Jumat, 03 Agustus 2018

Santo Yohanes Maria Vianney



Yohanes Baptis Maria Vianney dilahirkan pada tanggal Mei 1786 di Dardilly, sebuah dusun dekat Lyons, Perancis, dalam sebuah keluarga petani sederhana. Rumah keluarga Vianney yang terletak di antara perkebunan anggur yang indah itu telah dikenal orang dari generasi ke generasi sebagai rumah orang-orang miskin, sebagai wisma para pengemis yang berkelana. Pada tahun 1770, St Yosef Labrè merupakan salah seorang dari para pengemis itu. 

Berasal dari keluarga Katolik yang saleh.

Orangtua Yohanes Maria adalah Matius dan Maria Vianney. Matius adalah seorang yang saleh dan amat jujur dalam abad di mana korupsi merajalela di Perancis; Maria menonjol dalam keutamaan-keutamaan kelemah-lembutan dan kasih sayang yang memancar dari lubuk hatinya yang terdalam, sungguh pantas menjadi ibu seorang kudus.

Bahkan sebelum kelahiran St Yohanes Maria, sulung dari enam bersaudara, kerapkali sang ibu mempersembahkan calon putranya itu kepada Tuhan dan Bunda Maria; berikrar janji secara rahasia untuk mempersembahkannya di altar Tuhan. 

Bidan yang melayani persalinannya berseru, “Sungguh, entah anak ini akan menjadi seorang kudus besar atau seorang penjahat besar.”

Usianya baru delapanbelas bulan ketika Yohanes Maria telah belajar mengatupkan kedua tangan mungilnya dalam doa dan mengucapkan nama Yesus dan Maria. 

Maria Vianney akan membangunkan anak-anaknya setiap pagi, agar ia dapat memastikan mereka mempersembahkan hati mereka kepada Tuhan. Kesalehan ibunya tertanam dalam hatinya.

Pada masa kanak-kanak Yohanes Maria, karena anti-klerus, anti-gereja dari Revolusi Perancis yang pecah pada tahun 1789, para imam yang tidak menandatangani sumpah setia kepada negara, dibuang dalam pengasingan. Sebagian imam terpaksa hidup dalam persembunyian, jika tertangkap, guillotine (= hukuman pancung) telah menanti. Segera saja pintu-pintu gereja di Dardilly disegel dan paraktek iman Katolik dilarang oleh pemerintah.

Tetapi, di Lyons masih ada sekitar 30 orang imam yang setia kepada Roma, yang terus melayani sakramen-sakramen secara sembunyi-sembunyi, dengan taruhan nyawa mereka. 

Keluarga Vianney, tidak saja memegang teguh iman mereka selama masa penganiayaan ini, melainkan sesungguhnya semakin diperteguhlah iman mereka karenanya. Keluarga Vianney tidak pernah mau berhubungan dengan imam-imam yang bersumpah setia kepada konstitusi Perancis, yang anti-Gereja; pun mereka tidak mengijinkan anak-anak mereka belajar di sekolah-sekolah negeri, meskipun hukuman berat dikenakan terhadap mereka yang tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Sebaliknyalah, mereka terus mendaraskan doa-doa harian dan mengajarkan katekese di rumah. 

Sekali waktu, seorang imam yang setia kepada Roma akan datang untuk mempersembahkan Misa secara sembunyi-sembunyi. Dalam situasi seperti itu, Yohanes Maria harus menerima Komuni Pertamanya secara sembunyi-sembunyi kala usianya 13 tahun.

Kejahatan Revolusi Perancis, yang menyebabkan penyelewengan begitu banyak imam, menanamkan rasa ngeri akan dosa dalam diri Yohanes Maria, sekaligus semangat yang berkobar untuk menjadi seorang yang saleh. Ia biasa berkata, “Oh, andai aku seorang imam, aku akan berjuang untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Tuhan.”

Perjuangan menjadi imam

Pada tahun 1799 Napoleon Bonaparte menjadi penguasa absolut Perancis. Ia memerdekakan Gereja, sehingga Misa Kudus kembali dapat dirayakan secara umum dan Tuhan kita dalam Sakramen Mahakudus dapat ditahtakan di altar. 

Yohanes Maria segera saja setia mengadakan kunjungan-kunjungan kepada Sakramen Mahakudus. Penggembala domba yang telah menjadi seorang pemuda berusia 18 tahun itu merasa mantap untuk menjawab panggilan hatinya menjadi seorang imam. 

Sungguh sayang, ayahnya Matius tidak mengijinkan putranya masuk seminari; (1) tidak akan mampu ia membiayai sekolah putranya, lagipula ia sudah semakin tua dan (2) membutuhkan tenaga Yohanes Maria untuk bekerja di pertanian. Sia-sia saja Maria memohon kepada suaminya. Sepanjang waktu itu, St Yohanes menyimpan semuanya dalam hati, menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah yang kudus.

Pada tahun 1806, Abbè Balley, salah seorang dari dua imam yang paling berpengaruh dalam keluarga Vianney, membuka sebuah sekolah kecil di pastoran di Ecully, guna mempersiapkan anak-anak lelaki untuk panggilan imam. 

Matius setuju dan memperbolehkan Yohanes belajar di sana. Tetapi, pada awalnya Abbè Balley enggan menerima Yohanes Maria, sebab pendidikannya tidak memadai, ia hanya tahu membaca dan menulis, itu saja; pula usianya sudah sembilanbelas tahun. 

Yohanes yakin akan panggilannya, jadi ia mendesak; Abbè Balley akhirnya berubah pendirian setelah ia mengetahui betapa banyak Yohanes mengenal kisah para kudus. Pada tahun 1807, Yohanes Maria menerima Sakramen Penguatan dan menambahkan Baptis dalam namanya.

Belum lama belajar di seminari, setahun kemudian muncul halangan berikutnya. Napoleon Bonaparte sangat membutuhkan tenaga prajurit, jadi, meski sebenarnya bebas dari wajib militer, Yohanes Maria bersama para seminaris lainnya dipanggil untuk masuk dinas militer. Mereka diperintahkan untuk melaporkan diri ke markas di Loyons. 

Tetapi, dua hari setelah menerima instruksi, ia sakit dan harus dirawat di rumah sakit sehingga teman-temannya meninggalkannya. Pada tanggal 5 Januari 1809, sementara masih dalam taraf penyembuhan, ia telah diperintahkan untuk melapor di Roanne untuk suatu wajib militer keesokan harinya. 

Teman-teman seperjalanan meninggalkan Yohanes Maria, karena ia bersikeras singgah terlebih dahulu di gereja untuk berdoa. Ia berusaha menyusul mereka di Renaison, walau peralatan militer yang ada padanya hanyalah sebuah ransel.

Sepanjang perjalanan, Yohanes berdoa rosario. Ketika mendekati pegunungan Le Forez, hari telah siang; karena kecapaian, ia berhenti untuk beristirahat, bertanya-tanya dalam hati di manakah ia akan dapat menemukan tempat berteduh dalam musim dingin seperti ini. 

Sekonyong-konyong, muncul seorang yang menyebut diri sebagai Guy. Guy memungut ransel Yohanes dan menghantarnya lewat naik ke suatu jalan pegunungan ke sebuah gubug dekat dusun Les Noës yang terpencil. 

Keesokan harinya Yohanes Maria beranggapan bahwa Guy pastilah salah seorang pelarian dari dinas militer yang banyak bersembunyi di hutan-hutan dan bukit-bukit. Jika berteman dengan Guy, ia khawatir akan dianggap seorang pelarian juga. 

Maka, setelah mempertimbangkan situasi, Yohanes melaporkan diri kepada ketua komunitas di sana. Tuan Fayot adalah seorang yang peramah dan bijaksana; ia menjelaskan kepada Yohanes bahwa secara teknis ia sudah seorang pelarian, dan menasehatkan yang terbaik baginya adalah tinggal di pengasingan di mana ia berada sekarang. 

Tuan Fayot memberikan tumpangan kepada Yohanes di rumah sepupunya, seorang janda yang baik hati, di mana Yohanes tinggal dalam persembunyian di kandang selama 14 bulan lamanya. Sebagai ungkapan terima kasih, Yohanes memberikan pelajaran kepada anak-anak sang janda. 

Beberapa kali Yohanes nyaris tertangkap oleh militer, satu kali bahkan ia merasakan ujung pedang di antara tulang-tulang rusuknya sementara pedang dihunuskan ke tumpukan jerami, di mana ia bersembunyi.

Sungguh beruntung, pada tahun 1810, sehubungan dengan pernikahannya dengan puteri bangsawan Marie-Louise, Bonaparte memberikan amnesti umum kepada semua pelarian; dengan demikian, Yohanes Maria bebas pulang ke rumah. 

Bulan Februari, di tengah kebahagiaan pulangnya putra kesayangan, Maria Vianney meninggal dunia. Sejak itu, St Yohanes Maria Vianney tidak lagi memiliki keterikatan duniawi apapun. Usianya sekarang sudah 24 tahun.

Tahun berikutnya Yohanes Maria menerima Tonsura (= upacara pemangkasan rambut calon imam sebelum menerima tahbisan rendah; upacara ini dihapuskan sejak 1972), kemudian belajar filsafat setahun lamanya di seminari menengah di Verrières. 

Ketika kembali di seminari, Yohanes Maria mempersembahkan diri kepada Bunda Maria, mempercayakan diri sepenuhnya ke dalam tangan-tangan kudusnya, mempersembahkan segala perbuatan-perbuatan baiknya di masa lampau, masa sekarang, dan masa mendatang, ke dalam perlindungan keibuannya, dengan cara seperti yang diajarkan oleh St. Louis de Montfort, seorang santo besar Perancis yang amat berpengaruh dalam memelihara iman umat di wilayahnya selama masa penganiayaan.

Pada tahun 1813, Yohanes Maria melanjutkan studinya di seminari tinggi di Lyons. Sejak itu ia dikenal sebagai Abbè Vianney, sebab ia telah menerima Tonsura tahun sebelumnya. 

Di antara 250 seminaris yang ada di sana, Abbè Vianney terkenal karena laku tapa, silih, kerendahan hati dan permenungannya yang mendalam. 

Tetapi, dalam bidang akademis ia amat lemah; ia sulit sekali belajar dan menghafal. Walau telah berjuang sekuat tenaga, ia tidak pernah berhasil menguasai bahasa Latin; sebab itu Abbè Vianney dijuluki sebagai “seminaris paling bodoh, namun paling saleh di Lyons”. 

Enam bulan kemudian, yang berwenang terpaksa harus mengeluarkannya dari seminari sebab pengetahuan akademisnya sungguh buruk.

Nyaris putus asa, Abbè Vianney mendengar suatu suara yang menghiburnya untuk tidak bersedih hati, sebab suatu hari kelak ia akan sungguh menjadi seorang imam. 

Abbè Balley juga tak hendak menyerah, ia secara privat membimbing Abbè Vianney dan segera mengirimnya kembali untuk mengikuti ujian tahbisan rendah dan diakonat. Kali ini, ujian diberikan dalam bahasa Perancis dan ia berhasil lulus; sesungguhnya para penguji mencatat bahwa ia “memberikan jawaban-jawaban yang sungguh bagus serta memuaskan ...”

Kesalehan Yohanes Maria Vianney terdengar juga oleh Bapa Uskup. Beliau bertanya, “Apakah ia berdevosi kepada Bunda Maria? Apakah ia setia mendaraskan rosario? Apakah ia sungguh seorang teladan kesalehan? Baguslah jika demikian! Aku memanggilnya untuk datang dan ditahbiskan! Gereja tidak hanya membutuhkan imam-imam yang terpelajar, tetapi, terlebih lagi, imam-imam yang saleh;” demikian Uskup, rahmat Tuhan akan melakukan selanjutnya.

Akhirnya, pada tanggal 2 Juli 1814, pada pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet, Abbè Vianney ditahbiskan sebagai subdiakon dan pada tanggal 12 Agustus 1815, ia ditahbiskan menjadi imam untuk selamanya. 

Pada mulanya, karena pengetahuannya dianggap tidak mencukupi, yang berwenang tidak memperkenankan P Vianney melayani Sakramen Pengakuan Dosa; tetapi ternyata Tuhan suka bergurau juga, sebab tak lama lagi ia akan harus melayani pengakuan dosa hingga 18 jam dalam sehari!

P Vianney ditugaskan sebagai imam pembantu P Balley di Ecully hingga pembimbingnya itu wafat pada tahun 1817. Awal tahun 1818, P Vianney ditugaskan sebagai imam paroki sebuah dusun kecil Ars-en-Dombes yang berpenduduk 230 jiwa. Ia mengabdi di sana selama 41 tahun lamanya, dan buahnya sungguh luar biasa!
Imam dari Ars

Tugasnya sebagai imam paroki di Ars sungguh sulit: dibutuhkan beberapa tahun untuk menutup kedai-kedai minum, delapan tahun untuk menghentikan aktivitas perdagangan di hari Minggu, dan duapuluh lima tahun untuk membuat masyarakat di sana berpakaian sopan dan berhenti berdansa-dansi dengan tidak sopan. Tak henti-hentinya ia berdoa bagi para pendosa, juga menanggung banyak penderitaan bagi mereka. “Menderita dengan penuh kasih, adalah tidak lagi menderita,” katanya.

Pada mulanya, sekedar karena rutinitas belaka, penduduk desa akan datang untuk merayakan Misa pada hari Minggu, dan selesai sudah. Bahkan alasan-alasan yang paling remeh sekalipun sudahlah cukup bagi mereka untuk absen dari Misa. 

Hanya pada hari-hari Minggu saja P Vianney mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidup mereka pada umumnya. Sebab itu, pada hari-hari lain dalam pekan, P Vianney akan mengunjungi pertanian-pertanian dan pondok-pondok ketika orang-orang sedang beristirahat untuk makan siang. Ia akan berdiri, bersandar di pinggiran pintu sambil berbicara kepada mereka mengenai pertanian. Tetapi, selalu saja, sebelum pergi ia berhasil mengalihkan pembicaraan ke surga. Sesudah itu, ia akan terlihat berjalan melintasi padang seraya mendaraskan Rosario.

Orang kudus kita ini belum menganggap desanya bertobat hingga keduaratus penduduk desa seluruhnya mengamalkan Sepuluh Perintah Allah, Kelima Perintah Gereja dan menunaikan praktek-praktek kesalehan setiap hari. 

Ia berbicara mengenai kesopanan dalam berbusana, sebab ia tahu bahwa kesopanan adalah perwujudan lahiriah dari kemurnian, dan ia menuntut kesopanan sepanjang waktu, tidak saja di gereja. 

Tetapi, dosa yang membuatnya paling banyak menangis sedih adalah dosa hujat, pencemaran Nama Allah yang kudus. Ia biasa mengatakan bahwa adalah suatu mukjizat para penghujat tidak mati disambar petir seketika. Ia memperingatkan penduduk desa bahwa “jika dosa hujat biasa dilakukan dalam rumahmu, maka, ia - rumahmu - akan binasa.”

Dari sini tampak jelas bahwa P Vianney tidak mau menolerir dan tidak mau berkompromi dalam segala hal yang menyangkut dosa, sungguh, amat mirip benar dengan St Yohanes Pembaptis, santo pelindungnya.

Dua mukjizat yang terjadi membantu P Vianney mendapatkan perhatian dan kepercayaan umat. Pada tahun 1824, P Vianney mendorong Katarina Lassagne dan Benedicta Lardet untuk membuka sebuah sekolah cuma-cuma bagi anak-anak perempuan, yang tiga tahun kemudian telah menjadi sebuah lembaga yang dikenal sebagai La Providence, tempat penampungan anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar. Pintu selalu terbuka bagi siapa saja, terkadang jumlah yang tinggal di sana mencapai 60 orang; sehingga jumlah dana yang tersedia tidak selalu dapat mencukupi kebutuhan. 

Suatu ketika, hanya ada sedikit pounds tepung; tetapi berkat doa P Vianney, juru masak dapat membuat sepuluh ketul roti 20 pounds darinya! Di lain kesempatan, gudang yang nyaris kosong sekonyong-konyong menjadi penuh dengan gandum yang berlimpah! Maka, penduduk desa berkata, “Imam kita adalah seorang kudus, kita harus taat kepadanya.”

Dan sungguh, pada tahun 1827, damai telah meliputi Ars sebab semua yang tinggal di sana hidup selaras dengan Rancangan Ilahi. Orang-orang di segenap penjuru Perancis mendengar apa yang telah terjadi di Ars; banyak dari antara mereka yang datang mencari kedamaian di sana dan menemukannya dalam kamar pengakuan dosa imam yang kudus itu.

Rahasia kemurahan hati St YM Vianney tak diragukan lagi terletak dalam kasihnya kepada Tuhan, memberikan diri tanpa batas sebagai tanggapan terus-menerus akan kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus yang tersalib. 

Atas dasar inilah ia rindu melakukan apa saja demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang telah ditebus Kristus dengan harga yang sedemikian mahal, dan membawa mereka pulang kembali ke dalam pelukan kasih Allah. 

Dalam kotbah-kotbah dan katekesenya, ia senantiasa kembali kepada kasih itu, “Ya Tuhan-ku, lebih baiklah aku mati mencintai-Mu daripada hidup barang sejenak tanpa mengasihi-Mu.... Aku mengasihi Engkau, ya Juruselamat Ilahi-ku, sebab Engkau telah disalibkan bagi kami... sebab aku telah disalibkan bagi-Mu.”

Demi Kristus, ia berusaha keras untuk menyelaraskan hidupnya sendiri tepat seperti tuntutan radikal Yesus kepada para murid yang diutus-Nya: doa, kemiskinan, kerendahan hati, penyangkalan diri, matiraga sukarela. 

Dan seperti Kristus, ia memiliki kasih yang begitu besar kepada kawanan-Nya hingga ia membimbing mereka dalam komitmen pastoral dan kurban diri yang sepenuh-penuhnya. 

Ia begitu dikuasai kerinduan untuk merenggut jiwa-jiwa dari dosa suam-suam kuku. “Ya Tuhan-ku, anugerahkanlah kepadaku pertobatan parokiku: aku bersedia menanggung penderitaan apapun yang Engkau kehendaki sepanjang hidupku.” Melalui St YM Vianney, yang mempersembahkan segenap kekuatan dan segenap hatinya kepada-Nya, Yesus menyelamatkan jiwa-jiwa.

Pada mulanya, parokinya hanya berpenduduk 230 jiwa ketika ia datang; mereka begitu acuh tak acuh dan nyaris tak ada praktek keagamaan di sana. Uskup telah memperingatkan St YM Vianney, “Tidak banyak kasih akan Tuhan di paroki itu, engkaulah yang akan menanamkannya di sana.” Tetapi segera saja, melampaui parokinya sendiri, imam dari Ars menjadi “pastor banyak orang” yang datang dari seluruh negeri, dari segenap pelosok Perancis dan juga dari negera-negara lain.

Konon, terhitung ada 80.000 orang yang datang ke Ars pada tahun 1858! Terkadang orang harus menunggu selama beberapa hari agar dapat bertemu dan mengakukan dosa kepadanya. Apa yang menarik mereka datang kepadanya bukanlah hanya sekedar keingintahuan atau bahkan reputasi baik yang diperkuat dengan mujizat-mujizat dan penyembuhan-penyembuhan luar biasa, yang sesungguhnya ingin disembunyikan orang kudus kita ini. 

Melainkan, terlebih orang sadar akan bertemu dengan seorang santo, kagum akan matiraganya, begitu akrab dengan Tuhan dalam doa; damai dan kerendahan hatinya yang luar biasa di tengah popularitas, dan terlebih lagi intuisinya dalam menanggapi disposisi batin jiwa-jiwa dan dalam membebaskan jiwa-jiwa dari beban mereka, teristimewa dalam kamar pengakuan. 

Ya, Tuhan telah memilih sebagai teladan para imam, seorang yang penampilannya miskin, lemah, rapuh dan tak diperhitungkan dalam pandangan manusia. Ia menganugerahinya dengan karunia-karunia terbaik sebagai pembimbing dan penyembuh jiwa-jiwa.

Sakramen Tobat

Perhatian pertama Imam dari Ars adalah menanamkan dalam diri umat beriman kerinduan untuk bertobat. Ia menekankan indahnya kasih pengampunan Tuhan. Bukankah seluruh kehidupan imamat dan segenap kekuatannya dipersembahkan demi pertobatan orang-orang berdosa? Di atas segalanya, dalam pengampunanlah belas kasih Allah tampak nyata. Jadi, ia tak hendak menghindarkan diri dari para peniten yang datang dari segala penjuru negeri.

Bagi dirinya, jelas pelayanan ini merupakan matiraganya yang paling besar, suatu bentuk kemartiran. 

Pertama, kemartiran dalam arti jasmani, karena panas, dingin atau pengapnya udara dalam kamar pengakuan. Kedua, kemartiran dalam arti moral, sebab ia sendiri menderita akibat dosa-dosa yang diakukan kepadanya dan terlebih lagi ia tersiksa karena kurangnya rasa sesal para peniten. 

“Aku menangis, sebab engkau tidak menangis.” Di hadapan orang-orang yang suam-suam kuku ini, yang disambutnya dengan segenap kasih dan berusaha dibangkitkan kasihnya akan Allah, Tuhan memampukan St YM Vianney untuk mendamaikan kembali pendosa-pendosa berat yang bertobat dan juga membimbing jiwa-jiwa yang haus untuk mencapai kesempurnaan. Di sinilah, di atas segalanya, Tuhan meminta imamnya yang kudus itu untuk ikut ambil bagian dalam karya Penebusan-Nya.

Suatu ketika, seekor serigala yang buas masuk ke desa dan melahap segala yang ada. Dalam perjalanan ia menemukan seorang kanak-kanak kecil berusia dua tahun, maka ditangkapnya kanak-kanak itu dengan rahangnya, dan dibawanya pergi; tetapi beberapa penduduk desa yang sedang bekerja di kebun anggur mengejar dan menyerangnya, lalu merenggut sang kanak-kanak darinya. Demikian pula halnya Sakramen Tobat merenggut kita dari cengkeraman si iblis.” ~ St Yohanes Maria Vianney

Suatu hari, setelah meninggalkan kamar pengakuan untuk mempersembahkan Misa, St YM Vianney melewati seorang gadis yang bersiap pergi karena telah putus asa untuk dapat bertemu dengan sang imam. 

Dengan ramah P Vianney menyapanya, “Engkau tidak cukup sabar, anakku. Engkau baru tiga hari di sini dan engkau sudah hendak pulang? Engkau harus tinggal limabelas hari lamanya dan berdoa mohon bantuan Santa Philomena untuk mengatakan apa panggilan hidupmu, dan sesudah itu, barulah engkau datang menemuiku…” Gadis itu melakukannya dan di kemudian hari menjadi seorang biarawati.

Di lain waktu, P Vianney keluar dari kamar pengakuan guna mempersilakan seorang ibu yang masih dalam antrian untuk segera masuk, sebab ia tahu bahwa ibu itu tak dapat menunggu lebih lama; 16 orang anaknya menanti.

Dengan discernment (= pembedaan roh) yang tak ada bandingannya P Vianney akan menemukan akar dari segala masalah dan tanpa ragu mendesak agar akar masalah itu segera disembuhkan. Lalu, ia akan menganjurkan cara-cara agar orang dapat tinggal dalam keadaan rahmat, dan bagaimana menolak kesempatan dosa. Waktu yang diberikan kepada masing-masing peniten cukup singkat sebab antrian amat panjang dan waktu amat berharga. Terkadang ia harus melayani 400 pengakuan dosa dalam sehari.

Jumlah peniten yang membanjiri Ars juga berarti kerja keras yang akan segera meremukkan mereka yang tidak memiliki kekuatan spiritual sedemikian. 

Pada bulan-bulan musim dingin, P Vianney melewatkan hingga 12 jam sehari dalam kamar pengakuan; dalam bulan-bulan musim panas, meningkat hingga 16 jam sehari. Dibutuhkan waktu setengah jam baginya untuk pindah dari gereja ke pastoran oleh sebab banyaknya orang yang berdesak-desakan meminta berkat dan doanya. Ia tidur hanya empat jam setiap malam dan dini hari telah bersiap kembali untuk mendengarkan pengakuan dosa mereka yang telah menantinya di gereja.

Pada awal pelayanannya sebagai bapa pengakuan, salah seorang rekan imam yang iri kepadanya memperingatkan St YM Vianney melalui sebuah surat bahwa seorang imam yang hanya tahu sedikit teologi seperti dia, sepatutnya tidak berani masuk ke dalam kamar pengakuan. 

Sebagian rekan imam lain yang juga iri mendakwanya sebagai bodoh, dukun klenik, kacau mental, gila dan mulai menyebarkan fitnah keji tentangnya. Menanggapi pengaduan mereka, Monsignor Devie, mengatakan, “Saya harap, saudara-saudara, seluruh imam saya memiliki kegilaan yang sama dengan pater Vianney.”

St YM Vianney wafat dengan damai di Ars pada tahun 1859 diusia tujuh puluh tiga tahun. 

(Sumber: kotakombe.org).



14.26 -

Mat 13:44-46

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 1 Agustus 2018: PW St. Alfonsus de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja - Tahun B/II (Putih) 
Bacaan: Yer 15:10, 16-21; Mzm 59:2-3, 4-5a, 10-11, 17-18; Mat 13:44-46; Ruybs.

Rabu, 31 Juli 2019: PW St. Ignasius dari Loyola, Imam - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kel 34:29-35; Mzm 99:5, 6, 7, 9; Mat 13:44-46: RUybs.


"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama (2) harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. (1) Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.


Renungan


1. Kerajaan sorga: Harta yang tak ternilai

Semua orang pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya: ada yang ingin menjadi kaya atau hidup berkecukupan, berhasil dalam studi, bisnis lancar, atau menempati jabatan atau posisi penting di sebuah instansi, dan masih banyak lagi. 

Untuk mencapai tujuan itu orang berjuang dan berusaha sedemikian rupa karena tahu bahwa hasil yang akan diperoleh ditentukan oleh usaha dan kerja keras yang dilakukan. Semakin giat orang berusaha semakin dekat kepada tujuan!

Sibuk mengejar perkara-perkara jasmani atau duniawi adalah sah-sah saja asalkan kita tidak melupakan perkara-perkara rohani yang tentunya jauh lebih berharga dan mulia. Karena itu harus ada keseimbangan di antara keduanya! 

Jangan sampai kita hanya bersemangat untuk mencari harta kekayaan duniawi yang hanya berlaku untuk kelangsungan hidup di dunia yang sifatnya sementara saja, sedangkan upaya untuk mencari harta terpendam (perkara rohani – Bdk. Ef 1:3 ) kita tak punya gairah untuk melakukannya. 

Firman Tuhan sudah memperingatkan, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat 6:33). 

Kerajaan Allah dan kebenarannya merupakan harta yang tak ternilai harganya yang patut diingini melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kerajaan Allah dan kebenarannya hanya dapat kita peroleh jika kita mau membayar harga yaitu mengorbankan segala sesuatu yang dapat menghalangi kita untuk memilikinya, sepertinya dalam perumpamaan ini: (1). 

Kata menjual seluruh miliknya berarti mengalihkan perhatian dengan segenap hati dari segala perkara yang lain, fokus dan memusatkan seluruh hidup kepada "...perkara yang di atas, di mana Kristus ada." (Kol 3:1).

Apa yang menjadi fokus hidup kita saat ini? Harta yang terpendam atau mutiara yang berharga atau hal Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah berbicara tentang takut akan Tuhan dan hikmat dari Tuhan untuk mengenal Dia lebih lagi.


2. Ignatius dari Loyola - telah menemukan harta yang terpendam

(2) Harta yang sangat berharga itu adalah Allah sendiri, iman akan Allah sendiri.

Pada hari ini, Gereja memperingati seorang santo besar, yaitu: St. Ignatius dari Loyola pendiri Tarekat Yesuit (SJ). Ia telah menemukan harta terpendam, yakni Allah sendiri saat ia sedang sakit.

Untuk menghabiskan waktu berjam-jam dalam kesendirian dan kebosanan di kamarnya, Ignatius minta beberapa buku untuk dibaca. Hanya ada dua buku yang dapat ditemukan dalam seluruh rumah, yaitu buku tentang kehidupan Kristus dan buku lain tentang kehidupan para kudus. Meskipun buku-buku ini tidak sesuai dengan seleranya, Ignatius membacanya juga. 

Berkat kebesaran hatinya untuk mau menerima pengalaman-pengalaman rohani baru dari membaca dua buku tersebut, terjadilah perubahan dalam hidupnya. Di sinilah Tuhan mengawali pembimbingan-Nya secara khusus bagi pertobatan Ignatius. Masa penyembuhan fisik itu ternyata menjadi penyembuhan batin, menjadi awal masa pertobatannya. 

Dampak dari membaca buku suci tersebut, memberi dorongan kuat kepadanya untuk melakukan hal-hal besar yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam buku-buku suci yang ia baca dan membuat hal-hal besar yang ingin ia lakukan terasa mudah dilakukan. 

Santo Ignatius telah memberi teladan bahwa dengan melepaskan segala keterikatan, menjadikan Allah nomor satu dalam hidupnya, maka ia akan merasakan Kerajaan Allah, yaitu damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm 14:17). Jika kita mau mengikuti jejaknya, maka kita pun akan merasakan damai sejahtera dan sukacita yang sama dengannya.




13.28 -

Mat 14:1-12

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 4 Agustus 2018: PW St. Yohanes M. Vianney, Imam - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Yer 26:11-16, 24; Mzm 69:15-16, 30-31, 33-34; Mat 14:1-12; Ruybs.

Sabtu, 3 Agustus 2019: Hari Biasa XVII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Im 25:1, 8-17; Mzm 67:2-3, 5, 7-8; Mat 14:1-12


Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah (4B) Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 

Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: (1) "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 

Lalu (3) sedihlah hati raja, tetapi (2) karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. (4A) Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. 


Renungan


1. Hidup seturut moral Kristiani

(1) Yohanes Pembaptis adalah seorang pribadi yang kuat dalam hal keutamaan-keutamaan. Orang kudus ini tidak takut untuk berkonfrontasi dengan orang-orang yang berkuasa, yang memang mempunyai kesalahan-kesalahan. Dia berdiri tegak membela apa yang dipercayainya tanpa mempedulikan segala konsekuensinya. 

(2) Herodes adalah seorang pribadi yang lemah. Pada titik puncak nafsu badaniah dan kenikmatannya, menjadi tidak bijak. Dia bagaikan buluh yang mudah digoyang ke kanan dan ke kiri oleh tiupan angin duniawi, dia tidak mau mendengar suara hatinya dengan baik. 

Dunia senantiasa berupaya untuk menggoncang para murid Kristus ke sana ke mari. Hidup seturut moral Kristiani yang sejati sungguh menjadi sangat tidak populer. Hanya yang kuatlah yang akan bertahan hidup seturut ajaran-ajaran Kristus. Namun kita tidak boleh berputus asa karena kelemahan kita. Bukankah Roh Kudus selalu menyertai kita bila kita hidup dalam kebenaran. 


2. Suara kebenaran

(3) Suara kebenaran akan tetap menggema dan tidak pernah hilang. Kemegahan dan kegembiraan sebuah pesta akan menjadi dukacita bila suara kebenaran tidak dituruti.

(4AB) Sekalipun musuhnya sudah mati, Herodes masih tetap curiga dan penuh ketakutan dalam hidupnya.

Kabar tentang Yesus adalah kabar tentang kebenaran. Namun, kadang kabar tentang kebenaran itu menjadi beban bagi kita karena rupa-rupa kepentingan pribadi kita.

Suara hati selalu dan senantiasa bergema dalam pribadi manusia. Lantas maukah kita mendengarkan suara kebenaran itu?





Siapa yang benar?


Alkisah, hidup seorang guru yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Suatu hari, 2 muridnya menghadap guru, mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. 


Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7. Murid pandai mengatakan hasilnya 21. Murid bodoh bersikukuh hasilnya 27. Murid bodoh menantang murid pandai supaya gurunya menilai siapa yang benar diantara mereka.

Murid bodoh mengatakan: Jika saya yang benar 3 x 7= 27, maka km harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri. Haaaaaa…hhaa..” Demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya.

“Katakan guru, mana yang benar?” Tanya murid bodoh. Ternyata guru memvonis cambuk 10 x bagi murid yang pandai (yang menjawab 21).

Murid pandai protes, tapi gurunya menjawab: Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk ketidak-arifanmu karena berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalo 3×7 adalah 21.

Guru melanjutkan: Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif dari pada guru harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia.

Pesan Moral :

Hindari berdebat dengan orang yang tidak menguasai permasalahan dan ilmu, sebab bila mental kita masih lemah maka hanya emosi dan permusuhan yang didapat.

Berdebat/bertengkar untuk sesuatu yang tidak perlu diperebutkan kebenarannya hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya kita diam untuk menghindari/mengakhiri perdebatan yang tidak perlu. Diam bukan berarti kalah, menang juga bukan hal yang luar biasa apalagi menang lawan orang bodoh.

Pemenang sejati adalah orang yang mampu menaklukkan egonya sendiri.


Damai itu indah … Setiap orang mendambakan kedamaian hidup.
Sebelum berdamai dengan orang lain, sebaiknya berdamailah dulu dengan diri sendiri.

Damai dan rukun itu indah. 

Kamis, 02 Agustus 2018

21.22 -

Mat 13:47-53

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 2 Agustus 2018: Hari Biasa XVII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yer 18:1-6; Mzm 146:2abc, 2d-4, 5-6; Mat 13:47-53

Kamis, 1 Agustus 2019: PW St. Alfonsus Maria de Liquori, Uskup Pujangga Gereja - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Kel 40:16-21, 34-38; Mzm 84:3, 4, 5-6a, 8a, 11; Mat 13:47-53; RUybs)


"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu (*) seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.

Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.


Renungan


1. Mau dibentuk-Nya menjadi bejana yang indah

Akhir zaman menjadi pembicaraan berbagai agama. Ada juga peramal-peramal hari kiamat. Tetapi tak ada yang tahu kapan saatnya (Mrk 13:32), tak ada yang terbukti ramalannya.

Akibat dari pengaruh dunia, kita ini seperti periuk rusak (Yer 18:1-6). Untuk itu, kita perlu memohon pertolongan Tuhan (Mzm 146:5) agar kita dibentuk-Nya menjadi bejana yang indah sehingga tidak dicampakkan ke dalam dapur api pada saat malaikat memisahkan orang jahat dari orang benar.


2. Pukat - panggilan Allah untuk bersatu dengan-Nya

Perumpamaan itu digunakan oleh Yesus supaya orang-orang yang hidup pada zaman-Nya mengerti maksud ajaran-Nya. Dalam perumpamaan itu, lautan dapat diartikan sebagai dunia, ikan-ikan adalah manusia-manusia. Mereka yang mengumpulkan ikan adalah para malaikat.

Pukat adalah panggilan Allah untuk bersatu dengan-Nya. Allah memanggil manusia untuk bersatu dengan-Nya dalam diri Yesus Kristus sendiri. Yesus telah diutus ke dunia untuk memanggil siapa saja, supaya manusia bisa hidup dalam suasana Kerajaan Allah. 

Yesus Kristus datang ke dunia untuk mempersatukan kembali kita dengan Bapa. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk bersatu dan percaya akan karya Kristus itu. Kepercayaan kepada-Nya akan menuntun kita menjadi orang-orang yang baik dan bisa hidup di dalam kerajaan-Nya.

Untuk bersatu dengan-Nya manusia harus meninggalkan segala perbuatan yang buruk dan mengarahkan diri pada perbuatan-perbuatan yang baik, yang sesuai dengan panggilan dan kehendak Allah. Ketika kita mau bersekutu dengan panggilan dan kehendak Allah, kita akan berbahagia dalam Kerajaan Allah.

20.51 -

Mat 13:54-58

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 3 Agustus 2018: Hari Biasa XVII - Tahun B/II (Hijau) 
Bacaan: Yer 26:1-9; Mzm 69:5, 8-10, 14; Mat 13:54-58

Jumat, 2 Agustus 2019: Hari Biasa XVII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Im 23:1, 4-11, 15-16, 27, 34b-37; Mzm 81:3-4, 5-6ab, 10-11ab; Mat 13:54-58


Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?

(*) Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?"

Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.


Renungan


1. Dibutuhkan kebesaran jiwa

(*) Kelemahan manusia untuk dapat mengenal karya Allah melalui orang dekat, yaitu manusia kurang dapat memberi penilaian obyektif mengenai kebenaran yang dialaminya.

Sebagai orang beriman hendaknya kita memiliki kerendahan hati untuk dapat menerima kebenaran obyektif sebagai karya Allah entah siapapun orangnya. Bisa jadi Allah berkarya melalui anak kita, murid kita, sahabat dekat kita, juga melalui orang-orang yang kurang kita sukai.

Yang penting kita dapat melihat buah-buah hidup yang disampaikannya, bukan melihat siapanya; yang penting yang disampaikan, bukan siapa orangnya. Untuk bisa mengagumi dan mengakui kelebihan orang yang biasa dekat dengan kita dibutuhkan kebesaran jiwa.


2. Melepas kesombongan

(*) Pertanyaan inilah yang membawa mereka pada kebutaan iman dan telah menutup mata hati mereka pada Yesus. Pertanyaan ini mengandung keraguan-keraguan dan ketidak percayaan, bahwa anak seorang tukang kayu mempunyai hikmat seperti itu.

Mengapa keraguan-keraguan dan ketidak percayaan muncul di hati mereka? Mungkin mereka iri akan hikmat yang didapat Yesus. Merasa sombong akan apa yang mereka miliki.

Kesombongan menjadi gerbang masuknya iri hati, dengki, benci yang menutup mata hati terhadap kebenaran.

Marilah kita selalu peka dan terbuka pada kehadiran Allah dengan melepas kesombongan kita yang menjadi gerbang munculnya penolakan terhadap kebenaran.

Melepas kesombongan berarti membiarkan Allah berkarya dalam diri kita, hidup kita pun menjadi "tanda" kehadiran Allah dan kesaksian hidup kita menjadi mujizat yang mampu menyentuh hati sesama.

18.30 -

Pertobatan sepanjang masa

Sebagian besar isi Kitab Suci, baik dalam PL maupun PB adalah seruan Tuhan agar manusia bertobat (Yl 2:12-14, 32 - Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu ... Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat. Setiap orang yang dipanggil Tuhan akan termasuk orang-orang yang terlepas). 



Karena anak-anak dilahirkan dengan kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam Pembaptisan (DS 1514), supaya dibebaskan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah (Kol 1:12-14), ke mana semua manusia dipanggil (KGK 1250). 



Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dan Sabda. Sakramen ini juga dinamakan "permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk "saat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Yoh 3:5) 



"Pembaptisan ini dinamakan penerangan, karena siapa yang menerima pelajaran (katekese) ini, diterangi oleh Roh" (Yustinus, apol. 1, 61, 12). Karena di dalam Pembaptisan ia telah menerima Sabda, "terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang (Yoh 1:9), maka orang yang dibaptis itu, setelah "menerima terang" (Ibr 10:32) menjadi putera "terang" (1 Tes 5:5), ya malah menjadi "terang" itu sendiri (Ef 5:8) (KGK 1213-1216). 



Pembaptisan tidak hanya membersihkah dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu "ciptaan baru" (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7); ia "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (1 Kor 6:15),"ahli waris" bersama Dia (Rm 8:17) dan kanisah Roh Kudus (1 Kor 6:19) (KGK 1265). 



Tritunggal Mahakudus menganugerahkan kepada yang dibaptis rahmat pengudusan, rahmat pembenaran, yang 

- menyanggupkan dia oleh kebajikan-kebajikan ilahi, supaya percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya. 

- menyanggupkan dia oleh anugerah-anugerah Roh Kudus, supaya hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus. 

- menyanggupkan dia oleh kebajikan-kebajikan susila, supaya bertumbuh dalam kebaikan. 

Dengan demikian, berakarlah seluruh organisme kehidupan adikodrati seorang Kristen di dalam Pembaptisan kudus (KGK 1266). Jadi, pembaptisan adalah sumber kehidupan baru dalam Kristus, yang darinya seluruh kehidupan Kristen mengalir (KGK 1254). 



Pembaptisan tidak membuat kita steril terhadap godaan hidup (pencobaan) karena dosa terus-menerus membayangi hidup manusia. Hal itu terjadi karena dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya (KGK 215). 



Pembaptisan memberi kepada yang dibaptis rahmat pemurnian dari segala dosa. Tetapi selanjutnya orang yang dibaptis itu harus berjuang melawan keinginan daging dan hawa nafsu yang tidak teratur. 



Dengan rahmat Allah ia mampu untuk itu: 

- oleh kebajikan dan anugerah kemurniaan, karena kemurniaan memungkinkan untuk mencintai dengan hati yang jujur dan tidak terbagi; 

- oleh maksud yang jujur, yang melihat tujuan manusia yang sebenarnya, karena yang sudah dibaptis mencari dengan mata yang bersahaja untuk mengetahui dan memenuhi kehendak Allah (Tit 1:15; 1 Tim 1:3-4; 2 Tim 2:23-26) di dalam segala-galanya. 

- Dengan cara melihat yang jujur secara lahir-batin, oleh pengendalian perasaan dan fantasi, oleh penolakan setiap kepuasan akan pikiran yang tidak senonoh, yang menyesatkan dari jalan hukum-hukum ilahi: “Pemandangan merangsang hawa nafsu pada orang bodoh” (Keb 15:5); 

- oleh doa: “Dulu aku sangka bahwa pantang adalah masalah kekuatan pribadi ... karena dalam kebodohanku aku tidak tahu apa yang tertulis: bahwa tidak ada seorang pun dapat berpantang, kecuali Tuhan memberikan itu kepadanya. Engkau rela menganugerahkan itu kepadaku, kalau andaikata aku dengan kerinduan batin menyerang telinga-Mu dan dengan kepercayaan yang kokoh menyerahkan kepentingan saya kepada-Mu” (Agustinus, conf. 6, 11, 20) (KGK2520). 



Hati manusia itu lamban dan keras. Allah harus memberi kepada manusia satu hati baru (Yeh 36:26-27). Pertobatan itu pertama-tama adalah karya rahmat Allah, yang membalikkan hati kita kembali kepada-Nya: "Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali" (Rat 5:21). Allah memberi kita kekuatan untuk mulai baru. 



Kalau hati kita menemukan kebesaran dan cinta Allah, ia akan diguncangkan oleh kejijikan akan dosa dan oleh beban yang disebabkan dosa. Ia mulai merasa takut, untuk mempermalukan Allah dengan dosa dan dengan demikian dipisahkan dari-Nya. Hati manusia bertobat, apabila ia melihat kepada Dia yang ditebusi dosa-dosa kita (Yoh 19:37; Za 12:10) (KGK 1432). 



Pertobatan jiwa diiringi kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan "animi cruciatus" (kesedihan jiwa), "compunctio cordis" (penyesalan hati) (Konsili Trente: DS 1676-1678; Catech. R. 2, 5, 4) (KGK 1431). 



Pertobatan membawa kita pada penyertaan Allah. Karena Roh Kudus "menginsyafkan" dunia akan "dosa" (Yoh 16:8-11), artinya Ia menyingkapkan bahwa dunia ini tidak percaya kepada Dia, yang diutus Bapa, Roh yang sama, yang membuka kedok dosa, adalah juga Penolong (Yoh 14:16) yang memberi rahmat penyesalan dan pertobatan kepada hati manusia (Kis 2:36-38; De V 27-48) (KGK 1433). 



Bagaimana caranya menang dalam menghadapi godaan? (baca: 3 Cara untuk menang melawan godaan dosa). 



Marilah kita belajar dari Yesus (Luk 4:1-13) 



[1-2a] Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. 



» Pembaptisan tidak membuat kita steril terhadap godaan hidup (pencobaan) karena dosa terus-menerus membayangi hidup manusia. Hal itu terjadi karena dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya (KGK 215). 



[2b-4] Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, (1) suruhlah batu ini menjadi roti." Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja." 



» Pencobaan 1: berhubungan dengan kebutuhan utama manusia, mengenai keinginan daging. Tawaran ini untuk mendapatkan segala sesuatu dengan jalan pintas, tidak perlu usaha/kerja keras. 



Ketika lapar, Yesus Kristus dicobai tentang kebutuhan manusiawi-Nya, dan tentu saja sebenarnya Yesus pasti mampu mengubah batu menjadi roti. Namun Yesus Kristus tidak tergoda untuk melakukan itu, sebaliknya Dia mengambil Firman yang tertulis dalam Ul 8:3. 



[5-8] Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. 



Kata Iblis kepada-Nya: (2) "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu." 



Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" 



» Pencobaan 2: Ambisi duniawi, mengenai nafsu untuk berkuasa dan pengakuan sosial. 



Yesus tidak berkompromi dengan kenikmatan dunia, Dia tidak tergoda akan kekayaan duniawi. Dia menolak untuk berkompromi dengan Iblis, meskipun penawaran Iblis itu kelihatan sangat menarik. 



Ambisi boleh ada tetapi tidak boleh melekat pada dunia. Memiliki kekuasaan tidak ada salahnya. Yang harus diperhatikan adalah: dari mana kuasa itu diperoleh. Jangan sampai memperoleh kuasa dunia dengan merendahkan diri di hadapan si Jahat. 



Sesungguhnya kuasa, kepercayaan, kekayaan atau apapun itu diberikan oleh Tuhan sebagai panggilan untuk melayani-Nya dan memberi kesaksian. 



[9-12] Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, (3) jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." 



Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" 



» Pencobaan 3: membuat diri hebat di mata orang lain 



Iblis ingin menunjukkan bahwa ia pun mampu mengutip ayat-ayat Kitab Suci seperti Yesus. Dia telah memutarbalikkan firman Tuhan yang dikutipnya dari Mzm 91:11-12. 



Sudah menjadi hal yang lazim bagi para pengikut ajaran sesat dan penipu untuk memutarbalikkan makna ayat-ayat Kitab Suci dan menyalah-gunakannya. 



Iblis mencobai Kristus untuk menjadi pembunuh diri-Nya sendiri, dengan menyuruh Dia mencobai perlindungan Bapa-Nya (yang sebenarnya tidak pernah menjamin perlindungan dengan cara seperti itu).. 



Dalam ketaatan-Nya kepada Roh, Yesus tidak tergoda untuk mencobai Allah. Yesus Kristus dapat mengatasi pencobaan karena menggantungkan diri pada janji-janji Bapa semata. Dia tak henti-hentinya menggunakan firman Allah sebagai pedang Roh (Ef 6:17) untuk mematahkan setiap tipu muslihat Iblis. 



[13] Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. 



» Tiga kali Iblis menggoda, dan dia tidak berhasil oleh karena Yesus Kristus tetap pada pendirian-Nya yaitu setia pada panggilan-Nya. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 8 Maret 2018, Dra Yovita Baskoro, MM).