Rabu, 16 Desember 2015

Kriteria Seorang Diberi Gelar Santo/Santa

Secara umum, mereka yang diberi gelar Santo/Santa adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh pelaksanaan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan mereka ini harus dapat dibuktikan oleh argumen-argumen dan disertai juga oleh mujizat-mujizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa orang kudus itu. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia adalah benar sahabat Allah.


Maka proses kanonisasi dan beatifikasi bukan proses ‘pembuatan’ seseorang menjadi Santo/santa, namun hanya merupakan deklarasi bahwa orang itu adalah orang yang hidup kudus bahkan sejak sebelum proses kanonisasi dimulai.

Proses penentuan pernyataan seseorang menjadi Santo/Santa dalam Gereja Katolik memakan waktu yang panjang dan memerlukan bukti yang kuat berupa mujizat-mujizat yang harus ada, bahkan setelah orang tersebut sudah meninggal, untuk membuktikan bahwa Allah berkenan kepada perantaraan doa orang tersebut.

Sebenarnya bukan uskup atau Paus yang menentukan seseorang menjadi kudus, apalagi ‘membuat’ seseorang menjadi Santo/Santa.

Paus hanya menyatakan seseorang menjadi Santa/Santo setelah melalui proses penyelidikan panjang.

Prosesnya itu sendiri melibatkan banyak orang, dan harus dibuktikan dengan mujizat (minimal 2), dan mujizatnya pun harus diperiksa secara objektif oleh dokter yang ahli. 

Proses kanonisasi bukan sesuatu yang mudah, umumnya memakan waktu bertahun-tahun. 

Namun justru dalam proses itulah terlihat apakah sungguh Tuhan berkenan menyatakan seseorang tersebut sebagai orang kudus-Nya, melalui mujizat-mujizat yang disyaratkan terjadi pada saat orang itu telah bertahun-tahun meninggal dunia, yaitu melalui permohonan doa syafaat orang kudus tersebut.

Secara garis besar, prosesnya adalah sebagai berikut:

Servant of God (Hamba Allah): Proses yang dimulai di level keuskupan. Uskup (atau ordinaris) bukan menentukan, tetapi membuka kesempatan penyelidikan ‘calon’ para kudus itu, yaitu dalam hal kebajikannya, sebagai respons dari permohonan kaum beriman.

Penyelidikan umumnya dilakukan setelah lima tahun orang tersebut meninggal dunia, walaupun untuk kasus tertentu, Paus dapat mempercepat proses ini, seperti dalam kasus Ibu Teresa dan Paus Yohanes Paulus II.

Setelah informasi lengkap, uskup mempresentasikannya kepada Roman Curia, lalu kemudian ditunjuk seorang postulator (umumnya dari kongregasi- jika itu dari kalangan religius) untuk sungguh-sungguh menyelidiki informasi selanjutnya tentang kehidupan sang Servant of God/ hamba Allah ini.

Declaration ‘Non Cultus’ (Pernyataan tak ada tahyul): Pada suatu saat dapat diizinkan untuk memeriksa jenazah sang Servant of God, dan pernyataan bahwa tidak adanya tahyul/pemujaan yang ditujukan pada sang pelayan Tuhan ini.

Venerable/Heroic in Virtue (Yang Terhormat/Heroik dalam kebajikan) : Setelah segala informasi yang diperlukan terkumpul, Bapa Paus mengumumkan teladan kebajikan dari pelayan Tuhan ini (yaitu yang berhubungan kebajikan ilahi dengan iman, pengharapan dan kasih, dan juga kebajikan pokok, yaitu, kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri, hingga sampai pada tingkat yang heroik.

Pada saat ini dapat dicetak kartu doa yang dibagikan pada umat, sehingga umat dapat memohon doa perantaraan mereka, mohon agar mujizat dapat diperoleh dari perantaraan doa mereka, sebagai tanda persetujuan Tuhan, untuk menyatakan pelayan Tuhan tersebut sebagai orang kudus.

Blessed (Yang Terberkati): Beatifikasi adalah pernyataan dari Gereja yang menyatakan bahwa kita dapat percaya bahwa sang pelayan Tuhan tersebut berada di sorga.

Tahap berikutnya tergantung dari apakah ia seorang martir, atau bukan. Jika martir, tidak diperlukan mujizat lebih lanjut, namun jika non-martir, maka diperlukan sebuah mujizat melalui doa yang ditujukan dengan perantaraan sang Venerable ini, untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berada di Sorga, dan Tuhan menjawab doa syafaatnya dengan memberikan mujizat.

Sekarang ini yang dapat dianggap mujizat yang termudah adalah yang melibatkan: 1) pasien yang sakit, 2) yang tidak diketahui bagaimana cara penyembuhannya, 3) doa ditujukan agar Venerable mendoakan kesembuhan pasien, 4) pasien tersebut disembuhkan, 5) Kesembuhannya spontan, instan/ pada saat itu, menyeluruh, dan “lasting“/ tidak berubah, 6) dokter tidak dapat menjelaskan penjelasan normal.

Kanonisasi adalah pernyataan dari Gereja, bahwa sang Santa/Santo tersebut telah berada di Sorga, dan memandang Allah dalam Beatific Vision.

Para orang kudus (Santo/Santa) adalah orang-orang yang semasa hidupnya meneladani Kristus sampai ke titik yang heroik, demikian pula martir, yang bahkan mencontoh Kristus sampai kepada menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus.

Oleh karena itulah, maka gelar Santa- Santo dan martir itu dapat dikatakan diperoleh karena hubungan mereka dengan Kristus, dan yang telah menerima kepenuhan misteri Paska Kristus, yaitu wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga.

Para nabi pada Perjanjian Lama memang dapat juga disebut sebagai orang kudus, namun memang secara obyektif dapat diakui bahwa karena mereka hidup sebelum Kristus, maka mereka tidak mengalami kepenuhan misteri Paska Kristus.

Dan karena maksudnya para kudus itu adalah untuk menjadi teladan bagi kita dalam hal kekudusan setelah kita dibaptis, maka banyak orang Katolik mengambil nama Baptis dari para orang kudus itu, yang kekudusannya telah diakui sebagai buah dari hidup mereka di dalam Kristus, setelah mereka [para kudus itu] dibaptis di dalam Kristus.

Dengan memilih nama seorang Santo/Santa sebagai nama Baptis/Pelindung, maka artinya kita memohon agar Santo/Santa itu berdoa bagi kita agar kitapun dapat bertumbuh di dalam kekudusan, dan dilindungi dari pengaruh kejahatan.

Maka Santa/Santo Pelindung itu bukan untuk menyaingi Allah sebagai Pelindung (Yes 1:24; Mzm 31:2; 62:7) dan Perisai kita (Mzm 3:3).

Allah tetaplah sebagai Pelindung kita, namun Ia melibatkan para orang kudus-Nya untuk melindungi kita dengan doa-doa mereka. Maka peran mereka melindungi kita hanya dimungkinkan oleh Allah.

Prinsip persekutuan orang kudus inilah yang membedakan pengertian Pengantaraan, antara pemahaman Protestan dengan Katolik.

Bagi umat Protestan, Yesus adalah satu-satunya Pengantara, dan pengantaraan-Nya ini bersifat eksklusif. Sedang bagi Gereja Katolik, Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (1 Tim 2:5) ini bersifat inklusif, yaitu melibatkan juga orang-orang kudus-Nya, sebab semua orang kudus itu adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9).

Bahwa seorang yang kudus, dapat mendoakan sesamanya (berdoa syafaat) bagi sesamanya (1 Tim 2:1), dan Tuhan dapat mengabulkan doa ini yang dipanjatkan atas Pengantaraan Yesus.

Maka, pengantaraan orang kudus ini hanya mungkin karena Pengantaraan Kristus, dan bergantung dari Pengantaraan-Nya.

Jadi pengantaraan ataupun perlindungan orang kudus ini harus selalu dilihat sebagai kesatuan dengan perlindungan Kristus: selalu mendukung dan selalu bersama dengan Pengantaraan dan Perlindungan dari Tuhan Yesus.

Oleh karena di sorga yang ada adalah persekutuan para orang kudus dengan Kristus sebagai Kepala, maka Gereja Katolik percaya bahwa Pengantaraan Kristus melibatkan pengantaraan para kudus sebagai anggota-anggota-Nya, dan bahwa pengantara anggota-anggota-Nya dapat diberikan karena kesatuan mereka yang sempurna dengan Kristus.

Kalau ada yang bertanya, kalau mereka-pun tergantung pada Pengantaraan Yesus, mengapa kita berdoa mohon perantaraan mereka?

Jawabnya, memang kita tidak harus berdoa memohon pengantaraan mereka, namun jika kita melakukannya, itu berguna bagi kita sendiri, karena itu melatih kita untuk bertumbuh dalam kerendahan hati.

Karena kita melihat kepada para orang kudus itu sebagai teladan, agar kita terpacu untuk hidup seperti mereka.

Ini seperti layaknya adik kelas yang belajar dari kakak kelas/ atau mereka yang sudah lebih dahulu lulus.

Kita bisa belajar langsung dari dosen/profesor kita, tetapi bisa juga disamping belajar dari dosen, kita belajar dari kakak kelas.

Tidak ada keharusan kita belajar dari kakak kelas, namun tentu baik bagi yang mau melakukannya, karena akan sangat banyak manfaatnya.

(Sumber: Kriteria Seorang Diberi Gelar Santo/Santa, katolisitas.org).


Santo Andreas



Pada awalnya, Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis. Setelah mendengar perkataan Yohanes tentang “Anak domba Allah” ia lalu mengikuti Yesus. 

Perjumpaan dengan Yesus dan pengalaman bersama-Nya membuat Andreas tidak menyimpan kegembiraan ini untuk dirinya sendiri, namun ia segera membagikan pengalamannya kepada Simon, saudaranya, katanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus).” Lalu ia membawa Simon kepada Yesus (Yoh 1:35-44).

Andreas adalah saksi atas mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, salah satunya adalah penggandaan roti dan ikan (Yoh 6:11-13). Ia juga hadir saat perjamuan malam terakhir, saat Yesus menampakkan diri sesudah kebangkitan-Nya, saat Yesus naik ke Surga, dan saat Pentekosta.

Memenuhi amanat Sang Guru, para murid menyebar ke segala bangsa untuk mewartakan Injil. Rasul Andreas menyebarkan agama Kristen di Scythia, Epirus, Hellas, Kapadokia, Galatia, Bithynia, Byzantium, Thrace, Makedonia, Thessaly, dan Achaia. 

Menurut tradisi Gereja, dia memulai misinya di Provinsi Vithynia dan Pontus di bagian tepi selatan Laut Hitam. Kemudian menuju Kota Byzantium dan mendirikan gereja Kristen di sana, mentahbiskan uskup Byzantium yang pertama, Stachys.

Contoh kelembutan hati Andreas, kuasa doanya dan perbuatan baiknya (membawa seseorang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi)

· Ada seorang tua yang datang kepadanya dan menceritakan bahwa telah puluhan tahun hidup dalam dosa. Andreas menangis ketika mendengar bahwa orang tua itu tidak mampu membebaskan dirinya dari kelemahan ini. Katanya: “Aku tidak akan makan daging sebelum orang itu diselamatkan.” 

Setelah lima hari berpuasa, terdengar suatu suara: “Tuhan akan mengabulkan doamu, dengan kerjasama dari si orang tua itu, yang ikut berpuasa selama enam bulan.” Setelah berpuasa selama enam bulan, orang tua itu dibebaskan dari kelemahannya dan kembali merasakan damai Tuhan.

· Atas desakan para penyembah berhala, Aeges, prokonsul Roma memaksa orang-orang Kristen untuk menyembah berhala. 

Andreas menjelaskan kepada Aeges: “Hanya Tuhanlah yang patut disembah. Kristuslah putra Allah yang telah datang ke dunia untuk menyelamatkan semua manusia. Semua penyembahan berhala memurkakan Tuhan.” 

Kata Aeges: “Karena kesia-siaan yang diwartakan-Nya, maka Yesus harus menanggung akibatnya: harus menderita sengsara dan disalibkan.” 

Andreas menyanggah perkataan itu, katanya: “Yesus disalibkan bukan secara terpaksa, tapi Dia dengan sukarela menderita dan disalibkan demi keselamatan kita. Salib adalah suatu misteri yang sangat agung.” 

Mendengar penjelasan itu, Aeges marah dan memerintahkan untuk menyalibkan Andreas. 

Andreas dengan gembira mendatangi kayu salibnya. Saat dari jauh dilihat kayu salibnya, dia memberi salam: “Salam hai Salib Suci, engkau yang telah disucikan oleh tubuh Tuhanku, dan dihiasi oleh tungkai dan lengan-Nya bagai permata yang mahal. Aku datang kepadamu dengan bersorak gembira. 

Terimalah aku dengan gembira di tanganmu. O kayu salib yang baik, yang telah menerima keindahan dari tangan Tuhan; telah lama aku mengasihimu dan medambakanmu: sekarang engkau telah kutemukan dan engkau siap menerima kerinduan jiwaku; terimalah aku di tanganmu, ambillah aku dari antara manusia, dan hantarlah aku ke Tuhanku; agar Dia yang telah menebusku di atasmu, berkenan menerimaku melalui dirimu.”

Andreas bahagia karena boleh semakin serupa dengan Kristus, Guru-Nya. Dia menanggalkan jubahnya dan memberikannya kepada para algojonya. 

Mereka lalu mengikat dia dengan posisi kepala di bawah pada kayu salib yang berbentuk huruf X. Atas perintah Aeges mereka tidak memakukan dia agar penderitaannya lebih lama. 

Di sana dia bergantung selama dua hari dengan tetap berkotbah kepada kerumunan orang yang datang melihatnya. Dari salibnya, langit dilihatnya dengan gembira sebagai surga di mana dia akan bertemu dengan Tuhan. 

Atas desakan banyak orang maka Aeges dan beberapa orang datang kepadanya untuk membebaskannya. Namun Andreas menolaknya. 

Karena doanya, tangan orang-orang yang hendak membuka ikatannya menjadi lemas, tak bertenaga. Andreas tidak ingin turun dari salib dalam keadaan hidup. Dia mohon agar jiwanya boleh melayang kepada Sang Sumber Kebahagiaan. 

Pada saat itu dari langit muncullah suatu sinar yang sangat terang menyelimuti dirinya selama setengah jam sehingga tak seorangpun bisa melihatnya. 

Ketika sinar itu hilang, jiwa sang Rasul Suci melayang bersatu dengan Tuhan yang dicinta dan dirindukannya. Jenasahnya diturunkan dari salib dan dimakamkan oleh Maximila dan uskup Stratoklis. 

Dengan segera banyak orang berdatangan ke makamnya. Menyadari bahwa orang yang dibunuhnya sesungguhnya benar-benar seorang utusan Tuhan yang suci, Aeges akhirnya bunuh diri.

Jika kita merenungkan hidup rasul suci ini, maka ada begitu banyak teladan yang dia berikan. Namun secara singkat, kita bisa katakan bahwa seluruh hidupnya sejak perjumpaannya dengan Yesus adalah suatu sorak kegembiraan: “Kami telah menemukan Mesias!”. 

Teriakannya mengajak kita untuk merefleksi diri: “Benarkah kita sudah mengenali Yesus sebagai Mesias dalam hidup kita? Seberapa jauh perjumpaan kita dengan Kristus, Sang Mesias, mengubah hidup kita? Seberapa jauh perjumpaan ini menggemakan sorak kegembiraan dalam hati kita? Dan seberapa jauh sorak ini memancar keluar dari diri kita?” 

Teladan sang rasul suci mengajarkan kita untuk senantiasa mengantar sesama kepada Sang Mesias, juga pada saat-saat di mana kita hanya mempunyai lima roti dan dua ikan.

(Sumber: Warta KPI TL No.115/XI/2013 » www. Carmelia. net).

Santa Theresia Lisiuex



Theresia di lahirkan di Alencon, Prancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ketika berusia 4 tahun ibunya meninggal, ini merupakan goncangan batin yang menyebabkan dia sangat peka, over sensitif, tidak dapat bergaul dengan orang di luar keluarganya sendiri dan menderita pelbagai ketegangan jiwa selama hampir 10 tahun. 



Ketika berumur 14 tahun, dalam sekejap mata Tuhan menganugerahkan kekuatan batin. Ia terus maju di jalan hidup yang “baru” ini, yang bermuara ke dalam arus cinta kasih yang tak terbendung lagi, menjadi penyerahan total kepada Tuhan dan sesama dalam hidup membiara di Biara Karmel di Lisieux. 



Ketika berumur 21 tahun ia sudah sampai kepada penemuan “Jalan Kecil”nya yang kemudian tersohor itu, dimana cinta kasih, kepercayaan kepada Tuhan dan penyerahan diri secara total dihayati sepenuhnya. Meninggal dunia 30 September 1897. 

St. Theresia hanya menekankan kesederhanaan ajaran Injil dan menjauhkan kita dari kebingungan karena cara yang berbelit-belit, intelektualisme yang sukar (membuang matematika dari dalam iman). 

Marilah kita mencurigai pengetahuan yang kita miliki, pandangan, teori dan metode-metode kita. Jika semua itu memberikan suatu rasa harga diri, perasaan memiliki suatu hikmat, hendaknya itu dikesampingkan. Mungkin di situ ada banyak penipuan diri dan pandangan-pandangan yang keliru.

Penderitaan sebagai sarana yang penting untuk membimbing manusia, supaya mencintai Dia, merasa bahagia dalam mencintai Dia, guna lebih memuliakan Cinta yang penuh Belas Kasih. 

Kesabaran adalah akar dan pemeliharaan kerendahan hati, senantiasa diuji oleh penderitaan-penderitaan. 

Kasih adalah asal mula dari segala-galanya dan merupakan tujuan akhir kesempurnaan dan kekudusan. 

Kekudusan tidak terdapat dalam perbuatan, melainkan sikap hati yang membawa kita ke dalam tangan Tuhan, dengan rendah hati dan kecil, menyadari kelemahan kita dan percaya penuh akan kebaikan Ke-Bapaan-Nya. 

Kerendahan hati sejati adalah mengarahkan mata, pandangan jiwa, keluar dari diri sendiri (melupakan/menganggap diri sendiri tidak berarti apa-apa). 

Kepercayaan adalah kunci “Jalan Kecil” untuk menjaga keseimbangan jiwa yang menghasilkan mujizat. 

Kerendahan hati dan kepercayaan adalah garis penghubung antara hidup mistik, di mana tindakan ilahi secara definitif mulai menguasai yang manusiawi, membawa jiwa kepada kesadaran akan tidak berartinya di hadapan Tuhan. 

Jika jiwa secara radikal mengesampingkan dirinya kepada Roh Kudus, menyerahkan diri kepada Roh Tuhan, maka mulai suatu hidup ilahi yang benar-benar, memasuki jalan kekudusan. 

Kerendahan hati tanpa kepercayaan akan menjadi sikap pengecut/putus asa. 

Kepercayaan tanpa kerendahan hati akan menjadi sikap sok dan gegabah. 

Penyangkalan diri (karya Roh Kudus - yang menghasilkan, yang merealisirnya dalam diri kita) adalah sikap jiwa yang sama sekali tidak hidup bagi diri sendiri, sikap tulus dan tetap, keputusan yang bertujuan memalingkan jiwa dari kecenderungan kodratinya yang mau menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hidupnya, suatu niat yang tertuju pada: tidak memikirkan diri sendiri, mau mengesampingkan diri sendiri (mengarahkan hati kepada Tuhan dengan melepaskan diri sendiri). 

Sekian banyak orang membaca Injil, namun tidak menemukan apa-apa di dalamnya, akibatnya sama sekali tidak tersentuh. Karena mencari di situ sesuatu yang tidak ada (mendekatinya secara intelektuil, mencari ide-ide/pikiran-pikiran baru), sedangkan yang ada diabaikan.

Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus adalah seorang kudus yang mencurahkan pengalamannya tentang Kitab Suci, Kristologi, Eslesiologi, Mariologi (dituangkan dalam Konsili Vatikan II). 

Ajaran-ajarannya menunjukan kebenaran fundamental dan universal telah memukau dan mempengaruhi tokoh-tokoh besar dunia dari pelbagai agama, bangsa dan profesi (Paus, teolog, psikolog, politikus, artis, atlet, pekerja sosial, dan banyak kalangan lain). 

Kendati dia tidak pernah keliling dunia, hidup dan pengaruhnya telah menjelajah dunia, sebelum era globalisasi muncul. 

23 April 1923 Theresia dinyatakan seorang Beata, oleh Paus Pius XI, yang menyebutnya : “Bintang masa jabatannya” 

Oleh karena banyaknya rahmat yang diperoleh berkat perantara Theresia, maka peraturan gereja yang menentukan bahwa seseorang baru dapat dinyatakan sebagai seorang beato/a sesudah 50 tahun meninggalnya, tidak berlaku bagi kasus ini. 

17 Mei 1925, Paus Pius XI, DI Gereja St Petrus di Roma, menyatakan Theresia sebagai seorang “Santa” dengan gelar “orang kudus terbesar jaman modern” 

Sebagai Sabda Allah yang turun ke dunia untuk menunjukkan kepada manusia jalan kecil kanak-kanak. Sabda Allah harus diresapkan dalam hati dan kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, karena Kitab Suci selalu “up to date”. Ia senantiasa baru setiap pagi bagaikan sang surya dan segar laksana sekuntum bunga. Yesus dan amanatnya merupakan suatu kenyataan dan suatu rencana yang selalu berlaku. 

14 Desember 1927, Paus Pius XI mengangkat Theresia sebagai “Pelindung semua missionaris dan tanah misi di seluruh dunia”, seperti St. Fransiskus Xaverius. 

3 Mei 1944, Paus Pius XII mengangkat Theresia sebagai “Pelindung negara Perancis”, sama seperti St. Joan of Arc. 

19 Oktober 1997, Paus Yohanes Paulus II , memberi gelar Pujangga Gereja (meskipun tidak pernah kuliah/membuat penelitian ilmiah). 

Ia menjadi pewarta kasih Allah, agar kita berani menaruh seluruh harapan akan kasih kerahiman Tuhan dengan dasar iman ( kita diselamatkan berkat rahmat Tuhan).

Sekelumit teladan yang Theresia Lisieux berikan: 

Ketika sakit ia pernah kurang sabar terhadap seorang suster yang secara tidak bijaksana meminta sesuatu kepadanya. Katanya kepada suster lain, “Saya senang sekali, bahwa dia telah melihat ketidak sempurnaanku. Saya merasa dikuatkan oleh pikiran bahwa suster tadi sudah melihat aku kurang kebajikan, aku gembira melihat diriku sebagaimana adanya”. 

Kesabaran adalah akar dan pemeliharaan kerendahan hati. 

- Ada seorang suster dalam komunitas dalam segala macam hal menjengkelkan (tingkah laku, kata-kata, dan wataknya). Karena tidak mau menyerah kepada perasaan antipati terhadapnya. 

Setiap kali berpapasan dengan dia, saya berdoa dan mempersembahkan kepada Allah segala jasa dan kebaikannya (tak ada seorang seniman “Tuhan” pun yang tidak gembira bila karyanya dipuji orang); sedapat mungkin juga menyumbangkan jasa dan berusaha seramah mungkin tersenyum. 

Pada suatu hari dengan sangat ramahnya dia memandang seraya bertanya, “Apakah yang menyebabkan Anda terpikat pada diriku. Setiap kali Anda melihat saya, Anda tersenyum?” 

Saya menjawab bahwa saya tersenyum kepadanya karena senang melihat dia ( “Akh, apa yang memikat hatiku adalah Yesus dalam lubuk hatinya... Yesus sendiri yang membuat semua kepahitan jadi manis). Karena cinta terhadap sesama terletak pada perbuatan dan bukan perasaan. 

- Saya mengerti bahwa salah seorang suster keliru membawa lampunya, padahal sangat dibutuhkan. Daripada bersedih, saya malahan senang dapat merasakan kemiskinan bukan hanya terletak dalam melepaskan sesuatu yang menyenangkan tetapi juga barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dengan demikian batinku diterangi, sementara secara lahir duduk dalam gelap. 

- Theresia sering mengalami rasa kantuk dan tertidur waktu berdoa bersama, karena badannya lemah, sering kurang tidur waktu malam, sehingga saat doa dijadikan sebagai ganti rugi. Namun ia berjuang terus menerus, maka perlahan-lahan dalam dirinya muncul sikap menyerahkan diri, menjadi rendah hati dan penuh pengharapan. 

Beranikah kita memegang tangan Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dengan sikap seperti anak kecil: tidak selalu melihat, namun percaya penuh, dan berjalan dengan tak gentar dalam situasi yang belum tentu menyenangkan. 

Gereja Katolik mempunyai banyak mutiara yang sangat berharga, dilupakan begitu saja. Marilah kita menggali kekayaan Gereja Katolik, agar hidup iman kita lebih diperkaya.

Pesta St. Theresia Lisieux 1 Oktober

(Sumber: Warta KPI TL No. 01/V/2004 dan No. 02/VI/2004).

Artikel terkait

Senin, 14 Desember 2015

Santo Juan Diego




Ada seorang duda tanpa anak dari suku Aztec yang bernama Cuauhtlatoatzin (artinya “Elang Bernyanyi”; nama baptisnya Juan Diego), dia setiap pagi berjalan sendirian ke gereja. 

Sepulang dari Misa Kudus, dia selalu mengunjungi rumah pamannya, Juan Bernardino untuk mengurusi pamannya yang sudah tua renta dan menengok pula tanaman di kebun pamannya.

Pada tanggal 9 Desember 1531, di Sabtu pagi yang dingin itu Juan Diego menghentikan langkahnya ketika dia mendengar suara kicauan burung di bukit kecil yang tandus (Tepeyac), di mana dulunya berdiri sebuah kuil bagi Dewi yang dipuja oleh suku Aztec. Dia merasa heran ketika mendengar suara itu, karena biasanya pada musim dingin burung-burung sudah berimigrasi ke wilayah yang lebih hangat. 

Tiba-tiba suara itu terhenti dan terdengarlah suara seorang wanita memanggil-manggil namanya: "Juan! Juan Diego!"

Panggilan itu membuatnya berlari ke puncak bukit, dan di sana dilihatnya seorang gadis Meksiko muda yang berusia sekitar 14 tahun dengan kilauan keemasan yang terpancar dari sekujur tubuhnya dari kepala sampai ke kaki. 

Gadis itu berkata: "Juan, anakku yang paling kecil mungil, hendak kemana engkau pergi?" Juan menjawab, "Bunda dan puteri, aku sedang bergegas ke Tlaltelolco untuk menghadiri Misa Kudus dan mendengarkan Injil."

Gadis itu berkata: "Puteraku yang baik, aku mengasihimu. Aku ingin engkau tahu siapa aku. Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup … Aku menginginkan sebuah gereja di tempat ini, di mana aku akan menunjukkan belaskasihku kepada kaummu dan kepada semua orang yang dengan tulus hati meminta pertolonganku dalam kerja dan kesulitan mereka. Di sini, aku akan melihat air mata mereka. Aku akan menghibur mereka dan mereka akan merasakan kedamaian. Oleh karena itu sekarang pergilah ke Tenochtitlan (= Kota Meksiko) dan katakan kepada Bapa Uskup, semua yang telah kamu lihat dan dengarkan." 

Ketika mendengar perkataan itu, Juan Diego langsung menjatuhkan diri berlutut di kaki Bunda Maria sambil berkata: "Bunda yang mulia, aku akan melakukan apapun yang engkau titahkan kepadaku!" 

Sembari berlari-lari menuruni bukit, terpikirkan olehnya bahwa apa yang diminta oleh Bunda Maria bukanlah suatu perkara kecil. 

Pertama-tama jarak yang ditempuh sekitar 8 km cukup melelahkan bagi seorang yang sudah berusia 57 tahun. Selain itu, terpikir juga kemungkinan yang akan dilakukan para tentara dan tukang pukul Spanyol ketika melihat dirinya orang miskin. Dan dia sama sekali tidak tahu dimana letaknya tempat tinggal Bapa Uskup. 

Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya Juan berhasil menemukan tempat tinggal Bapa Uskup. Di sana dia diperlakukan secara kasar oleh para pelayan, namun akhirnya dia diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemui Bapa Uskup. 

Bapa Uskup terkesan oleh ketulusan dan kerendahan-hatinya ketika mendengarkan kisah yang dituturkan oleh Juan lewat seorang penterjemah. 

Dia juga menanyakan sejumlah pertanyaan kepada Juan. Pesan itu sulit untuk diterima akal sehat, tetapi dia mengatakan bahwa akan memikirkannya dan akan melanjutkan percakapan nantinya.

Hari sudah malam ketika Juan mencapai tanah tandus di bukit di mana dia melihat Bunda Maria menampakkan dirinya. Dia sangat lelah dan lapar karena telah berpuasa sejak matahari terbenam sehari sebelumnya. Dia juga sangat sedih karena misinya gagal. 

Setelah mendaki bukit itu, dia terkejut ketika melihat Bunda Maria berada di sana sedang menunggunya. Dia berlutut dan berkata: "Bunda dan Ratu yang baik, aku telah melakukan titahmu. Aku memberitahukan kepada Bapa Uskup tentang segala hal yang telah kulihat dan kudengar di sini. Dia mendengarkan, dan menanyakan banyak pertanyaan, tetapi aku yakin bahwa beliau tidak percaya segala hal yang kukatakan. Dia berpendapat bahwa aku telah salah sangka tentang keinginanmu untuk membangun sebuah gereja di sini, dan bahkan tentang siapa sebenarnya yang aku lihat dan bercakap-cakap di sini. Dia berbaik hati memberi ijin kepadaku untuk menemuinya kembali, tetapi aku khawatir bahwa aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Aku tidak layak menerima kepercayaanmu dengan pesan yang penting itu. Mohon kirim orang lain yang lebih layak, karena aku bukan siapa-siapa. Maafkan keterus-teranganku dalam menasihatimu." 

Perawan Maria berkata: "Dengarkan putera mungilku. Ada banyak orang lain yang bisa aku kirim, tetapi engkaulah yang aku pilih untuk menjalankan tugas ini. Maka esok pagi berangkatlah kembali menemui Bapa Uskup. Katakanlah kepadanya bahwa Perawan Maria-lah yang mengirim engkau, dan ulangi permintaanku untuk mendirikan sebuah gereja di tempat ini."

Jawab Juan: "Aku akan melakukannya dengan rela. Tetapi aku khawatir Bapa Uskup tidak akan senang melihat aku kembali secepat ini. Dan kalaupun dia senang, dia mungkin tetap saja tidak akan percaya bahwa engkaulah sungguh-sungguh yang mengutus aku. Tetapi aku adalah pelayanmu dan akan menuruti segala kehendakmu. Esok aku akan kembali ke sini untuk memberitahukan hasil kunjunganku yang kedua kalinya. Bunda yang mulia, beristirahatlah sampai nanti."

Pada hari berikutnya, Juan bangun pagi-pagi sekali pergi ke Misa Kudus. Setelah Misa selesai dia melanjutkan perjalanan ke kota Meksiko. Sesampainya di sana, dia langsung diperbolehkan menemui Bapa Uskup. 

Bapa Uskup sangat terkejut ketika melihatnya datang kembali begitu cepat. Agaknya sorga telah memenuhi pikiran sang Uskup, sehingga dia mulai percaya bahwa Juan tidak salah paham ataupun membuat-buat cerita ini. 

Karena tidak ingin menimbulkan kesan bahwa dia mempertanyakan motivasi Bunda Sorgawi maka dia meminta Juan untuk menyampaikan kepada Bunda Maria bahwa dia dengan rendah hati meminta suatu tanda yang akan menjadi bukti bahwa sungguh-sungguh Bunda Maria sendirilah yang membuat permohonan ini. Juan merasa lega hatinya karena kali ini dia mendapat suatu kemajuan karena dia tidak segera dikirim pulang.

Setibanya di bukit Tepeyac, dilihatnya Bunda Maria sedang menunggunya. Lalu dia segera berlutut dan mengatakan kepadanya bahwa Bapa Uskup telah menemuinya dan mendengarkan ceritanya dengan sabar, tetapi dia meminta sebuah tanda sebelum gereja dibangun. 

Dengan kesabaran seorang ibu, Bunda Maria berkata: "Baiklah, putera kecilnya. Kembalilah besok saat menjelang fajar. Aku akan memberimu suatu tanda baginya. Engkau telah mendapat banyak kesulitan karena permintaanku, dan aku akan memberimu upah oleh karenanya. Pergilah dalam damai dan beristirahatlah."

Bukannya pulang ke rumah, Juan langsung pergi menemui pamannya. Dia terkejut setibanya di sana, karena mendapatkan pamannya terinfeksi penyakit demam yang menular dan mematikan. 

Dia tidak beristirahat, sepanjang malam itu, siang hari berikutnya, dan malam hari berikutnya, Juan menunggui sang paman di samping ranjangnya. 

Pada hari Selasa pagi, kondisi pamannya makin memburuk dan dia memintanya untuk memanggil seorang imam supaya dia dapat menerima Sakramen Pengurapan orang sakit. 

Sesungguhnya Juan tidak ingin meninggalkan pamannya sendirian meregang maut, tetapi dia menyadari bahwa mungkin inilah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan bagi pamannya. Maka dia pergi ke Tlaltelcolco hendak memanggil imam.

Untuk pergi ke Tlaltelcolco, dia harus memutari wilayah bukit Tepeyac. Karena dia telah melihat Bunda Maria di sisi Barat, maka kali ini dia akan pergi melintasi sisi Timur dengan harapan Bunda Maria tidak melihatnya sehingga waktunya tidak tertunda untuk memanggil imam. 

Baru saja akan melintasi sisi Timur, tiba-tiba dilihatnya Bunda Maria menuruni bukit dan bertanya: "Puteraku yang mungil, ada masalah apa?" Jawabnya: "Bunda! Mengapa engkau bangun begitu pagi-pagi sekali? Apakah engkau baik-baik saja? Maafkan aku. Pamanku menjelang ajal karena demam cocolistle dan memintaku untuk memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepadanya. Bukan janji kosong belaka yang kuucapkan bahwa aku akan menemuimu kemarin pagi dan membawa tanda yang akan engkau berikan kepada Bapa Uskup. Tetapi pamanku sakit keras." 

Dengan tersenyum Bunda Maria menjawab, "Puteraku yang mungil. Jangan khawatir dan terbeban. Bukankah aku ini adalah ibumu? Tidakkah engkau berada dalam perlindunganku? Pamanmu tidak akan meninggal saat ini. Pada saat ini juga kesehatannya telah pulih. Tidak ada gunanya engkau melanjutkan perjalananmu, dan dengan hati damai engkau bisa melakukan permintaanku. Pergilah ke puncak bukit; potonglah bunga-bunga yang tumbuh di sana dan bawalah kepadaku." 

Pikirnya: “Bunga-bunga? Tidak mungkin ada bunga-bunga yang tumbuh pada saat ini di akhir tahun di bukit yang dingin beku itu! Tidak mungkin juga kesehatan pamannya bisa pulih dalam sekejap.” 

Juan tidak lagi bertanya-tanya, dia langsung naik ke puncak bukit mengikuti petunjuk Bunda Maria. Di atas puncak bukit dilihatnya suatu pemandangan yang tidak dapat dipercaya, di sana dilihatnya bunga-bunga mawar Kastilian dari Spanyol. 

Lalu dia memotong tangkai bunga-bunga tersebut dan diletakkannya di dalam tilma (= mantol kasar yang dipakai suku Indian di Mexico, di bagian depannya seringkali digunakan untuk membawa benda-benda) yang dipakainya untuk melindungi dari angin dingin. 

Bunda Maria tidak puas dengan cara bunga-bunga tersebut diletakkan di dalam tilma maka dengan cermatnya dia mengatur setiap tangkai bunga dengan kedua tangannya, dan kemudian menyimpulkan kedua ujung tilma supaya isinya tidak tumpah. 

Lalu dia berkata, "Engkau lihat, putera kecil, ini adalah tanda yang aku kirim kepada Bapa Uskup. Katakan kepadanya bahwa sekarang dia mendapatkan tanda yang dimintanya, maka dia harus membangun gereja yang kuminta di atas tempat ini. Jangan biarkan orang lain melihatnya kecuali dirinya melihat apa yang engkau bawa. Peganglah kedua sisinya sampai engkau tiba di hadapannya dan selesai menceritakan tentang bagaimana aku mencegat engkau dalam perjalananmu memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepada pamanmu, dan betapa aku meyakinkanmu bahwa dia telah pulih sepenuhnya dan selanjutnya mengirimmu ke atas bukit untuk memotong bunga-bunga mawar ini, dan aku sendiri yang mengaturnya seperti ini. Ingatlah, puteraku yang mungil, bahwa engkau adalah dutaku yang kupercaya, dan kali ini Bapa Uskup akan pasti percaya apa yang engkau ceritakan kepadanya."

Dengan memegang erat-erat bawaannya yang berharga, Juan tiba di tempat tinggal Bapa Uskup. Meskipun dia berusaha menyembunyikan apa yang dibawanya, tetapi wangi mawar sorgawi yang menyengat memenuhi udara disekitarnya. 

Para pelayan sangat ingin tahu akan apa yang dibawanya, maka mereka mendesaknya untuk memberitahukan apa yang ada di balik tilmanya. 

Ketika para pelayan menyentuh mawar-mawar tersebut, mereka berubah rupa dan lenyap. 

Keributan yang ditimbulkannya membuat Bapa Uskup datang bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Melihat Juan kembali begitu cepatnya dia segera menyuruh Juan untuk masuk ke ruangannya bersama-sama beberapa pengurus rumah tangga Bapa Uskup. 

Berdiri di hadapan Bapa Uskup, dia tidak berani berlutut karena khawatir bunga-bunganya akan tumpah ke luar sebelum dia selesai menceritakan kisahnya seperti yang telah diperintahkan oleh Bunda Maria. 

Juan kembali menceritakan apa yang telah dilihatnya dan didengarnya. Setelah dia selesai bercerita, dia membuka simpul-simpul pada tilmanya dan menumpahkan bunga-bunga yang telah diatur secara hati-hati tersebut ke atas lantai. 

Hanya dalam waktu beberapa detik, Bapa Uskup bangkit dari kursinya dan berlutut di depan kaki Juan. Juan berpikir: "Apa-apaan ini?"

Tetapi bukan dia yang membuat Bapa Uskup dan orang-orang itu berlutut, tetapi Bunda Maria telah menyatakan rupanya dalam gambar yang muncul pada tilma yang dikenakan oleh Juan Diego. 

Gambar yang muncul secara mujijat pada tilma Juan Diego adalah rupa Maria yang sama persis ketika dia menampakan dirinya kepada Juan Diego. 

Dengan penuh hormat, Bapa Uskup membawa gambar tersebut ke kapel pribadinya dan menggantung tilma tersebut di dinding di dekat altar di mana banyak orang berdoa dan takjub selama berjam-jam. 

Pada hari berikutnya gambar Bunda Maria dibawa dalam suatu prosesi yang gegap gempita ke katedral di mana banyak orang datang melihat dan berdoa di hadapannya. 

Berita tersebut tersebar dengan cepat dan beribu-ribu orang menunggu berjam-jam untuk mendapat kesempatan melihat secara sekilas mujijat ini. Sementara seisi kota merayakan hal itu, Bapa Uskup berangkat ke tempat penampakan itu lalu memberkati tanah itu dan dia segera membangun sebuah gereja di sana.

Sekembalinya Juan di kampungnya, dia melihat pamannya sedang menikmati sinar matahari di depan rumahnya, sehat seperti sediakala. Pamannya berlari-lari menyongsongnya dan berkata: “Ketika aku sangat lemah, minumpun aku sudah tidak mampu lagi, aku merasa kematian sudah diambang pintu. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi oleh seberkas cahaya, dan muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik, dia mengatakan bahwa aku akan sembuh, dia juga mengatakan bahwa telah mencegatmu untuk mengutusnya mengirimkan gambar dirinya kepada Bapa Uskup. Dia berkeinginan supaya gambar dirinya disebut dengan sebutan ‘Maria Guadalupe’. Setelah dia pergi, aku merasakan sehat seperti sediakala.”

Juan Diego wafat pada tanggal 30 Mei 1548 dalam usia 74 tahun. Paus Yohanes Paulus II memuji Juan Diego karena imannya yang bersahaja, yang senantiasa terpelihara oleh ajaran agama. Paus menetapkannya sebagai teladan kerendahan hati bagi kita semua. 

Juan Diego ditetapkan sebagai “beato” pada tanggal 9 April 1990; sebagai “santo” pada tanggal 31 Juli 2002 oleh Paus Yohanes Paulus II.

Gambar Bunda Maria dari Guadalupe yang muncul secara mujijat tersebut telah menjadi sasaran berbagai penelitian ilmiah. 

Pertama-tama patut diketahui bahwa tilma itu terbuat dari serat kasar kaktus yang tidak tahan lama dan semestinya sudah hancur dalam kurun waktu sekitar 20 tahunan. Akan tetapi tilma yang bergambar Bunda Maria tersebut umurnya sudah nyaris 500 tahun dan kondisinya masih utuh. 

Meskipun sekarang dipamerkan dibalik kaca, akan tetapi sepanjang ratusan tahun tilma tersebut dipamerkan secara terbuka, bahkan ada saat-saat di mana tilma itu dipamerkan di dekat jendela. 

Tidak seorangpun bisa menjelaskan bagaimana gambar yang begitu mendetail bisa "dilukis" pada sehelai kain yang anyamannya kasar. 

Bagian mata, khususnya pada pupil mata dan warnanya, sangat mendetail sehingga seolah-olah merupakan sebuah foto. Tidak seorang ahlipun bisa menyebutkan zat warna/cat apa yang dipakai untuk membuat gambar tersebut. Bahan yang dipakai tidak diketahui asal-usulnya dan hasil analisa kimia juga membingungkan para ahli.

Belum lama ini, riset fotografi NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat) menyatakan bahwa pada bagian mata, tidak hanya warna dan pupil yang tampak nyata, tetapi ada juga pantulan refleksinya. 

Pada pantulan refleksi itu bisa dilihat gambar orang-orang yang sedang berlutut, sebagian tampak adalah orang-orang suku Indian, Juan Diego, Juan Gonzalez - penerjemah, dan Uskup Zumarraga. 

Lebih jauh lagi pantulan refleksi ini muncul dengan cara sedemikian rupa sehingga cocok sepenuhnya seperti layaknya pantulan yang ada pada mata manusia sungguhan. Riset juga menunjukkan eksistensi saluran dan pembuluh kapiler darah pada mata. 

Ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh artis seniman manapun juga. Tidak mungkin orang bisa melukis sedetail ini, pada bahan yang sekasar itu, dan dengan warna-warni yang tak seorangpun tahu terbuat dari bahan apa. 

Kalau hal-hal di atas belum cukup mengejutkan, para ahli astronomi Perancis telah menyatakan bahwa letak bintang-bintang pada mantel Bunda Maria yang berwarna hijau, cocok sepenuhnya dengan letak konstelasi bintang-bintang di atas langit Meksiko pada bulan Desember 1531!

Di atas semua itu, mujijat yang terbesar dari penampakannya bukanlah penguatan dari ilmu pengetahuan. Mujijat yang terbesar adalah bahwa Maria begitu mengasihi Puteranya, dan para anak-anak spiritualnya di dunia, sehingga dia memilih seorang Indian yang sederhana untuk mewartakan kabar keselamatan kepada satu benua, dan dengan demikian, membawa berjuta-juta rakyat asli benua Amerika ke dalam iman Katolik. 

Kalaupun suatu waktu tilma Bunda Maria dari Guadalupe lapuk dimakan jaman, mujijat pertobatan jutaan penduduk asli Amerika yang masuk Katolik akan selalu bersama-sama dengan kita, sampai ke akhir jaman.

Lukisan Santa Perawan Maria dari Guadalupe kini ditempatkan di Basilika Santa Perawan Maria dari Guadalupe di Mexico City yang didirikan pada tahun 1977. Pada tanggal 12 Desember, Gereja merayakan pesta Santa Maria dari Guadalupe.

(Sumber: Warta KPI TL No. 93/I/2012 » © www.gerejakatolik.net - Santa Maria dari Guadalupe, diterjemahkan oleh Jeffry Komala dari artikel bhs.Inggris).

Sabtu, 12 Desember 2015

Jumat, 11 Desember 2015

20.37 -