Rabu, 18 November 2015

Rahasia “The Secret”

Seringkali orang pindah agama karena bagi dia agama yang lama tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan primer, sedangkan keyakinan barunya ternyata membuahkan kekayaan dan kesehatan baginya. 

- Tuhan tidak menjawab doa-doaku di sini. Namun, di sana saya menemukannya.

- Untuk apa saya mengabdi pada Tuhan yang tidak menjawab doa-doaku.

- Sejak bergabung dengan kelompok ini, bisnis saya lancar.

- Saya mohon kesembuhan di Gereja saya, tetapi tidak sembuh-sembuh. Begitu saya mencoba menjalankan apa yang diajarkan kelompok itu, berangsur-angsur saya sembuh. Itulah kebenaran.

Jika dalam benak saudara hanya ada semangat seperti di atas, sangat mungkin The Secret akan menarik hati saudara. The Secret menjanjikan kepastian, sepasti hukum gravitasi, akan memberikan segala sesuatu yang diinginkan: kebahagiaan, kesehatan dan kekayaan.

Apa itu The Secret? Rahasia apa yang dimaksud? DVD atau buku itu menjawab: Hukum tarik menarik! 

Di balik frasa tersebut ada beberapa kata atau frasa kunci: visualisasi, penciptaan, frekkuensi, harapan dan berpikir positif.

Inti dari hukum tarik menarik sebenarnya ialah kekuatan berpikir, berpikir secara positif. 

Manusia digambarkan sebagai magnet yang amat kuat. Setiap getaran pikiran kita menarik alam semesta ke arah kita. semakin sering dan kuat getaran yang dikirimkan pikiran kita, semakin besar pula daya tarik yang dihasilkan. 

Apa yang bisa ditarik? Menurut The Secret, apa saja. Tidak terbatas. Misalnya: rumah, kekayaan, pacar, pasangan hidup, uang sebesar berapa pun, ketenaran, kesembuhan, kesehatan, pencapaian fenomenal, tubuh yang ideal, menang lotre, bahkan hal-hal yang kecil-kecil, seperti: tempat duduk yang baik dalam acara konser, perjalanan yang bebas dari kemacetan, tempat parkir di mal yang ramai saat akhir minggu dll.

Sekilas ajaran dalam The Secret tampak amat simpatik, dibeberapa tempat ia mengutip Injil dan selalu mengucap syukur. 

Para tokoh dalam The Secret menyajikan di hadapan mata kita apa yang bisa kita miliki asalkan kita mau mengikuti nasehat-nasehat mereka. 

Namun kita harus tahu bahwa apa yang diajarkan di dalamnya amat bertentangan dengan iman dan moralitas kristiani.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat 16:26)

Ajaran The Secret:

- Tidak pernah menyebut kata Allah. Ucapan syukur diarahkan kepada Semesta, bukan sebagai suatu Pribadi, melainkan alam semesta yang tidak punya akal budi dan kehendak sendiri. 

- Semesta digambarkan sebagai jin lampu Aladin. Ia siap melaksanakan apa pun yang diperintahkan sebagai pemilik lampu. 

Perintah di sini ialah pancaran pikiran manusia ke dalam alam semesta. Apa pun yang ia pikirkan akan ditarik kepadanya. Hukum ini pasti.

- Para tokoh dalam The Secret tidak pernah takut apa pun, termasuk Tuhan. Mereka adalah tuhan bagi mereka sendiri. 

Inilah kesombongan besar yang merasuk dalam diri orang zaman ini. Mereka menjadi standard moral mereka sendiri. Tidak ada otoritas yang bisa menyalahkan ataupun membenarkan mereka.

Misalnya: Ada seorang produser film terkenal yang ingin memacari tiga perempuan berbeda dalam satu minggu. Ketika ia berhasil, hal tersebut dianggap suatu prestasi.

- Semangat dasar The Secret tampak mengacu pada kesuksesan duniawi (material) dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan: kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan. 

Tawaran-tawaran ini sejalan dengan Iblis ketika ia menggoda Yesus dengan menawarkan segala kekayaan dunia. Apabila diikuti, resikonya kita akan kehilangan jiwa kita dalam kebinasaan kekal.

Pandangan The Secret jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Gereja ajarkan 

- Tentang Allah, dalam Kredo kita menyatakan kepercayaan kita kepada Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mereka adalah Satu Allah dalam Tiga Pribadi. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya.

- Bagi Kristus, yang harus menjadi perhatian utama ialah harta surgawi.

Kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan ... Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan ... (Kis 3:17,19).

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; Rahasia “The Secret”, HDR Maret-April 2008 Tahun XII).

“Agen-agen” Rahasia

Harun Yusuf adalah mantan tukang kwamia atau peramal masa depan, yang namanya pernah ngetop di kalangan etnis Tionghoa. 


Setiap pasien yang datang kepadanya wajib memberikan tanggal dan jam kelahirannya. Kemudian dari informasi itu ia akan membuat ‘Pek Jie’. Dari Pek Jie inilah ia akan menentukan nasib pasiennya. 

Dalam sebuah wawancara, Harun membuka rahasia prakteknya yang mengejutkan. Pengakuannya: “Ketika pasien datang dan minta diramal, sebenarnya rohnya sudah berada di dalam cengkraman roh yang saya pelihara. Sejak itu roh pasien harus tunduk pada roh milik saya, pada apa pun yang saya perintahkan. 

Misalnya: saya ramalkan bahwa orang itu akan bercerai. Roh milik sayalah yang justru menakdirkan dan merencanakan semuanya itu; ramalan yang diberikan seorang tukang kwamia merupakan kutukan yang datang dari si peramal itu sendiri. 

Pasien yang datang kepada tukang kwamia harus mau membayar imbalan atau tumbal, bisa berupa nyawa salah satu anggota keluarganya. 

Dulu saya sendiri telah membayarnya dengan kehilangan nyawa kedua orang anak saya. Tukang kwamia yang makin jitu makin berbahaya, karena apa yang dipeliharanya makin hebat.”

Ironisnya, masih banyak orang Kristen yang rajin ke gereja/mengikuti kegiatan rohani, tapi suka juga pergi ke peramal, dukun, feng shui, juru hipnotis, orang pintar, mengetik reg... dlsb., tidak menganggap ramal-meramal sebagai salah satu bentuk dari praktek kuasa gelap. 

Sesungguhnya mereka ini tidak percaya bahwa masa depan/kesembuhan yang mereka rindukan sebenarnya ada di tangan Tuhan Yesus (menyangkali iman kepada Tuhan Yesus). Ketidakpercayaan itulah yang membuat mereka menempuh cara yang dimurkai oleh Tuhan.

Kalau hubungan dengan kuasa gelap tidak segera diakhiri, maka hubungan dengan Tuhan pasti terputus. 

Jika hubungan dengan Tuhan terputus, maka tidak ada jaminan untuk menikmati hidup bersama-Nya di kekekalan (Why 21:8). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; “Agen-agen” Rahasia, Mansor Juli 2008 No. 124 Tahun XI).

Roh Kanaan

Kalau kita tinggal di daerah tertentu, maka tingkah laku kita dapat berubah seperti daerah yang kita tinggali; bukan logat bicara saja yang berubah tetapi segala-galanya dapat berubah. 


Jika kita tidak melakukan perang rohani (menaklukkan roh itu), maka roh itulah yang mengendalikan kita sehingga kebiasaan/karakter kita berubah.

Karena di daerah itu sudah ada kekuatan roh teritorial (roh yang menguasai suatu daerah tertentu: pemerintahan-pemerintahan, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, roh-roh jahat di udara – sudah ada pembagian teritorial - Ef 6:12). 

Contoh: di daerah pelacuran di bangun sebuah rumah adorasi, beberapa tahun kemudian hilanglah daerah-daerah maksiat itu tanpa pemerintah harus mengeluarkan undang-undang, karena roh di daerah itu sudah ditaklukkan di dalam Tuhan.

Demikan juga rumah kita, tidak cukup hanya diberkati saja tetapi kita harus menaklukkan roh teritorial dan menjadi pemenang dalam kehidupan kita.

Setiap bangsa pun sudah ditetapkan wilayahnya oleh Tuhan (Bdk. Ul 32:8).

Misalnya: Surabaya paling dahyat terjadi kebangunan rohaninya karena tidak ada kerajaannya. Sedangkan Jogya/Malang sulit mengalami kebangunan rohani karena ada kerajaannya.

Setelah Nuh minum anggur, mabuklah ia, dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: “Terkutuklah Kanaan ...” (Kej 9:18-27).

Ini suatu pelajaran bagi kita supaya berhati-hati membicarakan aib seseorang. Jangan cepat-cepat mengambil suatu kesimpulan dan menghakimi seseorang. 

Karena kita sebagai manusia yang lemah dan begitu rapuh nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dengan kita/keturunan kita.

Janganlah kamu menghakimi, supaya tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai 
untuk menghakimi, 
kamu akan dihakimi
dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, 
akan diukurkan kepadamu.
(Mat 7:1-2)

Arti kata Kanaan ada dua:

1. Direndahkan sesuai dengan kutukan Nuh.
2. Dagang. Jadi roh yang ada di atas Kanaan adalah roh dagang.

Gereja adalah Israel Rohani. Kutuk-kutuk Kanaan sering menyertai Gereja maupun orang percaya sehingga kita tidak sadar berhitung/berdagang dengan Tuhan. 

Jadi jangan cari keuntungan di dalam ibadah. Ibadah ya ibadah, bukan dagang. Kalau kita tidak dapat mengatasi/mengendalikan (orientasinya hanya untung rugi), maka kutuk Kanaan tidak dapat dipatahkan dalam kehidupan kita. 

Dan sampai kapan pun kita tidak akan pernah menjadi orang-orang yang berkemenangan di dalam Tuhan. Karena kita dikuasai kutukan itu dan berlangsung terus ... selalu membicarakan aib orang lain dan segala sesuatunya selalu dihitung berdasarkan untung rugi. 

Karena Roh Kanaan selalu berkata: Aku mau mengambil untuk diriku, segala sesuatu ada perhitungannya. Aku berkorban sekian, kembalinya berapa?” 

Tapi kalau kita berani mengorbankan yang paling berharga dari hidup kita apa pun yang Tuhan minta (taat), itu tandanya kita sudah menang dari Roh Kanaan dan kita menikmati Kanaan tanpa kutuk di atasnya.

Misalnya: 

Mau mengadakan kegiatan rohani (retret/KRK) dihitung secara dagang, dihitung untung ruginya, bukan dihitung berapa jiwa yang dapat diselamatkan. 

Sudah belajar Alkitab, rajin berdoa/melayani, novena tak kunjung putus, kenyataannya masih banyak mengalami pergumulan – kecewa karena dipikirnya, sudah seharusnya Tuhan memelihara kehidupannya dengan baik.

Jika ada pengkotbah yang tidak diharapkan, tidak datang dalam persekutuan tersebut.

Saya berikan ini, tapi Engkau harus berikan ini.

Melakukan doa safaat. Saya dapat apa?

Keinginan untuk menjadi berkat bagi banyak orang memang ada di dalam setiap kita, tetapi kemauan untuk berkorban lebih banyak lagi itu yang tidak ada lagi.

Itulah sebabnya sekarang banyak sekali pedagang yang suka sekali menjadi hamba Tuhan. Karena cocok dengan profesinya (pedagang). Dia tidak peduli ada panggilan atau tidak, pokoknya jadi hamba Tuhan.

Kalau kita tidak berhati-hati, Yesus yang sabarnya luar biasa ... akhirnya akan marah juga seperti ketika melihat orang berdagang di Bait Allah (Mat 21:12).

Untuk mematahkan kutuk Kanaan tidak cukup dengan doa “Dalam nama Yesus Roh Kanaan pergi!” tetapi kita harus dengan roh rela berkorban. Korban persembahan ini sesuatu yang tidak boleh hilang dalam kehidupan gereja.

Mengapa Allah justru memilih membawa umat Israel ke Tanah Terjanji yaitu Kanaan? Padahal daerah itu sudah dikutuk oleh Nuh berkali-kali (Kej 9:18-29).

Karena Allah ingin umat Israel masuk Kanaan seperti yang Tuhan kehendaki; para pemimpin rohani mereka selalu memberikan korban untuk menaklukkan roh teritorial Kanaan. 

Untuk itulah bangsa Israel ada pelatihan penderitaan di padang gurun selama 40 tahun. Dilatih kerendahan hati sehingga pada saat mereka mendapatkan janji-Nya (berlimpah susu dan madu negeri yang kaya yang berkelimpahan anugerah), mereka ingat bahwa Tuhan yang memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan sesuai dengan janji-Nya. (Ul 8:1-18). 

Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi 
dari setiap firman yang ke luar dari mulut Allah.
(Mat 4:4)

Dalam setiap proses pemurnian yang harus kita lewati, Tuhan selalu mengingatkan kita ‘apabila kita sudah berkelimpahan semuanya, jangan pernah lupa bahwa semuanya itu datang karena Tuhan’ (Mzm 127:1-2).

Jangan sampai roh dagang menguasai kita, sehingga kita kecewa/mundur dalam kegiatan-kegiatan rohani. 

Itulah sebabnya firman Tuhan selalu mengajarkan bahwa kita akan diberkati oleh Tuhan jika kita berani melepaskan diri dari perhitungan dagang dengan Tuhan, kita akan semakin dimerdekakan dari Roh Kanaan.

Berkat Tuhan – terjadi bukan karena mengandalkan kekuatan diri sendiri tetapi mengandalkan kekuatan Tuhan.

Roh dagang – situasi tidak menentu, tidak jelas semuanya, tergantung untung dan rugi.

Marilah kita mengembalikan citra Allah yang penuh kasih di dalam kehidupan kita. Sehingga orang lain dapat melihat bahwa penyertaan Allah ada secara luar bisa di dalam kehidupan kita, meskipun saat ini kita menghadapi masalah demi masalah, masih dapat bersukacita/bersyukur.

Jika kita ditaklukkan Roh Kanaan/dagang, kalau ada resesi semuanya akan habis. 

Sebagai anak Tuhan yang sudah menaklukkan Roh Kanaan tidak mengalami resesi tetapi resepsi terus sampai akhir zaman.

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; Renungan KPI TL Tgl 22 Mei 2008, Dra Yovita Baskoro, MM).

17.06 -

Segelas Susu




Suatu hari ada seorang anak kecil yang miskin, Howard Kelly namanya. Pada saat ia sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tetapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang. 



Anak kecil itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi saat mengetuk pintu, ia kehilangan keberaniannya karena seorang gadis sebaya yang membukakan pintu. Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih. 



Gadis itu berpikir pastilah anak ini lapar. Maka dibawakannyalah segelas besar susu untuk anak tersebut. Ia meminumnya perlahan, kemudian bertanya: “Berapa saya berhutang kepada anda?” Jawabnya: “Kamu tidak berhutang apa pun kepada saya. Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang kami lakukan.”


Anak itu menjawab: “Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam.”

Saat anak kecil itu meninggalkan rumah tersebut, dia bukan hanya merasa badannya segar, tetapi keyakinannya pada Tuhan dan sesama manusia menjadi lebih kuat. Sebelumnya dia sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu si gadis itu bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Pada suatu hari dia sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim pasien itu ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan dokter spesialis. Dr Howard Kelly dipanggil untuk konsultasi. 

Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, ia segera pergi ke kamar tempat pasien tersebut di rawat. Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia usahakan untuk menolongnya. 

Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus pada kasus ini. Setelah melewati perjuangan panjang, peperangan pun dapat dimenangkan. 

Kemudian Dr Howard Kelly ditemui oleh pihak administrasi rumah sakit untuk menandatangani kuitansi tagihan yang harus dibayarkan oleh pasien itu kepadanya. 

Setelah menerima lembar kuitansi tersebut, ia menuliskan sesuatu. Kuitansi tersebut lalu dikirim ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan mampu melunasinya seketika. 

Namun akhirnya dengan menguatkan hati, ia membuka amplop kuitansi itu. Sebuah tulisan pada kuitansi itu langsung menarik perhatiannya. Ia membaca sebuah tulisan tangan di sana: Telah dibayar lunas dengan segelas susu. Tertanda: Dr Howard Kelly.

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; Segelas susu, Rahkito Jati Omi). 






Selasa, 17 November 2015

21.16 -

Menjadi Rumah Doa

Nabi Elia sungguh telah menjadi rumah doa bagi umat Israel. Sehingga seringkali doa-doa yang meluncur dari mulutnya menjangkau hadirat Tuhan, Tuhan simpati akan doa-doanya, lalu dikabulkan semua permohonannya.


Suatu ketika Nabi Elia berada di sungai Kerit. Dia berdoa untuk umat Israel. Pada waktu itu umat Israel tidak membutuhkan hujan, karena hujan turun terus menerus sampai banjir. 

Lalu dia berdoa: “Sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.” Hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun enam bulan. 

Pada waktu umat Israel sudah membutuhkan hujan kembali, Nabi Elia berdoa lagi sehingga langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (1 Raj 17:1; Yak 5:17-18).

Siapakah Nabi Elia itu sehingga dia mampu menghentikan hujan dan mampu menurunkan hujan lewat doa-doanya? Elia adalah manusia biasa seperti kita, dan ia sungguh-sungguh berdoa supaya ... (Yak 5:17).

Maka doa kita pun mampu menjangkau hadirat Tuhan. Misalnya: kita berdoa: “Tuhan, singkirkanlah dari kami hujan-hujan persoalan, badai-badai pergumulan, segala penderitaan dan persoalan ini.” atau “Tuhan, turunkan hujan berkat bagi kami. Curahkan rahmat dan kebaikan-Mu bagi kami.”

Mulut kita mengandung kuasa

Tantangan zaman, globalisasi nggak bisa dihindarkan dengan pertambahan sepeda motor. Tetapi sayangnya hal ini tidak diikuti moral pengendaranya, main salip sana sini, jalan yang rasanya sempit dia masuk juga. Seringkali yang naik mobil mempunyai pengalaman yang buruk dengan sepeda motor.

Suatu ketika mobil saya dibabat sepeda motor, mobil saya lecet, saya kejar, saya buka jendela serta berteriak: “Hai! Sialan lu! Mau mampus!” ~ orangnya marah karena dikutuk. 

Zaman dulu sebelum bertobat, emosi saya sangat tinggi suka berantem karena mantan karateka; mulut saya suka maki-maki/mengutuk orang. 

Setelah saya bertobat, saya sadar bahwa mulut ini ciptaan Tuhan, seharusnya kata-kata berkat yang ke luar, bukan kutuk. Dan saya berjanji hal tersebut tidak akan terjadi lagi. 

Beberapa waktu yang lalu hampir terjadi seperti itu juga, motor main potong, bempernya lecet. Maksud hati tidak mengulangi, tapi apa daya saya buka jendela sambil berteriak: “Sial ... om.” 

Karena sudah bertobat, kata-kata yang sudah terlanjur keluar menjadi kata syalom (kata berkat ‘salam damai’). Hati mangkel tapi mulut mengucapkan kata berkat bukan kutuk.... meskipun dia kaget merasa terberkati. 

Ada seorang janda miskin, hidup bersama putrinya yang cantik. Berkatalah mami ini kepada anak gadisnya: “Nak, papimu meninggal tidak meninggalkan warisan. Nanti kalau besar kawin sama orang kaya supaya keluarga kita yang terpuruk ini terangkat.” 

Tetapi anaknya tidak mendengarkan nasehat maminya. Maminya sakit hati, luka batin sampai meninggal. 

Sebelum meninggal mami ini dengan teganya mengutuk putri kandungnya sendiri: “Karena kamu sudah menyakiti hati mami dengan tidak menjalankan nasehat mami yang telah susah payah melahirkan kamu, membesarkan kamu. Terkutuklah kamu! Hidup kalian suami istri tidak akan bahagia, bahkan usiamu tidak mencapai usia 40 tahun, pasti akan mati!” 

Hiduplah anaknya dibawah kutukan maminya. Ternyata usia anaknya sudah lewat 40 tahun dan mempunyai tiga anak gadis. 

Putri yang ke tiga bingung ketika melihat kedua kakak-kakaknya kok meninggal di bawah usia 40 tahun. Yang pertama meninggal kena kanker, dan yang ke dua meninggal kecelakaan. Dalam hatinya dia bertanya-tanya: “Ada apa ini? Pasti ada sesuatu yang terjadi!” Lalu bertanyalah putri ketiga tersebut. 

Maminya menangis dan menceritakan ... Inilah kutukan nenekmu pada mami. Tapi mami nggak kena. Sekarang kutukan itu kena kamu semua.” 

Caranya menjadi rumah doa bagi orang lain (Yak 5:12-20):

1. Kuduskanlah mulut kita sebagai alat doa, supaya kata-kata yang ke luar senantiasa baik/positif, mempunyai hikmat (janganlah bersumpah demi sorga maupun bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak). 

Tetapi seringkali kita sadar atau tidak sadar, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk, sehingga menghalangi kuasa doa yang akan kita alami (Yak 3:9-11; 5:12).

Sebenarnya pada waktu Tuhan menciptakan mulut kita, hanya ada satu rasa, yaitu: untuk memuji Tuhan (memuliakan Tuhan, kata-kata yang ke luar membuat damai bagi orang lain, membangkitkan iman bagi orang lain, membawa sukacita dan ketentraman orang lain). 

Tetapi seringkali yang ke luar dari mulut kita rasa permen Nano-nano (sebentar memuji Tuhan, sebentar memaki-maki Tuhan/orang lain). Memang lidah tak bertulang sehingga sulit mengontrol kata-kata yang ke luar.

2. Doa harus lahir dari iman, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Kalau bentuknya kelihatan bukan iman, tetapi logika/suatu pembuktian.

Ada seorang pelari jarak 100 m dari Amerika bernama Lewis yang telah tujuh kali jadi juara. Dia ingin menjadi juara untuk ke delapan kalinya. 

Tapi apa mau dikata, empat bulan sebelum kejuaraan itu dia mengalami kecelakaan lalu lintas, kakinya patah. Harapannya untuk menjadi juara musnah dan terlintas untuk bunuh diri saja.

Datanglah pendeta di rumah sakit mengunjungi Lewis yang kakinya digips dan digantung. Berkatalah pendeta itu: “Lewis, coba buka Injil Markus 11:24, doakan sedemikian rupa. Karena itu Yesus berkata kepada Lewis: “Apa saja yang Lewis minta dan doakan, percayalah bahwa Lewis telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada Lewis. Meskipun kakimu masih sakit, latihanlah untuk lomba. Puncak khayalan itu kamu bayangkan ikut lomba sesungguhnya dan kamu menjadi juara lagi dengan menerima piala dan karangan bunga.”

Satu bulan sebelum kejuaraan dimulai Lewis sembuh dan akhirnya menjadi juara lagi yang ke delapan kalinya.

3. Saling mengampuni (hendaklah kamu saling mengaku dosamu - ay. 16a). Sebelum menjadi rumah doa, kita harus menyelidiki hati kita. 

Karena kalau hati kita masih ada dendam/luka batin akan menghalangi berkat Tuhan untuk kita (sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allah ialah segala dosamu - Yes 59:1-2). Jadi harus disingkirkan apa pun konsekuensinya.

Dua tahun yang lalu saya membeli mobil baru, Honda CRV. Saya mengendarai kenceng banget karena kejar waktu. Pada saat mau melintasi persimpangan lampu merah menjelang ring road, saya turunkan kecepatan dari 150 km/jam menjadi 100 km/jam. Dari jauh saya lihat lampu warna hijau, artinya hak saya, apalagi sebagai seniman saya tidak buta warna. 

Ternyata dari kanan muncul angkot nrabas lampu merah. Saya kaget nggak bisa ngerem lagi, langsung saya tabrak. Yang saya tabrak lambung mobilnya, kebetulan kosong tidak ada penumpang. Mobil saya hancur total. Sejak itu saya dendam pada terhadap semua angkot yang warna merah.

Saya biasa jam lima pagi bangun langsung berdoa. Tapi sejak ada dendam itu ... pada waktu penyembahan, masuk hadirat Tuhan, bukan terbayang wajah Tuhan tetapi semua angkot yang berwarna merah.

Setelah saya menyadari bahwa saya melakukan kekeliruan (ngebut); dengan mengampuni saya terbebas dari dendam ... doa lima menit sudah menggapai hadirat Allah. 

Dendam itu berefek domino dan menghalangi berkat. Misalnya: bila kita benci seseorang yang modelnya kumisan, semua orang yang berkumis kita benci; para putri yang patah hati, semua laki-laki dibencinya.

4. Sikap doa yang benar, selalu melayani orang lain lebih dulu (doa orang yang benar), doa yang tidak egois, doa yang kita panjatkan buat orang lain secara syafaat (Bdk. Yak 4:3).

Jadi sebelum berdoa untuk diri sendiri, doakanlah untuk orang lain (pemimpin bangsa; pemimpin gereja – Paus, Uskup, Romo Paroki, ketua wilayah, ketua lingkungan; semua pewarta Sabda; sahabat-sahabat; fakir miskin dll.), kalau ada waktu baru doakan diri sendiri.

Kita semua mempunyai malaikat Tuhan yang selalu menjaga kita. pada waktu kita melayani seseorang, secara tak langsung kita mengambil bagian malaikat Tuhan yang menjaga; tanpa sadar problem kita pun hilang pada waktu melayani. Karena malaikat Tuhan orang yang kita layani, pada gilirannya juga melayani kita.

5. Yakin dan tekun (bila yakin didoakan, sangat besar kuasanya) - tekun, tak putus-putusnya berdoa, harus selaras dengan kehendak Tuhan.

Misalnya: 

Doa Yesus di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat 26:39). Pada saat itu sebagai manusia, Yesus sudah tidak tahan lagi menanggung penderitaan. Maka Tuhan mengutus malaikatnya untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk 22:43).

Janda miskin yang minta keadilan (Luk 18:1-8).

Sebagai orang Katolik, jika doa kita tidak dikabulkan, kita tidak boleh mendaki gunung yang lainnya (misalnya: gunung Kawi), karena hanya ada satu gunung yang boleh didaki yaitu Gunung Kalvari.

(Sumber: Warta KPI TL No. 50/VI/2008; Renungan KPI TL Tgl 15 Mei 2008, Bapak Leonardi).

Belajar dari Maria

Sebelum kita masuk dalam Yerusalem Baru, Tuhan menguji semua motivasi anak-anak-Nya di dalam mengikuti-Nya lewat penderitaan. Karena Tuhan tidak mau ada pemberontakan dalam Kerajaan-Nya yang ketiga kali (pemberontakkan I. Malaikat Lucifer. II. Adam dan Hawa). 


Jika motivasi kita dalam beribadah, baik dalam komunitas/pribadi agar Tuhan memberkati/memelihara/mengeluarkan kita dari kesulitan sehari-hari, hal ini akan menjadi penghalang untuk mengenali Tuhan Yesus secara pribadi - kita akan kecewa dengan Tuhan. 

Jadi penting sekali memurnikan motivasi hati kita sehingga kita dapat sampai di garis akhir.

Di jaman anugerah ini kita memiliki banyak kesempatan untuk memilih dan melakukan sesuatu yang berarti dalam hidup kita. 

Tetapi semuanya terletak pada yang menjadi perioritas utama di dalam kehidupan kita.

Jika perioritas utama kita duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya (Luk 10:39) dan mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33) – akan menumbuhkan iman kita.

Orang-orang yang mengasihi Yesus:

1. Akan menyampingkan penilaian/komentar orang lain.

2. Akan menyampingkan harga dirinya dan memusatkan seluruh hidupnya pada tindakan dan sikap hidup yang menyenangkan Tuhan.

3. Tetap percaya meskipun diabaikan.

4. Memiliki kepekaan yang dalam.

Marilah kita belajar dari Maria di Betania:

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani 

» Seringkali kita menyangka sudah melakukan hal yang terbaik dan menyenangkan Tuhan dengan mengerjakan banyak hal untuk Tuhan. Misalnya: pelayanan, menjadi donatur gereja dll. Padahal Tuhan lebih menginginkan kita dapat bersekutu dengan-Nya secara pribadi dan membuka hati terhadap perkataan-Nya.

Maria menyadari bahwa kebutuhan jiwanya lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan duniawi. Selain itu dia tahu benar kapan harus mendengarkan, kapan harus bekerja. Perioritas Maria mendatangkan kebaikan baginya (Mzm 107:9), karena waktu-waktu yang dilewatkan bersama Yesus mendatangkan pemulihan dan damai sejahtera di dalam dirinya.

Marta mendekati Yesus dan berkata: Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 

» iri hati.

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42) 

» Duduk diam mendengarkan pengajaran Yesus maupun melayani kedua-duanya baik, masalahnya terletak pada perioritas.

Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya 

» 1/2 kati minyak narwastu murni = 275 gram; harganya 300 dinar; upah 1 hari = 1 dinar; berarti upah 10 bulan untuk mengurapi kaki Yesus – suatu pengorbanan yang luar biasa).

Rambut = mahkota perempuan, di jaman Yesus perempuan baik-baik ramburnya diikat lalu ditutup dengan kerudung di depan umum; sedangkan perempuan nakal rambutnya diurai - menyampingkan harga dirinya dan memusatkan seluruh hidupnya pada tindakan dan sikap hidup yang menyenangkan Tuhan.

Yudas Iskariot berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh 12:1-8) 

» Orang yang memiliki kasih yang dalam terhadap Yesus akan senantiasa terdorong untuk memberi, sementara orang yang tidak bersungguh-sungguh mengasihi Yesus selalu berhitung dan menganggap sesuatu yang berlebih-lebihan.

Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan sesuatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku (Mat 26:6-13) 

» Yesus sudah beberapa kali berbicara tentang kematian-Nya, tetapi murid-murid-Nya tidak begitu tanggap apa yang Dia katakan.

Hanya Maria satu-satunya orang yang mengerti dan bisa merasakan pergumulan Yesus di dalam menghadapi kematian-Nya. 

Itulah sebabnya dia mengurapi kaki Yesus, sementara Yesus masih hidup. 

Di tengah-ketidak pengertian orang lain, Maria melakukan sesuatu yang amat besar artinya bagi Yesus dan Yesus memberikan upahnya (Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.

Setelah didengarnya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat ... maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus empat hari terbaring di dalam kubur .. Aku tidak hadir pada waktu itu ... supaya kamu dapat belajar percaya (Yoh 11:1-44)

» meskipun Yesus sangat mengasihi keluarga di Betania (Marta, Maria, dan Lazarus), Tuhan sengaja tidak menjawab doa mereka seketika, agar mereka dapat belajar percaya..

Marilah kita bertumbuh dalam kebajikan-kebajikan (Gal 5:22-23), keutama-keutamaan (penyangkalan diri) dan karunia, agar dapat menyenangkan hati Tuhan menurut yang Tuhan mau.

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair (Mzm 63:2).

(Sumber: Warta KPI TL No. 49/V/2008; Renungan KPI TL Tgl 3 April 2008, Dra Yovita Baskoro, MM)

19.03 -

Lebah dan Madu

Lebah-lebah mengumpulkan nektar dari berbagai bunga dan membuat madu. Nektar itu disimpannya di dalam sarangnya yang bagaikan lumbung besar.

Itu gambaran seseorang yang merenungkan firman Tuhan. Firman Tuhan itu seumpama bunga yang indah. Kalau kita merenungkan firman Tuhan, ibarat lebah-lebah yang mengumpulkan nektar dari bunga-bunga, membawa nektar dan menyimpannya di dalam sarangnya, begitu pula kita harus menyimpan firman Tuhan di dalam diri kita (Kol 3:16). Hati kita seumpama sarang madu, tempat menyimpan firman Allah.



Seperti halnya nektar diubah menjadi madu, firman Tuhan yang kita renungkan itu menjadi roh hidup yang memberi makan roh kita dengan daging dan darah Tuhan Yesus (Yoh 6:48-58). 

Firman Tuhan tinggal di dalam kita sebagai Firman hidup: “Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jika engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya (Ams 6:22).

(Sumber: Warta KPI TL No. 49/V/2008; Permata Hikmat, Sadhu Sundar Selvara).