia hanyalah hidup, karena ia diciptakan oleh Allah dalam cinta kasih-Nya, dan lestari hidup berkat cinta kasih-Nya. Dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya" (GS 19,1) (KGK 27). 

Kita tidak dapat disatukan dengan Allah, kalau kita tidak secara sukarela memutuskan untuk mencintai Dia. Tetapi kita tidak dapat mencintai Allah, kalau melakukan dosa berat terhadap Dia, terhadap sesama kita, atau terhadap diri sendiri: "Barang siapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang memiliki hidup kekal di dalam dirinya" (1 Yoh 3:14-15). . 

Tuhan kita memperingatkan kita, bahwa kita dipisahkan dari-Nya, apabila kita mengabaikan perhatian kita kepada kebutuhan-kebutuhan mendesak dari orang miskin dan kecil, yang adalah saudara dan saudari-Nya (Mat 25:31-46). 

Mati dalam dosa berat, tanpa menyesalkannya dan tanpa menerima cinta Allah yang berbelas-kasihan, berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk selama-lamanya oleh keputusan sendiri secara bebas. Keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini, dinamakan "neraka" (KGK 1033). 

Untuk memahami kehidupan kekal, kita harus memahami ada kondisi "kematian", yaitu: "kejadian kekal", konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa sejak manusia yang mula-mula, yaitu Adam. 

Melanggar Hukum Kekudusan Allah konsekuensinya adalah mati (Kej 2:16-17).

(1) Mati secara roh 

Panggilan manusia menjadi kudus seperti Allah (Mat 5:48; 1 Ptr 1:15-16; Im 11:44-45). Tanpa kekudusan, orang tidak dapat memandang Allah (Ibr 12:14). Segala yang tidak bersih tidak diperkenankan masuk surga (Why 21:27). 

Ada jurang yang memisahkan antara Allah yang Mahakudus dengan manusia yang telah berdosa (Tuhan memanggil, takut dan bersembunyi - Kej 3:8-10). Akibatnya, manusia tidak dapat bergaul dengan Allah secara langsung sebagaimana sebelumnya. 

(2) Mati secara moral 

Pada waktu kita masih belum/tidak mengenal Allah, tanpa berpikir kita ditarik kepada berhala-berhala yang bisu (1 Kor 12:2), memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah (Gal 4:8), ada roh perzinahan (Hos 5:4); mengikuti jalan dunia ini, hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging (Ef 2:2-3; Perbuatan daging yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal 5:19; Kol 3:5). 

Tidak mau mengenal Allah, dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya (2 Tes 1:8-9). 

Kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum (2 Ptr 3:17), melupakan pengajaran Allah (Hos 4:6), tidak mengenal kebenaran Allah, berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rm 10:3), hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak lagi mempedulikan Allah atau orang lain (Mat 25:41-43). 

Semua orang dapat mengatakan bahwa ia telah mengenal Tuhan, namun mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Rm 1:21), hal itu tidak menjamin bahwa mereka dikenal oleh Tuhan (Mat 7:23), pikiran mereka sia-sia dan jahat, hati mereka yang bodoh menjadi gelap (Ef 4:17; 2:3). 

(3) Tunduk pada hukum kematian (Kej 3:19) 

Manusia pertama diciptakan dengan kemampuan untuk hidup selama-lamanya. Konsekuensi yang diberikan semua manusia keturunan Adam sejak manusia itu jatuh ke dalam dosa adalah mati secara fisik (Ibr 9:27; 1 Kor. 15:21), kecuali Henokh dan Elia (Kej 5:24; 2 Raj 2:11). 

(4) Kematian kekal (KGK 1033 - Mati dalam dosa berat, tanpa menyesalkannya dan tanpa menerima cinta Allah yang berbelas-kasihan, terpisah dari Allah untuk selama-lamanya (neraka = kematian kedua – Why 21:8; Mat 9:43). 

Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1 Kor 1:21). 

Sejak dahulu manusia selalu mendambakan hidup kekal. Kendati segala upaya telah dicoba, manusia belum berhasil mencapai. Namun, orang Kristen telah memiliki apa yang sudah lama didambakan oleh dunia

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yoh 17:3); persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yoh 1:2-3). 

Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol 1:15). Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis 4:12). 

Kata Yesus: Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30). Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14: 6). 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kehidupan kekal bukanlah hanya sebuah warisan masa depan, ketika kita mati dan masuk ke dalam Surga (Ayb. 19:26 - aku akan melihat Allah; Yoh. 5:28-29 - berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal), melainkan juga sesuatu yang kita miliki saat ini, dimulai ketika kita sungguh-sungguh mengenal Allah (Yoh 6:47-51). 

Bagaimana kita dibenarkan dan dapat menerima secara langsung hidup kekal? 

Berkat Sakramen Baptis, kita sanggup hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus (KGK 1266). 

Berkat Sakramen Krisma, kita berani mewartakan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Allah (Kis 2:11), meninggalkan manusia lama yang kekanak-kanakan, membuat sanggupmenerima makanan keras (1 Kor 3:2; Ibr 5:12), serta menjadigaram dan terang dunia’ (Mat 5:13-16) (KGK 1302-1303). 

Buah utama dari penerimaan Ekaristi di dalam komuni ialah persatuan yang erat dengan Yesus Kristus (KGK 1391; Yoh 6:56-57). Berkat Sakramen Ekaristi, Kristus menghidupkan cinta kita dan memberi kita kekuatan, supaya memutuskan hubungan dengan kecenderungan yang tidak teratur kepada makhluk-makhluk dan membuat kita berakar di dalam Dia (KGK 1394). 

Semakin kita ambil bagian dalam hidup Kristus dan semakin kita bergerak maju dalam persahabatan dengan-Nya, semakin kurang pula bahaya bahwa kita memisahkan diri dari-Nya oleh dosa besar (KGK 1395). 

Seseorang yang mengenal Tuhan adalah seseorang yang bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus (2 Ptr 3:17-18). 

Seseorang yang sudah lahir baru tetap akan memiliki dosa, karena kita semua masih tinggal di dunia ini. Tetapi seseorang yang lahir baru akan terus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan Yesus dan terus bertumbuh dalam kebencian kepada dosa-dosa. Seseorang yang sudah lahir baru tetap dapat jatuh sewaktu-waktu di dalam hidupnya, tetapi dia akan berdiri kembali dan berjalan lagi menuju Tuhan Yesus

3 Keindahan dari kasih karunia (1 Tim 1:13-17): 

1. Kasih karunia bukanlah sesuatu yang diberikan kepada orang-orang yang layak mendapatkannya, melainkan sesuatu yang diberikan kepada orang berdosa, yang tidak layak mendapatkannya (Mrk 2:17). 

2. Kasih karunia membuahkan iman dan kasih kepada Yesus. Semakin kita menerima kasih karunia Tuhan dan menyadari keindahan kasih karunia itu, maka iman kita dan kasih kita kepada Yesus juga akan semakin bertumbuh. Orang-orang yang memiliki iman dan kasih yang besar bukanlah mereka yang baik, melainkan mereka yang sadar bahwa Tuhan sangat baik. 

Hanya ada satu jalan - karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman (Ef 2:8-9). Jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan (Rm 10: 9). 

Hanya mereka yang memiliki iman dapat melihat kehadiran kerajaan yang kasat mata dan tersembunyi. Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kita (Luk 17:20-21), bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa (1 Kor 4:20), bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus (Rm 14:17). 

3. Dari menerima kasih karunia, menjadi penyalur kasih karunia. Tuhan tidak berencana agar kita hanya menjadi penerima kasih karunia, melainkan Dia berencana supaya kita juga bisa menjadi penyalur kasih karunia. Setelah kasih karunia mengubah hidup kita, Tuhan ingin agar kita menunjukkan kepada dunia betapa luar biasa perubahan yang terjadi di dalam diri kita. 

Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekaltidak akan mati selama-lamanya (Yoh 3:16; 11:25-26). 

Allah menghendaki umat manusia untuk tinggal bersama Dia selamanya (Why. 21:3 - kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka; Yoh. 14:2-3 - di mana Aku berada, kamu pun berada). 

Allah telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa (Kol 1:13-14). Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka (Yer 31:33-34). 

Mengenal Allah menggambarkan hubungan yang dekat dan intim (Yer. 31:33-34 - Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku, mereka semua mengenal Aku). 

Ciri-ciri mengenal Allah

(1) akan bertobat kepada Tuhan dengan segenap hatinya (Yer 24:7), tidak berbuat dosa lagi (1 Yoh 3:6), menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan: mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian, jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan, jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu (Luk 3:8, 10-14). 

(2) akan hidup dengan memancarkan kasih (1 Yoh 4:7-8; 1 Kor 13:4-8; Yer 9:24). 

(3) akan menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 2:3-4), akan tetap kuat dan akan bertindak (Dan 11:32). 

Jikalau kita mengasihi-Nya, kita akan menuruti segala perintah-Nya. Janji-Nya: Bapa-Ku akan mengasihimu dan Kami akan datang kepadamu dan diam bersama-sama denganmu (Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu). Aku akan menyatakan diri-Ku kepadamu. Bapa akan memberikan seorang Penolong/Roh Kebenaran/Roh Kudus, Dia akan diam di dalam kamu menyertai kamu selama-lamanya (Yoh 14:15-27). 

Jadi, kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus (Ef 2:10). Kita adalah bait Allah, rumah-Nya, tempat perhentian-Nya karena Roh Allah diam di dalam kita (1 Kor 3:16-17; Kis 7:48-49). Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah (1 Kor 8:3). 

Marilah kita meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepada kita Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Ef 1:17). 

Hidup kekal kita terima dari Allah, hanya melalui Yesus Kristus tidak ada jalan lain! Tanpa itu tidak ada cara yang dapat kita tempuh untuk mengenal Allah.

(Sumber: Warta KPI TL No. 165/I/2019).

Rabu, 07 September 2016

Misteri Tritunggal



Ada suatu cerita mengenai misteri Tritunggal dari riwayat hidup St. Agustinus.

Pada suatu hari Agustinus berjalan-jalan di suatu pantai sambil memutar otak untuk memecahkan misteri Allah Tritunggal. Pada waktu itu ia bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang membuat lubang di pasir pantai. Agustinus bertanya kepada anak itu: “Nak, apa yang sedang engkau buat di tepi pantai ini?” Anak itu menjawab: “Saya sedang menggali lubang untuk mengisi semua air laut itu ke dalamnya!” 



Agustinus berkata: “Bagaimana mungkin air laut yang begitu banyak dapat di isi ke dalam lubang yang kecil itu?” Lalu anak itu menjawab: “Bagaimana mungkin misteri Tritunggal yang demikian agung dapat masuk ke dalam otak tuan yang demikian kecil itu…!” Lalu anak kecil itu hilang.


Pokok utama iman kita tentang Tritunggal ialah bahwa Allah memberikan diri-Nya kepada manusia. Dan pemberian diri Allah itu secara sempurna dilaksanakan dalam diri Yesus Kristus dan oleh Roh Kudus. Misteri Tritunggal merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah.

Allah bukan sekedar teori/rumusan yang perlu kita pahami dan jelaskan secara ilmiah tetapi soal iman yang patut kita syukuri dalam hidup ini. Karya Allah Trinitas ini dulu, sekarang dan selama-lamanya akan selalu kita alami dalam hidup ini.

Wujud Trinitas Allah ini secara aktual sebenarnya dapat dialami secara nyata dan konkrit setiap hari dalam hidup orang beriman, yakni: 

Karya khas dari Bapapenciptaan
Karya khas Puterapenebusan
Karya khas Roh Kudusmenguduskan dan membimbing

Kita patut beryukuri karena telah dipanggil menjadi umat-Nya. Sehingga dalam menjalani ziarah ini tidak bergantung pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Allah Tritunggal; dengan adanya kompas (Tuhan Yesus Kristus sendiri), peta (Firman Tuhan dan ajaran-ajaran resmi Gereja Katolik), dan penasehat yang luar biasa yaitu Roh Kudus.

(Sumber: Warta Paroki GYB tgl 3 Juni 2007 No. 22 tahun IX/2007).

Minggu, 12 Juni 2016

A dan O



Alfa dan Omega adalah huruf pertama dan terakhir dari abjad Yunani, yang dipakai untuk melambangkan Allah (Why 1:8; 21:6) sebagai Awal dan Akhir, yakni Asal dan Tujuan segala sesuatu yang ada.

Hal ini dikatakan juga tentang Kristus (Why 22:13) untuk menyatakan-Nya sebagai Tuhan atas semesta alam dan segala zaman.

Karena A dan O digunakan dalam Alkitab untuk Allah Bapa dan Kristus, maka menjadi lambang iman akan keilahian Kristus.

Kedua huruf ini sudah mulai dipakai menjadi monogram Kristus sebelum abad ke-4; lih. Entri Lilin Paskah.


(Sumber: Ensklopedi Gereja, A. Heuken SJ).

Senin, 07 Desember 2015

Sabda Tritunggal

Sabda Tuhan yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14) tidak datang dengan sendirinya, tetapi dari persekutuan Trinitas: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:16-17) adalah deklarasi persekutuan Tritunggal Mahakudus. Ada Yesus sang Putera yang hidup dalam sejarah, ada Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati dan ada Bapa yang bersabda dari langit: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNya-lah Aku berkenan.”

Menyelami Sabda Tuhan menjadi penting karena dari sumber ini kita mengalami kehadiran tiga pribadi Tritunggal yang masing-masing tampil dengan perannya yang unik.

Empat pokok yang harus direnungkan secara lebih mendalam dalam melaksanakan perintah Yesus untuk menjabarkan cinta kepada Tritunggal dalam pelayanan kepada sesama manusia seumur hidup.

1. Dalam diri Allah Bapa kita menemukan sabda revelasi, Tuhan yang mewahyukan diri kepada umat manusia.

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-7), Tuhan memang menjatuhkan hukuman tetapi tidak melupakan mereka (Bdk. Kej 4:26; 6:13-21). 

Tuhan mau menyelamatkan manusia yang tercipta menurut gambaran-Nya. Karena manusia tidak selalu mengenal Tuhan, Ia mengirim utusannya untuk menolong manusia agar melihat dan menyadari kehadiran-Nya (melalui nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja dsb.).

2. Dalam diri Putera kita mengenal sabda inkarnasi, Tuhan menjadi manusia dan hidup dalam sejarah

Hadirnya Yesus mengubah pola komunikasi diri Allah. Dalam Pejanjian Lama kita senantiasa membaca “Allah bernubuat”. Dalam Perjanjian Baru Yesus selalu berkata kepadamu... – memakai cara-cara manusia agar dapat memahami besarnya cinta Allah itu. Perubahan yang begitu radikal dalam komunikasi diri Allah ini menunjukkan solidaritas Allah terhadap manusia.

3. Dalam diri Roh Kudus kita mengenal sabda animatif, Tuhan menginspirasi manusia untuk meneruskan karya penyelamatan

Mengakhiri perutusan-Nya di dunia, Yesus meneguhkan para murid dengan menjanjikan kedatangan Sang Penghibur (Yoh 14:26), yang meneguhkan untuk meneruskan pewartaan (Kis 2:1-41). 

Kehadiran Roh Kudus menandakan Allah menghargai proses pendewasaan iman umat-Nya (dapat bekerja sendiri tanpa kehadiran Yesus secara fisik, hanya membutuhkan seorang inspirator).

4. Mengenal Allah, mengalami kehadiran Putera dan menerima inspirasi Roh Kudus tidak akan menghasilkan apapun kalau manusia tidak mempunyai komitmen pelayanan

Manusia yang telah diperbaharui mengenal sabda profetis – Tuhan mendarmabaktikan diri dalam pelayanan kepada mereka yang membutuhkan. Pelayanan tidak hanya sekedar ungkapan kemanusiaan, tetapi penjabaran langsung cinta Allah kepada umat manusia. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). 

(Warta KPI TL No. 09/I/2005; Sumber: Sabda Tritunggal dan Jawaban Manusia, Berjalan Bersama Sang Sabda 2005).

Selasa, 27 Oktober 2015

Percakapan di Sorga Antara Bapa, Putera dan Roh Kudus

Pada suatu saat Bapa, Yesus dan Roh Kudus sedang rapat di sorga dengan agenda tunggalnya “perbuatan manusia pertama yang tidak menyenangkan - Adam dan Hawa yang melawan dan menolak undangan kemitraaan Allah”.


Rapat dibuka oleh Bapa. Bapa berkata: “Aku begitu sedih, apa yang harus Aku perbuat anak-Ku? Semua ciptaan yang Kuciptakan baik adanya menjadi rusak, manusia membatalkan seluruh rencana-Ku dengan mencari solusi-solusi lain, dia tidak datang kepada-Ku. Mereka tidak mau bermitra dengan-Ku, mereka lebih mendengarkan suara si jahat dari pada suara-Ku. Apa lagi yang harus Kuperbuat anak-Ku? 

Apakah Aku harus membatalkan rencana-Ku yang terbaik ini, atau ... menghentikan keinginan-Ku untuk bermitra dengan manusia. Aku rindu anak-anak-Ku hidup berkelimpahan susu dan madu/tidak mengalami penderitaan sakit penyakit apapun.” 

Lalu Yesus menjawab: “Bapa ... , jangan batalkan rencana-Mu, Aku akan mengusahakan agar rencana-Mu itu tetap berjalan. Aku mau bayar harganya buat mereka semua, Aku mau menanggung bukan hanya rasa sakit tapi rasa hina dari manusia yang paling hina. Aku akan turun ke bumi menjadi bagian dari manusia

Karena melalui Aku dan di dalam Aku, umat manusia akan menemukan contoh yang terbaik kemitraan Allah dengan manusia. Aku akan melakukan apa saja Bapa ... agar rencana yang terbaik dapat digenapi manusia. Jangan sampai Iblis bersuka cita karena rencana-Mu Kau batalkan.”

Lalu Roh Kudus pun menjawab: “Bapa ... , setelah selesai tugas-Ku di sini. Aku juga mau turun ke bumi dan tinggal bersama-sama manusia, agar mereka mampu menggenapi rencana-Mu. Agar rencana penciptaan-Mu yang terbaik buat dunia ini cepat selesai. 

Meskipun Aku tahu resikonya ... ‘Aku akan hidup kesepian di dalam hati manusia, karena mereka jarang mengajak-Ku bicara.’ Mereka selalu mengerjakan dengan caranya sendiri, tidak akan pernah bertanya pada-Ku karena kepandaian dan kekuatannya. Tapi kalau mereka sudah terantuk baru datang pada-Ku. Aku rela... Bapa.” 

(Sumber: Warta KPI TL No. 32/XII/2006 » Renungan KPI TL Tgl 8 November 2006, Dra Yovita Baskoro, MM).

Jumat, 31 Juli 2015

Dogma Allah Tritunggal



Tritunggal adalah satu. kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421).

Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat" (Sinode Toledo XI 675: DS 530).

"Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, substansi, hakikat, atau kodrat ilahi" (K. Lateran IV 1251: DS 804) (KGK 253).

Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah "seakan-akan sendirian" (Fides Damasi: DS 71).

"Bapa", "Putera", "Roh Kudus", bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: "Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera" (Sin. Toledo XI 675: DS 530.

Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah "Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan" (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal (KGK 254).

Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: "Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita" (Sin Toledo XI 675: DS 528).

Dalam mereka "segala-galanya ... satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan" (K. Firenze 1442: DS 1330).

"Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera" (ibid., DS 1331). (KGK 255).

Santo Gregorius dari Nasiansa, yang dinamakan juga "sang teolog", menyampaikan rumusan berikut tentang iman Tritunggal kepada katekumen Konstantinopel:

“Peliharalah terutama warisan yang baik ini, untuknya aku hidup dan berjuang, dengannya aku mau mati dan yang menyanggupkan aku memikul segala kemalangan dan menolak segala hiburan: ialah pengakuan iman akan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. 

Aku mempercayakan hari ini kepada kalian. Di dalam pengakuan itu aku akan mencelupkan kamu pada saat ini ke dalam air dan mengangkat kembali dari dalamnya.

Aku memberikan pengakuan ini kepada kalian sebagai pendamping dan pengawal seluruh kehidupan kalian.

Aku memberikan kepada kalian ke-Allah-an dan kekuasaan yang satu, yang sebagai satu berada dalam tiga dan mencakup Ketiga itu atas cara yang berbeda-beda.

Satu ke-Allah-an tanpa ketidaksamaan menurut substansi atau hakikat, tanpa derajat lebih tinggi yang meninggikan atau derajat lebih rendah yang merendahkan ... Itulah kesamaan hakikat yang tidak terbatas dari Ketiga yang tidak terbatas.

Allah seluruhnya, tiap-tiap dilihatnya dalam diri sendiri ... Allah sebagai yang tiga dilihat bersama-sama ... Baru saja aku mulai memikirkan kesatuan, muncullah sudah Tritunggal dalam kemegahan-Nya. Baru saja aku mulai memikirkan Tritunggal, langsung saya disilaukan kesatuan” (or. 40, 41) (KGK 256).

(Sumber: KGK 253-256)