Selasa, 20 November 2018

14.22 -

Bagaimana Allah dapat ditemukan?




Allah dapat ditemukan hanya jika Dia menunjukkan diri-Nya sendiri kepada kita atau mewahyukan diri-Nya sendiri kepada kita. Pada hakikatnya kita tahu sesuatu tentang Allah dan bisa mengetahui Allah itu ada, tetapi seperti apa sesungguhnya Allah, bagaimana pikiran dan rencana-rencana-Nya, itu semua tetap gelap bagi akal kita. 

Maka, Allah sendiri harus menunjukkan kepada kita siapa Dia sebenarnya. Ia melakukannya tidak mengirimi kita gagasan, buku, atau sistem politik, melainkan dengan menjadi manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah menyatakan diri sepenuhnya secara penuh dan tuntas: Allah menjadi manusia supaya manusia mengenal siapa Allah. Yesus adalah ‘bahasa’ Allah. 

(Sumber: Docat 9).

Senin, 19 November 2018

Nasehat Penguasaan Diri




Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita menggunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat. Ia menjamin penguasaan kehendak atas kecenderungan dan menjaga keinginan dalam batas-batas yang patut dihormati (KGK 1809). 

Pribadi yang memiliki penguasaan diri mengarahkan kehendak inderawinya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan berpikirnya secara sehat untuk menilai, dan berani mengatakancukup” (Sir 5:2). Sebagaimana sabda Tuhan, “Orang yang mampu menguasai dirinya akan “menjalani hidup yang bijaksana, adil dan beribadah di dunia ini” (Tit 2:12) (KGK 1809). 

Kebajikan penguasaan diri menjauhkan segala bentuk keterlaluan: tiap bentuk makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan yang berlebihan. Siapa yang dalam keadaan mabuk atau dengan kecepatan tinggi membahayakan keamanan orang lain dan keamanannya sendiri di jalan, di air, atau di udara, membuat dosa besar (KGK 2290). 

Dari kemampuan untuk menguasai diri bisa muncul 2 aspek penting menyangkut perasaan, yakni: 

1. perasaan malu, membuat orang takut merasa malu, cemar atau aib atas kelakuan/tindakan yang tak terkendali. Perasaan ini menghindarkan orang dari tindakan yang tak terkendali. 

2. perasaan terhormat, menyebabkan orang ingin memiliki perasaan dihargai, dihormati atau dikasihi karena mengamalkan penguasaan diri. Perasaan ini mengilhami orang untuk bertindak dengan penguasaan diri. 

Buah-buah kebaikan yang tampak dalam keutamaan ini meliputi pantang, laku tapa, ugahari (kesederhanaan), murni, pengendalikan nafsu, rendah hati, lemah-lembut, belas kasihan, sopan dan murah hati. Sebaliknya, lawan dari penguasaan diri misalnya rakus, mabuk, berfoya-foya, ketidakmurnian, mengumbar nafsu, congkak, murka dan tamak. 

Marilah kita belajar dari Yakobus 4:1-10 

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang (B5) saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu (B4) iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. 

Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu (B3) tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu

Hai kamu, orang-orang yang (B1) tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. 

Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: (C) "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" 

Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: (B2) "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 

Karena itu (A1) tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (A2) Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. (A3) Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 

(D) Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. (E) Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. 

Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah 

Surat Yakobus adalah sebuah contoh Surat Pastoral, yang ditulis seorang gembala bagi umatnya. Surat ini berisi nasehat dan ajakan tentang perilaku ideal sebagai perwujudan iman kristiani. Nasehat itu amatlah penting bagi jemaat yang hidup dalam suasana dan lingkungan budaya Yunani (Hellenis). 

Berkat Sakramen Baptis, kita menjadi anak angkat Allah (Gal 4:5-7) dan diberi rahmat pengudusan dan rahmat pembenaran supaya hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus (KGK 1265-1266). Berkat dorongan Roh Kudus, kita diberi kerinduan untuk berdoa dan membaca Kitab Suci (Firman itu adalah Allah - Yoh 1:1). 

Doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; Kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (Ambrosius, KGK 2653). 

Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:15-17). 

Ciri-ciri sahabat Allah

(A1) Tunduk kepada Allah. Kata tunduk dalam bahasa Yunani adalah “Adore”, artinya menyembah. Jadi, ada sikap kekaguman dan penyembahan serta hormat kepada Tuhan. Untuk lebih lagi menjadi sahabat Allah, kita harus menyadari posisi kita di hadapan Allah, dengan kata lain, kita harus mengadakan penyerahan diri secara total kepada Allah (Mrk 14:36; Doa Bapa Kami – Jadilah kehendak-Mu). Tunduk lebih dari sekadar ketaatan. Untuk tunduk diperlukan kerendahan hati

Jadi, Iblis, musuh Allah itu, harus dilawan. Apabila dilawan, ia akan lari dari padamu. Ini merupakan langkah penting untuk menghindari dosa keduniawian

(A2) Mendekatkan diri kepada Allah. Tidaklah mudah seseorang untuk mendekatkan diri kepada seorang sahabatnya. Mereka pasti mengorbankan waktu, tenaga, materi, perhatian dan lain sebagainya untuk berjumpa dengan seorang sahabatnya. 

Demikian pula kepada Allah, Allah merindukan sahabat-sahabat-Nya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara merendahkan hati tanpa ada unsur kesombongan di hadapan-Nya. 

Jika kita sungguh mengenal diri kita sendiri (menyadari kerapuhan, kekecilan dan ketidakberdayaan diri sendiri dan kepada kecenderungan-kecenderungan kepada yang jahat), kita akan sungguh menjadi rendah hati dan kerendahan hati yang sejati adalah buah dari cinta kasih (1 Kor 13:4-7). 

Kerendahan sejati yang sejati diperoleh melalui pengalaman kasih Allah (St. Teresa Avila). Tuhan memberikan kasih-Nya, Dia sekaligus menyinari kita dengan rahmat-Nya. Jadi, kita harus hidup di hadirat Allah agar memperoleh kerendahan hati

(A3) Memiliki kesucian hidup (Mat 5:8 - Orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah). Dengan adanya kesucian hidup maka mereka akan mengalami perjumpaan yang dahsyat dengan sahabat-Nya. 

Allah memesankan kepada sahabat-sahabat-Nya agar mereka suci hatinya (tidak mendua hati ketika mendekatkan diri kepada Allah) dan tangannya (apapun yang dikerjakan oleh tangan mereka harus bersih tanpa ada unsur dosa). 

Orang Kristen yang masih dikuasai oleh keinginan dan kesenangan adalah sahabat dunia dan musuh Allah. Keinginan adalah akar dari segala godaan (Yak 1:14-15). 

Kata “keinginan” dapat berarti setiap bentuk keinginan kuat manusia. Teologi Katolik mengartikannya dengan satu daya perasaan berahi yang kuat, yang melawan pikiran manusia (Gal 5:16-17, 24; Ef 2:3 – pemberontakandagingmelawanroh”. Ia mengganggu tata kekuatan manusia yang susila dan cenderung untuk melakukan dosa (KGK 2514-2515). 

Santo Yohanes membedakan tiga macam hawa nafsu atau keinginan: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). 

Perbuatan daging, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal 5:19-21). 

Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Rm 8:6-13; 1 Sam 2:11-17; Hak 16:4-31). 

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal 5:24). 

Mata memungkinkan kita untuk menikmati banyak hal secara visual, tetapi bila tidak dijaga, mata bisa mendatangkan keinginan-keinginan yang bisa menjadi pintu masuk bagi dosa-dosa untuk mencengkram dan menjerumuskan kita (2 Sam 11; 1 Raj 21). 

Berdoalah seperti pemazmur: “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan.” (Mzm 119:37). 

Ada banyak dosa mengintip dari keangkuhan hidup (kesombongan). Tidak ada tempat untuk kesombongan dalam kasih (1 Kor 13:4). 

Ciri-ciri sahabat dunia: tidak setia (B1); sombong (B2); akibat dari hawa nafsu/keinginan, ada konflik (B3-B5). 

Ada konflik dengan Allah (B3): berdoa » tidak menerima apa-apa, karena salah berdoa sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu; tidak berdoa » tidak memperoleh apa-apa. 

Ada konflik antara diri kita dengan orang lain (B4): iri hati » tidak mencapai tujuan » bertengkar dan berkelahi; mengingini sesuatu » tidak memperolehnya » membunuh. Semua itu datangnya dari hawa nafsu. Keinginan manusia sering kali berlebihan hingga dapat membawa pada kejahatan yang lebih serius. 

Ada konflik dalam diri kita (B5): hawa nafsu saling berjuang di dalam tubuh. 

(C) Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya dan menerimanya dalam persahabatan-Nya. Manusia diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya (KGK 396, 358). 

Manusia dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Allah, dengan bertingkah laku sesuai dengan kenyataan bahwa ia diciptakan “menurut citra Allah” dan serupa dengan Allah (KGK 2085). 

Manusia memiliki roh dari Allah yang bersifat kekal. Iblis menawarkan dunia untuk memutuskan rantai persahabatan dengan Tuhan. Karena itulah Tuhan cemburu kepada dunia sedemikian rupa karena Dia menghendaki roh manusia yang kekal itu kembali kepada-Nya (Pkh 12:7). 

(D) Inilah panggilan bagi pertobatan, ketika berhadapan dengan dosa serius, "sadarilah betapa celaka dirimu" (Rm. 7:24). Dengan tetap gembira, menganggap enteng keadaan dunia sekeliling, padahal tahu bahwa dirinya berdosa. “Dukacita” ungkapan keadaan tertekan dari orang-orang yang malu dan menyesal. (E) Nasihat ini disertai dengan janji bahwa Allah akan meninggikan orang yang rendah hati. 

Kedewasaan adalah sebuah proses berkelanjutan. Demikian halnya dengan kedewasaan iman adalah sebuah proses pertobatan yang tidak berhenti hanya pada peristiwa pembaptisan melainkan proses sepanjang hidup

Orang Kristiani dipanggil untuk menjadi sahabat Allah, harus selalu memilih Allah dengan cara membuka hati agar rahmat Allah semakin menguasai dirinya. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 27 September 2018, Ibu Emmy).

05.49 -

Doa sebagai sumber keberanian



Keberanian adalah keutamaanm moral yang membuat seseorang tabah dalam kesulitan dan tekun dalam mengejar yang baik. Ia meneguhkan kebulatan tekad, supaya melawan godaan dan supaya mengatasi halangan-halangan dalam kehidupan moral. 

Kebajikan keberanian memungkinkan untuk mengalahkan ketakutan, juga ketakutan terhadap kematian dan untuk menghadapi segala pencobaan dan penghambatan. Ia juga membuat orang rela untuk mengurbankan kehidupan sendiri bagi hal yang benar (KGK 1808). Ketabahan dan ketekunan ini adalah cerminan keterpautan jiwa pada apa yang baik. 

Keberanian menciptakan keseimbangan (ketenangan) pribadi dalam menghadapi bahaya. Memiliki keberanian tidak berarti bahwa orang bebas dari rasa takut. Sebaliknya, seorang yang memiliki keberanian mengenal rasa takut, tetapi tidak membiarkan rasa takut itu mencegahnya dari melakukan apa yang baik

Berusaha menghindar dari penderitaan, memang sangat manusiawi. Namun kerelaan mengambil bagian dalam penderitaan adalah ciri pengikut Kristus yang sejati. Sebagai wujud kedewasaan iman, tindakan tertinggi dari keberanian adalah kemartiran (KGK 2473). 

Buah-buah kebaikan yang berakar keutamaan keberanian tampak pada keluhuran budi, yang membuat orang cenderung untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik sebesar mungkin; kebaikan hati, sebagai kecenderungan untuk berbagi kebaikan dengan orang lain; kesabaran, yang memampukan orang menghadapi kejahatan-kejahatan yang ada; dan ketekunan, yang membuat orang terus berdiri tegak dalam mengejar kebajikan

Sedangkan lawan dari keberanian bisa muncul dalam sikap takut, ceroboh, prasangka, ambisi, pongah, pengecut, labil dan bebal

Sumber sejati keutamaan keberanian, yakni Allah sendiri. Melalui doa, sebagaimana pengalaman bangsa Israel, kita diajak untuk berani percaya kepada Allah

Marilah kita belajar dari Mazmur 27:1-14

Mazmur adalah sebuah doa, sebuah ungkapan kepercayaan kepada Tuhan yang diyakini senantiasa memperhatikan umat-Nya. Mazmur berasal dari sejarah kehidupan dan ekspresi bangsa Ibrani, yang diterima sebagai doa Gereja (Baca juga: Ibadat Harian) dan dibuat untuk menaikkan pujian kepada mempelai-Nya sepanjang sejarah Gereja hingga kini. 

Mazmur merupakan doa yang terarah kepada Tuhan karena ditulis oleh orang yang beriman/percaya kepada-Nya, yang mencari Dia sepanjang kehidupan nyata. Mazmur merupakan doa yang sejati dan manusiawi yang mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan dasar jiwa (iman, sukacita, ketakutan, kemenangan dan kekalahan, pemberontakan dan kesetiaan, serta keluhan dan pujian). 

Bagi bangsa Israel, doa yang didasari kepercayaan kepada Allah sekaligus adalah bentuk kesaksian. Kesaksian pemazmur adalah sebuah ajakan implisit untuk meneladani sikap yang sama. 

[1-3] Dari Daud. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? 

Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya

» Ungkapan kepercayaan. Pemazmur merindukan bersekutu dengan Tuhan sambil menyaksikan dan menikmati berada dekat Tuhan. Berkaca dari pengalaman sejarah masa lampau bangsanya, pemazmur tetap yakin akan perlindungan Tuhan. 

Kepercayaan kepada Allah sebagai sumber keberanian untuk menjalankan kehendak Bapa, tabah dalam kesulitan dan tekun dalam mengejar yang baik. 

[4-6] Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: (A) diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya

Sebab (B) Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. 

Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya (C) aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan. 

» Alasan untuk percaya. Berkat kesaksian akan tindakan penyelamatan Tuhan, imannya diteguhkan. 

(A) Pemazmur merindukan bersekutu dengan Tuhan sambil menyaksikan dan menikmati berada dekat-Nya. Bersama-Nya, dia merasa aman dan nyaman, merindukan kehadiran-Nya dalam segala aspek kehidupannya. 

(B) Semakin mendekat kepada Tuhan semakin dia beroleh kekuatan dan mampu tegak berdiri di atas segala persoalan, karena Tuhan adalah perlindungannya! Hidup dalam ketaatan adalah kunci untuk beroleh perlindungan dari Tuhan (Mzm 5:12). 

(C) Segala kebaikan itu ditanggapi dengan ucapan syukur. 

[7-10] Dengarlah, Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan. 

Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku! Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku. 

» Seruan permohonan. Bangsa Israel kerap didera pelbagai penderitaan, tetapi mereka percaya bahwa bersama Allah mereka tak perlu merasa takut. Situasi pemazmur sangat berbeda dari apa yang diyakininya, mengalami krisis yang mengguncang iman. Dalam ketakutannya, dia minta tolong, mencari wajah Tuhan, berseru penuh kepercayaan, dan mengharapkan pertolongan-Nya. 

[11-13] (D) Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku. Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman. Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! 

» Inti permohonan dan kepercayaan. Ketakutan pemazmur ditepis dengan kepercayaan kepada Tuhan, sekali pun bahaya belumlah lewat, dia berani mengandalkan Tuhan. 

(D) Tidak mudah untuk hidup benar di dunia ini karena iblis (“seteruku”) senantiasa menghalangi. Syukur kepada Allah karena Tuhan akan menunjukkan jalan-Nya dan akan menuntun kita (Rm 7:25). Bersama-Nya, kita akan mampu hidup benar karenafirman-Nya adalah kebenaran” (Yoh 17:17); hidup di luar firman perlu diragukan! (Rm 10:2-3). 

[14] Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan. 

» ajakan untuk tetap percaya. Tekun dalam menanti-nantikan Tuhan akan membawa kita menyaksikan pertolongan-Nya yang ajaib. 

Doa menjadi sumber keberanian untuk menghadapi kehidupan dan segala persoalannya. Mazmur membawa kita ke alam iman, membuat kita berani untuk berdoa apa adanya kepada Tuhan, sahabat sejati kita. Sharing inilah yang memberi kekuatan pada jiwa kita untuk melangkah maju walaupun berada di tengah badai

(1) Pada suatu hari saya berjalan-jalan ke kebun binatang bersama anak-anak saya. Dengan gembira saya memperkenalkan nama-nama binatang yang ada di sana meskipun mungkin anak kedua saya tidak mengerti dengan perkataan saya. 

Pada saat berjumpa dengan rombongan ibu-ibu, tiba-tiba saya mendengar salah satu ibu tersebut berkata kepada teman-temannya: “Minggir! Ada wong ayu lewat tapi anaknya yang satu kece dan yang satu ngiler.” 

Mendengar perkataan itu hati saya sangat sedih, namun saya teringat teladan Yesus untuk mengampuninya. Sebagai pengikut-Nya saya berdoa: “Ya Bapa, ampunilah dia, sebab dia tidak tahu apa yang dikatakannya.” (Luk 23:34). 

(2) Pada suatu hari saya menghadiri pertemuan PDKK, ada seorang ibu yang menyapa saya dengan mengatakan: “Bu, kok sudah lama nggak datang. Datanglah terus ikut doa dan pujian, biar wajahnya ada roh-Nya.” Pikir saya, kalau tidak ada roh-Nya berarti saya sudah mati. 

Mendengar perkataan ibu tersebut, sebagai pengikut Kristus saya belajar untuk tidak membela diri tetapi saya belajar untuk mendoakannya. Dia tidak tahu bahwa saat itu saya bekerja di Bali dan saya tidak pernah meninggalkan persekutuan dengan-Nya. 

Dari kedua kejadian ini, saya mengetahui bahwa setiap hari kita hidup dalam peperangan rohani. Sikap hati kita akan menentukan hidup kita. Jadi, jika melihat atau mendengar “sesuatu yang salah” (something wrong), tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, janganlah kita marah tetapi doakanlah karena sesungguhnya mereka tidak sadar telah dijerat dan diikat oleh Iblis pada kehendaknya (2 Tim 2:26). Siapa tahu mereka akan bertobat seperti Santo Longinus (prajurit Roma yang menikam lambung Yesus). 

(3) Pada suatu hari saya ke RKZ untuk melayani doa buat mama mertua teman saya. Sesampainya di sana saya tidak berjumpa dengan teman saya. Meskipun demikian, saya tetap melayani doa di sana. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyapa mama mertua teman saya dengan tersenyum manis (senyum injili). Lalu saya sharing kehidupan. 

Sharing iman sangat penting dalam kehidupan rohani kita, (1) Iblis akan lari terbirit-birit - Why 12:10-11 (2) mempunyai daya kekuatan untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah (KGK 2044). 

Sesudah itu saya tawari ibu tersebut untuk di doakan. Dia mau didoakan meskipun bukan beragama Katolik. Pada saat pujian dan doa dinaikkan, dia meneteskan air mata. Diakhir kunjungan, saya menawarkan padanya: “Ibu, apakah ibu mau menjadi Katolik?” Dia bersedia. 

Jadi, kewajiban pengikut Kristus adalah menjadi surat Kristus (2 Kor 3:3) dengan cara menyapa setiap orang yang dijumpai dengan senyum injili dan jika mereka tidak mempunyai agama yang dianutnya, bersaksilah bahwa Yesus adalah Juruslamat dunia. Dengan cara ini kita telah menyelamatkan jiwanya. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 20 September 2018, Ibu Phang).

05.37 -

Kemurahan hati pangkal keadilan



Keadilan sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka (KGK 1807). 

Buah-buah keadilan: bakti (hormat dan pelayanan kepada orang tua, negara dan mereka yang ada dalam otoritas yang sah), taat, tahu berterimah kasih, tulus, ramah-tamah, dan tidak sewenang-wenang. 

Marilah kita belajar dari Matius 20:1-16

[1-7] "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia (1B) sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. 

Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan (2) apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. 

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku (3 - tidak menjanjikan berapa besar upah yang akan diberikan). 

» Allah diumpamakan sebagai tuan pemilik kebun anggur. Dengan demikian, sistem pembayaran dalam perumpamaan ini mencerminkan nilai-nilai dari Kerajaan Allah

Pada saat Panen Raya sangat dibutuhkan banyak pekerja untuk memanen anggur agar kualitas anggur tidak akan menurun ketika dipanen. 

Pada jaman Yesus, amat lazim seorang pemilik kebun anggur mencari para pekerja di pasar, yaitu tempat di mana mereka menunggu pekerjaan dari tuan/majikan yang membutuhkan tenaga mereka. Upah satu dinar merupakan jumlah standar di masa itu untuk pekerja kasar yang bekerja selama satu hari

[8-16] Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar

Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka (4) bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: (1A) Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 

Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. (1C) Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (5) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? 

Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." 

» Alkitab mengatakan bahwa “Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan (Mzm 11:7), senang kepada keadilan (Mzm 33:5), mencela umat-Nya yang hidup mengabaikan keadilan (Luk 11:42), bahkan memerintahkan umat-Nya untuk mengejar keadilan (1 Tim.6:11)” 

Namun di mana letak ketidakadilannya? Bukankah adil itu berarti berpegang pada kebenaran? Bukankah adil itu berarti memberikan apa yang menjadi hak orang lain? Tuan itu tetap berpegang pada kebenaran. Tuan itu telah memberikan apa yang menjadi hak para pekerja itu, yaitu satu dinar. 

Para pekerja yang datang paling akhir justru mendapat giliran pertama untuk menerima upah. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan hanya mengandalkan kemurahan hati si pemilik kebun (1 Kor 13:4; Rm 9:15). Mereka tahu bahwa upah mereka sangat sedikit, jika dihitung menurut jam kerja, mereka hanya mendapat 1/12 dinar saja. Bagi mereka yang miskin, jumlah itu amat berarti daripada pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. 

Betapa gembiranya para pekerja yang bekerja hanya satu jam itu ketika mereka dibayar satu dinar (2 Kor 9:11). Karena pekerjaan mereka dihitung seolah-olah bekerja sehari penuh. 

Berita ini tentu saja tersebar cepat kepada pekerja-pekerja yang lain. Mereka mendengar itu sebagai kabar baik yang tak terduga. Apalagi bagi para pekerja yang masuk sejak pagi hari. Namun, pada saat pembayaran tiba, ternyata mereka hanya menerima satu dinar. Tidak lebih, tidak kurang. 

Jikalau kita pikir dengan akal sehat, sunggut-sungut para pekerja tersebut adalah normal (4). Mereka berpikir bahwa jika mereka yang hanya bekerja satu jam saja mendapat satu dinar, tentu mereka yang bekerja 12 jam akan mendapat 12 dinar. Cara pembayaran tuan dalam perumpamaan itu sungguh tidak adil. Itulah sebabnya, kita bisa mengerti perasaan para pekerja 12 jam. 

Pemilik kebun menegaskan bahwa ia tidak melakukan kesalahan atau pelanggaran hukum apa pun, ia telah bertindak sangat adil terhadap pekerja karena ia melakukan semua itu sesuai perjanjian yang sudah dibuat bersama (1ABC, 2, 3). 

Reaksi para pekerja itu menggambarkan pandangan mereka terhadap sesama. Mereka memandang sesama tanpa kemurahan hati. Mata mereka penuh dengan keserakahan akan uang sehingga mereka iri ketika melihat orang lain mendapat lebih dari apa yang mereka terima. Sebenarnya mereka tidak puas bukan karena diperlakukan tidak adil, tetapi karena sikap hati mereka yang tidak benar telah dikuasai oleh iri hati

Lebih dari adil, tuan ini juga murah hati (5). Keadilan yang ber-pangkal dari kemurahan hati ditunjukkannya dengan memberi kesempatan kerja kepada semua orang. Ia bahkan membayar sama kepada orang yang mulai bekerja lebih kemudian. 

Allah memperlakukan setiap orang dengan adil. Ia nyatakan keadilan-Nya dengan melakukan dan memberikan apa yang Ia janjikan. Hal ini menunjukkan kemurahan-Nya kepada siapa pun yang bersandar pada belas kasihan-Nya. Keadilan dan kemurahan hati adalah karakter yang mendasar dalam Kerajaan Allah

Keadilan biasanya dipahami dengan sekedar melakukan apa yang sepantasnya. Di dalam Kerajaan Sorga, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan belas kasih-Nya. Keadilan Allah adalah keadilan yang bermuara pada kemurahan hati-Nya. Jadi, Allah memberi kepada manusia secara berlimpah karena Ia adalah Allah yang murah hati. 

Keadilan terhadap Allah dinamakan “kebajikan penghormatan kepada Allah” (virtus religionis). Keadilan terhadap manusia, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama. 

Manusia yang adil yang sering dibicarakan Kitab Suci menonjol karena kejujuran pikirannya dan ketepatan tingkah lakunya terhadap sesama (Im 19:15; Kol 4:1). 

Lalu, mengapa kita sering merasa diperlakukan tidak adil ketika orang lain mendapat kemurahan Allah? Bukankah seharusnya kita bersukacita bersama mereka yang bersukacita? (Rm 12:15). Allah ingin agar kita bersukacita dengan orang yang mendapat kemurahan-Nya. Bagaimana caranya? Cobalah tempatkan diri kita pada posisinya. 

Ingatlah! Kita bisa menjadi salah seorang dari warga negara Kerajaan Allah karena kemurahan Allah semata (Rm. 9:15). Kemurahan Allah tidak dapat dibeli dengan pelayanan atau dengan kesalehan kita. Anugerah ini diberikan secara cuma-cuma, alias gratis kepada setiap orang yang berdosa (1 Yoh 2:2). 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 13 September 2018, Ibu Laksmi).

Salomo – Teladan Pribadi Bijaksana

 

Kebijaksanaan adalah keutamaan pokok yangmengatur akal budi praktis dalam setiap situasi, untuk memilih kebaikan yang benar dan sarana yang tepat untuk mencapainya” (KGK 1835). 

Kebijaksanaan secara praktik membuat kita sanggup memilih sarana yang baik untuk mencapai tujuan akhir yang baik. Kebijaksanaan membimbing keputusan praktis kita secara pribadi dalam situasi konkret dan menyediakan pelaksanaan efektif ketika keputusan dicapai. 

Dengan bantuan kebijaksanaan, kita belajar dari pengalaman kita dan dengan tepat menerapkan prinsip-prinsip moral kepada situasi kehidupan nyata (KGK 1806). 

Orang bijaksana selalu mempertimbangkan, membedakan, dan akhirnya memutuskan apa yang harus dilakukan. St. Paulus mengingatkan kita agar dasar pertimbangan kita bukanlah semata-mata untuk melayani keinginan daging. Hal ini tidak berkenan kepada Allah (Rm 8:6-8). 

Lebih lagi, St. Thomas mengajak kita untuk tidak melakukan pertimbangan dengan kelicikan atau dengan taktik. Kebijaksanaan sejati tidak hanya berkaitan dengan tujuan akhir yang baik, tetapi juga sarana yang baik untuk mencapai tujuan akhir itu

Sedangkan kelicikan seringkali tampak dalam akal bulus seseorang yang lihai dalam taktik untuk menggunakan sarana apa pun demi mencapai tujuan yang diinginkan

Orang yang bijak memperhatikan langkahnya (Ams 14:15). Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa (1 Ptr 4:7). Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. 

Orang menamakan dia "auriga virtutum" [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. 

Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. 

Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atau situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan. 

Buah-buah kebijaksanaan: ketajaman cara berpikir, pertimbangan matang dalam pengambilan keputusan, kesadaran akan tujuan yang baik serta cara yang baik pula untuk mencapainya. Keutamaan ini dapat menghindarkan orang dari sikap sembrono, tidak konsisten, gegabah dalam pengambilan keputusan

Marilah kita belajar dari Salomo (1 Raj 3:16-28) 

[16-22] Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 

Kata perempuan yang satu: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan ini pun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 

Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 

Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan." 

Kata perempuan yang lain itu: "Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 

» Kasus dua perempuan sundal ini sangat rumit untuk dipecahkan karena tidak ada saksi mata atas kejadian ini. Yang ada hanya kesaksian dari diri mereka sendiri. Kasus ini membuat seluruh Israel prihatin. Itulah alasan mengapa Alkitab mencatatnya. 

Kalau di jaman sekarang, tidak sulit untuk memecahkan kasus ini. Ada test DNA yang bisa dilakukan dan ada mesin pendeteksi kebohongan. Di jamannya Salomo tidak ada. 

[23] Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." 

» Para hakim kebingungan menangani kasus yang rumit ini. Akhirnya mereka menyerahkan kepada raja untuk menghakimi. Di jaman dulu, raja merupakan mahkamah tertinggi

[24-25] Sesudah itu raja berkata: (*) "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja. Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain." 

» Salomo menangani banyak kasus. Alkitab hanya menyebut kasus ini sebagai contoh tentang hikmat Salomo dalam menghakimi. Hikmat Salomo bukanlah hikmat yang dingin tanpa perasaan tetapi sebagai langkah awal dalam memecahkan persoalan (*). 

[26] Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!" 

» Reaksi berbeda antara kedua perempuan itu. Bagi perempuan sundal yang kehilangan anaknya, bayi yang diperebutkan itu tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Kalau dibunuh, itu akan memuaskan rasa dengkinya terhadap ibu sejati dari si bayi. Lain lagi dengan ibu si bayi, ia lebih rela anak itu dipelihara oleh musuhnya, daripada harus dibunuh. 

[27] Tetapi raja menjawab, katanya: "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya." 

» Pemecahan persoalan berikutnya, Salomo memanfaatkan hubungan akrab antara ibu dan anak untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya adalah ibu kandung kepada bayi itu. Saat diuji, dia langsung bisa melihat siapa yang bohong dan siapa yang benar. 

Hikmat Salomo membongkar dinginnya hati manusia yang dibelenggu dosa. Di sisi lain, menghangatkan hati nurani dari orang yang belum kehilangan kemanusiaannya

[28] Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan

» Dari kasus ini, kita dapat melihat kelicikan dan kengerian sifat manusia. Hanya dengan mengandalkan hikmat manusia, tidak ada hakim yang bisa mengadili begitu banyak kasus-kasus yang rumit. Hikmat manusia bisa saja mengadili orang baik sebagai orang jahat

Salomo meminta hikmat dari Allah untuk mengadili umatnya, menunjukkan pada kita bahwa Salomo adalah orang yang memandang jauh ke depan

Hikmat Ilahi bukan semata-mata hikmat dengan akal budi yang rasional. Hikmat Ilahi juga menyangkut kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia yang bergumul dengan penderitaan dan juga dengan dosa

Hati hati manusia itu sangat licik. Tanpa hikmat untuk membedakan yang benar dari yang salah, bagaimana mungkin seorang raja memerintah dengan sukses? 

Orang bijaksana senantiasa mencari apa yang baik di hadapan Tuhan agar suatu hari kelak ia dapat digabungkan dalam kebajikan-Nya yang abadi di surga. 

Peraturan Tuhan memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman (Mzm 19:8). Jika engkau mendapat hikmat, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang (Ams 24:14). 

Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya (mendengarkan nasihat) berakal budi yang baik (Mzm 111:10; Ams 9:10; 13:10). hikmat ada pada orang yang rendah hati (Ams 11:2). Jadi, takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat (Ams 15:33). 

Sejak kecil Salomo dididik oleh Daud, ayahnya (Ams 4). Dia menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya (1 Raj 3:3; Mzm 5:4 - setiap pagi menghadap Tuhan). 

Karena masih muda dan belum berpengalaman, maka dia menyadari sepenuhnya bahwa pentingnya hikmat. Maka ketika Tuhan menampakkan diri dalam mimpi, hikmat yang dimintanya. 

Karena hal ini berkenan di hati Tuhan, maka diberi ganjaran: kekayaan, kehormatan dan kehidupan (1 Raj 3:1-15; Ams 22:4). 

Semakin seseorang berada di puncak, semakin kencang pula angin yang menerpanya dan semakin banyak tantangan serta cobaan menghadang

Demikian pula dengan Salomo, tidak berusaha merintangi keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidupnya (1 Raj 9:4-5; 1 Yoh 2:16), tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya (1 Raj 11: 1-13 » mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik). 

Pada waktu sudah tua, istri-istrinya itu menarik hatinya dari pada Tuhan. Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan. Akhirnya tiga kali setahun Salomo mempersembahkan korban-korban bakaran dan korban-korban keselamatan (1 Raj 9:25). 

Jadi, jangan tinggalkan Sakramen-sakramen agar pergaulan yang buruk tidak merusakkan kebiasaan baik kita (1 Kor 15:33). 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 6 September 2018, Dra Yovita Baskoro, MM).

05.25 -

Dewasa dalam iman



Setiap orang menjadi semakin tua seiring dengan pertambahan usia dalam tahun hidupnya. Namun pertambahan usia bukanlah sebuah jaminan bahwa seseorang juga otomatis akan menjadi semakin dewasa. Kedewasaan akan bertambah hanya jika yang bersangkutan sungguh mengolah hidupnya, bukan sekedar menjalaninya. 

Seperti perkembangan kedewasaan pribadi manusia, perkembangan kedewasaan iman seorang murid Kristus terjadi secara bertahap, kanak-kanak (rohani) » berkata-kata, merasa, berpikir seperti kanak-kanak; dewasa (dalam iman) » meninggalkan sifat kanak-kanak itu (1 Kor 13:11). 

Jadi, semakin orang bertumbuh dalam kedewasaan iman, maka ia akan berpikir dan bertindak sebagai orang yang dewasa dalam iman (Yak 2:17, 22 - iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna). 

Dalam hal kedewasaan iman, karakter (tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti) lazim kita sebut sebagai keutamaan/kebajikan. Lewat keutamaan itu kita dihantar semakin dekat pada tujuan iman kita, yakni Allah sendiri, Sang Kebaikan sejati. Jadi, tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah (Gregorius dari Nisa). 

Perjalanan iman seorang Kristiani diawali lewat penerimaan Sakramen Baptis. Melalui Sakramen ini, kita sudah dipilih-Nya, ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Rm 8:29), supaya kita pergi dan menghasilkan buah (keutamaan-keutamaan) dan buah kita itu tetap (Yoh 15:16). 

Buah dari sakramen ini (KGK 1266): 

1. menyanggupkan kita hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus (anugerah-anugerah Roh Kudus), 

2. menyanggupkan kita percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya (3 keutamaan teologikal/kebajikan ilahi: iman, harapan dan kasih – 1 Kor 13:13), 

3. menyanggupkan kita bertumbuh dalam kebaikan (4 keutamaan moral pokok/kebajikan manusiawi: kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri - Keb 8:7). 

Keutamaan-keutamaan Katolik ditentukan oleh Kitab Suci dan Tradisi Gereja Katolik 

[Baca juga: Bertumbuh dalam keutamaan Kristiani bersama Santo Alfonzus Liquori ; 7 Pilar dasar kehidupan Kristiani]

Seorang yang berkeutamaan adalah pribadi yang memiliki kebiasaan terus-menerus untuk melakukan kebaikan (habitus operativus boni) dengan sukarela (KGK 1804). Kebiasaan ini mengalir dari pilihan dasar (optio fundamentalis) yang benar, yakni pilihan yang luhur bertujuan untuk pemuliaan Allah dan perwujudan rencana keselamatan-Nya

Lewat kehadiran Roh-Nya, Kristus senantiasa menyertai proses kedewasaan iman kita. anugerah penyertaan Roh Kudus inilah yang kita terima dalam Sakramen Krisma

Buah dari sakramen ini (KGK 1302-1303): menghasilkan pertumbuhan dan pendalaman rahmat Pembaptisan sehingga kita berani mewartakan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Allah (Kis 2:11), meninggalkan manusia lama yang kekanak-kanakan, membuat sanggupmenerima makanan keras (1 Kor 3:2; Ibr 5:12), serta menjadigaram dan terang dunia’ (Mat 5:13-16). 

Sakramen Ekaristi, Komuni, suatu daging “yang berkat Roh Kudus dihidupkan dan menghidupkan, melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan (KGK 1392). 

Buah utama dari penerimaan Ekaristi di dalam komuni ialah persatuan yang erat dengan Yesus Kristus (KGK 1391; Yoh 6:56-57). Kristus menghidupkan cinta kita dan memberi kita kekuatan, supaya memutuskan hubungan dengan kecenderungan yang tidak teratur kepada makhluk-makhluk dan membuat kita berakar di dalam Dia (KGK 1394). 

Semakin kita ambil bagian dalam hidup Kristus dan semakin kita bergerak maju dalam persahabatan dengan-Nya, semakin kurang pula bahaya bahwa kita memisahkan diri dari-Nya oleh dosa besar (KGK 1395). 

Seseorang yang sudah menerima Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Krisma dan Sakramen lainnya seharusnya imannya bertumbuh sehingga serupa dengan Kristus, ada perubahan dalam hidupnya, ada pembaharuan budi, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:2 - ada metamorfosis). 

Jadi, keutamaan ada berkat rahmat Tuhan (melalui sarana Sakramen-sakramen). Tanpa usaha manusia rahmat ini mandul. Jadi, bagian manusia adalah berdoa dan merenungkan firman-Nya serta selalu memasukan pikiran semua yang benar, semua yang mulia, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Flp 4:8). 

Jadi, bagi murid Kristus, kedewasaan iman akhirnya bukan lagi sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah panggilan, sebuah keharusan. Lewat iman yang semakin dewasa itulah kita menanggapi kebaikan Allah yang sudah dinyatakan kepada kita. 

(Sumber:  Warta KPI TL No.161/IX/2018 » Renungan KPI TL Tgl 6 September 2018, Dra Yovita Baskoro, MM).