Tampilkan postingan dengan label *Ajaran Sesat*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Ajaran Sesat*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2019

Daftar bidaah-bidaah dan janji Yesus kepada Gereja Katolik



Gereja Katolik melawan semua bidaah, dapat bertempur, tidak pernah terkalahkan. Semua bidaah keluar sebagai ranting yang tidak berguna, terpotong dari pokok anggur. Gereja Katolik tetap berakar, tumbuh dalam pokoknya, dalam cinta kasih (Indonesian Papist).

Sekalipun Gereja terdiri dari orang-orang pendosa dan orang-orang Kudus (Mat 5:13-16 ; 7:15-23 ; 10:1-4 ; 13:1-9,24-50 ; 26:69-75 ; Mrk 3:19 ; Luk 22:54-62 ; Yoh 6:70 ; Yoh 18:2-4), Allah berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18) dan Allah berjanji bahwa Dia akan menjaganya dari kesesatan (Yoh 16:13 ; 1 Tim 3:15). Allah memang teguh memegang janji-Nya. Sampai sekarang Gereja Katolik tetap konsisten pada ajaran-ajaran Kristus yang disampaikan melalui Gereja.

Allah menganugerahkan Magisterium yang terdiri dari Paus bersama Uskup-uskup yang bersatu dengan Paus bagi Gereja Katolik. Paus adalah suksesor / pengganti St. Petrus, sedangkan Uskup-uskup adalah suksesor Para Rasul.

Berikut ini adalah daftar dan penjelasan singkat bidaah-bidaah yang berusaha menguasai Gereja tapi gagal.

Docetisme (abad ke-1): Bidaah ini menolak kodrat manusia dari Yesus Kristus.

Gnostikisme (abad ke-1): Bidaah ini adalah percampuran antara Kekristenan, agama-agama timur dan filosofi Yunani. Menurut bidaah ini, pengetahuan keselamatan hanya diperuntukkan bagi yang terpilih saja. Semua materi adalah iblis dan spirit adalah baik. Perkawinan ditolak karena menghasilkan materi, yaitu anak-anak.

Gnostikisme Basilides (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan: 

a) Hanya beberapa orang yang boleh memiliki pengetahuan (gnosis) yang diperlukan untuk keselamatan. b) Hanya jiwa saja yang ditebus, sedangkan tubuh tetap korup. 

c) Penolakan bahwa Yesus yang disalib dan hanya menekankan bahwa Yesus satu-satunya yang diutus oleh Bapa.

Gnostikisme Valentinus (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa aeon Kristus sendiri bersatu dengan manusia Kristus untuk membawa pengetahuan rahasia bagi yang terpilih, kaum Gnostik. Pengetahuan rahasia ini digunakan saat pembebasan jiwa dari tubuh sehingga jiwa dapat memasuki alam spiritual setelah kematian.

Gnostikisme Ptolomeus (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Hukum-hukum Perjanjian Lama adalah produk dari Demiurgos (Pencipta dunia) yang bukan merupakan Allah tertinggi ataupun Iblis. Demiurgos tidak sempurna seperti Allah Tertinggi (Supreme God) bukan juga pencipta kesesatan seperti Iblis. Demiurgos ini diketahui sebagai pencipta dunia, pencipta materi yang memerangkap jiwa di dalam tubuh.

Marcionisme (abad ke-2): Bidaah ini menolak validitas / keabsahan Perjanjian Lama.

Montanisme (abad ke-2): Bidaah ini percaya akan kerajaan 1000 tahun (Millenarianisme) dan mengajarkan bahwa dosa berat (mortal sin) tidak dapat diampuni. Banyak dari kaum montanis menolak menikah karena kepercayaan akan imminent return of Christ.

Modalisme (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Bapa, Putera, dan Roh Kudus sederhananya adalah cara kehadiran dari 1 Pribadi Ilahi. Dengan kata lain, bidaah ini mengajarkan bahwa Allah itu Satu dan hanya memiliki Satu Pribadi sedangkan Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah cara kehadiran dari Allah yang satu itu.. Tentang Pengajaran Gereja Katolik mengenai Tritunggal dapat ditemukan di dalam Katekismus Gereja Katolik (silahkan klik link ini).

Monarkianisme (abad ke-2): Bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya adalah manusia saja yang pada suatu ketika (yaitu saat pembaptisan-Nya di Sungai Yordan) menerima daya ilahi (divine power)

Subordinasionisme (abad ke-2): Bidaah ini memandang Yesus sebagai yang tidak setara (not co-equal) dengan Bapa.

Sabelianisme (abad ke-3): Bidaah ini menolak pembedaan antara Pribadi Bapa dengan Pribadi Putera.

Patripassionisme (abad ke-3): Bidaah ini mengajarkan bahwa adalah Bapa, dengan kedok Putera, yang sesungguhnya menderita dan disalibkan.

Novasianisme (abad ke-3): Bidaah ini menyatakan bahwa pendosa berat tidak dapat diterima kembali ke dalam Gereja Katolik.

Manikeisme (abad ke-3): Bidaah ini mengajarkan adanya 2 sumber abadi yang setara yang hadir sebelum dunia tercipta; Yang baik dan yang jahat, satu spirit dan satu materi, satu cahaya dan satu kegelapan.

Arianisme (abad ke-4): Bidaah ini menolak keilahian Yesus Kristus dan Tritunggal Mahakudus. Arianisme ini dipandang sebagai bidaah terbesar yang pernah dihadapi Gereja Katolik. Tidak seperti Protestantisme yang muncul di Gereja Barat, Arianisme muncul baik di Gereja di Barat maupun Gereja di Timur dalam berbagai bentuk seperti Semi-Arianisme, Eunomianisme dan sebagainya.

Pneumatomakisme / Pembunuh Roh Kudus (Abad ke-4): Bidaah ini menolak keilahian Roh Kudus dan dengan demikian juga menolak Tritunggal Mahakudus.

Eunomianisme (Abad ke-4): Bidaah ini adalah bentuk radikal dari Arianisme yang menolak keilahian Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Donatisme (abad ke-4): Donatisme mengajarkan bahwa pendosa berat (mortal sinner) tidak dapat diterima kembali ke dalam Gereja Katolik dan sakramen yang diberikan oleh kaum tertahbis yang berada dalam keadaan berdosa berat merupakan sakramen yang tidak sah.

Priskilianisme (abad ke-4): Bidaah ini merupakan percampuran Manikeisme, Docetisme, dan Modalisme. Bidaah ini menolak preeksistensi Allah Putera sebelum segala abad dan menolak kemanusiaan Allah Putera.

Monofisitisme (abad ke-5): Bidaah ini mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat yaitu yang Ilahi saja. Menurut bidaah ini, kodrat manusia Yesus telah diserap hingga hilang oleh kodrat Ilahi-Nya.

Nestorianisme (abad ke-5): Bidaah ini mengajarkan bahwa Pribadi manusia Yesus dan Pribadi Allah Putera adalah dua pribadi yang berbeda yang bersatu di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua Pribadi dengan dua kodrat. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah satu Pribadi dengan dua kodrat, Allah dan Manusia. Bidaah ini juga menolak gelar Bunda Allah terhadap Bunda Maria. Bidaah ini mengajarkan bahwa Maria hanya melahirkan manusia Yesus sebagai Temple of God the Son, sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus bukan sebagai Temple of God the Son melainkan adalah sungguh-sungguh Allah yang mengambil kodrat manusia (ber-inkarnasi) tanpa kehilangan kodrat Ilahi-Nya. Dengan kata lain, Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus yang adalah sungguh-sungguh Allah sungguh-sungguh manusia, bukan sekadar Temple of God the Son. Bidaah Nestorianisme adalah serangan terhadap ajaran Gereja Katolik akan Inkarnasi Sang Allah Putera.

Pelagianisme (abad ke-5): Bidaah ini menolak eksistensi dosa asal (original sin). Bidaah ini juga mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan keselamatan dengan perbuatan-perbuatan tanpa rahmat atau Gereja.

Tradusianisme (abad ke-5): Bidaah ini memandang jiwa manusia tidak diciptakan oleh Allah secara langsung melainkan berasal dari orang tuanya dengan cara yang sama seperti tubuh manusia.

Monotelitisme (abad ke-7): Bidaah ini mengajarkan bahwa Yesus hanya memiliki satu kehendak yaitu kehendak Ilahi saja, sedangkan kehendak manusianya tidak ada.

Paulisianisme (abad ke-7): Bidaah ini menolak eksistensi hierarki Gereja, sakramen Baptis, sakramen Ekaristi dan sakramen Perkawinan. Bidaah ini juga menolak Perjanjian Lama dan beberapa bagian Perjanjian Baru.

Ikonoklasme (abad ke-8 dan ke-9): Bidaah ini menolak penggunaan ikon-ikon dan mengatakan penggunaan ikon tersebut sebagai penyembahan berhala.

Albigensianisme (abad ke-11): Bidaah ini menolak otoritas Gereja, sakramen-sakramen Gereja dan kuasa pemerintah sipil untuk menghukum kriminil-kriminil. Bidaah ini memandang materi sebagai yang jahat. Bidaah ini juga mengajarkan bunuh diri sebagai cara terbaik untuk membebaskan diri dari tubuh yang jahat.

Katarianisme (abad ke-11): Bidaah ini menolak pembaptisan dan perkawinan. Mereka memandang tubuh dan materi sebagai yang jahat.

Waldesianisme (abad ke-11): Bidaah ini mempertanyakan sejumlah sakramen-sakramen Gereja. Mereka menolak validitas sakramen-sakramen yang diberikan oleh pelayan sakramen yang tidak layak. Bidaah ini juga menolak api penyucian dan devosi kepada orang-orang Kudus.

Lollardisme (abad ke-14): Bidaah ini menolak dogma Transubstansiasi (Perubahan Substansi) dengan mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekarisi adalah kehadiran spiritual bukan kehadiran nyata. Sedangkan Gereja Katolik dengan tegas mengajarkan bahwa kehadiran Yesus dalam Ekaristi adalah Kehadiran Nyata, substansi roti dan anggur berubah menjadi sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus ketika konsekrasi. Bidaah ini juga menolak peran Imam sebagai perantara sekunder (secondary mediator) kepada Kristus.

Hussitisme (abad ke-15): Hussitisme menolak Sakramen Pertobatan, Komuni satu rupa dan penghukuman terhadap pelecehan indulgensi.

Protestantisme (abad ke-16): Protestantisme memiliki banyak denominasi sehingga sulit mendeskripsikan keseluruhan sistem kepercayaan mereka secara akurat. Sebagai contoh ada denominasi Protestan yang menerima ajaran mengenai Tritunggal Mahakudus, ada juga yang tidak menerima seperti denominasi Oneness Pentecostal. Lalu, mayoritas denominasi Protestan menerima ajaran akan keilahian Kristus, tetapi ada denominasi Protestan yang menolaknya seperti Christaldelphian. Oleh karena itu, pada bagian ini hanya diterangkan kepercayaan-kepercayaan essensial (essential beliefs) dari Protestantisme pada masa Reformasi Protestan.

1) Pembenaran oleh iman saja, Sola Fide.
2) Kitab Suci adalah satu-satunya aturan Iman, Sola Scriptura.
3) Dosa asal merusak sepenuhnya kodrat manusia.
4) Hanya Pembaptisan dan Perjamuan Kudus yang merupakan sakramen.
5) Penolakan terhadap Dogma Transubstansiasi.
6) Paus dan Uskup-uskup tidak dibutuhkan
7) Penolakan terhadap sebagian peran Bunda Maria dalam Gereja. 
8) Penolakan terhadap indulgensi.

Gallikanisme (abad ke-17): Bidaah ini mengajarkan bahwa gereja lokal adalah otonom dan tidak bertanggung jawab terhadap Paus.

Jansenisme (abad ke-17): Bidaah ini mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, bahwa Kristus tidak mati untuk semua orang, kemanusiaan Kristus terlalu ditekankan dan hanya yang paling kudus yang boleh menerima Ekaristi.

Febronianisme (abad ke-18): Bidaah ini mengajarkan bahwa negara, dengan dibimbing oleh Kitab Suci dan ketaatan terhadap konsili-konsili ekumenis, berhak menentukan keputusan-keputusan Gereja. Paus tidak dapat ikut campur dalam urusan negara.

Amerikanisme (abad ke-19): Bidaah ini mengajarkan bahwa ada kompatibilitas unik antara Katolisisme dan nilai-nilai Amerikan. Bidaah ini mengajarkan juga bahwa Amerika Serikat memiliki peran penting dalam membimbing Gereja Universal ke dalam era modern dan secara khusus ke dalam berbagai isu-isu sosial kontemporer.

Modernisme (abad ke-20): Modernisme dalam bentuk ekstrim menolak keilahian Kristus, kesucian Kitab Suci, dan kekudusan Gereja. Bidaah ini juga mengajarkan bahwa doktrin-doktrin iman dapat berubah seturut perkembangan zaman, dengan kata lain menolak karunia pengajaran-pengajaran tidak dapat sesat yang dianugerahkan Kristus kepada Gereja.

Kekristenan Sekuler (abad ke-20 dan ke-21): Kekristenan Sekuler (Secular Christianity) berhubungan dengan Modernisme dan merupakan sebuah hasil dari Modernisme. Bidaah ini berusaha mencetak dan mengubah Kekristenan berdasarkan kebudayaan modern dan nilai-nilai sekuler.

(Sumber: https://www.indonesianpapist.com/2011/06/daftar-bidaah-bidaah-dan-janji-yesus.html, diterjemahkan dari Ecce Fides Chapter II karya Pater John J. Pasquini).

Senin, 10 April 2017

Bidaah

Heresy (bahasa Yunani - pilihan). Dalam PB berarti kelompok sektarian (Kis 5:17), yaitu kelompok atau pendapat yang memisahkan diri (1 Kor 11:19; Gal 5:520; 2 Ptr 2:1).

Selanjutnya bidaah berarti menyangkal kebenaran atau meragukan dengan tegas suatu kebenaran yang seharusnya harus diimani sesudah penerimaan sakramen baptis (KHK 751; 1364; KGK 2089).

Kadang-kadang tantangan bidaah mendorong Gereja untuk secara resmi menegaskan ajarannya.

(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ, Edward G.. Farrugia, SJ) 



Rabu, 01 Maret 2017

Hati-hati dengan kepalsuan



Ke mana ke mana ke mana kuharus mencari … Di mana di mana di mana … yang kutemui … alamat palsu …


Di zaman sekarang ini ada banyak kepalsuan, segala hal dipalsu.



Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu. Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul … akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizatmenyesatkan orang-orang pilihan juga (Mat 24:23-26; 1 Yoh 4:1)

Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! (Mat 24:4). Karena ada para nabi yang mencuri firman-Nya, mereka memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi, mereka hanya memberi harapan yang sia-sia, menubuatkan penglihatan bohong, ramalan kosong, dusta dan menyesatkan, tipu rekaan hatinya sendiri

Karena kurangnya kepekaan rohani dan ketidakmampuan menguji roh-roh maka ada banyak anak-anak Tuhan yang tanpa sadar menyukai ajaran palsu tersebut, sehingga mereka lebih menyukai Teologi Sukses daripada Teologi Salib. 

Kata mereka: “Katakanlah kepada kami hal-hal yang manis.” (Yer 23:30; 5:31; Rat 2:14; Yer 14:14; 23:16; Yes 30:10). 

Nabi-nabi palsu ini melakukan tipu hanya untuk mencari keuntungan materi (Yer 8:10; Mi 3:11)

Kepalsuan selalu hadir berdampingan dengan kebenaran. Misalnya: saudara-saudara palsu (2 Kor 11:26), Injil palsu (Gal 1:8), tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu (Mat 24:24), kebenaran palsu (Rm 10:3), gereja palsu (Why 2:9), kristus palsu (2 Tes 2:8-10).

Untuk mengetahui kepalsuan ini tidak mudah. Karena Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Pelayan-pelayannya juga menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran (2 Kor 11:14-15). 

Oleh karena itu renungkanlah firman Tuhan siang dan malam, sehingga kita bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalanan kita akan berhasil dan beruntung (Yos 1:8).

Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (Rm 1:16-17).

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa perkataan itu tidak difirmankan Tuhan? Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan Tuhan (Ul 18:21-22). 

Waspadalah terhadap nabi-nabi yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (Mat 7:15).

Bagaimana kita mengetahui bahwa mujizat itu palsu atau tidak? Kita harus menguji dari buahnya. Jika mujizat itu berasal dari Allah, maka akan menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat 3:8) dan buah Roh (Gal 5:22-23 – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri).

Iman adalah bahan utama dalam setiap mujizat yang dikerjakan Allah (Rm 10:17; Ibr 11:1; 1 Yoh 5:14)

Iman yang sejati hanya dapat dibangun di atas landasan firman Tuhan. Pengalaman Allah yang sejati adalah pengalaman dengan kuasa pembebasan dari dosa


Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yoh 8:31-32).

Jadi, orang Kristen yang mengenal Allah adalah orang Kristen yang mengalami kebenaran firman yang membebaskan.


(Sumber: Warta KPI TL No.117/I/2014 » Renungan KPI TL Tgl 16 Mei 2013, Rm Hudiono, Pr).

Kamis, 03 Maret 2016

Arianisme

Arianisme adalah bidaah/heresi yang sangat berbahaya, di awal abad ke-4 (319) karena mengajarkan ajaran sesat dalam hal Trinitas dan Kristologis.

Bidaah ini diajarkan oleh Arius, seorang imam dari Alexandria, yang ingin menyederhanakan misteri Trinitas. 

Ia tidak bisa menerima bahwa Kristus Sang Putera Allah berasal dari Allah Bapa, namun sehakekat dengan Bapa. Maka Arius mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa maka mestinya Ia adalah seorang ciptaan biasa, namun ciptaan yang paling tinggi. 

Arius tidak memahami bahwa di dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.

Berikut ini adalah ringkasan ajaran sesat/heresi Arianisme:

- Kristus Sang Putera tidak sama-sama kekal (tak berawal dan berakhir) dengan Bapa, melainkan mempunyai sebuah awal. 
- Kristus Sang Putera tidak sehakekat dengan Allah Bapa. 
- Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia dari pada Kristus Sang Putera. 
- Kristus Sang Putera adalah seorang ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super-archangel) yang tidak sehakekat dengan Allah Bapa. 
- Tuhan bukan Trinitas secara kodratnya. 
- Kristus Putera Allah bukan Putera Allah secara kodrati, tetapi Putera angkat. 
- Kristus Putera Allah diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa. 
- Kristus Putera Allah tidak tanpa cela, tetapi dapat secara kodrati berubah/ berdosa. 
- Kristus Putera Allah tidak dapat memahami Allah Bapa. 
- Jiwa dari Kristus Putera Allah yang sudah ada sebelumnya (dari super archangel tersebut) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus. 

Maka menurut Arius, Kristus adalah bukan sungguh-sungguh Allah, namun juga bukan sungguh-sungguh manusia (sebab jiwanya bukan jiwa manusia).

Sebagai dasarnya Arius mengambil ayat Yoh 1:14, “Firman itu menjadi manusia/ “the Word was made flesh”, dan ia berkesimpulan bahwa Firman itu hanya menjelma menjadi daging saja tetapi tidak jiwanya. Prinsip ini kemudian juga diikuti oleh Apollinaris (300-390).

Ajaran sesat ini diluruskan melalui Konsili Nicea (325) yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal. 

Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” 

Pada waktu penanda-tanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri.

Konsili Nicea ini sering disalah mengerti oleh umat non-Kristen, sebab mereka menyangka bahwa baru pada tahun 325 Yesus dinobatkan sebagai Tuhan. 

Ini salah besar, sebab pernyataan Kristus sehakekat dengan Allah tersebut dibuat untuk meluruskan ajaran sesat Arianism dan untuk menegaskan kembali iman Gereja yang berasal dari pengajaran para rasul. 

Maka kita mengenal pernyataan itu sebagai “Syahadat Para Rasul”, karena dalam syahadat tersebut tercantum pokok-pokok iman yang diajarkan oleh para rasul.

Perjuangan melawan bidaah Arianism kemudian dilanjutkan oleh St. Athanasius (296-373). Ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah bahwa kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan ... Ini bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. 

“Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.”[1]

Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai bidaah/heresi Arianism. Bidaah ini tidak menyebutkan secara khusus tentang Roh Kudus dan menghubungkannya dengan malaikat Gabriel/ Jibril. 

Namun melalui sejarah kita mengetahui bahwa sudah sejak abad awal ada orang-orang yang berusaha menyederhanakan konsep Trinitas, dan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus.

Dengan mempelajari sejarah Gereja, kita mengetahui betapa pentingnya peran Paus dan para uskup untuk mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab dan para rasul, yang memang sering disalah-artikan oleh interpretasi pribadi orang-orang tertentu. 

Semoga kita semua dapat mempunyai kerendahan hati untuk menerima pengajaran dari para penerus rasul dalam Magisterium Gereja Katolik, dan dengan demikian menerima kemurnian pengajaran Alkitab sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.

(Sumber: Tanya Jawab Tentang Ajaran sesat Arianisme, katolisitas.org).

Anathema

Anathema’ artinya menyatakan bahwa seseorang/sejumlah orang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang tersebut, sebagai orang-orang di luar Gereja.

Minggu, 07 Februari 2016

Skisma

Schism (bahasa Yunani 'perpecahan'). pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang bermusuhan ?(Yoh 7:43; 1 Kor 1:10; 11:18; 12:25). Dalam PL, terjadi perpecahan antara kerajaan Utara dan Selatan sesudah kematian Salomo (931 SM).


Perpecahan yang terjadi dalam Gereja selalu merugikan kehidupan dan kesatuan Gereja itu.

Bidaah dan skisma tidak selalu dapat dibedakan dengan jelas, tetapi dapat dikatakan demikian: bidaah yang sesungguhnya berarti berdosa melawan iman dengan sadar menolak kebenaran-kebenaran yang diwahyukan sedangkan skisma berdosa melawan cinta dengan memecahkan persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang lain.

Skisma tidak pertama-tama disebabkan oleh masalah-masalah dokrinal melainkan oleh perbedaan paham mengenai kekuasaan dan tata-susunan Gereja.

Skisma (schisma) : menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya (KGK 2089/KHK 751).

Skisma yang paling besar dalam Kristianitas  adalah pisahnya Katolik di Barat dan Ortodoks di Timur. Meskipun secara resmi dikatakan terjadi pada tahun 1054, skisma ini dari satu pihak sudah didahului oleh berbagai macam ketegangan sebelumnya, dan dari pihak lain belum dirasakan oleh semua orang Kristiani dan berbagai tingkatan sampai lama sesudah itu.

Meskipun rekonsiliasi antara Roma dan Konstantinopel sudah terjadi pada akhir Konsili Vatikan II, skisma ini belum sepenuhnya sembuh sampai hari ini.

Vatikan II mengakui adanya perpecahan dan pemisahan (UR 3; 13), tetapi tidak pernah memakai istilah "skisma" ataupun "skismatik", juga tidak pernah berbicara mengenai bidaah dalam hal ini.

(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ; Edward G.Farrugia, SJ)

Rabu, 18 November 2015

Rahasia “The Secret”

Seringkali orang pindah agama karena bagi dia agama yang lama tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan primer, sedangkan keyakinan barunya ternyata membuahkan kekayaan dan kesehatan baginya. 

- Tuhan tidak menjawab doa-doaku di sini. Namun, di sana saya menemukannya.

- Untuk apa saya mengabdi pada Tuhan yang tidak menjawab doa-doaku.

- Sejak bergabung dengan kelompok ini, bisnis saya lancar.

- Saya mohon kesembuhan di Gereja saya, tetapi tidak sembuh-sembuh. Begitu saya mencoba menjalankan apa yang diajarkan kelompok itu, berangsur-angsur saya sembuh. Itulah kebenaran.

Jika dalam benak saudara hanya ada semangat seperti di atas, sangat mungkin The Secret akan menarik hati saudara. The Secret menjanjikan kepastian, sepasti hukum gravitasi, akan memberikan segala sesuatu yang diinginkan: kebahagiaan, kesehatan dan kekayaan.

Apa itu The Secret? Rahasia apa yang dimaksud? DVD atau buku itu menjawab: Hukum tarik menarik! 

Di balik frasa tersebut ada beberapa kata atau frasa kunci: visualisasi, penciptaan, frekkuensi, harapan dan berpikir positif.

Inti dari hukum tarik menarik sebenarnya ialah kekuatan berpikir, berpikir secara positif

Manusia digambarkan sebagai magnet yang amat kuat. Setiap getaran pikiran kita menarik alam semesta ke arah kita. semakin sering dan kuat getaran yang dikirimkan pikiran kita, semakin besar pula daya tarik yang dihasilkan

Apa yang bisa ditarik? Menurut The Secret, apa saja. Tidak terbatas. Misalnya: rumah, kekayaan, pacar, pasangan hidup, uang sebesar berapa pun, ketenaran, kesembuhan, kesehatan, pencapaian fenomenal, tubuh yang ideal, menang lotre, bahkan hal-hal yang kecil-kecil, seperti: tempat duduk yang baik dalam acara konser, perjalanan yang bebas dari kemacetan, tempat parkir di mal yang ramai saat akhir minggu dll.

Sekilas ajaran dalam The Secret tampak amat simpatik, dibeberapa tempat ia mengutip Injil dan selalu mengucap syukur. 

Para tokoh dalam The Secret menyajikan di hadapan mata kita apa yang bisa kita miliki asalkan kita mau mengikuti nasehat-nasehat mereka. 

Namun kita harus tahu bahwa apa yang diajarkan di dalamnya amat bertentangan dengan iman dan moralitas kristiani.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat 16:26)

Ajaran The Secret:

- Tidak pernah menyebut kata Allah. Ucapan syukur diarahkan kepada Semesta, bukan sebagai suatu Pribadi, melainkan alam semesta yang tidak punya akal budi dan kehendak sendiri. 

- Semesta digambarkan sebagai jin lampu Aladin. Ia siap melaksanakan apa pun yang diperintahkan sebagai pemilik lampu. 

Perintah di sini ialah pancaran pikiran manusia ke dalam alam semesta. Apa pun yang ia pikirkan akan ditarik kepadanya. Hukum ini pasti.

- Para tokoh dalam The Secret tidak pernah takut apa pun, termasuk Tuhan. Mereka adalah tuhan bagi mereka sendiri

Inilah kesombongan besar yang merasuk dalam diri orang zaman ini. Mereka menjadi standard moral mereka sendiri. Tidak ada otoritas yang bisa menyalahkan ataupun membenarkan mereka.

Misalnya: Ada seorang produser film terkenal yang ingin memacari tiga perempuan berbeda dalam satu minggu. Ketika ia berhasil, hal tersebut dianggap suatu prestasi.

- Semangat dasar The Secret tampak mengacu pada kesuksesan duniawi (material) dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan: kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan. 

Tawaran-tawaran ini sejalan dengan Iblis ketika ia menggoda Yesus dengan menawarkan segala kekayaan dunia. Apabila diikuti, resikonya kita akan kehilangan jiwa kita dalam kebinasaan kekal.

Pandangan The Secret jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Gereja ajarkan 

- Tentang Allah, dalam Kredo kita menyatakan kepercayaan kita kepada Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mereka adalah Satu Allah dalam Tiga Pribadi. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya.

- Bagi Kristus, yang harus menjadi perhatian utama ialah harta surgawi.

Kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan ... Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan ... (Kis 3:17,19).

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; Rahasia “The Secret”, HDR Maret-April 2008 Tahun XII).

Senin, 26 Oktober 2015

New Age

New Age adalah suatu gerakan zaman baru - kelompok baru yang di Indonesia belum dikenal banyak orang tetapi sudah punya gedung di Jakarta – “The New Bulding” depan Gereja Santa Theresia - jaringan ini sangat besar tetapi tidak berbadan hukum.

Pada tahun 1960 ada kelompok “The Light Group” peramal-peramal berkumpul di Inggris membahas masalah unik, mistik, langka, teknologi, agama, juruselamat dunia tetapi bukan Yesus Kristus. 

- Dunia kacau balau karena agama besar yang tidak bisa rukun - tanggung jawab 5 agama besar. Oleh karena itu mereka mengatakan “seharusnya agama tidak membawa identitas masing-masing, harus melepaskan baju masing-masing, harus melihat ke dalam inti agama yaitu spiritual”. 

Lalu mereka mulai mendalami spiritual dengan mengadopsi Hindu/Budha/Khonghucu melalui yoga, puasa, meditasi – akan menimbulkan kekuatan. 

Akhirnya gerakan spiritual ini masuk kemana-mana seperti olah raga, salon kecantikan spa, pengobatan alternatif yang disertai mantra-mantra. 

- Dunia rusak karena teknologi yang kurang memanusiakan manusia - tanggung jawab teknograf.

- Gerakan New Age ini berkembang dipengaruhi horoskop, ramalan nasib, dsbnya lalu berkembang mempengaruhi banyak orang. 

Berhati-hatilah, ancaman ada di mana-mana!

Apa hubungan New Age dengan kedatangan Yesus ke dua kali?

Permulaan penderitaan menjelang akhir zaman: bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan, akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat 24:1-7). 

Sesudah siksaan ..., matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang ... semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia (Yesus) itu datang dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (Mat 24:29-30).

- Ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan (Why 6:2). 

Ada sebuah gerakan/kekuatan seperti kekuatan rohani/spiritual yang melanda dunia, ada yang menunggangi yang membawa senjata, bertarung untuk memperebutkan kemenangan – tanda-tanda Yesus datang ke dua kali. Ini adalah sebuah perjalanan proses yang tidak mendadak terjadi, untuk hadirnya penunggang antikris.

Yang terjadi di Eropa sekarang - sudah tidak beriman lagi pada Kristus. Karena Eropa sudah dinubuatkan akan menjadi kerajaan antikris.

Antikris yang dilambangkan sebagai binatang, “binatang itu telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul lagi (Why 17:8).

Jika binatang yang aneh ini ditelusuri berasal dari:

Why 12:3-4 - ditulis pada zaman Israel dijajah Romawi – mengarah pada bangkitnya kerajaan Romawi yang berkembang ke Eropa dan Amerika.

Daniel 7:7 - ditulis pada zaman Israel dijajah Babel.

Gaya bahasa yang digunakan dalam Wahyu adalah “Literatur Apocalyptic” - penggunaan simbol-simbol – gaya bahasa yang dikenal baik dan dimengerti baik oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang awam pada abad pertama zaman gereja sampai sekarang. 

Kesulitan kita dalam mengerti kitab ini karena kita kurang mengenal literatur apocalyptic sebagai suatu metode dalam penyampaian suatu pesan.

Pada tahun 1975 David’s Pangler (Amerika), melihat di Eropa ada gerakan spiritual yang mengajar orang kebatinan (membersihkan diri – satu orang bersih - satu komunitas juga bersih, maka dunia akan bersih). Maka mereka mengadopsi teori tersebut.

Gereja sudah melakukan antisipasi dengan “membimbing umat untuk menghayati Mistik Kristiani – Yesus” dan “melatih mengalami sendiri hidup dalam Roh Kudus” agar umat tidak mengalami salah langkah, sehingga dapat pulang ke rumah Bapa. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 30/X/2006; Renungan KPI TL tgl 31 Agustus 2006, Dr. P. Y. Kusuma T. SpOG K).

Polemik Injil Yudas

Salah satu patokan penetapan kanon ialah ketuaan dokumen dan status pengarangnya. Hampir semua kitab yang kini masuk kanon selesai ditulis pada abad pertama dan dipakai secara publik dalam liturgi sejak sangat dini.

Kitab yang diduga paling muda, mungkin tahun penulisannya tidak bakalan lebih dari tahun 110 atau 115. Dengan demikian, patokan ketuaan yang dipakai ialah sampai batas tahun itu. 

Maka, semua tulisan sesudah itu, walau sangat bermutu, tetap tidak masuk kanon. Hal ini ada kaitannya dengan faktor kedekatan historis dengan pokok dan tokoh iman Kristen, Yesus Kristus. Diperkirakan bahwa para saksi iman apostolik, yaitu para murid Yesus dan murid-murid dari para murid itu, paling lama bertahan hingga sampai tahun 110.

Yang lolos masuk kanon adalah kitab-kitab yang dewasa ini kita miliki dan ada dalam Alkitab, sedangkan yang tidak lolos masuk kanon ada cukup banyak. Salah satu kitab yang tidak masuk kanon ialah Injil Yudas (tidak ada dalam The Other Bible).

Sudah sejak dini, ajaran Gnostik menyelinap ke kalangan Kristen dan amat berpengaruh di sana. Mereka beranggapan bahwa orang bisa mencapai keselamatan melaluipengetahuan khusus” akan keselamatan.

Pengetahuan itu menjadi kunci untuk melewati gerbang pengujian. Barang siapa memiliki password itu, baginya akan terbentang ruang virtual shalom. Kira-kira hal itu seperti ketika orang surf ke dunia maya di internet. Orang perlu password dan tanpanya orang tidak bisa ke sana.

Ajaran keselamatan Gnostik bertentangan paham alkitabiah bahwa Allah menghendaki “semua” orang selamat, bukan hanya segelintir orang saja.

Salah satu perbedaan utama antara keyakinan gnostik dan kristiani terletak pada keyakinan akan asal-usul kejahatan di dunia ini.

Orang Kristen meyakini bahwa Allah telah menciptakan suatu dunia yang baik dan bahwa melalui penyelewengan manusia atas kehendak bebasnya, dosa dan pelanggaran masuk ke dalam dunia, menyebabkan kekacauan dan penderitaan. 

Kaum Gnostik mempersalahkan Allah atas kejahatan di dunia dan mengklaim bahwa Allah telah menciptakan kekacauan dan cacat cela di dunia ini. 

Karena itu mereka mendukung pemulihan nama baik beberapa tokoh Perjanjian Lama, seperti Kain dan Esau. Yudas juga mau dipulihkan nama baiknya, karena menurut mereka “Yudas memang disuruh oleh Yesus untuk melakukan hal itu – tubuh Yesus yang fana harus mati guna membebaskan roh-Nya yang “terpenjara” oleh tubuh itu agar karya penebusan itu terlaksana”. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 30/X/2006; Polemik Injil Yudas, Wacana Biblika Vol 6, No. 3, Juli-September 2006).

Sabtu, 24 Oktober 2015

Injil Barnabas

Mendengar kata Injil, orang mendapat kesan bahwa “Injil” itu sesuatu yang bersifat rohani, yang suci, yang benar dan yang datang dari Tuhan, yang kita sembah. Tetapi terhadap satu injil ini, kita harus mengetahui dan mewaspadai karena adalah “Injil palsu”.

Injil (kabar baik tentang lawatan cinta kasih Allah dalam diri Kristus) itu pertama-tama diwartakan oleh Yesus (Mrk 1:15), kemudian diteruskan secara lisan pula oleh para murid-muridNya. 

Demi terjaganya pesan Ilahi itu dan untuk kebutuhan Gereja maka warta lisan itu mulai dibukukan di bawah inspirasi Roh Kudus, hingga kitab itu sampai kepada umat Kristiani sekarang. 

Oleh sebab itu Injil bukanlah pertama-tama sebuah kitab, melainkan “cetusan iman” umat kristiani perdana karena pengalaman impiriknya dengan Kristus yang telah bangkit itu.

Pada tahun 1709 dunia Kristen digemparkan oleh berita adanya injil aneh yaitu Injil Barnabas dalam bahasa Itali yang ditemukan oleh seorang Penasehat Raja Prusia bernama Cremer. Saat ini Injil tersebut disimpan di Museum Di Wina Austria. Mengapa aneh? Karena isinya sangat berbeda dengan Injil yang sudah dibakukan sejak tahun 325.

Maka dilaksanakan penyelidikan dengan seksama – ternyata kertas yang dipakai adalah kertas yang lazim dipakai orang antara abad XIV dan XVI – zaman Paus Sixtus ke V pada tahun 1585-1590; penulisnya seorang Arab beragama Islam berdomisili di Spanyol bernama Mustafa de Arande dengan nama samaran Fra Marino.

Untuk meyakinkan pihak Kristen tentang kebenaran Islam, tidaklah menguntungkan memakai titik tolak “injil” palsu Barnabas sebagai dakwah anti-Kristen, karena banyak bertentangan dengan Agama Islam yang mencoba membelanya (Rahnip M. BA, 1984:307). Untuk memelihara kerukunan dan kesatuan bangsa dan negara, jangan kita mudah terprovokasi setiap pihak yang mencoba mengail di air keruh. Kiranya penganjur injil ini membaca untuk mencari nilai kebenarannya. 

Mengenai injil-injil apokrif yang jumlahnya banyak sekali (sebagian kutipan dari daftar ke - 60 dari Dekrit Pseudo-Gelasius I (James, 1955:23), antara lain: History of James (Riwayat Yakobus); Apocalypse of Peter (Wahyu kepada Petrus); Travels and Teachings of the Apostles, The Apocryphal Acts in general (Perjalanan hidup dan pengajaran para Rasul: buku-buku kisah Apokrif umum); Epistles of Barnabas (Surat Barnabas); Acts of Paul (Kisah Paulus); Apocalypse of Paul (Wahyu kepada Paulus); Teaching (Didascalia)of Clement, Apostolic Constitution (Pengajaran Clement, Konstitusi Rasuli); Teaching of Ignatius (Pengajaran Ignatius); Teaching of Polycarp (Pengajaran Policarpus); Gospel according of Barnabas (Injil Barnabas); Gospel according of Matthias (Injil Matias).

Injil Barnabas dan Injil Matias tak pernah ada bukti-bukti “injil” Itali ini pernah dikutip oleh bapak-bapak gereja atau oleh para bidaah yang dikutuk gereja sekalipun.

Memang banyak tradisi lisan yang beredar sebagai ucapan-ucapan Barnabas dan sekarang terpelihara dalam beberapa tulisan, tetapi ucapan-ucapan tradisi itu tidak terdapat dalam Injil Barnabas. Dari gereja purba, baik tradisi lisan apalagi tertulis, tidak pernah ditemukan satu ayat pun atau sebagian dari Injil Barnabas. 

Surat Barnabas (memuat pengakuan terhadap tulisan kanonik, Injil Matius, Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan 2 Petrus, serta memuat semacam interpretasi buku-buku kanonik secara ikhtisar – menasehatkan supaya orang Kristen jangan sampai kembali kepada agama Yahudi) yang memiliki cukup wibawa sama sekali tidak mendukung Injil Barnabas.

Isi Injil Barnabas sangat bertentangan dengan Injil sesungguhnya, antara lain:

- Bahasa pengajaran injil ini sangat berlainan dengan bahasa injil-injil Kanonik (bahasa Aramia-lama/Yunani).

- Mengutip Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dari perjemahan Latin, acap kali dicampur adukkan dengan cerita-cerita pada abad pertengahan, filsafat scholastik, memperkenalkan kutipan-kutipan dari Quran, Hadis dan tradisi-tradisi Islam yang berkembang belakangan.

- Sangat menekankan hukum Taurat.

- Pauluslah biang dari penyelewengan agama kristen dari pengajaran Yesus aslinya/banyak menyesatkan dengan dogma durhakanya.

- Seolah-olah Rasul Paulus berpisah dengan Barnabas karena perbedaan theologis dan doktriner. 

- Penonjolan peranan Ismail menggantikan Ishak dalam tradisi Yahudi Kristen (pasal 19, 22, 192) dll.

(Sumber: Warta KPI TL No. 25/V/2006; Telaah Kritis Atas Injil Barnabas, Bambang Noorsena, SH.).

Dusta Da Vinci Code



Didukung oleh suatu pengiklanan yang hebat buku “The Da Vinci Code, karangan Dan Brown” telah menjadi best-seller dan telah terjual hampir 6 juta eksemplar dalam waktu satu tahun lebih sedikit. Mengapa? 

Buku itu mengandung unsur-unsur yang menarik bagi banyak pembaca: ketegangan, rahasia, teka-teki, roman dan suatu sugesti bahwa dunia ini tidak seperti yang tampak sekarang ini dan bahwa di balik sana ada kebenaran yang berusaha ditutup-tutupi oleh kekuasaan Gereja yang ada sekarang ini.

Pada mulanya umat manusia, selama beberapa milenia, menghayati suatu spiritualitas yang memiliki keseimbangan antara yang maskulin dan feminin, yaitu orang menghormati para dewi dan kuasa wanita. Inilah pesan Yesus. 

Untuk itu Ia mengambil Maria Magdalena sebagai istri serta mempercayakan kepadanya kepemimpinan gerakannya itu. Maria mengandung anak mereka ketika Yesus disalibkan. Yesus bukan Allah, tetapi manusia biasa.

Petrus, karena iri hati terhadap peran Maria Magdalena, mengumpulkan kelompok lain yang berada di sekitar Yesus dengan tujuan untuk menghambat dan mengganti ajaran Yesus yang sejati dengan ajarannya sendiri, memalsukan Injil Yesus, sehingga Injil seperti yang kita kenal itu adalah rekaan Petrus dan kelompoknya, mendongkel Maria Magdalena dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin kelompok itu. Maria Magdalena, karena kalah dari Petrus, terpaksa melarikan diri ke Perancis, di mana dia akhirnya mati.

Buku Da Vinci Code itu bukan hanya sekedar sebuah novel, melainkan sangat tendensius, yaitu ingin menyebarluaskan suatu ajaran sesat tentang kristianisme, bahkan tentang Yesus sendiri

Lewat tokoh-tokoh fiktifnya sesungguhnya Brown mau menyatakan, bahwa seluruh sejarah kristiani, sesungguhnya adalah suatu pemalsuan belaka, yang ditulis oleh orang-orang yang bertekad mau menghilangkan “pesan asli” Yesus sendiri.

Para pembaca yang tidak memiliki iman yang teguh atau memiliki latar belakang tentang sejarah Gereja akan mudah terkecoh oleh klaim-klaim yang bergaya ilmiah.

Marilah kita lihat kebenarannya:

Sejak semula umat Kristen (Gereja Katolik) telah mengakui, bahwa Yesus dari Nasaret itu adalah Allah dan manusia sekaligus. Untuk memberikan kesaksian itu tidak terbilang jumlah para martir yang merelakan diri untuk mati dibunuh demi kesaksian itu, bukan dengan kepahitan, tetapi dengan gembira. 

Dalam seluruh tradisi Kristen tidak pernah sekalipun disebut, bahwa Yesus itu pernah menikah, sebaliknya Dia hidup selibat demi Kerajaan Allah. Gereja, penyimpan Injil, yang dipimpin oleh Petrus, sangat menghargai Maria Magdalena sehingga dipandang sebagai seorang Santa besar, namun tidak dipuja sebagai seorang dewi.

Zaman kita ini adalah zaman kekacauan, bukan hanya dalam dunia, tetapi si Iblis juga berusaha menerobos masuk ke dalam jajaran Gereja. Itulah salah satu pesan Rahasia Ketiga Fatima yang disampaikan Bunda Maria kepada Lucia Santos. 

Dengan berbagai macam cara, Iblis, melalui antek-anteknya berusaha menyesatkan orang, bahkan mereka yang percaya kepada Yesus, supaya menjadi bimbang dan goyah imannya.

Ada banyak jebakan-jebakan rohani yang membahayakan orang-orang yang tertarik pada Injil, mereka mengalami perubahan hidup, tetapi tidak cukup mendalam, sehingga mereka akan kembali lagi ke keadaan mereka semula. Marilah kita waspada terhadap hal ini!

(Sumber: Warta KPI TL No. 23/III/2006; Dusta Da Vinci Code, HDR Jan-Feb 2006 tahun X).